PENGGUNAAN TANDA BACA
Dosen Pengampu:
Sipaliana, MA
Disusun oleh:
KELOMPOK 4
1. Adetya Khaalishah (2523320001)
2. Fakhrul Azizi Syukron (2523320004)
3. Isnaini Rahmawati (2523320014)
4. Meifira Raudatul Jannah (2523320010)
5. Sabila Pramudita N. KH (2523320012)
6. Suci Andini (2523320024)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI FATMAWATI SUKARNO
BENGKULU 2025
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya, makalah yang berjudul “Penggunaan Tanda Baca dalam Bahasa Indonesia” ini
dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus
sebagai sarana bagi penulis untuk menambah wawasan mengenai pentingnya penggunaan
tanda baca dalam penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam penyusunan
makalah ini, penulis berusaha menjelaskan berbagai jenis tanda baca, fungsi masing-masing
tanda baca, serta contoh penggunaannya dalam kalimat agar pembaca dapat memahami dan
menerapkannya dengan tepat.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun
penyajiannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan
demi perbaikan karya ini di masa mendatang.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan, dukungan, dan bimbingan selama proses penyusunan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah pengetahuan tentang
penggunaan tanda baca dalam Bahasa Indonesia.
BAB I
PENGGUNAAN TANDA BACA
A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
Mereka duduk di sana.
Dia akan datang pada pertemuan itu.
2. Tanda titik digunakan untuk mengakhiri pernyataan lengkap yang diikuti
perincian berupa kalimat baru, paragraf baru, atau subjudul baru.
Misalnya:
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh bahasa standar dan
nonstandar, ratusan bahasa daerah, dan ditambah beberapa bahasa asing
membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar lebih
jelas, latar belakang dan masalah akan diuraikan secara terpisah seperti tampak
pada paparan berikut.
1. Latar Belakang
Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap yang
beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu (1) sangat
bangga terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap bahasa daerah, dan
(3) sangat bangga terhadap bahasa Indonesia.
2. Masalah
Penelitian ini hanya membatasi masalah pada sikap bahasa masyarakat
Kalimantan terhadap bahasa-bahasa yang ada di Indonesia. Sikap masyarakat
tersebut akan digunakan sebagai formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang
diambil.
3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sikap bahasa
masyarakat Kalimantan, khususnya yang tinggal di kota besar, terhadap
bahasa-bahasa yang ada di Indonesia.
3. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu daftar, perincian,
tabel, atau bagan.
a). Contoh Penggunaan Tanda Titik dalam Daftar
1. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan
2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
b). Contoh Penggunaan Tanda Titik dalam Perincian
[Link] Umum
[Link] Khusus
4. Tanda titik tidak digunakan di belakang angka terakhir pada deret
nomor dalam perincian.
Misalnya:
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Bahasa
2.1.1 Fonologi
2.1.2 Morfologi
2.2.3 Sintaksis
2.2 Sastra
2.2.1 Puisi
2.2.2 Prosa
2.2.3 Drama
BAB II
KERANGKA TEORI
II.A Bahasa
II.A.1 Fonologi
II.A.2 Morfologi
II.A.3 Sintaksis
II.B Sastra
II.B.1 Puisi
II.B.2Prosa
II.B.3Drama
5. Tanda titik tidak digunakan pada angka atau huruf yang sudah
bertanda kurung dalam perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1). bahasa nasional yang berfungsi sebagai, antara lain,
a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional,
c) alat pemersatu bangsa, dan
d) sarana perhubungan antarwarga, antardaerah, dan
antarbudaya;
2) bahasa negara
6. Tanda titik tidak digunakan di belakang angka terakhir, baik satu digit maupun
lebih, dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar. Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
Bagan 2 StrukturOrganisasi
Bagan 2.1 Bagian Umum
Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia
Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia
Gambar 1 Gedung Cakrawala
Gambar 1.1 Ruang Rapa
7. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:
pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 am (30 detik)
8. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.
9. Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1998 di Bandung.
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V), halaman
1553.
Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
Dia diangkat sebagai PNS dengan NIP 199701112015041002.
10. Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul dan subjudul.
Misalnya:
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I, UUD 1945)
Gambar 3 Alat Ucap Manusia
Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan
11. Tanda titik tidak digunakan di belakang alamat penerima surat serta tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Rahmat Hidayat, S.T.
Jalan Sumbawa I/18
Sumurbandung
Bandung
Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
12 Oktober 2021
Jakarta, 12 Oktober 2021 (tanpa alamat lengkap pada kop surat)
B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam perincian berupa kata, frasa,
atau bilangan.
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang mewah lagi. Buku, majalah,
dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Pelamar harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.
Satu, dua, ... tiga!
2. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi melainkan, dan
sedangkan, dalam kalimat majemuk pertentangan. Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.
3. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk
kalimat.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.
4. Tanda koma tidak digunakan jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
5. Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan
penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan
demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di
luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, dia berhasil menjadi penulis
terkenal.
Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi
sarjana.
6. Tanda koma digunakan sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah,
aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan kuliahmu selesai?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.
7. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."
"Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia adalah
makhluk sosial."
8. Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang diakhiri
tanda tanya atau tanda seru dari bagian kalimat yang mengikutinya.
Misalnya:
"Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah.
"Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya.
"Wow, indahnya pantai ini!" seru wisatawan itu.
9. Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c)
tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Rahmat Hidayat, Jalan Sumbawa I/18, Kelurahan Merdeka, Kecamatan
Sumurbandung, Bandung 40113
Direktur Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jl. Pangeran Diponegoro No. 71,
Jakarta 10430
Surabaya, 10 Mei 1960
Sofifi, Maluku Utara
10. Tanda koma digunakan sesudah salam pembuka (seperti dengan hormat atau
salam sejahtera), salam penutup (seperti salam takzim atau hormat kami), dan nama
jabatan penanda tangan surat.
Misalnya:
Dengan hormat,
Salam sejahtera,
Salam takzim,
Hormat kami,
Kepala Badan,
Rektor,
a.n. Kepala Badan
Sekretaris Badan,
(tanda tangan)
Hurip Danu Ismadi
NIP 196110051988031002
[Link] koma digunakan di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, nama keluarga, atau
nama marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, [Link].
Siti Aminah, S.H., M.H.
Dr. dr. Rahayu Ningtyas, Sp.A., [Link].(K).
Prof. Dr. Muh. Muhlis, S.E., M.A., Ph.D.
Catatan:
a. Bandingkan Siti Khadijah, M.A. (Siti Khadijah, Master of Arts) dengan
Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).
b. Spasi digunakan untuk memisahkan unsur nama dan singkatannya
serta antargelar dan singkatannya.
12. Tanda koma digunakan sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750,00
13. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan
aposisi.
Misalnya:
Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tambang yang belum diolah.
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti pelatihan paduan
suara.
Soekarno, Presiden I Republik Indonesia, merupakan salah seorang pendiri Gerakan
Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib
menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari.
Bandingkan dengan keterangan pewatas yang penggunaannya tidak diapit tanda
koma!
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa tes.
14. Tanda koma dapat digunakan di belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat untuk menghindari salah pengertian.
Misalnya:
Dalam pengembangan bahasa Indonesia, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan kalimat berikut.
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.
C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
Kerbau melenguh; kambing mengembik; kuda meringkik.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; ibu menulis makalah; adik membaca cerita
pendek.
2. Tanda titik koma digunakan pada bagian perincian yang berupa frasa verbal.
Misalnya:
Syarat mengikuti ujian penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
3. Repulik Indonesia.
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian perincian dalam
kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; serta pisang, apel,
dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja;
serta
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.
4th Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan sumber-sumber kutipan.
Misalnya:
Kasus perencanaan bahasa di Indonesia dianggap sebagai salah satu yang paling
berhasil (Fishman, 1974; Moeliono, 1985; Samuel, 2008; Wardhaugh dan Fuller,
2015).
Tentang plagiarisme, para penulis (Keraf, 1997; Putra, 2011; Wibowo, 2013)
sama-sama mengingatkan pentingnya pengutipan dan perujukan secara cermat
untuk menghindari cap plagiat.
D. Tanda Titik Dua (:)
1 Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang langsung
diikuti perincian atau penjelasan.
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari. Saya akan
membeli alat tulis kantor: kertas, tinta, spidol, dan pensil.
Ke-2 Tanda titik dua tidak digunakan jika perincian atau penjelasan itu merupakan
bagian dari kalimat lengkap.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.
3. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau frasa yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua : Ahmad Wijaya
Wakil Ketua : Deni Simanjuntak
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi
b. Narasumber : Prof. Dr. Saputra Effendi
Pemandu : Abdul Gani, [Link].
Pencatat : Sri Astuti Amelia, [Link].
4. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : "Bawa koper ini, Nak!"
Amir : "Baik, Bu."
Ibu : "Jangan lupa, letakkan baik-baik!"
5. Tanda titik dua digunakan di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan
ayat dalam kitab suci, serta (c) judul dan anak judul suatu karangan.
Misalnya:
Ultimart 5 (2): 98105
Surah Ibrahim: 25
Matius 2: 13
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Mastera
6. Tanda titik dua dapat digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:
Pukul 01:35:20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01:35:20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00:20:30 jam (20 menit, 30 detik)
00:00:30 jam (30 detik)
Catatan:
Lihat penggunaan tanda titik (kaidah A, butir 7)!
7. Tanda titik dua digunakan untuk menuliskan rasio dan hal lain yang menyatakan
perbandingan dalam bentuk angka.
Misalnya:
Skala peta ini 1:10.000.
Jumlah peserta didik laki-laki dan perempuan di kelas itu adalah 2:3.
E. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung digunakan untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh
pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru.
Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
Parut jenis ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
[Link] hubung digunakan untuk menyambung unsur bentuk ulang.
Misalnya:
anai-anai
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek
3. Tanda hubung digunakan untuk (a) menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang
dinyatakan dengan angka, (b) menyambung huruf dalam kata yang dieja satu demi
satu, dan (c) menyatakan skor pertandingan.
Misalnya:
11-11-2022
p-a-n-i-t-i-a
2-1
4. Tanda hubung digunakan untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
meng-urus (merawat; memelihara; mengatur)
dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
23∕25 (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)
mesin hitung-tangan (mesin untuk menghitung tangan)
Bandingkan dengan contoh di bawah ini!
be-revolusi
me-ngurus (menjadi kurus)
dua-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)
20 3∕25 (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)
mesin-hitung tangan (mesin hitung manual yang dioperasikan dengan tangan)
5. Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan unsur yang berbeda, yaitu di antara
huruf kapital dan nonkapital serta di antara huruf dan angka.
Misalnya:
se-Indonesia
peringkat ke-2
tahun 2000-an
hari-H
ber-KTP
di-SK-kan
ciptaan-Nya
6. Tanda hubung tidak digunakan di antara huruf dan angka jika angka tersebut
melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
BP2MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia)
P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
7. Tanda hubung digunakan untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur
bahasa daerah, bahasa asing, atau slang.
Misalnya:
di-slepet 'dijepret' (bahasa Betawi)
ber-pariban 'bersaudara sepupu' (bahasa Batak)
mem-back up 'menyokong; membantu' (bahasa Inggris)
di-tafṣīl 'dijelaskan' (bahasa Arab)
di-bokisin 'dibohongi' (slang)
8. Tanda hubung digunakan untuk menandai imbuhan atau bentuk terikat yang
menjadi objek bahasan.
Misalnya:
Imbuhan pe- pada pekerja bermakna 'orang yang' atau 'pelaku'.
Bentuk terikat pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
Bentuk terikat -anda (-nda atau -da) terdapat pada kata seperti
ayahanda, ibunda, dan pamanda.
9. Tanda hubung digunakan untuk menandai dua unsur yang merupakan satu kesatuan.
Misalnya:
suami-istri
Soekarno-Hatta
F. Tanda Pisah ()
[Link] pisah dapat digunakan untuk mengapit keterangan atau
penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itusaya yakin akan tercapaidiperjuangkan oleh bangsa itu
sendiri.
Keberhasilan itukita sependapatdapat dicapai jika kita mau berusaha keras.
2. Tanda pisah dapat digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang
merupakan bagian utama kalimat dan dapat saling menggantikan dengan bagian yang
dijelaskan.
Misalnya:
Soekarno-HattaProklamator Kemerdekaan RIdiabadikan menjadi nama jalan di
beberapa kota di Indonesia.
Rangkaian temuan inievolusi, teori kenisbian, dan pembelahan atom telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesiaamanat Sumpah Pemuda harus terus
digelorakan.
3. Tanda pisah digunakan di antara dua bilangan, tanggal (hari, bulan, tahun), atau
tempat yang berarti 'sampai dengan' atau 'sampai ke'.
Misalnya:
Tahun 20192022
Tanggal 510 April 2022
SeninJumat
JakartaBandung
G. Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya digunakan di akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
Siapa pencipta lagu "Indonesia Raya"?
2. Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
yang diragukan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.
H. Tanda Seru (!)
Tanda seru digunakan untuk mengakhiri ungkapan yang menggambarkan kekaguman,
kesungguhan, emosi yang kuat, seruan, atau perintah.
Misalnya:
Alangkah indahnya Taman Laut Bunaken! Saya tidak melakukannya!
Merdeka!
Hai!
Bayarlah pajak tepat waktu!
I. Tanda Elipsis (...)
[Link] elipsis digunakan untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau
kutipan ada bagian yang dihilangkan atau tidak disebutkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan
bahwa bahasa negara ialah ....
..., lain lubuk lain ikannya.
2. Tanda elipsis digunakan untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya:
"Menurut saya, ..., seperti .... Bagaimana, Bu?"
"Jadi, simpulannya .... Oh, sudah saatnya kita beristirahat!"
3. Tanda elipsis digunakan untuk menandai jeda dalam tuturan yang dituliskan.
Misalnya:
Maju ... jalan!
Kamera ... siap!
Satu, dua, ... tiga!
4. Tanda elipsis di akhir kalimat diikuti dengan tanda baca akhir kalimat
berupa tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
Misalnya:
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan
bahwa bahasa negara ialah ....
"Jadi, mengapa selama ini dia bekerja sebagai ...?"
"Pergi dari sini jika kamu ...!"
J. Tanda Petik ("...")
1. Tanda petik digunakan untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
"Merdeka atau mati!" seru Bung Tomo dalam pidatonya.
"Kerjakan tugas ini sekarang," perintah atasannya, "karena besok akan dibahas dalam
rapat!"
Menurut Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan."
2. Tanda petik digunakan untuk mengapit judul puisi, judul lagu, judul artikel, judul
naskah, judul bab buku, judul pidato/khotbah, atau tema/subtema yang terdapat di
dalam kalimat.
Misalnya:
Puisi "Pahlawanku" terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah, kita menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"!
Saya sedang membaca "Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia" dalam
buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
Makalah "Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif" menarik perhatian peserta seminar.
Perhatikan "Hubungan Antarklausa" dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Ceramah subuh minggu lalu di Masjid Istiqlal berjudul "Hikmah dan Tujuan Berpuasa
Ramadan".
Kongres Bahasa Indonesia XI bertema "Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia".
[Link] petik digunakan untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata
yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
"Peladen" komputer ini sudah tidak berfungsi. Dilarang memberikan "amplop" kepada
petugas!
K. Tanda Petik Tunggal ('…')
1. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan yang terdapat
dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
"Kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang!', dan rasa letihku lenyap
seketika," ujar Pak Hamdan.
"Kita bangga karena lagu 'Indonesia Raya' berkumandang di
arena Asian Games," kata Ketua KONI.
2. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, padanan, atau
penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat 'yang digugat'
retina 'dinding mata sebelah dalam'
noken 'tas khas Papua'
tadulako 'panglima'
marsiadap ari 'saling membantu'
tuah sakato 'sepakat untuk manfaat bersama'
self quarantine 'karantina mandiri'
lockdown 'karantina wilayah'
marhūn bih 'utang' atau 'pinjaman'
L. Tanda Kurung ((…))
1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan tambahan,
seperti singkatan atau padanan kata asing.
Misalnya:
Bahasa Indonesia mempunyai tes standar yang disebut Uji Kemahiran
Berbahasa Indonesia (UKBI).
Banyak pemengaruh (influencer) yang mendapat apresiasi karena konten yang
membangun.
2. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan
yang bukan bagian utama kalimat.
Misalnya:
Puisi Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di
Bali) ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru
pasar dalam negeri.
3. Tanda kurung digunakan untuk mengapit kata yang keberadaannya di dalam teks
dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya:
Dia berangkat ke kantor dengan (bus) Transjakarta.
Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
4. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau angka sebagai penanda
perincian yang ditulis ke samping atau ke bawah di dalam kalimat.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan tenaga kerja.
Pelamar harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) daftar riwayat hidup,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.
M. Tanda Kurung Siku ([…])
1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau
kekurangan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah
bahasa Indonesia.
Peringatan [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan
secara khidmat.
2. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterangan dalam
kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
1. Menambahkan keterangan atau penjelasan dalam kutipan:
> “Ia berkata bahwa [perjuangan itu] tidak akan sia-sia.”
(Penulis menambahkan keterangan untuk memperjelas maksud kutipan.)
2. Menunjukkan bagian yang diubah atau disisipkan dalam kutipan:
> “Menurutnya, mereka [para pemuda] harus berani bertindak.”
N. Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring digunakan dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan
penandaan masa 1 tahun yang terbagi dalam 2 tahun takwim.
Misalnya:
Nomor: 7/PK/II/2022
Jalan Kramat III/10
2. Tanda garis miring digunakan sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Misalnya:
Semua organisasi harus memiliki AD/ART.
'Semua organisasi harus memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.'
Dalam susunan kepanitiaan dia tercatat sebagai ketua/anggota.
'Dalam susunan kepanitiaan dia tercatat sebagai ketua dan anggota.'
Pilih salah satu moda transportasi darat/laut!
'Pilih salah satu moda transportasi darat atau laut!'
Yang harus mengambil rapor adalah orang tua/wali peserta didik masing-masing.
'Yang harus mengambil rapor adalah orang tua atau wali peserta didik masing-
masing.'
Buku dan/atau majalah dapat dijadikan sumber rujukan.
'Buku dan majalah atau buku atau majalah dapat dijadikan sumber rujukan.'
Staf yang berhalangan hadir diwajibkan mengganti hari dan/atau bertukar jadwal
dengan staf lain.
Harga kain itu Rp75.000,00/meter.
'Harga kain itu Rp75.000,00 setiap meter.'
Kecepatan mobil ini dapat mencapai 150 km/jam.
'Kecepatan mobil ini dapat mencapai 150 km setiap jam.'
3. Tanda garis miring dapat digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau
kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau
kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.
Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.
Maka adalah seorang/-orang/raja di dalam Bidakara.
Syahdan, /maka/ beberapa dipersembahkan oleh segala wazir /perdana menteri/ yang
besar-besar kepada baginda.
Jika demikian, /itu dan/ marilah, kita mufakat dan musyawarah.
O. Tanda Apostrof (’)
Tanda apostrof dapat digunakan untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau
bagian angka tahun dalam konteks tertentu.
Misalnya:
Dia ’kan kusurati. (’kan = akan)
Malam ’lah tiba. (’lah = telah)
Diriku s’lalu dimanja. (s’lalu = selalu)
5-2-’21 (’21 = 2021)
Catatan:
Penggunaan tanda apostrof ini lazim dalam ragam nonstandar.