BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran di mana
siswa bekerja sama dengan kelompok kecil yang memiliki latar belakang
yang berbeda . Dalam pembelajaran ini, siswa diajak untuk bekerja sama
dalam memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan . Belajar dalam
kelompok kecil memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih intens,
Interaksi, idukatif yang saling mempengaruhi antara siswa satu dengan yang
lain,serta diskusi yang lebih banyak arah .
Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran.
Dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelopok- kelompok kecil
secaraKolaboratif dengan instructor kelompok yang beragam. 1 Sedangakan
menurut Sanjaya, pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaranyang mengunakan sitem pengelompokan dalam tim kecil, terdiri
antaraempat hingga enam orang yang memiliki perbedaan dalam kemampuan
akademik, jenis kelamin , dam ras {hiterogen}2.
_________________
1. Robert [Link],Cooperative learning theory resech and [Link].
Nurlita Yusran { Bandung Nusa Media,2005},hal.4
2. Wina Sanjaya , Perencanaan Pembelajaran Desain System Pembelajaran,
{Jakarta Kencana ,2008}, hal 194.
Dari berbagai pandangan tersebut, dapat di simpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
manempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses belajar
mengajar, model ini di desain untuk memfasilitasi interaksi yang aktif
antar siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogin .
2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan utama pembelajaran kooperatif adalah memaksimalkan
pembelajaran siswa untuk meningkatkan prestasi dan pemahaman
akademik, baik secara individu maupun kelompok. Karena siswa bekerja
dalam kelompok , hal ini secara otomatis dapat meningkatkan hubungan
antara siswa yang berbeda latar belakang etnis dan kemampuannya,
mengembangkan keretampilan proses kelompok dan pemecahan masalah.
Melalui Pembelajaran kooperatif diharapkan siswa dapat memcapai
prestasi akademik dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi.3
Tujuan kooperatif akan tercapai jika siswa dapat mencapai
tujuannya sendiri dan siswa lain dapat bakerja sama dengan baik
Pembelajaran kooperatif mempunyai dampak yang signifikan terhadap
penerimaan luas terhadap keberagaman ras, agama, budaya, kelas sosial,
siswa dari latar belakang yang berbeda untuk berkerja secara saling
bergantung pada tugas-tugas bersama dan melalui penggunaan struktur
pembelajaran untuk saling menghargai satu sama lain. 4Melalui kerja
sama dan interaksi antar anggota kelompok,siswa tidak hanya
memproleh pemahaman yang lebih baik terhadap materi pelajaran,
tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial seperti kerja
sama,komunikasi, dan pemecah [Link] karena itu,pembelajaran
kooperatif di anggap sebagai salah satu pendekatan yang efektif dalam
meningkatkan keterlibatan siswa dan mencapai hasil belajar yang
optimal.
3. Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Terdapat lima unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai
berikut :
1. Prinsip ketergantungan positif, khusus dalam pembelajaran kooperatif,
keberhasilan menyelesaikan tugas tergantung pada usaha kelompok.
2. Tanggung jawan pribadi khususnya keberhasilan tim sangat bergantung
pada masing-masing anggota tim.
3. Interaksi langsung, yaitu mencipatakan banyak kesempatan bagi setiap
anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi
untuk saling bertukar pikiran dan menerima informasi dari anggota
kelompok lainnya
4. Partisipasi dan komunikasi, khusunya melatih peserta didik untuk mampu
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
5. Mengevaluasi proses kelompok, yaitu mengatur waktu khusus bagi
kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil
kerjasamanya, sehingga selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih
efektif.5
Kelima unsur tersebut dijadikan unsur dasar dalam pembelajaran
kooperatif.
Kelima unsurt yang tercantum merupakan prinsip penting yang
saling berkaitan dasn tidak dapat dihilangkan dalam pembeljaran
kooperatif, Agar pembelajaran kooperatif dapat berlangsung secara
konsisten dan tepat.
4. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Berikut beberapa karakteristik pembalajaran kooperatif menurut sanjaya
adalah :
a. Pembalajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan
tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat
setiap siswa untuk belajar. Semua anggota tim harus saling membantu untuk
mencapai tujuan pembelajran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan
permbelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap kelompok harus
hetrogen, hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling
memberi dan menerima pengalaman sehingga diharpkan setiap anggota dapat
memberikan kontribusi keberhasilan kelompok.
5
Rusman, Model Model Pembelajaran (Jakarta : Kedua Edition, 2013), h. 212
b. Didasarkan pada manajemen kooperatif
Manajemen kooperatif mempunyai empat fungsi pokok, fungsi tersebut
meliputi fungsi perencanaan, fungsi organisasi , fungsi pelaksanaan dan fungsi
kontrol. Fungsi perencaan pada pembelajaran kooperatif menunjukan bahwa
pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses
pembelajaran berjalan secara efektif .
Fungsi organisasi menunjukkan bahawa pembelajaran kooperatif adalah
bekerja sama antar setiap anggota kelompok. Oleh karena itu, perlu diatur tugas
dan tanggung jawan setiap anggota kelompok. Fungsi pelaksanaan menunjukan
bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan,
melalui langkah-langkah pembelajaran yang telah ditentukan. Fungsi kontrol
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria
keberhasilan baik melalui tes maupun non tes.
c. Kemauan untuk bekerjasama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara
kelompok. Oleh karena itu, prinsip kerjasama perlu ditekankan dalam proses
pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur
tugas dan tanggung jawa masing-maisng akan tetapi juga ditanamkan
perlunya saling membantu. Misalnya siswa yang pintar perlu membantu
siswa yang kurang pintar
d. Keterampilan bekerjasama
Kemauan untuk bekerjasama dalam kelompok kemudian
dipraktikan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam
keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk
mau dan snaggup berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa
dapat menyempaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan
konsteribusi kepada keberhasilan kelompok.
Setelah melalukan analisis terhadap keempat karakteristik
pembelajaran kooperatif diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif membutuhkan kerjasama anatar siswa dalam bentuk tim. Hal ini
meliputi aspek-aspek seperti pembelajaran bersama, manajemen tim,
kemampuan untuk bekerja sama, dan keterampilan kerja sama. Tujuannya
adalah untuk memungkinkan siswa saling membantu sesama siswa yang
mungkin memiliki tingkat pemahaman yang lebih rendah.
B. Model Pembelajaran Make a Match
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Make a Match
Model pembelajaran make a match pertama kali dikembangkan oleh Lorna
Currant pada tahun 19994. Strategi make a match kini menjadi strategi utama
di dalam ruang kelas. Tujuan strategi ini antara lain : Pendalaman materi,
penggalian materi, dan edutaiment.6
Model pembelajaran Make a Match merupakan salah satu model
pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa untuk mencari pasangan
dalam proses pembelajaran. Dalam model ini, siswa diberi kesempatan untuk
berbagi ide, mempertimbangkan jawaban yang paling tepat, dan terlibat
dalam kompetisi dan persaingan yang sehat dalam pembelajaran.
Selain itu, model pembelajaran ini menekankan pentingnya kerja sama
antar siswa dalam mempelajari materi secara menyenangkan, sehingga dapat
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Peran guru dalam model ini
lebih sebagai fasilitator yang mengorganisir proses pembelajaran, sementara
siswa lebih aktif terlibat dalam pembelajaran.
Menurut Anita Lie (2004:56) menyatakan bahwa model ini
mengkombinasi keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran
individual sehinggan siswa dapat belajar dalam suasana pembelajaran yang
menyenangkan. Dengan demikian, Model Make a Match adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang mengajak siswa untuk menemukan jawaban
atau pasangan yangs sesuai dengan suatu konsep melalui penggunaan
permainan kartu pasangan.
2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Make a Match
6
Miftahul Huda, model-model Pengajaran dan Pembelajaran, VI (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2016), h.251.
Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif make a match adalah sebagai
berikut :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik
yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya
kartu jawaban.
2. Setiap siswa mendaptakn sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi
poin.
6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak
dapat menemukan kartu soal dan kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman,
Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang yang
telah disepakati bersama.
7. berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu
yang cocok
9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi
pelajaran.
Penerapan model Make a Match memiliki potensi untuk merangsang minat dan
kerjasama antar siswa, serta mampu menciptakn lingkungan yang menyenangkan
yang dapat memberikan motivasi bagi siswa dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam. Model Make a Match adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang
inovatif bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang aktif dan
menyenangkan.
3. Kelebihan dan Kekurangan Model Make a Match
Setelah melakukan analisis terhadap keempat karakteristik
pembelajaran kooperatif Menurut Tarmizi Ramadhan, model pembelajaran
make a match memberi kelebihan bagi siswa di antaranya sebagai berikut :
a. Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan.
b. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik
c. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa
d. Dapat membangkitkan motivasi belajar siswa
e. Mampu mebangkitkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan
belajar secara kalsikal 87,50%.
Disamping kelebihannya, pembelajaran kooperatif Make a Match juga
mempunyai sedikit kekurangan yaitu :
a. Siswa memakan banyak waktu sehingga sulit mencapai target kurikulum,
b. Guru memakan banyk waktu sehingga sebagian besar guru tidak mau
menggunakan strategi kooperatif,
c. Memerlukan kemampuan khusus dari guru, sehingga tidak semua guru bisa
menerapkan atau menggunakan strategi pembelajaran kooperatif.
d. Membutuhkan karakteristik siswa tertentu, seperti keinginan alami untuk
bekerja sama.7
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Make a Match memiliki kelebihan dibandingkan dengan
pendekatan pembelajaran klasikal. Efek dari pembelajaran yang aktif ,
menyenangkan, dan menarik dapat meningkatan hasil belajar siswa jika
dibandingkan dengan pembelajaran klasikal. Siswa tidak hanya menjadi penonton,
tetapi aktif terlibat sepanjangan proses pembelajaran. Meskipun demikian,
kekuarangan yang mungkin timbul dari model pembelajaran kooperatif Make a
Match dapat diatasi dengan persiapan yang matang dapat membantu mengurangi
kendala atau kesulitann dapat mengimplementasikan model kooperatif. Oleh
karena itu, penting bagi guru untuk memahami dengan baik konsep dan penerapan
model pembelajaran kooperatif sebelum menerapkannya dalam pembelajaran,
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
7
Muhammad Nafiur Rofiq, “Pembelajaran Kooperatif (cooperative Learning) Dalam Pengajaran
Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Falasifa 1 (2010):h.9.
C. Hasil Belajar
Abdul Majid (2011:229) menyatakan bahwa hasil belajar adalah
untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memepelajari hasil belajar yang
telah direncanakan sebelumnya. Hasil belajar yang dicapai siswa dapat
mencerminkan kemampuan dasar yang siswa miliki. Hasil belajar pada
diri seseorang tidak langsung tampak tanpa seseorang itu melakukan
tindakan ntuk memperilhatkan kemampuan yang diperolehnya melalui
belajar. Namun demikian, hasil belajar merupakan perubahan yang
mengakibatkan orang berubah dalam perilaku, sikap dan kemampuannya.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merujuk pada kemampuan meraka dibandingkan sebelumnya.
Hasil belajar Teori Taksonomi Bloom pada pembelajaran dicapai pada tiga
kategori ranah, antara lain ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Rinciannya sebagai berikut :
i. Ranah kognitif
Terkait hasil belajar intelektual meliputi 6 aspek yaitu
penegtahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan
evaluasi.
ii. Ranah afektif
Terkait sikap dan nilai, Ranah afektif meliputi lima tingkat
kompetensi, yaitu menerima,menjawab dan reaksi,
mengevaluasi, mengorganisaskan, dan mengkarakterisasi
dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks. Ada lima jenis
ranah afektif yaitu kepekaan, keterlibatan, penilaian,
pengorganisasian, dan pembentukan pada hidp.
iii. Ranah Psikomotor
Dalam bentuk kemampuan motorik tertentu. Kemampuan
gerak juga memiliki tingkatan yang berbeda, mulai dari
gerakan sederhana sampai gerakan terbimbing yang rumit
hinggan gerakan kreatif.
Dari ketiga aspek diatas yaitu kognitif , afektif dan psikomotor,
kita dapat menyimpulkan bahwa kemampuan secara keseluruhan perlu
dikembangkan secara kualitatif melalui proeses pembelajaran.
Menurut Robert M. Gagne hasil belajar adalah keterampilan
kognitif yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu yang
terbentuk selama proses pembelajaran.8
Dari kedua definisi tersebut dapat disimpuljkan menurut ahli
bahwa hasil belajar adalah keterampilan yang diperoleh melalui proses
pembelajarann dalam berbagai bidang, khusunya kognitif, emosional, dan
psikomotorik.
8
Deni Kurniawan, pembelajaran Terpadu Termatik (Bandung: Alfabeta, 2014),h 10-14.
D. Penerapan Model Make a Match dalam Pembelajaran
Dalam penerapan Model Make a Match dalam pembelajaran mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam materi mengenal
ketentuan shalat, kita dapat menerapkan model Make a Match dengan cara
berikut :
1. Penentuan Materi
Guru memilih materi yang akan di pelajari yaitu, ketentuan-
ketentuan dalam menjalankan ibadah shalat. Misalnya tata cara
wudhu, gerakan-gerakan dalam shalat dan bacaan-bacaan.
2. Penyusunan Kartu Pertanyaan dan Jawaban
Guru menyiapkan kartu-kartu dengan pertanyaan di satu sisi dan
jawaban di sisi lain. Setiap kartu memiliki pasangan yang sesuai
misalnya Pertanyaan “Apa saja rukun-rukun shalat?”. Memiliki
jawaban “Niat,Takbir,Rukuk,Sujud dan Duduk diantara dua
sujud”.
3. Pembagian Kartu
Guru membagikan kartu-kartu tersebut kepada siswa secara acak.
Setiap siswa mendapatkan satu kartu pertanyaan dan satu kartu
jawaban.
4. Pencarian Pasangan
Siswa berkeliling kelas untuk mencari pasangan yang memiliki
kartu jawaban yang sesuai dengan kartu pertanyaan mereka.
Misalnya siswa yang memiliki kartu pertanyaan tentang rukun
shalat mencari siswa yang memiliki kartu jawaban yang
menyebutkan semua rukun shalat.
5. Diskusi dan Verifikasi
Setelah menemukan pasangan, siswa berdiskusi tentang pertanyaan
dan jawaban yang mereka miliki. Mereka memastikan bahwa
jawaban yang mereka berikan benar sesuai dengan ketentuan
shalat.
6. Presentasi
Beberapa pasangan dipilih untuk mempresentasikan pertanyaan
dan jawaban mereka didepan kelas. Ini memungkinkan siswa lain
untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut tentang ketentuan
shalat.
Dengan menerapkan Model Make a Match, siswa dapat lebih aktif
dan bersemangat dalam memahami materi ketentuan shalat. Selain
itu, kolaborasi antar siswa juga dapat meningkatkan pemahaman
secara kolektif.
E. Penilitian yang Relavan
Berdasarkan hasil dari penelusuran mengenai penelitian terdahulu,
ditemukan beberapa penelitian yang menggunakan model kooperatif tipe
make a match yakni sebagai berikut,
Penelitian Nurul Fajriah,N., & Fitriana. I. (2022). Hasil dari
penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Make a Match memiliki dampak positif yang signifikan
terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok zakat fitrah dikelas IV MI
Al- Amin Medangsari.
Data yang disimpulkan menunjukan peningkatan yang konsisten
dalan skor tes tulis siswa setelah diberikan pembelajaran menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe make a match.
Secara hukum, terdapat peningkatan yang nyata dalam pemahaman
siswa terhadap materi zakat fitrah. Kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran peningkatan skor posttest yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok control yang menerima pembelajaran konvensional.
Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan kooperatif dengan
menggunakan model Make a Match efektif dalam meningkatkan hasil
belajar siswa pada materi zakat fitrah. Partisipasi aktif siswa dalam
kegatan pembelajaran yang melibatkan pencarian pasangan informasi
dalam model Make a Match membantu memperdalam pemahaman mereka
terhadap konsep zakat fitrah.
Penilitian Nurul Hidayati,N., & Wardani, R. (2020). Hasil
penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan yan g signifikan dalam
hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Kelompok eksperimen
menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi dalam skor tes tertulis
dibandingkan dengan kelompok control. Hal ini menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki
poengaruh positif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi
Puasa Ramadhan.
Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Make a Match dapat menjadi alternative yang efektif dalam
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Puasa Ramadhan di MI
Darul Ulum 01 Malang. Pendekatan kooperatif ini memberikan
kesempatan bagi siswa untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran.
Meningkatkan keterlibatan meraka dan memperdalam pemahaman mereka
terhadap materi tersebut.