0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan14 halaman

Meningkatkan Kemampuan Membaca Efektif

Dokumen ini membahas hakikat kemampuan membaca, yang meliputi pengertian, tujuan, dan pentingnya keterampilan membaca dalam proses pembelajaran, terutama dalam bahasa Arab. Ditekankan bahwa guru memiliki peranan penting dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa melalui berbagai teknik dan strategi. Selain itu, dokumen juga menjelaskan unsur-unsur intrinsik bacaan dan manfaat permainan dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa.

Diunggah oleh

Melin Dinda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan14 halaman

Meningkatkan Kemampuan Membaca Efektif

Dokumen ini membahas hakikat kemampuan membaca, yang meliputi pengertian, tujuan, dan pentingnya keterampilan membaca dalam proses pembelajaran, terutama dalam bahasa Arab. Ditekankan bahwa guru memiliki peranan penting dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa melalui berbagai teknik dan strategi. Selain itu, dokumen juga menjelaskan unsur-unsur intrinsik bacaan dan manfaat permainan dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa.

Diunggah oleh

Melin Dinda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

11

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Hakikat Kemampuan Membaca

Kemampuan adalah sebuah usaha untuk mengetahui dana tau memperoleh

ilmu pengetahuan. Menurut Ahmad Sutardi, pada hakikatnya keterampilan adalah

cara seseorng untuk melakukan sesuatu, sedangkan dalam KBBI, keterampilan

adalah kecakapan orang untuk memahami bahasa dalam menulis, membaca,

menyimak, atau berbicara.1 Dengan demikian keterampilan membaca adalah cara

menulis, membaca, dan menyimak atau berbicara.

Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi

secara keseluruhan.2 Kemampuan membaca ini dapat ditingkatkan dengan

penguasaan teknik-teknik membaca efesien dan efektif. Kemampuan dan

menggambarkan penguasaan seseorang dalam menguasai sebuah bacaan.

Kemampuan membaca yang baik merupakan hal yang sangat penting

dalam suatu bacaan. Dalam hal ini guru mempunyai peranan yang sangat besar

untuk mengembangkan serta meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan dalam

membaca. Berdasarakan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan kemampuan

membaca adalah bagaimana seseorang dapat memahami dengan baik apa pesan

yang disampaikan dalam bacaan itu, sehingga informasi yang diserap dapat

diungkapkan kembali dengan tepat, baik secara lisan maupun secara tulisan.

1
Dendi Sugono dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Empat,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), h 1447
2
Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efeltif dan Efesien,
(Bandung:Angkasa, 1987), h. 7.

11
12

Menurut H.G. Tarigan membaca adalah satu proses yang dilakukan serta

dipengaruhi oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan

oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.3

Menurut Razak membaca merupakan salah satu bentuk kegiatan yang

dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh pemahaman tentang sesuatu. 4

Senada dengan pendapat Tarigan, membaca adalah suatu proses yang dilakukan

serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak

disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. 5 Pendapat Dalman

membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk

menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan.6

Membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang

terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks

merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara

pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan

informasi yang tertuang dalam teks. Membaca sebagai proses merupakan semua

kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan

melalui tahapan-tahapan tertentu. Proses tersebut merupakan penyandian dan

penafsiran sandi. Kegiatan dimulai dari pengenalan huruf, kata, ungkapan, frasa,

kalimat dan wacana serta menghubungkannya dengan bunyi dan [Link]

3
Isah Cahyani, Hodijah, Kemampuan Berbahasa Indonesia di SD (Bandung: UPI Pres, cet
ke-1, 2007), h. 3.
4
Abdul Razak, Bahasa Indonesia Versi Perguruan Tinggi, h. 35.
5
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahas, h. 7.
6
Delman, Keterampilan Membaca, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 5.

12
13

pesan yang tersurat dan yang tersirat tiadak akan tertangkap atau dipahami, dan

proses membaca tidak akan terlaksana dengan baik. 7

Membaca merupakan kegiatan berfikir yang dilakukan dengan penuh

perhatian untuk memahami suatu informasi melalui indra penglihatan dalam

bentuk simbol-simbol yang rumit, yang disusun sedemikian rupa sehingga

mempunyai arti dan makna.8

Berbagai definisi tentang membaca telah dipaparkan di atas, dan dapat

disimpulkan bahwa membaca adalah kegiatan fisik atau mental, yang menuntut

seseorang untuk menginterpretasikan simbol-simbol tulisan dengan aktif dan kritis

sebagai pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan

makna tulisan dan memperoleh informasi sebagai proses tranmisi untuk

pemikaran.

Hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan

membaca, khususnya teks-teks berbahasa asing seperti dalam bahasa Arab

diantaranya:

a) Memperluas pengalaman peserta didik, sehingga dapat memahami

keadaan dan seluk-beluk kebudayaan;

b) Mengajarkan bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru.

c) Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau symbol;

d) Membantu peserta didik memahami struktur-struktur kalimat yang

tidak begitu mudah bagi peserta didik.

7
Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efeltif dan Efesien,
(Bandung:Angkasa, 1987), h. 5.
8
Dwi Sunar Prasetyono, Rahasia Mengajar Gemar Membaca pada Anak Sejak Dini, h.
57.

13
14

e) Mengajarkan keterampilan-keterampilan pemahaman (comprehension

skill).

f) Membantu pembaca untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.9

Pembelajaran saat ini cenderung memberikan porsi guru yang aktif

sedangkan peserta didik yang pasif, guru memberi sedangkan peserta didik

menerima, dan guru menjelaskan peserta didik mendengarkan. Sedemikian

lemahnya interaksi guru dan peserta didik sehingga pembelajaran belum mampu

menumbuhkan rasa keingintahuan, daya kritis, daya kreatif, daya inovasi dan

belum mampu mengaktualkan potensi peserta didik. Akibatnya, proses

pemberdayaan potensi peserta didik tidak dapat dilakukan secara optimal.

Pembelajaran lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru,

tidak ada keterbukaan dan demokrasi, tidak ada toleransi pada kekeliruan akibat

kreativitas berpikir karena yang benar adalah apa yang dipersepsikan benar oleh

guru. Hasil proses pembelajaran tidak hanya peserta didik memiliki kemampuan,

pengetahuan, keterampilan tetapi yang lebih utama adalah bagaimana peserta

didik mendapatkan pengetahuan atau keterampilan itu.10

Keberhasilan dalam belajar bahasa Arab sebagai bahasa asing tidak hanya

sekedar ertumpu pada kurikulum, akan tetapi juga pada teknik dan strategi

pembelajaran. Selain itu, terdapat 4 kemampuan berbahasa yang harus dikuasai

termasuk kemampuan membaca.

9
Nurbiana Ddhieni dkk, Metode Pengembangan Bahasa, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2008), h. 317.
10
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet 17,
2014), h. 31.

14
15

1. Tujuan membaca

Menurut Cahyani,”Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari

serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan”. Ada

beberapa tujuan membaca di antaranya:

1. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-

penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh.

2. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik

yang baik dan menarik.

3. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi

pada setiap bagian cerita.

4. Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang

tidak biasa.

5. Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh

berubah.11

Namun Tarigan berpendapat bahwa tujuan membaca di antara lain:

1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta

(reading for details offact)

2. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main of

idea)

3. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita

(reading for sequence or organization)

11
Isah Cahyani, Khadija, Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, h. 99.

15
16

4. Membaca untuk menyimpulkan, dan membaca interferensi

(reading for interference)

5. Membaca untuk mengelompokkan, dan mengedintifikasi (reading

for classifiy)

6. Membaca untuk menilai, dan mengevaluasi (reading for evaluate)

7. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan

(reading to compare or contrast).12

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah agar kita

terbiasa dengan pola hidup yang mengedepankan kapasitas intelektual, nalar yang

sehat mandiri dalam mengambil keputusan, berwawasan luas, dan kaya referesnsi

dalam mengatasi masalah.

2. Membaca Pemahaman

Rubin menjelaskan bahwa membaca pemahaman adalah proses intelektual

yang kompleks yang mencakup dua kemampuan utama, yaitu kemampuan

penguasaan makna dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal. Turner

mengungkapkan bahwa seorang pembaca dikatakan memahami bacaan secara

baik apabila pembaca dapat:

a) Mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan dan mengetahui

maknanya

b) Menghubungkan makna dari pengalaman yang dimiliki dengan makna

yang ada dalam bacaan

c) Memahami seluruh makna secara kontekstual, dan

12
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahas, h. 10.

16
17

d) Membuat pertimbangan nilai isi bacaan berdasarkan pengalaman

membaca.13

Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran bahasa Arab

merupakan inti dari pola belajar, hal tersebut dapat tercermin dari aktivitas peserta

didik ketika proses pembelajaran. Pada dasarnya mata pelajaran bahasa Arab

merupakan mata pelajaran yang diharapkan dapat menjadi sarana untuk

menyalurkan bakat peserta didik dan mengembangkan kemampuan berfikir

dengan menggunakan berbagai konsep Arab, untuk menjelaskan berbagai

peristiwa alam yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Peserta didik mempunyai

kesan yang kuat bahwa pelajaran bahasa Arab merupakan pelajaran yang sulit

untuk dipahami dan kurang menarik. Sebagian besar peserta didik merasa

kesulitan ketika akan mengikuti pelajaran bahasa Arab. Salah satu penyebabnya

adalah kurang minat dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab dengan senang

hati, peserta didik merasa terpaksa atau merupakan kewajiban saja. Hal tersebut

merupakan akibat kurangnya pemahaman tentang hakikat, kemanfaatan, dan

keindahan dari bahasa Arab. 14

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai

hasil pengalaman individu dalam interaksi lingkungan. 15 Faktor-fakrot yang

mempengaruhi belajar yaitu faktor dalam diri individu dimana faktor dalam

individu menyangkut aspek jasmaniah maupun rohaniah dari individu, dan faktor

13
Nurbiana Ddhieni dkk, Metode Pengembangan Bahasa, h. 320.
14
Acep Hermawan, Metodogi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2014), h. 23.
15
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, h. 83.

17
18

lingkungan yaitu belajar dipengaruhi oleh faktor di luar diri peserta didik baik

faktor fisik maupun sosial-psikologi yang berada pada lingkungan keluarga,

sekolah, dan masyarakat. 16

Kegiatan membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan yang bertujuan

untuk mendapatkan informasi yang mendalam serta pemahaman tentang apa yang

dibaca.

3. Unsur-unsur Intrinsik Bacaan

Unsur intrinsik adalah bagian pondasi penting dalam sebuah bacaan,

yang dapat dilihat dari unsur intrinsik tersebut. Burhan Nurgianto berpendapat

bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu

sendiri, secara factual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.17

Adapun yang termasuk ke dalam unsur-unsur intrinsik yaitu:

1) Tema

Tema menurut Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro

berpendapat bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah

cerita.18 Dengan demikian tema adalah sebuah pokok pikiran dasar

sebuah cerita yang di dalamnya terkandung inti dari apa yang ingin di

sampaikan kepada pembaca.

16
[Link] dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, h. 98.
17
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjahmada Universitiy
Press, Cet VI, 2007), h. 23.
18
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 67.

18
19

2) Penokohan

Penokohan adalah cara penulis menggambarkan dan

mengembangkan karakter tokoh dalam bacaan,19 untuk memberikan

gambaran mengenai tokoh-tokoh dari perbedaan sudut pandang dan

tinjauan.

3) Alur

Alur pada hakekatnya adalah apa yang dilakukan oleh tokoh dan

peristiwa yang diterjadi dan dialami tokoh. 20 Suatu kejadian merupakan

sebuah alur cerita, yang didalamnya terdapat perkembangan kejadian

yang dapat terjadi jika terdapat konflik dlam cerita.

4) Latar

Latar adalah lingkungantemat peristiwa atau keterangan mengenai

waktu, ruang/tempat dan suasan dalam suatu cerita, yang berfungsi

sebagai pendukung alur dan perwatakan.21

Pada dasarnya latar dibutuhkan untuk mengarap tema untuk

mendapatkan cerita yang sempurna.

5) Sudut Pandang

Sudut pandang adalah visi pengarang yang dijelmakan ke dalam

pandangan tokoh-tokoh bercerita yang dibagi menjadi dua yaitu sudut

pandang pertama yang ditandai dengan pemakaian kata aku atau saya

19
Suharman dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Bogor: Yudistira, Cet.I. 2010), h. 10.
20
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 176.
21
Hariyono, Bahasa Indonesia SMP Kelas 9. (Bogor: BP, 2008), h. 130.

19
20

dan sudut pandang orang ketiga yang ditandai dengan pemakaian kata ia,

dia, nya.22

Penulis bacaan haruslah dapat menjelaskan kepada pembaca mempunyai tempat

berpijak tertentu dalam hubungannya dengan cerita.

B. Permainan KOKAMI

1. Permainan

Permaianan memberikan lingkungan kompetitif yang didalamnnya para

pelajar mengikuti aturan yang telah ditetapkan saat mereka berusaha mencapai

tujuan pendidikan yang menantang. Ini merupakan teknik yang sangat memotifasi,

terutama untuk konten yang membosankan dan repetitive. Permainan mungkin

melibatkan satu pelajar atau satu kelompok pelajar. Permainan seringkali

mengharuskan para pelajar untuk menggunakan ketrampilan menyelesaikan

masalah, kemampuan untuk menghasilkan solusi, atau memperlihatkan,

pemahaman atas konten spesifik yang mengharuskan tingkat akurasi dan efesiensi

yang tinggi.23

Dengan melakukan permainan, para siswa mulai mengenali pola yang ada

dalam situasi tertentu. Sebagai misal anak-anak kecil yang memainkan permainan

konsentrasi akan belajar mencocokan pola dan meningkatkan kemampuan

mengingat kembali mereka. Permainan bisa menantang dan menyenangkan untuk

dimainkan. Permainan juga bias memberikan pengalaman belajar yang beraneka

ragam.

22
Maryati dan Sutopo, Bahasa dan Sastra Indonesia3 Untuk SMP/MTs Kelas IX,
(Bandung: Pusat Perbukuan Depdiknas, 2009), h. 39.
23
Sharon E. Smaldino, Dkk, Instructional Technology And Media For Learning, terj. Arif
Rahman (Jakarta: Kencana, 2012). h. 39.

20
21

2. Permainan KOKAMI

Permainan KOKAMI merupakan gabungan antara media dan permainan.

Permainan KOKAMI ini menjadi salah satu alternatif, selain untuk menanamkan

pengetahuan kepada peserta didik dengan menarik dan berbekas, juga berfungsi

untuk meningkatkan minat dan perhatian peserta didik. 24 Teknik ini diperkenalkan

oleh abdul kadir, dengan teknik ini beliau meraih juara 2 lomba kreatifitas guru

tingkat SMP tahun 2003 yang diselenggarakan oleh lembaga ilmu pengetahuan

Indonesia (LIPI) permainan ini menjadi salah satu alternative metode

pembelajaran yang berfungsi untuk merangsang minat dan perhatian siswa selain

itu untuk menanamkan pengetahuan kepada siswa dengan menarik dan berbekas.25

Selanjutnya, Rini Budhiharti memaparkan untuk melakukan pembelajaran

ini, perlu disiapkan terlebih dahulu sebuah kotak berukuran 30x20x15cm, 30 buah

amplop ukuran 8x40cm dan 30 lembar kartu pesan ukuran 7,5x12,5 cm.

KOKAMI dapat dibuat secara sederhana yang fungsinya sebagai wadah tempat

amplop amplop berisi kartu pesan. Kartu pesan tersebut berisi materi pelajaran

yang ingin di sampaikan kepada siswa, diformulasikan dalam bentuk petunjuk,

pertanyaan, pemahaman gambar, bonus atau sangsi.

Kartu pesan merupakan komponen yang paling penting dalam permainan

KOKAMI karna arah kegiatan belajar mengajar tertuang di dalamnnya, agar

24
Shindy Grafina Callista, “Tekhnik Permainan Berbasis Media KOKAMI ( Kotak dan
Kartu Misterius) dalam Pembelajaran Berbicara Bahasa Perancis“. Skripsi pada UPI Bandung
2014, h. 32.
25
Rini Budiharti, “Pembelajaran IPA (Fisika) di SMP dengan Model Quantum Teaching
melalui Metode Permainan Kokami” (Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Fisika & Sains
di Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2010).

21
22

permainan menjadi lebih menarik maka kartu-kartu pesan dirancang berfariasi

dalam bentuk perintah atau bentuk lainnya.

Hamalik dalam Azhar Arsyad menyatakan bahwa pemakaian media

pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan

minat baru, membangkitkan motivasi dan ransangan kegiatan belajara, dan

bahkan membawa pengruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. 26 Salah

satu media pembelajaran yang dapat membangkitkan keinginan dan ransangan

kegiatan belajar adalah penggunaan media KOKAMI. KOKAMI merupakan

bagian dari teknik permainan yang menggunakan Kotak dan Kartu sebagai

medianya.

1. Kelebihan dan Kekurangan Media Permainan KOKAMI

Sebuah permainan adalah suatu kegiatan yang menbuat suasana menjadi

menyenangkan, apalagi jika dilakukan dalam suatu pembelajaran dalam kelas,

suatu permainan pastinya mempunyai efek pada anak-anak atau peserta didik,

yang kadang membuat anak-anak menjadi lupa tujuan positif dari permainan yang

dilakukan. Pada bukunya Sharon E. Smaldino menyatakan keuntungan dan

keterbatasan dalam suatu permainan dalam pembelajaran dikelas 27, yaitu:

a. Keuntungan

1) Keterlibatan. Para siswa terlibat dengan cepat dalam belajar melalui

permainan.

26
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Cet 17, h. 19
27
Sharon E. Smaldino, Dkk, Instructional Technology And Media For Learning, terj. Arif
Rahman (Jakarta: Kencana, 2012). h. 39-40.

22
23

2) Sesuai dengan hasil. Permainan dapat disederhanakan agar sesuai

dengan

tujuan belajar.

3) Beragam suasana. Permainan dapat digunakan dalam berbagai suasana

ruang kelas, mulai dari seluruh kelas sampai dengan individual.

4) Mendapatkan perhatian. Permainan bisa menjadi cara yang efektif

untuk

mendapatkan perhatian parah siswa untuk mempelajari topik atau

keterampilan spesifik.

b. Keterbatasan

1) Pertimbangan persaingan. Karena ada keinginan untuk menang,

permainan

bisa bersifat kompetitif, kecuali jika diawasi dengan baik.

2) Tingkat kesulitan. Siswa yang kurang bisa munkin merasa struktur

permainan terlalu cepat atau sulit bagi mereka untuk turut serta.

3) Niat yang salah arah. Tujuan belajat munkin “hilang” karena ada

keinginan untuk menang ketimbang sekedar belajar.28

2. Aturan dalam penggunaan permainan KOKAMI

Pembelajara menggunakan media KOKAMI memiliki beberapa peraturan

sebagai berikut:

a) Masing-masing terdiri atas delapan peserta didik (jika peserta didik 35

orang per kelas). Jadi terdapat lima kelompok permaianan dengan

28
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru,(Jakarta: Gaung
Persada Press Jakarta, 2012), Cet. Ke 4, h.166.

23
24

duduk menghadap ke papan tulis. Media Kokami dengan

kelengkapannya di letakkan di depan papan tulis di atas sebuah meja,

sedangkan pada papan tulis guru sudah menyiapkan sebuah tabel skor,

b) Anggota setiap kelompok diwakili seorang ketua yang dipilih oleh

guru bersama-sama peserta didik,

c) Selama permaianan berlangsung, ketua dibantu sepenuhnya oleh

anggota,

d) Ketua kelompok selain bertugas mengambil satu amplop dari dalam

kokami secara acak dan tidak boleh dilihat, juga membacakan isi

amplop dengan keras (boleh juga dibacakan anggota lain) dan harus

diperhatikan oleh seluruh anggota,

e) Kelompok lain berhak menyelesaikan tugas yang tidak dapat

diselesaikan oleh salah satu kelompok,

f) Pemenang ditentukan dari skor tertinggi dan mendapatkan bonus

berupa kartu (sticker) senyum,

g) Kelompok yang hanya mendapatkan setengah atau kurang dari

setengah jumlah skor pada setiap kartu pesan akan dikenakan sanksi.29

Dengan ketersediaan media KOKAMI sebagai teknik pembelajaran,

diharapkan dapat memberikan pengaruh besar dalam proses belajar-

mengajar.

29
[Link]
kartu,html diakses pada tanggal 12 Desember 2017 pukul 4:17

24

Anda mungkin juga menyukai