BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang Analisis Komunikasi
Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom dimasa Pandemi Covid-19 (Studi pada
Dosen Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang). Dalam
prosesnya penelitian ini telah mendapatkan izin dari Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi. Data yang telah didapatkan selama
observasi, wawancara, dan dokumentasi di lapangan akan diolah dan dianalisis
dalam bentuk deskriptif, selain itu peneliti telah memilih informan yaitu Dosen
dan Mahasiswa yang akan diwawancarai sesuai dengan kriteria dan tujuan
penelitian. Pada pembahasan ini, pertama peneliti akan membahas mengenai,
bagaimana Komunikasi Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom dimasa
Pandemi Covid-19 dan yang kedua yaitu Hambatan komunikasi apa saja
yang terjadi dalam perkuliahan menggunakan aplikasi Zoom.
Maka dari itu dibawah ini peneliti lampirkan hasil wawancara
dengan informan yang berjumlah 8 orang, yaitu 3 Dosen dan 5
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Adapun hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Komunikasi Antara Dosen dan Mahasiswa Saat
Perkuliahan Menggunakan Aplikasi Zoom Dimasa
Pandemi COVID-19
Setelah penulis melakukan penelitian dengan cara
wawancara ke beberapa informan dan mengidentifikasi
permasalahan komunikasi saat perkuliahan online menggunakan
aplikasi Zoom berlangsung, maka dari itu penulis menggunakan
Teori Social Information Processing (SIP) atau Pemrosesan
Informasi Sosial yang dikembangkan oleh Joseph B. Walther. Teori
Pemrosesan Informasi Sosial digunakan untuk mengkaji komunikasi
berbasis komputer (CMC) yang berjaringan internet untuk mengembangkan kesan
serta interaksi interpersonalnya, sehingga dalam penelitian ini hal ini digunakan
untuk mengetahui bagaimana jalannya komunikasi melalui komputer berjaringan
internet berlangsung serta untuk mengetahui hambatan apa saja yang sering
dialami dalam komunikasi ini.
Teori Social Information Processing mengasumsikan bahwa
“tingkat pertukaran informasi memengaruhi perkembangan dan hubungan timbal
balik” yang berarti jika perkuliahan online yang komunikasinya
berbasis komputer dilakukan secara terus menerus dalam jangka
waktu yang lama dan berkelanjutan hal itu akan berpengaruh
pada perkembangan interaksi antarpersonalnya sehingga bisa
dikatakan bahwa komunikasinya dapat setara dengan
komunikasi FtF (Face to Face).
Perkuliahan online merupakan metode pembelajaran yang
dilakukan menggunakan media seperti aplikasi Zoom yang
terhubung dengan jaringan internet sehingga tetap dapat
berinteraksi walau jarak antara komunikator dan komunikan
terlampau jauh. Dengan begitu, aktivitas masih bisa dilakukan
dirumah sehingga komunikasi tetap berjalan antar keduanya,
berikut dibawah ini merupakan penjelasan bagaimana
komunikasi yang berlangsung seama perkuliana online
berlangsung yang didapat dari hasil wawancara selama
penelitian ini berlangsung.
1. Menciptakan Komunikasi yang Praktis
Praktis disini berarti memudahkan dalam pemakaian dan
penggunaan untuk komunikasi itu sendiri, selain itu terdapat
kenyamanan yang dirasakan saat perkuliahan online yang
berlangsung menggunakan aplikasi Zoom ini. Hal ini terlihat dari
hasil wawancara dengan salah satu informan mahasiswa yaitu
Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8 November 2021, sebagai berikut:
“Kalau pendapat saya perkuliahan online itu ada enaknya, enaknya itu
kalau kita tipe-tipe anak yang pemalu saat bertemu orang langsung hal ini sangat
membantu karena perkuliahan terasa lebih nyaman”.
Pada dasarnya, sifat dari perkuliahan online ini tidak jauh
berbeda dengan kuliah tatap muka hal yang menjadi pembeda
hanya saat pertemuan itu berlangsung yang biasanya dilakukan
secara tatap muka tetapi saat pandemi dilakukan secara online
melalui jaringan internet serta menggunakan salah satu media
komunikasi berupa aplikasi Zoom. Dari pernyataan wawancara diatas
dapat kita lihat bahwa bagi tipe mahasiswa yang pemalu saat bertemu banyak
orang secara langsung tentu saja hal ini akan terasa nyaman bagi mereka karena
tidak perlu bertatap muka secara langsung dengan orang lain akan tetapi bagi
beberapa mahasiswa hal ini secara tak langsung menjadi salah satu kekurangan
dari perkuliahan online.
Dari sisi dosen kepraktisan yang dirasakan selama perkuliahan online
berlangsung itu flekibel, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Badaruddin
Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.
“Dengan penggunaan Zoom selama kuliah jarak jauh bagi
dosen yang sibuk yang tidak sempat, mereka bisa fleksibel
dalam pengajarannya kapan pun dan dimanapun mereka bisa
mengajar mahasiswa, selain itu dalam perkuliahan online kita
bisa mengatur kapan pun jadwal kuliahnya dibandingkan offline,
kemudian dosen juga mampu mengejar materi yang akan
disampaikan pada mahasiswa”.
Berdasarkan kutipan wawancara diatas, dapat kita ketahui bahwa
perkuliahan online mempunyai peran yang penting dalam menyukseskan proses
pembelajaran saat dimasa pandemi, dimanapun dan dalam kondisi apapun pelaku
komunikasi dapat mengatur jadwal perkuliahan dibandingkan offline,
serta bagi pihak dosen mereka dapat mengejar materi perkuliahan. Selain itu hal
ini juga didukung dengan hasil wawancara dengan salah satu informan mahasiswa
yaitu Retno Kurnia Muktiarum pada tanggal 15 November 2021 sebagai berikut.
“Pendapat saya perkuliahan online itu udah efektif dan nyaman karena
perkuliahan online itu efisien waktu contohnya tidak perlu datang kekampus,
tidak lagi ada kata telat serta menghemat biaya”
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa
komunikasi melalui internet ini menguntungkan karena dapat
menghubungkan dua pihak yang berada pada lokasi di dua
tempat yang berbeda sehingga masih dapat berkomunikasi, dari
pernyataan tersebut juga dapat kita simpulkan bahwa sisi kenyamanan lain yang
terlihat dalam komunikasi online yaitu lebih praktis dan efisien dalam penggunaan
waktu, hemat tenaga dan biaya serta mudah secara fisik sehingga tidak perlu
berpindah tempat.
2. Komunikasi Berlangsung Secara Efektif
Komunikasi yang terjadi didalam penelitian ini yaitu komunikasi yang
dilakukan menggunakan aplikasi Zoom selama perkuliahan online. Pada
dasarnya, sifat dari perkuliahan online ini tidak jauh berbeda
dengan kuliah tatap muka hal yang menjadi pembeda hanya saat
pertemuan itu berlangsung yang biasanya dilakukan secara
tatap muka tetapi saat pandemi dilakukan secara online melalui
jaringan internet serta menggunakan salah satu media
komunikasi berupa aplikasi Zoom.
Suatu komunikasi dapat dikatakan efektif apabila
komunikasi tersebut berlangsung dua arah atau memiliki umpan
balik. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan salah satu
informan mahasiswa yaitu M. Rio Saragih pada tanggal 12 November
2021, sebagai berikut:
“Menurut saya saat perkuliahan online berlangsung itu sama dengan saat
perkuliahan offline, dimulai dari cara pemaparan materi kemudian metode
pembelajaran seperti diskusi dan tanya jawab yang menghasilkan timbal balik”
Dari pernyataan tersebut dapat kita lihat bahwa adanya
timbal balik dalam komunikasi saat perkuliahan online. umpan
balik biasa juga disebut dengan feedback adalah respons yang
diberikan oleh komunikan terhadap pesan dari komunikator.
Umpan balik sangat bermanfaat bagi komunikator karena dapat
menjadi acuan untuk menyesuaikan pesannya agar lebih efektif
lagi. Dalam prosesnya umpan balik disini menjelaskan serta
menafsirkan pesan yang didapat dari komunikator kemudian dia
akan merumuskan respons yang tepat. Umumnya dalam
perkuliahan online feedback yang didapat adalah secara
langsung, hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama Ibu
Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November sebagai berikut.
“Antara perkuliahan tatap muka dan perkuliahan online
sama-sama dapat memberikan feedback langsung kecuali kalau
perkuliahan online itu hanya sebatas melihat video, tapi jika
melalui aplikasi Zoom kita bisa melihat mahasiswa dan
mahasiswanya bisa melihat dosen, jadi sebenarnya itu hanya
beda dimedia saja, tapi yang pasti kalau untuk komunikasi itu
feedback yang didapat yaitu secara langsung jadi tidak ada
penundaan umpan balik dan bersamaan dengan itu komunikasi
interpersonalnya berjalan”.
Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa
komunikasi melalui aplikasi Zoom dapat memberikan umpan
balik secara langsung disaat interaksi atau komunikasi itu
sedang berjalan walaupun melalui online. Pernyataan tersebut
juga didukung oleh hasil wawancara dengan salah satu informan
yaitu Mutia Puji Lestari pada tanggal 8 November 2021 sebagai berikut.
“Saat berlangsungnya Komunikasi menggunakan aplikasi
Zoom diperkuliahan online itu terdapat feedback, mahasiswa
juga cukup interaktif dalam perkuliahan, akan tetapi semua itu
tergantung pada jaringan apakah berjalan lancar atau tidak saat
perkuliahan berlangsung”
Dari tiga pernyataan diatas dapat kita tarik kesimpulan
bahwa pada dasarnya perkuliahan online dimasa pandemi sudah
efektif dan adanya feedback saat berkomunikasi, akan tetapi hal
tersebut tentu tidak bisa menggantikan keefektifan saat
komunikasi tatap muka karena perasaaan saat komunikasi
secara online dan tatap muka itu berbeda. Saat perkuliahan online
metode pembelajaran pun tidak jauh beda dengan kuliah tatap muka contohnya
seperti presentasi slide power point, diskusi perkelompok, diskusi tanya jawab,
kuis, selain itu didalam perkuliahan online pengambilan dokumentasi terbilang
tidak sulit, saat perkuliahan online akan lebih cepat dan mudah untuk
memutar video maupun audio hal itu dikarenakan pembawaan
fitur yang tersedia dari sistem media yang saat itu digunakan.
Untuk menciptakan komunikasi yang efektif dalam
perkuliahan online tentu saja diperlukannya bebarapa cara atau
strategi yang perlu dilakukan untuk mencapai sebuah
keefektifitan dalam komunikasi itu sendiri. Seperti yang diungkapkan
oleh Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober 2021 sebagai berikut.
“Kalau untuk menciptakan komunikasi yang efektif
pertama kita bangun dulu komunikasi awal yaitu menyapa
mahasiswa sebelum kita kuliah, baru saat kita sudah masuk
kemateri dosen bisa menyapa mahasiswa dan ditanya satu
persatu kendala apa yang dialami saat berlangsungnya
penyampaian materi, misalnya apakah mahasiswanya paham
atau ada yang ingin ditanyakan”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa sapaan pertama bertujuan
untuk membangun komunikasi yang terasa akrab hal ini bertujuan agar
mahasiswa yang disini sebagai komunikan merasa terlibat dan
diperlukan dalam proses pembelajaran ini jadi bukan hanya
seperti dosen sendiri saja yang berbicara. Tidak jauh berbeda
dengan hasil wawancara Bapak Badaruddin Azarkasyi, berikut ini
adalah hasil kutipan wawancara dengan Ibu Putri Citra Hati pada
tanggal 16 November 2021, yaitu.
“Yang pertama saya lebih ke interaktif, saya lemparkan
pertanyaan mereka menjawab, kalaupun mereka tidak menjawab
dan masih pasif ya sudah kita ancam saja main nilai seperti
mialnya ‘bagi yang bertanya ada nilai plus, ada peniiaian
tersendiri’ otomatis itu membangkitkan jiwa mereka untuk aktif
bertanya dan berani untuk menyampaikan aspirasi mereka
didalam kelas Zoom pada saat itu”.
Interaktif berarti saling aktif didalam komunikasinya, komunikasi yang
interaktif akan menciptakan komunikasi dua arah yang saling memberikan umpan
balik antara komunikator dan komunikan secara langsung saat komunikasi itu
sedang berjalan. Biasanya dalam komunikasi interaktif ini antara dua orang
memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai komunikator dan dapat bertukar peran
menjadi komunikan sehingga proses komunikasi tersebut akan bersifat
berkelanjutan. Dengan kata lain komunikasi interaktif merupakan penyampaian
pesan oleh komunikator kepada komunikan yang akan langsung mendapat
tanggapan, baik itu secara komunikasi tatap muka maupun komunikasi melalui
media berjaringan internet.
3. Terdapat Hyperpersonal
Hyperpersonal diartikan sebagai kondisi dimana pelaku
komunikasi merasa sangat nyaman berkomunikasi secara online
dibandingkan tetap muka, ia bahkan berpikir ingin terus-menerus
berkomunikasi secara online, selain itu hyperpersonal juga
beranggapan bahwa untuk mengekspresikan diri dan
mengemukakan pendapat mereka lebih memilih dan merasa
lebih leluasa berkomunikasi secara online daripada tatap muka
secara langsung. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan
salah satu informan yaitu Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8
November 2021 sebagai berikut:
“Saya sangat nyaman dan lebih suka perkuliahan online
dibandingkan tatap muka, karena tidak harus bertemu orang
secara langsung.”
Dari pernyataan diatas dapat kita lihat bahwa itu merupakan salah satu
contoh yang menandakan hyperpersonal mereka cendrung menyukai komunikasi
secara online dibandingkan tatap muka, banyak hal yang menyebabkan
hyperpersonal terjadi akan tetapi penyebab itu kebanyakan berasal dari
pengalaman dan persepsi dari diri mereka sendiri sehingga jika dilakukan secara
terus-menerus akan menjadi kebiasaan.
Namun, pernyataan dari perspektif hyperpersonal ini
bertolak belakang dengan hasil yang peneliti dapatkan saat
wawancara berlangsung karena hanya 1 dari 8 informan yang
menyatakan bahwa dirinya merasa lebih nyaman saat
perkuliahan online, sedangkan 7 informan lainnya menyatakan
lebih memilih untuk berkomunikasi secara tatap muka langsung
(face to face). Seperti hasil wawancara dengan salah satu
informan yaitu M. Rio Saragih pada tanggal 12 November 2021 sebagai
berikut:
“Saya lebih suka dan nyaman saat perkuliahan
dilaksanakan secara offline karena menurut saya saat
perkuliahan online berlangsung itu menyebabkan kurangnya
interaksi antar teman sekelas”.
Menurut penuturan M. Rio Saragih, dia menyatakan bahwa lebih memilih
perkuliahan dalam bentuk komunikasi tatap muka hal ini berarti ia tidak memiliki
tanda-tanda hyperpersonal, ia juga berpendapat bahwa perkuliahan online
membuat interaksi antar teman sekelas berkurang bahkan menjadi jarang, hal ini
disebabkan oleh adanya jarak yang tercipta selama perkuliahan online terjadi.
Disisi lain ada juga informan seperti Mutia Puji Lestari pada tanggal 8
November 2021 yang tidak mempermasalahkan jenis perkuliahan apa yang
dilakukan, berikut dibawah ini adalah kutipannya:
“Sebenarnya lebih suka kuliah tatap maka, tapi karena
selama ini sudah terbiasa kuliah online jadi rasanya saat kuliah
offline atau online itu sama saja, tidak ada perbedaan signifikan
yang mencolok”
Perkuliahan online yang berbasis komunikasi melalui media jaringan
internet umumnya tidak membatasi batasan jumlah interaksi antara komunikator
dan komunikan meskipun perkuliahan online ini efektif serta fleksibel saat
dijalankan pada masa pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan untuk tatap
muka, akan tetapi komunikasi tatap muka dianggap masih jauh lebih efektif
karena tanpa menggunakan media dalam menjalankannya dan komunikasi tidak
akan terhambat oleh gangguan seperti jaringan internet.
4. Komunikasi Verbal dan Penyandian Pesan yang
Beragam
Teori SIP dalam Ali Nurdin (2020, 122) menjelaskan bahwa
komunikasi online masih memiliki tanda verbal yang jelas, verbal
disini ditunjukkan dengan cara memanfaatkan fitur yang ada
pada media yang digunakan mengirimkan pesan atau informasi
berupa teks, contohnya disaat perkuliahan online salah satu
mahasiswa mengirimkan pertanyaan berupa teks lewat kolom
chat yang sudah tersedia didalam aplikasi Zoom, maka dari itu
hal tersebut termasuk dalam tanda verbal yang muncul saat
perkuliahan online berlangsung. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dengan salah satu informan yaitu Ibu Eraskaita Ginting
pada tanggal 22 November 2021 sebagai berikut:
“Kita bisa melihat banyak sekali fitur-fitur yang ada di
Zoom seperti chat, raise hand, fitur share screen yang bisa
dimanfaatkan untuk memutar musik, video, ppt, lalu bisa juga
untuk melihat naik turunnya partisipan didalam Zoom saat kita
menggunakan fitur partisipant, sebenarnya banyak sekali hal
yang bisa dimanfaatkan dalam Zoom seperti kita bisa
mempersilahkan mahasiswa untuk presentasi secara bergantian
hanya dengan cara mengizinkan partisipan itu untuk share
screen, sehingga hal tersebut tidak membutuhkan waktu yang
lama.”
Dari pernyataan diatas dapat ketahui bahwa meskipun komunikasi itu
secara online dan melalui perantara media tetapi komunikasi tersebut masih
memiliki isyarat verbal yang jelas yakni dengan memanfaatkan fitur-fitur yang
telah tersedia dalam media itu, sebagai contoh dengan adanya
fitur kolom chat pengguna dapat mengunakan fitur tersebut untuk mengirim pesan
berupa teks secara publik maupun privat.
Pernyataan tersebut didukung juga oleh hasil wawancara
dengaan salah satu informan mahasiswa yaitu Egi Devina
Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November 2021 yaitu.
“Diaplikasi Zoom kita dapat mengirimkan pertanyaan
melalui kolom chat atau mengidupkan mic jika ingin berbicara,
jadi interaksi itu berjalan secara langsung walaupun melalui
perantara dari smartphone”.
Selain itu hal diatas juga merupakan salah satu bentuk
proses penyandian pesan didalam komunikasi atau juga sering
disebut sebagai encoding. Proses penyandian pesan merupakan
tindakan memproduksi pesan atau proses dimana komunikator
(pengirim pesan) merumuskan maksud pesan kedalam bentuk
bahasa, berbicara, tulisan serta mendeskripsikan pesan tersebut
secara baik dan benar agar dapat diterima oleh komunikan.
Seperti hasil wawancara dengan Bapak Badaruddin Azarkasyi pada
tanggal 26 Oktober 2021, adalah sebagai berikut:
“Saat mengajar statistika bapak sudah menulis angka-angka hitungannya
karena untuk penulisan angka-angka di aplikasi Zoom tidak ada, jadi tetap bapak
langsung menulis materinya dalam bentuk kertas a4, lalu di foto dan tetap
dilampirkan atau di share seperti slide ppt”.
Dalam pernyataan ini terlihat bahwa proses penyandian
pesan itu beragam, hal tersebut berupa menuliskan isi pesan
dalam bentuk teks, mengubah bentuk pesan tersebut kedalam
format powerpoint atau pdf akan tetapi tidak mengubah isi dari
tulisan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan menyampaikan
materi dan pesan tersebut melalui aplikasi Zoom.
5. Pemanfaatan Media Digital dalam Komunikasi
Seiring perkembangan teknologi media online pun semakin
memaksimalkan fitur-fitur baru yang lebih mendukung untuk melakukan
komunikasi secara online salah satu contohnya adalah aplikasi Zoom yang
banyak digunakan saat perkuliahan online saat dimasa pandemi. Melalui aplikasi
Zoom yang sudah memiliki fitur on-camera video serta audio hal ini akan
mengurangi kemungkinan ketidakmampuan melihat sisi nonverbal saat
berkomunikasi secara online, walaupun tentu saja cara kerja aplikasi tersebut
sepenuhnya tidak dapat menggantikan komunikasi tatap muka tetapi Zoom ini
cukup baik dan berguna pada masa pandemi yang tidak memungkinkan orang-
orang bertemu secara langsung. Seperti hasil wawancara dengan Luthfia
Sylmi Nadhirah pada tanggal 8 November 2021, sebagai berikut:
“Komunikasi menggunakan Zoom sangat membantu disaat
perkuliahan online seperti ini, karena dibandingkan dengan
aplikasi lain Zoom lebih nyaman digunakan, selain itu fitur-fitur
di Zoom juga lengkap seperti video dan mic audio sehingga
sangat membantu untuk saling berinteraksi”
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa media komunikasi seperti
Zoom bisa digunakan untuk berkomunikasi dan bisa memungkinkan untuk
melihat isyarat nonverbal yang dilakukan oleh lawan bicara seperti gaya bicara,
dan raut wajah lawan bicara kita dengan cara mengaktifkan fitur on-camera pada
aplikasi Zoom, selain itu kita juga dapat mendengar bagaimana intonasi suara
lawan bicara dengan cara mengaktifkan fitur audio yang telah tersedia. Pernyataan
tersebut didukung oleh hasil wawancara dengaan informan yaitu Ibu
Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021, yaitu.
“Kalau Zoom menurut ibu sangat membantu dan
memudahkan pesan tapi secara komunikasinya yang paling
efektif itu adalah ketika kita bertemu langsung atau tatap muka
karena kita bisa melihat verbalnya dia nonverbalnya dia ketika
kita interpersonal antara dua orang pesan itu akan 100% sampai
tanpa hambatan, tapi jika keadaan kembali normal lebih baik kita
tatap muka. Karena kondisi pandemi seperti ini Zoom itu sangat
membantu dan memudahkan dalam menyampaikan pesan
terutama dalam perkuliahan.”
Pemanfaatan fitur lainnya dapat berupa penggunaaan voice untuk
mengaktifkan mic saat berbicara langsung, raise hand yang menunjukkan tanda
sebagai ketersediaan kita saat ingin berbicara, share screen untuk membagikan
layar komputer kita berupa slide ppt maupun video serta gambar saat presentasi
berlangsung, partisipant untuk melihat seberapa banyak jumlah orang yang
bergabung di meeting tersebut, recording dapat digunakan untuk meng-record
meeting dari awal sampai akhir.
Akan tetapi seberapa sering kita berkomunikasi melalui online dan
seberapa canggih teknologi tersebut hal itu tidak bisa menyamai bahkan
menggantikan eksistensi dan keefektifan komunikasi secara langsung. Karena
komunikasi online memiliki hambatan utama seperti pada jaringan yang kapan
saja dan dimana saja sewaktu-waktu dapat hilang dan tidak terkoneksi, hal itu
pasti akan sangat mengganggu proses penyampaian pesan dalam komunikasi itu
sendiri.
6. Penerapan Etika Komunikasi Digital
Granrose (1955) dalam Alo Liliweri (2015: 494)
menyatakan bahwa etika berasal dari bahasa Yunani “ethos”
yang jika diartikan dalam bahasa Prancis adalah
peraturan/panduan untuk bertingkah laku untuk menyelesaikan
masalah terhadap keinginan. Sedangkan, Loudin, dkk (1996)
mendefinisikan Etika sebagai standar moral yang mebimbing
tindakan, perilaku, dan pilihan manusia.
Etika komunikasi di era digital dapat kita artikan sebagai
etika yang dibangun saat komunikasi yang dilakukan melalui
media berjaringan internet contohnya yaitu komunikasi didalam
perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom dimasa pandemi
Covid-19.
Perkuliahan berjalan secara online akan tetapi etika tetap harus dijalankan,
karena walaupun didalam situasi pandemi seperti ini penekanan kewajiban etika
itu tidak akan hilang konteksnya wajib diterapkan untuk membentuk serta
membiasakan diri akan kepribadian, tingkah laku dan moral yang baik dimanapun
dan kapanpun kaki berpijak. Seperti hasil wawancara dengan Ibu Putri
Citra Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:
“Kalau ditanya bagaimana etika komunikasi saat
perkuliahan online berlangsung, mahasiswa on-video, mahasiswa
mendengarkan, tidak menimbulkan banyak gerakan secara
terus-menerus, kalau misalkan ia sedang berada didaerah,
sebisa mungkin carilah tempat sinyal yang mendukung untuk
perkuliahan online, serta berpakaianlah dengan rapi, karena
memang keberkahan itu nomor satu kalau menurut saya, kita
tidak tahu dari perkuliahan online itu ada berkah dosen disitu,
ada berkah dan doa guru disitu, kita tidak tau doa siapa yang
dikabulkan dari perkuliahan itu, hal ini memang receh tapi dari
etika itu ada adab yang dibangun, ada akhlaknya disitu”.
Menurut penuturan Ibu Putri Citra Hati bahwa dari keikhlasan etika
yang dilakukan hal itu dapat menciptakan keberkahan, etika yang dimaksud
adalah saat perkuliahan berlangsung hendaknya mahasiswa berpakaian rapi,
memperhatikan dan mendengarkan serta on-camera saat perkulihan berlangsung,
selain itu menjaga sikap sebagaimana perkuliahan yang seharusnya juga perlu
dilakukan. Berikut dibawah ini adalah salah satu hasil wawancara dengan
informan mahasiswa Egi Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November
2021, yaitu.
“Kalau saya pribadi merasa telah menerapkan etika
komunikasi walau belum 100%, seperti on-camera karena hal itu
telah menjadi ketentuan saat perkuliahan online berlangsung,
on-mic saat dipanggil atau ditanya sama Dosen, berpakaian rapi
dan sesuai keaadaan, tetapi jika melihat teman-teman disekitar
ada beberapa yang masih off-camera secara diam-diam”.
Sebenarnya etika komunikasi pada saat perkuliahan online melalui aplikasi
Zoom itu urgensinya sama pada saat perkuliahan tatap muka harus tetap
diterapkan, tapi karena kita dibatasi oleh jarak dikarenakan oleh
pandemi ini yang mengharuskan kita tidak berinteraksi langsung
demi mengurangi resiko penyebaran Covid-19 perkuliahan
berbasis online pun dilakukan. Hal ini sama dengan pernyataan
yang disampaikan oleh Ibu Eraskaita Ginting pada tanggal 22
November 2021 dalam kutipan wawancara berikut.
“Yang pertama masalah waktu kita harus benar-benar
memahami waktu, misalnya kalau bisa ketika perkuliahan
dimulai jam 9 jadi 10 menit sebelum perkuliahan dimulai itu kita
sudah prepare, Yang kedua penggunaan suara dan video sebisa
mungkin saat perkuliahan berlangsung harus on-camera itu
adalah etika dan sebagai penghargaan terhadap dosen dan
menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut serius dalam belajar
lalu ketika membuka kamera kita itu harus dalam posisi siap dan
jangan lupa untuk mute/tidak boleh bersuara kecuali diizinkan
untuk berbicara saat berada didalam Zoom”.
Dari pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa apapun bentuk
perkuliahannya etika komunikasi tetap harus diterapkan sebagaimana mestinya.
Karena etika merupakan konsep dasar dari perilaku manusia yang layak, baik itu
berhadapan dengan siapa pun, dimana pun dan dalam situasi apa pun kita tetap
harus mempunyai etika.
Dalam perkuliahan online ini sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa
etika komunikasi yang diterapkan berupa, manajemen waktu, on-camera dan mute
audio saat perkuliahan berlangsung, menggunakan virtual background jika
disarankan, berpakaian rapi sebagaimana mestinya saat perkuliahan offline, serta
tidak melakukan aktivitas lain saat perkuliahan berlangsung, dsb.
Pertama, manajemen waktu sebagai seorang dosen dan
mahasiswa manajemen waktu itu sangat penting untuk
meminimalisir kemungkinan error pada alat yang sering kali
terjadi sebelum perkuliahan dilaksanakan, contohnya
smarthphone yang mengalami lag-ing, laptop yang tiba- tiba
blackscreen, Wi-fi atau jaringan yang mendadak hilang, maka
dari itu setidaknya kita perlu memeriksa dan mempersiapkan
semua itu dimulai dari 10 menit sebelum perkuliahan dimulai
demi mengurangi masalah teknis yang sekiranya terjadi.
Kedua, On-camera dan menggunakan virtual background jika
disarankan merupakan salah satu cara yang dilakukan sebagai bentuk perhargaan
terhadap host/dosen saat perkuliahan berlangsung, hal itu menunjukkan bahwa
sebagai partisipan kita serius dalam memperhatikan materi itu, lalu pada saat on-
camera sebisa mungkin berada dalam posisi siap dan tidak menimbulkan
banyak gerakan berulang secara terus-menerus. Selain itu, mute
audio bagi partisipan saat perkuliahan berlangsung dimaksudkan untuk
mengurangi kebisingan yang akan terdengar saat penjelasan materi di Zoom
berlangsung, akan tetapi partisipan boleh berbicara saat diizinkan untuk
berbicara seperti saat sesi tanya jawab, diskusi, presentasi dsb.
Kemudian, berpakaian rapi sebagaimana mestinya saat perkuliahan offline,
karena pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara etika saat
perkuliahan offline maupun online.
Selain itu, kesiapan diri sebelum dan selama perkuliahan online juga perlu
diperhatikan, karena itu termasuk dalam etika yang akan terlihat saat perkuliahan
berlangsung hal itu juga mencerminkan apakah sang partisipant bersungguh-
sungguh atau tidak dalam melaksanakan perkuliahan. Fenomena ini sering terjadi
selama perkuliahan online, kesiapan yang tidak matang akan menimbulkan
hambatan-hambatan serta perilaku yang jika dilakukan secara terus menerus akan
menjadi kebiasaan dan secara alami akan termaklumi.
B. Hambatan Komunikasi Saat Perkuliahan
Menggunakan Aplikasi Zoom Dimasa Pandemi
COVID-19
Perkuliahan online saat pandemi merupakan pengalaman baru dengan
teknologi. perkuliahan online yang dirasakan lebih praktis fleksibel, mudah
dilakukan secara fisik tanpa harus berpindah tempat, serta hemat biaya dan tenaga.
Akan tetapi, selama proses perkuliahan online berlangsung, akan ada beberapa
hambatan yang dirasakan. Hambatan komunikasi merupakan segala sesuatu yang
mengganggu jalannya proses penyampaian dan penerimaan pesan didalam
komunikasi, hambatan tersebut dapat berasal dari diri sendiri, lingkungan, ataupun
hambatan teknis yang berasal dari media serta jaringan yang digunakan disaat
sedang online, hal ini dikarenakan pemilihan jaringan dan media tertentu dapat
menimbulkan permasalahan yang muncul sehingga membuat komunikasi menjadi
kurang efektif.
Sama halnya dengan yang peneliti temukan bahwa menurut Eisenberg
dalam Liliweri (2015: 459) terdapat 4 jenis hambatan dalam komunikasi efektif
yaitu hambatan proses, hambatan fisik, hambatan semantik, dan hambatan
psikologis, begitu juga dalam penelitian ini, berdasarkan hasil wawancara dari
narasumber, peneliti menemukan hambatan-hambatan tersebut. berikut dibawah
ini adalah penjelasannya.
1. Jaringan Internet atau Sinyal Provider yang Buruk
Dalam keadaan pandemi yang menyebabkan kita tidak bisa bertatap muka
secara langsung dengan bebas maka alternatif perkuliahan yang dilakukan tatap
muka diubah menjadi melalui jaringan internet atau online, salah satu aplikasi
yang sering digunakan dalam perkuliahan online adalah aplikasi Zoom.
Jaringan internet yang buruk menjadi hambatan utama dalam proses
pertukaran pesan dalam perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom. Dalam
prosesnya hambatan ini sering terjadi pada saat komunikasi itu sendiri sedang
berjalan, meskipun saat berkomunikasi menggunakan Zoom dapat bertatap muka
melalui fitur on-camera video yang telah disiapkan, akan tetapi jika koneksi
jaringan atau sinyal provider internet buruk komunikasi yang dilakukan juga tidak
akan lancar. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan salah satu informan
yaitu Mutia Puji Lestari pada tanggal 8 November 2021, sebagai berikut.
“Hambatan dari komunikasinya tidak banyak, karena
dikelas saya pribadi mahasiswanya lebih aktif di Zoom, selain itu
tidak ada hambatan lagi kecuali tentang gangguan jaringan dan kuota”
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa koneksi jaringan atau
sinyal provider internet yang buruk menjadi hambatan utama dalam proses
komunikasi perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom, karena hal tersebut
dapat membuat audio dan video on-camera saat penyampaian materi di
perkuliahan online tidak berjalan dengan lancar. Selain itu pernyataan diatas
didukung juga oleh hasil wawancara dengan salah satu informan yaitu M. Rio
Saragih pada tanggal 12 November 2021 sebagai berikut.
“Kendala utama itu adalah sinyal lalu hal tersebut
menyebabkan terjadi miss komunikasi sehingga membuat saya
kurang mengerti dan kurang memahami apa yang disampaikan
dosen saat perkuliahan berlangsung”.
Meskipun dapat bertatap muka seringkali koneksi jaringan atau sinyal
provider internet membuat on-camera dan audio tidak berjalan lancer saat
menggunaan Zoom, sehingga pada saat membicarakan hal-hal yang penting
membuat audio menjadi terputus-putus suaranya ataupun gambarnya pada saat on-
camera menjadi tidak jelas sehingga membuat pesan tidak tersampaikan dengan
baik. Sama halnya dengan dua pernyataan diatas hasil wawancara dengan
informan dari mahasiswa lain yaitu Egi Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12
November 2021 juga menyatakan hambatan yang paling utama adalah sinyal,
berikut dibawah ini kutipannya.
“Hambatan dari Zoom cuma sebatas jaringan hal tersebut
menyebabkan komunikasi yang saya terima jadi terhambat, lalu
biasanya ada juga hambatan dari noise disekitar tetapi sebisa
mungkin saya mencari tempat yang tenang agar terhindar dari
noise dan suara sekitar yang dapat mengganggu”
Dari pernyataan tersebut dapat kita lihat bahwa selain
jaringan atau sinyal provider yang buruk noise atau gangguan
yang berasal dari sekitar juga dapat mengganggu proses
jalannya komunikasi. Suara terputus-putus karena jaringan yang
buruk, suara kurang jelas karena banyak noise atau suara
tambahan dari sekitar yang mengakibatkan nada dan artikulasi
suara tidak jelas saat didengar, camera yang buram sehingga
orang yang diajak bicara pun tidak kelihatan jelas ekspresi
wajahnya, sehingga membuat proses komunikasi yang terjadi
tidak berjalan lancar.
2. Kurangnya Kemampuan Untuk Memonitoring Secara Langsung
Berbeda dengan komunikasi tatap muka, komunikasi online ini cendrung
susah dalam memantau dan memonitoring komunikan secara langsung. Seperti
yang disampaikan oleh Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober
2021 sebagai berikut.
“Kurangnya monitoring ke mahasiswa, apakah mereka benar-benar
berkuliah atau tidak, ada juga mahasiswa yang sering on-camera tetapi
mahasiswa tersebut tidak memperhatikan apa yang disampaikan, karena ketika
dari media secara onliine untuk menyampaikan pesan itu masih kurang seefektif
seperti saat komunikasi tatap muka”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa banyak hambatan yang
muncul dikarenakan kurangnya kontak secara langsung saat proses komunikasi,
misalnya kurangnya monitoring dari pihak dosen sebagai komunikator saat
menyampaikan materi atau pesan ke mahasiswa sebagai komunikan hal ini
dikarenakan keterbatasan dari media itu sendiri yang kurang memungkinkan
untuk memperlihatkan aktivitas partisipan secara bersamaan dan menyeluruh, Hal
ini sama dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ibu
Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021 dalam kutipan
wawancara berikut.
“Kita tidak bisa melihat respon secara langsung contohnya
pada saat mahasiswa off-kamera kita tidak tau apakah mereka
berada disana atau tidak tapi pada saat on-kamera kita bisa
melihat mereka, tapi jika dikelas jumlah mahasiswa sekitar 30
orang kita tidak mungkin dikontrol semua, hambatannya
terkadang disitu kita tidak bisa melihat secara langsung fisik
mahasiswa sedang melakukan apa”.
Hambatan fisik seperti ini tidak dapat dihindari dalam situasi perkuliahan
online, namun dengan memaksimalkan aspek bahasa tubuh yang lain dengan
selalu on-camera saat perkuliahan berlangsung, aktif dan bebas membuat ekspresi
wajah atau gerak tubuh yang terlihat jelas (dalam penggunaan video didalam
aplikasi Zoom) hal ini bisa meminimalisir setidaknya kekurangan tersebut, tentu
saja harus adanya kesepakatan dan rasa peka terlebih dahulu antara komunikator
dan komunikan agar komunikasi yang dilakukan tercapai sebagaimana mestinya
yang diharapkan dari komunikasi itu.
3. Kurangnya Motivasi Diri saat Perkuliahan Online
Proses yang dilakukan oleh komunikan (penerima pesan)
untuk menafsirkan serta memahami isi pesan sesuai apa yang ia
terima disebut juga dengan decoding, contohnya dengan cara
membaca, mendengarkan serta mencerna apa maksud dari
pesan tersebut. Decoding sering juga disebut dengan proses
‘menyandi pesan’ akan tetapi disaat perkuliahan berlangsung
seringkali adanya hambatan yang terjadi, Seperti hasil
wawancara dengan Ibu Putri Citra Hati pada tanggal 16 November 2021,
sebagai berikut:
“Pertama mahasiswa kadang tidak membuka video dalam
pembelajaran lalu terkadang saya tidak tau apa alasannya apa
memang benar mereka terkendala sinyal, lalu ketika dosen
bertanya tiba-tiba Zoom mereka loading entah itu untuk
menghindari pertanyaan atau apakah sinyal itu semacam
menjadi alat pembenaran atau memang kuotanya sudah limit.”
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa salah satu
hambatan dalam penyandian pesan didalam suatu komunikasi
adalah kurangnya motivasi dari diri sendiri sehingga membuat
proses penyandian itu pun terhambat. Dibawah ini adalah hasil
wawancara dengan salah satu informan yaitu Retno Kurnia
Muktiarum pada tanggal 15 November, berikut kutipannya.
“Saat perkuliahan online berlangsung masih suka sibuk
sendiri dengan kegiatan yang lain, akan tetapi saya selalu tepat
waktu, berbahasa indonesia yang baik dan on-camera saat
perkuliahan online berlangsung”.
Kurang memperhatikan merupakan salah satu contoh dari
motivasi diri yang kurang, karena jika seseorang memiliki
motivasi yang lebih dalam melakukan suatu kegiatan seperti
perkuliahan online maka sebisa mungkin ia akan mencermati
dan fokus dengan perkuliahan tersebut dengan sungguh-
sungguh. Penjelasan dari paragraf ini pun didukung oleh hasil
wawancara dengan Bapak Badaruddin Azarkasyi pada tanggal 26 Oktober
2021 sebagai berikut.
“Kalau dalam proses pembelajaran ini dalam
pelaksanaannya mahasiswa seperti tidak terbebani secara moril
dan kurangnya rasa tanggung jawab, makanya dalam hal ini
dosen memberikan tugas agar materi yang disampaikan ini
dapat mereka kerjakan”.
Dari pernyataan diatas terlihat bahwa dengan pemberian
tugas selama perkuliahan online, terdapat harapan agar
mahasiswa dapat lebih bertanggung jawab terhadap perkuliahan
yang dilaksanakan, karena seringkali terjadi kurangnya motivasi
terhadap diri sendiri selama perkuliahan online yang disebabkan
oleh rasa jenuh karena terlalu sering sendiri selama perkuliahan
online dari rumah sehingga mengakibatkan rasa malas dalam
memperhatikan materi, menganggap perkuliahan itu sepele,
kurangnya rasa tanggung jawab dan merasa tak terbebani
dengan perkuliahan yang sedang berlangsung sehingga
timbulnya niat untuk menjadikan hal yang umum seperti sinyal
menjadi alasan untuk pembelaan.
Adanya dorongan motivasi dari luar sangatlah bagus untuk
menyadarkan betapa pentingnya perkuliahan, akan tetapi
motivasi tersebut hendaknya timbul dari diri sendiri terlebih
dahulu. Maka dari itu sebagai komunikan yang baik sebisa
mungkin sebelum perkuliahan online berlangsung untuk
mempersiapkan niat dan semua hal yang berkaitan dengan
proses perkuliahan online secara matang, karena jika kita tidak
siap maka itu sama saja dengan merugikan diri sendiri, selain itu
komunikan diharapkan agar lebih dapat memahami pesan yang
disampaikan agar pesan tersebut bermakna dan memberikan
manfaat bagi diri mereka, jika sekiranya masih sulit untuk
memahami pesan tersebut agar hendaknya segera
dikomunikasikan kembali supaya pesan yang komunikan terima
itu sesuai dengan sebagaimana yang dimaksudkan oleh
komunikator.
4. Penggunaan Tata Bahasa yang Kurang Tepat
Hambatan disini termasuk didalam hambatan semantik. Hambatan
semantik bersumber dari tata bahasa atau kata-kata yang dikirimkan oleh pengirim
pesan yang kurang tepat sehingga membuat komunikan atau penerima pesan
kurang memahami arti dari kalimat yang didapat. Seperti hasil wawancara
dengan Ibu Eraskaita Ginting pada tanggal 22 November 2021, sebagai berikut
“Miss komunikasi yang terjadi itu misalnya seperti ini
mahasiswa bertanya didalam kolom komentar dan yang
ditanyakannya itu susah untuk dimengerti lalu kita bisa
mempersilahkan atau memberikan kesempatan kepada dia
untuk bertanya secara langsung melalui kolom chat, karena
pengetikkan itu berbeda dengan menyampaikan pendapat
secara langsung, lebih enak lagi kalau dia membuka mic/suara
untuk bertanya, itu kadang miss komunikasinya paling dalam
bertanya atau ketika dosen menyampaikan materi dan
mahasiswanya tidak mengerti itu bisa difollow up lagi dengan
bertanya”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa dalam tata bahasa atau
pengetikan juga dapat menyebabkan hambatan yang akan terjadi didalam
komunikasi, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti, pemilihan kata
yang samar-samar dan kurang jelas, bahasa asing yang tidak dimengerti lawan bicara ,
penempatan tanda baca yang salah, bahasa singkatan, serta pengunakan huruf
kapital atau kata sambung yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Hal tersebut
dapat menimbulkan kecendrungan pesan yang disalah artikan dan dapat
menimbulkan miss komunikasi. Maka dari itu untuk meminimalisir kecendrungan
miss komunikasi yang terjadi akibat pengetikan kalimat, sebaiknya jika jaringan
memungkinkan dalam perkuliahan online hendaknya menggunakan fitur voice/on
mic dan berbicara secara langsung sebagaimana saat perkuliahan tatap muka.
5. Menurunnya Kemampuan Berkomunikasi
Stay at home yang dilakukan saat pandemi Covid-19 tidak selamanya
berdampak baik terhadap keadan psikis seseorang, walaupun benar hal tersebut
harus dilakukan guna menekan penyebaran Covid-19 yang meningkat saat
pandemi terjadi. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan salah
satu informan mahasiswa yaitu Luthfia Sylmi Nadhirah pada tanggal 8
November 2021, sebagai berikut:
“Saya sendiri itu masih malu dan sangat gugup jika ingin
berinteraksi secara online atau bertanya kepada dosen mengenai
materi yang belum saya pahami”
Anjuran untuk stay at home dalam kurun waktu yang lama membuat
orang-orang mengalami tekanan emosi tertentu seperti rasa jenuh, bosan, serta
rasa kesepian sehingga merasakan bahwa pembelajran online yang dijalani
dilakukan sendirian tanpa teman disamping dengan pengalaman yang sama
sehingga menimbulkan keterasingan kuat yang mengakibatkan meningkatnya rasa
kurang percaya diri atau insecure. Hal tersebut dapat menyebabkan keadaan
emosi yang kurang stabil sehingga membuat kemampuan untuk berkomunikasi
yang biasanya lancar menjadi menurun secara drastis. Penjelasan ini sama dengan
hasil wawancara dengan salah satu informan mahasiswa yang lain yaitu Egi
Devina Hanifatussyabirah pada tanggal 12 November sebagai berikut.
“Saya merasa seperti ada yang kurang saat perkuliahan online seperti
tidak bisa bertatap muka secara langsung, tidak bisa berkenalan dan bertemu
dengan teman secara langsung, hal tersebut menyebabkan saat bertemu dan
bertatap muka langsung itu ada rasa gugup dan canggung”.
Rasa gugup dan canggung muncul akibat kondisi yang
sudah terlalu lama tidak berkomunikasi dan bertatap muka
langsung dengan orang luar walau posisi antara mereka itu
dapat dibilang sama, sehingga menimbulkan prasangka-
prasangka yang sudah menjadi ketakutan awal padahal hal
tersebut belum tentu terjadi, umumnya konsep dari komunikasi
itu harus terbiasa terlebih dahulu maka lama kelamaan akan
menjadi biasa. Selain itu masih ada hambatan lain yang dapat menyebabkan
berkurangnya kemampuan dalam berkomunikasi yaitu kebisingan. Kebisingan
juga menjadi salah satu hambatan psikologis dalam komunikasi saat perkuliahan
online berlangsung, Seperti hasil wawancara dengan M. Rio Saragih pada
tanggal 12 November 2021, berikut dibawah ini adalah kutipannya:
“Saat perkuliahan online juga banyak noise yang terjadi
disekitar saya, seperti adik-adik yang mengganggu, suara
kendaraan yang bising saat perkuliahan online berlangsung, hal
itu menyebabkan saya cukup terganggu saat perkuliahan online
berlangsung”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat kita ketahui juga bahwa sumber
kebisingan yang mengganggu proses komunikasi itu sendiri dapat berasal dari
lingkungan luar, hal itu terbukti dari hasil wawancara diatas yang merasa cukup
tidak nyaman dengan kebisingan-kebisingan tersebut selain itu jika kebisingan
terus berdatangan hal tersebut juga akan mempengaruhi kemampuan mendengar
saat berlangsungnya perkuliahan online, kebisingan juga mempengaruhi suasana
dan keadaan batin saat berkomunikasi. Hal ini sering kali menjadi penyebab
kehilangan fokus saat perkuliahan online berlangsung.
6. Limit Zoom yang Terbatas
Aplikasi Zoom merupakan Salah satu aplikasi yang banyak di gunakan dalam
Sistem perkuliahan online. Zoom merupakan aplikasi pertemuan HD gratis dengan
video dan berbagi layar hingga 100 orang bahkan lebih,
([Link] Zoom merupakan aplikasi komunikasi dengan
menggunakan video HD sebagai fitur utamanya. Aplikasi tersebut dapat
digunakan di berbagai perangkat seluler, smartphone, hingga dekstop, dengan
mendownload aplikasi Zoom di Playstore, app store, maupun di website resmi kita
dapat menggunakan aplikasi Zoom secara gratis. Selain dalam mode gratis Zoom
juga memiliki versi berbayar atau premium. Hal ini sama seperti yang
disampaikan Mutia Puji Lestari dalam hasil wawancara pada tanggal 8 November
2021 sebagai berikut.
“Penyampaian komunikasi didalam Zoom itu baik, akan tetapi sering
terkendala saat Zoom itu lagi limit sehingga menyebabkan perkuliahan di Zoom
itu tiba-tiba berhenti”
Perbedaan antara versi gratis dan premium ada didalam waktu
penggunaannya, versi premium dapat digunakan sepuasnya sedangkan versi gratis
hanya memiliki limit waktu 45 menit. Seperti hasil wawancara dengan
Ibu Putri Citra Hati pada tanggal 16 November 2021, sebagai berikut:
“Zoom ini limitnya terbatas kalau tidak premium, jadi kalau ditanya
bagaimana penggunaan Zoom sebagai media komunikasi ini rasanya saya tidak
100% menyatakan efektif tidak, tapi saya tidak juga menyatakan 100% tidak
efektif karena memang dia berbasis video dan audio, tapi karena memang limit
waktunya cuma satu jam bagi yang tidak premium itu yang membuat penggunaan
Zoom itu menjadi efektif dan tidak efektif”.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa limit yang ada didalam
Zoom gratis merupakan salah satu hambatan yang terjadi dan sering dirasakan
selama perkuliahan online menggunakan aplikasi Zoom, karena hal tersebut dapat
menghambat proses perkuliahan contohnya disaat perkuliahan tersebut sedang
berjalan tiba-tiba Zoom terhenti, hal itu akan mengakibatkan perkuliahan tiba-tiba
terhenti dan akan kesulitan dalam mengumpulkan ulang partisipant untuk
mengulang perkuliahan di Zoom yang sempat terhenti tadi.