0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan18 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus, mencakup pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan medis diabetes. Diabetes melitus terdiri dari dua tipe, yaitu tipe 1 yang disebabkan oleh kerusakan sel beta dan tipe 2 yang disebabkan oleh resistensi insulin. Penatalaksanaan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, dan intervensi untuk mengelola kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

Ulul Azmi Ramdani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan18 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus, mencakup pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan medis diabetes. Diabetes melitus terdiri dari dua tipe, yaitu tipe 1 yang disebabkan oleh kerusakan sel beta dan tipe 2 yang disebabkan oleh resistensi insulin. Penatalaksanaan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, dan intervensi untuk mengelola kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

Ulul Azmi Ramdani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktik Profesi Keperawatan Medikal
Bedah (PPKMB)

Dosen Pembimbing :
Nita Syamsiah, [Link]., PhD

Pembimbing Lapangan :
Ns. Ahmad Syahroni, [Link]

Disusun Oleh :
Ulul Azmi Ramdani
4112714901250004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS HORIZON INDONESIA
Jln. Pangkal Perjuangan Km. I Bypass Karawang 41316
2025/2026
A. Konsep Penyakit
1. Pengertian
Diabetes melitus atau sering disingkat DM adalah kelainan
metabolik darah dimana terjadi peningkatan kadar gula dalam darah
yang disebabkan oleh gangguan sekresi atau kerja dari insulin.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit yang kompleks dan kronis
yang membutuhkan penanganan medis secara terus-menerus guna
mencegah terjadi komplikasi (Jon Parulian Simarmata, 2024).
Diabetes melitus adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai
dengan peningkatan kadar glukosa darah (Surjadi, 2024).
2. Etiologi
Diabetes Mellitus Tipe 1 disebabkan destruktur sel beta autoimun
biasanya memicu terjadinya defisiensi insulin absolut. Faktor herediter
berupa antibodi sel islet, tingginya insiden HLA tipe DR3 dan DR 4.
Faktor lingkungan berupa infeksi virus (Virus Coxsackie, enterovirus,
retrovirus, mumps), defisiensi vitamin D, toksin lingkungan, menyusui
jangka pendek, paparan dini terhadap protein kompleks. Berbagai
modifikasi epigenetik ekspresi gen juga terobsesi sebagai penyebab
genetik berkembangnya Diabetes Mellitus Tipe 1. Individu dengan
Diabetes mellitus Tipe 1 mengalami defisiensi insulin absolut (Dito
Anugroho, 2018) dalam (Maria, 2021)
Diabetes Mellitus Tipe 2 akibat resistensi insulin perifer, defek
progresif sekresi insulin, peningkatan gluconeogenesis. Diabetes
Mellitus Tipe 2 dipengaruhi factor lingkungan berupa obesitas, gaya
hidup tidak sehat, + diet tinggi karbohidrat. Diabetes Mellitus tipe 2
memiliki presimtomatis yang panjang yang menyebabkan penegakan
Diabetes Mellitus tipe 2 dapat tertunda 4-7 tahun
(Dito Anugrah, 2018) dalam (Maria, 2021)
3. Patofisiologi
Diabetes Tipe 1 terjadi akibat kerusakan sel β (proses autoimun)
yang ditandai dengan hiperglikemia, pemecahan lemak dan protein
tubuh, dan pembentukan ketosis. Ketika sel β rusak maka insulin tidak
dapat berproduksi. Normalnya insulin dapat mengendalikan
glikogenolisis dan glukoneogenesis, tapi pada DM tipe 1 terjadi
resistensi insulin, kedua proses tersebut terjadi terus menerus sehingga
dapat menimbulkan hiperglikemia.
Sedangkan Diabetes tipe 2 merupakan kondisi hiperglikemia puasa
yang terjadi meskipun tersedia insulin. Kadar insulin yang dihasilkan
dirusak oleh resistensi insulin di jaringan perifer. Glukosa yang
diproduksi oleh hati berlebihan sehingga karbohidrat dalam makanan
tidak dimetabolisme dengan baik, yang menyebabkan pankreas
mengeluarkan jumlah insulin yang kurang dari yang dibutuhkan.
Resistensi insulin ini dapat terjadi akibat obesitas, kurangnya aktivitas,
dan pertambahan usia. Resistensi insulin pada DM tipe 2 akan disertai
dengan penurunan reaksi intrasel, sehingga insulin menjadi tidak
efektif untuk pengambilan glukosa oleh jaringan. Pada obesitas,
terjadi penurunan kemampuan insulin untuk mempengaruhi absorpsi
dan metabolisme glukosa oleh hati, otot rangka, dan jaringan adiposa.
4. Manifestasi Klinik
Gejala diabetes klasik adalah 3 P yaitu :
a. Polifagi (banyak makan atau lapar)
b. Polidipsi (banyak minum atau minum terus)
c. Poliuri (banyak buang air kecil)
Beberapa tanda yang lain dan gejala - gejalanya dapat
menunjukkan adanya diabetes. Gejala - gejala tersebut adalah sakit
kepala, fatique atau panik, gatal - gatal, penurunan berat badan,
penglihatan kabur, perasaan bingung, kerentanan terhadap infeksi
tertentu terkadang hingga terjadi abses, penurunan gairah seks, dan
sering kesemutan.
5. Pemeriksaan penunjang
Untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus diperlukan
beberapa pemeriksaan seperti :
a. Pemeriksaan Gula Darah
Pasien diabetes mellitus tipe 1 memiliki kadar glukosa
darah puasa ≥ 126 mg/dL atau kadar glukosa darah sewaktu
atau Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥ 200 mg/dL. Perlu
dicatat bahwa pemeriksaan ini hanya menunjukkan kondisi
hiperglikemia, tetapi tidak bisa membedakan diabetes mellitus tipe
1 dari diagnosis banding lainnya. Pada pasien yang sudah
terdiagnosis, pemeriksaan gula darah perlu dilakukan 3-4 kali
dalam sehari bila pasien memperoleh beberapa injeksi insulin
dalam satu hari atau dalam terapi pompa insulin. Walaupun
demikian, pemeriksaan gula darah ini tidak selamanya akurat
karena bergantung pada akurasi alat dan faktor sampel seperti
kadar hematokrit, oksigen darah, pH, dan adanya substansi lain
yang mengganggu.
b. Hemoglobin A1C (HbA1C)
Pemeriksaan hemoglobin A1C (HbA1C) dapat digunakan
untuk mendiagnosis diabetes dengan ambang batas ≥ 6,5%. Pasien
tidak perlu puasa saat akan melakukan tes HbA1C. Kondisi pasien
dikatakan normal jika kadar HbA1c berada di bawah 5,7%. Pasien
prediabetes jika kadar HbA1c pada kisaran 5,7 – 6,4%, dan DM
jika kadar HbA1c 6,5% ke atas. Pada pasien yang sudah
terdiagnosis diabetes mellitus tipe 1, kadar HbA1C diharapkan
dapat dijaga kurang dari 7%. Pemeriksaan ini dilakukan paling
tidak 2 kali dalam 1 tahun untuk mengevaluasi keberhasilan terapi.
Bila target tidak tercapai, maka diperlukan perubahan pada
penatalaksanaan yang selama ini tengah dijalani.
c. Pemeriksaan Laboratorium Lainnya
Pengukuran keton urine dapat dilakukan untuk penapisan
adanya ketonemia. Meski demikian, pemeriksaan ini tidak dapat
diandalkan untuk mendiagnosis atau memantau ketoasidosis
diabetik. Sebagai gantinya, dapat dilakukan pemeriksaan kadar
aseton plasma, seperti kadar beta-hidroksibutirat, bersama dengan
pengukuran bikarbonat plasma atau pH arteri.
6. Penatalaksanaan Medis
Obat – Obat Diabetes Melitus
a. Antidiabetik oral
Indikasi antidiabetik oral terutama ditujukan untuk penanganan
pasien DM tipe 2 ringan sampai sedang yang gagal dikendalikan
dengan pengaturan asupan energi dan karbohidrat serta olahraga.
Obat golongan ini ditambahkan bila setelah 4-8 minggu upaya diet
dan olah raga dilakukan, kadar gula darah tetap di atas 200 mg%
dan HbA1c di atas 8%. Jadi obat ini bukan menggantikan upaya
diet, melainkan membantunya. Pemilihan obat antidiabetik oral
yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes. Dalam
hal ini obat hiperglikemik oral adalah termasuk golongan
sulfonilurea, biguanid, inhibitor alfa glukosidase dan insulin
sensitizing.
b. Insulin
Untuk pasien yang tidak terkontrol dengan diet atau
pemberian hiperglikemik oral, kombinasi insulin dan obat-obat lain
bisa sangat efektif. Insulin merupakan hormon yang mempengaruhi
metabolisme karbohidrat maupun metabolism protein dan lemak.
Fungsi insulin antara lain menaikkan pengambilan glukosa ke
dalam sel–sel sebagian besar jaringan, menaikkan penguraian
glukosa secara oksidatif, menaikkan pembentukan glikogen dalam
hati dan otot serta mencegah penguraian glikogen, menstimulasi
pembentukan protein dan lemak dari glukosa.
B. Konsep Asuhan Keperawatan / Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata
Data lengkap diri klien yang meliputi nama lengkap, umur,
jenis kelamin, kawin/belum kawin, agama, suku bangsa,
pendidikan, pekerjaan, alamat dan penanggungjawab
b. Keluhan utama
Poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan,
pruritus, purpura, kelelahan, gangguan penglihatan, peka
rangsang, kram otot
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Diabetes mellitus, riwayat keluarga dengan DM, obesitas, riwayat
pankreatitis kronis, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 Kg,
riwayat glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan,
trauma, infeksi, penyakit) dan terapi obat
(glukokortikosteroid,diuretik, tiazid, kontrasepsi oral)
d. Riwayat psikososial
e. Riwayat spiritual
f. Pemeriksaan Fisik diisi :
1) Keadaan umum ;
a) Tanda-tanda vital;
b) Pernafasan : paru paru
c) B2 (blood); kondisi jantung
d) B3 (brain) ; difokuskan pada pemeriksaan kepala
dan leher untuk mengetahui adanya sianosis perifer,
ekspresi wajah yang gelisah, pusing, kesakitan dan ptekie.
Pada mata terdapat pucat karena anemia dan kehilangan
kontak mata.
e) B4 (bladder) : poliuri
f) B5 (Bowel) : pengkajian yang harus dilakujkan
meliputi perubahan nutrisi sebelum dan sesudah masuk
rumah sakit, penurunan turgor kulit jelek, kulit kering,
kepucatan, muntah dan penurunan berat badan. Frekuensi
Peristaltik, adanya nyeri tekan pada abdomen.
g) B6 (Bone) : keluhan kelemahan fisik, penurunan
kesadaran, pusing, lemas, nyeri kepala dan sesak napas.
g. Aktifitas sehari-hari
1) Aktivitas / istirahat
2) Sirkulasi : Gejala dan tanda
3) Integritas ego
4) Eliminasi
5) Makanan, cairan
6) Hygiene
7) Neurosensori
8) Nyeri / kenyamanan
9) Keamanan
10) Seksualitas : kehilangan minat seksual.
h. Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium, diagnostik
1) Tes Toleransi Glukosa ( Gula Darah Sewaktu > 200 mg/dl)
2) Hemoglobin A1C (HbA1C). Kondisi pasien dikatakan normal
jika kadar HbA1c berada di bawah 5,7%. Pasien prediabetes
jika kadar HbA1c pada kisaran 5,7 – 6,4%, dan DM jika kadar
HbA1c 6,5% ke atas.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027)
b. Hipovolemia (D.0023)
c. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.009)
d. Risiko Infeksi (0142)
e. Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)
3. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Perencanaan Keperawatan


Tujuan & Kriteria Intervensi
Hasil
Ketidakstabilan Kadar Setelah dilakukan Intervensi Utama :
Glukosa Darah (D.0027) tindakan Manajemen
Berhubungan dengan keperawatan selama Hiperglikemia
 Disfungsi pankreas 3 X 24 jam (I.03115)
 Resistensi insulin diharapkan Observasi
 Gangguan toleransi Kestabilan Kadar  Identifikasi
glukosa darah Glukosa Darah kemungkinan
 Gangguan glukosa (L.03022) meningkat penyebab
darah puasa dengan kriteria hasil: hiperglikemia
 Penggunaan insulin  Koordinasi  Identifikasi situasi
atau obat glikemik meningkat yang menyebabkan
oral  Mengantuk kebutuhan insulin
 Hiperinsulinemia menurun meningkat (mis.
(mis. insulinoma)  Pusing menurun Penyakit
 Gangguan metabolik  Lelah/lesu kambuhan)
bawaan (mis. menurun  Monitor kadar
Gangguan  Kadar glukosa glukosa darah
penyimpanan dalam darah  Monitor tanda dan
lisosomal, membaik gejala
galaktosemia, hiperglikemia (mis.
gangguan Poliuria, polidipsia,
penyimpanan polifagia,
glikogen) kelemahan,
Dibuktikan dengan : malaise, pandangan
Mengantuk kabur, sakit kepala)
Pusing  Monitor intake dan
Gangguan koordinasi output cairan
Kadar glukosa dalam  Monitor keton urin,
darah/urin rendah kadar analisa gas
Lelah atau lesu darah, elektrolit,
Kadar glukosa dalam tekanan darah
darah/urin tinggi ortostatik dan
frekuensi nadi
Terapeutik
 Berikan asupan
cairan oral
 Konsultasikan
dengan medis jika
tanda dan gejala
hiperglikemia tetap
ada atau memburuk
 Fasilitasi ambulasi
jika ada hipotensi
ortostatik
Edukasi
 Anjurkan monitor
kadar glukosa
darah secara
mandiri
 Ajurkan kepatuhan
terhadap diet dan
olahraga
 Ajarkan indikasi
dan pentingnya
pengujian keton
urin
 Ajarkan
pengelolaan
diabetes (mis.
penggunaan
insulin, obat oral,
monitor asupan
cairan, penggantian
karbohidrat, dan
bantuan
profesional
kesehatan)
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian insulin
 Kolaborasi
pemberian cairan
IV
Hipovolemia (D.0023) Setelah dilakukan Intervensi Utama :
tindakan Manajemen
Behubungan dengan :
keperawatan selama Hipovolemia (I.03116)
 Kehilangan cairan 3 X 24 jam Observasi
aktif diharapkan Status  Periksa tanda
 Kekurangan intake Cairan (L.03028) dan gejala
cairan membaik dengan hipovolemia
Dibuktikan dengan : kriteria hasil: (mis: frekuensi
 Frekuensi nadi  Kekuatan nadi nadi meningkat,
meningkat meningkat nadi teraba
 Nadi teraba lemah  Turgor kulit lemah, tekanan
 Tekanan darah meningkat darah menurun,
menurun  Output urin tekanan nadi
 Tekanan nadi meningkat menyempit,
menyempit  Pengisian vena turgor kulit
 Turgor kulit menurun meningkat menurun,
 Membran mukosa  Perasaan lemah membran
kering menurun mukosa kering,
 Volume urin menurun  Keluhan haus volume urin
 Hematokrit menurun menurun,
meningkat  Frekkuensi nadi hematokrit
 Merasa lemah membaik meningkat,
 Mengeluh haus  Tekanan darah haus, lemah)
 Pengisian vena membaik  Monitor intake
menurun  Tekanan nadi dan output
 Status mental membaik cairan
berubah  Membran Terapeutik
 Suhu tubuh mukosa  Hitung
meningkat membaik kebutuhan
 Berat  Kadar Ht cairan
badan turun tiba-tiba membaik  Berikan posisi
 Berat badan modified
membaik Trendelenburg
 Intake cairan  Berikan asupan
membaik cairan oral
 Suhu tubuh Edukasi
membaik  Anjurkan
memperbanyak
asupan cairan
oral
 Anjurkan
menghindari
perubahan posisi
mendadak
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian
cairan IV
isotonis (Mis.
NaCl, RL)
 Kolaborasi
pemberian
cairan IV
hipotonis (Mis.
Glukosa 2,5%,
NaCl 0,4%)
 Kolaborasi
pemberian
cairan IV koloid
(Mis. Albumin,
plasmanate)
Perfusi Perifer Tidak Efektif Setelah dilakukan Intervensi Utama :
(D.0009) tindakan Perawatan Sirkulasi
Behubungan dengan : keperawatan selama (I.02079)
3 X 24 jam Observasi
 Hiperglikemia
diharapkan Perfusi  Periksa sirkulasi
 Kekurangan volume
Perifer (L.02011) perifer (mis. Nadi
cairan
meningkat dengan perifer, pengisian
 Penurunan aliran
kriteria hasil: kapiler, warna,
arteri dan/atau vena
 Denyut nadi suhu)
 Kurang terpapar
perifer meningkat  Identifikasi faktor
informasi tentang
 Warna kulit pucat risiko gangguan
faktor pemberat (mis.
menurun sirkulasi (mis.
Merokok, gaya hidup
 Pengisian kapiler Diabetes, perokok,
monoton, trauma,
membaik hipertensi dan
obesitas, asupan
 Akral membaik kadar kolestrol
garam, imobilitas)
 Turgor kulit tinggi)
 Kurang terpapar
membaik  Monitor panas,
informasi tentang
kemerahan, nyeri,
proses penyakit (mis.
atau bengkak pada
Diabetes melitus,
ekstremitas
hiperlipidemia)
Terapeutik
 Kurang aktivitas fisik
Dibuktikan dengan :  Hindari
 Pengisian kapiler >3 pemasangan infus
detik atau pengambilan
 Nadi perifer menurun darah di area
atau tidak teraba keterbatasan perfusi
 Akral teraba dingin  Hindari pengukuran
 Warna kulit pucat tekanan darah pada
 Turgor kulit menurun ekstremitas dengan
keterbatasan perfusi
 Hindari penekanan
dan pemasangan
tourniquet pada
area yang cedera
 Lakukan
pencegahan infeksi
 Lakukan perawatan
kaki dan kuku
 Lakukan hidrasi
Edukasi
 Anjurkan berhenti
merokok
 Anjurkan
melakukan
perawatan kulit
yang tepat (mis.
Melembabkan kulit
kering pada kaki)
 Informasikan tanda
dan gejala darurat
yang harus
dilaporkan (mis.
Luka tidak sembuh)
Risiko Infeksi (0142) Setelah dilakukan Intervensi Utama :
Ditandai dengan : tindakan Pencegahan Infeksi
keperawatan selama (I.14539)
 Penyakit kronis (mis.
3 X 24 jam Observasi
Diabetes melitus)
diharapkan Tingkat  Monitor tanda dan
 Efek prosedur invasif
Infeksi (L.14137) gejala infeksi lokal
 Malnutrisi
menurun dengan dan sistemik
 Peningkatan paparan
kriteria hasil: Terapeutik
organisme patogen
 Kemerahan  Cuci tangan
lingkungan
menurun sebelum dan
 Ketidakadekuatan
 Nyeri menurun sesudah kontak
pertahanan tubuh
 Cairan berbau dengan pasien dan
primer :
busuk menurun lingkungan pasien
1) Kerusakan
 Kadar sel darah  Pertahankan teknik
integritas kulit
putih membaik aseptik pada pasien
 Kultur area luka berisiko tinggi
membaik Edukasi
 Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
 Ajarkan cara
mencuci tangan
dengan benar
 Ajarkan cara
memeriksa kondisi
luka
Risiko Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Intervensi Utama :
(D.0032) tindakan Manajemen Nutrisi
Ditandai dengan : keperawatan selama (I.03119)
3 X 24 jam Observasi
 Ketidakmampuan
diharapkan Status  Identifikasi status
mengabsorpsi nutrien
Nutrisi (L.03030) nutrisi
membaik dengan  Identifikasi alergi
kriteria hasil: dan intoleransi
 Sikap terhadap makanan
makanan/minu  Identifikasi
man sesuai makanan yang
dengan tujuan disukai
kesehatan  Identifikasi
meningkat kebutuhan kalori
 Berat badan dan jenis nutrien
membaik  Monitor asupan
 Indeks Massa makanan
Tubuh (IMT)  Monitor berat
membaik badan
 Monitor hasil
pemeriksaan
laboratorium
Terapeutik
 Lakukan oral
hygiene sebelum
makan
 Berikan makanan
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
 Berikan makanan
tinggi kalori dan
tinggi protein
Edukasi
 Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian
medikasi sebelum
makan
 Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan jenis
nutrien yang
dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA
Jon Parulian Simarmata, D. P. (2024). Dischagre Planning terhadap Self
Management dan Kadar Glukosa Darah pada Penderita Diabetes Melitus:
Literatur Review. Journal of Health Promotion, Vol. 7 No.(1), 717–725.
[Link]
Maria, I. (2021). Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus dan Asuhan
Keperawatan Stroke.
Surjadi, N. H. dan T. (2024). Pelaksanaan Diagnosis Komunitas Dalam
Menurunkan Jumlah Kasus Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 8(April), 656–662.
[Link]
26257/18881

Anda mungkin juga menyukai