PRAKTEK PEMBELAJARAN PRA AKADEMIK BAGI ANAK CEREBAL PALCY
Anak dengan cerebral palsy, adalah anak yang akan mengalami hambatan dalam berbagai fungsi
tubuh, mulai dari keterampilan motorik sampai membaca.
Proses pembelajaran pra akademik adalah suatu proses pembelajaran yang didapat oleh seorang
anak sebelum ia memasuki dunia pendidikan.
Dari defenisi di atas dapat kita ketahui bahwa pembelajaran bagi anak cerebal palcy pada fase
praa kademik ialah bagai mana layanan yang diberikan kepada anak-anak yang mengalami
keterbatasan pada anggota gerak sebelum mereka memasuki dunia pendidikan layanan ini dilihat
pada lingkungan keluarga sebagai mana tempat ia mendapat layanan pada dunia pendidikan.
Pada lingkungan keluarga layanan yang dapat di berikan lebih di fokuskan pada motorik halus
yaitu sebuah koordinasi gerak yang menekankan kepada otot-otot kecil yang terdapat pada tubuh
kita ,biasanya Perkembangan motorik halus seorang anak ditekankan pada koordinasi gerakan
seperti meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4
tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna.
Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok
menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara
sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun
koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu
mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan
tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis
atau menggambar
Cara-cara layanan yang dapat di berikan keluarga dalam meberikan layanan pembelajaran bagi
anak CP pada fase pra akademik adalah melalui permainan dan aktifitas-aktifitas sehari-hari
yang dapat menguji dan mengasah keterampilan motorik halus anak tanpa membuat anak jenuh
diantaranya sebagai berikut:
1. Mengisi, Menuang, dan Mencetak
Bermain pasir bisa digunakan untuk menstimulasi motorik halus anak. Lakukan di pantai atau
sediakan pasir bersih di sepetak bidang di halaman rumah. Jangan takut kotor, kenakan saja
pakaian rumah yang tidak sayang untuk dikotori.
Manfaat: Melatih kekuatan/keluwesan pergelangan tangan serta presisi. Alat yang
dibutuhkan: Pasir bersih, sekop, ember, corong, aneka wadah.
Cara bermain:
Biarkan anak mengisi embernya dengan pasir sampai penuh kemudian menuangnya
dengan cara membalikkan ember. Lakukan sambil berseru, “Isi, isi embernya…lalu tuang…”
Dengan pasir yang tersedia biarkan anak mencetak bentuk atau membentuk sendiri
imajinasinya. Apakah itu gunung, benteng, dan sebagainya.
Sambil mencetak, orangtua bisa menjelaskan pada anak nama-nama bentuk yang sedang
dicetak, misalnya kura-kura, kotak, bunga dan sebagainya. Latihan ini sekaligus untuk
menambah perbendaharaan katanya.
Yang harus diperhatikan:
Pastikan kebersihan pasir. Serangga kecil, kotoran binatang atau benda-benda tajam
seperti pecahan kaca bisa membahayakan anak.
Ingatkan anak untuk tidak mengelap tangannya yang penuh pasir ke mulut, hidung atau
mata. Karena dikhawatirkan pasir akan masuk ke bagian-bagian tersebut.
Setelah selesai bermain, cuci tangan hingga bersih dengan sabun, atau lebih baik lagi
kalau langsung mandi sehingga badan lebih segar.
Selama tak digunakan, pasir di rumah harus ditutup agar tidak menjadi tempat kucing,
anjing, atau ayam membuang kotoran.
2. Memakai dan Melepas Pakaian
Tanpa belajar pun sepertinya semua orang pada akhirnya bisa memakai/melepas pakaiannya
sendiri. Meski demikian bukan berarti orangtua tak perlu melatih keterampilan ini. Selain
mengasah motorik halus, memakai/melepas pakaian sendiri merupakan salah satu bentuk
kemandirian anak.
Manfaat: Melatih kemampuan jari-jemari, koordinasi mata dan tangan. Alat yang
dibutuhkan: Baju berkancing besar, rok/celana karet, sepatu berperekat velcro, boneka dan
pakaian perlengkapannya.
Cara bermain:
Setelah mandi, biarkan anak mencoba memakai pakaiannya sendiri. Mulai dengan yang
paling mudah seperti menaikkan/menurunkan celana/rok dengan ban karet.
Setelah itu biarkan ia mencoba mengancingkan sendiri pakaiannya. Mulai dengan
kancing yang besar-besar kemudian makin kecil.
Bila kemampuan memakai pakaian sendiri sudah dikuasai, lanjutkan dengan memakai
sepatu sendiri. Mulai dengan sepatu berperekat velcro.
Latihan ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan boneka besar yang
pakaian/perlengkapannya bisa dilepas-pasang. Biarkan anak coba memakai dan melepaskannya.
Untuk mudahnya berikan contoh terlebih dahulu bagaimana melakukannya.
Yang harus diperhatikan:
Sebagai latihan awal berikan pakaian yang mudah dipakai/dilepas, seperti kaos longgar,
celana/rok dengan ban karet.
Di usia ini memakai/melepas pakaian sendiri termasuk belajar tahap awal. Jadi jangan
terlalu memaksa anak, kalaupun belum bisa, biarkan ia terus mencoba.
3. Menyusun dan Menyortir
Kegiatan menyusun dan menyortir selain melatih kemampuan motorik halus anak juga mengasah
kepekaan dan fokus perhatian pada satu hal.
Manfaat: Mengembangkan imajinasi, melatih kecerdasan logis-matematis, melatih presisi,
melatih kemampuan mengelompokkan. Alat yang dibutuhkan: Balok kayu warna-warni dan
bermacam bentuk.
Cara bermain:
Minta anak menyusun balok berbentuk kubus ke atas, dari dari dua susun, lalu tiga susun
dan seterusnya.
Selanjutnya minta anak memasangkan balok berbentuk segitiga atau setengah lingkaran
di bagian paling atas. Kalau masih berantakan dan balok yang disusun jatuh lagi, tetap semangati
supaya mau terus mencoba.
Setelah kemampuannya makin bertambah, biarkan anak berimajinasi membangun
gedung, rumah, jembatan dan sebagainya.
Minta anak menyortir/memisahkan balok berdasarkan bentuknya, misalnya kubus dengan
kubus, segitiga dengan segitiga, dan seterusnya.
Minta anak memisahkan/menyortir balok berdasarkan kelompok warna.
Kegiatan menyortir juga bisa dilakukan dengan memberikan berbagai macam benda,
seperti kancing baju, sendok, kayu, tutup gelas dan sebagainya. Ajari anak untuk
mengelompokkannya/menyortir berdasar kriteria tertentu.
Yang harus diperhatikan:
Di usia ini kemampuan berjalan anak belum sempurna, untuk itu orangtua/pengasuh harus terus
memantaunya. Jangan sampai anak menginjak/terpeleset salah satu balok yang sedang digunakan
untuk bermain hingga jatuh.
4. Meronce
Meronce merupakan salah satu stimulasi untuk mengasah kemampuan motorik halus anak.
Manfaat: Melatih kemampuan jari-jemari. Latihan ini sekaligus bermanfaat sebagai dasar
kemampuan memegang pensil. Alat yang dibutuhkan: Mainan ronce, tali sepatu/tali yang agak
besar, roll bekas tisu.
Cara bermain:
Kalau di rumah tersedia mainan ronce, ajari anak bagaimana cara memainkannya.
Kalau tidak ada mainan ronce, gunakan tali sepatu/tali yang agak besar lalu masukkan ke
dalam rol bekas gulungan tisu yang sudah dipotong-potong menggunakan cutter. Ronce sampai
beberapa rol tersambung. Ikat kedua ujung tali, kalungkan di leher anak.
Yang harus diperhatikan:
Supaya menarik, gambari/cat warna-warni rol bekas tisu.
Setelah berhasil meronce rol bekas tisu yang besar, lanjutkan dengan meronce benda-
benda yang lebih kecil.
5. Memulung dan Menjumput
Anak pasti senang, saat orangtuanya memasak kue, ia ikut membantu menaburkan
meises, kacang atau hiasan lainnya.
Manfaat: Melatih kemampuan/kekuatan mengambil sesuatu hanya dengan dua jari. Alat yang
dibutuhkan: Adonan kue, kismis, meises, kacang atau hiasan lainnya.
Cara bermain:
Berikan sedikit sisa adonan kue untuk anak. Biarkan ia memulungnya dengan dua tangan.
Setelah adonan dipulung, ajarkan menjumput kismis, meises, gula halus atau hiasan
lainnya dan menaburkannya ke atas adonan.
Kalau hiasan kue agak besar, seperti potongan kacang almond/mede, anak sekaligus bisa
diajarkan berhitung dengan meletakkan masing-masing dua buah kacang pada tiap adonan.
Setelah selesai, panggang kue hasil kreasinya dan biarkan anak menikmati.
Yang harus diperhatikan:
Supaya mudah membersihkannya, alasi dengan plastik arena yang digunakan anak untuk
memulung dan menghias kue.
Kenakan celemek yang agak besar supaya bajunya tidak kotor.
Pastikan bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi anak-anak
Selain itu juga dapat di kembangkan melalui:a
1. Melukis
2. Puzzle.
3. Playdough
4. Menggunting.
5. Meronce.
6. Lego dan balok
Hal-hal diatas sangat berguna dalam mengasah motorik halus seorang anak sebelum mereka
memasuki dunia pendidikan sehingga ketika ia terjun ke dunia pendidikan ia tidak merasa
kewalahan dan semakin membuat motorik halus mereka teruji dan tersah,sehingga memudahkan
guru menglatih motorik halus seorang anak yang memiliki hambatan dalan anggota geraknya.
PRAKTEK PEMBELAJARAN AKADEMIK ANAK CEREBRAL PALCY
Tujuan pendidikan anak CP , yaitu yang berhubungan dengan aspek rehabilitasi pemulihan dan
pengembangan fungsi fisik, dan yang berkaitan dengan pendidikan yang mengacu pada tujuan
pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
[Link] P. Connor (1995) mengemukakan sekurang-kurangnya ada 7 aspek yang perlu
dikembangkan pada diri masing-masing anak Tunadaksa(cerebal palsy)melalui pendidikan,
yaitu:
a. pengembangan intelektual dan akademik,
b. membantu perkembangan fisik,
c. meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri anak,
d. mematangkan aspek sosial,
e. mematangkan moral dan spiritual,
f. meningkatkan ekspresi diri, dan
g. mempersiapkanmasadepananak.
Adapun prinsip dasar program pendidikannya meliputi:
[Link] anak (All the children)
2. Kenyataan (Reality)
3. Program yang dinamis (A dynamic program)
4. Kesempatan yang sama (Equality of opportunity)
5. Kerjasama (Cooperative)
Sedangkan prinsip khusus pendidikannya terdiri dari prinsip multisensori dan prinsip
individualisasi. Multisensori berarti banyak indera, maksudnya dalam proses pendidikan pada
anak cp sedapat mungkin memanfaatkan dan mengembangkan indera-indera yang ada dalam diri
anak agar kesan pendidikan yang diterimanya lebih baik. Prinsip individualisasi berarti
kemampuan masing-masing diri individu lebih dijadikan titik tolak dalam memberikan
pendidikan pada mereka. Model layanannya dapat berbentuk individual dan klasikal pada
individu yang cenderung memiliki kemampuan yang hampir sama, bahan pelajaran yang
diberikan pada siswa sesuai dengan kemampuan masing-masing anak. Layanan pendidikan
untuk anak Tunadaksa dapat dilakukan dengan pendekatan guru kelas, guru mata
pelajaran/bidang studi, campuran dan pengajaran tim sehingga di dapatakan hasil yang
maksimal dalam penentuan bagaiman proses Pembelajaran di sekolah.
Contoh layanan yang Ideal dari pendekatan-pendekata sehingga menghasilkan bahan
pembelajaran yang sesuai sebagai berikut:
a) Perencanaan kegiatan belajar mengajar: Program pendidikan yang diindividualisasikan
b) Prinsip Pembelajaran: Prinsip multisensori dan prinsip individualisasi
c) Penataan Lingkungan Belajar
Bangunan gedung memprioritaskan tiga kemudahan: mudah keluar masuk, mudah bergerak
dalam ruangan, dan mudah mengadakan penyesuaian.
d) Personil: guru PLB, guru regular, dokter ahli anak, dokter ahli rehab medis,
dokter ahli ortopedi, dokter ahli syaraf, psikolog, guru BP, social worker, fisioterapist,
occupational therapist, speechterapist, orthotic dan prosthetic.
e) Bimbingan Belajar
Anak Tunadaksa memerlukan bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ketiga
kemampuan dasar ini perlu memperoleh layanan sedini mungkin sesuai dengan kebutuhan
masing-masing anak, manakala telah memasuki program sekolah dasar.
f) Pembinaan Karier dan Pekerjaan
Untuk mempersiapkan masa depan anak, di sekolah perlu adanya pembinaan karier. Pengertian
karier tidak dipandang hanya sebagai pekerjaan yang diberikan pada tamatan sekolah menengah
atas, tetapi dibutuhkan oleh semua siswa sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi.
Pada jenjang TKLB dan SDLB materi pembahasannya adalah untuk memberikan pengertian
dasar mengenai kemungkinan pekerjaan dalam hidup kelak dan memberikan kesadaran bahwa
sekolah memberi kesempatan untuk bereksplorasi dalam mempersiapkan kehidupan kelak;
sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi selain melanjutkan materi tersebut telah diarahkan
pada prevokasional maupun vokasional.
Pembinaan karier dan pekerjaan dimulai dari kegiatan asesmen karir dan pekerjaan agar dapat
menyusun program pembinaan karir dan vokasional yang sesuai dengan kondisi kemampuan dan
kecacatan anak tunadaksa.
Berkaitan dengan penyusunan program, Philip (1986) mengemukakan bahwa program yang
disusun harus berbentuk IEP (Individualized Educational Program) yang mempunyai ciri-ciri
sasaran untuk remidi bila siswa mengalami kesulitan dalam membaca formulir pekerjaan,
berkomunikasi dengan menggunakan telepon, penggunaan uang dalam pekerjaan, dll. Salah satu
contoh pogram IEP adalah pengembangan motorik halus untuk pekerjaan menjahit, pertanaman,
mengatur makanan, dll.
Alur pembinaan karier dan pekerjaan dapat disajikan seperti berikut:
Asesmen → pemograman → proses → evaluasi → daya guna/tepat guna
tahap-tahap pengajaran membaca yang baik bagi anak cerebal palsy
Apabila Anda ingin mengajarkan cara membaca pada anak dengan cerebral palsy, ikuti langkah-
langkah di bawah ini:
1. Lakukan latihan pernapasan sebelum mulai belajar, posisikan anak duduk tegak sehingga
udara bisa masuk ke paru-parunya.
Tempatkan tangan Anda di perut atau di atas tulang rusuk anak. Pandu anak menghirup dan
membuang udara dengan mengontraksikan otot-otot setiap kali bernapas.
Hal ini akan membantu anak lebih rileks dan tidak merasa gugup.
2. Saat melakukan teknik-teknik pernapasan ini, anjurkan anak untuk menutup matanya dan
membayangkan sesuatu yang indah.
Hal ini jug akan membantu anak lebih rileks dan menjaga pikirannya terfokus.
3. Letakkan beberapa benda di depan anak dan ulangi nama-nama benda tersebut secara
perlahan sehingga otak anak akan menerima dan mengingat nama-nama benda tersebut pada saat
melihatnya di waktu yang lain.
Ulangi ini setidaknya empat kali secara perlahan.
4. Seiring dengan memperlihatkan objek tersebut, gunakan kata yang ditulis sehingga anak
juga dapat mengidentifikasi tulisan dengan objeknya.
Untuk menambahkan stimulasi lebih ke otak anak, ucapkan kata-kata tersebut secara perlahan.
5. Gunakan kata-kata dan benda-benda yang dapat digunakan dalam kalimat jika
memungkinkan.
Latihan pengulangan kata dan benda tersebut tidak dapat berlangsung dalam waktu
semalam. Anak umumnya akan mengingat beberapa dari kata dan benda dalam waktu
setidaknya dua minggu.
6. Belilah buku yang Anda rasa mudah bagi anak. Jika tidak yakin apa yang cocok bagi anak,
mintalah bantuan kepada petugas toko buku.
7. Ulangi langkah-langkah satu sampai lima. Dengan mengulangi langkah-langkah ini, Anda
dapat menggabungkan kata-kata secara bersamaan untuk membentuk kalimat.
Bacakan buku perlahan-lahan kepada anak setiap hari selama minimal dua minggu. Lakukan satu
buku pada suatu waktu.
8. Ulangi langkah ketujuh, tapi kali ini minta anak untuk mengulang kata-kata setelah Anda.
Hal ini akan merangsang otak anak dan mendorong mereka untuk ingin membaca.
Beberapa alat bantu sederhana untuk memudahkan anak CP menggunakan alat tulis antara lain:
1. Clay. Adonan menyerupai karet lunak yang dapat dibentuk sesuai keinginan dengan kontur
menyerupai tanah liat. Berguna dalam melatih koordinasi bentuk.
2. Squeeze Ball. Karet kenyal yang dapat digenggam dan diremas-remas tanpa kerusakan.
Berguna juga untuk melatih kemampuan otot-otot tangan dan jari dalam bergerak.
3. Wind-up toys. Mainan dengan penggerak yang harus diputar terlebih dahulu. Berguna
dalam melatih gerakan jari untuk menulis, terutama bagian ujung jari.
4. Sorting toy. Mainan yang harus disusun atau diurutkan.
5. Finger Paint. Cat yang dapat digunakan untuk tubuh. Berguna untuk melatih kemampuan
koordinasi dalam membentuk dan menulis. Cara menggunakan, cat dioleskan pada jari sebelum
anak memegang pensil atau krayon.
6. Pensil dengan pemberat. Digunakan pemberat pada pensil agar dapat stabil pada
genggaman anak CP. Penggunaan alat pemberat ini setelah anak cukup terlatih menggunakan jari
dalam menulis.
Harus diperhatikan, dalam melatih anak dengan CP menulis dengan tangan adalah jangan terlalu
memaksakan untuk terus-menerus belajar menulis. Sesuaikan waktu dengan mood dan
kemampuan anak yang akan meningkat secara bertahap. Jangan langsung memberikan alat tulis.
Sebab, tanpa latihan motorik dan koordinasi dalam menggerakkan jari dan tangan, alat tulis yang
biasa seperti pensil atau krayon dapat membahayakan anak dengan CP.
Salah satu masalah mendasar yang banyak dihadapi anak CP adalah aspek motorik, termasuk
motorik halus. Menurut Pearces (1985) motorik (daerah motorik) adalah awal jalur motorik yang
mengendalikan gerakan pada sisi lain dari tubuh, keseluruhan tubuh justru diwujudkan terbalik
yaitu dari daerah motorik yang mengendalikan anggota badan bawah, badan anggota atas, leher
dan akhirnya ke kepala. Sedangkan motorik halus adalah kemampuan otot-otot kecil untuk
melaksanakan gerakan-gerakan dimana kemampuan otot-otot dapat dipengaruhi oleh aspek-
aspek lain, misalnya sensasi tarik, gerak otot.
Termasuk gerakan motorik halus adalah:
a. Gerak koordinasi motorik halus, yaitu menggenggam, meraih, menjimpit, menjumput,
menggerakkan, meremas kertas, menulis, mewarnai, menggunting kertas, menempel kertas,
melipat kertas, membuka dan menutup ujung jari, meronce manik-manik.
[Link] koordinasi mata tangan, yaitu meletakkan mengambil benda dalam berbagai posisi,
menyusun urutan dari tinggi ke yang rendah, menyusun benda dari besar ke kecil, menyusun
bermacam-macam balok, membong¬kar dan memasang puzzle.
c. Gerak koordinasi mata kaki, yaitu melangkah kaki dalam berbagai pola dan bentuk,
menendang bola dengan berbagai ukuran.
d. Gerak koordinasi mata, tangan, dan kaki dalam bentuk permainan, yaitu bermain
kelereng, melempar dan menangkap bola.
Bagi anak tunadaksa kekuatan otot sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan gerak
mereka, karena kekuatan otot adalah kunci untuk beraktifitas setiap saat. Salah satu masalah
besar yang dialami anak tunadaksa khususnya anak CP adalah adanya penurunan fungsi
otot,untuk itu diperlukan latihan motorik secara rutin dan terus menerus.
Latihan motorik harus diberikan agar gerakan anak dapat tepat menuju sasaran sesuai dengan isi
perintah/tujuan, dengan fungsi utama untuk melemaskan otot dan sendinya.
Metode drill adalah salah satu cara latihan motorik halus dengan cara mengajar melalui latihan
secara berulang-ulang, terus-menerus atau secara teratur. Metode drill sangat cocok untuk
mengajarkan keterampilan motorik. Suwarna (2006: 111) menjelaskan bahwa metode drill
sangat cocok untuk mengajarkan keterampilan motorik maupun keterampilan mental. Dengan
demikian metode drill sangat cocok dipakai untuk melatih motorik halus bagi anak CP. Agar
pelaksanaan drill atau latihan dapat berjalan dengan lancar, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:a) perlu adanya penjelasan tentang tujuan latihan,b) perlu adanya penjelasan
tentang apa yang harus dikerjakan,c)lama latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa,d)
perlu adanya kegiatan selingan, sehingga anak tidak merasa bosan, dan e) jika ada kesalahan
harus segera diadakan perbaikan. (Suwarna, 2006: 111).
Dalam penerapan metode drill pada latihan motorik halus ini, siswa di latih secara individual,
karena setiap siswa mempunyai kemampuan motorik, kecerdasan, mental yang berbeda-beda.
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Anak dengan cerebral palsy, adalah anak yang akan mengalami hambatan dalam berbagai fungsi
tubuh, mulai dari keterampilan motorik sampai membaca.
Oleh sebab itu untuk mengembangkan nilai akademik anak CP perlu praktek prmbelajaran baik
pra akademik maupun akademik.
Dengan adanya praktek pembelajaran baik pra maupun masa akademiknya, maka anak cerebral
palsy akan dapat berkembang secara optimal.
B. SARAN
Dalam memberikan praktek pembelajaran baik pra maupun masa akademiknya, maka lakukanlah
dengan perlahan, bertahap dan diulang-ulang namun jangan dipaksakan untuk dia
mengulanginya agar anak cerebral palsy akan dapat berkembang secara optimal.
BAB III
PEMBAHASAN
PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL
1. Nama : Yulina Ambarwati
2. Tempat tanggal lahir : Sleman, 09 Juli 1996
3. Karakteristik :
Anak berusia 14 tahun
Belum pernah sekolah
Belum bisa baca-tulis
Kecacatan triplegia, yaitu kedua kaki mengalami kelumpuhan sehingga dalam mobilitas
mengalami kesulitan.
Menggunakan kursi roda terkadang ngesot, dan tangan kirinya mengalami kekakuan
Tangan kanan normal sehingga dapat digunakan secara wajar dan motoriknya bagus
IQ normal
Bicara dan komunikasi baik
4. Alokasi waktu: 3 jam pelajaran (90 menit), 3x seminggu selama 6 bulan (1 semester)
5. Tujuan
Jangka panjang : anak mampu memperoleh info dari media cetak atau elektronik
dengan tulisan dan dapat mengungkapkan informasi kembali melalui tulisan.
Jangka pendek :
- Anak mampu menulis namanya sendiri
- Anak mampu membaca secara dasar
- Anak mampu menulis dasar-dasar
- Kemampuan motorik halus meningkat
6. Strategi pembelajaran
Metode : demonstrasi, drill, ceramah, pemberian tugas, tanya jawab
Model pembelajaran : pembelajaran langsung
Alat / media : gambar, tulisan braille, stilus dan reglet, buku matematika
kelas 4, penerbit yudhistira karangan: tim bina matematika hal 81-86
Sumber : tim pendidik, lingkungan, media (buku, VCD)
7. Standar kompetensi/ ranah kurikulum yang menjadi tekanan: dapat menulis dan membaca
tingkat dasar
8. Kompetensi dasar : Siswa mampu menulis dan membaca (A-Z)
Mampu membaca dan berhitung angka(1-10)
9. Indikator: :
- Mengenalkan huruf dan angka, melafalkan huruf dan angka, kemudian menghafalkannya
- Menggabungkan huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat
- Mampu berhitung angka 1-10
- Aktivitas pembelajaran
10. Aktivitas pembelajaran
- Dua bulan pertama:
Mengenalkan siswa mengenai huruf mulai A sampai Z. Mengenalkan angka dari 1-10 kemudian
menugaskan siswa agar menyalin dibukunya.
- Dua bulan kedua:
Setelah siswa mengenal huruf A-Z dan angka 1-10, siswa diajari untuk menghafalkannya. Dalam
satu hari siswa dituntut untuk menghafal 1-2 huruf dan diminta untuk mengulang-ulang huruf
yang sudah dihafalkan.
- Dua bulan ketiga:
Setelah siswa mampu menghafal huruf, mulai diajari untuk latihan mengeja kata.
Misalnya: MAMA, PAPA, BIBI, ADIK, KAKAK.
Ketika siswa sudah menunjukkan kemampuan mengeja kata, pembimbing mengajarkan siswa
untuk mengeja kalimat sederhana.
Misalnya: Mama sayang Yuli, Papa juga sayang Yuli.
Setelah siswa mampu mengeja kata dan kalimat, pembimbing melatih siswa untuk latihan
membaca cerita pendek atau bernyanyi yang ada kaitannya dengan huruf dan angka.
Misalnya: Lagu ABCDE (alfabet), Balonku
11. Evaluasi atau penilaian
Penilaian dilakukan oleh tim,
a. Tuliskan huruf A sampai Z!
b. Tulis dan sebutkan angka 1 sampai 10!
c. Bacalah kata-kata yang ada di papan tulis dengan baik dan benar!
d. Bacalah kalimat yang ada di papan tulis dengan benar!
e. Tulis namamu, saudaramu di papan tulis.
f. Tulis sebuah cerita singkat yang menarik!
g. Berhitung dari angka 1 sampai 10!
BAB IV
PENUTUP
Program Pembelajaran Individual yang diberikan untuk anak CP pada studi kasus
disesuaikan dengan hasil asesmen. Dari hasil asesmen tersebut didapat informasi bahwa anak
belum mampu mengenal huruf. Untuk itu Program Pembelajaran Individual yang diberikan
kepada anak menekankan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkat dasar.