0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Ciri-Ciri Kepercayaan Diri Siswa

Dokumen ini membahas tentang kepercayaan diri, termasuk pengertian, ciri-ciri individu yang memiliki dan tidak memiliki kepercayaan diri, serta faktor penyebab kurangnya kepercayaan diri. Kepercayaan diri dianggap penting untuk mencapai prestasi belajar yang optimal, dan konseling kelompok diusulkan sebagai salah satu cara untuk membantu individu mengatasi masalah terkait kepercayaan diri. Selain itu, tujuan konseling kelompok adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, penerimaan diri, dan harga diri individu.

Diunggah oleh

亗Wahyudinoor
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Ciri-Ciri Kepercayaan Diri Siswa

Dokumen ini membahas tentang kepercayaan diri, termasuk pengertian, ciri-ciri individu yang memiliki dan tidak memiliki kepercayaan diri, serta faktor penyebab kurangnya kepercayaan diri. Kepercayaan diri dianggap penting untuk mencapai prestasi belajar yang optimal, dan konseling kelompok diusulkan sebagai salah satu cara untuk membantu individu mengatasi masalah terkait kepercayaan diri. Selain itu, tujuan konseling kelompok adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, penerimaan diri, dan harga diri individu.

Diunggah oleh

亗Wahyudinoor
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri dalam penelitian ini mencakup

pengertian kepercayaan diri, ciri individu yang memilki

kepercayaan diri, ciri-ciri individu yang tidak memiliki

kepercayan diri,dan faktor penyebab kurangn kepercayaan .

1. Pengertian Kepercayaan Diri

Salah satu karakter yang penting ditanamkan kepada

peserta didik adalah karakter percaya diri. Percaya diri

diartikan sebagai sikap yakin akan kemampuan diri sendiri

terhadap pemenuhan tercapai- nya setiap keinginan dan

harapannya. Peserta didik sangat penting memiliki nilai

karakter percaya diri karena tanpa percaya diri mereka akan

sulit untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Hal ini

karena dalam setiap tahapan proses pembelajaran, seringkali

mereka harus beraktivitas yang membutuhkan percaya diri,

seperti berbicara mengeluarkan pendapat, menjawab

pertanyaan guru, tampil presentasi ke depan, mengerjakan soal

atau tugas secara mandiri. Semua aktivitas tersebut tidak da-

pat dilakukan jika peserta didik tidak me- miliki keyakinan

akan kemampuannya sendiri.

8
9

Sikap minder, rendah diri (bukan rendah hati) sangat menghambat

kemajuan peserta didik dalam belajar

Menurut Nurdin Muhammad (dalam Saputra ,2010)

percaya diri adalah “salah satu kunci kesuksesan siswa dalam

belajar. Karena tanpa adanya rasa percaya diri siswa tidak akan

sukses dalam berinteraksi dengan temannya.” Di samping itu,

tanpa adanya rasa percaya diri siswa akan ragu-ragu dalam

menyelesaikan suatu soal, pada akhirnya siswa tersebut tidak akan

maksimal dalam menyelesaikan soal di kelas.

Menurut Emria Fitri, Nilma Zola, Ifdil Ifdil (dalam

Walgito, 2018) Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek

kepribadian yang penting dalam masa [Link] memiliki

kepercayaan diri, remaja akan mampu memberikan penghargaan

terhadap dirinya dan mempunyai kemampuan untuk menjalani

kehidupan, remaja akan mampu untuk mempertimbangkan

berbagai pilihan dan membuat keputusan sendiri. Remaja yang

memiliki kepercayaan diri dapat menyelesaikan tugas atau

pekerjaan yang sesuai dengan tahap perkembangannya dengan baik

atau setidaknya memiliki kemampuan untuk belajar cara-cara

menyelesaikan tugas tersebut

Menurut Asiyah, Ahmad Walid, Raden Gamal Tamrin

Kusumah (dalam Ameliah & Munawaroh 2016) kepercayaan diri

bermakna bahwa keyakinan terhadap diri sendiri sehingga mampu


10

menangani segala situasi dengan tenang, kepercayaan diri lebih

banyak berkaitan dengan hubungan seseorang dengan orang lain.

Tidak merasa inferior di hadapan siapapun dan tidak merasa

canggung apabila berhadapan dengan banyak orang.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, dapat

disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah suatu keadaan dimana

seseorang dapat dengan yakin dan mantap menyampaikan sesuatu

kepada orang lain baik itu kepada individu maupun khalayak

ramai. Artinya si individu bisa menguasai dirinya untuk

mengeluarkan dan menyampaikan pendapatnya dengan enjoy tanpa

ada tekanan dan rasa malu sedikit pun.

2. ciri-ciri individu yang memilki kepercayaan diri

menurut Risna aristy (dalamHakim,2016) ciri-ciri orang

yang mempunyai percaya diri tinggi antara lain:

(a) Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu.

(b) Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai.

(c) Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul didalam

berbagai situasi.

(d) Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai

situasi.

(e) Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang

penampilannya.

(f) Memiliki kecerdasan yang cukup.


11

(g) Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup.

(h) Memiliki keahlian atau ketrampilan lain yang menunjang

kehidupannya, misalnya ketrampilan berbahasa asing.

(i) Memiliki kemampuan bersosialisasi.

(j) Memiliki latar belakang pendidikan yang baik.

(k) Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi

kuat dan tahan didalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

(l) Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah,

misalnya didalam menghadapi berbagai masalah tetap tegar, sabar

dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup. Dengan sikap ini,

adanya masalah hidup yang berat justru semakin memperkuat rasa

percaya diri seseorang.

Menurut Indra(daalam Mardatilah,2016) seseorang yang

memiliki kepercayaan diri tentunya memiliki ciri-ciri:

1. Mengenal dengan baik kekurangan dan kelebihan yang

dimilikinya lalu mengembangkan potensi yang dimilikinya.

2. Membuat standar atas pencapaian tujuan hidupnya lalu

memberikan penghargaan jika berhasil dan bekerja lagi jika tidak

tercapai.

3. Tidak menyalahkan orang lain atas kekalahan atau ketidak

berhasilannya namun lebih banyak instrospeksi diri sendiri.

4. Mampu mengatasi perasaan tertekan, kecewa, dan rasa ketidak

mampuan yang menghingapinya.


12

5. Mampu mengatasi rasa kecemasan dalam dirinya.

6. Tenang dalam menjalankan dan menghadapi segala sesuatunya.

7. Berpikir positif dan

8. Maju terus tanpa harus menoleh kebelakang.

Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-

ciri siswa yang percaya diri adalah siswa yang miliki sikap tenang,

mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai, mampu

menetralisasi ketegangan, mampu menyesuaikan diri dan

berkomunikasi, memiliki kecerdasana, keahlian dan ketrampilan

yang dapat menunjang kehidupan.

3. ciri-ciri individu yang tidak memilki kepercayaan diri

Menurut Santrock (dalam Rina aristasni, 2016) mengemukakan

bahwa indikator perilaku negatif dari individu yang tidak percaya

diri antara lain:

a) Melakukan sentuhan yang tidak sesuia atau mengakhiri kontrak

fisik.

b) Merendahkan diri sendiri secara verbal, depresiasi diri. c)

Berbicara terlalu keras secara tiba-tiba, atau dengan nada suara

yang datar.

d) Tidak mengekspresikan pandangan atau pendapat, terutama

ketika ditanya).
13

Menurut Hakim (dalam Rina aristasni, 2016) ciri-ciri orang yang

tidak percaya diri antara lain:

(a) Mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat

kesulitan tertentu.

(b) Gugup dan terkadang bicara gugup.

(c) Tidak tahu bagaimana cara mengembangkan diri untuk

memiliki kelebihan tertentu.

(d) Sering menyendiri dari kelompok yang dianggap lebih dari

dirinya.

e) Mudah putus asa.

(f) Cenderung bergantung pada orang lain dalam mengatasi

masalah.

(g) Sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah. Misalnya

dengan menghindari tanggung jawab atau mengisolasi diri yang

menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk .

Supriyo (dalam septi rahayu purwanti,2013) memaparkan

ciri-ciri orang yang kurang percaya pada diri sendiri antara lain

adalah sebagai berikut :

1. Perasaan takut/gemetar disaat berbicara dihadapan orang

banyak.

2. Sikap pasrah pada kegagalan, memandang masa depan suram.

3. Perasaan kurang dicintai/kurang dihargai oleh lingkungan

sekitarnya.
14

4. Selalu berusaha menghindari tugas/tanggung

jawab/pengorbanan.

5. Kurang senang dengan keberhasilan orang lain, terutama rekan

sebaya/seangkatan.

6. Sensitifitas batin yang berlebihan, mudah tersinggung, cepat

marah, pendendam.

7. Suka menyendiri dan cenderung egosentris.

8. Terlalu berhati-hati ketika berhadapan dengan orang lain

sehingga perilakunya terlihat kaku.

9. Pergerakannya agak terbatas, seolah-olah sadar jika dirinya

memang banyak kekurangan.

10. Sering menolak apabila diajak ke tempat-tempat yang ramai

Dari pernyataan beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat

disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang tidak memilki

kepercayaan yaitu:

1. Tidak percaya pada kemampuan sendiri.

Individu yang tidak memiliki percaya diri tidak meyakini pada

kemampuan yang dimilikinya. Ia selalu merendahkan dirinya

sendiri dan melihat orang lain lebih mampu dari dirinya, dalam

beraktivitas biasanya tidak totalitas dan optimal karena dirinya

merasa sudah tidak mampu untuk beraktivitas dengan sebaik

mungkin.

2. Takut akan penolakan


15

Seseorang yang terlalu peduli dengan penilaian dari orang lain

akan membuat irinya menderita sendiri karena tidak mampu

berbuat sesuai dengan dirinya sendiri. Pada umumnya individu

yang takut ditolak akan berusaha mengikuti dan

meniru orang lain atau kelompok dengan tujuan supaya dirinya

tidak ditinggalkan dan ditolak oleh orang atau kelompok tersebut.

Seseorang yang takut ditolak biasanya akan semakin ditolak oleh

orang atau kelompok yang diikutinya karena ia dianggap aneh.

3. Sensitif

Individu yang sering melibatkan perasaan dalam menyelesaikan

masalah merupakan gambaran individu yang sensitif. Pribadi yang

sensitif lebih membutuhkan waktu untuk menelaah dan beradaptasi

dibandingkan orang yang tidak sensitive. Pada dasarnya

sensitivitas itu memang penting sebagai bentuk kewaspadaan,

namun apabila tingkatannya terlalu overdosis justru membuat

individu sulit berkembang dan beradaptasi. Sifat sensitif yang

tinggi menyebabkan orang memproses dan merefleksikan

informasi yang masuk secara lebih mendalam dibanding dengan

orang lain.

4. Pesimis

Ciri orang yang pesimis ialah selalu memandang keburukan dari

setiap hal. Jika orang optimis dan percaya diri akan selalu berusaha

menghidupkan api, sementara orang pesimis akan mencari-cari


16

alasan untuk mematikan api yang sudah menyala. Bagi orang

pesimis segalanya akan menjadi jelek. Individu yang pesimis tidak

memiliki keberanian untuk mencoba hal yang baru.

6. Takut gagal

Sebagian besar individu memandang kegagalan sebagai suatu

bencana yang pahit dan kejam. Individu yang takut gagal biasanya

terlalu kompetitif. Ia mendorong dirinya untuk memperlakukan

semua orang sebagai saingan dan melihat semua kesempatan

sebagai ancaman. Individu

yang seperti ini akan menjadi gugup dan penuh rasa takut untuk

melakukan sesuatu karena takut akan mendapatkan kegagalan.

7. Pola pikir negatif

Pemikiran negatif secara umum akan menimbulkan rasa tidak

berdaya dan tidak mampu. Individu yang memiliki kepercayaan

diri lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi yang

negatif. Ia

tidak menyadari bahwa dirinya sendiri yang menciptakan pola pikir

yang negatif pada dirinya. Individu dengan pola pikir yang negatif

selalu menekankan keharusan-keharusan pada dirinya sendiri,

ketika

mengalami kegagalan individu tersebut merasa dirinya sangat

hancur.
17

8. Sulit menerima realita.

Setiap individu yang sukses dapat dipastikan pernah mengalami

kegagalan. Seseorang yang sukses adalah seseorang yang selalu

belajar dari kegagalannya. Individu yang tidak percaya diri

memiliki impian yang tinggi namun tidak mampu untuk

meraihnya. Ia selalu beranggapan semua impian dapat diraih

dengan mudah, meskipun dirinya tidak berusah dengan sungguh-

sungguh. Ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan

yang diinginkan ia akan lari dari kenyataan yang sedang

dihadapinya.

4. faktor penyebab kurangnya kepercayaan diri

Menurut Mastuti (dalam indra,2016) faktor-faktor yang

mempengaruhi kepercayaan diri antara lain: orangtua, masyarakat,

teman sebaya, dan konsep diri.

Pendapat dari Iswidharmanjaya (dalam indra,2016) faktor luar

yang mempengaruhi kepercayaan diri yaitu lingkungan keluarga,

lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, teman sebaya, dan

media massa.

Menurut Mastuti & Aswi (dalam Emria Fitri, Nilma Zola, Ifdil

Ifdil,2018) individu yang tidak percaya diri biasanya disebabkan

oleh individu tersebut tidak mendidik sendiri dan hanya menunggu

orang melakukan sesuatu kepada dirinya.


18

Dari beberapa pernyataan para ahli diatas dapat disimpulkan

bahwa faktor penyebab kurangnya percaya diri pada individu yaitu

disebabkan dari lingkungan keluarga, teman bermain dan dari

pengaruh dari dalam diri individu tersebut.

Didalam keluarga biasanya anak-anak/ individu dibandingkan

dengan kakak, adik atau keluarganya yang lain, yang mempunyai

kemampuan lebi dari dirinya misalnya nilainya lebih tinggi.

Dilingkungan bermain biasanya apabila individu tersebut kurang

bisa bergaul dengan teman-temannya maka dia akan di kucilkan

dan dijauhi oleh teman-temannya. Sedangkan pengaruh dari dalam

diri dalam diri individu ini muncul karena pengaruh dari dari

lingkungan keluarga dan lingkungan bermainya, jika di dua

lingkungan tersebut si individu sudah tidak dihargai maka akan

muncul konflik dari dalam diri individu tersebut. Konflik ini

biasanya menyebabkan pemikiran yang negatif dari individu

tersebut terhadap lingkungan dan dirinya sendiri.

B. Konseling Kelompok

1. Pengertian layanan konseling kelompok

Menurut pendapat Supriatna (2014) bahwa konseling

kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada peserta didik dalam

suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan,


19

dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka

perkembangan dan pertumbuhannya.

Yusuf (dalam Prahesti khasanah,2014) menyatakan bahwa

konseling kelompok adalah proses konseling yang dilaksanakan

untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui

kelompok. Dalam konseling kelompok ini masing-masing siswa

mengemukakan masalah yang dialaminya kemudian satu sama lain

saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan

masalah tersebut.

Achmad Juntika Nurihsan (dalam Sulma Mafirja dan

Fatimah Ibda,2018 ) menjelaskan bahwa konseling kelompok

merupakan proses antar pribadi yang dinamikanya terpusat pada

pemikiran dan prilaku yang sadar, serta melibatkan fungsi-fungsi

terapi, seperti sifat permisif, orientasi pada kenyataan, saling

mempercayai, saling memperlakukan dengan hangat, saling

pengertian, saling menerima dan mendukung. Individu dalam

konseling kelompok menggunakan interaksi kelompok untuk

meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan

tujuan-tujuan tertentu untuk mempelajari atau menghilangkan

sikap-sikap dan prilaku yang tidak tepat.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat

disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah bantuan yang


20

diberikan kepada siswa untuk memberikan perkembangan dan

pemecahan masalah melalui kelompok.

2. Tujuan konseling kelompok

Menurut Rifda El Fiah, Ica Anggralisa(2015) Tujuan bimbingan

dan konseling adalah untuk membantu individu

memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap

perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti

kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang

yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial

ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.

Tujuan konseling kelompok dikemukakan oleh Corey

(dalam Tri Sutanti,2015 ) yaitu sebagai berikut:

a) Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan diri; untuk

mengembangkan rasa identitas unik seseorang.

b) Untuk mencapai pengetahuan diri dan mengembangkan rasa

identitas unik seseorang;

c) Untuk mengenali komunalitas peserta dan masalah dan

mengembangkan rasa universalitas;

d) Meningkatkan penerimaan diri, kepercayaan diri, dan harga diri

untuk mencapai diri yang baru;


21

e) Untuk menemukan cara alternatif untuk menangani masalah

perkembangan normal dan menyelesaikan konflik tertentu;

f) Untuk meningkatkan pengarahan diri sendiri, otonomi, dan

tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain;

g) Untuk menyadari pilihan seseorang dan membuat pilihan

dengan bijak;

h) Membuat rencana khusus untuk mengubah perilaku tertentu dan

berkomitmen pada diri sendiri untuk menindaklanjuti rencana ini;

i) Untuk mempelajari keterampilan sosial yang lebih efektif; j)

Menjadi lebih peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain;

k) Untuk belajar bagaimana menghadapi orang lain dengan

perhatian, kepedulian, kejujuran, dan keterusterangan;

l) Untuk menjauh dari sekedar bertemu dengan orang lain, harapan

dan belajar untuk hidup dengan harapan sendiri; dan

m) Untuk memperjelas nilai seseorang dan memutuskan apakah

dan bagaimana memodifikasinya.

Menurut Mungin Eddy Wibowo, (dalam1Esty Ariyani Safithry

danNiky Anita,2019). Tujuan yang ingin dicapai dalam

konseling kelompok, yaitu pengembangan pribadi, pembahasan

dan
22

pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing- masing

anggota kelompok, agar terhindar dari masalah dan masalah

terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok

yang lain.

Dari pendapat beberapa para ahli diatas dapat disimpulkan

bahwa tujuan konseling kelompok yaitu membantu individu untuk

mengembangkan pribadinya, untuk meningkatkan kesadaran dan

pengetahuan dirinya.

3. Tahapan konseling kelompok

menurut Corey (dalam Tri Sutanti,2015 ) terdapat empat

tahapan yang ada dalam proses layanan konseling kelompok. yakni

initial stage, transition stage, working stage dan terminating stage.

Adapun karaketristik pada setiap tahapan adalah sebagai berikut:

1) Initial stage, karakteristik pada tahap ini adalah adanya

perkenalan, membangun atmosfer dalam anggota kelompok,

terdapat periode keheningan dan kecanggungan dan yang menjadi

isu utama adalah adanya

2) kepercayaan versus ketidak percayaan. Anggota kelompok

bisa merasa disertakan atau di kecualikan, maka anggota kelompok


23

diminta untuk memutuskan seberapa keterbukaan yang ingin

dicapai dan ken

. Menurut Raharjo (dalam Esty Ariyani Safithry danNiky

Anita,2019) tahap konseling kelompok dibagi menjadi 4 tahap,

yaitu :

a) Tahap pembentukan, pembentukan kelompok merupakan

tahap awal yang sangat berpengaruh dalam proses konseling

kelompok selanjutnya.

b) Tahap peralihan, adalah terbebaskannya anggota dari perasaan

atau sikap enggan, ragu, malu, atau saling tidak percaya untuk

memasuki tahap berikutnya, makin mantap nya suasana kelompok

dan kebersamaan, makin mantap nya minat untuk ikut serta

dalam kegiatan kelompok.

c) Tahap kegiatan, bertujuan membahas suatu masalahnya atau

topik yang relevan dengan kehidupan anggota secara mendalam

dan tuntas.

d) Tahap penutup, merupakan penilaian dan tindak lanjut,

adanya tujuan terungkap nya kesan-kesan anggota kelompok

tentang pelaksanaan kegiatan, terungkap nya hasil kegiatan

kelompok yang telah dicapai yang dikemukakan secara

mendalam dan tuntas,


24

terumuskan rencana kegiatan lebih lanjut, tetap dirasakannya

hubungan kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan

diakhiri.

C. Isen Mulang

Isen Mulang ( pantang menyerah) adalah istilah yang

mencerminkan sikap suku dayak yang pantang menyerah dalam

menghadapi suatu masalah, sikap ini lahir dari kebiasaan yang

dimiliki oleh orang suku-suku dayak.

Kata Isen Mulang sudah tidak asing lagi di kalangan

masyarakat Kalimantan Tengah, „‟Isen Mulang‟‟ merupakan

motto dari kota Palangka Raya. Isen Mulang merupakan Sinonim

dari kata “maju tak gentar” Sikap Maju Tak Gentar demikian lahir

dari suatu kesadaran, muncul sebagai bentuk penghayatan ide oleh

penganutnya, sehingga ide itu berubah menjadi suatu kekuatan

material nyata yang ditanamkan dalam diri. Selain maju tak gentar

isen mulang juga dapat diartikan sikap pantang menyerah dan

tidak mudah putus asa dalam menghadapi suatu masalah.

Di dalam buku Isen Mulang yang diterbitkan oleh Anthony

Suryanyahu (2014) dijelaskan bahwa Suku Dayak sebagai salah

satu etnis yang ada di muka bumi ini kian hari semakin

menunjukkan eksistensi entitasnya.


25

Suku Dayakyang mendiami pulau Kalimantan atau Borneo

salah satunya mendiami bagian Kalimantan yang berada di tengah-

tengah atau lebih dikenal dengan sebutan Kalimantan Tengah.

Makna isen mulang bagi masyarakat kalimantan tengah

terbukti melalui perjuangan mendirikan provinsi ke-17 ini. Seperti

telah dijelaskan pada bagian terdahulu, ada banyak upaya yang

gagal untuk sementara dalam proses perjuangan itu. Meskipun

telah bertahun-tahun berjuang, ternyata hanya provinsi kalimantan

barat, kalimantan selatan dan kalimantan timur saja yang disahkan

sebagai provinsi di kalimantan. Sementara kalimantan tengah

hampir tidak memiliki kejelasan nasib. Namun karena tekad,

bahkan melalui perjuangan bersenjata, provinsi ini di berhasil

bentuk . gerakan bersenjata GMTPS bukan untuk membentuk

negara dayak, namun agar cita-cita orang dayak bernegara republik

Indonesia diakomodir oleh pemerintah negara Indonesia saat itu.

Sampai dengan tahun 1957 orang Dayak masih dilekatkan

dengan stigma ( kesan negatif yang dilekatkan) terbelakang, tidak

berpendidikan, kurang mampu dan dikuatirkan tidak bisa

menjalankan sistem pemerintahan, jika dibentuk provinsi dengan

otonomi tersendiri. Oleh sebab itu, usulan pembentukan provinsi

kalimantan tengah untuk sesaat diabaikan oleh pemerintah pusat

saat itu. Di tengah pandangan miring para pengelola negara di

Jakarkta terhadap sumber daya orang dayak mula-mula berjuang


26

dengan semangat isen mulang, dan membuktikan bahwa orang

Dayak secara kualitas sama dan sejajar dengan bangsa lain di bumi

[Link] berdirilah provinsi kalimantan Tengah dengan

kota Palangkaraya sebagai ibukotanya.

Di kota panglangka raya, istana Gubernur disebut istana

isen mulang. Jika didefinisikan secara harafiah tertentu menjadi

lucu, karena isen mulang berarti istana pantang mundur. Namun

dalam konteks yang sesungguhnya, isen mulang mengandung

pengertian kediaman (istana) yang memperjuangkan belom penyng

hinje simpei (hidup rukun dan damai demi kesahjateraan bersama)

dengah langkah mamut Menteng ( gagah berani dengan nilai-nilai

kebenaran) dan isen mulang ( pantang berhenti sebelum berhasil).

Pada masa kini isen mulang sangat tepat untuk melatar

belakangi spririt untuk memperjuangkan kesahjateraan, kesetaraan

manusia ( egalitarian ), kesehatan lingkungan dan perjuangan atas

hak asasi manusia ( diantaranya hak ulayat dan hak adat ). Karena

isen mulang bukan saja konsep perjuangan secara fisik, namun

perjuangan secara moral, spiritual dan etika.

Isen Mulang secara harpiah berarti pantang menyerah atau

pantang mundur. Namun dalam pengertian filisofis isen mulang

memiliki makna yang lebih dalam dan lebih agung yaitu

menggambarkan karakter orang dayak yang berani, pantang


27

menyerah, selalu memiliki impian dan tujuan mulia dalam hidup,

selalu membela kebenaran, selalu memelihara kelestarian alam,

serta selalu memelihara nilai-nilai keluhuran dan norma adat. Dari

pengertian ini isen mulang secara singkat berarti berani serta

pantang menyerah demi sebuah tujuan yang luhur dan bermartabat.

D. Penerapan Konseling Kelompok Berdasarkan Falsafah Isen

Mulang

Berdasarkan beberapa pernyataan tentang konseling

kelompok dan Isen Mulang diatas dapat disimpulkan bahwa

penerapan konseling kelompok berdasarkan falsafah Isen Mulang

yaitu di dalam pelaksanaan konseling kelompok yang akan

diberikan nanti akan menggunakan nilai-nilai yang terkandung di

dalam isen mulang, yamg artinya disaat proses konseling

kelompok nanti akan ditekankan tentang sikap pantang menyerah,

selalu membela kebenaran, memelihara nilai- nilai keluhuran hidup

dan selalu berpegang teguh pada norma adat untuk meningkatkan

rasa kepercayaan diri siswa.

E. Hasil Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Rohayani (2018) Tujuan

penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah konseling kelompok

dengan teknik diskusi berpengaruh meningkatkan percaya diri

peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 19 Bandar lampung tahun


28

ajaran 2017/[Link] yang di gunakan dalam penelitian ini

adalah metode pre test dengan desain one group pretest-postest ,

populasi penelitian ini adalah kelas VIII SMP Negeri 19 Bandar

Lampung yang memiliki tingkat percaya diri rendah. Pemilihan

sampel dilalukan melalui penyebaran angket kepercayaan diri yang

telah di uji validitas. Terdapat 16 peserta didik yang memiliki

kategori percaya diri rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

terjadi peningkatanpercaya diri pada siswa setelah di berikan

layanan konseling kelompok dengan teknik diskusi hal ini di

tunjukkan dari hasil uji-T menggunakan paired sampel t test

menghasilkan thitung - 4.397, Mean -7.533, kemudian Thitung di

bandingkan dengan Ttabel dengan ketentuan Thitung > Ttabel (-

4.397 > 0.361), dengan demikian percaya diri peserta didik kel;as

VIII C di SMP negeri 19 Bandar Lampung mengalami perubahan

setelah di berikan konseling kelompok dengan teknik Diskusi. Dan

sig 0.00 < 0.05, dengan tarif kepercayaan 95% data signifikan

sehingga dapat di simpulkan bahwa konseling kelompok dengan

teknik diskusi berpengaruh untuk meningkatkan percaya diri

peserta didik kelas VIII Di Smp Negeri 19 Bandar Lampung.

Pemelitian ini dilakukan oleh Ratna Sari Dewi , Sigit Dwi Sucipto

Risma Anita Puriani (2018) Tujuan penelitian ini adalah melihat

keefektifan model layanan konseling kelompok menggunakan

teknik psikodrama untuk meningkatkan kepercayaan diri diri siswa


29

SMP N 1 Indralaya. Metode penelitian ini menggunakan jenis

penelitian kuantitatif yaitu Quasi Experiment. Untuk mengukur

keefektifan model layanan konseling kelompok menggunakan

teknik psikodrama untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa

kelas VII di SMP N 1 Indralaya. Desain yang digunakan yaitu

peneliti adalah pre-experimental: one group pretest-posttest

design. Hasil Uji wilcoxon juga menunjukkan Model konseling

kelompok menggunakan teknik psikodrama yang dikembangkan

efektif untuk meningkatkan self efficacy siswa sebesar 0,005,

dikarenakan nilai 0,005 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa

“Ha diterima”. Artinya , terdapat perbedaan antara pretest- posttest,

sehingga dapat disimpulkan pula bahwa terdapat pengaruh

penggunaan metode teknik psikodrama dalam konseling kelompok

terhadap Self-Efficacy pada siswa kelas VIII SMP 01 Indralaya

dengan Sig. (2-tailed) < 0,05. Disimpulkan bahwa model konseling

kelompok menggunakan teknik

psikodrama terbukti efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri

siswa SMP N 1 Indralaya.

Penelitian ini dilakukan oleh Kristiawan (2017) bertujuan: untuk

mengetahui upaya meningkatkan kepercayaan diri melalui layanan

konseling kelompok pada siswa kelas VII MTsN Godean, Sleman,

Yogyakarta tahun ajaran 2016/2017. Metode Penelitian:


30

Jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau

Classroom Action Research (CAR). Subyek penelitian adalah

siswa kelas VII MTsN Godean Sleman pada tanggal 18 – 20 April

Tahun 2017. Sempel Sebanyak 128 siswa dengan menggunakan

tehnik sampling, data dalam penelitian ini terkumpul dalam bentuk

Kuantitatif (angka) sehingga memungkinkan untuk dianalisis

secara statistik dilanjutkan dengan Uji t satu arah pada pada taraf

signifikansi α = 0,05. Hasil Penelitian: Layanan konseling

kelompok dapat meningkatkan kepercayaan diri pada siswa kelas

VII MTsN Godean tahun ajaran 2016/2017 yang ditunjukkan dari

nilai t hitung (-9,888) < t tabel (2,131)

F. Kerangka Berpikir

Menurut Sugiyono ( dalam Ria Mantari 2017 : 41)

mengemukakan bahwa kerangka berpikir merupakan model

konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai

faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah siswa SMK

Muhammadiyah Palangkaraya yang memiliki masalah kurang

percaya diri adalah siswa yang kurang bersosialisasi dengan teman-

temanya, kurang percaya diri diri dan takut salah ketika akan

berbicara di depan umum.

Siswa yang mengalami masalah kurang percaya diri ini

akan menghadapi masalah dalam lingkungan dan akademiknya.


31

Siswa yang kurang percaya diri ini akan menganggap bahwa

dirinya tidak berguna dan akan merasa minder dengan teman-

temanya. Untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakan

layanan konseling kelompok berdasarkan falsafah isen mulang

untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa di SMK

Muhammadiyah palangkaraya.

Skema kerangka berpikir

Rasa kurang
percaya diri
Tinggi

Konseling Kelompok
Siswa berdasarkan falsapah
isen mulang

Rasa percaya
diri meningkat

G. Hipotesis Penelitian

Menurut Arikunto ( dalam Ria Mantari, 2017 : 44 )

hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap

permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang

terkumpul. menurut sugiono (dalam Septi rahayu,2013) Hipotesis


32

diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah konseling kelompok

berdasarkan falsafah isen mulang efektif untuk meningkatkan

kepercayaan diri siswa kelas XI Farmasi B SMK Muhammadiyah

Palangka raya.

Anda mungkin juga menyukai