HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN PROLANIS
TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK (PRB)
DI PUSKESMAS SIMPUR BANDAR LAMPUNG
SKRIPSI
Oleh
SITI SYAKILAH
22320104
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2025
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
1. Kepuasan pasien
Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting dalam menilai
kualitas pelayanan kesehatan. Kepuasan didefinisikan sebagai perasaan
senang atau kecewa yang timbul setelah membandingkan antara persepsi
terhadap kinerja pelayanan yang diterima dengan harapan sebelumnya
(Ferreira et al., 2023). Dalam konteks pelayanan kesehatan, kepuasan
pasien mencerminkan sejauh mana kebutuhan, keinginan, dan harapan
pasien dapat terpenuhi selama proses perawatan. Pasien yang merasa puas
cenderung lebih patuh terhadap pengobatan, lebih loyal terhadap fasilitas
kesehatan, serta bersedia merekomendasikan pelayanan yang diterimanya
kepada orang lain.
Menurut Alshahrani et al. (2023), kepuasan pasien dipengaruhi oleh
berbagai faktor, di antaranya aspek teknis (kompetensi tenaga kesehatan,
ketepatan diagnosis dan terapi), aspek fungsional (komunikasi, keramahan,
sikap empati), serta aspek sistem pelayanan (ketersediaan obat,
aksesibilitas, dan fasilitas fisik). Studi tersebut menunjukkan bahwa
keberhasilan pelayanan primer, termasuk Puskesmas, sangat bergantung
pada bagaimana tenaga kesehatan mampu memberikan pelayanan yang
ramah, efektif, serta mudah diakses oleh pasien.
Indikator yang umum digunakan untuk mengukur kepuasan pasien adalah
dimensi SERVQUAL, yang meliputi: tangible (fasilitas fisik, kebersihan,
kenyamanan), reliability (keandalan dalam memberikan pelayanan sesuai
standar), responsiveness (kesigapan dan kecepatan petugas dalam
membantu pasien), assurance (kompetensi dan rasa aman yang diberikan
petugas kesehatan), serta empathy (perhatian dan kepedulian personal)
(Parasuraman, Zeithaml, & Berry dalam Li et al., 2024). Dimensi ini
banyak digunakan dalam penelitian kesehatan karena mencakup aspek
teknis dan non-teknis yang dapat memengaruhi pengalaman pasien.
Penelitian meta-analisis oleh Li et al. (2024) menunjukkan bahwa
kepuasan pasien berkaitan erat dengan kualitas pelayanan tenaga
kesehatan, termasuk beban kerja dan burnout perawat. Burnout tenaga
kesehatan terbukti menurunkan mutu pelayanan, yang pada akhirnya
berdampak pada menurunnya kepuasan pasien. Hal ini menegaskan bahwa
sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam pencapaian
kepuasan pasien, selain sarana dan prasarana.
Selain itu, perkembangan layanan kesehatan yang semakin variatif juga
berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Studi oleh Kaur et al. (2022)
menemukan bahwa kepuasan pasien pada layanan telemedicine meningkat
pada aspek aksesibilitas, namun cenderung lebih rendah pada aspek empati
dan hubungan interpersonal. Hal ini menggambarkan bahwa model
layanan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasien agar kepuasan
tetap optimal.
Dalam konteks Indonesia, penelitian oleh Siregar (2024) mengungkapkan
adanya hubungan yang signifikan antara mutu pelayanan BPJS Kesehatan
dengan kepuasan pasien. Faktor yang paling dominan adalah ketersediaan
obat, kejelasan informasi dari petugas, serta sikap tenaga kesehatan.
Sementara itu, Utami (2025) melaporkan bahwa kepuasan pasien di
Puskesmas sangat dipengaruhi oleh keramahan petugas dan waktu tunggu
pelayanan. Kedua penelitian ini menunjukkan bahwa aspek komunikasi
dan aksesibilitas pelayanan menjadi faktor krusial dalam menciptakan
kepuasan pasien di layanan primer.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepuasan pasien merupakan
hasil interaksi kompleks antara pelayanan teknis, komunikasi
interpersonal, serta ketersediaan sumber daya kesehatan. Tingginya
kepuasan pasien akan mendukung keberhasilan program kesehatan,
termasuk Prolanis dan Rujuk Balik (PRB), karena pasien yang puas akan
lebih patuh menjalani terapi jangka panjang. Oleh karena itu, mengkaji
kepuasan pasien dalam pelaksanaan PRB di Puskesmas menjadi relevan
untuk memastikan keberhasilan program dalam meningkatkan kualitas
hidup penderita penyakit kronis.
2.1.2 Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis)
Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) adalah salah satu inisiatif
BPJS Kesehatan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas kondisi pasien
dengan penyakit kronis, terutama penderita diabetes mellitus tipe 2 dan
hipertensi. Program ini menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif
yang berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup
pasien serta menekan risiko komplikasi (BPJS Kesehatan, 2023).
Sasaran Prolanis adalah peserta JKN-KIS dengan penyakit kronis yang
membutuhkan pemantauan jangka panjang. Kegiatan Prolanis meliputi
konsultasi medis teratur, edukasi kesehatan, pengingat jadwal kunjungan,
kunjungan rumah, klub kesehatan, hingga pemeriksaan laboratorium
berkala (Astuti & Handayani, 2022).
Hasil penelitian Putri et al. (2023) memperlihatkan bahwa pelaksanaan
Prolanis secara konsisten mampu menurunkan tekanan darah dan kadar
gula darah pasien. Temuan serupa juga dijelaskan oleh Sihombing et al.
(2024) yang menyatakan bahwa partisipasi pasien dalam kegiatan edukasi
Prolanis berdampak positif pada kepatuhan minum obat dan peningkatan
kualitas hidup.
2.1.2 Teori Motivasi
2.1.3 Program Rujuk Balik (PRB)
Program Rujuk Balik (PRB) merupakan sistem layanan yang memfasilitasi
pasien kronis untuk memperoleh terapi berkelanjutan di fasilitas kesehatan
tingkat pertama (FKTP), setelah stabil melalui perawatan awal di rumah
sakit. Tujuan PRB adalah memastikan ketersediaan obat, mengefisienkan
biaya layanan, serta mengurangi beban rumah sakit dengan
memaksimalkan peran FKTP dalam monitoring pasien (Kemenkes RI,
2022).
Alur PRB dimulai dengan pemeriksaan dan peresepan awal di rumah sakit,
kemudian pasien dialihkan ke Puskesmas untuk mendapatkan obat secara
rutin dan pemantauan kesehatan. Fasilitas primer memiliki peran penting
dalam memberikan edukasi, tindak lanjut, serta menjaga kesinambungan
terapi (Haryanti et al., 2023).
Meskipun efektif, pelaksanaan PRB kerap menghadapi kendala. Hambatan
yang sering ditemui adalah keterlambatan distribusi obat, kurang
optimalnya koordinasi antar fasilitas kesehatan, serta rendahnya
pemahaman pasien mengenai prosedur PRB (Wulandari & Setiawan,
2024). Walaupun demikian, penelitian Saputri et al. (2023) menunjukkan
bahwa PRB mampu menekan biaya kesehatan sekaligus meningkatkan
kepuasan pasien, khususnya ketika FKTP dapat menyediakan obat dengan
tepat waktu.
Tujuan PRB
Mekanisme PRB
Peran Puskesmas dalam PRB
Kendala Pelaksanaan PRB
2.1.4 Hubungan Kepuasan Pasien dengan Pelaksanaan PRB
Kepuasan pasien merupakan indikator keberhasilan implementasi PRB.
Tingkat kepuasan yang tinggi akan mendorong pasien lebih patuh
menjalani terapi dan meningkatkan kepercayaan pada layanan kesehatan.
Faktor yang paling memengaruhi kepuasan adalah ketersediaan obat, akses
pelayanan, kecepatan petugas, serta sikap tenaga kesehatan (Alshahrani et
al., 2023).
Penelitian dalam konteks nasional mendukung hal ini. Siregar (2024)
menemukan adanya hubungan positif antara mutu layanan PRB dengan
kepuasan pasien BPJS, terutama dalam hal keterjaminan obat dan
monitoring rutin. Utami (2025) juga menambahkan bahwa keramahan
petugas serta kemudahan akses layanan berpengaruh besar terhadap
kepuasan pasien Prolanis di Puskesmas.
Selain faktor sistem, kondisi tenaga kesehatan juga memiliki dampak
signifikan. Li et al. (2024) mengungkapkan bahwa beban kerja tinggi dan
burnout perawat berdampak negatif terhadap mutu pelayanan, yang pada
akhirnya menurunkan kepuasan pasien. Oleh karena itu, pelaksanaan PRB
yang optimal tidak hanya bergantung pada mekanisme pelayanan, tetapi
juga pada kualitas sumber daya manusia yang terlibat.
Dengan demikian, semakin baik kualitas pelaksanaan PRB di Puskesmas,
semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien Prolanis. Hal ini akan
mendukung keberhasilan terapi jangka panjang dan meningkatkan kualitas
hidup pasien dengan penyakit kronis.
2.1 Penelitian Terkait
No Judul dan Penulis Metode (DSVIA) Hasil Relevansi dengan
utama penelitian ini
1 Predicotors of Cross-sectional Kepuasan pasien Mendukung teori bahwa
patients`satisfaction survey dipengaruhi akses, kepuasan pasien dalam
with primary with ketersediaan obat, PRB dipengaruhi
health care komunikasi, dan sikap kualitas layanan primer
tenaga kesehatan.
Alshahrani
Ea al.,2023)
2 Nurse burnout and Systematic review & Burnout perawat Menjelaskan pentingnya
patient satisfaction: meta-analysis menurunkan mutu SDM dalam
A systematic review pelayanan dan kepuasan meningkatkan kepuasan
& meta-analysis pasien. pasien PRB.
(Li el at., 2024)
3 Dampak Prolanis Quasi experiment Prolanis menurunkan Relevan karena Prolanis
terhadap kepatuhan (pre-post test) kadar gula darah dan menjadi dasar program
dan hasil klinis meningkatkan PRB untuk penyakit
pasien DM kepatuhan pasien. kronis.
(Putri et.,2023)
4 Efektivitas Cross-sectional PRB berhubungan Mendukung hipotesis
Program Rujuk dengan kepuasan bahwa pelaksanaaPRB
Balik terhadap pasien, terutama dari mempengaruhi
kepuasan pasien aspek ketersediaan
kepuasan pasien
BPJS obat.
prolanis.
(Saputri et al ., 2023
)
5 Hubungan mutu Cross-sectional Mutu pelayanan Menguatkan bahwa
pelayanan BPJS (ketersediaan obat, kualitas layanan PRB
dengan kepuasan informasi, sikap di FKTP memengaruhi
pasien petugas) kepuasan pasien BPJS
berhubungan
Siregar , (2024) signifikan dengan
kepuasan.
6. Gambaran Deskriptif kuantitatif Keramahan petugas dan Relevan dengan kondisi
Kepuasan pasien waktu tunggu di puskesmas tempat
pada mutu berpengaruh pada penelitian.
bpelayanaan kepuasan pasien .
puskesmas
(Utami,2025)
7 Hubungan impleme Cross-sectional Prolanis meningkatkan Mendukung bahwa Prol
ntasi Prolanis denga kepuasan pasien melalui anis meningkatkan kuali
n kepuasan pasien h edukasi dan monitoring tas hidup pasien kronis.
No Judul dan Penulis Metode (DSVIA) Hasil Relevansi dengan
utama penelitian ini
ipertensi rutin.
(Rahmawati & Dew
i, 2023)
8 Kualitas layanan Cross-sectional Kualitas layanan PRB Menjelaskan hubungan
PRB dan yang baik meningkatkan langsung PRB dengan
hubungannya kepuasan pasien dengan kepuasan pasien
dengan kepuasan diabetes di FKTP. DM
pasien diabetes
(Santoso et al.,
2024)
2.2 Kerangka Teori
Fasilitas
(ketersediaan sarana )
Pelaksanaan Tingkat Kepuasan Pasien
Tenaga Kesehatan
Program Rujuk Prolanis
(Kompetensi & Sikap )
Komunikasi Balik (PRB)
perawat-Pasien
Ketersediaan Obat
Sumber : (Sari et al.(2024)
2.2 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
PELAKSANAAN TINGKAT
PROGRAM RUJUK KEPUASAN
BALIK (PRB) PASIEN PROLANIS
2.3 Hipotesis
Hipotesis Alternatif (Ha):
Terdapat hubungan antara tingkat kepuasan pasien Prolanis dengan
pelaksanaan Program Rujuk Balik (PRB) di Puskesmas Simpur Bandar
Lampung.
Hipotesis Nol (H₀):
Tidak terdapat hubungan antara tingkat kepuasan pasien Prolanis dengan
pelaksanaan Program Rujuk Balik (PRB) di Puskesmas Simpur Bandar
Lampung.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
3.2 Waktu Dan Tempat Penelitian
3.3 Rancangan Penelitian
3.4 Subjek Penelitian
1. Populasi
2. Sampel dan cara pengambilan sample
DAFTAR PUSTAKA
lshahrani, A. M., Al-Masaud, S., & Alkhathlan, M. (2023). Predictors of patients’
satisfaction with primary health care services. BMC Primary Care, 24(1), 1–9.
[Link]
Astuti, Y., & Handayani, D. (2022). Efektivitas program pengelolaan penyakit
kronis (Prolanis) terhadap kontrol tekanan darah dan gula darah pasien. Jurnal
Keperawatan Indonesia, 25(2), 101–110. [Link]
BPJS Kesehatan. (2023). Panduan praktis pelaksanaan Program Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis). BPJS Kesehatan. [Link]
Ferreira, D. C., Marques, R. C., & Nunes, A. M. (2023). Patient satisfaction with
healthcare services and the determinants: A systematic review. Health Policy,
127(2), 169–179. [Link]
Haryanti, T., Susanto, A., & Rahmawati, D. (2023). Peran fasilitas kesehatan
tingkat pertama dalam pelaksanaan Program Rujuk Balik pasien kronis. Jurnal
Administrasi Kesehatan Indonesia, 11(1), 55–63.
[Link]
Kaur, K. N., Gupta, A., & Singh, R. (2022). Patient satisfaction for telemedicine
health services: A systematic review. Frontiers in Public Health, 10, 870112.
[Link]
Kemenkes RI. (2022). Pedoman pelaksanaan Program Rujuk Balik (PRB) bagi
peserta JKN. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
[Link]
Li, L. Z., Wong, C. K. H., & Wong, E. L. Y. (2024). Association of nurse burnout
with patient safety, patient satisfaction, and quality of care: A systematic review
and meta-analysis. JAMA Network Open, 7(2), e2356791.
[Link]
Putri, A. D., Nugroho, F., & Lestari, R. (2023). Dampak Prolanis terhadap
kepatuhan dan hasil klinis pasien diabetes mellitus. Jurnal Keperawatan Medikal
Bedah, 11(3), 215–222. [Link]
Saputri, E. D., Handoko, A., & Ningsih, R. (2023). Efektivitas Program Rujuk
Balik terhadap kepuasan pasien peserta BPJS. Jurnal Kebijakan Kesehatan
Indonesia, 12(4), 305–314. [Link]