Pengujian CBR Tanah untuk Jalan Tol
Pengujian CBR Tanah untuk Jalan Tol
PENDAHULUAN
1
konstrusi jalan. Tetapi apabila pada kondisi lapangan dengan kondisi tanah dasar
yang bermasalah atau kurang mendukung untuk suatu konstruksi jalan maka selain
pemadatan diperlukan juga perlakuan khusus, diantaranya dengan menggunakan
bahan tambah (additive) untuk perbaikan tanah dasar tersebut.
Dalam suatu perencanaan konstruksi dalam bidang teknik sipil (tanggul,
bangunan, lahan parkir, jalan, jembatan dan lain-lain) tidak jarang ditemukan
kondisi tanah asli yang labil sehinga daya dukung sangat rendah dan tidak
memungkinkan untuk menahan suatu sistem pembebanan diatasnya. Hal ini dapat
diatasi dengan melakukan timbunan tanah 2 diatas lapisan tanah asli dengan tanah
yang memiliki potensi daya dukung yang memadai.
Urugan tanah adalah suatu jenis pekerjaan yang bertujuan untuk
memindahkan tanah (padas, merah, atau semi padas) dari satu tempat lokasi
(sumber pengambilan tanah) ke tempat lokasi lain yang di inginkan sebanyak yang
dibutuhkan agar tercapai bentuk dan ketinggian tanah yang diinginkan, antara lain
sektor pertanian (sawah, ladang dan perkebunan), infrastruktur pembangunan
(pondasi bangunan) dan kerajinan (gerabah, tembikar, pot, genteng dan batu bata).
Dengan memakai acuan perhitungan ritase atau pun m³. Timbunan dapat
digunakan sebagai lapis penopang untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar,
juga digunakan didaerah saluran air dan lokasi serupa.
Nilai CBR dapat digunakan sebagai dasar pada perencanaan timbunan jalan
selanjutnya, tergantung dari kelas jalan yang dikehendaki. Semakin tinggi nilai
CBR maka menunjukkan tanah dasar semakin baik. Pengujian CBR dapat
dilakukan langsung dilapangan, yaitu dengan metode konvensinal, tetapi
memerlukan waktu dan biaya yang tinggi, selain itu dapat juga dilakukan
dilaboratorium.
2
Lapangan Pada Ruas Jalan Kampus UNIPAS Morotai.” (Fitro Darwis, Elfira Resti
Mulya, 2021).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan, yaitu :
1. Bagaimana sifat fisis dan mekanis tanah asli pada proyek jalan tol tebing
tinggi – parapat, STA. 0 + 000 - 3 0 + 000.
3
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara
garis besar tahapan dalam pelaksanaan penelitian. Adapun sistematika penulisan
penelitian sebagai berikut :
1. Bab I Pendahuluan
Bab ini berisikan tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan dan manfaat dan sistematika penulisan.
Bab ini berisikan tentang landasan teori tentang tanah, klasifikasi tanah, sifat
fisis tanah, sifat mekanis tanah, dynmic cone penetrometer.
Bab ini berisikan tentang kondisi tanah asli, klasifikasi tanah, berat jenis,
analisa saringan, dan hasil perhitungan nilai CBR laboratorium
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah
5
beban (beban sementara ataupun beban tetap) yang dapat bekerja diatasnya
sedangkan kompresibilitas yang besar mengakibatkan terjadinya penurunan setelah
pembangunan selesai. Oleh karena itu perlu ditinjau kembali sifat-sifat fisik dan
mekanis tanah yang dalam hal ini tanah lempung agar dapat diketahui perilaku
tanah lempung tersebut dan besar beban yang dapat di terima oleh tanah lempung
tersebut.
2.2 Sistem Klasifikasi Tanah
Klasifikasi tanah adalah ilmu yang berhubungan dengan tanah berdasarkan
karakteristik yang membedakan masing-masing jenis tanah. Klasifikasi tanah
merupakan sebuah subjek yang dinamis yang mempelajari struktur dari sistem
klasifikasi tanah, definisi dari kelas-kelas yang digunakan untuk penggolongan
tanah, kriteria yang menentukan penggolongan tanah, hingga penerapannya di
lapangan.
Deskripsi maupun klasifikasi tanah dimaksudkan untuk memberikan
keterangan mengenai sifat-sifat teknis dari tanah itu sendiri, sehingga untuk
tanah-tanah tertentu dapat diberikan nama dan istilah-istilah yang tepat sesuai
dengan sifatnya. Klasifikasi tanah menggambarkan karakteristik mekanis dari
tanah, juga menentukan kualitas tanah untuk tujuan perencanaan maupun dalam
pelaksanaan suatu konstruksi.
Sistem klasifikasi tanah digunakan untuk mengelompokan tanah sesuai dengan
bentuk umum dari tanah pada kondisi fisis tertentu. Tujuan klasifikasi tanah ini
adalah untuk memperkirakan sifat fisis tanah dengan cara mengelompokkan tanah
dengan kelas yang sifatnya sama dan fisisnya diketahui juga menyediakan sebuah
metode yang lebih akurat mengenai deskripsi tanah bagi para ahli. Tanah yang
dikelompokan diurutkan berdasarkan satu fisis tertentu bisa saja mempunyai urutan
yang tidak sama jika didasarkan dengan kondisi fisis tertentu lainnya. Untuk
memperoleh hasil klasifikasi yang lebih objektif, biasanya sampel tanah akan diuji
dilaboraturium dengan serangkain uji laboratutium yang dapat menghasilkan
klasifikasi tanah.
Tujuan klasifikasi tanah ini adalah untuk memperkirakan sifat fisis tanah
6
dengan cara mengelompokkan tanah dengan kelas
1. Klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir atau tekstur.
2. Klasifikasi tanah dengan sistem USCS.
3. Klasifikasi tanah dengan sistem AASHTO.
Sistem ini menggunakan sifat indeks tanah yang sederhana seperti distribusi
ukuran butir, batas cair, dan indeks plastisitasnya (Hardiyatmo, 1992).
7
Gambar 2.1 Klasifikasi Berdasarkan Tekstur Tanah Oleh Departemen Amerika
Serikat (USDA)
(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1, Braja [Link],1995)
8
c. A-3 adalah kelompok tanah yang terdiri dari pasir halus dengan sedikit sekali
butir-butir halus lolos saringan No.200 dan tidak plastis.
Ukuran dari partikel tanah sangat beragam dengan variasi yang cukup
besar. Tanah umumnya dapat disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau
(slit), atau lempung (clay) tergantung kepada tanah yang memiliki ukuran
9
Tabel 2. 1 Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO
10
berbutir kasar hal ini diakibatkan karena butiran tanah yang lebih kasar lebih
kuat untuk saling mengikat.
2. Tanah berbutir halus (fine-grained-soil)
Tanah berbutir halus adalah tanah yang lebih dari 50% berat total, contoh
tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok ini dimulai dari huruf M untuk
tanah lanau (silt) anorganik, C untuk tanah lempung (clay) anargonik, dan
O lanau-organik dan lempung organik dan Symbol PT yang digunakan untuk
tanah gambut (peat), muck, dan tanah lain dengan kadar organik yang tinggi.
3. Tanah organik
Tanah ini mempunyai ciri-ciri dari warna, bau dan sisa tumbuh-tumbuhan yang
terkandung di dalamnya. Sifat teknis berwujud kasar ditentukan oleh butiran dan gradasi
butirnya. Oleh karena itu tanah berbutir kasar diklasifikasikan berdasarkan ukuran
tanahnya.
Tanah bergradasi baik atau tidak seragam terdapat distribusi yang merata dari
ukuran-ukuran butir yang ada, yaitu apabila terdapat butiran-butiran dengan
ukuran yang memungkinkan diantara batas-batas gradasi atas dan bawah. Dapat
diperleh dengan menggambarkan kurva butiran serta ikut mengamati bentuk dan
sebaran yang ada.
Tabel 2.2 simbol klasifikasi Unified Soil Classification System
Jenis tanah Simbol
Huruf pertama
menunjukan
jenisnya
Kerikil (gravel) G
Pasir (sand) S
Lanau (slit) M
Lempung (clay) C
Tanah organik (organic) O
Mengandung lanau M
Mengandung clay C
Bersifat plastisitas rendah (low L
plasticity) → LL < 50
Plastisitas tinggi (high plasticity) H
→ LL > 50
Sumber : mekanika tanah,jilid 1, Hardiyatmo,2002
11
Tabel 2.3 Sistem klasifikasi Unified Soil Classification System
12
Gambar 2.3 Grafik Plastisitas Untuk Klasifisikasi USCS
(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1,Braja M Das)
Tanah terdiri dari 3 (tiga) fase elemen yaitu : air, udara, dan butiran padat
(solid). Ketiga fase elemen tersebut dapat dilihat dalam gambar 2.4
13
Gambar 2.4. Elemen Tanah Dalam Keadaan Asli Dan Tiga Fase Elemen Tanah
(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1,Braja M Das)
Gambar diatas memperoleh persamaan hubungan antara volume berat dari tanah
berikut:
V= V s + V v ........................................................................................ (2.1)
V = V s + V w + V a ........................................................... (2.2)
di mana:
V s : Volume butiran padat
V v : Volume pori
14
2.3.1 Kadar Air (Water Content)
Kadar air (w), juga disebut water content didefinisikan sebagai
perbandinganantara berta air dan berat butiran dari volume tanah yang diselediki.
𝑊𝑤
𝑤= 𝑥 100% ........................................................................................ (2.4)
𝑊𝑆
Dengan:
w : Kadar air (%)
W w : Berat (gr)
Atterberg Limit adalah perhitungan dasar dari tanah yang berbutir halus.
Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah tersbut
dapat diremas-remas tanpa adanya retakan yang terlihat pada bagian tanah. Sifat
kohesif ini disebabkan karena adanya air yang terserap disekitar permukaannya.
Atterberg Limit memiliki metode untuk menjelaskan sifat konsistensi pada
butir halus dan kadar air yang bervariasi. Semua berdasarkan pada jumlah air
pada tanah. Tanah akan berbentuk cair, plastis, semi padat atau padat tergantung
pada jumlah air yang bercampur pada tanah tersebut.
Parameter utama ada dua untuk mengetahui plastisitas tanah lempung,
yaitu batas atas dan batas bawah plastisitas. Atterberg memberikan cara
untuk menggambarkan batas-batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan
mempertimbangkan kandungan kadar air (Holtz dan Kovacs, 1981).
Tanah yang batas cairnya tinggi biasanya mempunyai sifat teknik yang
buruk yaitu kekuatannya rendah, sedangkan kompresibilitasnya tinggi sehingga
sulit dalam pemadatannya. Oleh karena itu, atas dasar kandungan kadar air
dalam tanah, tanah dapat dipisahkan ke dalam empat keadaan dasar, yaitu :
padat, semi padat, plastis dan cair, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.5
15
Gambar 2.5 Batas-Batas Atterberg
(Sumber :Dasar-Dasar Mekanika Tanah, [Link],[Link], 20018)
Batas Cair adalah nilai kadar air tanah pada batas antara keadaan cair
dengan keadaan plastis tanah, atau nilai batas atas pada daerah plastis. Pengujian
batas cair dilakukan dengan Uji Casagrande (1948), yang mana contoh tanah
dimasukkan ke dalam cawan Casagrande kemudian permukaannya diratakan,
dan dialur (grooving) tepat ditengah. Selanjutnya dengan alat penggetar cawan
tersebut diketuk-ketukkan pada landasannya dengan tinggi jatuh 1 cm
sebanyak 25 ketukan. Bila alur selebar 12,7 mm yang berada di tengah tertutup
sampai batasan 25 ketukan, maka kadar air tanah pada saat itu merupakan “batas
cair”.
Pada pengujian ini bertujuan agar mendapatkan nilai kadar air pada 25
pukulan. Batas cair ini memiliki nilai batas antara 0 – 100, akan tetapi tanah yang
memiliki nilai batas cair dibawah dari 100 (Holtz dan Kovacs, 1981). Pengujian
dilakukan dengan menetapkan segumpal tanah dalam sebuah mangkok dan
membuat alur dengan ukuran standart pada tanah tersebut. Kemudian mangkok
dijatuhkan ke atas permukaan yang keras dengan ketinggian 10 mm.
batas cair ditetapkan sebagai kadar air apabila alur bertaut selebar 12,7 mm
16
pada 25 pukulan. Alat uji batas cair (Liquid Limit) dapat dilihat pada Gambar
2.6
Batas plastis (Plastic Limit) dapat didefinisikan sebagai kadar air pada tanah
dimana pada batas bawah daerah plastis atau kadar air minimum. Tanah
yang dalam keadaan plastis adalah apabila tanah dapat dibentuk menjadi bentuk
baru tanpa adanya retak. Batas plastis ditentukan dengan menggulung segumpal
tanah menjadi sebuah batangan. Batangan tersebut mulai pada diameter 3,18 mm
(1/8 inchi), kadar airnya adalah batas plastis (ASTM D-424). Apabila tanah
mulai mengalami retak-retak atau pecah ketika digulung, maka kadar air dari
sampel tersebut adalah Batas Plastis.
Batas Plastis (Plastic Limit) adalah kadar air tanah yang kedudukan antara
daerah plastis dan semi padat yang memiliki batasan nilai antara 0 – 100, tetapi
kebanyakan tanah memiliki nilai dibawah kurang dari 40 (Holtz dan Kovacs,
1981).
c. Batas Susut (Shrinkage Limit)
17
Batas susut adalah nilai kadar air pada kedudukan antara zone semi padat
dengan zone padat. Pada kondisi ini pengurangan kadar air dalam tanah tidak
akan mempengaruhi lagi pengurangan volume pada tanah.
Percobaan untuk mengetahui batas susut dilakukan dengan mengisi
tanah jenuh sempurna ke dalam cawan porselin berukuran diameter 44,4 mm dan
tinggi 12,7 mm. Selanjutnya cawan dan tanah isinya dikeringkan dalam oven.
Setelah tanah dalam cawan mengering, selanjutnya dikeluarkan dari cawan
tersebut. Untuk mengetahui nilai batas susut, maka sampel yang telah kering
dicelupkan ke dalam air raksa, dan nilai batas susutnya dapat dinyatakan dalam
persamaan. Seperti yang ditunjukkan pada rumusan dibawah ini.
(𝑊1 −𝑊2 ) (𝑉1 −𝑉2) 𝜌𝑤
SL = ( − ) 𝑋 100% ....................................................... (2.5)
𝑚2 𝑚2
Dimana :
𝑊1 : Berat Tanah Basah Dalam Cawan Percobaan (gr)
18
Dimana :
IP : Indeks Plastisitas
LL : Batas Cair
PL: Batas Plastis
Klasifikasi jenis tanah berdasarkan indeks plastisitasnya dilihat pada tabel 2.3
Tabel 2.4 Indeks Plastisitas Tanah
berikut ini.
19
Tabel 2.5 Berat Jenis Tanah
Humus 1,37
20
20 0,85
60 0,25
80 0,18
100 0,15
140 0,106
170 0,088
200 0,075
270 0,053
Ukuran butiran tidak hanya menunjukkan rentang (range) ukuran butiran tetapi
juga jenis tanah. Berikut ini adalah tipe tanah yaitu:
a. GW dan SW mewakili suatu tipe tanah yang dimana ukuran butirannya
terbagi di dalam rentang yang lebar dan dinamakan tanah bergradasi baik
(well graded soil).
21
b. GP dan SP mewakili suatu tipe tanah yang dimana ukuran butirannya
terbagi di dalam rentang yang lebar dan dinamakan tanah yang bergradasi
buruk (poorly graded soil).
Untuk menetukan kadar air optimum ini biasanya dibuat grafik antara kadar
air dan berat isi kering. Berat isi kering ini digunakan untuk menentukan kadar
air optimum dimana mencapai keadaan paling padat dapat dilakukan dengan
percobaan pemadatan di lapangan dan percobaan pemadatan di laboratorium.
Ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan pemadatan adalah
kurangnya penurunan permukaan tanah (subsidence), yaitu dimana suatu massa
tanah itu sendiri bergerak secara vertikal, akibatnya mengalami berkurangnya
22
angka pori, dan bertambahnya kekuatan tanah, dan juga berkurangnya
penyusutan volume akibat menurunnya kadar air dari nilai patokan pada saat
pengeringan (Bowles, 1993).
Hubungan berat volume tanah kering dengan volume tanah basah dan kering
air yang dinyatakan dengan persamaan berikut:
𝑠 𝛾
𝛾𝑑 = (1+𝑤) ................................................................................... (2.8)
dimana :
𝛾𝑑 : berat isi kering (gr/cm3)
𝛾𝑠 : berat isi basah (gr/cm3)
w : kadar air (%)
Pada percobaan pemadatan tanah yang dilakukan d penelitian ini dipakai
untuk menentukan kadar air optimum dan berat isi kering maksimum adalah
Hasil pengujian akan memperlihatkan kurva nilai kadar air optimum (ωopt)
untuk mencapai berat volume kering paling besar atau kepadatan maksimum.
Nilai kadar air rendah pada kebanyakan tanah, tanah cenderung bersifat kaku
dan sulit untuk dipadatkan. Setelah kadar air ditambah, tanah menjadi lebih
lunak. Pada kadar air yang tinggi, berat volume air akan berkurang. Bila seluruh
udara didalam tanah dipaksa keluar pada saat pemadatan, tanah akan berada
dalam kedudukan jenuh dan nilai berat volume kering akan menjadi maksimum.
Akan tetapi dalam praktek, kondisi ini sulit dicapai.
Gambar 2.8 Grafik Hubungan Berat Volume Kering dan Kadar Air
23
Berikut Alat Pengujian Pemadatan yang dapat dilihat pada gambar 2.9
berikut ini :
sebagai berikut :
24
𝑁.𝑊.𝐻.𝑛
E= ........................................................................................ (2.9)
𝑉
Dimana :
n = Jumlah lapisan
25
terhadap bahan standard dengan kedalaman dan kecepatan.
26
tersebut setelah mendapatkan tumbukan palu geser pada landasan batang utamanya.
Korelasi antara banyaknya tumbukan dan penetrasi ujung konus dari alat DCP
kedalam tanah akan memberikan gambaran kekuatan dasar pada titik-titik tertentu.
Makin dalam konus masuk kedalam tanah untuk setiap tumbukannya artinya makin
lunak tanah dasar tersebut. Pengujian dengan menggunakan alat DCP akan
menghasilkan data yang setelah diolah akan menghasilkan CBR lapangan tanah
dasar untuk titik yang ditinjau.
Pengujian dengan alat DCP ini pada dasarnya sama dengan Dynamic Cone
Penetrometer (DCP) yaitu sama-sama mencari nilai CBR dari suatu lapisan tanah
langsung dilapangan. Hanya saja pada alat DCP digunakan untuk mengetahiu nilai
CBR tanah asli, sedangkan pada DCP hanya untuk mendapat kekuatan tanah
timbunan pada pembuatan badan jalan, alat ini dipakai pada pekerjaan tanah karena
mudah dipindahkan ke semua titik yang diperlukan tetapi letak lapisan
yang diperiksa tidak sedalam pemeriksaan tanah dengan alat sondir.
Pengujian dilaksankan dengan mencatat jumlah pukulan (blow) dan penetrasi
dari konus (kerucut logam) yang tertanam pada lapisan pondasi karna pengaruh dari
adanya tumbukan palu kemudian dengan menggunakan grafik dan rumus,
pembacaan penetrometer diubah menjadi pembacaan yang setara dengan nilai
CBR.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya,
banak rumus hubungan antara DCP dan CBR di gambarkan pada rumus berikut :
DCP = Dimana :
27