0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan29 halaman

Manajemen Pendidikan Jarak Jauh Efektif

Dokumen ini membahas manajemen pendidikan jarak jauh (PJJ) yang didefinisikan sebagai program pendidikan yang memisahkan peserta didik dan pengajar dengan menggunakan media komunikasi untuk interaksi. PJJ berbasis institusi dan berbeda dari belajar otodidak, serta melibatkan pengembangan bahan ajar dan sistem pembelajaran yang relevan. Selain itu, dokumen ini menekankan pentingnya kualitas dalam pengelolaan dan evaluasi pendidikan jarak jauh untuk memastikan efektivitas dan akreditasi.

Diunggah oleh

adudangusep1878
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan29 halaman

Manajemen Pendidikan Jarak Jauh Efektif

Dokumen ini membahas manajemen pendidikan jarak jauh (PJJ) yang didefinisikan sebagai program pendidikan yang memisahkan peserta didik dan pengajar dengan menggunakan media komunikasi untuk interaksi. PJJ berbasis institusi dan berbeda dari belajar otodidak, serta melibatkan pengembangan bahan ajar dan sistem pembelajaran yang relevan. Selain itu, dokumen ini menekankan pentingnya kualitas dalam pengelolaan dan evaluasi pendidikan jarak jauh untuk memastikan efektivitas dan akreditasi.

Diunggah oleh

adudangusep1878
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MANAJEMEN PENDIDIKAN JARAK JAUH

(DISTANCE EDUCATION = DE)

Kamis, 30 Juli 2020, Jam 13.30 – 15.30 WIB


Universitas Terbuka
Definitions of DE

Many definition of distance education

a. Spector (2008, p. 5) “educational program


characterized by the separation, in time or place,
between instructor and student, and in which
communication media are used to allow interchange”
Mereka menyebut PJJ sebagai “the latest
paragdigmatic framework for its ageless mission to
help more people learn faster, better and more
affordably”.
Lanjutan

b. Simonson at all (2012, pp. 32-37).


“instution-based, formal education where the
learning group is separated, and where interactive
telecommunications system are used to connect
learners, resources, and instructors
“Distance education is about as real and actual as
education can be”
Jadi PJJ itu Mempunyai Ciri:

1. Interaksi pendidikan yang dilakukan dari jarak terpisah


antara peserta pendidikan dengan pengajar. Untuk
menjembatani keterpisahan tersebut digunakan media
komunikasi tepat guna sehingga proses pembelajaran
terjadi dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih efisien
ditinjau dari segi biaya peserta didik
2. PJJ itu berbasis institusi dan bagian dari bentuk pendidikan
formal. Disitu ada lembaga penyelenggara pendidikan.
Dengan demikian PJJ itu berbeda dengan belajar secara
otodidak yang tidak ada lembaga pendidikan yang
mengatur, tetapi dilakukan atas inisiatif sendiri oleh orang
yang ingin belajar.
Kebijakan SUPRA SYSTEM
Institusional dan
Kebijakan Pendidikan Organisasional
Nasional
yang Konsisten Perkembangan IPTEK

Dukungan
Bahan Ajar dan
Bermedia yang Layanan
Relevan Peserta Infrastruktur
Kurikulum Teknologi
yang
Relevan

Penilaian,
Peserta PJJ: Proses dan Strategi Sertifikasi, Lulusan
Perilaku Awal dan Interaksi Pembelajaran dan yang
Karakteristiknya Akreditasi Kompeten

Sistem Jaminan Fungsi Administrasif


Kualitas dan Akademik

Sistem Pembelajaran dalam PJJ


Atwi Suparman (2019)
Terminologi yang Sering Digunakan
Sebagai Salah Satu Bentuk
Delivery System dalam PJJ

E-learning : Delivery sistems yang


menggunakan semua jenis
perangkat elektronik: audio-radio,
televisi, audio/video tape,
teleconferencing, satelite
transmissions, internet, intranet,
dan standalone computer
1. Setiap peserta terkoneksi melalui
jaringan ICT/internet, intranet,
atau standalone computer dan
perangkat elektronik lain yang
sesuai pelaksanaan e-learning
2. Tersedia sejumlah fasilitator/tutor yang cukup
untuk memberikan bantuan belajar bagi
peserta didik bila mengalami kesulitan
memahami konten pendidikan, kesulitan
mengerjakan latihan, kesulitan dalam diskusi
untuk menindaklanjuti penerapan materi yang
dipelajari di lapangan pekerjaan.
3. Semakin tinggi kualitas
bahan pembelajaran e-
learning (self instructional)
semakin kecil kebutuhan
adanya tutorial online untuk
bimbingan akademik
4. Tersedia pengelola yang “siaga”pada
Lembaga Pendidikan untuk:
a. Menginisiasi dan mengkoordinasikan
komunikasi interaktif antara peserta,
tutor, pengelola.

b. Memelihara…
b. Memelihara stabilitas jaringan sarana
prasarana e-learning agar tetap “hidup”
dan berfungsi maksimal
c. Mengelola pengembangan bahan
pembelajaran baru, mengelola proses
modifikasi bahan pembelajaran jadi yang
ada di lapangan agar sesuai dengan tujuan
program pendidikan.
d. Mengelola pengembangan dan pelaksanaan
penilaian (assessment) agar valid, andal
(reliable), dan dapat digunakan (usable)
e. Mengelola pemberian insentif, penghargaan,
dan sertifikat bagi para pihak yang terlibat,
seperti : tutor, pakar/narasumber, dan lain-
lain
Fungsi-fungsi Manajemen
Pendidikan Jarak Jauh
Kegiatan Perencanaan

1. Pengembangan bahan
pembelajaran mandiri (self
instructional materials)
yang sesuai dengan
delivery system yang
digunakan (e-learning atau
konvensional).
Instructional Design for Distance Education
Simonson, M., Smaldhino, S., and Zvacek. (2015). Teaching and Learning at A Distance:
Foundations of Distance Education [Link]. IAP: Charlotte, North Carolina (p129)

Conduct Revise
Instructio- Instruction
nal Analysis

Assess
Develop Design and
Needs to Write Develop Develop Conduct
Performance and Select
Identify Assessment Instructional Formative
Instructional
Instructional Objectives Instrument Strategy Evaluation
Materials
Goal (s) of Instruction

Analyze
Learners and
Contexts Design and
Conduct
summative
Evaluation

Adapted from Dick [Link] (2001). Allyn and Bacon, Boston, MA.
Catatan: 4 tahun terakhir UT mengembangkan bahan
pembelajaran melalui R & D dengan hasil bahan
pembelajaran baru yang lebih sesuai bagi semua m peserta
didik dalam tiga bentuk delivery system :
 Fully online untuk melayani peserta didik yang punya
akses terhadap internet dan kebiasaan belajar dengan
internet
 Blended learning untuk peserta didik yang punya akses
terhadap internet dan mulai belajar melalui internet
 Konvensional untuk peserta didik yang sama sekali
tidak punya akses terhadap internet atau tidak biasa
belajar melalui internet
Pengembangan bahan pembelajaran melalui R & D ini
sangat menantang butuh sumber daya yang sangat
besar (dosen pengembang, biaya, dan jangka waktu).

Di UNJ R & D yang sama telah dimulai dan diminati


sejak 7 tahun yang lalu oleh banyak sekali dosen dan
peserta didik S3 khususnya prodi Teknologi
Pendidikan, Pendas, dan PAUD yang sedang
menyusun disertasi
Model R & D yang digunakan adalah Systems
Approach Models of Educational Research and
Development (Borg dan Gall, 2007) yang diadaptasi
dari model yang sama dengan Instructional Design of
Distance Education
2. Pengembangan bahan ujian setiap mata kuliah/
mata pelajaran/pelatihan
3. Pengembangan bahan ujian akhir setiap program
studi
4. Pengembangan sistem peluncuran pembelajaran
sesuai dengan karakteristik peserta didik (fully
online, blended, dan konvensional).
4. Pengembangan jaringan kerja dengan mitra di
kantor pusat dan di daerah.
5. Pelatihan pengelola
6. Pelatihan tutor (tatap muka dan online)
7. Bahan pelatihan pengenalan PJJ bagi calon peserta
didik dan masyarakat yang berminat.
Kegiatan Pengorganisasian

1. Kantor pusat
2. Kantor daerah dan sentra layanan belajar
3. SDM pengelola bidang akademik, administrasi,
dan keuangan di kantor pusat, daerah, dan
sentra
4. Sarana dan prasarana komunikasi untuk
pembelajaran, administrasi, dan mitra kerja
Kegiatan Pelaksanaan

1. Penyampaian bahan pembelajaran kepada peserta


didik dan tutor sesuai dengan kalender akademik
2. Interaksi pembelajaran dan sosial antara peserta
didik dan tutor
3. Interaksi layanan administrasi bagi peserta didik,
tutor, dan masyarakat
4. Penyelenggaraan tutorial, praktikum, dan ujian
5. Interaksi dengan mitra kerja dan mayarakat luas
Kegiatan Monitoring dan Evaluasi
(Assessment)

1. Ketepatan jadwal penerimaan bahan pembelajaran


oleh peserta didik
2. Ketersediaan dan kelancaran sistem komunikasi
antara peserta didik , tutor, penyelenggara, dan
mitra kerja
3. Kualitas layanan tutorial, proses belajar, dan
praktikum/praktek
3. Kualitas penyelenggaraan ujian mata kuliah dan
ujian akhir program
4. Kualitas manajemen internal di kantor pusat,
daerah, dan sentra
5. Sertifikasi dan akreditasi nasional dan internasional
dalam bidang akademik dan manajemen
6. Kualitas lulusan dalam dunia kerja
1. Pengelolaan program PJJ tidak kalah sibuk dan
rumit dari program pendidikan tatap muka biasa,
bahkan mungkin lebih sibuk. Mengapa? Karena
perbedaan sistem komunikasi dan proses interaksi
pembelajarannya yang menuntut budaya e-minded
para pihak yang berinteraksi seperti peserta,
fasilitator/tutor, pengelola pengelola pendidikan
sendiri. E-mindedness membutuhkan waktu
pengembangan dan pembudayaan yang tidak
sebentar.
2. Bila content pendidikan mempersyaratkan
keterampilan praktek (psychomotor skill atau
performance) yang acapkali dikombinasikan
dengan perilaku afektif maka harus digunakan
pertemuan tatap muka.
1. Calon pilot dalam pembelajaran terbang.
2. Calon atlet berlatih terjun payung.
3. Calon dokter berlatih membedah.
4. peserta didik belajar praktikum kimia yang
berisiko tinggi.
5. Petinju professional dalam pertandingan.
6. Atlet profesional tingkat dunia dalam
pertandingan/perlombaan.
7. Fenomena penyelenggaraan konferensi atau
pertemuan tingkat dunia.
8. Dll.
SEBAGAI SUATU SISTEM PENDIDIKAN PERLU PJJ
DAN TATAP MUKA UNTUK SALING MELENGKAPI,
TIDAK PERLU DIPERBANDINGKAN APALAGI
DIPERTENTANGKAN
Semoga KSF ini Bermanfaat

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai