0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan8 halaman

Metode Hitung Lendutan Batang Mesin

Dokumen ini membahas pentingnya perhitungan lendutan dalam perancangan bangunan mesin, serta metode-metode yang digunakan untuk menghitung lendutan pada batang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami fenomena defleksi dan membuktikan kebenaran rumus defleksi teoritis melalui percobaan. Metodologi percobaan meliputi penggunaan alat ukur dan prosedur pengukuran lendutan pada batang dengan variasi beban.

Diunggah oleh

arifhidayatsopong
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan8 halaman

Metode Hitung Lendutan Batang Mesin

Dokumen ini membahas pentingnya perhitungan lendutan dalam perancangan bangunan mesin, serta metode-metode yang digunakan untuk menghitung lendutan pada batang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami fenomena defleksi dan membuktikan kebenaran rumus defleksi teoritis melalui percobaan. Metodologi percobaan meliputi penggunaan alat ukur dan prosedur pengukuran lendutan pada batang dengan variasi beban.

Diunggah oleh

arifhidayatsopong
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lendutan merupakan hal yang sangat penting diperhatikan dalam perencanaan atau
perancangan seperti pada perancangan bangunan khususnya bangunan mesin. Selain itu
unsur-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk mempertahankan ketelitian
dimensional terhadap pengaruh beban. Hal ini biasanya terjadi pada balok statis tidak
tentu.
Lendutan pada sebuah batang sangatlah penting untuk dihitung, untuk memeriksa
kemungknan melebihi batas yang diizinkan. Bila lendutannya melebihi batas maksimum,
maka hal ini akan mengakibatkan penampilan yang jelek dan struktur yang lemas. Ada
berbagai metode untuk menghitung lendutan pada batang yang ditumpu akibat pengaruh
beban, yaitu :
1. Metode integrasi ganda
2. Metode luas momen
3. Metode superposisi

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui fenomena defleksi (lendutan) pada batang prismatic
2. Membuktikan kebenaran rumus defleksi teoritis dengan hasil percobaan.

BAB II

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 1
TINJAUAN PUSTAKA

Defleksi atau lendutan merupakan hal yang penting diperhitungkan dlam


perencanaan. Biasanya defleksi terjadi pada batang secara terus – menerus yang ditumpu
dan diberi beban lentur. Defleksi ini berhubungan dengan regangan (Δl/L) sehingga bila
regangan semakin besar ini berakti lendutan akibat pembebanan juga semakin besar.
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi defleksi yaitu :
1. Besar pembebanan
2. Panjang batang
3. Dimensi penampang batang
4. Jenis material batang
Berdasarkan pembebanannya defleksi dibagi atas :
1. Defleksi aksial
Defleksi yang terjadi jika pembebanan sejajar dangan luas penampang.
2. Defleksi lateral
Defleksi yang terjadi jika pembebanan tegak lurus dengan luas penampang.
3. Defleksi yang disebabkan oleh gaya geser yang terjadi pada batang.

Metode – metode untuk menghitung besarnya defleksi pada batang yaitu :


 Metode integrasi
Pembebanan yang diberikan terdistribusi sepanjang batang yaitu tumpu. Penampang
yang berada pada sumbu x lebih negatif dari penampang yang lain dan penampang
yang berada pada sumbu y lebih positif dari penampang lain.

Σ Fy = 0
q dx + (Q + dQ) – Q = 0
q dx = dQ
q = - dQ / dx
dQ / d = -q

ΣM = 0
(M + dM) – (Q + dQ) dx – (qdx) . dx/2 – M = 0

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 2
dM = (Q + dQ) dx + 1/2q (dx)2
dM = Qdx + dQdx + 1/2 q (dx)2 dQdx + 1/2q (dx)2 diabaikan
maka : dM/dx = Q
W1 + Ψ = 0
Dari persamaan sebelumnya :
dM/dx = Q; M1 = 0 maka : - Ψ11 = M/EIy
dQ/dx = -q ; Q1 = -q - Ψ11 EIy)1 = M1 = Q
M = E Ψ1Iy ; Ψ1 = M/EIy -(W11 EIy)11 = Q1 = -q
Untuk EIy = konstan berlaku hubungan :
W1 EIy = -q W11 EIy = -Q W11 EIy = -M

 Metode superposisi
Persamaan diferensial kurva lendutan balok adalah persamaan diperensial linier
yaitu : semua factor yang mengandung lendutan W dan turunannya dikembangkan ke
tingkat pertama saja. Karena itu penyelesaiaan persamaan untuk bermacam – macam
kondisi pembebanan boleh disuperposisi. Persamaan diferensial linier :
W11 EIy = -M W111 EIy = -Q WIV EIy = -q
W (x) = W1 (x) + W2 (x)
Analognya :
W1(x) = W11(x) + W21(x)
M(x) = M1(x) + M2(x)
Q(x) = Q1(x) + Q2(x)

 Metode luas momen


W11 = -M/EI
d(W1)/dx = -M/EI B + A = BA = ∫-Mdx / EI
d()/dx = -M/EI d(0 = -Mdx / EI
- Teorema luas momen I : sudut BA merupakan sudut yang dibentuk oleh garis
singgung kurva lendutan pada titik A dan B yang berharga negatif dari luas momen
M/EI diantara kedua titik tersebut.
BA = ∫-Mdx / EI = - { luas M/EI diantara titik A dan B}

BAB III

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 3
METODOLOGI

3.1. Gambar Peralatan

3.2. Alat Ukur


- Dial gauge

3.3. Asumsi – Asumsi


Material balok elastis linier
Balok kontinu dan seragam
Semua gaya yang bekerja dalam keadaan steady

3.4. Prosedur Percobaan


1. Susunan batang seperti gambar 2.1 hanger (penggantung beban dipasang tetapi belum
diberi beban. Hanger dapat dipasang satu atau dua, tergantung kondisi pembebanan
yang diinginkan). Pasang dial gauge pada posisi x yang akan diukur lendutannya, dan
posisi awal batang uji yang ditunjukkan oleh dial gauge dicatat.
2. Pasang beban pada hanger dan lendutan yang ditunjukkan dial gauge dictat. Lendutan
yang terjadi adalah selisih kedua pencatat.
3. Cara di atas diulangi untuk massa beban yang berbeda.
4. Ubah posisi dial guage untuk menentukan lendutan di titik lain.
Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin
Defleksi 4
Analisa Perhitungan
Secara matematis, defleksi pada suatu baja yang memiliki panjang L(mm) dan di
berikan beban sebesar P(N), dengan jarak x(mm) dapat di hitung dengan menggunakan
formula sebagai berikut:
P×X
δ= × ( 3 l 2−4 x 2 )
48 EI
Dimana:
δ = Defleksi (mm)
P = Beban (N)
X = Jarak Beban (mm)
L = Panjang Batang Baja (mm)
E = Modulus Elastisitas Baja (GPa)
I = Momen Inersia Batang Baja (mm4)
Diketaui data:
P = 0.57x 9.81 = 5.5917 N
X= 100 mm
L = 960 mm
E = 200 GPa = 2 x 1011 N/m2 = 2 x 105 N/mm2
I = 3.125 x 102 mm4

Tabel defleksi baja dengan beban dan variasi jarak hasil praktikum

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 5
DEFLEKSI
No Jarak Beban 1 Beban II Beban III Beban IV
(0,68+0,74) (0,71+0,63 (0,71+0,68) (0,68+0,68)
)
1 100
2 200
3 300
4 400
5 500
6 600
7 700
8 800

Tabel defleksi baja dengan beban dan variasi jarak berdasarkan teoritis
DEFLEKSI
No Jarak Beban 1 Beban II Beban III Beban IV
(0,68+0,74) (0,71+0,63 (0,71+0,68) (0,68+0,68)
)
1 100
2 200
3 300
4 400
5 500
6 600
7 700
8 800

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 6
Tabel perbandingan defleksi baja dengan beban dan variasi jarak berdasarkan antara
teoritis dengan hasil praktikum
DEFLEKSI
No Jarak Beban 1 Beban II Beban III Beban IV
(0,68+0,74) (0,71+0,63) (0,71+0,68) (0,68+0,68)
Teori Praktikum Teor Praktikum Teori Praktiku Teori Praktikum
i m
1 100
2 200
3 300
4 400
5 500
6 600
7 700
8 800

Tangkai yang di gunakan adalah tangkai yang pendek yang beratnya 0,38 dan hasil defleksi
teoritik dan pengujian di-plot ke dalam grafik defleksi terhadap perubahan posisi untuk kedua
tumpuan.
Lakukan analisis dan pembahasan dari hasil yang diperoleh serta berikan kesimpulan dan
saran.

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 7
DAFTAR PUSTAKA

Popov, E. P. 1989. Mekanika Teknik. Erlangga. Jakarta.


Shigley. 2006. Mechanical Engineering Design. Eight Edition. United States of America.

Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin


Defleksi 8

Anda mungkin juga menyukai