0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan9 halaman

Pengaruh PBL dan PjBL pada Pemecahan Masalah Matematis

Dokumen ini membahas pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing model pembelajaran serta interaksi antara keduanya, dengan menggunakan metode quasi-experimental. Hasil diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis bagi pendidikan, serta meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam belajar matematika.

Diunggah oleh

asmaul.22002
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan9 halaman

Pengaruh PBL dan PjBL pada Pemecahan Masalah Matematis

Dokumen ini membahas pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing model pembelajaran serta interaksi antara keduanya, dengan menggunakan metode quasi-experimental. Hasil diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis bagi pendidikan, serta meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam belajar matematika.

Diunggah oleh

asmaul.22002
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

dan Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Pemecahan


Masalah Matematis

A. Latar Belakang

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan


manusia. Tanpa disadari semua aktivitas manusia berhubungan erat dengan
pendidikan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki sumber daya
manusia yang berkualitas, baik dari segi spiritualitas, kecerdasan, juga
keterampilan. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk dapat mencapai
tujuan tersebut yaitu pembelajaran matematika sudah mulai diajarkan sejak
pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi, hal tersebut dilakukan agar
mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap untuk menghadapi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang
dengan sangat cepat, sehingga akan menghasilkan individu yang memiliki
kemampuan memperoleh, mengelola, dan juga memanfaatkan informasi dan
teknologi yang akan digunakan untuk bertahan hidup ditengah perkembangan
zaman saat ini. Salah satu visi pembelajaran matematika Indonesia adalah
pendidikan matematika untuk memahami konsep dan gagasan matematika
yang nantinya akan diterapkan ke dalam pemecahan masalah rutin dan non-
rutin melalui penalaran, komunikasi, dan koneksi dalam matematika dan juga
diluar matematika itu sendiri (Fitriani et al., 2017)
Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan masalah matematika dengan mengamati proses dalam
menemukan jawaban berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah, yakni
memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, memecahkan
masalah, dan mengecek ulang (Havill & Havill, 2020).
Meskipun matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting
dalam dunia pendidikan dan sangat banyak kaitannya dalam kehidupan sehari-
hari, namun matematika masih saja dianggap sebagai momok yang
menakutkan bagi siswa. Siswa cenderung takut dan merasa kesulitan dalam
belajar matematika, umumnya pada masalah matematika yang dibuat
sedemikan kompleks, sehingga siswa kesulitan untuk memecahkan masalah
matematika, yang berakibat rendahnya kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa, adapun rendahnya kemampuan pemecahan masalah
matematika siswa disebabkan oleh siswa mengalami kesulitan dalam
memahami masalah matematika yang mempengaruhi proses pemecahan
masalah (Bayuningsih et al., 2017).
Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk mengoptimalkan
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam melaksanakan
pembelajaran matematika adalah model pembelajaran. Siswa dipandang sebagai
makhluk yang aktif dan mempunyai kemampuan untuk mengembangkan
dirinya, dengan model pembelajaran konstruktivisme. Problem Based
Learning (PBL) adalah salah satu model pembelajaran berbasis konstruktivisme
(Nurlaeli et al., 2018).
PBL merupakan model pembelajaran yang mengutamakan penggunaan
masalah actual sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis
dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh konsep dan
pengetahuan esensial dari pelajaran lain (Suharini & Handoyo, 2020).
Menurut Bound dan Feletti (Slameto, 2017:41) Problem Based
Learningadalah sebuah pendekatan yang membentuk kurikulum yang
mempertentangkan siswa dengan permasalahan permasalahan dan
praktiknya yang didalamnya terdapat stimulus untuk belajar. Sedangkan
menurut Harrison (Slameto, 2017:41) menyatakan bahwa Problem Based
Learningadalah sebuah pengembangan kurikulum dan metode instruksional yang
menempatkan siswa dalam peranannya yang aktif sebagai pemecah
masalah ketika dihadapkan dalam masalah yang kurang terstruktur dalam
dunia nyata. Dengan demikian dapat disimpulkan Problem Based
Learningmerupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk
memecahkan masalah yang kurang terstruktur dalam dunia nyata didalam
proses belajarnya. Model pembelajaran Problem Based Learningmewajibkan
siswa untuk belajar berdasarkan masalah atau memecahkan sebuah masalah,
oleh karena itu model ini dapat mendorong siswa bekerja secara aktif,
mendorong siswa belajar secarakolaboratif serta memberikan kesempatan
kepada siswa untuk memilih apa yang ingin dipelajari dan cara
mempelajarinya.
Selain problem based learning (PBL), pembelajaran project based learning
(PjBL) juga dapat menjadi salah satu solusi bagi guru untuk mendukung
kemampuan pemecahan masalah siswa. PjBL adalah pembelajaran yang
berpusat pada siswa yang melibatkan siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuannya dengan eksplorasi masalah otentik dan melakukan tugas yang
dirancang dengan baik (Serin, 2019).
Menurut M. Hosnan (Slameto, 2017:36) “Project Based Learning atau
model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang
menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media”. Menurut Buck Isntitue For
Education (Slameto 2017:37) “Hasil akhir dari kerja proyek tersebut adalah
suatu produk yang belum tentu berupa material, tapi bisa berupa presentasi,
drama dan lain-lain yang dipresentasikan di depan umum dandievaluasi
kualitasnya”.Model pembelajaran Project Based Learningmewajibkan siswa
untuk belajar dan menghasilkan sebuah karya, oleh karena itu model ini dapat
meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, meningkatkan kecakapan siswa
dalam pemecahan masalah dan meningkatkan kerjasama siswa dalam kerja
kelompok.
Langkah-langkah project based learning mendukung terjadinya pemecahan
masalah (problem solving). Menurut Reeder (2005) project based learning
merupakan satu-satunya model dan strategi yang potensial diterapkan dalam
pembelajaran pada abad ini. Sementara itu, Sumarmi (2012) menyatakan bahwa
model project based learning menggunakan masalah sebagai langkah awal dan
mengintegrasikan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga,
model ini dirasa tepat digunakan dalam proses pembelajaran.
Terdapat keterkaitan antara PBL dengan PjBL dalam memecahkan
masalah matematika, yakni PBL berfokus pada solving real world sedangkan
PjBL berfokus pada membangun atau menciptakan sebuah konsep dari sebuah
masalah otentik (Mahendra, 2017). Sehingga penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan
masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Adakah pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa?
2. Adakah pengaruh penerapan model pembelajaran Project Based
Learning (PjBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa?
3. Adakah interaksi antara penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) dengan model pembelajaran Project Based Learning
(PjBL) dengan kemampuan pemecahan masalah siswa?
4. Bagaimana respon siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL)?
5. Bagaimana respon siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
Project Based Learning (PjBL)?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yakni :
1. Untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah
siswa
2. Untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Project
Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah
siswa
3. Untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara pembelajaran PBL
dan PjBL siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa.
4. Untuk mengetahui respon siswa yang diajarkan dengan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
5. Untuk mengetahui respon siswa yang diajarkan dengan model
pembelajaran Project Based Learning (PjBL)

D. Kelogisan (Rationale)
Adapun hipotesis yang mendukung tujuan penelitian yang dipaparkan
diatas yaitu :
1. Ada pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
dan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap
kemampuan pemecahan masalah.
2. Terdapat perbedaan rata – rata kemampuan pemecahan masalah antara
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model
pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
3. Terdapat respon positif siswa yang diajarkan melalui model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan dan model
pembelajaran Project Based Learning (PjBL).

E. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi-experiment
research. Penelitian quasi-experimental adalah desain penelitian dimana
individu tidak ditempatkan dalam kelompok sepenuhnya secara acak
(Creswell, 2012). Desain dalam penelitian ini yaitu non equivalent control
group design, dimana terdapat kelompok eksperimen dan kontrol yang akan
diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal tiap kelompok yang diberi
perlakuan adapun desain penelitian akan ditampilkan pada tabel 1.
Ket :
O1A = Tes awal (Pretest) pada kelas eksperimen I
O1B = Tes awal (Pretest) pada kelas eksperimen II
O1C = Tes awal (Pretest) pada kelas kontrol
O2A = Tes akhir (Posttest) pada kelas eksperimen I
O2B = Tes akhir (Posttest) pada kelas eksperimen II
O2C = Tes akhir (Posttest) pada kelas kontrol
XA = Perlakuan pembelajaran PBL secara daring
XB = Perlakuan pembelajaran PjBL secara daring
XC = Perlakuan pembelajaran konvensional secara daring

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, instrumen angket


tentang respon siswa terhadap model pembelajaran PBL dan model pembelajaran
PjBL, pretest dan posttest kemampuan pemecahan masalah matematika, dan
lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran siswa dan guru.
Siswa diberikan soal pretest yang berisi materi prasyarat dari materi yang
diajarkan. Setelah diberikan pretest, siswa diberi perlakuan dengan Kelas
eksperimen I akan diberikan pembelajaran dengan metode PBL, kelas eksperimen
II diberikan pembelajaran dengan metode PjBL, sedangkan kelas kontrol
diberikan pembelajaran konvensional, adapun semua proses pembelajaran
dilaksanakan secara luring dan daring dengan aplikasi Zoom Cloud Meeting.
Setelah itu, masing-masing kelas diberi posttest kemampuan pemecahan masalah
terkait materi barisan dan deret yang diajarkan.
Kemudian data diuji dengan uji ANOVA dua arah yang digunakan untuk
mengetahui apakah terdapat interaksi antara penerapan pembelajaran PBL dan
PjBL terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa, setelah itu dilakukan uji
lanjut Tukey untuk melihat berapa besar perbedaan perlakuan.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan informasi dalam mengembangkan pengetahuan pada
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model
pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
b. Sebagai bahan referensi atau rujukan bagi penelitian yang terkait.
c. Sebagai acuan dalam pengembangan motivasi siswa dibidang
kependidikan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah
Bahan informasi untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam
proses pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa
b. Bagi Siswa
Membantu siswa untuk menemukan cara belajar yang menyenangkan
dan melatih siswa untuk lebih kreatif
c. Bagi Peneliti
Dapat dijadikan bahan perbandingan dan pertimbangan khususnya yang
berminat mengembangkan penelitian ini.

G. Kesimpulan dan Saran


Ada beberapa hal yang peneliti dapat sarankan melalui penelitian ini yaitu :
1. Kepada pendidik:
Dalam pembelajaran pendidik disarankan dapat menggunakan model
pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membuat kaku selama proses
pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Project Based Learning dan Problem Based Learning lebih baik jika
dikombinasikan dengan metode talking stick sehingga dapat membantu
peserta didik lebih terlibat aktif dan tidak membuat kaku di dalam proses
pembelajaran dan berani mengemukakan pendapat.
2. Kepada para peneliti / Calon Peneliti:
Diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian ini dalam lingkup yang
lebih luas. Penulis berharap para peneliti/calon peneliti dapat meneruskan
atau mengembangkan penelitian ini untuk variabel-variabel lain yang
sejenis atau model pembelajaran lain yang lebih inovatif, sehingga dapat
menambah wawasan dan dapat lebih meningkatkan kualitas pembelajaran
khususnya dan pendidikan pada umumnya.
3. Kepada para siswa :
Pada pembelajaran yang menggunakan model Projec Based Learning dan
model Problem Based Learning hendaknya siswa benar-benar aktif untuk
berdiskusi, bertanya, dan memberikan jawaban dari pertanyaan yang
diajukan sesama teman maupun guru, sehingga menghasilkan prestasi
yang lebih baik.

H. Daftar Pustaka

Bayuningsih, A. S., Usodo, B., & Subanti, S. (2017). Analysis of Junior


High School Students’ Problem-solving Ability Reviewed from Self-
regulated Learning. International Journal of Science and Applied
Science: Conference Series, 2(1), 51.

Creswell. (2012). Educational Research. Pearson Education Inc.

Fitriani, Surya, E., & Saragih, S. (2017). Peningkatan Kemampuan


Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematik Siswa SMP Negeri
Langkat Yang Diajarkan Model Problem Centered Learning. 10 (2),
150–164.

Havill, J., & Havill, J. (2020). How to Solve It. In


Discovering Computer Science.

Mahendra, I. W. E. (2017). Project Based Learning Bermuatan


Etnomatematika Dalam Pembelajar Matematika. JPI (Jurnal Pendidikan
Indonesia), 6(1), 106–114.

Nurlaeli, N., Noornia, A., & Wiraningsih, E. D. (2018). Pengaruh Model


Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir
Kritis Matematis Siswa Ditinjau Dari Adversity Quotient. FIBONACCI:
Jurnal Pendidikan Matematika Dan Matematika, 4(2), 145.

Serin, H. (2019). Project Based Learning in Mathematics Context.


International Journal of Social Sciences & Educational Studies, 5(3),
232–236.

Slameto. 2017. Model Pembelajaran Berbasis Riset. Salatiga: Satya Wacana


University Press.

Suharini, E., & Handoyo, E. (2020). Effectiveness of Problem Based


Learning Model Assisted by Pocket Book toward Student Self-Efficacy.
29(10), 1199–1204.

Tambunan, L., Rusdi, R., & Miarsyah, M. (2018). Efectiveness of


Problem Based Learning Models by Using E-Learning and Learning
Motivation Toward Students Learning Outcomes on Subject Circullation
Systems. Indonesian Journal of Science and Education, 2(1), 96.

Anda mungkin juga menyukai