0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan27 halaman

Proses Persiapan dan Pondasi Konstruksi

Dokumen ini menjelaskan langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan proyek konstruksi, termasuk pembersihan lahan, pembuatan pagar, pengukuran, dan pekerjaan pondasi. Setiap tahap mencakup metode, peralatan, dan prosedur K3 untuk memastikan keselamatan dan kualitas kerja. Selain itu, dokumen ini juga mencakup pekerjaan tanah dan beton, serta perawatan yang diperlukan setelah pengecoran.

Diunggah oleh

putri prebina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan27 halaman

Proses Persiapan dan Pondasi Konstruksi

Dokumen ini menjelaskan langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan proyek konstruksi, termasuk pembersihan lahan, pembuatan pagar, pengukuran, dan pekerjaan pondasi. Setiap tahap mencakup metode, peralatan, dan prosedur K3 untuk memastikan keselamatan dan kualitas kerja. Selain itu, dokumen ini juga mencakup pekerjaan tanah dan beton, serta perawatan yang diperlukan setelah pengecoran.

Diunggah oleh

putri prebina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Pembersihan Lahan (Site Clearing)
 Lingkup: Membersihkan seluruh area kerja dari vegetasi (rumput,

semak, pohon kecil), sampah, puing, dan material lain yang


mengganggu.
 Metode:

1. Area dengan vegetasi ringan dibersihkan secara manual

menggunakan alat bantu (cangkul, parang).


2. Untuk area yang lebih luas atau terdapat puing, dapat

digunakan alat mekanis (misal: mini excavator atau bulldozer


jika diperlukan dan diizinkan).
3. Material hasil pembersihan dikumpulkan dan diangkut keluar

lokasi proyek ke tempat pembuangan yang telah ditentukan


oleh pihak berwenang.
 Peralatan: Alat manual (cangkul, sekop, parang), gerobak dorong,

truk pengangkut, alat berat (opsional).


 K3: Pekerja menggunakan APD standar (helm, sepatu safety,

sarung tangan). Area kerja diberi batas yang jelas.


2. Pembuatan Pagar Keliling Proyek
 Lingkup: Memasang pagar sementara di sekeliling batas area
proyek untuk keamanan dan pembatasan akses.
 Metode:

1. Penentuan batas area proyek sesuai gambar dan patok batas.

2. Pemasangan tiang pagar (kayu kaso/balok atau besi siku)

dengan interval +/- 2-2.5 meter, ditanam/dicor secukupnya


agar kokoh.
3. Pemasangan rangka horizontal (kayu kaso/balok) pada tiang.

4. Pemasangan seng gelombang (tinggi min. 2 meter) pada

rangka menggunakan paku/sekrup.


5. Pembuatan pintu gerbang sementara dari material yang sama

untuk akses keluar-masuk.


 Material: Seng gelombang, kayu kaso/balok, paku/sekrup.

 K3: Hati-hati saat memotong dan memasang seng (tepi tajam).

Gunakan sarung tangan dan kacamata pelindung.


3. Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
 Lingkup: Menentukan titik-titik referensi (koordinat dan elevasi)

dan memasang papan bangunan (bouwplank) sebagai acuan


pelaksanaan konstruksi.
 Metode:
1. Tim surveyor melakukan pengukuran ulang batas lahan dan
menentukan titik referensi utama (Benchmark/BM).
2. Pemasangan patok-patok kayu di luar area rencana bangunan.

3. Pemasangan papan kayu datar (minimal 2/20) pada patok-

patok tersebut menggunakan waterpass untuk memastikan


kerataan horizontal.
4. Pertemuan papan bouwplank dipastikan siku (90 derajat)

menggunakan a² + b² = c².
5. Penandaan as-as bangunan (kolom, dinding) dan elevasi

rencana (misal +/- 0.00) pada papan bouwplank menggunakan


paku dan benang.
 Peralatan: Theodolite, Waterpass, meteran, selang air, unting-

unting, palu, paku, benang, papan kayu, patok kayu.


 K3: Pastikan area pengukuran aman, gunakan APD.

4. Pembuatan Pos Jaga


 Lingkup: Mendirikan bangunan sementara untuk pos keamanan.

 Metode: Konstruksi semi-permanen, rangka kayu, dinding

triplek/seng, atap seng. Ditempatkan di dekat pintu masuk proyek.


5. Pengadaan Toilet Portable
 Lingkup: Menyediakan fasilitas toilet sementara untuk pekerja.
 Metode: Menyewa atau membeli unit toilet portabel standar dan
menempatkannya di lokasi yang telah ditentukan, lengkap dengan
fasilitas air bersih (jika memungkinkan) dan pengaturan
pembuangan limbahnya.
6. Pembuatan Bedeng
 Lingkup: Membangun fasilitas sementara untuk istirahat pekerja

atau penyimpanan alat ringan.


 Metode: Konstruksi semi-permanen, rangka kayu/baja ringan,

dinding triplek/seng, atap seng, lantai bisa plesteran atau papan.


Ditempatkan di area yang tidak mengganggu aktivitas konstruksi.
7. Pengadaan Listrik dan Air Kerja
 Lingkup: Menyediakan suplai listrik dan air yang memadai selama

masa konstruksi.
 Metode:

1. Listrik: Mengajukan permohonan sambungan sementara ke

PLN atau menyediakan Genset dengan kapasitas yang cukup.


Instalasi kabel dan panel distribusi sementara sesuai standar
keamanan.
2. Air: Mengajukan permohonan sambungan sementara ke PDAM

atau membuat sumur bor (jika diizinkan). Memasang tandon


air dan jaringan pipa distribusi sementara ke titik-titik yang
membutuhkan (area fabrikasi, toilet, area pencampuran beton
jika site mix).
 K3: Instalasi listrik harus dilakukan oleh teknisi ahli dan aman.

8. Pasang Papan Nama Proyek


 Lingkup: Memasang papan informasi proyek sesuai peraturan.

 Metode: Membuat papan nama sesuai spesifikasi (ukuran,

material, isi informasi), memasangnya di lokasi yang mudah


terlihat di depan area proyek menggunakan tiang yang kokoh.

II.
PEKERJAAN PONDASI PANCANG
1. Tiang Pancang Beton Precast
 Lingkup: Pengadaan, pengangkutan, dan pemancangan tiang

pancang sesuai titik dan kedalaman rencana.


 Metode:

1. Persiapan:

 Pemeriksaan kualitas dan dimensi tiang pancang yang

diterima di lokasi.
 Surveyor melakukan staking out (penentuan titik pancang)

sesuai gambar pondasi , ditandai dengan patok.


 Mobilisasi alat pancang (misal: Diesel Hammer, Hydraulic
Hammer, atau HSPD) dan alat bantu (Crane) ke lokasi.
Menyiapkan landasan kerja alat pancang yang stabil.
2. Pemancangan:
 Tiang pancang diangkat menggunakan crane dan

diposisikan tegak lurus di atas titik pancang.


 Vertikalitas tiang dicek menggunakan waterpass/theodolite

dari dua arah.


 Pemancangan dimulai dengan pukulan/penekanan ringan

untuk memastikan posisi awal.


 Pemancangan dilanjutkan dengan energi

pukulan/penekanan penuh hingga mencapai kedalaman


desain atau final set (kalendering) yang disyaratkan dalam
spesifikasi teknis.
 Jika diperlukan penyambungan (tergantung panjang tiang

vs kedalaman), sambungan dilakukan sesuai metode


standar pabrikan (biasanya las pada pelat sambung).
 Pencatatan data pemancangan (piling record) untuk setiap

tiang (nomor tiang, tanggal, waktu mulai/selesai,


kedalaman, final set).
[Link] Kepala Tiang:
 Setelah pemancangan selesai dan disetujui, elevasi cut-off

level (batas atas pemotongan) ditandai pada setiap tiang.


 Kepala tiang dibobok/dipotong menggunakan alat potong

beton (concrete cutter/breaker) hingga elevasi yang


ditentukan.
 Tulangan baja dari tiang pancang disisakan sesuai panjang

penyaluran yang dibutuhkan untuk diikat ke tulangan Pile


Cap.
 Peralatan: Alat Pancang (Hammer/HSPD), Crane, Theodolite,
Waterpass, Alat Potong Beton, Genset.
 K3: Area pemancangan dibatasi, operator bersertifikat,
pemeriksaan rutin alat pancang, penggunaan APD lengkap.

III.
PEKERJAAN TANAH
1. Galian Tanah
 Lingkup: Menggali tanah untuk Pile Cap, Tie Beam, dan elemen

struktur bawah lainnya sesuai gambar.


 Metode:

1. Marking area galian sesuai gambar kerja (Pile Cap, Tie Beam).
2. Penggalian dilakukan menggunakan Excavator untuk volume
besar, dan dirapikan secara manual jika diperlukan (terutama
di dekat tiang pancang).
3. Kedalaman galian dikontrol menggunakan waterpass/laser

level mengacu pada BM.


4. Dinding galian dibuat miring atau diberi penahan (shoring) jika

kondisi tanah tidak stabil atau galian dalam.


5. Tanah hasil galian ditempatkan sementara di lokasi yang tidak

mengganggu, sebagian disiapkan untuk urugan kembali,


sisanya diangkut keluar lokasi.
 Peralatan: Excavator, Cangkul, Sekop, Gerobak Dorong, Truk.

 K3: Pemasangan rambu peringatan galian, pemeriksaan stabilitas

dinding galian, APD standar.


2. Urugan Pasir Bawah
 Lingkup: Mengurug area di bawah lantai dasar atau elemen

pondasi dengan pasir urug.


 Metode:

1. Area yang akan diurug dibersihkan dan diratakan.

2. Pasir urug digelar per lapisan (ketebalan sesuai spesifikasi,

misal 15-20 cm).


3. Setiap lapisan disiram air secukupnya (jika perlu) dan
dipadatkan menggunakan Stamper (pemadat tangan) atau
Baby Roller hingga mencapai kepadatan yang disyaratkan.
4. Elevasi akhir urugan diperiksa kembali.

 Material: Pasir urug.

 Peralatan: Stamper/Baby Roller, Alat bantu (sekop, gerobak).

 K3: Gunakan masker saat menggelar pasir, hati-hati saat

mengoperasikan alat pemadat.


3. Lapisan Gravel (Sirtu)
 Lingkup: Membuat lapisan sirtu (pasir batu) sebagai alas atau

lapisan perkerasan.
 Metode:

1. Sama seperti urugan pasir, sirtu digelar per lapisan di area

yang ditentukan (misal di bawah lantai kerja atau pile cap ).


2. Setiap lapisan dipadatkan menggunakan alat pemadat

(Stamper/Vibro Roller) hingga kepadatan yang disyaratkan.


3. Elevasi dan kerataan diperiksa.

 Material: Sirtu (pasir batu).

 Peralatan: Stamper/Vibro Roller, Alat bantu.

 K3: Gunakan masker, APD standar.


4. Pemadatan Tanah
 Lingkup: Memadatkan permukaan tanah asli atau tanah urug di

area tertentu (misal area lantai dasar sebelum urugan


pasir/gravel).
 Metode:

1. Permukaan tanah diratakan dan dibersihkan dari material

lepas.
2. Pemadatan dilakukan menggunakan alat pemadat

(Stamper/Vibro Roller) secara sistematis hingga mencapai


tingkat kepadatan yang disyaratkan (biasanya diuji dengan tes
kepadatan lapangan jika diperlukan).
 Peralatan: Stamper/Vibro Roller.

 K3: Gunakan pelindung telinga jika menggunakan alat pemadat

yang bising.

IV.
PEKERJAAN BETON
Metode umum untuk pekerjaan beton (Pile Cap, Tie Beam, Kolom,
Balok, Plat Lantai, Tangga) meliputi:
1. Fabrikasi dan Pemasangan Bekisting (Formwork)
 Material: Multipleks (plywood) dengan ketebalan sesuai
kebutuhan (misal 12-18mm), kayu kaso 5/7 atau 4/6 untuk rangka
panel dan perkuatan, kayu balok/scaffolding untuk support.
 Metode:
1. Pembuatan panel bekisting sesuai ukuran elemen struktur (Pile

Cap , Tie Beam , Kolom , Balok , Plat , Tangga ) berdasarkan


shop drawing.
2. Permukaan dalam bekisting dibersihkan dan diolesi mould
release agent (minyak bekisting).

3. Pemasangan panel bekisting di lokasi, pastikan sambungan


rapat untuk mencegah kebocoran adukan.

4. Pemasangan perkuatan (bracing) dan penyangga (support)


menggunakan kayu atau scaffolding, pastikan bekisting kokoh,
vertikal (untuk kolom), dan horizontal (untuk balok/plat).
5. Pengecekan akhir dimensi, kelurusan, dan kebersihan sebelum

pemasangan tulangan.
 Peralatan: Gergaji, Palu, Meteran, Waterpass, Unting-unting.
 K3: Pekerja menggunakan APD, perancah dipasang dengan aman
dan diperiksa.
2. Fabrikasi dan Pemasangan Pembesian (Rebar)
 Material: Baja tulangan (polos/ulir) sesuai mutu dan diameter

yang disyaratkan dalam gambar struktur . Kawat bendrat. Beton


decking (tahu beton).
 Metode:

1. Pemeriksaan kualitas baja tulangan yang datang.

2. Pemotongan dan pembengkokan tulangan menggunakan bar

cutter dan bar bender sesuai Bending Schedule yang dibuat


berdasarkan shop drawing detail penulangan (misal: detail
kolom , balok , plat , pile cap , tie beam ).
3. Perakitan tulangan di lokasi (di dalam bekisting atau di area

fabrikasi terpisah).
4. Pengikatan tulangan menggunakan kawat bendrat pada setiap

pertemuan yang diperlukan.


5. Pemasangan beton decking dengan jarak yang cukup untuk

memastikan selimut beton sesuai spesifikasi.


6. Pengecekan akhir jumlah, diameter, jarak, dan ikatan tulangan

oleh pengawas.
 Peralatan: Bar Cutter, Bar Bender, Kunci Kawat (gegep).
 K3: Gunakan sarung tangan saat menangani tulangan, hati-hati
saat mengangkat tulangan berat.
3. Pengecoran Beton (Casting)
 Material: Beton Ready Mix atau Site Mix dengan mutu K-150

(untuk lantai kerja ) dan K-300 (untuk struktur Pile Cap, Tie Beam,
Kolom, Balok, Plat Lantai, Tangga ), slump sesuai spesifikasi. Air,
additive (jika perlu).
 Metode:

1. Pembersihan area dalam bekisting dari kotoran/sampah,

pembasahan bekisting (jika kayu).


2. Pengecekan kesiapan: bekisting kokoh, tulangan terpasang

benar, izin cor telah didapat.


3. Penuangan beton:

 Untuk volume besar atau lokasi tinggi (lantai atas),

gunakan Concrete Pump.


 Untuk volume kecil/lokasi rendah, bisa manual

(ember/gerobak) atau bucket crane.


 Penuangan dilakukan secara sistematis dan kontinu,

hindari segregasi. Tinggi jatuh maksimum dibatasi


(biasanya < 1.5 m).
4. Pemadatan: Gunakan Concrete Vibrator selama penuangan
untuk menghilangkan rongga udara dan memastikan beton
mengisi seluruh sudut bekisting. Hindari over-vibration.
5. Perataan/Finishing: Untuk plat lantai atau permukaan

horizontal lainnya, ratakan permukaan beton menggunakan


jidar dan roskam/trowel.
6. Pengambilan sampel beton untuk pengujian kuat tekan di

laboratorium (kubus/silinder).
 Peralatan: Concrete Pump (jika perlu), Concrete Vibrator,

Ember/Gerobak, Jidar, Roskam/Trowel, Alat tes slump.


 K3: Gunakan APD (sepatu boot, sarung tangan, kacamata),

pastikan jalur penuangan aman, waspada getaran vibrator.


4. Perawatan Beton (Curing) dan Pembongkaran Bekisting
 Metode Curing: Setelah beton cukup keras (initial setting),

lakukan perawatan dengan menjaga kelembaban permukaan beton


selama minimal 7 hari (atau sesuai spesifikasi) menggunakan
metode:
1. Penyiraman air secara berkala.

2. Menutupi permukaan dengan karung goni basah.

3. Menggunakan curing compound.


 Metode Pembongkaran Bekisting:
1. Pembongkaran dilakukan setelah beton mencapai kekuatan

minimum yang disyaratkan (biasanya berdasarkan umur beton


atau hasil tes hammer).
2. Bekisting sisi vertikal (kolom, dinding balok) dapat dibongkar

lebih awal (misal 1-2 hari).


3. Bekisting penyangga bawah (plat, balok, tangga) dibongkar

sesuai jadwal yang ditentukan (misal 14-28 hari, tergantung


bentang dan beban). Pembongkaran dilakukan hati-hati agar
tidak merusak beton.
 K3: Hati-hati saat membongkar bekisting dari ketinggian, pastikan

area di bawah aman.


Spesifik Item Beton:
 Lantai Kerja (Lean Concrete) K-150: Digelar di atas lapisan

pasir/gravel yang sudah dipadatkan sebagai alas kerja untuk


pembesian dan bekisting pondasi/lantai dasar. Tebal sesuai gambar
(misal 5-7 cm).
 Pile Cap 4400x4400mm, K-300: Dicor setelah pemotongan

kepala tiang pancang, menghubungkan tiang pancang dalam satu


grup.
 Tie Beam 350x450mm, K-300: Dicor di antara Pile Cap atau
kolom pondasi.
 Ground Column & Kolom 1000x1000mm, K-300: Dicor secara
vertikal per lantai, perhatikan sambungan tulangan antar lantai.
 Balok Utama 450x700mm & Balok Anak 350x500mm, K-300:
Dicor bersamaan dengan plat lantai di atasnya.
 Plat Lantai t=150mm & t=180mm, K-300: Dicor di atas
bekisting plat, perhatikan elevasi dan kerataan.
 Tangga K-300: Dicor sesuai bentuk tangga, bekisting lebih
kompleks.

V. PEKERJAAN PEMBESIAN
 Metode fabrikasi dan pemasangan tulangan untuk semua elemen

beton (Pile Cap, Tie Beam, Kolom, Balok, Plat, Tangga) telah
diuraikan dalam IV.2 Pekerjaan Pembesian (Rebar) di atas.
Kuantitas dan detail penulangan mengikuti gambar struktur dan
RAB.

VI.
PEKERJAAN BEKISTING
 Metode fabrikasi, pemasangan, dan pembongkaran bekisting untuk
semua elemen beton (Pile Cap, Tie Beam, Kolom, Balok, Plat,
Tangga) telah diuraikan dalam IV.1 Pekerjaan Bekisting
(Formwork) dan IV.4 Pembongkaran Bekisting di atas.
Kuantitas mengikuti RAB.

VII.
PEKERJAAN BAJA
 Lingkup: Fabrikasi dan pemasangan struktur rangka atap baja.

 Komponen Utama:

1. Profil IWF 450x200x9x14

2. Gording C-200x75x20x4 @1250mm

3. Sagrod D12

4. Bracing D16

5. Turnbuckle

6. Embedded Plate (PL-16, PL-25, RB19)

7. MS Plate (Joint Plate, Gusset Plate, etc.)

8. Connection HT Bolt

 Metode:

1. Persiapan:
 Pemeriksaan material baja (sertifikat mill, dimensi,
kondisi).
 Shop drawing fabrikasi disiapkan dan disetujui.

 Marking posisi base plate di atas kolom beton.

2. Fabrikasi: Pemotongan, pengeboran lubang baut, pengelasan


plat sambung/gusset plate sesuai shop drawing. Dapat
dilakukan di workshop atau di lokasi proyek. Proteksi anti karat
(cat primer) diaplikasikan setelah fabrikasi.
3. Erection (Pemasangan):
 Pemasangan Base Plate dan angkur pada kolom beton.

 Pemasangan kolom/tiang baja (jika ada) di atas base plate.

 Pengangkatan dan pemasangan balok rafter/kuda-kuda WF

menggunakan crane.
 Penyambungan antar elemen struktur menggunakan baut

HT (High Tensile) atau las sesuai spesifikasi. Baut


dikencangkan sesuai torsi yang disyaratkan.
 Pemasangan gording C-channel di atas rafter dengan jarak

1250mm.
 Pemasangan sagrod dan bracing untuk pengaku dan

stabilitas struktur.
4. Finishing: Pengecatan finish jika disyaratkan.
 Peralatan: Crane, Mesin Las, Kunci Torsi, Alat Ukur, Scaffolding.
 K3: Gunakan APD lengkap (helm, sepatu safety, sarung tangan,
kacamata las, harness saat bekerja di ketinggian). Area di bawah
erection dibatasi. Prosedur pengangkatan yang aman.

VIII.
PEKERJAAN PASANGAN DAN FINISHING DINDING
1. Pasangan Dinding 1/2 Bata Merah
 Material: Bata merah uk. 5x11x22 cm

 Metode:

1. Area kerja dibersihkan. Pembuatan marking jalur dinding di

lantai.
2. Adukan mortar instan disiapkan sesuai instruksi pabrik.

3. Lapisan pertama (starter) dipasang di atas adukan semen

biasa (1:3 atau 1:5) untuk leveling awal, pastikan lurus dan
rata dengan tarikan benang dan waterpass.
4. Adukan mortar instan diaplikasikan tipis (+/- 3mm) pada sisi

horizontal dan vertikal bata menggunakan trowel bergerigi.


5. Bata ringan disusun dengan ikatan/sambungan berselang (pola

½ bata).
6. Setiap beberapa lapisan (sesuai spesifikasi), pasang angkur L
ke kolom praktis/struktur.
7. Periksa kelurusan vertikal dan horizontal secara berkala.

8. Buat lubang/coakan untuk instalasi ME jika diperlukan sebelum

plesteran.
 Peralatan: Trowel bergerigi, Palu karet, Waterpass, Benang,

Meteran, Gergaji bata ringan (jika perlu).


 K3: Gunakan masker saat memotong bata ringan, sarung tangan.

2. Kolom Praktis Lingkup: Pembuatan kolom beton bertulang non-


struktural pada dinding bata.
 Metode:

1. Bersamaan dengan pemasangan dinding bata, tulangan kolom

praktis (biasanya 4 dia. 10mm dengan sengkang dia. 8mm -


150/200mm) dirakit dan dipasang pada lokasi yang ditentukan
(pertemuan dinding, interval tertentu pada dinding panjang).
2. Bekisting kolom praktis (biasanya kayu) dipasang mengapit

tulangan.
3. Pengecoran kolom praktis menggunakan beton mutu K-175

atau sesuai spesifikasi (adukan 1:2:3 jika site mix). Pemadatan


dilakukan manual (dengan kayu/besi kecil) atau vibrator kecil.
4. Bekisting dibongkar setelah beton cukup keras.
3. Plesteran Dinding (Adukan 1 PC : 3 PS)
 Material: Semen Portland (PC), Pasir Pasang (PS).

 Metode:

1. Permukaan dinding bata ringan dibersihkan dari debu/kotoran

dan dibasahi/dilembabkan.
2. Dibuat titik-titik acuan ketebalan ("kepala plesteran") pada

dinding menggunakan adukan yang sama.


3. Tarik benang horizontal dan vertikal antar kepala plesteran

sebagai panduan kerataan.


4. Campurkan adukan 1 PC : 3 PS hingga homogen.

5. Adukan plesteran diaplikasikan ke dinding menggunakan

sendok semen/roskam, lalu diratakan menggunakan jidar


aluminium panjang mengikuti kepala plesteran dan benang
acuan. Ketebalan rata-rata 1-1.5 cm.
6. Permukaan digosok halus setelah agak kering.

 Peralatan: Sendok semen, Roskam, Jidar Aluminium, Ember, Alat

campur (molen jika volume besar).


 K3: Gunakan masker dan sarung tangan.

4. Acian Dinding
 Material: Semen Acian Instan atau Semen Portland biasa.
 Metode:
1. Plesteran dibiarkan kering minimal 3-7 hari (tergantung kondisi

cuaca).
2. Permukaan plesteran dibersihkan dan dibasahi.

3. Adukan acian (semen + air) dibuat hingga konsistensi pasta.

4. Acian diaplikasikan tipis merata menggunakan roskam baja,

kemudian digosok hingga halus dan rata.


 Peralatan: Roskam baja, Kape, Ember.
 K3: Gunakan masker dan sarung tangan.

IX. PEKERJAAN RANGKA DAN PENUTUP ATAP


1. Lembaran Zincalume Bergelombang AZ 150 G550 T=0.5mm - 834.4

 Lingkup: Pemasangan penutup atap metal di atas rangka baja.

 Metode:

1. Pastikan rangka gording telah terpasang lurus dan sesuai jarak.

2. Pasang lapisan insulasi (PE Bubble Thermal Insulation ) di atas

gording (jika metodenya di bawah atap).


3. Pemasangan lembaran Zincalume dimulai dari bagian bawah
atap (tepi terendah) menuju ke atas (bubungan), dari arah
berlawanan dengan arah angin dominan.
4. Setiap lembaran diberi tumpang tindih (overlap) samping dan

atas sesuai rekomendasi pabrikan.


5. Lembaran atap difiksasi ke gording menggunakan self-drilling

screw khusus atap yang dilengkapi ring karet untuk mencegah


bocor. Pemasangan sekrup pada puncak gelombang.
6. Pasang flashing/nok/aksesoris atap lainnya di bubungan, tepi,

dan pertemuan.
 Material: Lembaran Zincalume , PE Bubble Insulation, Sekrup

atap.
 Peralatan: Bor sekrup, Alat potong metal (gunting/gerinda), Alat

ukur, Scaffolding/tangga.
 K3: Gunakan harness saat bekerja di ketinggian, sarung tangan,

kacamata.
2. PE Bubble Thermal Insulation Unicell t=4mm - 834.4 m²
 Lingkup: Pemasangan lapisan insulasi di bawah penutup atap.

 Metode:
1. Insulasi digelar di atas gording baja sebelum pemasangan
lembaran atap Zincalume.
2. Pastikan insulasi terpasang rata, tidak sobek, dan sambungan

antar lembaran tertutup rapat (bisa menggunakan tape khusus


jika disyaratkan).
3. Insulasi dijepit antara gording dan lembaran atap saat atap

disekrup.
 Material: PE Bubble Foil t=4mm.
 K3: Hati-hati saat menggelar di ketinggian.

X. PEKERJAAN ATAP
1. Roof drain Ø100mm - 14 no
 Lingkup: Pemasangan saringan air hujan pada dak atap beton.

 Metode:

1. Dipasang pada lubang yang telah disiapkan di plat dak atap

beton sebelum pekerjaan waterproofing.


2. Pastikan elevasi bibir roof drain sedikit lebih rendah dari

permukaan finish waterproofing/screed agar air mudah


mengalir.
3. Sambungan antara roof drain dan plat beton dibuat kedap air.
2. PVC Drain Pipe Downspout Ø100mm, straight - 392 m' (asumsi m'
bukan m2)
 Lingkup: Pemasangan pipa vertikal pembuangan air hujan dari

atap.
 Metode:

1. Pipa PVC Ø100mm disambungkan ke outlet roof drain atau

talang.
2. Pipa dipasang tegak lurus menempel pada dinding luar atau

kolom menggunakan bracket.


3. Sambungan antar pipa menggunakan lem PVC.

4. Arah pembuangan air di bagian bawah disesuaikan dengan

saluran drainase lingkungan.


 Material: Pipa PVC Ø100mm AW, Lem PVC, Bracket.

 Peralatan: Gergaji pipa, Alat ukur, Waterpass.

3. Down spout bracket for Ø100mm - 261 no


 Lingkup: Pemasangan klem penyangga pipa downspout.

 Metode: Dipasang pada dinding/kolom dengan jarak sesuai

spesifikasi (biasanya per 1.5 - 2 meter vertikal) menggunakan


fischer dan sekrup, untuk memegang pipa downspout agar kokoh.

Anda mungkin juga menyukai