Hambatan Komunikasi Kuliah Zoom Covid-19
Hambatan Komunikasi Kuliah Zoom Covid-19
ABSTRACT
Since the emergence of Covid-19 in Indonesia, learning systems such as lectures, which are usually conducted
face-to-face, have become online. This has become a decision of the Ministry of Education and Culture
stipulated in Circular Number: 36962/MPK.A/HK/2020 on March 17, 2020 about online learning and working
from home in order to prevent the spread of Covid-19. As for the problems raised in this study, how are the
communication barriers during lectures using the Zoom pandemic Covid-19 and what are the solutions? The
method used in this study is a qualitative method, while the theory used is the Theory of Social Information
Processing (SIP) by using four communication barriers according to Einsenberg, namely, process barriers,
physical barriers, semantic barriers, and psychosocial barriers. The obstacles that are often experienced during
online include difficulty accessing signals or internet networks; for lecturers, the lack of ability to monitor
directly; a lack of self-motivation during online; and decreased communication skills.
Keywords: communication barrier, daring, zoom, computer mediated communication, covid-19.
ABSTRAK
Sejak munculnya Covid-19 di Indonesia sistem pembelajaran seperti perkuliahan yang biasanya dilakukan tatap
muka menjadi perkuliahan online, hal ini sudah menjadi keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
yang ditetapkan dalam Surat Edaran Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020 pada tanggal 17 Maret 2020 tentang
Pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka mencegah penyebaran virus Covid-19, adapun
permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana hambatan komunikasi saat perkuliahan
menggunakan aplikasi Zoom di masa pandemi Covid-19 dan apa solusinya. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif, sedangkan teori yang digunakan adalah teori Social Information
Processing (SIP) dengan menggunakan empat hambatan komunikasi menurut Einsenberg yaitu, hambatan
proses, hambatan fisik, hambatan semantik, dan hambatan psikososial. Adapun hambatan yang seringkali
dialami selama perkuliahan online diantaranya kesulitan mengakses sinyal atau jaringan internet, bagi dosen
kurangnya kemampuan untuk memonitoring secara langsung, kurangnya motivasi diri saat perkuliahan online,
serta menurunnya kemampuan komunikasi.
Kata Kunci: hambatan komunikasi, daring, Zoom, computer mediated communication, covid-19.
1. PENDAHULUAN
Pandemi Covid-19 mengakibatkan masyarakat harus berdiam diri di rumah untuk mencegah
penularan karena virus ini mematikan. Hal ini membuat kegiatan dibatasi, salah satu aktivitas yang
terdampak dari Covid-19 adalah pendidikan contohnya kegiatan perkuliahan. Dalam praktiknya,
perkuliahan online (daring/work from home) ini dilakukan seperti biasanya, akan tetapi yang jadi
pembeda hanyalah bagaimana pertemuan dalam perkuliahan yang umumnya dilaksanakan secara
langsung dan tatap muka, saat ini studi itu dilaksanakan secara virtual dengan bantuan jaringan
internet dan sebuah aplikasi.
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Pelaksanaan perkuliahan online pada masa pandemi Covid-19 turut dilakukan juga oleh UIN
Raden Fatah Palembang yang yakni termasuk institusi pendidikan tinggi. Perkuliahan dilaksanakan
memakai internet maka mengharuskan dosen dan mahasiswa berkomunikasi dengan online. Dosen
membentuk bahan ajarannya yang bisa di akses oleh mahasiswanya. Sistem Perkuliahan online
tersebut dapat berupa chatting, grup chatting, konferensi video, maupun via suara. Berbagai media
interaktif juga digunakan dalam pelaksanaan perkuliahan online seperti E-learning, Whatsapp,
Telegram, Google Classroom, Google Meet , Zoom Cloud Meeting, dll.
Dalam Sistem perkuliahan online termasuk aplikasi yang sering dipakai yakni Zoom. Aplikasi
tersebut dapat digunakan pada perangkat seperti seluler, smartphone, hingga komputer. Zoom sudah
di download lebih dari 100 juta pemakai di playstore maupun appstore, hal tersebut menjadi
menjadikan Zoom sebagai aplikasi pertemuan video HD yang terkenal dan sangat banyak dipakai
sampai sekarangini. Zoom dapat membagikan slide presentasi, foto, maupun video dalam suatu
meetings sehingga sangat cocok digunakan dalam sistem perkuliahan berbasis online pada masa
pandemi seperti sekarang ini.
Dalam prosesnya dosen dan mahasiswa dapat melakukan proses perkuliahan melalui Meeting
yang ada di aplikasi Zoom. Dosen dan mahasiswa juga tetap bisa berinteraksi di meeting melalui
video, audio maupun chat yang telah tersaji pada aplikasi Zoom sehingga dosen tetap bisa melihat apa
yang dilakukan mahasiswanya selama perkuliahan berlangsung, dosen juga dapat membagikan
presentasi berupa file PowerPoint di aplikasi Zoom, lalu membuka sesi tanya jawab atau
mempersilahkan mahasiswa untuk bertanya seputar materi perkuliahan yang telah disampaikan dan
akan ditanggapi oleh mahasiswa yang berbicara dengan cara menyalakan tombol microphone yang
ada di aplikasi Zoom. Sehingga komunikasi yang dilakukan menghasilkan feedback atau timbal
balik.
Akan tetapi dibalik kelebihan atau benefit yang telah kita rasakan dan diberikan oleh aplikasi
Zoom, kelancaran dalam penggunaan nya pun masih di pengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dari
pengguna itu sendiri, seperti seberapa cepat jaringan internet yang dipakai pengguna, sebab bila tidak
tersedia jaringan internet maka aplikasi Zoom tidak bisa digunakan. Selain itu spesifikasi perangkat
juga mempengaruhi bagaimana performa aplikasi Zoom saat digunakan apakah terjadi gangguan atau
tidak saat aplikasi Zoom berjalan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat bahwa jika terjadi noise
(gangguan) serta hambatan yang menimbulkan permasalahan, baik itu permasalahan yang berawal
dari jaringan ataupun masalah dari performa aplikasi Zoom itu sendiri yang akan berpengaruh pada
timbal balik komunikasi saat perkuliahan online berlangsung. Hambatan itu tidak hanya berasal dari
aplikasi Zoom saja, tetapi gangguan-gangguan itu juga sering kali berasal dari sekitar ataupun berasal
dari mahasiswa itu sendiri. Perkuliahan online yang menggunakan jaringan internet dan sebuah
aplikasi seperti ini, tidak lepas dari kontribusi teknologi, informasi, dan komunikaasi itu.
Teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini sudah tumbuh secara cepat, berbagai media,
sistem ,dan aplikasi telah banyak dikembangkan guna mencakup kepentingan manusia, maka sebab
itu sekarang ini media juga dapat di artikan sebagai media baru (new media) yang terkait dengan
penggunaan internet, seperti aplikasi Zoom yang cocok digunakan dalam sistem perkuliahan online.
Teknologi dan komunikasi melalui internet telah menjadi makanan sehari-hari, apalagi dimasa
pandemi sekarang, intensitas penggunaannya semakin meningkat tanpa mengenal batasan waktu dan
usia. Maka sebab itu peneliti mengambil dan tertarik melaksanakan studi terhadap Mahasiswa UIN
Raden Fatah Palembang. Berlandaskan penjabaran diatas sehingga pengkaji akan melaksanakan studi
yang berjudul “Hambatan Komunikasi Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom di
Masa Pandemi Covid-19 (Studi pada Dosen dan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN
Raden Fatah Palembang)”.
2. METODE PENELITIAN
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Jaringan internet yang buruk menjadi hambatan utama dalam proses pertukaran pesan dalam
perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom. Dalam prosesnya hambatan ini sering terjadi pada
saat komunikasi itu sendiri sedang berjalan, meskipun saat berkomunikasi menggunakan Zoom dapat
bertatap muka melalui fitur on-camera video yang telah disiapkan, akan tetapi jika koneksi jaringan
atau sinyal provider internet buruk komunikasi yang dilakukan juga tidak akan lancar. Seperti hasil
wawancara dengan M. Rio Saragih pada tanggal 12 November 2021 yang yakni termasuk
mahasiswa FISIP program studi IK angkatan 2020 kelas 2001B, sebagai berikut.
“Kendala utama itu adalah sinyal lalu hal tersebut menyebabkan terjadi miss
komunikasi sehingga membuat saya kurang mengerti dan kurang memahami
apa yang disampaikan dosen saat perkuliahan berlangsung”.
Meskipun dapat bertatap muka seringkali koneksi jaringan atau sinyal provider internet
membenntuk on-camera dan audio tidak berjalan lancer saat menggunaan Zoom, maka ketika
membincangkan hal-hal yang krusial membuat audio jadi terputus-putus suara dan gambarnya pada
saat on-camera menjadi tidak jelas sehingga membuat pesan tidak tersampaikan dengan baik. Sama
halnya dengan dua pernyataan diatas hasil wawancara dengan informan dari mahasiswa lain yaitu Egi
Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November 2021 juga menyatakan hambatan yang paling
utama adalah sinyal, berikut dibawah ini kutipannya.
Dari pernyataan tersebut dapat kita lihat bahwa selain jaringan atau sinyal
provider yang buruk noise atau gangguan yang berasal dari sekitar juga dapat
mengganggu proses jalannya komunikasi. Suara terputus-putus karena jaringan
yang buruk, suara kurang jelas karena banyak noise atau suara tambahan dari
sekitar yang mengakibatkan nada dan artikulasi suara tidak jelas saat didengar,
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
camera yang tidak jelas maka orang yang dii ajak mengobrol pun tidak terlihat
jelas ekspresi wajah nya, maka membuat tahap komunikasi yang ada tidak
berlangsung lancar.
2. Hambatan Fisik
a) Kurangnya Kemampuan untuk Memonitoring secara Langsung
Berbeda dengan komunikasi tatap muka, komunikasi online ini cendrung susah dalam memantau
dan memonitoring komunikan secara langsung dikarenakan adanya jarak yang jauh dan hanya
dihubungkan melalui komunikasi menggunakan jaringan internet. Seperti yang disampaikan oleh
Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.
“Kurangnya monitoring ke mahasiswa, apakah mereka benar-benar berkuliah atau tidak, ada
juga mahasiswa yang sering on-camera tetapi mahasiswa tersebut tidak memperhatikan apa yang
disampaikan, karena ketika dari media secara onliine untuk menyampaikan pesan itu masih kurang
seefektif seperti saat komunikasi tatap muka”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa banyak hambatan yang muncul dikarenakan
kurangnya kontak secara langsung saat proses komunikasi, misalnya kurangnya monitoring dari pihak
dosen sebagai komunikator saat menyampaikan materi atau pesan ke mahasiswa sebagai komunikan
hal ini dikarenakan keterbatasan dari media itu sendiri yang kurang memungkinkan untuk
memperlihatkan aktivitas partisipan secara bersamaan dan menyeluruh. Umumnya satu slide screen
pada Zoom hanya dapat menampilkan 25 peserta dalam satu layar pada screen laptop dan komputer
dan hanya dapat menampilkan 4 peserta dalam satu layar pada screen smartphone. Selain itu, hal ini
sepadan terhadap pernyataan yang diberikan oleh Ibu Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November
2021 dalam kutipan wawancara berikut.
“Kita tidak bisa melihat respon secara langsung contohnya pada saat mahasiswa off-kamera
kita tidak tau apakah mereka berada disana atau tidak tapi pada saat on-kamera kita bisa melihat
mereka, tapi jika dikelas jumlah mahasiswa sekitar 30 orang kita tidak mungkin dikontrol semua,
hambatannya terkadang disitu kita tidak bisa melihat secara langsung fisik mahasiswa sedang
melakukan apa”.
Hambatan fisik seperti ini tidak bisa dijauhi pada situasi perkuliahan online, tetapi secara
memaksimalkaan aspek bahasa tubuh yang lainnya dengan selalu on-camera saat perkuliahan
berlangsung, aktif dan bebas membuat ekspresi wajah atau gerak tubuh yang terlihat jelas (dalam
pemakaian video didalam aplikasi Zoom) hal ini bisa meminimalisir setidaknya kekurangan tersebut,
tentu saja harus adanya kesepakatan dan rasa peka terlebih dahulu antara komunikator dan komunikan
agar komunikasi yang dilakukan tercapai sebagaimana mestinya yang diharapkan dari komunikasi itu.
3. Hambatan Semantik
a) Penggunaan Tata Bahasa yang Kurang Tepat
Hambatan disini termasuk didalam hambatan semantik. Hambatan semantik bersumber dari tata
bahasa atau kata-kata yang dikirimkan oleh pengirim pesan yang kurang tepat sehingga membuat
komunikan atau penerima pesan kurang memahami arti dari kalimat yang didapat. Penggunaan tata
bahasa yang kurang tepat seringkali terjadi apabila komunikasi itu dilakukan melalui sebuah tulisan,
menggunakan komunikasi online apalagi tulisan lebih cenderung tidak bisa mewakili perasaan
penggunanya. Hal tadi karena pesan yang disampaikan melalui tulisan tidak bisa secara pribadi
tersampaikan dan langsung terlihat bagaimana perubahan ekspresi lawan serta intonasi lawan bicara,
kecuali Jika menggunakan video call atau telepon suara. Hal tersebut bisa menyebabkan
kesalahpahaman yg mengakibatkan timbulnya kesalahpahaman, bahkan perselisihan tanpa
memandang ikatan hubungan seperti keluarga, teman dekat, saudara, serta sebagainya, inilah perlunya
berhati-hati dalam melakukan komunikasi online. Maka dari itu ketika perkuliahan online
berlangsung sangat amat diancurkannya untuk memakai fitur video call dan suara buat menghindari
miss komunikasi yang kemungkinan bisa terjadi. Seperti hasil wawancara dengan Ibu
Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021, sebagai berikut.
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
“Miss komunikasi yang terjadi itu misalnya seperti ini mahasiswa bertanya
didalam kolom komentar dan yang ditanyakannya itu susah untuk dimengerti
lalu kita bisa mempersilahkan atau memberikan kesempatan kepada dia untuk
bertanya secara langsung melalui kolom chat, karena pengetikkan itu berbeda
dengan menyampaikan pendapat secara langsung, lebih enak lagi kalau dia
membuka mic/suara untuk bertanya, itu kadang miss komunikasinya paling
dalam bertanya atau ketika dosen menyampaikan materi dan mahasiswanya
tidak mengerti itu bisa difollow up lagi dengan bertanya”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa dalam tata bahasa atau pengetikan juga dapat
menyebabkan hambatan yang akan terjadi didalam komunikasi, hal ini dapat disebabkan oleh
berbagai faktor seperti, pemilihan kata yang samar-samar dan kurang jelas, bahasa asing yang tidak
dimengerti lawan bicara, penempatan tanda baca yang salah, bahasa singkatan, serta pengunakan
huruf kapital atau kata sambung yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Hal tersebut dapat
menimbulkan kecendrungan pesan yang disalah artikan dan dapat menimbulkan miss komunikasi.
Maka dari itu untuk meminimalisir kecendrungan miss komunikasi yang terjadi akibat pengetikan
kalimat, sebaiknya jika jaringan memungkinkan dalam perkuliahan online hendaknya menggunakan
fitur voice/on mic dan berbicara secara langsung sebagaimana saat perkuliahan tatap muka.
4. Hambatan Psikososial
a) Kurangnya Motivasi Diri saat Perkuliahan Online
Proses yang dilakukan oleh komunikan (penerima pesan) untuk menafsirkan
serta memahami isi pesan sesuai apa yang ia terima disebut juga dengan
decoding, contohnya dengan cara membaca, mendengarkan serta mencerna
apa maksud dari pesan tersebut. Decoding sering juga disebut dengan proses
‘menyandi pesan’ akan tetapi disaat perkuliahan berlangsung seringkali adanya
hambatan yang terjadi, Seperti hasil wawancara dengan Ibu Putri Citra Hati pada
tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:
“Pertama mahasiswa kadang tidak membuka video dalam pembelajaran lalu
terkadang saya tidak tau apa alasannya apa memang benar mereka terkendala
sinyal, lalu ketika dosen bertanya tiba-tiba Zoom mereka loading entah itu untuk
menghindari pertanyaan atau apakah sinyal itu semacam menjadi alat
pembenaran atau memang kuotanya sudah limit”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa salah satu hambatan dalam
penyandian pesan didalam suatu komunikasi adalah kurangnya motivasi dari diri
sendiri sehingga membuat proses penyandian itu pun terhambat. Dibawah ini
adalah hasil wawancara dengan salah satu informan yaitu Retno Kurnia Muktiarum
pada tanggal 15 November 2021 yang merupakan salah satu mahasiswi FISIP program studi Ilmu
Komunikasi angkatan 2018 kelas ilkom18, berikut kutipannya.
“Saat perkuliahan online berlangsung masih suka sibuk sendiri dengan
kegiatan yang lain, akan tetapi saya selalu tepat waktu, berbahasa indonesia
yang baik dan on-camera saat perkuliahan online berlangsung”.
Kurang memperhatikan merupakan salah satu contoh dari motivasi diri yang
kurang, karena jika seseorang memiliki motivasi yang lebih dalam melakukan
suatu kegiatan seperti perkuliahan online maka sebisa mungkin ia akan
mencermati dan fokus dengan perkuliahan tersebut dengan sungguh-sungguh.
Kurang memperhatikan dapat diartikan juga tidak konsentrasi, dalam hal menyimak
materi ketika perkuliahan, memang benar bahwa hal ini dikarenakan perkuliahan dilakukan di rumah
sehingga mahasiswa kadang terfokus melakukan aktivitas lain, hal ini dikarenakan saat menggunakan
alat komunikasi online secara langsung koneksi ke internet akan hidup, sehingga ketika menjalankan
kegiatan seperti belajar seirngkali timbul notifikasi sosial media atau lainnya. Hal itu akan
mengakibatkan pikiran tidak fokus serta menurunnya konsentrasi saat belajar serta akan berakhir
dengan membuka notifikasi tadi. Fenomena seperti inilah yang tak jarang terjadi pada masyarakat,
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
seringkali tugasnya terbengkalai karena sadar atau tidak sadar mengoperasikan platform terseburt
secara kurang penting.
b) Menurunnya Kemampuan Berkomunikasi
Stay at home yang dilakukan saat pandemi Covid-19 tidak selamanya berdampak baik terhadap
keadan psikis seseorang, walaupun benar hal tersebut harus dilakukan guna menekan penyebaran
Covid-19 yang meningkat saat pandemi terjadi. Hal ini terlihat dari hasil wawancara
dengan salah satu informan mahasiswa yaitu Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8
November 2021 yang merupakan salah satu mahasiswi FISIP program studi Ilmu Komunikasi
angkatan 2021 kelas 2171E, sebagai berikut:
“Saya sendiri itu masih malu dan sangat gugup jika ingin berinteraksi secara
online atau bertanya kepada dosen mengenai materi yang belum saya pahami”.
Anjuran untuk stay at home dalam kurun waktu yang lama membuat orang-orang mengalami
tekanan emosi tertentu seperti rasa jenuh, bosan, serta rasa kesepian sehingga merasakan bahwa
pembelajran online yang dijalani dilakukan sendirian tanpa teman disamping dengan pengalaman
yang sama sehingga menimbulkan keterasingan kuat yang mengakibatkan meningkatnya rasa kurang
percaya diri atau insecure. Hal tersebut dapat menyebabkan keadaan emosi yang kurang stabil
sehingga membuat kemampuan untuk berkomunikasi yang biasanya lancar menjadi menurun secara
drastis.
c) Stress yang dihadapi selama masa pandemi
Kebanyakan mahasiswa/i yang pulang kampung saat pandemi dimulai menyebabkan
mahasiswa saat itu hampir seluruhnya bergantung pada perkuliahan online. Banyaknya tugas yang
diberikan oleh dosen menjadi tanggung jawab tersendiri bagi mahasiswa. Sebagian dari respon
mahasiswa merasakan tertekan akan kondisi ini ditambah terbatasnya interaksi antara mahasiswa dan
teman sekelasnya juga menghambat jalannya mahasiswa berdiskusi, bertukar pikiran bahkan bermain
bersama, kurangnya hiburan seperti ini serta terbatasnya pergerakan menimbulkan rasa stress dan
bosan dalam diri itu sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama Egi Devina
Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November 2021, yaitu.
“saya merasa seperti ada yang kurang saat perkuliahan online seperti tidak bisa bertatap
muka secara langsung, tidak bisa berkenalan dan bertemu dengan teman secara langsung, hal
tersebut menyebabkan saat bertemu dan bertatap muka langsung itu ada rasa gugup
dan canggung”.
Terdapat pengaruh yang tampak antara himbauan work from home dan bagaimana kondisi
yang dihadapi oleh mahasiswa. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bagaimana intensitas mahasiswa itu
berkomunikasi dengan keluarga mereka saat dirumah saja, tingginya tingkat bosan dan stress dapat
mempengaruhi kondisi psikis mahasiswa tersebut sehingga kemampuannya untuk menangkap serta
berkonsentrasi dalam perkuliahan pun akan menjadi susah, tidak hanya itu hal ini juga dapat
mempengaruhi kemampuannya dalam berkomunikasi baik itu berkomunikasi dengan sesama
mahasiswa atau pun berkomunikasi dengan dosen.
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Karena lokasi dan kondisi setiap orang saat perkuliahan berlangsung itu berbeda-beda, maka
jika kita ketertinggalan materi dikarenakan jaringan yang tiba-tiba hilang kita dapat meminta bantuan
keteman mahasiswa yang saat itu mengikuti perkuliahan dari awal sampai akhir untuk menanyakan
bagaimana materi yang saat itu dijelaskan oleh dosen. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan
salah satu mahasiswa yaitu Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8 November 2021 yang merupakan
salah satu mahasiswi FISIP program studi Ilmu Komunikasi angkatan 2021 kelas 2171E, sebagai
berikut:
“Karena sering mengalami kendala sinyal dan masih gugup saat bertanya
langsung ke dosen mengenai materi apa saja yang dikomunikasikan dikelas,
cara saya mengatasinya dengan bertanya keteman yang mengerti tentang hal
itu”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa hal tersebut merupakan
salah satu tindakan yang benar jika dilakukan, bertanya langsung keteman untuk
mengetahui ketertinggalan apa yang dialami agar mahasiswa senantiasa paham
materi yang telah dijelaskan oleh dosen selama perkuliahan berlangsung. Akan
tetapi sikap yang menyatakan masih gugup saat menghubungi dosen sebaiknya
dihilangkan. Karena, dosen merupakan pengajar utama dalam perkuliahan online
ini, sehingga tentu saja ia akan lebih paham, memaklumi serta memberikan
solusi secara maksimal terhadap masalah yang mahasiswanya dapat, selain itu
untuk mahasiswa tentunya harus memiliki serta menerapkan etika dan sopan
santun ketika menghubungi dosen.
2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik sebenarnya tidak dapat dihindari atau diminimalisir saat di masa pandemi
Covid-19, hal ini di karenakan pada saat itu adanya kebijakan work from home yang berarti segala
aktivitas dirumahkan. Untuk meminimalisir sedikit hambatan fisik ini, saat menggunakan aplikasi
Zoom harusnya peserta ikut serta dalam menyalakan kamera. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara
dengan Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
“Diharapkan mahasiswa itu berperan aktif, karena saat di Zoom itu terlihat keseluruhan
mahasiswa yang hadir, lalu tentang kehadiran selain itu aplikasi bisa meng-record proses mengajar
antara dosen dan mahasiswa sehingga dosen bisa memonitoring dan menilai langsung mana
mahasiswa yang aktif dan mana yang tidak”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa, fitur record dalam aplikasi Zoom dapat
digunakan, hal ini dapat memungkinkan dosen untuk meminidai serta melihat ulang rekaman hasil
recording saat perkuliahan berlangsung sehingga dosen dapat menilai serta mengetahui berapa jumlah
mahasiswa yang hadir, mengecek jam berapa mahasiswa masuk ke meeting Zoom apakah mereka
tepat waktu atau terlambat, memindai ulang serta mengevakukuasi bagaimana jalannya perkuliahan
tadi apakah perkuliahan tersebut telah baik atau belum.
Selain itu saat perkuliahan sudah di record atau saat kamera dihidupkan selama perkuliahan
online masing-masing partisipan dosen bahkan mahasiswa dapat melihat pesan non verbal yang
selama ini selalu ada saat perkuliahan tatap muka, walaupun sebenarnya perkuliahan online ini tidak
menjamin keberhasilan komunikasi seperti yang komunikasi tatap muka lakukan, akan tetapi hal ini
cukup untuk meminimalisir hambatan ini. Karena, dari sinilah kita dapat melihat pesan non verbal
yang dibuat lalu disampaikan oleh aplikasi Zoom seperti, ekspresi wajah, gerakan dan kontak mata,
maupun aktivitas lainnya yang terekam oleh kamera saat perkuliahan berlangsung.
3. Hambatan Semantik
Tujuan dari menggunakan bahasa yang sederhana yaitu agar komunikan mudah memahami
maksud dan tujuan pesan yang akan disampaikan, seperti hasil wawancara dengan Bapak Badaruddin
Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.
“Metode tetap menggunakan ppt dan bukan hanya ppt, seperti bapak yang mengajar statistik
karena penulisan angka-angka di aplikasi Zoomnya itu tidak ada jadi bapak tetap langsung menulis
materinya dari kertas a4 double folio yang sudah di pdf kan tapi tetap dilampirkan seperti slide ppt,
hal itu untuk mempermudahkan mahasiswa”.
Dari pernyatataan diatas dapat kita ketahui bahwa bahasa yang sederhana akan lebih mudah
dipahami mengingat bahwa jaringan saat perkuliahan online tidak selamanya bagus jadi diharapkan
agar dapat menyampaikan sesuatu dengan kalimat yang padat, jelas dan mudah dimengerti, akan
tetapi jika penggunaan bahasa pada tulisan seringkali masing mengalami hambatan dan susah diterima
pada komunikasi, lebih dianjurkan memakai fitur open mic atau voice yang dapat membuat pengguna
Zoom berbicara langsung melalui aplikasi ini. Hal ini dapat dianggap lebih efektif daripada tetap
menggunakan tulisan sebagai cara menyampaikan pesan.
Hal itu dikarenakan pada biasanya kesalahan menangkap maksud merupakan hal yang tak
jarang ditemui, maka dari itu penggunaan bahasa yang jelas dan simpel walaupun saat berbicara
masih harus diterapkan agar pemahaman pesan dapat diterima maka dari itu hal ini lebih dianjurkan,
ini sebagai salah satu jenis hal yang paling umum, bahasa yg mudah dipahami sering kali
dipergunakan selama presentasi, konferensi video serta panggilan telepon, rapat atau dialog satu
lawan satu supaya bisa terciptanya komunikasi yang efisien.
Adanya pengulangan pesan saat perkuliahan online adalah hal yang wajar selama perkuliahan
berlangsung, hal ini dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat tertangkap dengan baik. Hal ini
sesuai dengan hasil wawancara bersama Ibu Putri Citra Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai
berikut:
“untuk meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi, jadi kalau kita sedang berbicara
secara langsung dan kendala sinyal lagi reload kita bisa sharescreen melalui ppt”.
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa mempersiapkan cadangan materi terlebih
dahulu dalam perkuliahan online merupakan adalah langkah yang sangat bagus. Jika saat
perkuliahan online berlansung benar-benar terhambat, maka solusi dr sini dapat dilakukan dengan
cara pembagian layar ataupun dapat sambil membagikan layar dan menjelaskan screen layar secara
bersamaan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Eraskaita Ginting pada tanggal 22
November yaitu,
“Zoom itu kalau miss komunikasi selama komunikasi interpersonalnya baik ketika ada pesan
yang disampaikan oleh sender dan diterima baik oleh receiver ketika mereka tidak bisa menjawab
lalu ditanyakan ulang itukan ada semacam pola komunikasi yang bisa dilakukan supaya komunikasi
itu efektif”
Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa pengulangan pesan merupakan salah satu cara
untuk meminimalisir hambatan yang terjadi, pengulangan pesan dapat dilakukan dari sender ke
receiver maupun receiver ke sender yang memiliki peran yang ditukar hal ini bertujuan untuk
menjamin bahwa pesan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan.
4. Hambatan Psikososial
Sapaan pertama dapat menaikkan mood dan atmosfer tersendiri saat perkuliahan berlangsung,
selain itu terciptanya suasana belajar yang asik adalah awal mula dari perkuliahan yang seru. Hal ini
seperti yang disampaikan oleh Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai
berikut.
“bertanya kepada mahasiswa satu persatu apakah mereka paham atau tidak, disapa
mahasiswanya satu persatu agar membangun hystorical kita antara dosen dan mahasiswa, serta
untuk sapaan agar mahasiswa tidak jenuh dan tidak malas ketika dosen menyampaikan materi, dan
ada juga namanya intermezzo hal itu juga yang dibangun saat perkuliahan tujuannya juga untuk
sebagai hiburan yang akan membangkitkan semangat, karena walaupun kita perkuliahan online
dengan jarak jauh ini harus tetap semangat”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa sapaan pertama dapat membangun hubungan
serta suasana baik yang diharapkan agar mampu menyampaikan pesan atau materi secara tepat
sasaran dan meminimalisir hambatan. Selain itu dengan terciptanya suasana hati yang baik,
perkuliahan yang seru hal ini akan membuat mahasiswa tidak mudah merasa bosan dengan
perkuliahan itu sehingga mereka akan lebih banyak memberikan perhatian atau atensi terhadap materi
yang disampaikan. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil wawancara dengan Ibu Putri Citra
Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:
“Kalau saya cara mengelola media komunikasi agar efektif itu dengan cara menciptakan
joke-joke yang segar juga biar anak-anak itu tidak bosan kemudian anak-anak itu tidak menganggap
mata kuliah ini seram dan ekstrim, ibaratnya perkuliahan ini jalan aja, seperti salah satu istilah teori
yang menyatakan bahwa kita bisa memahami audiens, lalu lihat keadaan juga seperti kalau dipagi
hari otomatis kita ciptakan suasana yang semangat, kita ciptakan joke-joke segar agar kelas itu
efektif, sehingga anak-anak itu menjadi tertarik”.
Menciptakan suasana yang segar dapat membuat mahasiswa tidak merasa bosan dengan
perkuliahan yang ia jalani, semakin nyaman dengan keadaan tersebut tentu saja mereka akan semakin
fokus dan lebih berkonsentrasi dalam perkuliahan online yang sedang berlangsung. Selain itu dengan
suasana yang segar dapat tercipta pikiran positif serta terciptanya suatu kondisi yang kondusif didalam
perkuliahan sehingga mahasiswa maupun dosen dapat menelaah isi pesan yang disampaikan atau
pesan yang diterima secara logis dan tidak terpengaruh dengan keadaan emosi yang buruk, karena
keadaan emosi yang buruk dapat berakibat kedalam suasana yang kurang menyenangkan yang dapat
membuat suatu kondisi dimana komunikasi itu menjadi sesuatu yang menegangkan.
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Empati merupakan kemampuan yang dilakukan untuk memahami perasaan orang lain
ataupun melihat sesuatu yang berasal dari sudut pandang orang tersebut. Seperti yang disampaikan
oleh Ibu Putri Citra Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:
“Pertama kita jalin komunikasi dulu sebelum perkuliahan Zoom berlangsung misalnya
jadwal saya jam 07:10 tapi karena dihari senin ada apel pagi dari UIN kita komunikasikan jadi
mereka tidak menunggu, jadi sebelum perkuliahan online berlangsung kita lakukan komunikasi dulu
diluar itu, bisa dari grup wa kelas atau bisa japri ketua kelasnya”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa mengkomunikasikan sesuatu jika adanya
kemunduran waktu dalam perkuliahan adalah salah satu hal penting agar komunikasi antara
komunikator dan komunikan tetap terjaga, dalam hal ini seorang komunikator memahami bagaimana
rasanya jika harus menunggu jadwal tetapi belum diberitahukan dari awal maka dari itu hal tersebut
merupakan keputusan yang tepat untuk membertahu sebelum perkuliahan berlangsung serta dilain sisi
komunikan pun dapat mengerti dan memahami bagaimana keadaan yang biasanya dilakukan pada
senin pagi.
Menggunakan empati sebagai solusi dari hambatan psikososial pula akan memberikan
dampak yang positif terutama pada menjalin rasa kebersamaan. seorang akan lebih nyaman saat
mampu menjadi orang yang peka bahkan pendengar yang baik. Terkadang dalam suatu masalah,
seorang merasa tidak nyaman saat lawan bicaranya seperti hanya mendengar basa-basi saja. Namun,
dengan adanya empati, maka kita bisa menjadi pendengar aktif yang pula akan memberikan feedback
sesuai dengan konteks pembicaraan yang ada. Biasanya empati ini akan sangat berguna terutama
dalam membentuk keakraban pada antara individu dalam proses interaksi. Mengingat begitu
pentingnya proses komunikasi yang baik, maka kita mulai perlu memperhatikan apakah kita telah bisa
berempati atau belum.
4. PENUTUP
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti menyimpulkan
bahwa hambatan komunikasi biasa terjadi terutama pada kondisi work from home di masa
pandemi Covid-19. Ada empat hambatan dalam komunikasi yang menurut Eisenberg yaitu
hambatan proses, hambatan semantik, hambatan fisik, dan hambatan psikososial.
Penggunakan meida seperti aplikasi Zoom tidak selamanya lancar seperti yang diharapkan.
Hambatan-hambatan pada perangkat media bisa saja timbul kapan saja dan dimana saja salah
satunya yaitu lemahnya sinyal atau jaringan internet yang pada dasarnya digunakan sebagai
sumber untuk dapat melakukan perkuliahan online. Selain itu hambatan fisik juga dapat
mengurangi makna pesan tersampaikan dengan baik sehingga penggunaan media tidak
sepenuhnya dapat menggantikan eksistensi komunikasi face to face.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan komunikasi diantaranya,
sebisa mungkin carilah jaringan yang kuat agar tdak menghambat jalannya komunikasi,
selalu nyalakan fitur kamera di aplikasi Zoom agar isyarat nonverbal tampak walaupun tidak
terlihat seutuhnya, menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah untuk dipahami, serta
menciptakan suasana belajar yang asik sehingga dapat berfikir positif lalu menghilangkan
prasangka negatif yang sering kali menjadi penghambat dalam berkomunikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Mulyana, D. (2017). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
BIBLIOGRAPHY Ngalimun. (2016). Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar Praktis. Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Nurdin, A. (2020). Teori Komunikasi Interpersonal. Jakarta: Kencana.
Pearson, J. (2006). Human Communication Fourth Edition. New York: Mc Graw Hill.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Thurlow, C. (2004). Computer Mediated Communication Social Interaction and the Internet. London: Sage
Publications.
Usman, H., & Akbar, P. S. (2017). Metodelogi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
West, R., & Turner, L. H. (2017). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba
Humanika.
Wiryanto. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo.
Wood, J. T. (2019). Komunikasi Interpersonal Interaksi Keseharian. Jakarta: Salemba Humanika.
Skripsi
Anisah, U. K. (2011). Analisis Deskriptif Komunikasi Interpersonal dalam Kegiatan Belajar Mengajar Antara
Guru dan Murid PAUD Anak Prima pada Proses Pembentukan Karakter Anak. Universitas
Pembangunan Nasional Veteran. Yogyakarta.
Amirullah. (2018). Analisis Komunikasi Antarbudaya dalam Buku Inside The Kingdom, Kisah Hidupku di Arab
Saudi Karya Carmen Bin Ladin. UIN AR-Raniry. Banda Aceh.
Andriani, D. (2017). Kampanye Sosial di Media Sosial (Studi Kasus Computer Mediated Communication pada
Platform Crowdfunding [Link]). UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Mangunsong, R. A. (2019). Analisis Komunikasi Interpersonal Guru Bimbingan Konseling dalam kedisiplinan
Pelajar SMA Negeri 7 Medan. Universitas Sumatera Utara: Medan.
Mayangsari, L. (2017). Analisis Komunikasi Antarpribadi dalam Proses Pembelajaran Lifeskills antara
Pengajar dan Peserta Didik Tunanetra (Studi Pada Dinas Sosial Provinsi Lampung Unit Pelaksana
Teknis Dinas Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas). Universitas Lampung.
Bandar Lampung.
Wijayanti, M. (2015). Analisis Komunikasi padan Brand Community Sophie Paris dalam Media Sosial
Facebook. UIN Maulana Malik Ibrahim. Malang.
Warahmah, M. (2013). Gangguan Semantik dalam Komunikasi antara Dosen dan Mahasiswa pada Jurusan
Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. UIN Alauddin. Makassar.
Jurnal
Anshori, S. Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi. Civic-Culture: Jurnal Ilmu Pendidikan PKn
dan Sosial Budaya, 88-100.
Bali, M. M. (2019). Implementasi Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Distance Learning. Tarbiyatuna Kajian Pendidikan Islam. TARBIYATUNA: Kajian Pendidikan Islam 3 (1).
Chrisnatalia, S. G., & Rahadi, D. R. (2020). Komunikasi Digital Pada Pembelajaran Secara Daring Dimasa
Pandemi Covid-19. Jurnal Bonanza: Manajemen dan Bisnis 1(2), 56-65.
Emeilia, R. I., & Muntazah, A. (2021). Hambatan Komunikasi dalam Pembelajaran Online di Masa Pandemi
Covid-19. Jurnal AKRAB JUARA 6 (2), 155-166.
Handarini, O. I. (2020). Pembelajaran Daring Sebagai Upaya Study From Home (SFH). Jurnal Pendidikan
Administrasi Perkantoran 8(3).
Haqien, D., & Rahman, A. A. (2021). Pemanfaatan Zoom Meeting Untuk Proses Pembelajaran pada Masa
Pandemi Covid-19. SAP Susunan Artikel Pendidikan 5 (1).
Winda Egita
PAGE
Jurnal Studi Ilmu Komunikasi
Volume 01, Nomor 01, Juni 2022
[Link]
ISSN: 2723-0929
Iswari, F. (2021). Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19. GANDIWA:
Gagasan, Media dan Wacana 1(1), 35-43.
Joseph B. Walther, B. V. (2015). Interpersonal and Hyperpersonal Dimention of Computer-Mediated
Communication. The Handbook Of the Psychology of Communication Technology.
Rahman, T. PEMBELAJARAN DARING DI ERA COVID-19. Program Studi Pendidikan IPS, FKIP
Universitas Lambung Mangkurat.
Ri'aeni, I. (2020). Membangun Komunikasi Efektif Dalam Pembelajaran Daring di Masa Pandemi. Dinamika
Komunikasi Di Masa Pandemi Covid-19.
Internet
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. diakses pada tanggal 25 Agustus 2021, dari [Link]
Wawancara
Badaruddin Azarkasyi, MM. (2021). Hasil Wawancara dengan Dosen FISIP UIN Raden Fatah Palembang pada
Hari Selasa, 26 Oktober 2021.
Putri Citra Hati, [Link]. (2021). Hasil Wawancara dengan Dosen FISIP UIN Raden Fatah Palembang pada hari
Selasa, 16 November 2021.
Eraskaita Ginting, [Link]. (2021). Hasil Wawancara dengan Dosen FISIP UIN Raden Fatah Palembang pada
hari Hari Senin, 22 November 2021.
Lutfhfia Sylmi Nadhirah. (2021). Hasil Wawancara dengan Mahasiswi FISIP UIN Raden Fatah Palembang
pada Hari Senin, 8 November 2021.
Egi Devina Hanifatussyabirah. (2021). Hasil Wawancara dengan Mahasiswi FISIP UIN Raden Fatah
Palembang pada hari Jumat, 12 November 2021.
M. Rio Saragih. (2021). Hasil Wawancara dengan Mahasiswa FISIP UIN Raden Fatah Palembang pada hari
Jumat, 12 November 2021.
Mutia Fuji Lestari. (2021). Hasil Wawancara dengan Mahasiswi FISIP UIN Raden Fatah Palembang pada Hari
Senin, 8 November 2021
Retno Kurnia Muktiarum. (2021). Hasil Wawancara dengan Mahasiswi FISIP UIN Raden Fatah Palembang
pada Hari Senin, 15 November 2021
Winda Egita
PAGE