0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan2 halaman

Berpikir Ilmiah dan Kesesatan Logika

Dokumen ini membahas contoh berpikir ilmiah melalui tindakan seorang guru dalam menghadapi disinformasi di kalangan siswa, serta kesesatan berpikir dalam komunikasi yang dapat bersifat deduktif dan induktif. Contoh kesalahan berpikir deduktif menunjukkan bagaimana premis yang salah dapat menghasilkan kesimpulan yang cacat, sementara contoh induktif menggambarkan generalisasi yang tidak valid. Kesimpulan dari materi ini menekankan pentingnya berpikir kritis dan valid dalam pengambilan keputusan serta pemahaman informasi.

Diunggah oleh

Rana Graha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan2 halaman

Berpikir Ilmiah dan Kesesatan Logika

Dokumen ini membahas contoh berpikir ilmiah melalui tindakan seorang guru dalam menghadapi disinformasi di kalangan siswa, serta kesesatan berpikir dalam komunikasi yang dapat bersifat deduktif dan induktif. Contoh kesalahan berpikir deduktif menunjukkan bagaimana premis yang salah dapat menghasilkan kesimpulan yang cacat, sementara contoh induktif menggambarkan generalisasi yang tidak valid. Kesimpulan dari materi ini menekankan pentingnya berpikir kritis dan valid dalam pengambilan keputusan serta pemahaman informasi.

Diunggah oleh

Rana Graha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama: Al ghina Maulani Nur Ilahi

NPM: 242050171
Kelas: D
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu dan Logika

TUGAS 9

1. BERIKAN CONTOH/BUKTI ILMIAH SESEORANG MEMANG BERFIKIR DALAM KEHIDUPANNYA


(KONTEKSTUAL SEORANG
YANG BERFIKIR BERDASARKAN FILSAFAT ILMU DAN KAJIAN ILMU KOMUNIKASI)
Jawaban:
Contoh: Seorang Guru Menghadapi Disinformasi di Kalangan Siswa
Konteks:
Seorang guru SMP bernama Bu Citra menyadari bahwa banyak siswanya terpengaruh berita
palsu yang tersebar di media sosial, terutama terkait isu-isu sosial dan politik. Alih-alih melarang
atau menyalahkan sang siswa, ia menyusun strategi sebuah pembelajaran yang dapat
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan literasi media para siswa siswi.
A. Bukti bahwa Guru Tersebut Berpikir Ilmiah dan Filosofis:
- Filsafat Ilmu – Ontologi dan Epistemologi:
Guru tersebut mempertanyakan:
Apa sebenarnya hakikat informasi?
Bagaimana siswa bisa mengetahui mana yang benar atau salah?
- Metodologi Ilmiah dalam Tindakan:
Guru Citra mengumpulkan data dari siswa melalui sebuah angket, membaca tren media digital,
lalu merancang pembelajaran berbasis studi kasus (misalnya membedakan berita asli dan
palsu). Ini menunjukkan penggunaan pendekatan ilmiah untuk memecahkan masalah.
- Ilmu Komunikasi – Literasi Media dan Teori Efek Media:
Ia mengajarkan teori hypodermic needle dan two-step flow of communication untuk
menunjukkan bagaimana pesan media bisa memengaruhi siswa secara langsung atau lewat
influencer. Ia juga mengajarkan keterampilan dekonstruksi pesan media yaitu sebuah bentuk
pemikiran kritis dalam komunikasi.
- Refleksi Etika dan Tanggung Jawab Sosial:
Guru ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga mendidik siswa agar menjadi
komunikator yang bertanggung jawab di era digital. Ia mendorong penggunaan media secara etis
dan sadar konteks sosial.

2. KESESATAN BERFIKIR DALAM KONTEKTUAL KOMUNIKASI


YANG DILANDASI KESALAH BERFIKIR DALAM PEMIKIRAN FILSAFAT DAN ILMU
(PENGETAHUAN) ITU SEPERTI APA ?
BERIKAN CONTONYA. (MINIMAL DUA CONTOH: 1. BERSIFAT
DEDUKTIF DAN 1. BERISIFAT INDUKTIF)
Jawaban:
1. Contoh Kesalahan Berpikir Deduktif
Jenis kesesatan: false premise (premis salah)
Contoh kasus (komunikasi politik):
Premis mayor: Semua yang mengkritik pemerintah adalah radikal.
Premis minor: Jurnalis itu mengkritik kebijakan pemerintah.
Kesimpulan: Maka jurnalis itu pasti radikal.
Analisis:
Kesalahan logika ini terjadi karena premis mayor tidak benar secara epistemologis—tidak semua
pengkritik pemerintah adalah radikal. Ini menunjukkan kegagalan dalam menetapkan dasar
pengetahuan rakyat.
Dalam konteks filsafat ilmu, ini menunjukkan kesalahan dalam membangun struktur argumen
deduktif dari premis-premis yang tidak tervalidasi.
Dalam ilmu komunikasi, ini adalah contoh labeling atau stereotyping dalam komunikasi publik,
yang bisa membentuk opini publik berdasarkan argumen yang cacat.

2. Contoh Kesalahan Berpikir Induktif


Jenis kesesatan: Hasty generalization (generalisasi tergesa-gesa)
Contoh kasus (komunikasi antar budaya):
“Saya bertemu tiga orang dari negara Inggris yang kasar saat liburan. Orang-orang dari negara
Inggris memang tidak sopan.”
Analisis:
Ini adalah kesalahan berpikir induktif, karena kesimpulan umum ditarik dari sampel yang sangat
kecil dan tidak representatif.
Dalam filsafat ilmu, ini adalah kekeliruan dalam metode inferensi induktif—menggeneralisasi
tanpa cukup bukti atau verifikasi.
Dalam ilmu komunikasi, ini bisa menciptakan prasangka (prejudice) dan bias budaya,
memperkuat stereotip dalam komunikasi lintas budaya yang tidak adil dan tidak akurat.

3. BERI KESIMPULAN DARI MATERI 9 YANG ANDA FAHAMI. JELASKAN.


Jawaban:
Berfikir
Berfikir adalah kemampuan manusia untuk menggunakan akalnya untuk memutuskan dan
mengembangkan sesuatu, atau sebuah proses mental yang melibatkan manipulasi informasi.
Cara berfikir dapat menggunakan imajinasi dan hasil berfikir dapat disampaikan salah satunya
secara verbal.
Tapi menurut para ahli, berfikir merupakan kemampuan unik pada manusia untuk menyimpulkan
sesuatu yang membentuk mental dan pengambilan keputusan. Berpikir dapat melibatkan banyak
hal, salah satunya penggunaan akal budi untuk memahami sekitar kita.

Pemikiran
Penggunaan pemikiran dan pikiran berkaitan dengan berbagai macam aktivitas psikologi atau
berkaitan dengan mental dengan melibatkan gagasan dan ide, serta memungkinkan seseorang
untuk memproses informasi dan merencanakan tindakan.

Kesesatan Berpikir
Menurut filsafat, ini adalah kesalahan dalam penalaran yang membuat sebuah argumen menjadi
tidak valid dan tidak dapat dipercaya. ini bisa terjadi karena penggunaan bahasa atas intervensi
yang salah, atau proses penalaran yang tidak melibatkan logika.

Anda mungkin juga menyukai