0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman

Ringkasan EYD: Aturan Ejaan Bahasa Indonesia

Dokumen ini menjelaskan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) yang mencakup penggunaan huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan. EYD menetapkan aturan untuk huruf vokal dan konsonan, penggunaan huruf kapital, serta cara penulisan kata turunan dan gabungan. Selain itu, dokumen ini juga menguraikan kaidah penulisan unsur serapan dari berbagai bahasa yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Diunggah oleh

aryapinatap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman

Ringkasan EYD: Aturan Ejaan Bahasa Indonesia

Dokumen ini menjelaskan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) yang mencakup penggunaan huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan. EYD menetapkan aturan untuk huruf vokal dan konsonan, penggunaan huruf kapital, serta cara penulisan kata turunan dan gabungan. Selain itu, dokumen ini juga menguraikan kaidah penulisan unsur serapan dari berbagai bahasa yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Diunggah oleh

aryapinatap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama: Arya Pinata Putri

NPM: E1K025016
Tugas Bahasa Indonesia: Buatlah ringkasan materi ejaan Bahasa Indonesia yang
disempurnakan (EYD)

Ringkasan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V


BAB I: PENGGUNAAN HURUF
1. Huruf Vokal dan Konsonan
Abjad: Terdiri dari 26 huruf.
a) Vokal dalam Bahasa Indonesia dilambangkan menjadi lima huruf, yaitu a, e, I,
o, dan u.
Huruf Vokal: Terdapat penambahan ketentuan untuk membedakan pelafalan
huruf e.
Untuk membedakan pengucapan, pada e pepet dapat diberikan tanda diakritik
(ê) yang dilafalkan (ə) misalnya: seri (sêri).
b) Huruf Konsonan: Terdiri dari 21 huruf yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r,
s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf q dan x dikhususkan untuk nama diri dan keperluan bidang tertentu.
2. Gabungan Huruf Vokal
a) Monoftong: dalam Bahasa Indonesia dilambangkan dengan gabungan huruf
vocal eu yang dilapalkan (ə)
b) Diftong: Dilambangkan dengan ai, au, ei, dan oi.
3. Gabungan Huruf Konsonan
Melambangkan satu bunyi konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
4. Huruf Kapital
Huruf kapital (huruf besar) digunakan, antara lain, pada:
a) Huruf pertama awal kalimat dan petikan langsung.
b) Huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan, dan nama pada teori,
hukum, atau rumus (misalnya: teori Darwin).
c) Huruf pertama yang berkaitan dengan nama agama, kitab suci, dan Tuhan,
termasuk sebutan dan kata ganti Tuhan (misalnya: Yang Maha Kuasa, Al-
Qur'an).
d) Huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan,
akademik, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang diikuti nama
orang atau digunakan sebagai sapaan (misalnya: Doktor Mohammad Hatta,
Selamat pagi, Dokter).
e) Huruf pertama nama bangsa, suku, bahasa, dan aksara (misalnya: bangsa
Indonesia, bahasa Tolaki).
f) Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar/raya.
g) Huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah (misalnya: Perang Dunia II).
h) Huruf pertama nama geografi (misalnya: Pulau Miangas, Sungai Mamberamo)
dan nama geografi yang menyatakan asal daerah (misalnya: kopi Gayo, batik
Cirebon).
i) Huruf pertama semua kata (kecuali kata tugas) pada nama lembaga,
organisasi, atau dokumen negara/internasional, dan pada judul
buku/karangan/artikel/media massa.
j) Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang digunakan sebagai
sapaan (misalnya: "Kapan Bapak berangkat?"). Kata Anda selalu ditulis
dengan huruf awal kapital.
5. Huruf Miring
Huruf miring digunakan untuk:
a) Menuliskan judul buku, film, lagu, acara televisi, lakon, dan nama media
massa yang dikutip dalam tulisan.
b) Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok
kata.
c) Menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah dan bahasa asing
(kecuali nama diri).
6. Huruf tebal
Huruf tebal digunakan untuk:
a) Menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring. Misalnya kata et dalam
ungkapan ora et labora berarti dan.
b) Huruf tebal digunakan untuk menegaskan bagian karangan, seperti baba tau
subbab
BAB II: PENULISAN KATA
1. Kata Turunan
a) Kata yang mendapat imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, atau gabungan) ditulis
serangkai (misalnya: berjalan, kemilau).
b) Bentuk Terikat:
1) Umumnya ditulis serangkai jika mengacu pada konsep keilmuan
tertentu (misalnya: aerodinamika, pascasarjana).
2) Ditulis dengan tanda hubung (-) jika diawali huruf kapital atau ditulis
miring (misalnya: non-Indonesia, anti-mainstream).
3) Bentuk terikat maha- yang mengacu pada nama/sifat Tuhan ditulis
terpisah dan diawali huruf kapital (misalnya: Yang Maha Pengasih).
2. Bentuk Ulang
a) Ditulis dengan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya (misalnya: anak-
anak, mondar-mandir).
b) Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama
(misalnya: kapal-kapal barang).
3. Gabungan Kata
a) Ditulis terpisah (misalnya: duta besar, ibu kota).
b) Ditulis serangkai jika sudah dianggap satu kesatuan (misalnya: acapkali,
kacamata, sukacita).
c) Ditulis serangkai jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus (misalnya:
pertanggungjawaban, dilipatgandakan).
d) Ditulis terpisah jika hanya mendapat awalan atau akhiran (misalnya: bertepuk
tangan, sebar luaskan).
4. Kata Depan dan Partikel
a) Kata Depan: di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
(misalnya: Di mana dia, ke luar kota).
b) Partikel -lah, -kah, -tah: Ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya
(misalnya: Bacalah, Apakah).
c) Partikel pun:
1) Umumnya ditulis terpisah (misalnya: apa pun, sekali pun).
2) Ditulis serangkai jika merupakan bagian dari kata penghubung
(konjungsi) (misalnya: walaupun, meskipun, adapun).
BAB III : PEMAKAIAN TANDA BACA
1. Tanda Titik ( . )
Tanda titik dipakai untuk:
a) Mengakhiri kalimat pernyataan (bukan pertanyaan atau seruan).
b) Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
c) Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu (misalnya:
pukul 01.35.20).
d) Memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah
(misalnya: Rp10.000.000,00).
2. Tanda Koma ( , )
Tanda koma dipakai untuk:
a) Memisahkan unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan yang
lebih dari dua.
b) Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat
mendahului induk kalimat.
c) Di belakang kata atau ungkapan penghubung antar-kalimat, seperti oleh
karena itu, jadi, meskipun demikian.
d) Sebelum kata penghubung yang menyatakan perlawanan, seperti tetapi,
melainkan, sedangkan.
e) Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
3. Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dipakai untuk:
a) Memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah
menggunakan tanda koma (misalnya: warna: merah, hijau, dan biru; kuning,
putih, dan hitam).
b) Menggantikan kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu
dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk (misalnya: Ayah
menyelesaikan pekerjaan; Ibu memasak di dapur).
4. Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai pada:
a) Akhir suatu pernyataan lengkap diikuti pemerincian atau penjelasan
(misalnya: Perlengkapan yang diperlukan: kompor, panci, dan spatula).
b) Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian (misalnya: Ketua:
Dani, Sekretaris: Lina).
c) Dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam
percakapan.
5. Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)
a) Tanda Hubung (-)
1) Menyambung unsur-unsur kata ulang (misalnya: rumah-rumah).
2) Merangkai unsur bentuk terikat dengan kata berikutnya yang diawali
huruf kapital (misalnya: se-Indonesia, pro-Barat).
3) Menyambung tanggal, bulan, dan tahun, atau menunjukkan huruf/kata
yang dieja satu-satu.
b) Tanda Pisah (—)
1) Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan
khusus di luar pokok kalimat.
2) Menegaskan adanya keterangan aposisi (penjelasan yang searti) atau
keterangan lain.
3) Menyatakan rentang waktu, jarak, atau tempat (misalnya: Jakarta—
Bandung, 2022—2025).
6. Tanda Baca Lainnya (Tanya, Seru, Kurung, Petik, dll.)
a) Tanda Tanya (?): Digunakan pada akhir kalimat tanya.
b) Tanda Seru (!): Digunakan pada akhir ungkapan atau pernyataan yang berupa
seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
atau emosi kuat.
c) Tanda Kurung (( )): Mengapit keterangan atau tambahan penjelasan (misalnya:
PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)).
d) Tanda Petik Dua ("..."): Mengapit petikan langsung dari pembicaraan atau
naskah, serta mengapit judul sajak, lagu, artikel, atau bab buku yang dipakai
dalam kalimat.
e) Tanda Petik Tunggal ('...'): Mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan
lain, atau mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata/ungkapan
asing/daerah.
f) Tanda Garis Miring (/): Dipakai dalam penomoran surat, atau sebagai
pengganti kata atau, setiap, atau per (misalnya: Rp50.000,00/ekor).
BAB IV: PENULISAN UNSUR SERAPAN
Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa,
baik dari bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari bahasa asing,
seperti bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf
integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok
besar.
Kelompok pertama merupakan unsur bahasa sumber yang tidak diserap ke dalam
bahasa Indonesia, seperti force majeure, de facto, de jure, dan l’exploitation de l’homme par
l’homme. Unsur-unsur itu digunakan dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan
pelafalannya masih mengikuti cara asing.
Kelompok kedua merupakan unsur bahasa sumber yang penulisan dan pelafalannya
disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini, penyerapan diupayakan agar
ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan
bentuk asalnya. Unsur bahasa sumber diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan
memprioritaskan bentuk. Penyerapan bentuk tersebut meliputi huruf, gabungan huruf, dan
imbuhan. Kaidah yang berkaitan dengan imbuhan dijelaskan dalam Pedoman Umum
Pembentukan Istilah (PUPI).
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan dijelaskan di bawah ini. Di dalam
kaidah ini ada asal bahasa yang dicantumkan di dalam tanda kurung, misalnya (Wolio), yang
berarti berasal dari bahasa Wolio.
1. Penulisan Unsur Serapan Umum
A. Kaidah Penulisan Unsur Serapan
1. Fatah (/a/)
Huruf Arab berharakat fatah diserap menjadi “a”.
Contoh: umrah → umrah, halal → halal.
2. ‘Ain di awal suku kata
Huruf ‘ain di awal disesuaikan dengan vokal a, i, atau u.
Contoh: ‘ilm → ilmu, ‘uzr → uzur.
3. ‘Ain di akhir suku katas
Huruf ‘ain di akhir diserap menjadi “k”.
Contoh: rukū‘ → rukuk, simā‘ → simak.
4. Hamzah berbunyi vokal
Jika hamzah dibaca a, i, atau u maka ditulis sesuai bunyi itu.
Contoh: amr → amar, ufuq → ufuk.
5. aa (Belanda) menjadi a
Huruf ganda “aa” disingkat menjadi “a”.
Contoh: baal → bal, paal → pal.
6. ae yang bervariasi dengan e menjadi e
Bila “ae” dibaca /e/, maka ditulis e.
Contoh: aesthetic → estetik, haemoglobin → hemoglobin.
7. ae yang tidak bervariasi tetap ae
Jika dibaca /ae/, tetap ditulis ae.
Contoh: aerobe → aerob, aerosol → aerosol.
8. ai tetap ai
Tidak mengalami perubahan.
Contoh: detail → detail, retail → retail.
9. au tetap au
Dibiarkan sesuai bunyinya.
Contoh: aura → aura, caustic → kaustik.
10. bl tetap bl
Tidak mengalami perubahan.
Contoh: blok → blok, bleganjur → bleganjur.
11. c + a/o/u menjadi k
Huruf “c” sebelum a, o, atau u diubah menjadi “k”.
Contoh: construction → konstruksi, cursor → kursor.
12. c + e/i menjadi s
Huruf “c” sebelum e atau i diubah menjadi “s”.
Contoh: cent → sen, circus → sirkus.
13. cc + o/u menjadi k
Huruf ganda “cc” disederhanakan menjadi “k”.
Contoh: accommodation → akomodasi, accumulation → akumulasi.
14. cc + e/i menjadi ks
Dibaca /ks/ dan ditulis “ks”.
Contoh: accent → aksen, vaccine → vaksin.
15. cch menjadi k
Disederhanakan agar sesuai pelafalan.
Contoh: saccharin → sakarin, zucchini → zukini.
16. ch + a/o menjadi k
Bila berbunyi /k/, ditulis “k”.
Contoh: cholera → kolera, technique → teknik.
17. ch berbunyi /s/ menjadi s
Jika berbunyi /s/, diganti “s”.
Contoh: brochure → brosur, attaché → atase.
18. ch berbunyi /c/ menjadi c
Jika dibaca /c/, tetap ditulis “c”.
Contoh: kimchi → kimci, mochi → moci.
19. ck menjadi k
Huruf rangkap disederhanakan.
Contoh: check → cek, ticket → tiket.
20. cr menjadi kr
Huruf “c” diubah menjadi “k”.
Contoh: critic → kritik, creatief → kreatif.
21. ct di akhir kata menjadi k
Akhiran “ct” disingkat menjadi “k”.
Contoh: abstract → abstrak, contact → kontak.
22. ç menjadi s
Huruf “ç” dari bahasa lain diserap menjadi “s”.
Contoh: çastra → sastra, rāçi → rasi.
23. dal atau ḍad (Arab) menjadi d
Huruf Arab ini ditulis “d”.
Contoh: da‘wah → dakwah, ḥāḍir → hadir.
24. dh menjadi d
Bunyi “dh” disederhanakan menjadi “d”.
Contoh: dharma → darma, dhandhang → dandang.
25. e tetap e
Tidak berubah.
Contoh: effect → efek, synthesis → sintesis.
26. ea dibaca /i/ menjadi i
Bila diucapkan /i/, ditulis “i”.
Contoh: cream → krim, team → tim.
27. ea selain /i/ tetap ea
Bila bukan bunyi /i/, tetap “ea”.
Contoh: theater → teater, pancreas → pankreas.
28. ee menjadi e
Huruf ganda disederhanakan.
Contoh: idee → ide, apotheek → apotek.
29. ei tetap ei
Tidak diubah.
Contoh: protein → protein, meiosis → meiosis.
30. eo tetap eo
Dibiarkan seperti aslinya.
Contoh: geometry → geometri, stereo → stereo.
31. eu tetap eu
Tidak diubah.
Contoh: neutron → neutron, eugenol → eugenol.
32. eu lokal tetap eu
Dalam bahasa daerah (Aceh/Sunda) tetap sama.
Contoh: meunasah → meunasah, keukeuh → keukeuh.
33. fa (Arab) menjadi f
Huruf “fa” diserap menjadi “f”.
Contoh: faṣīḥ → fasih, afḍal → afdal.
34. f tetap f
Tidak diubah.
Contoh: fanatic → fanatik, factor → faktor.
35. gh menjadi g
Huruf “gh” disederhanakan.
Contoh: spaghetti → spageti, sorghum → sorgum.
36. gain (‫ )غ‬menjadi g
Huruf Arab ‫ غ‬ditulis “g”.
Contoh: magfirah → magfirah, magrib → magrib.
37. ḥa (‫ )ح‬menjadi h
Tetap ditulis “h”.
Contoh: ḥākim → hakim, hawā’ → hawa.
38. Hamzah tengah kata menjadi k
Hamzah di tengah kata diserap sebagai “k”.
Contoh: mu’min → mukmin, ta’wīl → takwil.
39. Hamzah di akhir dihilangkan
Tidak ditulis lagi.
Contoh: wuḍū’ → wudu, imlā’ → imla.
40. Kasrah (/i/) menjadi i
Huruf Arab berharakat kasrah ditulis “i”.
Contoh: naṣīḥah → nasihat, ṣaḥīḥ → sahih.
41. i + a/o tetap i
Tidak diubah.
Contoh: ion → ion, iota → iota.
42. ie dibaca /i/ menjadi i
Disederhanakan.
Contoh: favoriet → favorit, riem → rim.
43. ie Latin tetap ie
Dibiarkan seperti aslinya.
Contoh: species → spesies, varietas → varietas.
44. jim (‫ )ج‬menjadi j
Ditulis “j”.
Contoh: ḥijāb → hijab, ijāzah → ijazah.
45. kha (‫ )خ‬menjadi kh
Tidak diubah.
Contoh: makhlūq → makhluk, tārīkh → tarikh.
46. kl tetap kl
Tidak berubah.
Contoh: kliniek → klinik, klenik → klenik.
47. kr tetap kr
Dibiarkan.
Contoh: krida → krida, krans → krans.
48. n + p menjadi m
Terjadi asimilasi bunyi.
Contoh: kenpo → kempo, lunpia → lumpia.
49. ng tetap ng
Tidak diubah.
Contoh: kongres → kongres, linguistik → linguistik.
50. oe menjadi e
Disesuaikan ejaan.
Contoh: amoeba → ameba, oestrogen → estrogen.
51. oi tetap oi
Tidak diubah.
Contoh: point → poin, reservoir → reservoir.
52. oo (Belanda) menjadi o
Disederhanakan.
Contoh: bioscoop → bioskop, astroloog → astrolog.
53. oo berbunyi /u/ menjadi u
Bila dibaca /u/, ditulis “u”.
Contoh: pool → pul, proof → pruf.
54. oo vokal ganda tetap oo
Tidak berubah.
Contoh: zoology → zoologi, noosphere → noosfer.
55. ou berbunyi /u/ menjadi u
Bila dibaca /u/, diganti “u”.
Contoh: coupon → kupon, souvenir → suvenir.
56. ou tidak /u/ tetap ou
Bila bukan bunyi /u/, tetap “ou”.
Contoh: voucher → voucer, coulomb → kulon.
57. ph menjadi f
Huruf “ph” disederhanakan.
Contoh: phase → fase, microphone → mikrofon.
58. pl tetap pl
Tidak diubah.
Contoh: implant → implan, pleno → pleno.
59. pr tetap pr
Tidak diubah.
Contoh: product → produk, praja → praja.
60. ps tetap ps
Tidak berubah.
Contoh: psychiatry → psikiatri, pseudonym → pseudonim.
61. pt tetap pt
Tidak diubah.
Contoh: pterodactyl → pterodaktil, ptyalin → ptialin.
62. q menjadi k
Disesuaikan dengan ejaan Indonesia.
Contoh: frequency → frekuensi, aquarium → akuarium.
63. qaf (‫ )ق‬menjadi k
Huruf Arab ini ditulis “k”.
Contoh: maqām → makam, qurūn → kurun.
64. rh menjadi r
Disederhanakan.
Contoh: rhesus → resus, rhombus → rombus.
65. śa/sin/ṣad menjadi s
Semua bunyi /s/ ditulis “s”.
Contoh: asās → asas, silsilah → silsilah.
66. syin menjadi sy
Tidak diubah.
Contoh: syukr → syukur, ‘āsyiq → asyik.
67. sc + a/o menjadi sk
Diganti dengan “sk”.
Contoh: score → skor, scuba → skuba.
68. sc + e/i menjadi s
Diperhalus menjadi “s”.
Contoh: science → sains, oscillator → osilator.
69. sch + vokal menjadi sk
Sama seperti sc.
Contoh: schema → skema, schizophrenia → skizofrenia.
70. sr tetap sr
Tidak berubah.
Contoh: asrār → asrar, asri → asri.
71. t + i = /s/ menjadi s
Bila dibaca /s/, diganti “s”.
Contoh: politie → polisi, patient → pasien.
72. ṭa (‫ )ط‬menjadi t
Ditulis “t”.
Contoh: muṭlaq → mutlak, ṭabīb → tabib.
73. th menjadi t
Disederhanakan.
Contoh: thesis → tesis, methode → metode.
74. tr tetap tr
Tidak berubah.
Contoh: transfer → transfer, matra → matra.
75. ts tetap ts
Tidak diubah.
Contoh: tsunami → tsunami, jujitsu → jujitsu.
76. u tetap u
Tidak diubah.
Contoh: bus → bus, unit → unit.
77. Damah (/u/) menjadi u
Harakat damah diserap sebagai u.
Contoh: mubāḥ → mubah, ufuq → ufuk.
78. ua tetap ua
Tidak diubah.
Contoh: dualisme → dualisme, equator → ekuator.
79. ue tetap ue
Dibiarkan.
Contoh: duet → duet, frequency → frekuensi.
80. ui tetap ui
Tidak berubah.
Contoh: equivalent → ekuivalen, equinox → ekuinoks.
81. uo tetap uo
Tidak diubah.
Contoh: quota → kuota, duodenum → duodenum.
82. uu menjadi u
Disederhanakan.
Contoh: vacuum → vakum, prematuur → prematur.
83. v tetap v
Tidak diubah.
Contoh: vision → visi, vitamin → vitamin.
84. wau (‫ )و‬menjadi w
Huruf Arab “waw” ditulis “w”.
Contoh: wujūd → wujud, taqwā → takwa.
85. wau ganda dihilangkan
Hanya satu “w” ditulis.
Contoh: quwwah → kuat, ukhuwwah → ukhuah.
86. x di awal kata tetap x
Tidak berubah.
Contoh: xylophone → xilofon, xenon → xenon.
87. x di tengah/akhir menjadi ks
Diserap sesuai bunyi.
Contoh: taxi → taksi, complex → kompleks.
88. xc + e/i menjadi ks
Sama prinsipnya.
Contoh: excess → ekses, excision → eksisi.
89. xc + a/o/u menjadi ksk
Disesuaikan bunyinya.
Contoh: exclusive → eksklusif, excretion → ekskresi.
90. y berbunyi /y/ tetap y
Tidak diubah.
Contoh: yoga → yoga, yuan → yuan.
91. y berbunyi /i/ atau /ai/ menjadi i
Disesuaikan pelafalan.
Contoh: cyber → siber, dynamo → dinamo.
92. ya di awal menjadi y
Tetap sama.
Contoh: yaqīn → yakin, hidāyah → hidayah.
93. ya setelah i dihilangkan
Disederhanakan.
Contoh: ziyārah → ziarah, khiyānah → khianat.
94. z tetap z
Tidak diubah.
Contoh: zodiac → zodiak, zenith → zenit.
95. zai/żal/ẓa menjadi z
Semua bunyi /z/ diserap jadi “z”.
Contoh: ẓālim → zalim, żāt → zat.
B. Penulisan Unsur Serapan Khusus
1. Deret konsonan akhir ditambah vokal
Kata Arab yang berakhir dua konsonan ditambah vokal agar mudah diucap.
Contoh: ‘aqd → akad, jild → jilid.
2. Penambahan bunyi /u/
Untuk deret konsonan yang sulit diucapkan.
Contoh: waqt → waktu, farḍ → fardu.
3. Konsonan ganda disederhanakan
Huruf rangkap dijadikan tunggal.
Contoh: commission → komisi, pizza → piza.
4. Kata serapan yang lazim dipertahankan
Bentuk yang sudah umum tidak diubah.
Contoh: alamat, telepon, soal, khotbah.

Anda mungkin juga menyukai