0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Penerapan TPS untuk Tingkatkan Hasil Belajar IPS

Penelitian ini mengkaji penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VA SD Negeri 011 Banjar XII. Hasil analisis menunjukkan bahwa model TPS efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa dan hasil belajar, dengan rata-rata aktivitas guru dan siswa yang meningkat selama proses pembelajaran. Diharapkan sekolah memberikan perhatian lebih pada penerapan model ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

Sunita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Penerapan TPS untuk Tingkatkan Hasil Belajar IPS

Penelitian ini mengkaji penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VA SD Negeri 011 Banjar XII. Hasil analisis menunjukkan bahwa model TPS efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa dan hasil belajar, dengan rata-rata aktivitas guru dan siswa yang meningkat selama proses pembelajaran. Diharapkan sekolah memberikan perhatian lebih pada penerapan model ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

Sunita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE


THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR IPS SISWA KELAS VA SD NEGERI 011 BANJAR XII
KECAMATAN TANAH PUTIH KABUPATEN ROKAN HILIR

Jusnidar1, Henny Indrawati 2, Gani Haryana3


Email. jusnidar@[Link], (0852778405), pku_henny@[Link], gani_haryana@[Link]

PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU

Abstrack: The learning model Think Pair Share (TPS) provides an


opportunity for each student to demonstrate the participation of others, working alone
and in collaboration with others, so expect the students to be more active in the
learning process in the classroom The aim of this study was to determine the
improvement of learning outcomes IPS by applying cooperative learning model Think
Pair Share (TPS) in class VA SD Negeri 011 XII Banjar Tanah Putih Rokan Hilir. The
sample used is graders VA SD Negeri 011 XII Banjar Tanah Putih Rokan Hilir by the
number of students 22 people, consisting of 9 male students and 13 female students.
Data obtained by using observation and learning teshasil. Data analysis technique used
is descriptive statistics: teacher and student activity analysis and analysis of
achievement test. From the results of data analysis that has been done shows
cooperative learning model Think Pair Share (TPS) can improve learning outcomes IPS
Elementary School fifth grade students on the material XII 011 Banjar Indonesian
Independence Struggle preparing the 2015/2016 school year. From these results it is
expected that the school, the principal should give attention to cooperative learning
model Think Pair Share (TPS), which is used by the teacher in the learning process for
cooperative learning model Think Pair Share (TPS) can improve learning outcomes. If
the result of learning increases, the quality of schools also increased.

Keywords: TPS Learning Method , Results Learning.


2

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE


THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR IPS SISWA KELAS VA SD NEGERI 011 BANJAR XII
KECAMATAN TANAH PUTIH KABUPATEN ROKAN HILIR

Jusnidar1, Henny Indrawati 2, Gani Haryana3


Email. jusnidar@[Link], (085278175000), pku_henny@[Link], gani_haryana@[Link]

PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU

Abstrak: Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) memberi kesempatan


kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain, bekerja sendiri
dan bekerja sama dengan orang lain, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih aktif
dalam proses pembelajaran di kelas Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
peningkatkan hasil belajar IPS dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas VA SD Negeri 011 Banjar XII Kecamatan
Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir. Sampel yang digunakan yaitu siswa kelas VA SD
Negeri 011 Banjar XII Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir dengan jumlah
siswa 22 orang, terdiri dari 9 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Data
diperoleh dengan menggunakan teknik observasi dan teshasil belajar. Sedangkan teknik
analisis data yang digunakan yaitu statistika deskriptif : analisis aktivitas guru dan siswa
dan analisis tes hasil belajar. Dari hasil analisis data yang telah dilakukan diperoleh
hasil model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan
hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 011 Banjar XII pada materi Perjuangan
mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia tahun ajaran 2015/2016. Dari hasil tersebut
diharapkan kepada sekolah, sebaiknya kepala sekolah memberikan perhatian tentang
model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang digunakan oleh guru
dalam proses pembelajaran karena model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
(TPS) dapat meningkatkan hasil belajar. Jika hasil belajar meningkat, maka kualitas
sekolah juga ikut meningkat.

Kata kunci : Metode Pembelajaran TPS, Hasil Belajar.


3

PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan ilmu yang membahas tentang


hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pembelajaran pendidikan IPS lebih
menekankan pada aspek pendidikan daripada transfer konsep, karena pada pembelajaran
IPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan
mengembangkan serta melatih sikap, nilai moral dan keterampilannya berdasarkan
konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian pembelajaran IPS harus
diformulasikan pada aspek kependidikannya. Model pembelajaran Think Pair Share
(TPS) memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada
orang lain, bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain, sehingga diharapkan
siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran di kelas.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi
pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok
belajar kecil di mana siswa bekerja sama untuk mencapai pembelajaran (Bern dan
Ericckson dalam Komalasari, 2011).
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan guru IPS kelas VA di SD Negeri
011 Banjar XII menyebutkan bahwa dari 22 siswa hanya 10 siswa (45,45%) yang tuntas
atau mencapai KKM, sedangkan 12 siswa (54,54%) tidak tuntas dengan rata-rata hasil
ulangan sebelumnya yaitu 69,32. Sementara KKM yang ditetapkan sekolah adalah
75,00.
Adapun gejala-gejala rendahnya hasil belajar IPS kelas VA SD Negeri 011
Banjar XII antara lain kurangnya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran IPS. Siswa
tidak berani mengungkapkan ide, kurangnya kerjasama dengan teman yang lain, serta
pengerjaan tugas yang tidak tepat waktu.
Selain itu rendahnya hasil belajar siswa juga disebabkan beberapa faktor, di
antaranya guru hanya berceramah, kurangnya interaksi guru di kelas, guru tidak
menggunakan model-model pembelajaran, guru tidak menggunakan alat peraga atau
media, sehingga dapat menurunkan motivasi siswa dalam belajar yang mengakibatkan
hasil belajarpun rendah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar
IPS dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)
pada siswa kelas VA SD Negeri 011 Banjar XII Kecamatan Tanah Putih Kabupaten
Rokan Hilir.

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Dalam penelitian ini populasinya


adalah siswa kelas VA SD Negeri 011 Banjar XII Kecamatan Tanah Putih Kabupaten
Rokan Hilir dengan jumlah siswa 22 orang, terdiri dari 9 orang siswa laki-laki dan 13
orang siswa perempuan.
.
4

Teknik Pengumpulan Data

Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistika deskriptif : analisis aktivitas
guru dan siswa dan analisis tes hasil belajar.
Observasi dilakukan terhadap aktifitas guru, aktifitas siswa dan tes hasil belajar,
selama proses pembelajaran berlangsung melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pengamatan dilakukan dengan maksudkan
untuk mengisi lembar pengamatan yang telah disediakan untuk setiap kali pertemuan.

Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui hasil penelitian digunakan teknik sebagai berikut :


1. Analisis aktivitas guru
Observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan rumus :
JS
NR = x 100%
SM

KTSP (dalam Syahrilfuddin, dkk, 2011)

Keterangan:
NR = Persentase rata-rata aktivitas guru
JS = Jumlah skor aktivitas guru yang dilakukan
SM = Skor maksimal yang didapat dari aktivitas guru

Pengukuran aktifitas guru diklasifikasikan kedalam empat penilaian, yaitu Baik


Sekali, Baik, Kurang Baik, dan Tidak Baik. Jumlah butir aktifitas 10, skor penilaian
tertinggi 4, skor penilaian terendah 1. Dengan demikian skor maksimal untuk setiap
aktifitas guru dan siswa adalah 10 x 4 = 40 dan skor minimal 10 x 1 = 10. Menurut
Ritonga (2006), dari perhitungan tersebut diperoleh :

40 - 10
I = = 7,5 atau 8
4

Berdasarkan data di atas, maka dapat ditentukan interval penilaian aktifitas guru
sebagai berikut :

Tabel 1. Interval dan Kategori Aktivitas Guru


Interval Kategori
33 – 40 Sangat Baik
24– 31 Baik
15 – 23 Cukup
7 - 14 Kurang
5

2. Analisis Aktivitas Siswa


Observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan rumus :

JS
NR = x 100%
SM

KTSP (dalam Syahrilfuddin, dkk, 2011)


Keterangan:
NR = Persentase rata-rata aktivitas siswa
JS = Jumlah skor aktivitas siswa yang dilakukan
SM = Skor maksimal yang didapat dari aktivitas siswa
Pengukuran aktifitas siswa diklasifikasikan kedalam empat penilaian, yaitu Baik
Sekali, Baik, Kurang Baik, dan Tidak Baik. Jumlah butir aktifitas 10, skor penilaian
tertinggi 4, skor penilaian terendah 1. Dengan demikian skor maksimal untuk setiap
aktifitas guru dan siswa adalah 10 x 4 = 40 dan skor minimal 10 x 1 = 10. Menurut
Ritonga (2006), dari perhitungan tersebut diperoleh :

40 - 10
I = = 7,5 atau 8
4

Berdasarkan data di atas, maka dapat ditentukan interval penilaian aktifitas siswa
sebagai berikut :
Tabel 2 Interval dan Kategori Aktivitas Guru
Interval Kategori
33 – 40 Sangat Baik
24– 31 Baik
15 – 23 Cukup
7 - 14 Kurang

3. Analisis Tes Hasil Belajar


a. Hasil Belajar Individu
Setiap siswa dikatakan tuntas belajar jika nilai siswa tersebut telah
mencapai kiteria ketuntasn minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah
yaitu 75. Seperti yang diunkapkan Trianto (2010), berdasarkan ketuntasan
KTSP penentuan ketuntasan belajar ditentukan sendiri oleh masing-masing
sekolah yang dikenal dengan istilah Kriteria Ketuntasan Minimal, dengan
pedoman pada tiga pertimbangan yaitu : kemampuan setiap peserta didik
berbeda-beda, fasilitas (sarana) setiap sekolah berbeda, dan daya dukung
setiap sekolah berbeda.
Ketuntasan belajar individu dihitung dengan Rumus sebagai berikut :

KI = SP x 100
SM
Sumber : Trianto (dalam Syahrilfuddin, dkk 2011)
6

Keterangan :
KI = Ketuntasan individu
SP = Skor yang diperoleh siswa
SM = Skor maksimal

Dengan kriteria apabila seorang siswa (individu) telah mencapai nilai ≥


75 dari soal yang diberikan, maka individu dikatakan tuntas.
b. Hasil Belajar Klasikal
Pada sekolah SD Negeri 011 Banjar XII telah menetapkan KKM mata
pelajara IPS adalah 75. Untuk mengetahui persentase ketuntasan klasikal,
dapat dilakukan dengan cara membandingkan jumlah siswa yang mencapai
KKM dengan jumlah semua siswa dikalikan 100%.
Adapun Rumus yang digunakan untuk menentukan ketuntasan klasikal
adalah sebagai berikut :

KK = JT x 100%
JS
Purwanto (dalam Syahrilfuddin, dkk 2011)

Keterangan:
KK = Ketuntasan klasikal
JT = Jumlah siswa yang tuntas
JS = Jumlah siswa seluruhnya
Dengan kriteria apabila suatu kelas telah mencapai 80% dari jumlah siswa
yang tuntas, maka kelas itu dinyatakan tuntas, jika belum tuntas diadakan
remedial.
c. Rata-Rata Hasil Belajar
Rata-rata hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 011 Banjar XII dapat
diperoleh dengan membagikan jumlah nilai yang diperoleh siswa dengan
jumlah seluruh siswa.
Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan rata-rata hasil belajar
adalah sebagai berikut:

RK = JN
JS
Keterangan:
RK = Rata-rata kelas
JN = Jumlah nilai
JS = Jumlah siswa

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil penelitian tindakan kelas (PTK) mulai dari siklus pertama sampai siklus
ketiga dapat dilihat melalui laporan penelitian tindakan kelas sebagai berikut:
7

1. Aktivitas Guru
Observasi aktivitas guru dilakuakan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan
pembelajaran. Pelaksanaan observasi dilakukan oleh (bapak Zulfani, [Link]) dengan
mengunakan lembar observasi yang mengacu pada kegiatan belajar mengajar penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
Aktivitas guru selama proses pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
(TPS). Peningkatan aktivitas guru tiap pertemuan pada siklus I dan siklus II dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3. Analisis Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Dalam Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Siklus I Siklus II
No Aktivitas Guru
P1 P2 P3 P4
Guru menyajikan materi pelajaran
1 persiapan kemerdekaan dan proses 4 4 4 4
perumusan dasar negara
Guru mengorganisasikan peserta
2 didik kedalam kelompok belajar 2 2 3 4
secara berpasang-pasangan
Menjelaskan model pembelajaran
3 3 3 4 4
yang diterapkan
Guru memberikan pertanyaan awal 4
4 4 4 4
dengan cara membagikan LKPD
Guru memberikan waktu kepada
5 peserta didik untuk berfikir secara 3 4 4 4
individu dalam mengerjakan LKPD
Guru meminta peserta didik untuk
berpasangan dalam mengerjakan 3
6 3 3 4
LKPD dan mengutaran hasil
pemikiran masing-masing
Guru membimbing peserta didik 4
7 2 3 4
dalam mengerjakan LKPD
Guru memimpin hasil pleno kecil
8 diskusi dan meminta tiap kelompok 3 3 3 3
mengemukan hasil diskusinya
Guru membimbing peserta didik,
mengarahkan pembicaraan pada
9 pokok permasalahan dan 2 2 3 3
menambah materi yang belum
diungkap peserta didik
Guru dan peserta didik memberi
10 3 3 3 3
kesimpulan dari materi
Jumlah Skor 28 31 35 37
Rata-rata 2,8 3,1 3,5 3,7
Persentasi 70% 75,5% 86,1% 88,8%
Sangat Sangat
Kategori Baik Baik
Baik Baik
8

Dari table 3. di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum persentase aktivitas
guru selama empat kali pertemuan mengalami peningkatan. Mulai dari pertemuan
pertama sampai pertemuan keempat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa aktivitas guru pada
setiap pertemuan siklus I dan siklus II meningkat. Hal ini dapat dilihat pada pada grafik
grafik di bawah ini:

Gambar 1 grafik aktivitas guru pada setiap pertemuan disetiap siklus

Dari hasil tabel 4.2 di atas dapat disimpulkan bahwa persentase aktivitas guru
setiap pertemuan disetiap siklus terjadi peningkatan. Hal ini terlihat dalam grafik 4.1.
Pada pertemuan pertama siklus I persentase aktivitas guru 70%. Pada pertemuan kedua
meningkat menjadi 75,5%. Pada pertemuan pertama siklus II persentase aktivitas guru
meningkat lagi menjadi 86,1%, dan pertemuan keempat meningkat lagi menjadi 88,8%.
Hal ini menunjukkan aktivitas yang dilakukan guru dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).sudah sesuai dengan yang
diharapkan peneliti.

2. Aktivitas Siswa
Observasi aktivitas siswa dilakuakan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan
pembelajaran. Pelaksanaan observasi dilakukan oleh guru kelas VA (ibuk Nila Karmila,
[Link]) dengan mengunakan lembar observasi yang mengacu pada kegiatan belajar
mengajar penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
Aktivitas siswa selama proses pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
(TPS) dapat dilihat pada lampiran..... Peningkatan aktivitas siswa tiap pertemuan pada
siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
9

Tabel 4. Analisis Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Dalam Penerapan Model


Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Siklus I Siklus II
No Aktivitas Siswa
P1 P2 P3 P4
Mendengarkan sajian materi
1 pelajaran persiapan kemerdekaan 4 4 4 4
dan proses perumusan dasar negara
Membentuk kelompok belajar
2 2 3 4 4
secara berpasang-pasangan
Memperhatikan penjelasan guru
3 tentang pembelajaran yang 3 3 4 4
diterapkan
Menerima LKPD dan memikirkan
4 permasalahan mengenai materi 2 3 3 4
pembelajaran
Berfikir mandiri dan mengerjakan 4
5 3 4 4
LKPD
Berpasangan dalam mengerjakan
6 LKPD dan mengutaran hasil 3 3 3 4
pemikiran masing-masing (Share)
Berdiskusi tentang LKPD secara 4
7 3 4 4
berpasangan (Pair)
Mempresentasikan hasil kerja
8 bersama teman sekelompoknya 3 3 3 4
(Share)
Menyimak dan meperhatikan
9 penjelasan guru mengenai pokok 2 2 3 3
permasalahan yang dibicarakan
Memberi kesimpulan mengenai
10 2 2 2 3
materi yang dipelajari
Jumlah Skor 27 30 34 36
Rata-rata 2,7 3 3,4 3,6
Persentasi 67,5% 72,2% 83,3% 86,1%
Cuku Sanga Sanga
Kategori Baik
p t Baik t Baik

Dari table 4. di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum persentase aktivitas
siswa selama empat kali pertemuan mengalami peningkatan. Mulai dari pertemuan
pertama sampai pertemuan keempat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa
pada setiap pertemuan siklus I dan siklus II meningkat. Hal ini dapat dilihat pada pada
grafik grafik di bawah ini:
10

Gambar 2 grafik aktivitas siswa pada setiap pertemuan disetiap siklus

Dari hasil tabel 4.2 di atas dapat disimpulkan bahwa persentase aktivitas siswa
setiap pertemuan disetiap siklus terjadi peningkatan. Hal ini terlihat dalam grafik 4.1.
Pada pertemuan pertama siklus I persentase aktivitas guru 67,5%. Pada pertemuan
kedua meningkat menjadi 75%. Pada pertemuan pertama siklus II persentase aktivitas
guru meningkat lagi menjadi 85%, dan pertemuan keempat meningkat lagi menjadi
86,1%. Hal ini menunjukkan aktivitas yang dilakukan guru dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).sudah sesuai dengan yang
diharapkan peneliti.

Pembahasan

Hasil penelitian ini membuktikan hipotesis bahwa Penerapan bahwa model


pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar
IPS siswa kelas VA SDN 011 Banjar XII tahun ajaran 2015/2016.
Pembahasan hasil penelitian didasarkan pada hasil aktivitas guru dan siswa,
ketercapaian indikator, peningkatan hasil belajar siswa, serta nilai perkembangan
individu dan penghargaan kelompok dengan menerapkan model pembelajaran
koopertaif tipe Think Pair Share (TPS).
Berdasarkan pengamatna peneliti dan hasil analisis data aktivitas guru dan siswa
yang terdapat pada lembar pengamatan proses pembelajaran koopertaif tipe Think Pair
Share (TPS) yang dilakukan siklus I hingga siklus II, semakin meningkat kerah yang
lebih baik sesuai dengan perencanaan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.
Pada siklus I aktivitas guru masih mengalami kendala pada penguasaan kelas
sehingga siswa masih ada yang tidak mendengarkan penjelasan guru dan melakukan
aktivitas lain. Guru masih kurang memotivasi siswa. Guru tidak membimbing semua
siswa dalam mengerjakan LKPD karena guru hanya memantau siswa yang
berkemampuan lemah. Dan dalam menyimpulkan materi guru tidak mengajak siswa.
Pada siklus II aktivitas guru sudah menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat
mengorganisasikan kelompok guru sudah tidak sulit lagi mengatur siswa. Guru sudah
11

membimbing lebih banyak siswa lagi dalam mengerjakan LKPD. Disamping itu, guru
sudah memotivasi siswa dengan baik dalam mengikuti proses pembelajaran.
Dalam hal ini dapat dilihat dari data tentang aktivitas guru dimulai dari awal
penelitian yaitu pertemuan pertama pada siklus I persentase nilainya adalah 70% dengan
kategori baik, pertemuan kedua pada siklus I persentasenya adalah 75,5% dengan
kategori baik. Pada siklus II pertemuan pertama persentasenya adalah 86,1% dengan
kategori sangat baik, dan pertemuan kedua pada siklus II persentasenya adalah 88,8%
dengan kategori sangat baik. Mengingat persentase aktivitas guru ini membuktikan
bahwa dengan penerapkan model pembelajaran koopertaif tipe Think Pair Share (TPS)
dapat meningkatkan aktivitas guru dalam pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri 011
Banjar XII.
Berdasrkan analisis hasil tindakan terbukti bahwa aktivitas siswa juga meningkat
dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran koopertaif tipe Think
Pair Share (TPS). Hal ini dapat dilihat dari data tentang aktivitas siswa dimulai dari
awal penelitian yaitu pertemuan pertama pada siklus I persentase nilainya adalah 67,5%
dengan kategori baik, pertemuan kedua pada siklus I persentasenya adalah 72,2%
dengan kategori baik. Pada siklus II pertemuan pertama persentasenya adalah 83,3%
dengan kategori sangat baik, dan pertemuan kedua pada siklus II persentasenya adalah
86,1% dengan kategori sangat baik.
Dari hasil belajar siswa tidak hanya bergantung pada kemapuan kelompok tetapi
juga proses pembelajaran. Pembelajaran ini dinilai efektif apabila persentase siswa yang
tuntas secara klasikal. Hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasn klasikal pda skor
dasar adalah 45,45%, ketuntasan klasikal pada siklus I meningkat menjadi 72,72%, dan
persentase ketuntasan klasikal siklus II menjadi 95,45.
Dari fakta yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran koopertaif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar
IPS siswa kelas V SD Negeri 011 Banjar XII pada materi Perjuangan mempersiapkan
Kemerdekaan Indonesia tahun ajran 2015/2016.

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Simpulan

Berdasarkan analisis data yang ada pada bab IV, dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil
belajar IPS siswa kelas VA SDN 011 Banjar XII tahun ajaran 2015/2016. Hal ini dapat
dilihat dari data berikut:
1. Aktivitas guru pertemuan pertama siklus I persentase nilainya sebesar 70% dengan
kategori baik, pada pertemuan kedua siklus I persentase nilainya menjadi 75%
dengan kategori baik . Sedangkan pertemuan pertama pada siklus II persentase
nilainya sebesar 86,1% dengan kategori sangat baik, pertemuan kedua siklus II
persentase nilainya sebesar 88,8% dengan kategori sangat baik. Sedangkan aktivitas
siswa pertemuan pertama siklus I persentase nilainya sebesar 67,5% dengan
kategori baik, pertemuan kedua siklus I persentase nilainya sebesar 72,2% dengan
kategori baik. Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama persentase nilainya
12

sebesar 83,3% dengan kategori sangat baik, pertemuan kedua siklus II persentase
nilainya sebesar 86,1 % dengan kategori sangat baik.
2. Hasil belajar siswa secara klasikal pada skor dasar yang mencapai KKM 10 orang.
(45,45%) meningkat menjadi 16 orang (72,72%) pada siklus I. Selanjutnya
meningkat lagi 20 orang (95,45%) pada siklus II.
3. Peningkatan rata-rata hasil belajar dari skor dasar sebesar 69,14 meningkat menjadi
77,72 pada siklus I. Selanjutnya meningkat lagi menjadi 85,17. Jadi, persentase
peningkatan hasil belajar dari skor dasar ke siklus II sebesar 20,64%.

Rekomendasi

Berdasarkan simpulan dalam penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti


mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Dengan menerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)
dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran pada mata pelajaran IPS
dalam upaya meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar IPS siswa kelas
VA karena model pembelajaran ini dapat menarik minat belajar siswa, melatih
anak untuk aktif, berani menyampaikan pendapat dan meningkatkan rasa
kebersamaan.
2. Bagi sekolah, sebaiknya kepala sekolah memberikan perhatian tentang model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang digunakan oleh guru
dalam proses pembelajaran karena model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair
Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar. Jika hasil belajar meningkat, maka
kualitas sekolah juga ikut meningkat.
3. Bagi peneliti, jika ingin meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada materi
peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat digunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono (2009). Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM Yogyakarta : Pustaka
Pelajar

Gimin, dkk. (2008). Model-model Pembelajaran. Pekanbaru : Cendikia Insani

Istarani. (2012). 58 Model Pembelajaran Kooperatif Model, Metode, Strategi, Teknik, Referensi
Guru Dalam Menentukan Model Pembelajaran. Medan : Media persada

Isjoni. (2011). Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung : Alfabeta

Komkom Komalasari. (2011). Pembelajaran Kontekstual. Konsep dan Aplikasi. Bandung : PT.
Refika Aditama
13

Nana Sudjana, (2009). Penilain Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

Omar Hamalik, (2002). Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Saiful Sagala, (2007), Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung : Alfabeta

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka


Cipta

Robert E. Slavin. (2009). Cooperative Learning Teori, Riset Praktis. Bandung: Nusa Media

Sugiyanto. (2010). Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Mata Padi Presindo

Zainal Aqib, dkk. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SMP, SMA, SMK. Bandung: CV.
Yrama Studio

Anda mungkin juga menyukai