0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

"Cinta Virtual di SMA Naya Bhakti"

Dokumen ini adalah skenario berjudul 'Virtual Love' yang menggambarkan interaksi antara Sari, seorang siswi tegas, dan Jeremy, kakak kelas yang santai dan sedikit nakal. Sari berusaha menegakkan peraturan di sekolah, sementara Jeremy mencoba menggoda dan menjahilinya, menciptakan dinamika yang menarik. Selain itu, Sari juga memiliki kehidupan virtual di mana ia berbagi keluh kesah dengan kekasih virtualnya, Wynn.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

"Cinta Virtual di SMA Naya Bhakti"

Dokumen ini adalah skenario berjudul 'Virtual Love' yang menggambarkan interaksi antara Sari, seorang siswi tegas, dan Jeremy, kakak kelas yang santai dan sedikit nakal. Sari berusaha menegakkan peraturan di sekolah, sementara Jeremy mencoba menggoda dan menjahilinya, menciptakan dinamika yang menarik. Selain itu, Sari juga memiliki kehidupan virtual di mana ia berbagi keluh kesah dengan kekasih virtualnya, Wynn.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“VIRTUAL LOVE”

Skenario Oleh

Raihanisa Rizkika Tsani

Draft 3
1

ACT 1

1. EXT. SMA NAYA BHAKTI (GERBANG SEKOLAH) – PAGI


Cast : Sari & Jeremy

Matahari pagi menyorot gerbang sekolah yang ramai


dikerumuni oleh siswa-siswi untuk pengecekan atribut.
Kini, Sari sedang sibuk mencatat nama-nama dan menegur
mereka yang tak rapi, wajah seriusnya membuat banyak
siswa segan. Namun, tiba-tiba seorang siswa muncul
dari arah luar. Jeremy, dengan seragam yang tak
sepenuhnya rapi, melangkah masuk dengan santai.

Sari
(berteriak)
“Berhenti!”

Suara Sari terdengar tegas, menghentikan


langkah Jeremy tepat di depan gerbang.

Jeremy mengangkat alis, sedikit terkejut, lalu


tersenyum miring.

Jeremy
(menatap remeh)
“Kenapa?”

Sari
“Kamu nggak boleh masuk kalau
seragamnya belum rapi.”

Ucap Sari tak kalah tegas dari sebelumnya.


2

Jeremy terkekeh, menatapnya seolah tak


percaya.
Jeremy
(separuh mengejek)
“Serius kamu mau hukum kakel kamu
sendiri?”

Sari
“Peraturan tetap peraturan. Kalau
nggak mau patuh, silakan ambil
hukuman.”

Kerumunan mulai riuh. Beberapa siswa penasaran


bagaimana Jeremy akan menanggapi. Senyumnya
tetap arogan, tapi matanya tampak menyipit
menahan gengsi.

Jeremy
“Namamu siapa?”

Sari
(ekspresi datar)
“Buat apa harus aku kasih tau?”

Untuk pertama kalinya, Jeremy benar-benar


dipermalukan di depan banyak orang oleh
seorang adik kelas.

Jeremy
“Haha, oke, oke. Santai aja dong…”
(pause)
“…Sari?”
3

ucap Jeremy sambil melirik nama yang terletak


di seragam gadis itu. Lalu, Kembali
melanjutkan obrolannya.

Jeremy
(mengulurkan tangannya)
“Kenalin, nama gue Jeremy.”
“Kakak kelas kamu.”

Sesekali Sari perhatikan tangan yang terulur


itu lalu ia menatap wajahnya Kembali.

Saras
(ketus)
“Oh? Kakak kelas ternyata?“
“Justru Kakak itu harusnya jadi
contoh. Kalau mau masuk, seragamnya
rapiin dulu, Kak.”

Beberapa siswa yang lewat memperlambat


langkah, menikmati pertengkaran kecil itu.

Meski Jeremy mencoba menantang, ia akhirnya


pasrah dan mulai merapikan seragamnya,
terkesan dengan keberanian adik kelas yang tak
mundur sedikit pun.

CUT TO
4

2. EXT. SMA NAYA BHAKTI (KANTIN SEKOLAH) – SIANG


Cast : Sari, Jeremy, dan Kohji.

Keesokan harinya, Sari sedang duduk di salah satu


bangku kosong yang tersisa di kantin sembari menunggu
kehadiran temannya, Kohji.

Namun, tak lama kemudian kehadiran Jeremy kembali


muncul dan Kembali menggoda Sari lagi.

Jeremy
(duduk di sebelah Sari)
“Eh, ketemu lagi kita.”

Namun, Senyum tengilnya kembali merekah setelah Jeremy


memulai obrolan tersebut membuat Sari menghela nafas
perlahan.

Sari
“Aku mau makan, pergi sana.”

Jeremy
(menahan tawanya)
“Pfft… Mana makanannya?”

Awalnya Sari mencoba cuek, tapi tingkahnya kini makin


membuatnya kesal.

Sari
(ketus)
“Ini aku lagi nungguin makannya
dibawain temenku.”
5

Melihat reaksi Sari yang terlihat muak itu


malah membuat Jeremy semakin senang untuk
menjahilinya.

Sampai ketika, seorang laki-laki muda berambut


poni rapi serta berseragam rapih datang
menghampiri mereka.

Kohji
(terengah-engah)
“Saa-chan!! Ini batagornya.”
“Maaf lama, tadi rame banget,”

Baru saja Kohji sampai ke tempat duduk mereka,


Sari langsung menarik tangannya untuk segera
pergi dari tempat itu.

Sari
“Kita makan ditempat lain aja, Ko!!

Kohji yang bingung hanya bisa pasrah mengikuti


Sari yang menyeretnya keluar dari kantin.

Dari kejauhan, Jeremy menatap mereka dengan


ekspresi sulit dijelaskan, namun senyum tipis
terlihat di wajahnya.

Jeremy
(menyeringai)
“Huh? Seru nih.”

CUT TO
6

3. INT. RUMAH SARI (KAMAR) – MALAM


Cast : Sari & Jeremy

Sesampainya di rumah, Sari pergi membersihkan diri,


lalu merebah di kasur untuk melepas penat setelah
seharian beraktivitas di sekolah.

Kini ia berbaring sambil menatap ponselnya. Jempolnya


bergerak cepat di atas layar, mengetik sesuatu.

Semi (TEXT)
“Aku bete banget hari ini, bad mood.”

Sari menatap layar, menunggu.


Beberapa detik berlalu, notifikasi pesan pun muncul.

Wynn (REPLY)
“Kenapa, Cantik??”
“Dateng-dateng langsung bete gini 😂”

Tak bisa dipungkiri, balasan sederhana itu berhasil


membuat sudut bibir Sari terangkat sedikit. Ia
kemudian membalas pesan itu.

Semi (TEXT)
“Ada orang di sekolah yang gangguin
aku.”
“Kakel, sih. TAPI TETEP AJA
KESELLLLLLLL 😤”

Beberapa detik kemudian, balasan pun muncul.


7

Wynn (REPLY)
“Wah?! Berani-beraninya orang itu
gangguin kamu?? Belum tau aja kamu
pacarnya siapa 😎”

Sari menggeleng pelan sambil tertawa kecil.

Semi (TEXT)
“Apasih? Tengil.”

Wynn (REPLY)
“WKWKWKW”
“Bercanda, sayaaaaanngg.”

Sudut bibirnya terangkat kembali, kini Sari merasa


lebih baik lagi setelah melaksanakan rutinitasnya ini
dengan melarikan diri ke dunia virtualnya sebagai
Semi. Di sini, ia bisa curhat tanpa takut dihakimi.

Sari menghabiskan sepanjang malam dengan percakapan


yang tak ada habisnya Bersama Wynn. Ia menceritakan
banyak hal, mulai dari keluh kesahnya di ganggu oleh
kakak kelasnya itu, tugas-tugasnya sebagai OSIS,
pekerjaan rumahnya, dan masih banyak lagi.

Bersama sosok Wynn, kekasih virtualnya yang selalu


ada, ia terus memberi dukungan yang tak ia dapat di
dunia nyata.

CUT TO
8

4. INT. RUMAH SARI – PAGI


Cast : Sari & Keluarganya

Keesokan paginya, cahaya matahari menembus tirai


kamar Sari, sekilas mengenai wajahnya yang masih
tertidur.

Alarm ponsel berbunyi pelan, tapi cukup untuk


membuatnya terbangun.

Beberapa detik kemudian, ia akhirnya duduk, rambutnya


berantakan, wajahnya masih setengah sadar. Dengan
gerakan malas, ia bangkit dari kasur dan segera
mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah.

Sari keluar dari kamar mandi dengan rambut basah,


mengenakan seragam putih abu-abu. Ia berdiri di depan
cermin, merapikan dasi dan poni yang sedikit
berantakan.

Setelah memastikan seragamnya rapi, Sari keluar dari


kamar dan menuruni beberapa anak tangga menuju lantai
satu.

Rumah Sari menyatu dengan rumah makan Chinese milik


keluarganya. Lantai satu digunakan untuk usaha,
sementara lantai dua menjadi tempat tinggal mereka.
Saat tiba di lantai satu, Sari mendapati kedua orang
tuanya sudah di sana. Ayahnya sibuk membaca koran
lama, sementara ibunya menyiapkan sarapan di dapur
terbuka tak jauh dari meja makan.
9

Sari
(menyapa sambil menuruni tangga.)
“Pagi, Pa, Ma.”

Papa Sari
(menurunkan koran)
“Pagi juga, Sayang.”

Mama Sari
(membawa menu sarapan ke meja makan)
“Udah bangun, ya? Sini sarapan dulu,
cepat ya. Mama harus buka resto
sebentar lagi.”

Sari
(terheran)
“Tumben cepet banget bukanya, Ma?”

Mama Sari
(menyapu tangan dengan celemek)
“Iya, kebetulan ada pesanan bubur
ayam sama dim sum buat acara keluarga
di kelenteng.”

Mendengar itu, Sari hanya mengangguk kecil dan


melanjutkan sarapannya tanpa menoleh. Begitu juga
Papanya.

Papa Sari
(menyuap sarapan sambil bicara santai)
“Nanti kamu berangkat sama Kohji
lagi??
10

Sari
(mengangguk)
“Iya, kayak biasa.”

Papa Sari
(menatapnya lembut)
“Ohh oke… Maaf ya belum bisa
berangkat bareng, Motor Papa masih di
bengkel.”

Sari
(tersenyum kecil)
“Gapapa kok, Pa. Santai aja,”

Mama Sari
(berteriak)
“Duhh! Kok malah ngobrol sih??”
“Sari, itu di depan udah ada Kohji.”

Dengan cepat, Sari pun menghabiskan sarapannya


dan segera berpamitan ke kedua orang tuanya.

Sesampainya di gerbang, Sari melihat Kohji


sudah menunggunya lengkap dengan sepeda
miliknya.

Kohji menoleh saat Sari mendekat, lalu


tersenyum singkat sambil menepuk jok belakang.

Kohji
(melambaikan tangan)
“Ohayou, Kaa-chan!”
“Udah siap berangkat sekolah?”
11

Sari
(tersenyum hangat)
“Pagi juga, Kokoojiii~”
“Udah, dong. Yuk berangkat.”

Sari naik ke boncengan dan menepuk bahu Kohji pelan


sebagai tanda siap berangkat. Kohji segera mengayuh
sepedanya perlahan, melewati jalanan perumahan yang
masih lengang di bawah sinar matahari pagi.

Sekolah mereka tak terlalu jauh dari rumah, hanya


beberapa tikungan dan satu jalan besar yang mulai
ramai setiap pagi.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan gerbang


sekolah yang sudah mulai ramai. Kohji menurunkan
kecepatan sepedanya, lalu berhenti di area parkir.
Sari pun turun perlahan dari boncengan.

Sari
(tersenyum singkat)
“Makasih buat tumpangannya, yaa.”

Kohji
(tertawa kecil)
“Sama-sama, Saa-chan.”

Mereka berjalan berdampingan menuju kelas masing-


masing. Beberapa siswa sempat memperhatikan, tapi
sudah menjadi rahasia umum bahwa Sari dan Kohji adalah
sahabat masa kecil yang tak terpisahkan.

CUT TO
12

SELESAI

Anda mungkin juga menyukai