0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Definisi dan Sintaks Problem Based Learning

Dokumen ini membahas tentang model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah siswa. PBL melibatkan siswa dalam proses penelitian dan kolaborasi untuk menyelesaikan masalah nyata, dengan kelebihan dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, namun juga memiliki kekurangan seperti kesulitan dalam penerapan pada semua materi. Selain itu, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, serta karakteristik guru dan materi pelajaran.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Definisi dan Sintaks Problem Based Learning

Dokumen ini membahas tentang model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah siswa. PBL melibatkan siswa dalam proses penelitian dan kolaborasi untuk menyelesaikan masalah nyata, dengan kelebihan dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, namun juga memiliki kekurangan seperti kesulitan dalam penerapan pada semua materi. Selain itu, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, serta karakteristik guru dan materi pelajaran.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis (Variabel Tindakan/ X).


1. Pengertian Problem Bassed Learning (PBL) Menurut Beberapa Ahli.
Problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah
model pembelajaran yang mengutamakan penyelesaian masalah umum
yang sering terjadi disaat proses pembelajaran berlangsung. Seperti
yang dikemukakan oleh Shoimin (2017, hlm.129), bahwa problem
based learning artinya menciptakan suasana belajar yang mengarah
terhadap permasalahan sehari-hari.
Panen (dalam Rusmono 2014,hlm.74), menyatakan bahwa dalam
model pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, siswa
diharapkan terlibat dalam proses penelitian mengidentifikasi
permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data tersebut
untuk melakukan pemecahan masalah.
Masalah adalah hal paling nyata yang akan menjadi hambatan
utama dalam kehidupan kenyataan. Menghadapi masalah akan
mengajarkan bagaimana cara terbaik dalam menjalani hidup. Mengapa?
karena siswa langsung mempelajari bagaimana caranya menghadapi
berbagai kesenjangan harapan yang akan selalu mereka temui dalam
hidup. Saat hal tersebut terjadi, karakter dan daya nalar (kognisi) mereka
akan teruji dan terlatih dalam sekali tepuk. Untuk memastikan kesahihan
pengertian model problem based learning, berikut adalah beberapa
pendapat para ahli mengenai definisi problem based learning.
1. Delisle :
Delisle dalam Abidin (2014, hlm.159), menyatakan bahwa problem
based learning merupakan model pembelajaran yang dikembangkan
untuk membantu guru mengembangkan kemampuan berpikir
dan keterampilan memecahkan masalah pada siswa selama mereka
9

mempelajari materi pembelajaran.


2. Tim Kemdikbud:
Tim Kemdikbud dalam abidin (2014, hlm.159), memandang model
pembelajaran problem based learning sebagai bekerja secara
berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada.
3. Duch.
problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah
model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata
sebagai konteks dalam pembelajaran agar siswa dapat belajar berpikir
kritis dan meningkatkan keterampilan memecahkan masalah
sekaligus memperoleh pengetahuan. (Duch, 1995 dalam Shoimin,
2017).
4. Finkle dan Torp.
Finkle dan Torp dalam Shoimin (2017), mengungkapkan bahwa
problem based learning merupakan pengembangan kurikulum dan
sistem pengajaran yang mengembangkan secara stimultan strategi
pemecahan masalah, dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan
dengan menempatkan para siswa dalam peran aktif sebagai pemecah
permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.
5. Torp dan Sage.
Problem based learning merupakan model pembelajaran yang
difokuskan kepada siswa agar memperoleh pengalaman belajar dalam
mengorganisasikan, meneliti, dan memecahkan masalah-masalah
kehidupan yang kompleks. (torp dan sage dalam abidin, 2014).

2. Sintaks Problem Based Learning.


Sintaks model pembelajaran problem based learning menurut
warsono & hariyanto (2013, hlm.151), adalah sebagai berikut.

1. Memberikan orientasi masalah kepada siswadengan menjelaskan


tujuan pembelajaran serta bahan dan alat yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah.
10

2. Membantu mendefinisikan masalah dan mengorganisasikan siswa


dalam belajar menyelesaikan masalah.

3. Guru mendorong siswa untuk mencari informasi yang sesuai dan


mecari penjelasan pemecahan masalahnya.
4. Mendukung siswa untuk mengembangkan dan menyajikan hasil
karya.
5. Guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap hasil
penyelidikannya dan proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Sementara itu, langkah pembelajaran problem based learning menurut
Shoimin (2017, hlm.131), adalah:
1. Menjelaskan tujuan pembelajaran untuk memotivasi siswa dalam
aktivitas pemecahan masalah yang dipilih,
2. Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan dengan permasalahan tersebut,
3. Mendorong siswa dalam mengumpulkan informasi yang sesuai,
eksperimen untuk penjelasan masalah, pengumpulan data, hipotesis,
dan pemecahan masalah,
4. Membantu siswa dalam merencanakan serta menyiapkan laporan
hasil karya yang sesuai seperti laporan,
5. Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap
penyelidikan mereka.

3. Kelebihan dan Kekurangan Model Problem Based Learning.


Segala hal di dunia ini tentunya akan hadir dengan kelebihan dan
kekurangannya masing-masing. Problem based learning juga memiliki
kelebihan dan kekurangannya sendiri yang akan dipaparkan dalam
penjelasan di bawah ini.
Kelebihan atau manfaat model pembelajaran problem based learning
menurut kurniasih & sani (2016), adalah dapat meningkatkan motivasi
siswa dalam belajar untuk mentransfer pengetahuan yang baru serta
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan ketrampilan kreatif.
11

Selain itu, Shoimin (2017), mengungkapkan beberapa kelebihan model


pembelajaran berbasis masalah yang meliputi:
1. Mendorong siswa untuk memiliki kemampuan memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari.
2. Membangun pengetahuan siswa melalui aktivitas belajar.
3. Mempelajari materi yang sesuai dengan permasalahan, terjadi
aktivitas ilmiah melalui kerja kelompok pada siswa.
4. Kemampuan komunikasi akan terbentuk melalui kegiatan diskusi
dan presentasi hasil pekerjaan.
5. Melalui kerja kelompok siswa yang mengalami kesulitan secara
individual dapat diatasi.
Sementara itu, kelemahan penerapan model pembelajaran problem based
learning menurut Shoimin (2017, hlm.132), antara lain:
1. Tidak semua materi pembelajaran dapat menerapkan penelitian
tindakan kelas, guru harus tetap berperan aktif dalam menyajikan
materi.
2. Keragaman siswa yang tinggi dalam suatu kelas akan menyulitkan
dalam pembagian tugas berdasarkan masalah nyata.
Selain itu, menurut Abidin (2014, hlm. 163), kekurangan dalam model
pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut;
1. Siswa yang terbiasa mendapatkan informasi yang diperoleh dari
guru sebagai narasumber utama akan merasa kurang nyaman
dengan cara belajar sendiri dalam pemecahan masalah.
2. Jika siswa tidak mempunyai rasa kepercayaan bahwa masalah
yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa
enggan untuk mencoba memecahkan masalahnya.
Tanpa adanya pemahaman siswa terhadap mengapa mereka harus
berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka mereka
tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari.
12

4. Manfaat problem based learning.


Selain berbagai kelebihan di atas, Warsono & Hariyanto (2013,hl.152),
mengemukakan pendapat bahwa kekuatan atau manfaat utama penerapan
model pembelajaran problem based learning adalah sebagai berikut.
1. Siswa akan tertantang untuk menyelesaikan masalah yang akan
membuat siswa menjadi terbiasa menghadapi masalah.
2. Solidaritas sosial akan terpupuk dengan adanya diskusi dengan
teman satu kelompok,
3. Guru dengan siswa akan semakin akrab.
4. Siswa akan terbiasa menerapkan metode eksperimen karena ada
kemungkinan suatu masalah yang harus diselesaikan siswa melalui
eksperimen.

B. Kajian Teoritis (variable Hasil Tindakan/ Y).


1. Pengertian Hasil Belajar Menurut Para Ahli.
a. Pengertian Hasil Belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman belajar. Hasil belajar ada tiga macam yakni: a).
Keterampilan dan kebiasaan, b). Pengetahuan dan pengertian, c). Sikap dan cita-
cita. Sedangkan Bloom mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah yakni
ranah kognitif, ranah afektif dan ranahpsikomotoris, Sudjana (2006:22).
Purwanto mendefinisikan hasil belajar merupakan perubahan perilaku
yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilku kejiwaan yang dapat
dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, efektif dan
psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilaku dalam domain-
domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam
domain kognitif, efektif dan psikomotorik.

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk menilai hasil belajar kognitif
siswa adalah tes. Tes bisa berbentuk obyektif dan esai. Jadi, pada dasarnya tidak
ada aturan khusus yang jelas tentang kapan saat yang tepat untuk menggunakan
13

keduanya. Menilai hasil belajar kognitif siswa dalam pendidikan agama islam dan
budi pekerti dengan memperhatikan pendapat menggunakan hampir semua bentuk
dan jenis tes, baik lisan maupun tertulis. Bentuk-bentuk tes yang obyektif yang
bisa dipilih adalah pilihan ganda biasa, benar salah, hubungan antarhal,
menjodohkan, melengkapi isian, tinjauan kasus, dan mengenali atau bereaksi
terhadap situasi kritis dan problematis.
Arikunto (2019), menjelaskan bahwa tes adalah serentetan pertanyaan
atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan,
pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok.
Tes bertujuan untuk penelusuran kesesuaian proses pembelajran
dengan rencana, pengecekan kelemahan dalam proses pembelajaran,
mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh siswa, seleksi kenaikan kelas
atau kelulusan, mengetahui pencapaian kurikulum dan memberikan
penilaian dalam keberhasilan untuk pencapai tujuan pendidikan secara
kelembagaan.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar.
a. Faktor Internal Siswa.
1. Motivasi belajar: Seberapa besar minat dan kemauan siswa untuk belajar.
2. Kecerdasan: Kemampuan kognitif siswa dalam memahami dan
menyelesaikan masalah.
3. Minat pada materi: Seberapa menarik siswa terhadap materi yang diajarkan.
4. Kesehatan: Kondisi fisik dan mental siswa yang baik mendukung proses
belajar.
5. Bakat dan minat: Kemampuan alami dan ketertarikan siswa pada bidang
tertentu.
6. Belajar mandiri: Kemampuan siswa dalam belajar di luar jam sekolah.

b. Faktor Eksternal Siswa


1. Model pembelajaran: Dalam hal ini, model PBL yang diterapkan.
2. Media pembelajaran: Alat bantu yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
14

3. Lingkungan belajar: Suasana kelas, fasilitas sekolah, dan dukungan dari


guru dan orang tua.
4. Interaksi sosial: Hubungan siswa dengan teman sebaya dan guru.
5. Kondisi keluarga: Dukungan keluarga, kondisi ekonomi, dan suasana
rumah yang kondusif untuk belajar.
c. Faktor Materi Pelajaran
1. Tingkat kesulitan materi: Seberapa sulit materi yang diajarkan.
2. Relevansi materi: Seberapa penting dan bermanfaat materi bagi siswa.
3. Metode penyampaian materi: Cara guru menyampaikan materi.

C. Analisis Faktor Yang mempengaruhi Y.


Secara teori, penerapan model pembelajaran PBL diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa karena beberapa alasan:
1. Peningkatan Aktivitas Siswa: PBL mendorong siswa untuk lebih aktif terlibat
dalam proses pembelajaran, sehingga mereka lebih memahami materi.
2. Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis: Melalui pemecahan masalah, siswa
dilatih untuk berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi.
3. Peningkatan Motivasi Belajar: PBL membuat pembelajaran lebih menarik dan
relevan dengan kehidupan nyata, sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar.
4. Pengembangan Keterampilan Kolaborasi: PBL seringkali dilakukan secara
kelompok, sehingga siswa belajar bekerja sama dan saling membantu.

D. Analisis Hubungan X dengan Y


D. 1 Analisis Hubungan Variabel X dengan Variabel Y.
Dalam konteks penelitian ini, kita ingin menganalisis bagaimana
penerapan model pembelajaran PBL (X) dapat berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa (Y). Analisis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Kajian Teori :
PBL dikenal dapat meningkatkan hasil belajar karena mendorong
siswa untuk aktif terlibat dalam proses belajar, memecahkan masalah, dan
bekerja dalam kelompok. Teori belajar konstruktivis juga mendukung ide
bahwa siswa membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman
15

dan interaksi.
2. Pengumpulan Data :
a. Melaksanakan pre-test dan post-test untuk mengukur hasil belajar
siswa sebelum dan setelah penerapan PBL.
b. Menggunakan metode observasi untuk mencatat interaksi dan keterlibatan
siswa selama proses pembelajaran.
c. Mengumpulkan data kualitatif melalui wawancara atau angket untuk
mendapatkan perspektif siswa tentang pembelajaran PBL.
3. Analisis Data :
a. Menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan hasil pre-test dan
post-test.
b. Menggunakan analisis inferensial, seperti uji t, untuk menentukan apakah
ada perbedaan signifikan antara hasil belajar sebelum dan setelah
penerapan PBL.
c. Analisis kualitatif dapat dilakukan untuk memahami persepsi dan
pengalaman siswa dalam belajar melalui PBL.
4. Interpretasi Hasil :
a. Jika hasil analisis menunjukkan bahwa ada peningkatan signifikan dalam
hasil belajar siswa setelah menerapkan model PBL, maka dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran ini efektif dalam meningkatkan
hasil belajar.
b. Diskusikan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti
motivasi siswa, dukungan dari guru, dan sifat masalah yang diberikan
dalam PBL.
Kesimpulan

Dalam penelitian ini, analisis hubungan antara variabel X (PBL) dan variabel Y
(hasil belajar siswa) menunjukkan bahwa penerapan model PBL dapat berpotensi
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi tertentu. Efektivitas model ini dapat
ditunjukkan melalui peningkatan skor hasil belajar, aktivitas kelas, dan keterlibatan
siswa. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk melihat aspek-aspek lain yang
berkontribusi terhadap hasil belajar siswa, serta mengeksplorasi penerapan PBL dalam
konteks materi dan tingkat kelas lainnya.
D. 2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Variabel X dengan Variabel Y.
16

1. Karakteristik Siswa: Minat, motivasi, kemampuan awal siswa, dan gaya


belajar yang berbeda-beda dapat mempengaruhi seberapa efektif PBL
diterapkan.
2. Materi Pelajaran: Materi yang abstrak atau kompleks mungkin
membutuhkan pendekatan yang berbeda.
3. Keterampilan Guru: Kemampuan guru dalam mengelola kelas dan
memfasilitasi diskusi sangat penting dalam keberhasilan PBL.
4. Waktu yang Dialokasikan: Waktu yang cukup diperlukan untuk
melaksanakan semua tahapan PBL.
5. Sumber Belajar: Ketersediaan sumber belajar yang relevan akan
mendukung proses pembelajaran.

E. Penelitian Terdahulu.
Berikut adalah beberapa poin tentang penelitian terdahulu yang relevan
dengan upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi "Menyambut
Usia Baligh" melalui penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) :
1. Penelitian oleh Siti Zainab (2020).
1. Judul: "Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning
Terhadap Hasil Belajar Siswa"
2. Temuan: Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model
PBL secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa pada
materi pendidikan agama yang berkaitan dengan usia baligh. Hasil
belajar siswa yang menggunakan PBL lebih baik dibandingkan
dengan metode konvensional. Penelitian ini merekomendasikan
penggunaan PBL untuk topik-topik sensitif seperti perubahan fisik
dan mental ketika memasuki usia baligh.
2. Penelitian oleh Ahmad Rizky (2019).
1. Judul: "Implementasi Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa pada Materi
Reproduksi"
2. Temuan: Dalam penelitian ini, penerapan PBL membantu siswa
17

lebih memahami konsep reproduksi, termasuk aspek sosial dan


emosional yang berkaitan dengan memasuki usia baligh. Hasil
evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam post-
test siswa yang mengikuti pembelajaran dengan PBL
dibandingkan dengan pre-test.
3. Penelitian oleh Farah Diba (2021).
1. Judul: "Efektivitas Model Problem Based Learning Terhadap
Motivasi dan Hasil Belajar Siswa"
2. Temuan: Penelitian ini menemukan bahwa PBL tidak hanya
meningkatkan hasil belajar akademik, tetapi juga meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar. Dalam materi tentang usia baligh,
siswa menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dan lebih aktif
dalam diskusi yang didasarkan pada situasi nyata tentang masa
transisi menuju kedewasaan.
4. Penelitian oleh Ridwan Mufid (2022).
1. Judul: "Perbandingan Hasil Belajar Siswa dengan Penerapan
Metode PBL dan SCL pada Materi Agama"
2. Temuan: Penelitian ini membandingkan dua metode
pembelajaran: PBL dan Student Centered Learning (SCL).
Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan model
PBL memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-
nilai yang berkaitan dengan masa baligh, serta lebih mampu
mengaitkan teori dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari.
5. Penelitian oleh Tika Elvira (2020)
1. Judul: "Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan Problem Based
Learning dalam Pembelajaran Agama"
2. Temuan: Fokus pada pembelajaran Agama, penelitian ini
menunjukkan penerapan PBL efektif dalam membantu siswa
merespons perubahan fisik dan psikologis yang dialami selama
usia baligh. Respon siswa terhadap pembelajaran sangat positif,
menunjukkan ketertarikan dan kesadaran yang lebih baik tentang
18

isu-isu yang relevan.


6. Kesimpulan
Penelitian-penelitian di atas mengindikasikan bahwa model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan hasil belajar
siswa, khususnya pada materi yang berhubungan dengan transisi menuju
usia baligh. Penerapan PBL memungkinkan siswa belajar secara aktif,
keterlibatan dalam diskusi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks yang
relevan dengan kehidupan mereka, yang merupakan hal penting ketika
membahas topik sensitif seperti usia baligh
F. Kerangka Pemikiran.
Berikut adalah kerangka pemikiran untuk Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang berfokus pada upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam
materi "Meraih Kesuksesan dengan Bersaing dalam Kebaikan dan Etos
Kerja" melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL).
BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
BAB II. Kajian Pustaka.
A. Kajian Teoritis Hasil Belajar (variable Tindakan/ X ).
A. 1. Pengertian Problem Bassed Learning (PBL) Menurut Para Ahli.
A. 2. Sintaks Model Problem Bassed Learning (PBL).
A. 3. Kelebihan dan Kekurangan Model Problem Bassed Learning (PBL).
A. 4. Manfaat Model Problem Bassed Learning (PBL).
B. Kajian Teoritis (variable Hasil Tindakan/ X).
B. 1. Pengertian Hasil Belajar Menurut Para Ahli.
B. 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar.
B. 3. Indikator Keberhasilan Belajar.
C. Analisis Faktor Yang mempengaruhi Y.
19

D. Analisis Hubungan X dengan Y.


D. 1. Analisis Hubungan Variabel X dengan Variabel Y.
D. 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Variabel X dengan Variabel Y.
E. Penelitian Terdahulu.
F. Bagan Kerangka Pemikiran (opsional).
BAB III. Metodologi Penelitian.
A. Jenis Penelitian.
B. Lokasi Penelitian.
C. Perencanaan.
C. 1. Jenis Tindakan.
C. 2. Pelaku Tindakan.
C. 3. Observasi dan Tim Kolaborasi.
C. 4. Alternatif Siklus dan Tindakan.
D. Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data.
E. Pengumpulan Data
E. 1. Situasi Setting.
E. 2. Proses Tindakan.
E. 3. Hasil Tindakan.
F. Refleksi (Evaluasi bersama secara kolaboratif).
G. Jadwal Penelitian.
BAB IV. Pelaksanaan Model Pembelajaran PBL
A. Setting Penelitian (Kondisi Objektif Lokasi Penelitian).
B. Pelaksnaan Tindakan.
C. Pelaksanaan Refleksi (Analisis Hasil Penelitian).
D. Hasil Penelitian (jika lebih dari satu siklus).
D. 1. Siklus Pertama.
D. 2. Siklus Kedua.
D. 3. Siklus Ketiga.
BAB V Kesimpulan dan Penutup.
A. Kesimpulan.
B. Implikasi Hasil Penelitian dan Saran.
20

B. 1. Impilkasi Hasil Penelitian.


B. 2. Saran.
Daftar Pustaka.
Lampiran-lampiran.
1. Kisi-kisi penelitian (dan Instrumen Pengumpul data).
2. Bukti Validasi dari Lokasi Penelitian (Surat Keterangan
Penelitian).

Anda mungkin juga menyukai