Nama : Dina Karimah
NPM : F1F024029
Kelas : A
RINGKASAN SYSTEMATIC RANDOM SAMPLING
A. Pengertian
Dikutip melalui website Kemenkeu Learning Center (KLC), systematic random sampling
adalah suatu metode pengambilan sampel, dimana hanya unsur pertama saja dari sampel
dipilih secara acak, sedangkan unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis menurut
pola tertentu.
Penetapan sampel pertama dilakukan secara acak, dan kemudian untuk sampel kedua,
ketiga, dan seterusnya menggunakan pola tertentu yang sistematis dan konsisten. Teknik ini
membantu menentukan sampel penelitian dengan lebih mudah dan juga cepat.
Random Sistematik (Systematic Random Sampling) sistematik sampling adalah metode
statistik yang melibatkan pemilihan elemen-elemen dari suatu memerintahkan kerangka
sampling. Bentuk yang umum sebagian besar sampling sampling sistematis sistematis adalah
probabilitas-metode probabilitas-metode yang sama, di mana setiap k elemen dalam frame
𝑁
dipilih, di mana k, sampling interval, dihitung sebagai: 𝑘 = dimana n adalah ukuran sampel,
𝑛
dan N adalah ukuran populasi. Menggunakan prosedur ini setiap elemen dalam populasi
memiliki probabilitas yang sama dikenal dikenal dan seleksi. Hal ini membuat membuat
sistematik sampling fungsional mirip dengan simple simple random sampling . Meskipun
demikian, jauh lebih efisien (jika varians dalam sampel sistematis lebih dari varians dari
populasi).
B. Kelebihan
Menurut Kasjono (2009), kelebihan SRS adalah:
1. Cara ini relatif mudah dilakukan
2. Pemilihan sampel dapat dilakukan pada proses yang sedang berjalan, ketika jumlah populasi
dari kerangka sampel belum tersedia.
3. Dengan menggunakan sampel acak sistematis, sampel yang terpilih cenderung lebih tersebar
dalam keseluruhan populasi. keseluruhan populasi. Oleh karena Oleh karena itu sampel
dianggap lebih mewakili populasinya dibandingkan sampel dari metode acak sederhana.
4. Membutuhkan waktu serta biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan pengambilan
sampel acak sederhana.
C. Kekurangan
Kekurangan SRS Kelemahan SRS menurut Kasjono menurut Kasjono (2009) adalah:
1. Setiap unit penelitian tidak mempunyai peluang yang sama untuk diambil sebagai sampel.
Oleh karena itu, populasi (N) harus besar sehingga pengambilan sampel mendekati acak lagi.
2. Populasi harus bersifat homogen karena jika terlalu heterogen atau banyak variasi, besar
kemungkinan sampel tidak mewakili populasi.
3. Bila terjadi suatu kecenderungan tertentu maka metode ini menjadi kurang sesuai atau tidak
lagi acak, padahal sampel seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.
4. Salah satu kekurangan lain dari Systematic Random Sampling adalah biaya yang mungkin
tinggi yang disebabkan oleh kondisi geografis yang besar. besar. Andaikata populasi tersebar
tersebar dan berjauhan berjauhan di daerah yang besar, maka akan dibutuhkan biaya
perjalanan untuk mencapai satu unit sampel menuju unit sampel lainnya.
D. Langkah- langkah Sistematik Random Sampling
Langkah-langkah Langkah-langkah pelaksanaan pelaksanaan SRS menurut Cochran (2010):
Ada beberapa cara untuk melihat penarikan sampel sistematik. Dengan N=nk, sampel
sistematik k yang mungkin ditujukan dalam kolom pada tabel.
Nomor Sampel 1 2 … i … k
1 y₁ y₂ … yᵢ … yₖ
2 yₖ₊₁ yₖ₊₂ … yₖ₊ᵢ … y₂ₖ
… … … … … … …
n y₍ₙ₋₁₎ₖ₊₁ y₍ₙ₋₁₎ₖ₊₂ … y₍ₙ₋₁₎ₖ₊ᵢ … yₙₖ
Rata-rata 𝑦̅1 𝑦̅2 𝑦̅𝑖 𝑦̅𝑘
Dari tabel ini populasi telah dibagi ke dalam k unit-unit penarikan sampel yang besar,
masing-masing terdiri atas n unit asli. Cara pemilihan sebuah sampel sistematik yang letaknya
secara acak adalah hanya dengan memilih satu unit dari unit-unit penarikan sampel yang besar
secara acak. Jadi penarikan sampel tunggal yang kompleks yang merupakan keseluruhan sampel.
Sampel sistematik adalah sebuah sampel acak sederhana dari satu unit kelompok dari sebuah
populasi dengan k kelompok unit.
Pemilihan sampel dilakukan dengan beberapa langkah berikut:
a. Tentukan dahulu interval sampel (k) yang menunjukan hasil bagi jumlah satuan elementer
populasi dibagi sampel (N/n).
b. Unsur pertama dari sampel lalu dipilih secara acak diantara satuan elementer bernomor urut i
dan k dari populasi.
c. Andaikan yang terpilih itu adalah satuan elementer bernomor urut s, maka unsur-unsur
selanjutnya dalam sampel dapat ditentukan, yaitu :
d. Unsur pertama pertama = s
e. Unsur kedua = s + k
f. Unsur ketiga = s + 2k
g. Unsur Keempat Unsur Keempat = s + 3k, = s + 3k, dan seterusnya dan seterusnya 8
h. Andaikan satuan satuan elementer dalam satuan populasi berjumlah 50, yang diberi no urut 1
sampai 50, dan besar sampel yang akan diambil 10, maka = 50/10=5.
i. Unsur pertama dari sampel harus dipilih secara acak diantara satuan satuan elementer 1 dan 5.
Andaikan yang terpilih sebagai unsur pertama adalah nomor 3, maka unsur-unsur yang lainnya
dari sampel adalah satuan satuan nomor 8, 13, 18, 23, 28, 38, 43, dan 48 (Kasjono, 2009)
E. Penduga Rata-Rata Populasi dan Varians
penduga rumus
Rata- 𝑘
1
𝑌̅ = ∑ 𝑦1
Rata 𝑘
𝑖=1
1
V(𝑦𝑠𝑦 ) =𝑘 ∑𝑘𝑖=1(𝑦1 − 𝑌̅)2
Varians 𝑁−1 𝑘(𝑛−1)
V(𝑦𝑠𝑦 ) = 𝑆2 − 2
𝑆𝑤𝑠𝑦
𝑁 𝑁
𝑆 2 𝑁−1
V(𝑦𝑠𝑦 ) = 𝑁 [1+(n−1)ρ]
𝑁
Keterangan:
2 1 𝑘 𝑛
𝑆𝑤𝑠𝑦 = ∑ ∑ (𝑦1 − 𝑌̅)2
𝑘(𝑛 − 1) 𝑖=1 𝑗=1
1 𝑛
𝑆2 = ∑ (𝑦1 − 𝑌̅)2
𝑁 − 1 𝑖=1
2 𝑘 𝑛 𝑁
𝜌= ∑ ∑ (𝑦𝑖𝑗 − 𝑌̅) (𝑦𝑖 𝐹 − 𝑌̅)
𝑘𝑛(𝑛 − 1) 𝑖=1 𝑗<1 (𝑁 − 1)𝑆 2