BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri dalam penelitian ini mencakup
pengertian kepercayaan diri, ciri individu yang memilki
kepercayaan diri, ciri-ciri individu yang tidak memiliki
kepercayan diri,dan faktor penyebab kurangn kepercayaan .
1. Pengertian Kepercayaan Diri
Salah satu karakter yang penting ditanamkan kepada
peserta didik adalah karakter percaya diri. Percaya diri
diartikan sebagai sikap yakin akan kemampuan diri sendiri
terhadap pemenuhan tercapai- nya setiap keinginan dan
harapannya. Peserta didik sangat penting memiliki nilai
karakter percaya diri karena tanpa percaya diri mereka akan
sulit untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Hal ini
karena dalam setiap tahapan proses pembelajaran, seringkali
mereka harus beraktivitas yang membutuhkan percaya diri,
seperti berbicara mengeluarkan pendapat, menjawab
pertanyaan guru, tampil presentasi ke depan, mengerjakan soal
atau tugas secara mandiri. Semua aktivitas tersebut tidak da-
pat dilakukan jika peserta didik tidak me- miliki keyakinan
akan kemampuannya sendiri.
8
9
Sikap minder, rendah diri (bukan rendah hati) sangat menghambat
kemajuan peserta didik dalam belajar
Menurut Nurdin Muhammad (dalam Saputra ,2010)
percaya diri adalah “salah satu kunci kesuksesan siswa dalam
belajar. Karena tanpa adanya rasa percaya diri siswa tidak akan
sukses dalam berinteraksi dengan temannya.” Di samping itu,
tanpa adanya rasa percaya diri siswa akan ragu-ragu dalam
menyelesaikan suatu soal, pada akhirnya siswa tersebut tidak akan
maksimal dalam menyelesaikan soal di kelas.
Menurut Emria Fitri, Nilma Zola, Ifdil Ifdil (dalam
Walgito, 2018) Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek
kepribadian yang penting dalam masa [Link] memiliki
kepercayaan diri, remaja akan mampu memberikan penghargaan
terhadap dirinya dan mempunyai kemampuan untuk menjalani
kehidupan, remaja akan mampu untuk mempertimbangkan
berbagai pilihan dan membuat keputusan sendiri. Remaja yang
memiliki kepercayaan diri dapat menyelesaikan tugas atau
pekerjaan yang sesuai dengan tahap perkembangannya dengan baik
atau setidaknya memiliki kemampuan untuk belajar cara-cara
menyelesaikan tugas tersebut
Menurut Asiyah, Ahmad Walid, Raden Gamal Tamrin
Kusumah (dalam Ameliah & Munawaroh 2016) kepercayaan diri
bermakna bahwa keyakinan terhadap diri sendiri sehingga mampu
10
menangani segala situasi dengan tenang, kepercayaan diri lebih
banyak berkaitan dengan hubungan seseorang dengan orang lain.
Tidak merasa inferior di hadapan siapapun dan tidak merasa
canggung apabila berhadapan dengan banyak orang.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, dapat
disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah suatu keadaan dimana
seseorang dapat dengan yakin dan mantap menyampaikan sesuatu
kepada orang lain baik itu kepada individu maupun khalayak
ramai. Artinya si individu bisa menguasai dirinya untuk
mengeluarkan dan menyampaikan pendapatnya dengan enjoy tanpa
ada tekanan dan rasa malu sedikit pun.
2. ciri-ciri individu yang memilki kepercayaan diri
menurut Risna aristy (dalamHakim,2016) ciri-ciri orang
yang mempunyai percaya diri tinggi antara lain:
(a) Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu.
(b) Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai.
(c) Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul didalam
berbagai situasi.
(d) Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai
situasi.
(e) Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang
penampilannya.
(f) Memiliki kecerdasan yang cukup.
11
(g) Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup.
(h) Memiliki keahlian atau ketrampilan lain yang menunjang
kehidupannya, misalnya ketrampilan berbahasa asing.
(i) Memiliki kemampuan bersosialisasi.
(j) Memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
(k) Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi
kuat dan tahan didalam menghadapi berbagai cobaan hidup.
(l) Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah,
misalnya didalam menghadapi berbagai masalah tetap tegar, sabar
dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup. Dengan sikap ini,
adanya masalah hidup yang berat justru semakin memperkuat rasa
percaya diri seseorang.
Menurut Indra(daalam Mardatilah,2016) seseorang yang
memiliki kepercayaan diri tentunya memiliki ciri-ciri:
1. Mengenal dengan baik kekurangan dan kelebihan yang
dimilikinya lalu mengembangkan potensi yang dimilikinya.
2. Membuat standar atas pencapaian tujuan hidupnya lalu
memberikan penghargaan jika berhasil dan bekerja lagi jika tidak
tercapai.
3. Tidak menyalahkan orang lain atas kekalahan atau ketidak
berhasilannya namun lebih banyak instrospeksi diri sendiri.
4. Mampu mengatasi perasaan tertekan, kecewa, dan rasa ketidak
mampuan yang menghingapinya.
12
5. Mampu mengatasi rasa kecemasan dalam dirinya.
6. Tenang dalam menjalankan dan menghadapi segala sesuatunya.
7. Berpikir positif dan
8. Maju terus tanpa harus menoleh kebelakang.
Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-
ciri siswa yang percaya diri adalah siswa yang miliki sikap tenang,
mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai, mampu
menetralisasi ketegangan, mampu menyesuaikan diri dan
berkomunikasi, memiliki kecerdasana, keahlian dan ketrampilan
yang dapat menunjang kehidupan.
3. ciri-ciri individu yang tidak memilki kepercayaan diri
Menurut Santrock (dalam Rina aristasni, 2016) mengemukakan
bahwa indikator perilaku negatif dari individu yang tidak percaya
diri antara lain:
a) Melakukan sentuhan yang tidak sesuia atau mengakhiri kontrak
fisik.
b) Merendahkan diri sendiri secara verbal, depresiasi diri. c)
Berbicara terlalu keras secara tiba-tiba, atau dengan nada suara
yang datar.
d) Tidak mengekspresikan pandangan atau pendapat, terutama
ketika ditanya).
13
Menurut Hakim (dalam Rina aristasni, 2016) ciri-ciri orang yang
tidak percaya diri antara lain:
(a) Mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat
kesulitan tertentu.
(b) Gugup dan terkadang bicara gugup.
(c) Tidak tahu bagaimana cara mengembangkan diri untuk
memiliki kelebihan tertentu.
(d) Sering menyendiri dari kelompok yang dianggap lebih dari
dirinya.
e) Mudah putus asa.
(f) Cenderung bergantung pada orang lain dalam mengatasi
masalah.
(g) Sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah. Misalnya
dengan menghindari tanggung jawab atau mengisolasi diri yang
menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk .
Supriyo (dalam septi rahayu purwanti,2013) memaparkan
ciri-ciri orang yang kurang percaya pada diri sendiri antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Perasaan takut/gemetar disaat berbicara dihadapan orang
banyak.
2. Sikap pasrah pada kegagalan, memandang masa depan suram.
3. Perasaan kurang dicintai/kurang dihargai oleh lingkungan
sekitarnya.
14
4. Selalu berusaha menghindari tugas/tanggung
jawab/pengorbanan.
5. Kurang senang dengan keberhasilan orang lain, terutama rekan
sebaya/seangkatan.
6. Sensitifitas batin yang berlebihan, mudah tersinggung, cepat
marah, pendendam.
7. Suka menyendiri dan cenderung egosentris.
8. Terlalu berhati-hati ketika berhadapan dengan orang lain
sehingga perilakunya terlihat kaku.
9. Pergerakannya agak terbatas, seolah-olah sadar jika dirinya
memang banyak kekurangan.
10. Sering menolak apabila diajak ke tempat-tempat yang ramai
Dari pernyataan beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang tidak memilki
kepercayaan yaitu:
1. Tidak percaya pada kemampuan sendiri.
Individu yang tidak memiliki percaya diri tidak meyakini pada
kemampuan yang dimilikinya. Ia selalu merendahkan dirinya
sendiri dan melihat orang lain lebih mampu dari dirinya, dalam
beraktivitas biasanya tidak totalitas dan optimal karena dirinya
merasa sudah tidak mampu untuk beraktivitas dengan sebaik
mungkin.
2. Takut akan penolakan
15
Seseorang yang terlalu peduli dengan penilaian dari orang lain
akan membuat irinya menderita sendiri karena tidak mampu
berbuat sesuai dengan dirinya sendiri. Pada umumnya individu
yang takut ditolak akan berusaha mengikuti dan
meniru orang lain atau kelompok dengan tujuan supaya dirinya
tidak ditinggalkan dan ditolak oleh orang atau kelompok tersebut.
Seseorang yang takut ditolak biasanya akan semakin ditolak oleh
orang atau kelompok yang diikutinya karena ia dianggap aneh.
3. Sensitif
Individu yang sering melibatkan perasaan dalam menyelesaikan
masalah merupakan gambaran individu yang sensitif. Pribadi yang
sensitif lebih membutuhkan waktu untuk menelaah dan beradaptasi
dibandingkan orang yang tidak sensitive. Pada dasarnya
sensitivitas itu memang penting sebagai bentuk kewaspadaan,
namun apabila tingkatannya terlalu overdosis justru membuat
individu sulit berkembang dan beradaptasi. Sifat sensitif yang
tinggi menyebabkan orang memproses dan merefleksikan
informasi yang masuk secara lebih mendalam dibanding dengan
orang lain.
4. Pesimis
Ciri orang yang pesimis ialah selalu memandang keburukan dari
setiap hal. Jika orang optimis dan percaya diri akan selalu berusaha
menghidupkan api, sementara orang pesimis akan mencari-cari
16
alasan untuk mematikan api yang sudah menyala. Bagi orang
pesimis segalanya akan menjadi jelek. Individu yang pesimis tidak
memiliki keberanian untuk mencoba hal yang baru.
6. Takut gagal
Sebagian besar individu memandang kegagalan sebagai suatu
bencana yang pahit dan kejam. Individu yang takut gagal biasanya
terlalu kompetitif. Ia mendorong dirinya untuk memperlakukan
semua orang sebagai saingan dan melihat semua kesempatan
sebagai ancaman. Individu
yang seperti ini akan menjadi gugup dan penuh rasa takut untuk
melakukan sesuatu karena takut akan mendapatkan kegagalan.
7. Pola pikir negatif
Pemikiran negatif secara umum akan menimbulkan rasa tidak
berdaya dan tidak mampu. Individu yang memiliki kepercayaan
diri lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi yang
negatif. Ia
tidak menyadari bahwa dirinya sendiri yang menciptakan pola pikir
yang negatif pada dirinya. Individu dengan pola pikir yang negatif
selalu menekankan keharusan-keharusan pada dirinya sendiri,
ketika
mengalami kegagalan individu tersebut merasa dirinya sangat
hancur.
17
8. Sulit menerima realita.
Setiap individu yang sukses dapat dipastikan pernah mengalami
kegagalan. Seseorang yang sukses adalah seseorang yang selalu
belajar dari kegagalannya. Individu yang tidak percaya diri
memiliki impian yang tinggi namun tidak mampu untuk
meraihnya. Ia selalu beranggapan semua impian dapat diraih
dengan mudah, meskipun dirinya tidak berusah dengan sungguh-
sungguh. Ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan
yang diinginkan ia akan lari dari kenyataan yang sedang
dihadapinya.
4. faktor penyebab kurangnya kepercayaan diri
Menurut Mastuti (dalam indra,2016) faktor-faktor yang
mempengaruhi kepercayaan diri antara lain: orangtua, masyarakat,
teman sebaya, dan konsep diri.
Pendapat dari Iswidharmanjaya (dalam indra,2016) faktor luar
yang mempengaruhi kepercayaan diri yaitu lingkungan keluarga,
lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, teman sebaya, dan
media massa.
Menurut Mastuti & Aswi (dalam Emria Fitri, Nilma Zola, Ifdil
Ifdil,2018) individu yang tidak percaya diri biasanya disebabkan
oleh individu tersebut tidak mendidik sendiri dan hanya menunggu
orang melakukan sesuatu kepada dirinya.
18
Dari beberapa pernyataan para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa faktor penyebab kurangnya percaya diri pada individu yaitu
disebabkan dari lingkungan keluarga, teman bermain dan dari
pengaruh dari dalam diri individu tersebut.
Didalam keluarga biasanya anak-anak/ individu dibandingkan
dengan kakak, adik atau keluarganya yang lain, yang mempunyai
kemampuan lebi dari dirinya misalnya nilainya lebih tinggi.
Dilingkungan bermain biasanya apabila individu tersebut kurang
bisa bergaul dengan teman-temannya maka dia akan di kucilkan
dan dijauhi oleh teman-temannya. Sedangkan pengaruh dari dalam
diri dalam diri individu ini muncul karena pengaruh dari dari
lingkungan keluarga dan lingkungan bermainya, jika di dua
lingkungan tersebut si individu sudah tidak dihargai maka akan
muncul konflik dari dalam diri individu tersebut. Konflik ini
biasanya menyebabkan pemikiran yang negatif dari individu
tersebut terhadap lingkungan dan dirinya sendiri.
B. Konseling Kelompok
1. Pengertian layanan konseling kelompok
Menurut pendapat Supriatna (2014) bahwa konseling
kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada peserta didik dalam
suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan,
19
dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka
perkembangan dan pertumbuhannya.
Yusuf (dalam Prahesti khasanah,2014) menyatakan bahwa
konseling kelompok adalah proses konseling yang dilaksanakan
untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui
kelompok. Dalam konseling kelompok ini masing-masing siswa
mengemukakan masalah yang dialaminya kemudian satu sama lain
saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan
masalah tersebut.
Achmad Juntika Nurihsan (dalam Sulma Mafirja dan
Fatimah Ibda,2018 ) menjelaskan bahwa konseling kelompok
merupakan proses antar pribadi yang dinamikanya terpusat pada
pemikiran dan prilaku yang sadar, serta melibatkan fungsi-fungsi
terapi, seperti sifat permisif, orientasi pada kenyataan, saling
mempercayai, saling memperlakukan dengan hangat, saling
pengertian, saling menerima dan mendukung. Individu dalam
konseling kelompok menggunakan interaksi kelompok untuk
meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan
tujuan-tujuan tertentu untuk mempelajari atau menghilangkan
sikap-sikap dan prilaku yang tidak tepat.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat
disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah bantuan yang
20
diberikan kepada siswa untuk memberikan perkembangan dan
pemecahan masalah melalui kelompok.
2. Tujuan konseling kelompok
Menurut Rifda El Fiah, Ica Anggralisa(2015) Tujuan bimbingan
dan konseling adalah untuk membantu individu
memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap
perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti
kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang
yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial
ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.
Tujuan konseling kelompok dikemukakan oleh Corey
(dalam Tri Sutanti,2015 ) yaitu sebagai berikut:
a) Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan diri; untuk
mengembangkan rasa identitas unik seseorang.
b) Untuk mencapai pengetahuan diri dan mengembangkan rasa
identitas unik seseorang;
c) Untuk mengenali komunalitas peserta dan masalah dan
mengembangkan rasa universalitas;
d) Meningkatkan penerimaan diri, kepercayaan diri, dan harga diri
untuk mencapai diri yang baru;
21
e) Untuk menemukan cara alternatif untuk menangani masalah
perkembangan normal dan menyelesaikan konflik tertentu;
f) Untuk meningkatkan pengarahan diri sendiri, otonomi, dan
tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain;
g) Untuk menyadari pilihan seseorang dan membuat pilihan
dengan bijak;
h) Membuat rencana khusus untuk mengubah perilaku tertentu dan
berkomitmen pada diri sendiri untuk menindaklanjuti rencana ini;
i) Untuk mempelajari keterampilan sosial yang lebih efektif; j)
Menjadi lebih peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain;
k) Untuk belajar bagaimana menghadapi orang lain dengan
perhatian, kepedulian, kejujuran, dan keterusterangan;
l) Untuk menjauh dari sekedar bertemu dengan orang lain, harapan
dan belajar untuk hidup dengan harapan sendiri; dan
m) Untuk memperjelas nilai seseorang dan memutuskan apakah
dan bagaimana memodifikasinya.
Menurut Mungin Eddy Wibowo, (dalam1Esty Ariyani Safithry
danNiky Anita,2019). Tujuan yang ingin dicapai dalam
konseling kelompok, yaitu pengembangan pribadi, pembahasan
dan
22
pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing- masing
anggota kelompok, agar terhindar dari masalah dan masalah
terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok
yang lain.
Dari pendapat beberapa para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa tujuan konseling kelompok yaitu membantu individu untuk
mengembangkan pribadinya, untuk meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan dirinya.
3. Tahapan konseling kelompok
menurut Corey (dalam Tri Sutanti,2015 ) terdapat empat
tahapan yang ada dalam proses layanan konseling kelompok. yakni
initial stage, transition stage, working stage dan terminating stage.
Adapun karaketristik pada setiap tahapan adalah sebagai berikut:
1) Initial stage, karakteristik pada tahap ini adalah adanya
perkenalan, membangun atmosfer dalam anggota kelompok,
terdapat periode keheningan dan kecanggungan dan yang menjadi
isu utama adalah adanya
2) kepercayaan versus ketidak percayaan. Anggota kelompok
bisa merasa disertakan atau di kecualikan, maka anggota kelompok
23
diminta untuk memutuskan seberapa keterbukaan yang ingin
dicapai dan ken
. Menurut Raharjo (dalam Esty Ariyani Safithry danNiky
Anita,2019) tahap konseling kelompok dibagi menjadi 4 tahap,
yaitu :
a) Tahap pembentukan, pembentukan kelompok merupakan
tahap awal yang sangat berpengaruh dalam proses konseling
kelompok selanjutnya.
b) Tahap peralihan, adalah terbebaskannya anggota dari perasaan
atau sikap enggan, ragu, malu, atau saling tidak percaya untuk
memasuki tahap berikutnya, makin mantap nya suasana kelompok
dan kebersamaan, makin mantap nya minat untuk ikut serta
dalam kegiatan kelompok.
c) Tahap kegiatan, bertujuan membahas suatu masalahnya atau
topik yang relevan dengan kehidupan anggota secara mendalam
dan tuntas.
d) Tahap penutup, merupakan penilaian dan tindak lanjut,
adanya tujuan terungkap nya kesan-kesan anggota kelompok
tentang pelaksanaan kegiatan, terungkap nya hasil kegiatan
kelompok yang telah dicapai yang dikemukakan secara
mendalam dan tuntas,
24
terumuskan rencana kegiatan lebih lanjut, tetap dirasakannya
hubungan kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan
diakhiri.
C. Isen Mulang
Isen Mulang ( pantang menyerah) adalah istilah yang
mencerminkan sikap suku dayak yang pantang menyerah dalam
menghadapi suatu masalah, sikap ini lahir dari kebiasaan yang
dimiliki oleh orang suku-suku dayak.
Kata Isen Mulang sudah tidak asing lagi di kalangan
masyarakat Kalimantan Tengah, „‟Isen Mulang‟‟ merupakan
motto dari kota Palangka Raya. Isen Mulang merupakan Sinonim
dari kata “maju tak gentar” Sikap Maju Tak Gentar demikian lahir
dari suatu kesadaran, muncul sebagai bentuk penghayatan ide oleh
penganutnya, sehingga ide itu berubah menjadi suatu kekuatan
material nyata yang ditanamkan dalam diri. Selain maju tak gentar
isen mulang juga dapat diartikan sikap pantang menyerah dan
tidak mudah putus asa dalam menghadapi suatu masalah.
Di dalam buku Isen Mulang yang diterbitkan oleh Anthony
Suryanyahu (2014) dijelaskan bahwa Suku Dayak sebagai salah
satu etnis yang ada di muka bumi ini kian hari semakin
menunjukkan eksistensi entitasnya.
25
Suku Dayakyang mendiami pulau Kalimantan atau Borneo
salah satunya mendiami bagian Kalimantan yang berada di tengah-
tengah atau lebih dikenal dengan sebutan Kalimantan Tengah.
Makna isen mulang bagi masyarakat kalimantan tengah
terbukti melalui perjuangan mendirikan provinsi ke-17 ini. Seperti
telah dijelaskan pada bagian terdahulu, ada banyak upaya yang
gagal untuk sementara dalam proses perjuangan itu. Meskipun
telah bertahun-tahun berjuang, ternyata hanya provinsi kalimantan
barat, kalimantan selatan dan kalimantan timur saja yang disahkan
sebagai provinsi di kalimantan. Sementara kalimantan tengah
hampir tidak memiliki kejelasan nasib. Namun karena tekad,
bahkan melalui perjuangan bersenjata, provinsi ini di berhasil
bentuk . gerakan bersenjata GMTPS bukan untuk membentuk
negara dayak, namun agar cita-cita orang dayak bernegara republik
Indonesia diakomodir oleh pemerintah negara Indonesia saat itu.
Sampai dengan tahun 1957 orang Dayak masih dilekatkan
dengan stigma ( kesan negatif yang dilekatkan) terbelakang, tidak
berpendidikan, kurang mampu dan dikuatirkan tidak bisa
menjalankan sistem pemerintahan, jika dibentuk provinsi dengan
otonomi tersendiri. Oleh sebab itu, usulan pembentukan provinsi
kalimantan tengah untuk sesaat diabaikan oleh pemerintah pusat
saat itu. Di tengah pandangan miring para pengelola negara di
Jakarkta terhadap sumber daya orang dayak mula-mula berjuang
26
dengan semangat isen mulang, dan membuktikan bahwa orang
Dayak secara kualitas sama dan sejajar dengan bangsa lain di bumi
[Link] berdirilah provinsi kalimantan Tengah dengan
kota Palangkaraya sebagai ibukotanya.
Di kota panglangka raya, istana Gubernur disebut istana
isen mulang. Jika didefinisikan secara harafiah tertentu menjadi
lucu, karena isen mulang berarti istana pantang mundur. Namun
dalam konteks yang sesungguhnya, isen mulang mengandung
pengertian kediaman (istana) yang memperjuangkan belom penyng
hinje simpei (hidup rukun dan damai demi kesahjateraan bersama)
dengah langkah mamut Menteng ( gagah berani dengan nilai-nilai
kebenaran) dan isen mulang ( pantang berhenti sebelum berhasil).
Pada masa kini isen mulang sangat tepat untuk melatar
belakangi spririt untuk memperjuangkan kesahjateraan, kesetaraan
manusia ( egalitarian ), kesehatan lingkungan dan perjuangan atas
hak asasi manusia ( diantaranya hak ulayat dan hak adat ). Karena
isen mulang bukan saja konsep perjuangan secara fisik, namun
perjuangan secara moral, spiritual dan etika.
Isen Mulang secara harpiah berarti pantang menyerah atau
pantang mundur. Namun dalam pengertian filisofis isen mulang
memiliki makna yang lebih dalam dan lebih agung yaitu
menggambarkan karakter orang dayak yang berani, pantang
27
menyerah, selalu memiliki impian dan tujuan mulia dalam hidup,
selalu membela kebenaran, selalu memelihara kelestarian alam,
serta selalu memelihara nilai-nilai keluhuran dan norma adat. Dari
pengertian ini isen mulang secara singkat berarti berani serta
pantang menyerah demi sebuah tujuan yang luhur dan bermartabat.
D. Penerapan Konseling Kelompok Berdasarkan Falsafah Isen
Mulang
Berdasarkan beberapa pernyataan tentang konseling
kelompok dan Isen Mulang diatas dapat disimpulkan bahwa
penerapan konseling kelompok berdasarkan falsafah Isen Mulang
yaitu di dalam pelaksanaan konseling kelompok yang akan
diberikan nanti akan menggunakan nilai-nilai yang terkandung di
dalam isen mulang, yamg artinya disaat proses konseling
kelompok nanti akan ditekankan tentang sikap pantang menyerah,
selalu membela kebenaran, memelihara nilai- nilai keluhuran hidup
dan selalu berpegang teguh pada norma adat untuk meningkatkan
rasa kepercayaan diri siswa.
E. Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Rohayani (2018) Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah konseling kelompok
dengan teknik diskusi berpengaruh meningkatkan percaya diri
peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 19 Bandar lampung tahun
28
ajaran 2017/[Link] yang di gunakan dalam penelitian ini
adalah metode pre test dengan desain one group pretest-postest ,
populasi penelitian ini adalah kelas VIII SMP Negeri 19 Bandar
Lampung yang memiliki tingkat percaya diri rendah. Pemilihan
sampel dilalukan melalui penyebaran angket kepercayaan diri yang
telah di uji validitas. Terdapat 16 peserta didik yang memiliki
kategori percaya diri rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terjadi peningkatanpercaya diri pada siswa setelah di berikan
layanan konseling kelompok dengan teknik diskusi hal ini di
tunjukkan dari hasil uji-T menggunakan paired sampel t test
menghasilkan thitung - 4.397, Mean -7.533, kemudian Thitung di
bandingkan dengan Ttabel dengan ketentuan Thitung > Ttabel (-
4.397 > 0.361), dengan demikian percaya diri peserta didik kel;as
VIII C di SMP negeri 19 Bandar Lampung mengalami perubahan
setelah di berikan konseling kelompok dengan teknik Diskusi. Dan
sig 0.00 < 0.05, dengan tarif kepercayaan 95% data signifikan
sehingga dapat di simpulkan bahwa konseling kelompok dengan
teknik diskusi berpengaruh untuk meningkatkan percaya diri
peserta didik kelas VIII Di Smp Negeri 19 Bandar Lampung.
Pemelitian ini dilakukan oleh Ratna Sari Dewi , Sigit Dwi Sucipto
Risma Anita Puriani (2018) Tujuan penelitian ini adalah melihat
keefektifan model layanan konseling kelompok menggunakan
teknik psikodrama untuk meningkatkan kepercayaan diri diri siswa
29
SMP N 1 Indralaya. Metode penelitian ini menggunakan jenis
penelitian kuantitatif yaitu Quasi Experiment. Untuk mengukur
keefektifan model layanan konseling kelompok menggunakan
teknik psikodrama untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa
kelas VII di SMP N 1 Indralaya. Desain yang digunakan yaitu
peneliti adalah pre-experimental: one group pretest-posttest
design. Hasil Uji wilcoxon juga menunjukkan Model konseling
kelompok menggunakan teknik psikodrama yang dikembangkan
efektif untuk meningkatkan self efficacy siswa sebesar 0,005,
dikarenakan nilai 0,005 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa
“Ha diterima”. Artinya , terdapat perbedaan antara pretest- posttest,
sehingga dapat disimpulkan pula bahwa terdapat pengaruh
penggunaan metode teknik psikodrama dalam konseling kelompok
terhadap Self-Efficacy pada siswa kelas VIII SMP 01 Indralaya
dengan Sig. (2-tailed) < 0,05. Disimpulkan bahwa model konseling
kelompok menggunakan teknik
psikodrama terbukti efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri
siswa SMP N 1 Indralaya.
Penelitian ini dilakukan oleh Kristiawan (2017) bertujuan: untuk
mengetahui upaya meningkatkan kepercayaan diri melalui layanan
konseling kelompok pada siswa kelas VII MTsN Godean, Sleman,
Yogyakarta tahun ajaran 2016/2017. Metode Penelitian:
30
Jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau
Classroom Action Research (CAR). Subyek penelitian adalah
siswa kelas VII MTsN Godean Sleman pada tanggal 18 – 20 April
Tahun 2017. Sempel Sebanyak 128 siswa dengan menggunakan
tehnik sampling, data dalam penelitian ini terkumpul dalam bentuk
Kuantitatif (angka) sehingga memungkinkan untuk dianalisis
secara statistik dilanjutkan dengan Uji t satu arah pada pada taraf
signifikansi α = 0,05. Hasil Penelitian: Layanan konseling
kelompok dapat meningkatkan kepercayaan diri pada siswa kelas
VII MTsN Godean tahun ajaran 2016/2017 yang ditunjukkan dari
nilai t hitung (-9,888) < t tabel (2,131)
F. Kerangka Berpikir
Menurut Sugiyono ( dalam Ria Mantari 2017 : 41)
mengemukakan bahwa kerangka berpikir merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai
faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah siswa SMK
Muhammadiyah Palangkaraya yang memiliki masalah kurang
percaya diri adalah siswa yang kurang bersosialisasi dengan teman-
temanya, kurang percaya diri diri dan takut salah ketika akan
berbicara di depan umum.
Siswa yang mengalami masalah kurang percaya diri ini
akan menghadapi masalah dalam lingkungan dan akademiknya.
31
Siswa yang kurang percaya diri ini akan menganggap bahwa
dirinya tidak berguna dan akan merasa minder dengan teman-
temanya. Untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakan
layanan konseling kelompok berdasarkan falsafah isen mulang
untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa di SMK
Muhammadiyah palangkaraya.
Skema kerangka berpikir
Rasa kurang
percaya diri
Tinggi
Konseling Kelompok
Siswa berdasarkan falsapah
isen mulang
Rasa percaya
diri meningkat
G. Hipotesis Penelitian
Menurut Arikunto ( dalam Ria Mantari, 2017 : 44 )
hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang
terkumpul. menurut sugiono (dalam Septi rahayu,2013) Hipotesis
32
diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah konseling kelompok
berdasarkan falsafah isen mulang efektif untuk meningkatkan
kepercayaan diri siswa kelas XI Farmasi B SMK Muhammadiyah
Palangka raya.