0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan25 halaman

TDBA: Pendidikan Karakter Ekologis

Program Tatanen di Bale Atikan (TDBA) di SD Negeri 1 Darangdan bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis dan kemandirian pangan melalui pendidikan berbasis pertanian permakultur. Program ini mengintegrasikan pembelajaran karakter, literasi, dan keterampilan abad 21, serta melibatkan seluruh warga sekolah dalam menjaga lingkungan. Dengan adanya green house, program ini diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis bagi siswa dalam merawat tanaman dan memahami pentingnya ekosistem.

Diunggah oleh

haris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan25 halaman

TDBA: Pendidikan Karakter Ekologis

Program Tatanen di Bale Atikan (TDBA) di SD Negeri 1 Darangdan bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis dan kemandirian pangan melalui pendidikan berbasis pertanian permakultur. Program ini mengintegrasikan pembelajaran karakter, literasi, dan keterampilan abad 21, serta melibatkan seluruh warga sekolah dalam menjaga lingkungan. Dengan adanya green house, program ini diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis bagi siswa dalam merawat tanaman dan memahami pentingnya ekosistem.

Diunggah oleh

haris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

POTRET PROGRAM

TATANEN DI BALE ATIKAN ( TDBA )


SD NEGERI 1 DARANGDAN

“LALABAN SAUNG AWI”

SD NEGERI 1 DARANGDAN

DINAS PENDIDIKAN
KORWIL VII KECAMATAN DARANGDAN
PURWAKARTA
2025

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG PROGRAM TDBA
 Arti dan Filosofi
TDBA adalah singkatan dari Tatanen di Bale Atikan. Dalam Renstra Dinas
Pendidikan Kabupaten Purwakarta, program ini dijelaskan sebagai “gerakan
pendidikan karakter untuk menumbuhkan kesadaran hidup ekologis,merawat bumi
dan berguru pada bumi. yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran berbasis
pertanian permakultur” Disdik Purwakarta
Permakultur di sini adalah pendekatan berkelanjutan yang menggabungkan
elemen alam dan manusia dalam sistem yang produktif dan tahan lama.
Pembelajaran menggunakan model “pancaniti”: lima tahapan proses belajar —
mengerti, memahami, membuktikan, mengevaluasi, dan mencapai hasil.
Program Tatanen di Bale Atikan, Pemkab Purwakarta melalui Dinas
Pendidikan setempat berupaya memproyeksikan sekolah ekologi sebagai gugus
dalam meracik kemandirian pangan di wilayah tersebut. Sekolah ekologi oleh Disdik
Purwakarta digulirkan dengan nama Tatanen di Bale Atikan (Bertani di lembaga
pendidikan) cukup strategis untuk menciptakan iklim kemandirian pangan. Sekolah
ekologi dapat menjadi pabrik tanaman, yang ekosistemnya terawat.
"Hal ini sebagai bagian dari kesadaran ekologi, lingkungan sekolah harus bersih.
Kemudian, tanamannya harus hijau. Sekolah ekologi harus memiliki kesadaran
bersama dalam tata kelola sekolah," kata Ambu Anne. Program Tatanen di Bale
Atikan, mempunyai tujuan untuk mengasah, mengembalikan kultur anak-anak
Purwakarta agar peka terhadap lingkungan, sekaligus mengedukasi pentingnya
tatanan kemandirian pangan, yang nantinya diharapkan, setiap peserta didik
memiliki satu jenis tanaman seperti menanam sayuran, saledri, bawang daun, cabai
rawit dan jenis tanaman yang memberikan manfaat untuk kebutuhan hidup,
kemudian mereka merawatnya dengan penuh kedisiplinan, tanggungjawab dan
keuletan.
Program Tatanen di Bale Atikan tak hanya sekedar gerakan bertani disekolah
atau sekedar menghijaukan sekolah. "Lebih dari itu, kita melakukan gerakan
mendidik anak-anak untuk menyadari lingkungan, kesadaran lingkungan, kemudian,
kita juga belajar menangkap masalah, kemudian mencari teori dan menyelesaikan
nya dengan solusi, belajar dari pengalaman praktik yang kemudian menjadi
pembelajar.
Program Tatanen di Bale Atikan merupakan gerakan pendidikan yang
bertujuan menyadarkan dan mengembangkan potensi diri peserta didik yang
memiliki kesadaran diri dan lingkungan. Membangun generasi yang memahami
masalah lingkungan di sekitarnya serta mencari solusi pemecahannya, dengan
program ini peserta didik di Purwakarta diharapkan bisa produktif dan sanggup
memiliki produk. "Semua warga sekolah harus faham mulai dari penjaga sekolah
hingga kepala sekolahnya, kemudian nanti mampu mensosialisasikan kepada orang
tua. Gerakan ini harus menjadi kesadaran kolektif semua orang yang ada di
sekolah,"..
Selain itu, sekolah-sekolah di Kabupaten Purwakarta, mulai dari TK, SD dan
SMP diharapkan memiliki keunggulan dan keunikannya masing-masing. Setiap
sekolah harus mengedepankan perilaku baik, memiliki value, berkebudayaan
lingkungan. Karena dunia ini adalah ruang kelas untuk belajar dan menjadi
pembelajar.

1.2 TDBA MAWAS TERHADAP KERUSAKAN LINGKUNGAN


“Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh eksploitasi berlebihan
terhadap sumber daya alam harus menjadi renungan semua pihak, tak terkecuali
dunia pendidikan, karena itu program Tatanen di bale Atikan harus dilaksanakan
secara terstruktur, sistematis, dan massif.”
Begitu kira-kira keresahan (sense of crisis) program TDBA yang diungkapkan oleh
Dr. H. Purwanto, [Link] (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta) ketika
membuka Pelatihan untuk Pelatih Tatanen di Bale Atikan pada Hari Senin,
08/02/2021 di Bale Pancaniti Jl. Ipik Gandamanah Purwakarta.
1. Tatanen di bale Atikan harus “terstruktur”. Artinya, program ini masuk
pada struktur kurikulum sekolah. Setiap satuan pendidikan diharapkan
dapat menyusun kurikulum (KSP) yang integratif dengan program
Tatanen di Bale Atikan.
2. Lalu, “sistematis” artinya program TDBA harus dilaksanakan dengan
proses yang terencana, terorganisir serta step by step. Sehingga, menjadi
pembelajaran bagi semua warga sekolah, khususnya peserta didik.
3. Kemudian, “massif” berarti bahwa program TDBA harus menjadi
gerakan bersama yang melibatkan semua pihak yang terlibat dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Karena itulah, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta telah membuat grand
design Tatanen di bale Atikan dalam bentuk panduan, regulasi dalam bentuk
peraturan bupati, dan menyiapkan pelatih yang tersertifikasi. Tatanen di bale atikan
diharapkan menjadi role model Pendidikan karakter untuk menumbuhkan kesadaran
hidup ekologis, semua pihak bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan
lingkungannya, oleh karena itu dalam implementasinya kegiatan bertani yang
menjadi objek pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan system permakultur,
yaitu pendekatan dan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur
berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam. Sistem
permakultur melihat tumbuhan dan hewan dalam semua fungsinya, serta
memperlakukan semua area sebagai satu kesatuan produk. Dengan sistem
permakultur, bumi sebagai satu kesatuan ekosistem akan terjaga kelestariannya
dengan baik, terhindar dari kerusakan akibat kesalahan tata kelola lahan, penggunaan
bahan-bahan kimiawi, dan perilaku buruk lainnya.

1.3 TDBA MEMBENTUK KESADARAN ANAK


Dinas Pendidikan (Disdik) Purwakarta tengah merancang program Tatanen di
Bale Atikan. Program ini merupakan upaya mengembalikan sekaligus membentuk
kesadaran anak-anak terhadap lingkungan.
“Peserta didik diajarkan kembali bagaimana menanam tanaman sayuran contoh
seperti cabai, saledri, bawang daun atau jenis tanaman yang memberikan manfaat
bagi kebutuhan hidup, kemandirian pangan. Kemudian, mereka merawatnya dengan
penuh kedisiplinan, tanggung jawab, dan keuletan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Purwakarta, H. Purwanto, di SMP Negeri 1 Babakancikao,
Purwakarta, dikutip [Link], Jumat (23/7/2021).
Dikatakannya, program Tatanen di Bale Atikan adalah wujud praktek pembelajaran
berbasis proyek yang memiliki visi membentuk karakter peserta didik.
“Peserta didik diberikan pembelajaran berbasis proyek, sehingga melahirkan
resonansi dan pancaran yang baik di rumah dan lingkungannya. Ke depan setiap
sekolah di Purwakarta harus memiliki keunggulannya masing-masing,” tegasnya.
Kadisdik menyampaikan agar program TDBA tersebut jangan hanya
dipahami berkebun disekolah atau membuat sekolah hijau. Padahal jauh dari itu,
harapan dari program tersebut agar menumbuhkan kesadaran hidup secara ekologis
membangun harmoni manusia dengan alam.
Program Tatanen di Bale Atikan akan memberi manfaat utk semua. Bapak Kepala
Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta menargetkan dua minggu kedepan program
tersebut bisa diluncurkan. Dalam waktu dua minggu ini, beliau berasama Tim
Pengembang sedang menyusun dokumen panduan dan pengintegrasian dengan
Kompetensi Dasar terkait kurikulum seperti yang tercantum dalam Permendikbud
Nomor 37 Tahun 2018. Terkait dengan kurikulum, Dewan Pendidikan memandang
Program Tatanen di Bale Atikan, jika dipahami dan dikelola secara maksimal oleh
guru akan berdampak pada kebiasaan murid meneliti. Dari pengenalan varitas
tanaman, pertumbuhan tanaman, daur hidrologi hingga cara bercocok tanam. Hal ini
merupakan proses ilmiah yang merupakan hakikat pada pembelajaran IPA.
Program Tatanen di Bale Atikan, merupakan salah satu program yang
mengintegrasikan Pembelajaran Abad 21 yang mengharuskan menginsert 4 hal,
yaitu:
1. PPK (Penguatan Pendidikan Karakter)
PPK jelas terlihat, salah satunya pada tujuan membangun harmoni manusia
dengan alam, dan banyak hal lainnya yang terkait dengan PPK dalam
pelaksanaan program tersebu.
2. Literasi
Literasi bukan hanya membaca buku, namun mengenal alam dan memanfaatkan
banyak hal yang berada di lingkungan juga merupakan literasi.
3. 4C (Communication, Creativity, Critical Thinking, dan Collaboration).
4C akan nampak selama proses berlangsungnya program tersebut.
4. HOTS (Higher Order Thinking Skills).
Proses tatanen akan sangat memerlukan pemikiran tingkat tinggi terkait banyak
hal proses menanam.
Kompetensi Inti yang terdiri dari 4 KI tercover semua dalam Program Tatanen di
Bale Atikan, yaitu;
1. KI-1 Spiritual
Mensyukuri dan mentafakuri tanaman ciptaan Allah.
2. KI-2 Sosial
Tatanen membutuhkan kerjasa sama, bersosialisasi dengan baik.
[Link]-3 Pengetahuan
KD yang memuat KI-3 pada Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 dapat
tersampaikan melalui program tersebut
4. KI-4 Keterampilan
Praktek tatanen, mampu membuat murid mempraktekan pengetahuan tentang
tatanen.
Bagi sekolah yang melaksanakan program Tatanen di Bale Atikan (TDBA), panen
merupakan sebuah keniscayaan, karena bagi siapapun orang yang menanam punya
harapan untuk memanen. Adapun apa dan bagaimana hasilnya, tergantung pada apa
yang ditanam dan bagaimana menanamnya?
Namun begitu, program TDBA yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan
Kabupaten Purwakarta lebih dari sekedar bisa panen. atau, asal sekolah hijau. serta
bukan pula dimaksudkan untuk mengarahkan anak-anak menjadi petani. Akan tetapi,
program TDBA diharapkan menjadi solusi atas berbagai persoalan ekologi yang
terjadi saat ini.
PELAKSANAAN PROGRAM TDBA

2.1 PENGEMBANGAN PROGRAM TDBA DENGAN GREEN HOUSE


DI SD NEGERI 1 DARANGDAN
Sekolah SD Negeri 1 Darangdan adalah sekolah yang peduli dan berbudaya
lingkungan. TDBA merupakan sarana yang tepat dan ideal untuk mewujudkan
tanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
(PPLH). Sekolah merupakan tempat memperoleh segala ilmu pengetahuan dan
berbagai norma, serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya
kesejahteraan hidup dalam menuju cita-cita pembangunan berkelanjutan.
Kepala SD Negeri 1 Darangdan Yanti Juwariah, [Link], dalam menindaklanjuti
program pemerintah tersenbut mencetuskan ide untuk menjadikan sekolah sebagai
sekolah hijau dan asri , dimana setiap warga sekolah secara aktif harus ikut terlibat
dalam berbagai kegiatan yang mendukung terciptanya lingkungan bersih dan sehat
serta menghindari dampak lingkungan yang negatif. Hal ini sejalan dengan visi SD
Negeri 1 Darangdan, yaitu “ Mewujudkan Murid Yang Berakhlak mulia, Unggul
dalam Prestasi, Berwawasan Luas, dan Peduli lingkungan”
Salah satu kegiatan pengembangan visi dan misi tersebut, program yang
telah dilaksanakannya yaitu melalui program Penghijauan lingkungan sekolah dan
Green House.
TDBA di SD Negeri 1 Darangdan

Green House adalah bangunan dengan atap dan dinding tembus cahaya yang
sering digunakan untuk Pertanian ataupun Perkebunan dengan tujuan untuk membuat
kondisi lingkungan yang stabil sehingga bisa mengoptimalkan produksi di dalamnya.
Green house disebut juga rumah hijau atau rumah tanaman. Green house adalah
sebuah bangunan di mana tanaman dibudidayakan. Secara umum green house dapat
didefinisikan sebagai bangun konstruksi dengan atap tembus cahaya.
Pada prinsipnya green house adalah sebuah bangunan yang terdiri atau
terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup di seluruh
permukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Salah satu fungsi green house
adalah untuk memanipulasi kondisi lingkungan agar tanaman di dalamnya dapat
berkembang optimal. Manipulasi lingkungan ini dilakukan dalam dua hal, yaitu
menghindari kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki dan memunculkan kondisi
lingkungan yang dikehendaki.
SD Negeri 1 Darangdan memiliki sebuah green house yang diberi nama Green
House “ Motekar “. Green House “ Motekar “ ini terletak di halaman sekolah bagian
utara, selain digunakan sebagai sarana pembibitan dan budidaya tanaman, Green
House “ Motekar “ juga digunakan sebagai sarana dan sumber belajar dalam
pembelajaran IPA dan PLH. Koleksi tanaman yang dimiliki Green House “ Motekar
“ di antaranya yaitu berbagai jenis aneka sayur mayur, serta beberapa jenis tanaman
bunga misalnya trinil, bunga pukul ros, dan lain-lain.

Green House SD Negeri 1 Darangdan


Adapun kondisi lingkungan yang bisa dihasilkan dalam sebuah Green House
yaitu :
1. Suhu Udara,
2. Kelembaban dan Intensitas cahaya yang ada di dalam Green House lebih
stabil
3. Meminimalisir serangan hama dan penyakit tanaman
4. Radiasi sinar matahari lebih sedikit karena memakai plastik Ultra Violet (UV)
5. Tidak tergantung dengan cuaca seperti : Panas, Hujan , Angin, dsb
6. Bersih dari polusi udara di luar Green House
7. Tempat yang nyaman bagi petani yang merawat tanamannya.

2.2 Kurikulum Muatan Lokal TDBA


Kurikulum SD Negeri 1 Darangdan memuat muatan lokal Tatanen di Bale
Atikan sesuai dengan Peraturan Bupati No. 103 Tahun 2021 Tentang Tatanen di
Bale Atikan.
Berdasarkan Peraturan Bupati Purwakarta No. 49 tahun 2025 tentang
Kurikulum Muatan Lokal Tatanen di Bale Atikan. Dalam pelaksanaan
pembelajaran muatan lokal ini (BAB III PENYELENGGARAAN) Pasal 3
1. Kurikulum Muatan Lokal TdBA diimplementasikan pada semua satuan
Pendidikan Anak Usia Dini dan Jenjang Pendidikan Dasar sebagai muatan
lokal wajib di Daerah;
2. Kurikulum Muatan Lokal TdBA sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diterapkan dalam pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler,
dan budaya sekolah.
3. Muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui; a. pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;
b. pengintegrasian ke dalam muatan pemberdayaan dan keterampilan;
dan/atau c. mata pelajaran yang berdiri sendiri.
4. Mata pelajaran yang berdiri sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
huruf c adalah mata pelajaran Tatanen di Bale Atikan.
5. Kurikulum Muatan Lokal TdBA sebagaimana dimaksud pada ayat terdiri
atas: (1) a. Kerangka Dasar Kurikulum; dan b. Struktur Kurikulum;
6. Kerangka Dasar Kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a
berisi landasan filosofis, sosiologis, psiko-pedagogis, teoritis, dan yuridis
sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
7. Struktur Kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b merupakan
pengorganisasian komponen kurikulum, unsur muatan kurikulum, dan beban
belajar.
Pasal 5 Kurikulum Muatan Lokal TdBA untuk murid berkebutuhan khusus
dikembangkan lebih lanjut oleh satuan Pendidikan sesuai dengan potensi dan
kebutuhan murid.
TdBA adalah sebuah gerakan pendidikan karakter untuk menumbuhkan
kesadaran hidup ekologis dalam merawat bumi dan berguru pada bumi yang
terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran berbasis pancaniti dan pertanian
berbasis permakultur, sehingga murid tumbuh dan berkembang sesuai kodrat
dirinya, kodrat alamnya, dan kodrat zamannya.
Melalui TdBA diperkenalkan karakter lingkungan untuk menumbuhkan
perilaku ramah lingkungan atau perilaku pro lingkungan. Pembelajaran PLH
dapat dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis Pancaniti
dengan tahapan kegiatan Niti Harti, Niti Surti, Niti Bukti, Niti Bakti dan Niti
Sajati. Model pembelajaran Pancaniti diharafkan dapat memberikan pengalaman
bermakna kepada murid agar memiliki kompetensi abad 21 dan membentuk
karakter muridmelalui proyek pelestarian lingkungan.
Kabupaten Purwakarta merupakan daerah yang berada dalam kultur
masyarakat sunda. Secara umum kultur masyarakat di Kabupaten Purwakarta
adalah kultur masyarakat agraris. Tatanen di Bale Atikan adalah mata pelajaran
yang merupakan muatan lokal di Kabupaten Purwakarta. Konten mata pelajaran
Tatanen di Bale Atikan berasal dari kearifan lokal masyarakat Sunda.
Kearifan lokal (UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, dalam UU Bab: I Pasal I Butir 30, definisi kearifan lokal
adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat antara lain
melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari). Definisi ini
diungkapkan sebagai salah satu aturan dalam menjaga kelestarian lingkungan
hidup. Definisi lainnya dikemukakan oleh Kearifan lokal (local wisdom) menurut
Sungsari dalam (Ardianto, 2014) adalah pengetahuan dan pengalaman berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari, occupation dan budaya yang sudah turun temurun
dari sejumlah generasi ke generasi (knowledge and experience related to day to
day living, occupations and culture had been passed on from generations to
generations). Istilah kearifan lokal adalah terjemahan dari local genius, yang
pertama kali diperkenalkan oleh Quaritch Wales pada tahun 1948-1949 dengan
pengertiannya ‘’kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh
kebudayaan asing pada waktu kebudayaan itu berlangsung’’. (Rosidi, Kearifan
Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda, 2011).
Kenyataan bahwa banyak sekali kearifan lokal yang dapat digali kembali
sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan
dan teknologi tersebut pada saatnya akan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
berbagai masalah kehidupan manusia terutama yang berkaitan dengan lingkungan
hidup. Mata pelajaran Tatanen di Bale Atikan berorientasi pada pemahaman
murid tentang dirinya, sesamanya, dan alam sekitarnya serta interaksi yang terjadi
diantaranya. Pengembangan pemahaman ini lebih menekankan kepada
pemahaman mengenai lingkungan hidup dan pembentukan karakter pro
lingkungan dengan berbagai aktivitas proyek.
Mata Pelajaran Tatanen di Bale Atikan diorganisasikan dalam lingkup tiga
elemen konten dan elemen kecakapan hidup.
1. Elemen Konten
Elemen Konten TdBA

Elemen Deskripsi

Hidup Pemahaman, kesadaran, tindakan dan keputusan yang


Berkelanjutan diambil oleh individu atau kelompok untuk mendukung
lingkungan dan masyarakat yang lebih baik dalam jangka
panjang. Dalam mata pelajaran TdBA membahas
perubahan iklim, pengelolaan sampah,
penanggulangan pencemaran lingkungan dan
konservasi energi.

Permakultur Sebuah konsep dan pendekatan desain yang bertujuan


untuk menciptakan sistem pertanian dan lingkungan yang
Elemen Deskripsi

berkelanjutan, produktif, dan seimbang, dengan meniru


pola-pola dan proses alami yang ditemukan dalam
ekosistem alam. Istilah "permakultur" berasal dari kata
"pertanian permanen" (pertanian permanen) atau "budaya
permanen" (budaya permanen), yang merujuk pada visi
pembangunan yang menggabungkan keberlanjutan
ekologi, sosial, dan ekonomi. Dalam mata pelajaran TdBA
membahas tentang cara bercocok tanam dan
ekosistemnya, Desain ekosistem (merancang
taman/kebun yang berkelanjutan, biodiversitas,
pengembangan pangan lokal, dan pengolahan nutrisi
alami.

Pola hidup Pola hidup sehat mencakup serangkaian kebiasaan dan


sehat tindakan dengan kesadaran penuh untuk mendukung
kesehatan fisik, mental, dan emosional murid. Pola hidup
sehat bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan
pentingnya perawatan diri, pola makan dengan gizi
seimbang, menjaga kebersihan dan mencegah penyakit.
Dalam mata pelajaran TdBA membahas tentang
kesehatan mental, aktifitas fisik untuk kesehatan, Pola
makan dan nutrisi makanan bagi kesehatan,
kebersihan diri dan lingkungan bagi kesehatan

2. Elemen Kecakapan Hidup


Elemen kecakapan hidup dalam konteks Tatanen di Bale Atikan
mencakup keterampilan praktis dan sikap mental yang mendukung perilaku
dan tindakan yang berkelanjutan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Elemen Kecakapan Hidup TdBA
Elemen Deskripsi

Keterampilan Berbagai kemampuan interpersonal yang memungkinkan


sosial individu untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan
berhubungan dengan orang lain secara positif.
Keterampilan sosial mencakup kemampuan seperti empati,
pemahaman perasaan orang lain, kemampuan
bernegosiasi, kemampuan memberikan umpan balik yang
konstruktif, serta kemampuan untuk memahami dan
mengelola konflik yang berhubungan dengan lingkungan.

Keterampilan Kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan jelas,


berkomunikasi tegas, dan mempengaruhi pemahaman, sikap dan tindakan
yang berkelanjutan dan menginspirasi kesadaran tentang
pelestarian lingkungan.

Kemampuan Kemampuan untuk memproses informasi, menganalisis


berpikir kritis situasi, dan mengevaluasi argumen atau permasalahan
secara rasional dan objektif.

Kemampuan Kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan


pemecahan mencari solusi untuk masalah-masalah lingkungan dengan
masalah. efektif dan efisien sehingga dapat berkontribusi pada
pelestarian alam dan penanganan masalah lingkungan
global.

Kecakapan Kecakapan untuk mengelola lingkungan secara


ekologi berkeadilan, berkelanjutan dan berkearifan lokal untuk
keberlangsungan hidup manusia serta menyadari
pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan dampak
dari tindakan manusia terhadap lingkungan.

Kreativitas Kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru, orisinal,


dan inovatif serta alternatif pemecahan masalah
lingkungan.

Keterampilan Kemampuan untuk mengidentifikasi, mengembangkan,


wirausaha dan meningkatkan nilai finansial sumber daya alam
sehingga bisa mewujudkan kegiatan ekonomi hijau yang
berkelanjutan.

1. Capaian Pembelajaran TdBA

Capaian Pembelajaran TdBA


Elemen Fase Capaian Pembelajaran

Hidup A Murid mampu mengidentifikasi, memahami,


Berkelanjutan menunjukan jenis-jenis sampah serta pengaruh nya
bagi kehidupan manusia dan makhluk lain.
Menjelaskan, melakukan dan mengambil keputusan
dalam pengelolaan sampah secara bijak di lingkungan
Elemen Fase Capaian Pembelajaran

rumah maupun di lingkungan sekolah. Memahami


keterhubungan pengelolaan sampah dengan upaya
pelestarian lingkungan.

B Murid mampu memahami, menunjukan sikap dan


berperan aktif dalam upaya efisiensi energi serta dapat
mengambil keputusan baik secara individu maupun
kelompok untuk berperilaku hemat energi (air, listrik,
bahan bakar). Memahami dan mendemonstrasikan
pemanfaatan energi terbarukan.
Memahami pencemaran lingkungan (polusi air, udara,
dan tanah) dan pengaruh aktivitas manusia terhadap
pencemaran lingkungan, Menjelaskan dan
mempraktikan berbagai alternatif pemecahan masalah
pencemaran lingkungan (polusi air, udara, dan tanah).
Mengkampanyekan upaya pencegahan polusi.

C Murid mampu memahami perubahan iklim sen


makhluk hidup lain. menjelaskan, mengeksplorasi, dan
menunjukan dampak perubahan iklim terhadap
lingkungan. menunjukan sikap terhadap isu perubahan
iklim dan faktor yang mempengaruhinya. Murid
mampu menunjukan sikap empati terhadap fenomena
alam dan sosial yang terjadi akibat perubahan iklim.
Murid mampu menunjukan contoh perilaku yang
ramah lingkungan serta pengaruhnya terhadap kualitas
hidup manusia da

Permakultur A Murid mampu menemukenali, menyebutkan,


menjelaskan, media tanam, unsur media tanam dan
fungsi unsur media tanam. Menunjukkan perilaku
menyenangi, menyebutkan, menjelaskan, menanam
dan merawat dan memanfaatkan tanaman annual
dalam kehidupan sehari-hari. Mengenal, membuat dan
memanfaatkan nutrisi alami, Photosintesis Bacterial
(PSB) dan pupuk organik cair (POC).

B Murid mampu membuat media semai dan media tanam


dengan unsur–unsur yang sesuai. Mengenal,
menjelaskan, mempraktikkan cara menyemai,
menanam dan merawat tanaman biennial. Membuat
Elemen Fase Capaian Pembelajaran

dan memanfaatkan kompos dan bio compound.


Mengolah dan memanfaatkan tanaman biennial dalam
kehidupan sehari-hari.

C Murid mampu membuat wadah tanam dengan


memanfaatkan barang bekas, mempersiapkan lahan
tanam. Mengidentifikasi, menunjukkan,
mempraktikkan cara menanam dan merawat tanaman
perennial. Membuat dan memanfaatkan eco-enzyme,
banana circle dan berbagai macam pestisida dan
insektisida alami. Mempraktikkan cara mengolah
berbagai jenis makanan, minuman dan hasil kebun
lainnya untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan
dan mewujudkan kegiatan ekonomi hijau yang
berkelanjutan.

Pola Hidup A Murid mampu memahami dan menjelaskan pentingnya


Sehat menjaga kebersihan diri dan hubungannya dengan
kesehatan diri. Mengenal dan menjelaskan cara
merawat, menjaga dan menggunakan perlengkapan
kebersihan pribadi. Menjelaskan langkah-langkah
dasar yang dilakukan secara pribadi untuk mencegah
penyakit menular. Mempraktikkan cara menjaga
kebersihan diri dalam kehidupan sehari-hari.
Merefleksikan perilaku terkait dengan kebersihan diri
dan mengidentifikasi cara mereka melakukan
perbaikan pada dirinya. Mengidentifikasi dan
menyebutkan berbagai emosi. Memahami bahwa
memiliki emosi adalah hal normal bagi manusia.
Memahami pentingnya mengekspresikan emosi
dengan sehat dan tidak merugikan diri sendiri atau
orang lain. Mengidentifikasi cara-cara positif untuk
mengekspresikan emosi.

B Murid mampu mengidentifikasi, memahami dan


menjelaskan bagaimana lingkungan yang bersih di
rumah, sekolah dan masyarakat. Memahami dan
menjelaskan dampak lingkungan yang bersih terhadap
kesehatan individu dan masyarakat. Mengidentifikasi
penyakit yang terkait dengan lingkungan kotor dan
Elemen Fase Capaian Pembelajaran

menjelaskan cara mencegahnya. Memahami


pentingnya air bersih dan fasilitas sanitasi yang baik
dalam menjaga kesehatan. Berpartisipasi dalam
menjaga kebersihan di lingkungan rumah, sekolah dan
masyarakat serta berkontribusi dalam
mengkampanyekan pentingnya lingkungan yang
bersih bagi kesehatan. Merefleksi, melakukan
penilaian diri, dan membuat keputusan mengenai
perilaku diri terkait dengan kebersihan lingkungan.
Mengidentifikasi hal-hal yang membuat diri merasa
baik, merasa lebih percaya diri dan menjaga diri tetap
positif. Mengidentifikasi dan menjelaskan masalah
kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan
stres. Mengidentifikasi orang yang dapat diajak
berbicara dan dapat membantu ketika dibutuhkan
dalam mengatasi masalah kesehatan mental yang
dialami. Mempraktikkan teknik relaksasi sederhana
seperti pernapasan dalam dan berfokus untuk
mengelola stres.

C Murid mampu mengidentifikasi, memahami dan


menjelaskan berbagai jenis makanan sehat, pentingnya
makanan sehat dengan nutrisi yang seimbang bagi
pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan manusia.
Memahami dampak mengkonsumsi makanan tidak
sehat dalam jangka panjang. Menjelaskan dan
mengkampanyekan pentingnya pola makan seimbang
yang mencakup berbagai jenis dan nutrisi makanan.
Merefleksi, melakukan penilaian diri, dan membuat
keputusan mengenai pola makan dirinya dan keluarga
serta menunjukkan praktek pola makan seimbang dlm
kehidupan sehari-hari. Merencanakan dan menyajikan
makanan sehat dengan nutrisi yang seimbang untuk
dikonsumsi pribadi dan keluarga. Memahami
pentingnya berolahraga dan aktivitas fisik dalam
menjaga kesehatan tubuh, mengidentifikasi berbagai
jenis aktivitas fisik yang disukai dan
mengintegrasikannya ke dalam rutinitas sehari-hari.
Memahami peran dukungan sosial dalam menjaga
kesehatan mental. Mengenali, menjelaskan tanda-
Elemen Fase Capaian Pembelajaran

tanda perasaan pada orang lain. Menunjukkan empati


terhadap orang lain yang mengalami kesulitan
emosional. Mengidentifikasi konflik antara sesama
teman dan menggunakan keterampilan penyelesaian
konflik yang sehat

Predikat Penilaian PLH Berbasis TdBA

1. Nista 2. Madya 3. Utama


 Nista Nista  Madya Nista  Utama Nista
 Nista Madya  Madya Madya  Utama Madya
 Nista Utama  Madya Utama  Utama Utama
PELAKSANAAN KEGIATAN DAN DOKUMENTASI TDBA
SD NEGERI 1 DARANGDAN

3.1 PEMBUTAN GREEN HAOUSE ( 7 mtr x 5 mtr )


Bahan Pembuatan :
1. 50 buah bamboo
2. 21 mtr plastik PC
( untuk atap dan dinding )
3. Paranet /jarring
4. Paku
5. Tali majun
3.2 PERSIAPAN MEDIA TANAM
1. 1 Pak plastic lingkar 36 s/d 40
2. Media tanam ( pupuk kompos, sekam bakar, sekar mentah dan tanah )
3.3 PENYEMAIAN BENIH
Untuk penyemaian benih dibutuhkan sekitar 4 s/d 5 hari hingga siap tanam
3.4 PENANAMAN BENIH
Benih yang dtanama di Green House Motekar adalah jenis sayur mayor
yang berumur pendek antara 30 s.d 45 hari sekali tanam panen seperti :
1. Kacang Buncis, Kacang Panjang
2. Terong Ungu dan bulat
3. Sosin, Pakcoy
4. Salada bokor dll
3.5 PERAWATAN TANAMAN
( Penyiraman, Pemupukan dan Penyemprotan )
3.6 PEMANENAN
Panen Buncis umur 45 hari

Panen, Pacoy Timun dan kangkung


Usia 28 hari
LEMBAR IDENTITAS

IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Haris Sobirin,[Link]
2. Nip : 19700526 201412 1 001
3. Pangkat/Gol : III/b
4. Tempat Tanggal Lahir : Purwakarta, 26-05-1970
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Agama : Islam
7. Status : Kawin
8. Kewarganegaraa : Indonesia
9. Tugas Guru : Guru Penjaskes
10. Unit Kerja : SD Negeri 1 Darangdan
11. Alamat : Jln Raya Darangdan KM 21
Desa Darangdan Kec. Darangdan
Kabupaten Purwakarta - Jabar
Mengetahui, Darangdan, Oktober 2025
Kepala Sekolah Penulis

YANTI JUWARIAH,[Link] HARIS SOBIRIN,[Link]


NIP. 19760206 199903 2 005 NIP. 19700526 201412 1 001

Anda mungkin juga menyukai