11
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Hakikat Kemampuan Membaca
Kemampuan adalah sebuah usaha untuk mengetahui dana tau memperoleh
ilmu pengetahuan. Menurut Ahmad Sutardi, pada hakikatnya keterampilan adalah
cara seseorng untuk melakukan sesuatu, sedangkan dalam KBBI, keterampilan
adalah kecakapan orang untuk memahami bahasa dalam menulis, membaca,
menyimak, atau berbicara.1 Dengan demikian keterampilan membaca adalah cara
menulis, membaca, dan menyimak atau berbicara.
Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi
secara keseluruhan.2 Kemampuan membaca ini dapat ditingkatkan dengan
penguasaan teknik-teknik membaca efesien dan efektif. Kemampuan dan
menggambarkan penguasaan seseorang dalam menguasai sebuah bacaan.
Kemampuan membaca yang baik merupakan hal yang sangat penting
dalam suatu bacaan. Dalam hal ini guru mempunyai peranan yang sangat besar
untuk mengembangkan serta meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan dalam
membaca. Berdasarakan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan kemampuan
membaca adalah bagaimana seseorang dapat memahami dengan baik apa pesan
yang disampaikan dalam bacaan itu, sehingga informasi yang diserap dapat
diungkapkan kembali dengan tepat, baik secara lisan maupun secara tulisan.
1
Dendi Sugono dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Empat,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), h 1447
2
Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efeltif dan Efesien,
(Bandung:Angkasa, 1987), h. 7.
11
12
Menurut H.G. Tarigan membaca adalah satu proses yang dilakukan serta
dipengaruhi oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan
oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.3
Menurut Razak membaca merupakan salah satu bentuk kegiatan yang
dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh pemahaman tentang sesuatu. 4
Senada dengan pendapat Tarigan, membaca adalah suatu proses yang dilakukan
serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak
disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. 5 Pendapat Dalman
membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk
menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan.6
Membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang
terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks
merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara
pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan
informasi yang tertuang dalam teks. Membaca sebagai proses merupakan semua
kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan
melalui tahapan-tahapan tertentu. Proses tersebut merupakan penyandian dan
penafsiran sandi. Kegiatan dimulai dari pengenalan huruf, kata, ungkapan, frasa,
kalimat dan wacana serta menghubungkannya dengan bunyi dan [Link]
3
Isah Cahyani, Hodijah, Kemampuan Berbahasa Indonesia di SD (Bandung: UPI Pres, cet
ke-1, 2007), h. 3.
4
Abdul Razak, Bahasa Indonesia Versi Perguruan Tinggi, h. 35.
5
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahas, h. 7.
6
Delman, Keterampilan Membaca, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 5.
12
13
pesan yang tersurat dan yang tersirat tiadak akan tertangkap atau dipahami, dan
proses membaca tidak akan terlaksana dengan baik. 7
Membaca merupakan kegiatan berfikir yang dilakukan dengan penuh
perhatian untuk memahami suatu informasi melalui indra penglihatan dalam
bentuk simbol-simbol yang rumit, yang disusun sedemikian rupa sehingga
mempunyai arti dan makna.8
Berbagai definisi tentang membaca telah dipaparkan di atas, dan dapat
disimpulkan bahwa membaca adalah kegiatan fisik atau mental, yang menuntut
seseorang untuk menginterpretasikan simbol-simbol tulisan dengan aktif dan kritis
sebagai pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan
makna tulisan dan memperoleh informasi sebagai proses tranmisi untuk
pemikaran.
Hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan
membaca, khususnya teks-teks berbahasa asing seperti dalam bahasa Arab
diantaranya:
a) Memperluas pengalaman peserta didik, sehingga dapat memahami
keadaan dan seluk-beluk kebudayaan;
b) Mengajarkan bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru.
c) Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau symbol;
d) Membantu peserta didik memahami struktur-struktur kalimat yang
tidak begitu mudah bagi peserta didik.
7
Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efeltif dan Efesien,
(Bandung:Angkasa, 1987), h. 5.
8
Dwi Sunar Prasetyono, Rahasia Mengajar Gemar Membaca pada Anak Sejak Dini, h.
57.
13
14
e) Mengajarkan keterampilan-keterampilan pemahaman (comprehension
skill).
f) Membantu pembaca untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.9
Pembelajaran saat ini cenderung memberikan porsi guru yang aktif
sedangkan peserta didik yang pasif, guru memberi sedangkan peserta didik
menerima, dan guru menjelaskan peserta didik mendengarkan. Sedemikian
lemahnya interaksi guru dan peserta didik sehingga pembelajaran belum mampu
menumbuhkan rasa keingintahuan, daya kritis, daya kreatif, daya inovasi dan
belum mampu mengaktualkan potensi peserta didik. Akibatnya, proses
pemberdayaan potensi peserta didik tidak dapat dilakukan secara optimal.
Pembelajaran lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru,
tidak ada keterbukaan dan demokrasi, tidak ada toleransi pada kekeliruan akibat
kreativitas berpikir karena yang benar adalah apa yang dipersepsikan benar oleh
guru. Hasil proses pembelajaran tidak hanya peserta didik memiliki kemampuan,
pengetahuan, keterampilan tetapi yang lebih utama adalah bagaimana peserta
didik mendapatkan pengetahuan atau keterampilan itu.10
Keberhasilan dalam belajar bahasa Arab sebagai bahasa asing tidak hanya
sekedar ertumpu pada kurikulum, akan tetapi juga pada teknik dan strategi
pembelajaran. Selain itu, terdapat 4 kemampuan berbahasa yang harus dikuasai
termasuk kemampuan membaca.
9
Nurbiana Ddhieni dkk, Metode Pengembangan Bahasa, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2008), h. 317.
10
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet 17,
2014), h. 31.
14
15
1. Tujuan membaca
Menurut Cahyani,”Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari
serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan”. Ada
beberapa tujuan membaca di antaranya:
1. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-
penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh.
2. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik
yang baik dan menarik.
3. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi
pada setiap bagian cerita.
4. Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang
tidak biasa.
5. Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh
berubah.11
Namun Tarigan berpendapat bahwa tujuan membaca di antara lain:
1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta
(reading for details offact)
2. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main of
idea)
3. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita
(reading for sequence or organization)
11
Isah Cahyani, Khadija, Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, h. 99.
15
16
4. Membaca untuk menyimpulkan, dan membaca interferensi
(reading for interference)
5. Membaca untuk mengelompokkan, dan mengedintifikasi (reading
for classifiy)
6. Membaca untuk menilai, dan mengevaluasi (reading for evaluate)
7. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan
(reading to compare or contrast).12
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah agar kita
terbiasa dengan pola hidup yang mengedepankan kapasitas intelektual, nalar yang
sehat mandiri dalam mengambil keputusan, berwawasan luas, dan kaya referesnsi
dalam mengatasi masalah.
2. Membaca Pemahaman
Rubin menjelaskan bahwa membaca pemahaman adalah proses intelektual
yang kompleks yang mencakup dua kemampuan utama, yaitu kemampuan
penguasaan makna dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal. Turner
mengungkapkan bahwa seorang pembaca dikatakan memahami bacaan secara
baik apabila pembaca dapat:
a) Mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan dan mengetahui
maknanya
b) Menghubungkan makna dari pengalaman yang dimiliki dengan makna
yang ada dalam bacaan
c) Memahami seluruh makna secara kontekstual, dan
12
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahas, h. 10.
16
17
d) Membuat pertimbangan nilai isi bacaan berdasarkan pengalaman
membaca.13
Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran bahasa Arab
merupakan inti dari pola belajar, hal tersebut dapat tercermin dari aktivitas peserta
didik ketika proses pembelajaran. Pada dasarnya mata pelajaran bahasa Arab
merupakan mata pelajaran yang diharapkan dapat menjadi sarana untuk
menyalurkan bakat peserta didik dan mengembangkan kemampuan berfikir
dengan menggunakan berbagai konsep Arab, untuk menjelaskan berbagai
peristiwa alam yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Peserta didik mempunyai
kesan yang kuat bahwa pelajaran bahasa Arab merupakan pelajaran yang sulit
untuk dipahami dan kurang menarik. Sebagian besar peserta didik merasa
kesulitan ketika akan mengikuti pelajaran bahasa Arab. Salah satu penyebabnya
adalah kurang minat dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab dengan senang
hati, peserta didik merasa terpaksa atau merupakan kewajiban saja. Hal tersebut
merupakan akibat kurangnya pemahaman tentang hakikat, kemanfaatan, dan
keindahan dari bahasa Arab. 14
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu dalam interaksi lingkungan. 15 Faktor-fakrot yang
mempengaruhi belajar yaitu faktor dalam diri individu dimana faktor dalam
individu menyangkut aspek jasmaniah maupun rohaniah dari individu, dan faktor
13
Nurbiana Ddhieni dkk, Metode Pengembangan Bahasa, h. 320.
14
Acep Hermawan, Metodogi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2014), h. 23.
15
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, h. 83.
17
18
lingkungan yaitu belajar dipengaruhi oleh faktor di luar diri peserta didik baik
faktor fisik maupun sosial-psikologi yang berada pada lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. 16
Kegiatan membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan yang bertujuan
untuk mendapatkan informasi yang mendalam serta pemahaman tentang apa yang
dibaca.
3. Unsur-unsur Intrinsik Bacaan
Unsur intrinsik adalah bagian pondasi penting dalam sebuah bacaan,
yang dapat dilihat dari unsur intrinsik tersebut. Burhan Nurgianto berpendapat
bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu
sendiri, secara factual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.17
Adapun yang termasuk ke dalam unsur-unsur intrinsik yaitu:
1) Tema
Tema menurut Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro
berpendapat bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah
cerita.18 Dengan demikian tema adalah sebuah pokok pikiran dasar
sebuah cerita yang di dalamnya terkandung inti dari apa yang ingin di
sampaikan kepada pembaca.
16
[Link] dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, h. 98.
17
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjahmada Universitiy
Press, Cet VI, 2007), h. 23.
18
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 67.
18
19
2) Penokohan
Penokohan adalah cara penulis menggambarkan dan
mengembangkan karakter tokoh dalam bacaan,19 untuk memberikan
gambaran mengenai tokoh-tokoh dari perbedaan sudut pandang dan
tinjauan.
3) Alur
Alur pada hakekatnya adalah apa yang dilakukan oleh tokoh dan
peristiwa yang diterjadi dan dialami tokoh. 20 Suatu kejadian merupakan
sebuah alur cerita, yang didalamnya terdapat perkembangan kejadian
yang dapat terjadi jika terdapat konflik dlam cerita.
4) Latar
Latar adalah lingkungantemat peristiwa atau keterangan mengenai
waktu, ruang/tempat dan suasan dalam suatu cerita, yang berfungsi
sebagai pendukung alur dan perwatakan.21
Pada dasarnya latar dibutuhkan untuk mengarap tema untuk
mendapatkan cerita yang sempurna.
5) Sudut Pandang
Sudut pandang adalah visi pengarang yang dijelmakan ke dalam
pandangan tokoh-tokoh bercerita yang dibagi menjadi dua yaitu sudut
pandang pertama yang ditandai dengan pemakaian kata aku atau saya
19
Suharman dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Bogor: Yudistira, Cet.I. 2010), h. 10.
20
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 176.
21
Hariyono, Bahasa Indonesia SMP Kelas 9. (Bogor: BP, 2008), h. 130.
19
20
dan sudut pandang orang ketiga yang ditandai dengan pemakaian kata ia,
dia, nya.22
Penulis bacaan haruslah dapat menjelaskan kepada pembaca mempunyai tempat
berpijak tertentu dalam hubungannya dengan cerita.
B. Permainan KOKAMI
1. Permainan
Permaianan memberikan lingkungan kompetitif yang didalamnnya para
pelajar mengikuti aturan yang telah ditetapkan saat mereka berusaha mencapai
tujuan pendidikan yang menantang. Ini merupakan teknik yang sangat memotifasi,
terutama untuk konten yang membosankan dan repetitive. Permainan mungkin
melibatkan satu pelajar atau satu kelompok pelajar. Permainan seringkali
mengharuskan para pelajar untuk menggunakan ketrampilan menyelesaikan
masalah, kemampuan untuk menghasilkan solusi, atau memperlihatkan,
pemahaman atas konten spesifik yang mengharuskan tingkat akurasi dan efesiensi
yang tinggi.23
Dengan melakukan permainan, para siswa mulai mengenali pola yang ada
dalam situasi tertentu. Sebagai misal anak-anak kecil yang memainkan permainan
konsentrasi akan belajar mencocokan pola dan meningkatkan kemampuan
mengingat kembali mereka. Permainan bisa menantang dan menyenangkan untuk
dimainkan. Permainan juga bias memberikan pengalaman belajar yang beraneka
ragam.
22
Maryati dan Sutopo, Bahasa dan Sastra Indonesia3 Untuk SMP/MTs Kelas IX,
(Bandung: Pusat Perbukuan Depdiknas, 2009), h. 39.
23
Sharon E. Smaldino, Dkk, Instructional Technology And Media For Learning, terj. Arif
Rahman (Jakarta: Kencana, 2012). h. 39.
20
21
2. Permainan KOKAMI
Permainan KOKAMI merupakan gabungan antara media dan permainan.
Permainan KOKAMI ini menjadi salah satu alternatif, selain untuk menanamkan
pengetahuan kepada peserta didik dengan menarik dan berbekas, juga berfungsi
untuk meningkatkan minat dan perhatian peserta didik. 24 Teknik ini diperkenalkan
oleh abdul kadir, dengan teknik ini beliau meraih juara 2 lomba kreatifitas guru
tingkat SMP tahun 2003 yang diselenggarakan oleh lembaga ilmu pengetahuan
Indonesia (LIPI) permainan ini menjadi salah satu alternative metode
pembelajaran yang berfungsi untuk merangsang minat dan perhatian siswa selain
itu untuk menanamkan pengetahuan kepada siswa dengan menarik dan berbekas.25
Selanjutnya, Rini Budhiharti memaparkan untuk melakukan pembelajaran
ini, perlu disiapkan terlebih dahulu sebuah kotak berukuran 30x20x15cm, 30 buah
amplop ukuran 8x40cm dan 30 lembar kartu pesan ukuran 7,5x12,5 cm.
KOKAMI dapat dibuat secara sederhana yang fungsinya sebagai wadah tempat
amplop amplop berisi kartu pesan. Kartu pesan tersebut berisi materi pelajaran
yang ingin di sampaikan kepada siswa, diformulasikan dalam bentuk petunjuk,
pertanyaan, pemahaman gambar, bonus atau sangsi.
Kartu pesan merupakan komponen yang paling penting dalam permainan
KOKAMI karna arah kegiatan belajar mengajar tertuang di dalamnnya, agar
24
Shindy Grafina Callista, “Tekhnik Permainan Berbasis Media KOKAMI ( Kotak dan
Kartu Misterius) dalam Pembelajaran Berbicara Bahasa Perancis“. Skripsi pada UPI Bandung
2014, h. 32.
25
Rini Budiharti, “Pembelajaran IPA (Fisika) di SMP dengan Model Quantum Teaching
melalui Metode Permainan Kokami” (Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Fisika & Sains
di Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2010).
21
22
permainan menjadi lebih menarik maka kartu-kartu pesan dirancang berfariasi
dalam bentuk perintah atau bentuk lainnya.
Hamalik dalam Azhar Arsyad menyatakan bahwa pemakaian media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan
minat baru, membangkitkan motivasi dan ransangan kegiatan belajara, dan
bahkan membawa pengruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. 26 Salah
satu media pembelajaran yang dapat membangkitkan keinginan dan ransangan
kegiatan belajar adalah penggunaan media KOKAMI. KOKAMI merupakan
bagian dari teknik permainan yang menggunakan Kotak dan Kartu sebagai
medianya.
1. Kelebihan dan Kekurangan Media Permainan KOKAMI
Sebuah permainan adalah suatu kegiatan yang menbuat suasana menjadi
menyenangkan, apalagi jika dilakukan dalam suatu pembelajaran dalam kelas,
suatu permainan pastinya mempunyai efek pada anak-anak atau peserta didik,
yang kadang membuat anak-anak menjadi lupa tujuan positif dari permainan yang
dilakukan. Pada bukunya Sharon E. Smaldino menyatakan keuntungan dan
keterbatasan dalam suatu permainan dalam pembelajaran dikelas 27, yaitu:
a. Keuntungan
1) Keterlibatan. Para siswa terlibat dengan cepat dalam belajar melalui
permainan.
26
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Cet 17, h. 19
27
Sharon E. Smaldino, Dkk, Instructional Technology And Media For Learning, terj. Arif
Rahman (Jakarta: Kencana, 2012). h. 39-40.
22
23
2) Sesuai dengan hasil. Permainan dapat disederhanakan agar sesuai
dengan
tujuan belajar.
3) Beragam suasana. Permainan dapat digunakan dalam berbagai suasana
ruang kelas, mulai dari seluruh kelas sampai dengan individual.
4) Mendapatkan perhatian. Permainan bisa menjadi cara yang efektif
untuk
mendapatkan perhatian parah siswa untuk mempelajari topik atau
keterampilan spesifik.
b. Keterbatasan
1) Pertimbangan persaingan. Karena ada keinginan untuk menang,
permainan
bisa bersifat kompetitif, kecuali jika diawasi dengan baik.
2) Tingkat kesulitan. Siswa yang kurang bisa munkin merasa struktur
permainan terlalu cepat atau sulit bagi mereka untuk turut serta.
3) Niat yang salah arah. Tujuan belajat munkin “hilang” karena ada
keinginan untuk menang ketimbang sekedar belajar.28
2. Aturan dalam penggunaan permainan KOKAMI
Pembelajara menggunakan media KOKAMI memiliki beberapa peraturan
sebagai berikut:
a) Masing-masing terdiri atas delapan peserta didik (jika peserta didik 35
orang per kelas). Jadi terdapat lima kelompok permaianan dengan
28
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru,(Jakarta: Gaung
Persada Press Jakarta, 2012), Cet. Ke 4, h.166.
23
24
duduk menghadap ke papan tulis. Media Kokami dengan
kelengkapannya di letakkan di depan papan tulis di atas sebuah meja,
sedangkan pada papan tulis guru sudah menyiapkan sebuah tabel skor,
b) Anggota setiap kelompok diwakili seorang ketua yang dipilih oleh
guru bersama-sama peserta didik,
c) Selama permaianan berlangsung, ketua dibantu sepenuhnya oleh
anggota,
d) Ketua kelompok selain bertugas mengambil satu amplop dari dalam
kokami secara acak dan tidak boleh dilihat, juga membacakan isi
amplop dengan keras (boleh juga dibacakan anggota lain) dan harus
diperhatikan oleh seluruh anggota,
e) Kelompok lain berhak menyelesaikan tugas yang tidak dapat
diselesaikan oleh salah satu kelompok,
f) Pemenang ditentukan dari skor tertinggi dan mendapatkan bonus
berupa kartu (sticker) senyum,
g) Kelompok yang hanya mendapatkan setengah atau kurang dari
setengah jumlah skor pada setiap kartu pesan akan dikenakan sanksi.29
Dengan ketersediaan media KOKAMI sebagai teknik pembelajaran,
diharapkan dapat memberikan pengaruh besar dalam proses belajar-
mengajar.
29
[Link]
kartu,html diakses pada tanggal 12 Desember 2017 pukul 4:17
24