BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak. Peran orangtua
mendidik anaknya sebagian besar dilakukan di rumah. Kegiatan itu semuanya
dilakukan berupa pengajaran. Bentuk penyajian yang dilakukan orangtua ialah
melalui pembiasaan, pemberian contoh, dorongan, hadiah, pujian, dan hukuman.
Sedangkan materi pendidikan dalam keluarga yang diberikan oleh orang tua
kepada anak mencakup seluruh aspek baik aqidah, ibadah, dan akhlak serta cara
bermuamalah. Salah satu peran orangtua dalam keluarga adalah membimbing
anak membaca Al-Qur’an.1
Peran orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an pada anak di
lingkungan ada dua bentuk, yaitu: motivasi dan dukungan belajar. Motivasi
dimaksud menurut Singgih Dirgagunarsa adalah dorongan atau kehendak yang
menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar seseorang itu berbuat atau
bertindak dengan perkataan lain bertingkah laku, karena tingkah laku tersebut
dilatarbelakangi oleh motivasi.2
Anak dalam pandangan Islam adalah karunia dan amanah yang Allah
swt. berikan kepada kita, keberhasilan pendidikan anak tidak akan pernah hilang
dan terlepas dari tanggung jawab orangtua. Pendidikan merupakan hal yang
sangat penting dalam kehidupan. Bukan saja sangat penting bahkan masalah
1
Suharsono, Mencerdaskan Anak, (Depokk: Insiasi Press, 2004), h. 211.
2
Singgih Dirgagunarsa, Pengantar Psikologi, (Jakarta: Mutiara, 1978), h. 92.
1
2
pendidikan itu sama sekali tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, baik dalam
kehidupan bangsa dan negara, maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar
ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara tersebut.
Orang tua dalam kehidupan sehari-hari, baik mau secara sadar ataupun
tidak sadar, telah atau akan memberikan contoh baik atau tidak kepada anaknya.
Misalnya, meminta tolong kepada anak dengan mengancam, tidak mau
mendengarkan cerita anak tentang suatu hal sedang dihadapinya, memberi nasehat
kepada anaknya tidak pada tempatnya, berkata kasar, orangtua terlalu
mementingkan diri sendiri, membeda-bedakan sikap anatara anak yang satu
dengan yang lainnya bahkan dengan teman-temannya, kurang memberikan
kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu dan sebagainya.
Sikap dan tingkah laku dari beberapa contoh yang dilakukan di atas
berimplikasi negatif terhadap perkembangan anak. Anak telah belajar banyak hal
dari orang tuanya. Anak belum memiliki kemampuan untuk menilai, apakah yang
diberikan oleh orangtuanya itu termasuk sikap atau perilaku yang baik atau buruk.
Inti dari sikap tersebut adalah anak telah belajar banyak hal dari sikap dan
perilaku yang didemonstrasikan oleh orangtuanya dalam kehidupannya sehari-
hari. Efek negatif dari sikap dan perilaku orangtua yang demikian terhadap
anaknya, akan menumbuhkan sifat keras hati, keras kepala, manja, pendusta,
pemalu dan pemalas. Sifat-sifat tersebut menjadi rintangan dalam pendidikan anak
pada tahap selanjutnya.3
3
Syaiful Bahri Djamarahh, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga,
(Jakarta: Renika Cipta, 2004), h. 24-26.
3
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah “Golden Age” atau
masa keemasan.4 Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa
peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Perkembangan setiap
anak tidak sama karena setiap individu memiliki pendidikan dasar, terutama pada
usia 0-6 tahun merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahap
manusia yang akan menentukan perkembangan.
Anak usia dini berada dalam proses perkembangan, sebagai perubahan
yang dialami oleh setiap manusia secara individual. Perkembangan kemampuan
berpikir anak usia 0-4 tahun mencapai 50%, pada usia 8 tahun mencapai 30%, dan
sisanya 20% akan dicapai pada usia 18 tahun. Dengan demikian pada usia 0-4
tahun merupakan saat-saat yang penting. 5 Berdasarkan data tersebut, maka para
pendidik, perlu memperhatikan pendidikan pada usia dini. Para pendidik seperti
orangtua, guru, dan masyarakat perlu menjaga, mendukung, mendidik, dan
menumbuhkan perkembangan anak. Orangtua perlu melatih kemampuan fisik,
kemampuan berpikir termasuk mengembangkan imajinasi anak maupun
kemampuan bergaul, sehingga dapat merangsang rasa ingin tahu anak dapat
dilakukan dengan mengajak jalan-jalan, melihat gambar, membaca dongeng atau
cerita, dan cara lain yang bisa mengembangkan imajinasinya.
Peran aktif orangtua terhadap perkembangan anak-anaknya sangat
diperlukan terutama pada saat mereka masih berada di bawah usia lima tahun.
Peran aktif orangtua merupakan usaha secara langsung terhadap anak dan peran
4
Hery Noegroho, Masa itu Tergantung yang Dibetikan Usia Dini, (Bandung: Wacana
Ilmu, 2006), h. 13.
5
Baharuddin, Psikologi Pendidikan, (Yogjakarta: Ar-Ruz Media, 2007), h. 120.
4
lain yang penting menciptakan lingkungan rumah sebagai lingkungan sosial yang
pertama dijumpai anak.6
Peran orangtua dalam lingkungan keluarga sangat penting, oleh karena
itu dalam lingkungan keluarga seorang anak mula-mula memperoleh bimbingan
dan pendidikan dari orangtuanya. Tanggung jawab orangtua tidak boleh
dilimpahkan sepenuhnya kepada orang lain, walaupun anak-anak sudah memasuki
usia sekolah. Orangtua merupakan peletak dasar pembentukkan kepribadian dan
kecerdasan anak yang berpengaruh pada masa depannya.
Pendidikan dalam lingkungan keluarga bukan berpangkal tolak dari
kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan
karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami
membangun situasi dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik
antara orangtua dan anak.
Pendidikan Al-Qur’an merupakan pendidikan paling mulia yang
diberikan oleh orangtua kepada anak. Pendidikan Al-Qur’an merupakan landasan
agama Islam yang paling asasi dan hakiki. Pendidikan Al-Qur’an pada anak akan
memberikan keberkahan kepada orang tua. Pendidikan Al-Qur’an pada anak
termasuk bagian dari menjunjung tinggi supremasi nilai-nilai spritualisme Islam.7
Pendidikan Al-Qur’an adalah pembelajaran yang mengenalkan dan
menanamkan kepada anak sejak dini tentang Al-Qur’an. Pembelajaran Al-Qur’an
pada anak usia dini adalah sebuah pembelajaran yang didesain sedemikian rupa
6
Diana Mutiah, Psikologi Bermain Anak Usia Dini, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2010) , hal. 86.
7
Ahmad Syarifuddin. Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai al-Qur’an
(Jakarta : Gema Inswani, 2004), h. 67.
5
guna membentuk karakter anak didik yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, yang
bertaqwa pada Rabb-Nya, yang cerdas dan memiliki keterampilan siswa yang
berkarakter namun beriman kepada Allah swt.8 Pendidikan Al-Qur’an yang
diperkenalkan sejak dini kepada anak akan membentuk anak yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah swt. Penanaman sejak dini tentang mencintai dan
mengamalkan Al-Qur’an akan berdampak sangat bagus untuk anak di masa
depannya.
Muhammad Nur Abdul Hafidz menegaskan bahwa memperkenalkan
bacaan Al-Qur’an pada anak akan merasakan pengaruh besar. Secara tidak
langsung penanaman ruh Al-Qur’an berlangsung di dalam jiwanya. Pola
pendidikan anak dan indra lainnya terarahkan pada pola yang terdapat dalam Al-
Qur’an secara perlahan-lahan pula anak akan mulai terikat dengan segala apa yang
tersirat dalam Al-Qur’an itu.9
Orangtua hendaknya dapat memberikan perhatian kepada anak-anak
dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar. Meskipun
orangtua telah menyerahkan anak untuk memperoleh pendidikan melalui lembaga
sekolah. Karena orangtua memiliki urgensi dalam pendidikan anak. Maka peran
orangtua dengan sendirinya menjadi pendidik, pengajar, dan pembimbing bagi
anak-anak di rumah.
Orangtua memiliki kewajiban dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an
kepada anak. Karena selama orangtua belum menunaikan kewajiban ini kepada
8
Nur Komariah, Kurikulum Berbasis Al-Qur’an (KBQ). Jurnal AL-AFKAR,Universitas
Islam Indragiri. No. 1 th. III April 2015.
9
Muhammad Nur abdul Hafidz. Mendidik Anak Bersama Rasulullah saw. Terjemahan
Kuswandani dkk (Bandun: Al-Bayan, 1997), h. 138.
6
anak, maka anak belum memperoleh hak yang sesungguhnya dalam proses
pendidikan.
Berdasarkan obsevasi awal di Gampong Dalam, peneliti menemukan
bahwa setiap orangtua memiliki cara tersendiri dalam memperkenalkan bacaan
Al-Qur’an kepada anaknya. Contohnya salah seorang orangtua dalam
memperkenalkan bacaan Al-Qur’an kepada anaknya setelah shalat maghrib setiap
harinya. Setiap orangtua melakukan cara ini agar dapat diterima oleh anaknya
dengan baik. Peneliti juga menemukan contoh lainnya yaitu salah seorang
orangtua memasukkan anaknya ke TPA/TPQ karena orangtua beranggapan anak
akan lebih cepat memahami bacaan Al-Qur’an dan orangtua akan mengulang
kembali apa yang telah dipelajari anaknya ketika di rumah. Ada juga orangtua
memperkenalkan bacaan Al-Qur’an pada anaknya pada waktu senggang karena
kesibukkan mereka dalam mencari nafkah.10
Kajian terdahulu telah dilakukan oleh Refiena Nurluthfyani dengan judul
“Peran Orang Tua dalam Literasi Al-Qur’an pada Anak Usia Dini di TPA Al
Falaah Mrican [Link]” menyatakan bahwa orang tua menjadi teladan
bagi anak, membimbing dalam kegiatan belajar, memberikan dukungan secara
moril dan materil dalam kegiatan belajar. Kemudian pada metodologinya
penelitian Refiena menggunakan metodologi deskriptif kualitatif, memilih sampel
secara acak, dan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan
dokumentasi.11 Senada dengan itu Nurhayati dalam kajiannya “Peran Orang Tua
10
Hasil Observasi Awal, 25 Februari 2021.
11
Refiena Nurluthfyani, Jurnal: Peran Orang Tua dalam Literasi Al-Qur’an pada Anak
Usia Dini di TPA Al-Falaah Mrican [Link], Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, Edisi
Volume 8 Nomor 3 tahun 2019.
7
Menumbuhkan Minat Baca Al-Qur’an di Desa Lamdom Kecamatan Lueng Bata
Banda Aceh” menyatakan bahwa orangtua dalam menumbuhkan minat anak baca
Al-Qur’an, yang pengajaran Al-Qur’an pada anak tersebut dilakukan melalui
motivasi, bimbingan belajar. Selanjutnya strategi orang tua dalam mendidik anak
dengan cara melaksakan fungsi sosialisasi berarti orang tua memiliki kedudukan
sebagai penghubung anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial, dan
membutuhkan fasilitas yang memadai.12
Berdasarkan penelitian di atas dapat dinyatakan bahwa ada persamaan
dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti kaji. Penelitian sama-sama
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif sedangkan
perbedaannya yaitu penelitian ini melihat peran orang tua dalam
memperkenalkan bacaan Al-Qur’an agar dapat membedakan bunyi tiap
pengucapan huruf hijaiyah. Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia dini (5-6
tahun). Sementara kajian sebelumnya fokus pada peran orangtua dalam
meningkatkan minat baca Al-Qur’an anak. Subjek dalam penelitian terdahulu
adalah anak usia (6-13 tahun).
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
yang berjudul “Peran OrangTua dalam Memperkenalkan Bacaan Al-Qur’an
pada Anak Usia Dini di Gampong Dalam Kecamatan Samadua Kabupaten
Aceh Selatan”.
B. Rumusan Masalah
12
Nurhayati, Jurnal: Peran Orang Tua Menumbuhkan Minat Baca Al-Qur’an di Desa
Lamdom Kecamatan Lueng Bata Kabupaten Banda Aceh, Jurnal Studi Pemikiran, Riset dan
Pengembangan Pendidikan Islam, Volume 5 Nomor 1 tahun 2017.
8
Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas maka dapat dinyatakan
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peran orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an
pada anak usia dini di Gampong Dalam Kecamatan Samadua Aceh
Selatan?
2. Apa saja kendala orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an pada
anak usia dini di Gampong Dalam Kecamatan Samadua Aceh Selatan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin diperoleh
peneliti dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peran orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-
Qur’an pada anak usia dini di Gampong Dalam Kecamatan Samadua Aceh
Selatan.
2. Untuk mengetahui kendala orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-
Qur’an pada anak usia dini di Gampong Dalam Kecamatan Samadua Aceh
Selatan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat teoritis
9
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi peneliti
dan pembaca tentang peran orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an
pada anak usia dini.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini dapat memberi manfaat dan kontribusi khususnya bagi:
a. Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menambah dan memperkaya
pengetahuan penulis serta memberikan wawasan baru mengenai
pentingnya peran orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an.
b. Orangtua
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi orangtua
dalam memperkenalkan bacaan Al-Qur’an pada anak usia dini dan dapat
memperbaiki atau menyempurnakan proses memperkenalkan bacaan Al-
Qur’an pada anak usia dini.
c. Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sebagai acuan bagi rekan
peneliti lain tentang peran orangtua dalam memperkenalkan bacaan Al-
Qur’an.
E. Defenisi Operasional
1. Peran Orangtua
Peran adalah proses dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang
10
melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia
menjalankan suattu peranan.13 Jadi,peran adalah status yang dipegang oleh
seseorang yang diharapkan dapat bertanggung jawab dan profesional dalam
menjalankan hak dan kewajibannya, ketika seseorang memiliki peran maka
sudah sewajarnya orang tersebut menunjukkan kepantasan bahwa dia pantas
menduduki peran tersebut.
Orangtua adalah orang yang menjadi pendidik dan pembina yang berada
di lingkungan keluarga.14 Sedangkan menurut Abdul Mujib orangtua adalah
orang yang menjadi panutan bagi anak-anaknya, karena setiap anak mula-mula
mengagumi orangtuanya semua tingkah laku orang tuanya ditiru oleh anak-
anaknya.15 Orangtua memiliki peran yang sangat penting terhadap anak-
anaknya, karena orang tua memiliki kewajiban untuk memperhatikan masa
depan anaknya, oleh karena itu para orangtua harus berperan aktif dalam
mengarahkan dan membimbing anak-anaknya didunia yang penuh dengan
rintangan ini .16 Orangtua yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orangtua
yang memiliki anak usia dini dari umur 4-6 tahun di Gampong Dalam
Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan.
2. Memperkenalkan Bacaan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan Firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi
13
Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h, 212.
14
M Arifin, Teori-Teori Conseling Umum dan Agama (Jakarta, Golden Terayon Press), h,
114.
15
Abdul Mujib, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2008), h, 226.
16
Syaikh Khalid Abdurrahman, Pedoman Pendidikan Anak, (Surakarta:
Darul Ma’rifah, 2010), h, 119.
11
Muhammad saw. tertulis pada beberapa mushaf, disampaikan kepada kita
secara mutawatir, membacanya mendapat pahala dan merupakan tantangan
walaupun pada surat yang paling pendek.17 Al-Qur’an adalah sumber dari
segala sumber ilmu yang menimbulkan kebaikan serta kesejahteraan bagi
seluruh umat manusia di dunia.18
Memperkenalkan bacaan Al-Qur’an, maksudnya yaitu tindakan orangtua
dalam mengembangkan kecakapan anak untuk mengenal setiap bunyi huruf
hijaiyah, kemudian dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Pada
masa kanak-kanak harus mulai diperkenalkan pada pendidikan Al-Qur’an yaitu
dengan memperkenalkan bacaan Al-Qur’an pada anak, karena Al-Qur’an yang
menjadi pegangan dan pedoman di dalam kehidupannya nanti.
17
Salim Muhaisim, Biografi Al-Qur’an Al-Karim, (Surabaya: CV. Dwi Marga, 2000), h, 1-
2.
18
Azzah Zain Al Hasany, Al-Qur’an Puncak Selera Sastra, (Surakarta: Zuyad Visi Media,
2007), h, 97.