0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan34 halaman

Analisis Komunikasi Zoom di UIN Raden Fatah

Dokumen ini membahas analisis komunikasi perkuliahan menggunakan aplikasi Zoom selama pandemi Covid-19 di UIN Raden Fatah Palembang. Penelitian ini melibatkan wawancara dengan dosen dan mahasiswa untuk mengeksplorasi efektivitas, hambatan, dan kenyamanan dalam komunikasi online. Hasil menunjukkan bahwa meskipun perkuliahan online menawarkan fleksibilitas dan efisiensi, banyak informan masih lebih memilih komunikasi tatap muka karena interaksi yang lebih baik.

Diunggah oleh

finehour46
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan34 halaman

Analisis Komunikasi Zoom di UIN Raden Fatah

Dokumen ini membahas analisis komunikasi perkuliahan menggunakan aplikasi Zoom selama pandemi Covid-19 di UIN Raden Fatah Palembang. Penelitian ini melibatkan wawancara dengan dosen dan mahasiswa untuk mengeksplorasi efektivitas, hambatan, dan kenyamanan dalam komunikasi online. Hasil menunjukkan bahwa meskipun perkuliahan online menawarkan fleksibilitas dan efisiensi, banyak informan masih lebih memilih komunikasi tatap muka karena interaksi yang lebih baik.

Diunggah oleh

finehour46
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang Analisis Komunikasi

Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom dimasa Pandemi Covid-19 (Studi pada

Dosen Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang). Dalam

prosesnya penelitian ini telah mendapatkan izin dari Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi. Data yang telah didapatkan selama

observasi, wawancara, dan dokumentasi di lapangan akan diolah dan dianalisis

dalam bentuk deskriptif, selain itu peneliti telah memilih informan yaitu Dosen

dan Mahasiswa yang akan diwawancarai sesuai dengan kriteria dan tujuan

penelitian. Pada pembahasan ini, pertama peneliti akan membahas mengenai,

bagaimana Komunikasi Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom dimasa

Pandemi Covid-19 dan yang kedua yaitu Hambatan komunikasi apa saja

yang terjadi dalam perkuliahan menggunakan aplikasi Zoom.

Maka dari itu dibawah ini peneliti lampirkan hasil wawancara

dengan informan yang berjumlah 8 orang, yaitu 3 Dosen dan 5

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.

Adapun hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Komunikasi Antara Dosen dan Mahasiswa Saat

Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom Dimasa

Pandemi COVID-19
Setelah penulis melakukan penelitian dengan cara

wawancara ke beberapa informan dan mengidentifikasi

permasalahan komunikasi saat perkuliahan online menggunakan

aplikasi Zoom berlangsung, maka dari itu penulis menggunakan

Teori Social Information Processing (SIP) atau Pemrosesan

Informasi Sosial yang dikembangkan oleh Joseph B. Walther. Teori

Pemrosesan Informasi Sosial digunakan untuk mengkaji komunikasi

berbasis komputer (CMC) yang berjaringan internet untuk mengembangkan kesan

serta interaksi interpersonalnya, sehingga dalam penelitian ini hal ini digunakan

untuk mengetahui bagaimana jalannya komunikasi melalui komputer berjaringan

internet berlangsung serta untuk mengetahui hambatan apa saja yang sering

dialami dalam komunikasi ini.

Teori Social Information Processing mengasumsikan bahwa

“tingkat pertukaran informasi memengaruhi perkembangan dan hubungan timbal

balik” yang berarti jika perkuliahan online yang komunikasinya

berbasis komputer dilakukan secara terus menerus dalam jangka

waktu yang lama dan berkelanjutan hal itu akan berpengaruh

pada perkembangan interaksi antarpersonalnya sehingga bisa

dikatakan bahwa komunikasinya dapat setara dengan

komunikasi FtF (Face to Face).

Perkuliahan online merupakan metode pembelajaran yang

dilakukan menggunakan media seperti aplikasi Zoom yang


terhubung dengan jaringan internet sehingga tetap dapat

berinteraksi walau jarak antara komunikator dan komunikan

terlampau jauh. Dengan begitu, aktivitas masih bisa dilakukan

dirumah sehingga komunikasi tetap berjalan antar keduanya,

berikut dibawah ini merupakan penjelasan bagaimana

komunikasi yang berlangsung seama perkuliana online

berlangsung yang didapat dari hasil wawancara selama

penelitian ini berlangsung.

1. Menciptakan Komunikasi yang Praktis

Praktis disini berarti memudahkan dalam pemakaian dan

penggunaan untuk komunikasi itu sendiri, selain itu terdapat

kenyamanan yang dirasakan saat perkuliahan online yang

berlangsung menggunakan aplikasi Zoom ini. Hal ini terlihat dari

hasil wawancara dengan salah satu informan mahasiswa yaitu

Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8 November 2021, sebagai berikut:

“Kalau pendapat saya perkuliahan online itu ada enaknya, enaknya itu

kalau kita tipe-tipe anak yang pemalu saat bertemu orang langsung hal ini sangat

membantu karena perkuliahan terasa lebih nyaman”.

Pada dasarnya, sifat dari perkuliahan online ini tidak jauh

berbeda dengan kuliah tatap muka hal yang menjadi pembeda

hanya saat pertemuan itu berlangsung yang biasanya dilakukan

secara tatap muka tetapi saat pandemi dilakukan secara online


melalui jaringan internet serta menggunakan salah satu media

komunikasi berupa aplikasi Zoom. Dari pernyataan wawancara diatas

dapat kita lihat bahwa bagi tipe mahasiswa yang pemalu saat bertemu banyak

orang secara langsung tentu saja hal ini akan terasa nyaman bagi mereka karena

tidak perlu bertatap muka secara langsung dengan orang lain akan tetapi bagi

beberapa mahasiswa hal ini secara tak langsung menjadi salah satu kekurangan

dari perkuliahan online.

Dari sisi dosen kepraktisan yang dirasakan selama perkuliahan online

berlangsung itu flekibel, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Badaruddin

Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.

“Dengan penggunaan Zoom selama kuliah jarak jauh bagi

dosen yang sibuk yang tidak sempat, mereka bisa fleksibel

dalam pengajarannya kapan pun dan dimanapun mereka bisa

mengajar mahasiswa, selain itu dalam perkuliahan online kita

bisa mengatur kapan pun jadwal kuliahnya dibandingkan offline,

kemudian dosen juga mampu mengejar materi yang akan

disampaikan pada mahasiswa”.

Berdasarkan kutipan wawancara diatas, dapat kita ketahui bahwa

perkuliahan online mempunyai peran yang penting dalam menyukseskan proses

pembelajaran saat dimasa pandemi, dimanapun dan dalam kondisi apapun pelaku

komunikasi dapat mengatur jadwal perkuliahan dibandingkan offline,

serta bagi pihak dosen mereka dapat mengejar materi perkuliahan. Selain itu hal
ini juga didukung dengan hasil wawancara dengan salah satu informan mahasiswa

yaitu Retno Kurnia Muktiarum pada tanggal 15 November 2021 sebagai berikut.

“Pendapat saya perkuliahan online itu udah efektif dan nyaman karena

perkuliahan online itu efisien waktu contohnya tidak perlu datang kekampus,

tidak lagi ada kata telat serta menghemat biaya”

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa

komunikasi melalui internet ini menguntungkan karena dapat

menghubungkan dua pihak yang berada pada lokasi di dua

tempat yang berbeda sehingga masih dapat berkomunikasi, dari

pernyataan tersebut juga dapat kita simpulkan bahwa sisi kenyamanan lain yang

terlihat dalam komunikasi online yaitu lebih praktis dan efisien dalam penggunaan

waktu, hemat tenaga dan biaya serta mudah secara fisik sehingga tidak perlu

berpindah tempat.

2. Komunikasi Berlangsung Secara Efektif

Komunikasi yang terjadi didalam penelitian ini yaitu komunikasi yang

dilakukan menggunakan aplikasi Zoom selama perkuliahan online. Pada

dasarnya, sifat dari perkuliahan online ini tidak jauh berbeda

dengan kuliah tatap muka hal yang menjadi pembeda hanya saat

pertemuan itu berlangsung yang biasanya dilakukan secara

tatap muka tetapi saat pandemi dilakukan secara online melalui

jaringan internet serta menggunakan salah satu media

komunikasi berupa aplikasi Zoom.


Suatu komunikasi dapat dikatakan efektif apabila

komunikasi tersebut berlangsung dua arah atau memiliki umpan

balik. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan salah satu

informan mahasiswa yaitu M. Rio Saragih pada tanggal 12 November

2021, sebagai berikut:

“Menurut saya saat perkuliahan online berlangsung itu sama dengan saat

perkuliahan offline, dimulai dari cara pemaparan materi kemudian metode

pembelajaran seperti diskusi dan tanya jawab yang menghasilkan timbal balik”

Dari pernyataan tersebut dapat kita lihat bahwa adanya

timbal balik dalam komunikasi saat perkuliahan online. umpan

balik biasa juga disebut dengan feedback adalah respons yang

diberikan oleh komunikan terhadap pesan dari komunikator.

Umpan balik sangat bermanfaat bagi komunikator karena dapat

menjadi acuan untuk menyesuaikan pesannya agar lebih efektif

lagi. Dalam prosesnya umpan balik disini menjelaskan serta

menafsirkan pesan yang didapat dari komunikator kemudian dia

akan merumuskan respons yang tepat. Umumnya dalam

perkuliahan online feedback yang didapat adalah secara

langsung, hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama Ibu

Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November sebagai berikut.

“Antara perkuliahan tatap muka dan perkuliahan online

sama-sama dapat memberikan feedback langsung kecuali kalau


perkuliahan online itu hanya sebatas melihat video, tapi jika

melalui aplikasi Zoom kita bisa melihat mahasiswa dan

mahasiswanya bisa melihat dosen, jadi sebenarnya itu hanya

beda dimedia saja, tapi yang pasti kalau untuk komunikasi itu

feedback yang didapat yaitu secara langsung jadi tidak ada

penundaan umpan balik dan bersamaan dengan itu komunikasi

interpersonalnya berjalan”.

Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa

komunikasi melalui aplikasi Zoom dapat memberikan umpan

balik secara langsung disaat interaksi atau komunikasi itu

sedang berjalan walaupun melalui online. Pernyataan tersebut

juga didukung oleh hasil wawancara dengan salah satu informan

yaitu Mutia Puji Lestari pada tanggal 8 November 2021 sebagai berikut.

“Saat berlangsungnya Komunikasi menggunakan aplikasi

Zoom diperkuliahan online itu terdapat feedback, mahasiswa

juga cukup interaktif dalam perkuliahan, akan tetapi semua itu

tergantung pada jaringan apakah berjalan lancar atau tidak saat

perkuliahan berlangsung”

Dari tiga pernyataan diatas dapat kita tarik kesimpulan

bahwa pada dasarnya perkuliahan online dimasa pandemi sudah

efektif dan adanya feedback saat berkomunikasi, akan tetapi hal

tersebut tentu tidak bisa menggantikan keefektifan saat


komunikasi tatap muka karena perasaaan saat komunikasi

secara online dan tatap muka itu berbeda. Saat perkuliahan online

metode pembelajaran pun tidak jauh beda dengan kuliah tatap muka contohnya

seperti presentasi slide power point, diskusi perkelompok, diskusi tanya jawab,

kuis, selain itu didalam perkuliahan online pengambilan dokumentasi terbilang

tidak sulit, saat perkuliahan online akan lebih cepat dan mudah untuk

memutar video maupun audio hal itu dikarenakan pembawaan

fitur yang tersedia dari sistem media yang saat itu digunakan.

Untuk menciptakan komunikasi yang efektif dalam

perkuliahan online tentu saja diperlukannya bebarapa cara atau

strategi yang perlu dilakukan untuk mencapai sebuah

keefektifitan dalam komunikasi itu sendiri. Seperti yang diungkapkan

oleh Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.

“Kalau untuk menciptakan komunikasi yang efektif

pertama kita bangun dulu komunikasi awal yaitu menyapa

mahasiswa sebelum kita kuliah, baru saat kita sudah masuk

kemateri dosen bisa menyapa mahasiswa dan ditanya satu

persatu kendala apa yang dialami saat berlangsungnya

penyampaian materi, misalnya apakah mahasiswanya paham

atau ada yang ingin ditanyakan”.

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa sapaan pertama bertujuan

untuk membangun komunikasi yang terasa akrab hal ini bertujuan agar
mahasiswa yang disini sebagai komunikan merasa terlibat dan

diperlukan dalam proses pembelajaran ini jadi bukan hanya

seperti dosen sendiri saja yang berbicara. Tidak jauh berbeda

dengan hasil wawancara Bapak Badaruddin Azarkasyi, berikut ini

adalah hasil kutipan wawancara dengan Ibu Putri Citra Hati pada

tanggal 16 November 2021, yaitu.

“Yang pertama saya lebih ke interaktif, saya lemparkan

pertanyaan mereka menjawab, kalaupun mereka tidak menjawab

dan masih pasif ya sudah kita ancam saja main nilai seperti

mialnya ‘bagi yang bertanya ada nilai plus, ada peniiaian

tersendiri’ otomatis itu membangkitkan jiwa mereka untuk aktif

bertanya dan berani untuk menyampaikan aspirasi mereka

didalam kelas Zoom pada saat itu”.

Interaktif berarti saling aktif didalam komunikasinya, komunikasi yang

interaktif akan menciptakan komunikasi dua arah yang saling memberikan umpan

balik antara komunikator dan komunikan secara langsung saat komunikasi itu

sedang berjalan. Biasanya dalam komunikasi interaktif ini antara dua orang

memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai komunikator dan dapat bertukar peran

menjadi komunikan sehingga proses komunikasi tersebut akan bersifat

berkelanjutan. Dengan kata lain komunikasi interaktif merupakan penyampaian

pesan oleh komunikator kepada komunikan yang akan langsung mendapat


tanggapan, baik itu secara komunikasi tatap muka maupun komunikasi melalui

media berjaringan internet.

3. Terdapat Hyperpersonal

Hyperpersonal diartikan sebagai kondisi dimana pelaku

komunikasi merasa sangat nyaman berkomunikasi secara online

dibandingkan tetap muka, ia bahkan berpikir ingin terus-menerus

berkomunikasi secara online, selain itu hyperpersonal juga

beranggapan bahwa untuk mengekspresikan diri dan

mengemukakan pendapat mereka lebih memilih dan merasa

lebih leluasa berkomunikasi secara online daripada tatap muka

secara langsung. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan

salah satu informan yaitu Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8

November 2021 sebagai berikut:

“Saya sangat nyaman dan lebih suka perkuliahan online

dibandingkan tatap muka, karena tidak harus bertemu orang

secara langsung.”

Dari pernyataan diatas dapat kita lihat bahwa itu merupakan salah satu

contoh yang menandakan hyperpersonal mereka cendrung menyukai komunikasi

secara online dibandingkan tatap muka, banyak hal yang menyebabkan

hyperpersonal terjadi akan tetapi penyebab itu kebanyakan berasal dari

pengalaman dan persepsi dari diri mereka sendiri sehingga jika dilakukan secara

terus-menerus akan menjadi kebiasaan.


Namun, pernyataan dari perspektif hyperpersonal ini

bertolak belakang dengan hasil yang peneliti dapatkan saat

wawancara berlangsung karena hanya 1 dari 8 informan yang

menyatakan bahwa dirinya merasa lebih nyaman saat

perkuliahan online, sedangkan 7 informan lainnya menyatakan

lebih memilih untuk berkomunikasi secara tatap muka langsung

(face to face). Seperti hasil wawancara dengan salah satu

informan yaitu M. Rio Saragih pada tanggal 12 November 2021 sebagai

berikut:

“Saya lebih suka dan nyaman saat perkuliahan

dilaksanakan secara offline karena menurut saya saat

perkuliahan online berlangsung itu menyebabkan kurangnya

interaksi antar teman sekelas”.

Menurut penuturan M. Rio Saragih, dia menyatakan bahwa lebih memilih

perkuliahan dalam bentuk komunikasi tatap muka hal ini berarti ia tidak memiliki

tanda-tanda hyperpersonal, ia juga berpendapat bahwa perkuliahan online

membuat interaksi antar teman sekelas berkurang bahkan menjadi jarang, hal ini

disebabkan oleh adanya jarak yang tercipta selama perkuliahan online terjadi.

Disisi lain ada juga informan seperti Mutia Puji Lestari pada tanggal 8

November 2021 yang tidak mempermasalahkan jenis perkuliahan apa yang

dilakukan, berikut dibawah ini adalah kutipannya:


“Sebenarnya lebih suka kuliah tatap maka, tapi karena

selama ini sudah terbiasa kuliah online jadi rasanya saat kuliah

offline atau online itu sama saja, tidak ada perbedaan signifikan

yang mencolok”

Perkuliahan online yang berbasis komunikasi melalui media jaringan

internet umumnya tidak membatasi batasan jumlah interaksi antara komunikator

dan komunikan meskipun perkuliahan online ini efektif serta fleksibel saat

dijalankan pada masa pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan untuk tatap

muka, akan tetapi komunikasi tatap muka dianggap masih jauh lebih efektif

karena tanpa menggunakan media dalam menjalankannya dan komunikasi tidak

akan terhambat oleh gangguan seperti jaringan internet.

4. Komunikasi Verbal dan Penyandian Pesan yang

Beragam

Teori SIP dalam Ali Nurdin (2020, 122) menjelaskan bahwa

komunikasi online masih memiliki tanda verbal yang jelas, verbal

disini ditunjukkan dengan cara memanfaatkan fitur yang ada

pada media yang digunakan mengirimkan pesan atau informasi

berupa teks, contohnya disaat perkuliahan online salah satu

mahasiswa mengirimkan pertanyaan berupa teks lewat kolom

chat yang sudah tersedia didalam aplikasi Zoom, maka dari itu

hal tersebut termasuk dalam tanda verbal yang muncul saat

perkuliahan online berlangsung. Hal ini sesuai dengan hasil


wawancara dengan salah satu informan yaitu Ibu Eraskaita Ginting

pada tanggal 22 November 2021 sebagai berikut:

“Kita bisa melihat banyak sekali fitur-fitur yang ada di

Zoom seperti chat, raise hand, fitur share screen yang bisa

dimanfaatkan untuk memutar musik, video, ppt, lalu bisa juga

untuk melihat naik turunnya partisipan didalam Zoom saat kita

menggunakan fitur partisipant, sebenarnya banyak sekali hal

yang bisa dimanfaatkan dalam Zoom seperti kita bisa

mempersilahkan mahasiswa untuk presentasi secara bergantian

hanya dengan cara mengizinkan partisipan itu untuk share

screen, sehingga hal tersebut tidak membutuhkan waktu yang

lama.”

Dari pernyataan diatas dapat ketahui bahwa meskipun komunikasi itu

secara online dan melalui perantara media tetapi komunikasi tersebut masih

memiliki isyarat verbal yang jelas yakni dengan memanfaatkan fitur-fitur yang

telah tersedia dalam media itu, sebagai contoh dengan adanya

fitur kolom chat pengguna dapat mengunakan fitur tersebut untuk mengirim pesan

berupa teks secara publik maupun privat.

Pernyataan tersebut didukung juga oleh hasil wawancara

dengaan salah satu informan mahasiswa yaitu Egi Devina

Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November 2021 yaitu.


“Diaplikasi Zoom kita dapat mengirimkan pertanyaan

melalui kolom chat atau mengidupkan mic jika ingin berbicara,

jadi interaksi itu berjalan secara langsung walaupun melalui

perantara dari smartphone”.

Selain itu hal diatas juga merupakan salah satu bentuk

proses penyandian pesan didalam komunikasi atau juga sering

disebut sebagai encoding. Proses penyandian pesan merupakan

tindakan memproduksi pesan atau proses dimana komunikator

(pengirim pesan) merumuskan maksud pesan kedalam bentuk

bahasa, berbicara, tulisan serta mendeskripsikan pesan tersebut

secara baik dan benar agar dapat diterima oleh komunikan.

Seperti hasil wawancara dengan Bapak Badaruddin Azarkasyi pada

tanggal 26 Oktober 2021, adalah sebagai berikut:

“Saat mengajar statistika bapak sudah menulis angka-angka hitungannya

karena untuk penulisan angka-angka di aplikasi Zoom tidak ada, jadi tetap bapak

langsung menulis materinya dalam bentuk kertas a4, lalu di foto dan tetap

dilampirkan atau di share seperti slide ppt”.

Dalam pernyataan ini terlihat bahwa proses penyandian

pesan itu beragam, hal tersebut berupa menuliskan isi pesan

dalam bentuk teks, mengubah bentuk pesan tersebut kedalam

format powerpoint atau pdf akan tetapi tidak mengubah isi dari
tulisan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan menyampaikan

materi dan pesan tersebut melalui aplikasi Zoom.

5. Pemanfaatan Media Digital dalam Komunikasi

Seiring perkembangan teknologi media online pun semakin

memaksimalkan fitur-fitur baru yang lebih mendukung untuk melakukan

komunikasi secara online salah satu contohnya adalah aplikasi Zoom yang

banyak digunakan saat perkuliahan online saat dimasa pandemi. Melalui aplikasi

Zoom yang sudah memiliki fitur on-camera video serta audio hal ini akan

mengurangi kemungkinan ketidakmampuan melihat sisi nonverbal saat

berkomunikasi secara online, walaupun tentu saja cara kerja aplikasi tersebut

sepenuhnya tidak dapat menggantikan komunikasi tatap muka tetapi Zoom ini

cukup baik dan berguna pada masa pandemi yang tidak memungkinkan orang-

orang bertemu secara langsung. Seperti hasil wawancara dengan Luthfia

Sylmi Nadhirah pada tanggal 8 November 2021, sebagai berikut:

“Komunikasi menggunakan Zoom sangat membantu disaat

perkuliahan online seperti ini, karena dibandingkan dengan

aplikasi lain Zoom lebih nyaman digunakan, selain itu fitur-fitur

di Zoom juga lengkap seperti video dan mic audio sehingga

sangat membantu untuk saling berinteraksi”

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa media komunikasi seperti

Zoom bisa digunakan untuk berkomunikasi dan bisa memungkinkan untuk

melihat isyarat nonverbal yang dilakukan oleh lawan bicara seperti gaya bicara,
dan raut wajah lawan bicara kita dengan cara mengaktifkan fitur on-camera pada

aplikasi Zoom, selain itu kita juga dapat mendengar bagaimana intonasi suara

lawan bicara dengan cara mengaktifkan fitur audio yang telah tersedia. Pernyataan

tersebut didukung oleh hasil wawancara dengaan informan yaitu Ibu

Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021, yaitu.

“Kalau Zoom menurut ibu sangat membantu dan

memudahkan pesan tapi secara komunikasinya yang paling

efektif itu adalah ketika kita bertemu langsung atau tatap muka

karena kita bisa melihat verbalnya dia nonverbalnya dia ketika

kita interpersonal antara dua orang pesan itu akan 100% sampai

tanpa hambatan, tapi jika keadaan kembali normal lebih baik kita

tatap muka. Karena kondisi pandemi seperti ini Zoom itu sangat

membantu dan memudahkan dalam menyampaikan pesan

terutama dalam perkuliahan.”

Pemanfaatan fitur lainnya dapat berupa penggunaaan voice untuk

mengaktifkan mic saat berbicara langsung, raise hand yang menunjukkan tanda

sebagai ketersediaan kita saat ingin berbicara, share screen untuk membagikan

layar komputer kita berupa slide ppt maupun video serta gambar saat presentasi

berlangsung, partisipant untuk melihat seberapa banyak jumlah orang yang

bergabung di meeting tersebut, recording dapat digunakan untuk meng-record

meeting dari awal sampai akhir.


Akan tetapi seberapa sering kita berkomunikasi melalui online dan

seberapa canggih teknologi tersebut hal itu tidak bisa menyamai bahkan

menggantikan eksistensi dan keefektifan komunikasi secara langsung. Karena

komunikasi online memiliki hambatan utama seperti pada jaringan yang kapan

saja dan dimana saja sewaktu-waktu dapat hilang dan tidak terkoneksi, hal itu

pasti akan sangat mengganggu proses penyampaian pesan dalam komunikasi itu

sendiri.

6. Penerapan Etika Komunikasi Digital

Granrose (1955) dalam Alo Liliweri (2015: 494)

menyatakan bahwa etika berasal dari bahasa Yunani “ethos”

yang jika diartikan dalam bahasa Prancis adalah

peraturan/panduan untuk bertingkah laku untuk menyelesaikan

masalah terhadap keinginan. Sedangkan, Loudin, dkk (1996)

mendefinisikan Etika sebagai standar moral yang mebimbing

tindakan, perilaku, dan pilihan manusia.

Etika komunikasi di era digital dapat kita artikan sebagai

etika yang dibangun saat komunikasi yang dilakukan melalui

media berjaringan internet contohnya yaitu komunikasi didalam

perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom dimasa pandemi

Covid-19.

Perkuliahan berjalan secara online akan tetapi etika tetap harus dijalankan,

karena walaupun didalam situasi pandemi seperti ini penekanan kewajiban etika
itu tidak akan hilang konteksnya wajib diterapkan untuk membentuk serta

membiasakan diri akan kepribadian, tingkah laku dan moral yang baik dimanapun

dan kapanpun kaki berpijak. Seperti hasil wawancara dengan Ibu Putri

Citra Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:

“Kalau ditanya bagaimana etika komunikasi saat

perkuliahan online berlangsung, mahasiswa on-video, mahasiswa

mendengarkan, tidak menimbulkan banyak gerakan secara

terus-menerus, kalau misalkan ia sedang berada didaerah,

sebisa mungkin carilah tempat sinyal yang mendukung untuk

perkuliahan online, serta berpakaianlah dengan rapi, karena

memang keberkahan itu nomor satu kalau menurut saya, kita

tidak tahu dari perkuliahan online itu ada berkah dosen disitu,

ada berkah dan doa guru disitu, kita tidak tau doa siapa yang

dikabulkan dari perkuliahan itu, hal ini memang receh tapi dari

etika itu ada adab yang dibangun, ada akhlaknya disitu”.

Menurut penuturan Ibu Putri Citra Hati bahwa dari keikhlasan etika

yang dilakukan hal itu dapat menciptakan keberkahan, etika yang dimaksud

adalah saat perkuliahan berlangsung hendaknya mahasiswa berpakaian rapi,

memperhatikan dan mendengarkan serta on-camera saat perkulihan berlangsung,

selain itu menjaga sikap sebagaimana perkuliahan yang seharusnya juga perlu

dilakukan. Berikut dibawah ini adalah salah satu hasil wawancara dengan
informan mahasiswa Egi Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November

2021, yaitu.

“Kalau saya pribadi merasa telah menerapkan etika

komunikasi walau belum 100%, seperti on-camera karena hal itu

telah menjadi ketentuan saat perkuliahan online berlangsung,

on-mic saat dipanggil atau ditanya sama Dosen, berpakaian rapi

dan sesuai keaadaan, tetapi jika melihat teman-teman disekitar

ada beberapa yang masih off-camera secara diam-diam”.

Sebenarnya etika komunikasi pada saat perkuliahan online melalui aplikasi

Zoom itu urgensinya sama pada saat perkuliahan tatap muka harus tetap

diterapkan, tapi karena kita dibatasi oleh jarak dikarenakan oleh

pandemi ini yang mengharuskan kita tidak berinteraksi langsung

demi mengurangi resiko penyebaran Covid-19 perkuliahan

berbasis online pun dilakukan. Hal ini sama dengan pernyataan

yang disampaikan oleh Ibu Eraskaita Ginting pada tanggal 22

November 2021 dalam kutipan wawancara berikut.

“Yang pertama masalah waktu kita harus benar-benar

memahami waktu, misalnya kalau bisa ketika perkuliahan

dimulai jam 9 jadi 10 menit sebelum perkuliahan dimulai itu kita

sudah prepare, Yang kedua penggunaan suara dan video sebisa

mungkin saat perkuliahan berlangsung harus on-camera itu

adalah etika dan sebagai penghargaan terhadap dosen dan


menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut serius dalam belajar

lalu ketika membuka kamera kita itu harus dalam posisi siap dan

jangan lupa untuk mute/tidak boleh bersuara kecuali diizinkan

untuk berbicara saat berada didalam Zoom”.

Dari pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa apapun bentuk

perkuliahannya etika komunikasi tetap harus diterapkan sebagaimana mestinya.

Karena etika merupakan konsep dasar dari perilaku manusia yang layak, baik itu

berhadapan dengan siapa pun, dimana pun dan dalam situasi apa pun kita tetap

harus mempunyai etika.

Dalam perkuliahan online ini sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa

etika komunikasi yang diterapkan berupa, manajemen waktu, on-camera dan mute

audio saat perkuliahan berlangsung, menggunakan virtual background jika

disarankan, berpakaian rapi sebagaimana mestinya saat perkuliahan offline, serta

tidak melakukan aktivitas lain saat perkuliahan berlangsung, dsb.

Pertama, manajemen waktu sebagai seorang dosen dan

mahasiswa manajemen waktu itu sangat penting untuk

meminimalisir kemungkinan error pada alat yang sering kali

terjadi sebelum perkuliahan dilaksanakan, contohnya

smarthphone yang mengalami lag-ing, laptop yang tiba- tiba

blackscreen, Wi-fi atau jaringan yang mendadak hilang, maka

dari itu setidaknya kita perlu memeriksa dan mempersiapkan


semua itu dimulai dari 10 menit sebelum perkuliahan dimulai

demi mengurangi masalah teknis yang sekiranya terjadi.

Kedua, On-camera dan menggunakan virtual background jika

disarankan merupakan salah satu cara yang dilakukan sebagai bentuk perhargaan

terhadap host/dosen saat perkuliahan berlangsung, hal itu menunjukkan bahwa

sebagai partisipan kita serius dalam memperhatikan materi itu, lalu pada saat on-

camera sebisa mungkin berada dalam posisi siap dan tidak menimbulkan

banyak gerakan berulang secara terus-menerus. Selain itu, mute

audio bagi partisipan saat perkuliahan berlangsung dimaksudkan untuk

mengurangi kebisingan yang akan terdengar saat penjelasan materi di Zoom

berlangsung, akan tetapi partisipan boleh berbicara saat diizinkan untuk

berbicara seperti saat sesi tanya jawab, diskusi, presentasi dsb.

Kemudian, berpakaian rapi sebagaimana mestinya saat perkuliahan offline,

karena pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara etika saat

perkuliahan offline maupun online.

Selain itu, kesiapan diri sebelum dan selama perkuliahan online juga perlu

diperhatikan, karena itu termasuk dalam etika yang akan terlihat saat perkuliahan

berlangsung hal itu juga mencerminkan apakah sang partisipant bersungguh-

sungguh atau tidak dalam melaksanakan perkuliahan. Fenomena ini sering terjadi

selama perkuliahan online, kesiapan yang tidak matang akan menimbulkan

hambatan-hambatan serta perilaku yang jika dilakukan secara terus menerus akan

menjadi kebiasaan dan secara alami akan termaklumi.


B. Hambatan Komunikasi Saat Perkuliahan

Menggunakan Aplikasi Zoom Dimasa Pandemi

COVID-19

Perkuliahan online saat pandemi merupakan pengalaman baru dengan

teknologi. perkuliahan online yang dirasakan lebih praktis fleksibel, mudah

dilakukan secara fisik tanpa harus berpindah tempat, serta hemat biaya dan tenaga.

Akan tetapi, selama proses perkuliahan online berlangsung, akan ada beberapa

hambatan yang dirasakan. Hambatan komunikasi merupakan segala sesuatu yang

mengganggu jalannya proses penyampaian dan penerimaan pesan didalam

komunikasi, hambatan tersebut dapat berasal dari diri sendiri, lingkungan, ataupun

hambatan teknis yang berasal dari media serta jaringan yang digunakan disaat

sedang online, hal ini dikarenakan pemilihan jaringan dan media tertentu dapat

menimbulkan permasalahan yang muncul sehingga membuat komunikasi menjadi

kurang efektif.

Sama halnya dengan yang peneliti temukan bahwa menurut Eisenberg

dalam Liliweri (2015: 459) terdapat 4 jenis hambatan dalam komunikasi efektif

yaitu hambatan proses, hambatan fisik, hambatan semantik, dan hambatan

psikologis, begitu juga dalam penelitian ini, berdasarkan hasil wawancara dari

narasumber, peneliti menemukan hambatan-hambatan tersebut. berikut dibawah

ini adalah penjelasannya.

1. Jaringan Internet atau Sinyal Provider yang Buruk


Dalam keadaan pandemi yang menyebabkan kita tidak bisa bertatap muka

secara langsung dengan bebas maka alternatif perkuliahan yang dilakukan tatap

muka diubah menjadi melalui jaringan internet atau online, salah satu aplikasi

yang sering digunakan dalam perkuliahan online adalah aplikasi Zoom.

Jaringan internet yang buruk menjadi hambatan utama dalam proses

pertukaran pesan dalam perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom. Dalam

prosesnya hambatan ini sering terjadi pada saat komunikasi itu sendiri sedang

berjalan, meskipun saat berkomunikasi menggunakan Zoom dapat bertatap muka

melalui fitur on-camera video yang telah disiapkan, akan tetapi jika koneksi

jaringan atau sinyal provider internet buruk komunikasi yang dilakukan juga tidak

akan lancar. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan salah satu informan

yaitu Mutia Puji Lestari pada tanggal 8 November 2021, sebagai berikut.

“Hambatan dari komunikasinya tidak banyak, karena

dikelas saya pribadi mahasiswanya lebih aktif di Zoom, selain itu

tidak ada hambatan lagi kecuali tentang gangguan jaringan dan kuota”

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa koneksi jaringan atau

sinyal provider internet yang buruk menjadi hambatan utama dalam proses

komunikasi perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom, karena hal tersebut

dapat membuat audio dan video on-camera saat penyampaian materi di

perkuliahan online tidak berjalan dengan lancar. Selain itu pernyataan diatas

didukung juga oleh hasil wawancara dengan salah satu informan yaitu M. Rio

Saragih pada tanggal 12 November 2021 sebagai berikut.


“Kendala utama itu adalah sinyal lalu hal tersebut

menyebabkan terjadi miss komunikasi sehingga membuat saya

kurang mengerti dan kurang memahami apa yang disampaikan

dosen saat perkuliahan berlangsung”.

Meskipun dapat bertatap muka seringkali koneksi jaringan atau sinyal

provider internet membuat on-camera dan audio tidak berjalan lancer saat

menggunaan Zoom, sehingga pada saat membicarakan hal-hal yang penting

membuat audio menjadi terputus-putus suaranya ataupun gambarnya pada saat on-

camera menjadi tidak jelas sehingga membuat pesan tidak tersampaikan dengan

baik. Sama halnya dengan dua pernyataan diatas hasil wawancara dengan

informan dari mahasiswa lain yaitu Egi Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12

November 2021 juga menyatakan hambatan yang paling utama adalah sinyal,

berikut dibawah ini kutipannya.

“Hambatan dari Zoom cuma sebatas jaringan hal tersebut

menyebabkan komunikasi yang saya terima jadi terhambat, lalu

biasanya ada juga hambatan dari noise disekitar tetapi sebisa

mungkin saya mencari tempat yang tenang agar terhindar dari

noise dan suara sekitar yang dapat mengganggu”

Dari pernyataan tersebut dapat kita lihat bahwa selain

jaringan atau sinyal provider yang buruk noise atau gangguan

yang berasal dari sekitar juga dapat mengganggu proses

jalannya komunikasi. Suara terputus-putus karena jaringan yang

buruk, suara kurang jelas karena banyak noise atau suara


tambahan dari sekitar yang mengakibatkan nada dan artikulasi

suara tidak jelas saat didengar, camera yang buram sehingga

orang yang diajak bicara pun tidak kelihatan jelas ekspresi

wajahnya, sehingga membuat proses komunikasi yang terjadi

tidak berjalan lancar.

2. Kurangnya Kemampuan Untuk Memonitoring Secara Langsung

Berbeda dengan komunikasi tatap muka, komunikasi online ini cendrung

susah dalam memantau dan memonitoring komunikan secara langsung. Seperti

yang disampaikan oleh Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober

2021 sebagai berikut.

“Kurangnya monitoring ke mahasiswa, apakah mereka benar-benar

berkuliah atau tidak, ada juga mahasiswa yang sering on-camera tetapi

mahasiswa tersebut tidak memperhatikan apa yang disampaikan, karena ketika

dari media secara onliine untuk menyampaikan pesan itu masih kurang seefektif

seperti saat komunikasi tatap muka”.

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa banyak hambatan yang

muncul dikarenakan kurangnya kontak secara langsung saat proses komunikasi,

misalnya kurangnya monitoring dari pihak dosen sebagai komunikator saat

menyampaikan materi atau pesan ke mahasiswa sebagai komunikan hal ini

dikarenakan keterbatasan dari media itu sendiri yang kurang memungkinkan

untuk memperlihatkan aktivitas partisipan secara bersamaan dan menyeluruh, Hal

ini sama dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ibu


Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021 dalam kutipan

wawancara berikut.

“Kita tidak bisa melihat respon secara langsung contohnya

pada saat mahasiswa off-kamera kita tidak tau apakah mereka

berada disana atau tidak tapi pada saat on-kamera kita bisa

melihat mereka, tapi jika dikelas jumlah mahasiswa sekitar 30

orang kita tidak mungkin dikontrol semua, hambatannya

terkadang disitu kita tidak bisa melihat secara langsung fisik

mahasiswa sedang melakukan apa”.

Hambatan fisik seperti ini tidak dapat dihindari dalam situasi perkuliahan

online, namun dengan memaksimalkan aspek bahasa tubuh yang lain dengan

selalu on-camera saat perkuliahan berlangsung, aktif dan bebas membuat ekspresi

wajah atau gerak tubuh yang terlihat jelas (dalam penggunaan video didalam

aplikasi Zoom) hal ini bisa meminimalisir setidaknya kekurangan tersebut, tentu

saja harus adanya kesepakatan dan rasa peka terlebih dahulu antara komunikator

dan komunikan agar komunikasi yang dilakukan tercapai sebagaimana mestinya

yang diharapkan dari komunikasi itu.

3. Kurangnya Motivasi Diri saat Perkuliahan Online

Proses yang dilakukan oleh komunikan (penerima pesan)

untuk menafsirkan serta memahami isi pesan sesuai apa yang ia

terima disebut juga dengan decoding, contohnya dengan cara

membaca, mendengarkan serta mencerna apa maksud dari


pesan tersebut. Decoding sering juga disebut dengan proses

‘menyandi pesan’ akan tetapi disaat perkuliahan berlangsung

seringkali adanya hambatan yang terjadi, Seperti hasil

wawancara dengan Ibu Putri Citra Hati pada tanggal 16 November 2021,

sebagai berikut:

“Pertama mahasiswa kadang tidak membuka video dalam

pembelajaran lalu terkadang saya tidak tau apa alasannya apa

memang benar mereka terkendala sinyal, lalu ketika dosen

bertanya tiba-tiba Zoom mereka loading entah itu untuk

menghindari pertanyaan atau apakah sinyal itu semacam

menjadi alat pembenaran atau memang kuotanya sudah limit.”

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa salah satu

hambatan dalam penyandian pesan didalam suatu komunikasi

adalah kurangnya motivasi dari diri sendiri sehingga membuat

proses penyandian itu pun terhambat. Dibawah ini adalah hasil

wawancara dengan salah satu informan yaitu Retno Kurnia

Muktiarum pada tanggal 15 November, berikut kutipannya.

“Saat perkuliahan online berlangsung masih suka sibuk

sendiri dengan kegiatan yang lain, akan tetapi saya selalu tepat

waktu, berbahasa indonesia yang baik dan on-camera saat

perkuliahan online berlangsung”.


Kurang memperhatikan merupakan salah satu contoh dari

motivasi diri yang kurang, karena jika seseorang memiliki

motivasi yang lebih dalam melakukan suatu kegiatan seperti

perkuliahan online maka sebisa mungkin ia akan mencermati

dan fokus dengan perkuliahan tersebut dengan sungguh-

sungguh. Penjelasan dari paragraf ini pun didukung oleh hasil

wawancara dengan Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober

2021 sebagai berikut.

“Kalau dalam proses pembelajaran ini dalam

pelaksanaannya mahasiswa seperti tidak terbebani secara moril

dan kurangnya rasa tanggung jawab, makanya dalam hal ini

dosen memberikan tugas agar materi yang disampaikan ini

dapat mereka kerjakan”.

Dari pernyataan diatas terlihat bahwa dengan pemberian

tugas selama perkuliahan online, terdapat harapan agar

mahasiswa dapat lebih bertanggung jawab terhadap perkuliahan

yang dilaksanakan, karena seringkali terjadi kurangnya motivasi

terhadap diri sendiri selama perkuliahan online yang disebabkan

oleh rasa jenuh karena terlalu sering sendiri selama perkuliahan

online dari rumah sehingga mengakibatkan rasa malas dalam

memperhatikan materi, menganggap perkuliahan itu sepele,

kurangnya rasa tanggung jawab dan merasa tak terbebani


dengan perkuliahan yang sedang berlangsung sehingga

timbulnya niat untuk menjadikan hal yang umum seperti sinyal

menjadi alasan untuk pembelaan.

Adanya dorongan motivasi dari luar sangatlah bagus untuk

menyadarkan betapa pentingnya perkuliahan, akan tetapi

motivasi tersebut hendaknya timbul dari diri sendiri terlebih

dahulu. Maka dari itu sebagai komunikan yang baik sebisa

mungkin sebelum perkuliahan online berlangsung untuk

mempersiapkan niat dan semua hal yang berkaitan dengan

proses perkuliahan online secara matang, karena jika kita tidak

siap maka itu sama saja dengan merugikan diri sendiri, selain itu

komunikan diharapkan agar lebih dapat memahami pesan yang

disampaikan agar pesan tersebut bermakna dan memberikan

manfaat bagi diri mereka, jika sekiranya masih sulit untuk

memahami pesan tersebut agar hendaknya segera

dikomunikasikan kembali supaya pesan yang komunikan terima

itu sesuai dengan sebagaimana yang dimaksudkan oleh

komunikator.

4. Penggunaan Tata Bahasa yang Kurang Tepat

Hambatan disini termasuk didalam hambatan semantik. Hambatan

semantik bersumber dari tata bahasa atau kata-kata yang dikirimkan oleh pengirim

pesan yang kurang tepat sehingga membuat komunikan atau penerima pesan
kurang memahami arti dari kalimat yang didapat. Seperti hasil wawancara

dengan Ibu Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021, sebagai berikut

“Miss komunikasi yang terjadi itu misalnya seperti ini

mahasiswa bertanya didalam kolom komentar dan yang

ditanyakannya itu susah untuk dimengerti lalu kita bisa

mempersilahkan atau memberikan kesempatan kepada dia

untuk bertanya secara langsung melalui kolom chat, karena

pengetikkan itu berbeda dengan menyampaikan pendapat

secara langsung, lebih enak lagi kalau dia membuka mic/suara

untuk bertanya, itu kadang miss komunikasinya paling dalam

bertanya atau ketika dosen menyampaikan materi dan

mahasiswanya tidak mengerti itu bisa difollow up lagi dengan

bertanya”.

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa dalam tata bahasa atau

pengetikan juga dapat menyebabkan hambatan yang akan terjadi didalam

komunikasi, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti, pemilihan kata

yang samar-samar dan kurang jelas, bahasa asing yang tidak dimengerti lawan bicara ,

penempatan tanda baca yang salah, bahasa singkatan, serta pengunakan huruf

kapital atau kata sambung yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Hal tersebut

dapat menimbulkan kecendrungan pesan yang disalah artikan dan dapat

menimbulkan miss komunikasi. Maka dari itu untuk meminimalisir kecendrungan

miss komunikasi yang terjadi akibat pengetikan kalimat, sebaiknya jika jaringan
memungkinkan dalam perkuliahan online hendaknya menggunakan fitur voice/on

mic dan berbicara secara langsung sebagaimana saat perkuliahan tatap muka.

5. Menurunnya Kemampuan Berkomunikasi

Stay at home yang dilakukan saat pandemi Covid-19 tidak selamanya

berdampak baik terhadap keadan psikis seseorang, walaupun benar hal tersebut

harus dilakukan guna menekan penyebaran Covid-19 yang meningkat saat

pandemi terjadi. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan salah

satu informan mahasiswa yaitu Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8

November 2021, sebagai berikut:

“Saya sendiri itu masih malu dan sangat gugup jika ingin

berinteraksi secara online atau bertanya kepada dosen mengenai

materi yang belum saya pahami”

Anjuran untuk stay at home dalam kurun waktu yang lama membuat

orang-orang mengalami tekanan emosi tertentu seperti rasa jenuh, bosan, serta

rasa kesepian sehingga merasakan bahwa pembelajran online yang dijalani

dilakukan sendirian tanpa teman disamping dengan pengalaman yang sama

sehingga menimbulkan keterasingan kuat yang mengakibatkan meningkatnya rasa

kurang percaya diri atau insecure. Hal tersebut dapat menyebabkan keadaan

emosi yang kurang stabil sehingga membuat kemampuan untuk berkomunikasi

yang biasanya lancar menjadi menurun secara drastis. Penjelasan ini sama dengan

hasil wawancara dengan salah satu informan mahasiswa yang lain yaitu Egi

Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November sebagai berikut.


“Saya merasa seperti ada yang kurang saat perkuliahan online seperti

tidak bisa bertatap muka secara langsung, tidak bisa berkenalan dan bertemu

dengan teman secara langsung, hal tersebut menyebabkan saat bertemu dan

bertatap muka langsung itu ada rasa gugup dan canggung”.

Rasa gugup dan canggung muncul akibat kondisi yang

sudah terlalu lama tidak berkomunikasi dan bertatap muka

langsung dengan orang luar walau posisi antara mereka itu

dapat dibilang sama, sehingga menimbulkan prasangka-

prasangka yang sudah menjadi ketakutan awal padahal hal

tersebut belum tentu terjadi, umumnya konsep dari komunikasi

itu harus terbiasa terlebih dahulu maka lama kelamaan akan

menjadi biasa. Selain itu masih ada hambatan lain yang dapat menyebabkan

berkurangnya kemampuan dalam berkomunikasi yaitu kebisingan. Kebisingan

juga menjadi salah satu hambatan psikologis dalam komunikasi saat perkuliahan

online berlangsung, Seperti hasil wawancara dengan M. Rio Saragih pada

tanggal 12 November 2021, berikut dibawah ini adalah kutipannya:

“Saat perkuliahan online juga banyak noise yang terjadi

disekitar saya, seperti adik-adik yang mengganggu, suara

kendaraan yang bising saat perkuliahan online berlangsung, hal

itu menyebabkan saya cukup terganggu saat perkuliahan online

berlangsung”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat kita ketahui juga bahwa sumber

kebisingan yang mengganggu proses komunikasi itu sendiri dapat berasal dari

lingkungan luar, hal itu terbukti dari hasil wawancara diatas yang merasa cukup

tidak nyaman dengan kebisingan-kebisingan tersebut selain itu jika kebisingan

terus berdatangan hal tersebut juga akan mempengaruhi kemampuan mendengar

saat berlangsungnya perkuliahan online, kebisingan juga mempengaruhi suasana

dan keadaan batin saat berkomunikasi. Hal ini sering kali menjadi penyebab

kehilangan fokus saat perkuliahan online berlangsung.

6. Limit Zoom yang Terbatas

Aplikasi Zoom merupakan Salah satu aplikasi yang banyak di gunakan dalam

Sistem perkuliahan online. Zoom merupakan aplikasi pertemuan HD gratis dengan

video dan berbagi layar hingga 100 orang bahkan lebih,

([Link] Zoom merupakan aplikasi komunikasi dengan

menggunakan video HD sebagai fitur utamanya. Aplikasi tersebut dapat

digunakan di berbagai perangkat seluler, smartphone, hingga dekstop, dengan

mendownload aplikasi Zoom di Playstore, app store, maupun di website resmi kita

dapat menggunakan aplikasi Zoom secara gratis. Selain dalam mode gratis Zoom

juga memiliki versi berbayar atau premium. Hal ini sama seperti yang

disampaikan Mutia Puji Lestari dalam hasil wawancara pada tanggal 8 November

2021 sebagai berikut.


“Penyampaian komunikasi didalam Zoom itu baik, akan tetapi sering

terkendala saat Zoom itu lagi limit sehingga menyebabkan perkuliahan di Zoom

itu tiba-tiba berhenti”

Perbedaan antara versi gratis dan premium ada didalam waktu

penggunaannya, versi premium dapat digunakan sepuasnya sedangkan versi gratis

hanya memiliki limit waktu 45 menit. Seperti hasil wawancara dengan

Ibu Putri Citra Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:

“Zoom ini limitnya terbatas kalau tidak premium, jadi kalau ditanya

bagaimana penggunaan Zoom sebagai media komunikasi ini rasanya saya tidak

100% menyatakan efektif tidak, tapi saya tidak juga menyatakan 100% tidak

efektif karena memang dia berbasis video dan audio, tapi karena memang limit

waktunya cuma satu jam bagi yang tidak premium itu yang membuat penggunaan

Zoom itu menjadi efektif dan tidak efektif”.

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa limit yang ada didalam

Zoom gratis merupakan salah satu hambatan yang terjadi dan sering dirasakan

selama perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom, karena hal tersebut dapat

menghambat proses perkuliahan contohnya disaat perkuliahan tersebut sedang

berjalan tiba-tiba Zoom terhenti, hal itu akan mengakibatkan perkuliahan tiba-tiba

terhenti dan akan kesulitan dalam mengumpulkan ulang partisipant untuk

mengulang perkuliahan di Zoom yang sempat terhenti tadi.

Anda mungkin juga menyukai