0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Pengujian CBR Tanah untuk Jalan Tol

Dokumen ini membahas pentingnya pengujian nilai CBR (California Bearing Ratio) dalam perencanaan konstruksi jalan tol, serta metode pengujian yang digunakan seperti DCP (Dynamic Cone Penetrometer) dan CBR laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisis dan mekanis tanah asli serta membandingkan nilai CBR dari pengujian laboratorium dan DCP. Selain itu, dokumen ini juga mencakup sistem klasifikasi tanah yang relevan untuk memahami karakteristik tanah dalam konteks teknik sipil.

Diunggah oleh

Didi Wahyudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Pengujian CBR Tanah untuk Jalan Tol

Dokumen ini membahas pentingnya pengujian nilai CBR (California Bearing Ratio) dalam perencanaan konstruksi jalan tol, serta metode pengujian yang digunakan seperti DCP (Dynamic Cone Penetrometer) dan CBR laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisis dan mekanis tanah asli serta membandingkan nilai CBR dari pengujian laboratorium dan DCP. Selain itu, dokumen ini juga mencakup sistem klasifikasi tanah yang relevan untuk memahami karakteristik tanah dalam konteks teknik sipil.

Diunggah oleh

Didi Wahyudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah merupakan salah satu unsur utama dalam pembuatan bangunan –
bangunan teknik sipil,salah satunya adalah pembangunan jalan tol baru dimana
untuk perencanaan perkerasannya harus diketahui nilai CBR-nya terlebih dahulu.
Nilai CBR adalah perbandingan kekuatan tanah dasar atau bahan lain yang dipakai
dibandingkan perkerasan bahan agregat standar (standar material).
Ada berbagai metode untuk mengestimasi nilai CBR, misalnya dari soil
grading ataupun dari data plastisitas tanah. Namun dilapangan beberapa kesulitan
sering dihadapi terutama dalam wilayah pedalaman dengan keterbatasan
transportasi dan penyediaan perangkat pengujian. Alternativ alat yang bisa
digunakan adalah Dynamic Cone Penetrometer yaitu suatu alat yang dirancang
untuk menguji kekuatan lapisan tanah dasar perkerasan jalan secara tepat.
Dalam pekerjaan konstruksi, terutama dalam pembangunan jalan tol, jalan
bandar udara, ataupun lantai kerja gudang, daya dukung tanah berperan penting
terhadap perencanaan dari perkerasan yang akan dibangun. Bila kekuatan tanah
tanah tidak mencukupi maka akan terjadi kerusakan pada perkerasan. Oleh karena
itu, dengan mengetahui daya dukung tanah dapat direncanakan ketebalan
komponen perkerasan jalan sehingga jalan berfungsi dengan layak sesuai dengan
umur rencana yang direncanakan.
Untuk mengetahui nilai dari daya dukung tanah dapat dilakukan pengujian
terhadap tanah. Pada umumnya, dalam perencanaan perkerasan jalan diperlukan
nilai CBR (California Bearing Ratio). Dimana dalam menentukan nilai CBR
terdapat beberapa metoda, yaitu pengujian CBR Lapangan (In situ),CBR Lapangan
Rendaman (Undisturbed Soaken), CBR Laboratorium, dan DCP (Dynamic Cone
Penetrometer).
Cara yang paling sederhana yang dapat digunakan dengan cara pemadatan,
namum dengan kondisi tanah dasar yang memiliki kestabilan dengan nilai CBR
(california bearing ratio) yang tinggi sebagaimana disyaratkan dalam suatu

1
konstrusi jalan. Tetapi apabila pada kondisi lapangan dengan kondisi tanah dasar
yang bermasalah atau kurang mendukung untuk suatu konstruksi jalan maka selain
pemadatan diperlukan juga perlakuan khusus, diantaranya dengan menggunakan
bahan tambah (additive) untuk perbaikan tanah dasar tersebut.
Dalam suatu perencanaan konstruksi dalam bidang teknik sipil (tanggul,
bangunan, lahan parkir, jalan, jembatan dan lain-lain) tidak jarang ditemukan
kondisi tanah asli yang labil sehinga daya dukung sangat rendah dan tidak
memungkinkan untuk menahan suatu sistem pembebanan diatasnya. Hal ini dapat
diatasi dengan melakukan timbunan tanah 2 diatas lapisan tanah asli dengan tanah
yang memiliki potensi daya dukung yang memadai.
Urugan tanah adalah suatu jenis pekerjaan yang bertujuan untuk
memindahkan tanah (padas, merah, atau semi padas) dari satu tempat lokasi
(sumber pengambilan tanah) ke tempat lokasi lain yang di inginkan sebanyak yang
dibutuhkan agar tercapai bentuk dan ketinggian tanah yang diinginkan, antara lain
sektor pertanian (sawah, ladang dan perkebunan), infrastruktur pembangunan
(pondasi bangunan) dan kerajinan (gerabah, tembikar, pot, genteng dan batu bata).
Dengan memakai acuan perhitungan ritase atau pun m³. Timbunan dapat
digunakan sebagai lapis penopang untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar,
juga digunakan didaerah saluran air dan lokasi serupa.
Nilai CBR dapat digunakan sebagai dasar pada perencanaan timbunan jalan
selanjutnya, tergantung dari kelas jalan yang dikehendaki. Semakin tinggi nilai
CBR maka menunjukkan tanah dasar semakin baik. Pengujian CBR dapat
dilakukan langsung dilapangan, yaitu dengan metode konvensinal, tetapi
memerlukan waktu dan biaya yang tinggi, selain itu dapat juga dilakukan
dilaboratorium.

Dalam mendukung penulisan skripsi saya, menggunakan referensi terbaru dari


Jurnal “Hubungan Nilai CBR Laboratorium Dan DCP Pada Tanah Yang
Dipadatkan Pada Ruas Jalan Desa Semisir Kabupaten KOTABARU.” (Sylvina
Permatasari, 2021). Dan adanya penelitian sebelumnya, dengan judul “Analisis
Daya Dukung Tanah Dasar Berdasarkan Uji CBR Laboratorium Dan Uji CBR

2
Lapangan Pada Ruas Jalan Kampus UNIPAS Morotai.” (Fitro Darwis, Elfira Resti
Mulya, 2021).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan, yaitu :

1. Bagaimana sifat fisis dan mekanis tanah asli pada proyek jalan tol tebing
tinggi – parapat, STA. 0 + 000 - 3 0 + 000.

2. Berapa besar perbedaan nilai tanah dengan menggunakan alat CBR


laboratorium dan DCP test ?
3. Berapa nilai pengujian CBR lapangan dengan metode DCP ?
4. Berapa nilai penetapan CBR lapangan melalui pengujian DCP ?
1.3 Batasan Masalah
Agar penulisan skripsi ini lebih terfokus dan jelas, maka ruang lingkup
penelitian yang dilakukan penulis mencakup :
1. Pengujian CBR dilakukan pada proyek jalan Tol Tebing tinggi – parapat ,
STA 0 + 000 – 30 – 000.
2. Pengujian dilakukan pada timbunan yang telah dipadatkan.
3. Pengujian CBR lapangan dilakukan dengan metode DCP ( Dynamic Cone
Penetrometer) maksimal 10 pukulan.
4. Penetapan nilai CBR lapangan melalui pengujian DCP (Dynamic Cone
Penetrometer).

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menentukan nilai CBR tanah dengan uji langsung (CBR Laboratorium)
2. Mendapatkan nilai CBR asli dilapangan pada kedalaman tertentu sesuai
dengan kondisi tanah dasar saat itu.
3. Menentukan hubungan CBR dan DCP serta membandingkannya, dengan
metode sifat mekanis tanah menggunakan persamaan regresi linear.
4. Mendapatkan nilai kekuatan tanah dasar dan lapis pondasi jalan.

3
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara
garis besar tahapan dalam pelaksanaan penelitian. Adapun sistematika penulisan
penelitian sebagai berikut :
1. Bab I Pendahuluan

Bab ini berisikan tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan dan manfaat dan sistematika penulisan.

2. Bab II Tinjauan Kepustakaan

Bab ini berisikan tentang landasan teori tentang tanah, klasifikasi tanah, sifat
fisis tanah, sifat mekanis tanah, dynmic cone penetrometer.

3. Bab III Metodologi

Bab ini berisikan tentang lokasi penelitian, teknik pengumpulan data,


pengujian sifat-sifat tanah, pemadatan dilapangan.

4. Bab IV Analisa Data

Bab ini berisikan tentang kondisi tanah asli, klasifikasi tanah, berat jenis,
analisa saringan, dan hasil perhitungan nilai CBR laboratorium

5. Bab V Kesimpulan dan saran

Bab ini berisikan tentang kesimpulan, dan saran.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah

Tanah merupakan material dasar yang fungsinya menyokong bangunan dan


sangat berpengaruh dari suatu struktur atau konstruksi dalam pekerjaan Teknik
Sipil, baik itu konstruksi bangunan, jembatan maupun konstruksi jalan. Jika tanah
mendukung konstruksi jalan tol, maka membutuhkan tanah dasar yang baik untuk
meletakkan bagian-bagian perkerasan jalan yang diletakkan di atas tanah dasar
tersebut. Kekuatan dan keawetan maupun tebal dari lapisan konstruksi perkerasan
jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasarnya.
Tanah lempung merupakan agregat partikel-partikel berukuran mikroskopik
dan sub-mikroskopik yang berasal dari pembusukan kimiawi unsur-unsurpenyusun
batuan, dan bersifat plastis dalam selang kadar air sedang sampai luas. Dalam
keadaan kering sangat keras, dan tidak mudah terkelupas hanya denganjari
tangan. Selain itu, permeabilitas lempung sangat rendah (Terzaghi dan Peck, 1987).
Dengan semakin terbatasnya lahan untuk pembangunan fasilitas pemukiman
yang diperlukan, mengakibatkan tidak dapat dihindarinya pembangunan di atas
tanah yang tidak memenuhi standar, misalkan pondasi jalan diatas tanah lempung
Secara umum tanah lempung adalah suatu jenis tanah kohesif yang mempunyai sifat
sangat kurang menguntungkan dalam konstruksi teknik sipil dikarenakan kuat
geser rendah dan kompresibilitasnya yang besar.
Di samping itu permasalahan bangunan geoteknik banyak terjadi pada tanah
lempung, misalnya terjadi retak-retak suatu badan jalan akibat terjadi peristiwa
swelling-shrinking pada tanah dasar, kegagalan suatu pondasi bangunan yang
didirikan pada tanah lempung, dan lain-lain. Semua itu terjadi karena kondisi tanah
lempung tersebut yang jelek, atau dengan kata lain kuat geser dari tanah lempung
tersebut rendah. Kuat geser yang rendah mengakibatkan terbatasnya

5
beban (beban sementara ataupun beban tetap) yang dapat bekerja diatasnya
sedangkan kompresibilitas yang besar mengakibatkan terjadinya penurunan setelah
pembangunan selesai. Oleh karena itu perlu ditinjau kembali sifat-sifat fisik dan
mekanis tanah yang dalam hal ini tanah lempung agar dapat diketahui perilaku
tanah lempung tersebut dan besar beban yang dapat di terima oleh tanah lempung
tersebut.
2.2 Sistem Klasifikasi Tanah
Klasifikasi tanah adalah ilmu yang berhubungan dengan tanah berdasarkan
karakteristik yang membedakan masing-masing jenis tanah. Klasifikasi tanah
merupakan sebuah subjek yang dinamis yang mempelajari struktur dari sistem
klasifikasi tanah, definisi dari kelas-kelas yang digunakan untuk penggolongan
tanah, kriteria yang menentukan penggolongan tanah, hingga penerapannya di
lapangan.
Deskripsi maupun klasifikasi tanah dimaksudkan untuk memberikan
keterangan mengenai sifat-sifat teknis dari tanah itu sendiri, sehingga untuk
tanah-tanah tertentu dapat diberikan nama dan istilah-istilah yang tepat sesuai
dengan sifatnya. Klasifikasi tanah menggambarkan karakteristik mekanis dari
tanah, juga menentukan kualitas tanah untuk tujuan perencanaan maupun dalam
pelaksanaan suatu konstruksi.
Sistem klasifikasi tanah digunakan untuk mengelompokan tanah sesuai dengan
bentuk umum dari tanah pada kondisi fisis tertentu. Tujuan klasifikasi tanah ini
adalah untuk memperkirakan sifat fisis tanah dengan cara mengelompokkan tanah
dengan kelas yang sifatnya sama dan fisisnya diketahui juga menyediakan sebuah
metode yang lebih akurat mengenai deskripsi tanah bagi para ahli. Tanah yang
dikelompokan diurutkan berdasarkan satu fisis tertentu bisa saja mempunyai urutan
yang tidak sama jika didasarkan dengan kondisi fisis tertentu lainnya. Untuk
memperoleh hasil klasifikasi yang lebih objektif, biasanya sampel tanah akan diuji
dilaboraturium dengan serangkain uji laboratutium yang dapat menghasilkan
klasifikasi tanah.
Tujuan klasifikasi tanah ini adalah untuk memperkirakan sifat fisis tanah

6
dengan cara mengelompokkan tanah dengan kelas
1. Klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir atau tekstur.
2. Klasifikasi tanah dengan sistem USCS.
3. Klasifikasi tanah dengan sistem AASHTO.
Sistem ini menggunakan sifat indeks tanah yang sederhana seperti distribusi
ukuran butir, batas cair, dan indeks plastisitasnya (Hardiyatmo, 1992).

2.2.1 Klasifikasi Tanah Berdasarkan Ukuran Butir

Klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir dalam arti umum, yang


dimaksud yaitu dengan tekstur tanah adalah keadaan permukaan tanah yang
bersangkutan. Tekstur tanah yang dipengaruhi oleh ukuran tiap butir didalam
tanah.
Tanah asli pada umumnya merupakan campuran butir-butir yang terdapat
ukuran yang berbeda-beda. Dengan sistem klasifikasi tanah yang berdasarkan
tekstur, tanah diberi nama atas komponen utama yang dikandungnya, misalnya
lempung berlanau, lempung berpasir dan seterusnya.
Butir ukuran tanah dapat juga dijadikan tolak ukur dalam
mengklasifikasikan tanah dengan cara dahulu yang lebih mengenal penggunaan
ukuran butir dalam mengklasifikasi jenis tanah.
Sistem klasifikasi dikembangkan oleh MIT merupakan salah satu dari
sistem klasifikasi tanah yang banyak dilakukan berdasarkan ukuran butir
[Link] tanah menggunakan ukuran butir memberikan hasil
yang sangat baik, tetapi pengklasifikasian dengan sistem ini memiliki
kekurangan yaitu hanya sedikit sekali hubungan antara ukuran butir dan sifat
fisis bagi tanah butir halus (Dunn et al., 1980). Kemudian AASHTO dan
Unifed juga mengeluarkan sistem klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir
yang diperlihatkan oleh gambar 2.1

7
Gambar 2.1 Klasifikasi Berdasarkan Tekstur Tanah Oleh Departemen Amerika
Serikat (USDA)
(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1, Braja [Link],1995)

2.2.2 Sistem Klasifikasi AASHTO

Sistem Klasifikasi AASHTO (American Association of State Highway


and Transportation Officials Classification). Menurut standard ini tanah dibagi
menjadi 8 kelompok, A-1 sampai A-8. Tetapi AASHTO untuk kelompok A-8
diabaikan karena merupakan tanah gambut atau rawa sehingga menjadi
tidak stabil. Sehingga pada dasarnya dikelompokkan menjadi 2 kelompok
diantaranya, kelompok tanah bergradasi kasar dan halus.

Kelompok tanah bergradasi kasar dibedakan atas:


a. A-1 adalah kelompok tanah yang terdiri dari krikiil dan pasir kasar dengan
sedikit atau tanpa butir-butir halus atau tanpa sifat-sifat plastis.
b. A-2 sebagai kelompok batas antara kelompok tanah yang berbutir kasar
dengan tanah yang berbutir halus. Kelompok A-2 ini terdiri dari campuran
krikil/pasir dengan tanah berbutir halus yang cukup banyak.

8
c. A-3 adalah kelompok tanah yang terdiri dari pasir halus dengan sedikit sekali
butir-butir halus lolos saringan No.200 dan tidak plastis.

Kelompok tanah bergradasi halus dibedakan atas :


a. A-4 adalah kelompok tanah lanau dengan sifat plastis rendah.
b. A-5 adalah kelompok tanah lanau yang mengandung lebih banyak butiran-
butiran plastis, sehingga efek plastis lebih besar dari kelompok A-4.
c. A-6 adalah kelompok tanah lempung yang masih mengandung butir-butir
pasir dan kerikil
d. A-7 adalah kelompok tanah lempung yang lebih bersifat plastis dan tanah
mempunyai sifat dan perubahan yang cukup besar

Gambar 2.2 Grafik Plasrisitas Untuk Klasifikasi Tanah AASHTO


(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1,Braja [Link],1995)

Ukuran dari partikel tanah sangat beragam dengan variasi yang cukup

besar. Tanah umumnya dapat disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau

(slit), atau lempung (clay) tergantung kepada tanah yang memiliki ukuran

partikel yang paling dominan pada tanah tersebut.

9
Tabel 2. 1 Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO

(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1, Braja [Link], 1995)

2.2.3 Sistem Klasifikasi (USCS)

Klasifikasi tanah sistem USCS (Unified Soil Classification System),


diajukan pertama kali oleh Casagrande dan selanjutnya dikembangkan oleh
United State Bureau of Reclamation (USBR) dan United State Army Corps of
Engineer (USACE). Kemudian American Standard Testing of Materials
(ASTM), telah memakai USCS sebagai metode standar guna
mengklasifikasikan tanah.
Klasifikasi USCS dipergunakan secara luas oleh para ahli teknik sipil dan
sistem ini mengelompokkan tanah ke dalam tiga kelompok besar yaitu:
1. Tanah berbutir kasar (coarse-grained-soil)
Tanah berbutir kasar yaitu tanah krikil dan pasir dimana kurang dari 50%
berat total, contoh tanah ayakan yang lolos saringan No.200. Simbol dari
kelompok ini dimulai dari huruf G atau S, G adalah krikil (Gravel) atau tanah
berkrikil, dan S adalah pasir (Sand) atau tanah berpasir,ukuran butiran dan
distribusi besar butir dilihat dari pengaruh gaya geser butiran tanahnya,
tanah yang berbutir halus lebih mudah menggelinding dibanding dengan tanah

10
berbutir kasar hal ini diakibatkan karena butiran tanah yang lebih kasar lebih
kuat untuk saling mengikat.
2. Tanah berbutir halus (fine-grained-soil)
Tanah berbutir halus adalah tanah yang lebih dari 50% berat total, contoh
tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok ini dimulai dari huruf M untuk
tanah lanau (silt) anorganik, C untuk tanah lempung (clay) anargonik, dan
O lanau-organik dan lempung organik dan Symbol PT yang digunakan untuk
tanah gambut (peat), muck, dan tanah lain dengan kadar organik yang tinggi.
3. Tanah organik
Tanah ini mempunyai ciri-ciri dari warna, bau dan sisa tumbuh-tumbuhan yang
terkandung di dalamnya. Sifat teknis berwujud kasar ditentukan oleh butiran dan gradasi
butirnya. Oleh karena itu tanah berbutir kasar diklasifikasikan berdasarkan ukuran
tanahnya.
Tanah bergradasi baik atau tidak seragam terdapat distribusi yang merata dari
ukuran-ukuran butir yang ada, yaitu apabila terdapat butiran-butiran dengan
ukuran yang memungkinkan diantara batas-batas gradasi atas dan bawah. Dapat
diperleh dengan menggambarkan kurva butiran serta ikut mengamati bentuk dan
sebaran yang ada.
Tabel 2.2 simbol klasifikasi Unified Soil Classification System
Jenis tanah Simbol
Huruf pertama
menunjukan
jenisnya

Kerikil (gravel) G
Pasir (sand) S
Lanau (slit) M
Lempung (clay) C
Tanah organik (organic) O

Sifat tanah Simbol


Huruf kedua menunjukan

Untuk gradasi baik (well graded) W


Gradasi jelek (poorly graded) P
sifatnya

Mengandung lanau M
Mengandung clay C
Bersifat plastisitas rendah (low L
plasticity) → LL < 50
Plastisitas tinggi (high plasticity) H
→ LL > 50
Sumber : mekanika tanah,jilid 1, Hardiyatmo,2002

11
Tabel 2.3 Sistem klasifikasi Unified Soil Classification System

Sumber : mekanika tanah,jilid 1, Hardiyatmo,2002

12
Gambar 2.3 Grafik Plastisitas Untuk Klasifisikasi USCS
(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1,Braja M Das)

Klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butiran sangat berpengaruh terhadap


sifat tanah, untuk itu sangat dibutuhkan pembagian ukuran butiran tanah pada
umumnya ukuran butiran tanah terdiri atas:
a. Clay (lempung ), demham diaameter >0,002mm
b. Sand (pasir), dengan 0,006 (diameter 5mm)
c. Gravel (krikil) partikel batuan dengan 75 > diameter 20 mm
d. Boalders (berangkal), pot bantuan yang besarnya berdiameter > 75mm
e. Slit (lanau), dengan 0,002 (diameter 0,074mm)
f. Cobbles/pobbles (krikil) partikel dengan 300 > diameter > 20mm

2.3 Sifat Fisis Tanah

Tanah terdiri dari 3 (tiga) fase elemen yaitu : air, udara, dan butiran padat
(solid). Ketiga fase elemen tersebut dapat dilihat dalam gambar 2.4

13
Gambar 2.4. Elemen Tanah Dalam Keadaan Asli Dan Tiga Fase Elemen Tanah
(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1,Braja M Das)

Gambar diatas memperoleh persamaan hubungan antara volume berat dari tanah
berikut:
V= V s + V v ........................................................................................ (2.1)
V = V s + V w + V a ........................................................... (2.2)
di mana:
V s : Volume butiran padat

V v : Volume pori

V w : Volume air di dalam pori

V a : Volume udara di dalam pori


Apabila udara dianggap tidak mempunyai berat, maka berat total dari contoh
tanah dapat dinyatakan sebagai berikut:
W = W s +W w ........................................................................................... (2.3)
di mana :
W s : Berat butiran padat
W w : Berat air

14
2.3.1 Kadar Air (Water Content)
Kadar air (w), juga disebut water content didefinisikan sebagai
perbandinganantara berta air dan berat butiran dari volume tanah yang diselediki.
𝑊𝑤
𝑤= 𝑥 100% ........................................................................................ (2.4)
𝑊𝑆

Dengan:
w : Kadar air (%)
W w : Berat (gr)

W s : Berat butiran (cm3)

2.3.2 Batas-Batas Atterberg (Atterbag Limit)

Atterberg Limit adalah perhitungan dasar dari tanah yang berbutir halus.
Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah tersbut
dapat diremas-remas tanpa adanya retakan yang terlihat pada bagian tanah. Sifat
kohesif ini disebabkan karena adanya air yang terserap disekitar permukaannya.
Atterberg Limit memiliki metode untuk menjelaskan sifat konsistensi pada
butir halus dan kadar air yang bervariasi. Semua berdasarkan pada jumlah air
pada tanah. Tanah akan berbentuk cair, plastis, semi padat atau padat tergantung
pada jumlah air yang bercampur pada tanah tersebut.
Parameter utama ada dua untuk mengetahui plastisitas tanah lempung,
yaitu batas atas dan batas bawah plastisitas. Atterberg memberikan cara
untuk menggambarkan batas-batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan
mempertimbangkan kandungan kadar air (Holtz dan Kovacs, 1981).
Tanah yang batas cairnya tinggi biasanya mempunyai sifat teknik yang
buruk yaitu kekuatannya rendah, sedangkan kompresibilitasnya tinggi sehingga
sulit dalam pemadatannya. Oleh karena itu, atas dasar kandungan kadar air
dalam tanah, tanah dapat dipisahkan ke dalam empat keadaan dasar, yaitu :
padat, semi padat, plastis dan cair, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.5

15
Gambar 2.5 Batas-Batas Atterberg
(Sumber :Dasar-Dasar Mekanika Tanah, [Link],[Link], 20018)

Batas-batas atterberg terbagi dalam tiga batas berdasarkan kadar airnya


yaitu batas cair (liquid limit), batas plastis (plastic limit) dan batas susut
(shrinkage limit).

a. Batas Cair (liquid limit)

Batas Cair adalah nilai kadar air tanah pada batas antara keadaan cair
dengan keadaan plastis tanah, atau nilai batas atas pada daerah plastis. Pengujian
batas cair dilakukan dengan Uji Casagrande (1948), yang mana contoh tanah
dimasukkan ke dalam cawan Casagrande kemudian permukaannya diratakan,
dan dialur (grooving) tepat ditengah. Selanjutnya dengan alat penggetar cawan
tersebut diketuk-ketukkan pada landasannya dengan tinggi jatuh 1 cm
sebanyak 25 ketukan. Bila alur selebar 12,7 mm yang berada di tengah tertutup
sampai batasan 25 ketukan, maka kadar air tanah pada saat itu merupakan “batas
cair”.
Pada pengujian ini bertujuan agar mendapatkan nilai kadar air pada 25
pukulan. Batas cair ini memiliki nilai batas antara 0 – 100, akan tetapi tanah yang
memiliki nilai batas cair dibawah dari 100 (Holtz dan Kovacs, 1981). Pengujian
dilakukan dengan menetapkan segumpal tanah dalam sebuah mangkok dan
membuat alur dengan ukuran standart pada tanah tersebut. Kemudian mangkok
dijatuhkan ke atas permukaan yang keras dengan ketinggian 10 mm.
batas cair ditetapkan sebagai kadar air apabila alur bertaut selebar 12,7 mm

16
pada 25 pukulan. Alat uji batas cair (Liquid Limit) dapat dilihat pada Gambar
2.6

Gambar 2.6 Alat Uji Batas Cair (liquid limit)


(Sumber : Mekanika Tanah Lanjut, Budi Santoso, 1998)

b. Batas Plastis (Plastic Limit)

Batas plastis (Plastic Limit) dapat didefinisikan sebagai kadar air pada tanah
dimana pada batas bawah daerah plastis atau kadar air minimum. Tanah
yang dalam keadaan plastis adalah apabila tanah dapat dibentuk menjadi bentuk
baru tanpa adanya retak. Batas plastis ditentukan dengan menggulung segumpal
tanah menjadi sebuah batangan. Batangan tersebut mulai pada diameter 3,18 mm
(1/8 inchi), kadar airnya adalah batas plastis (ASTM D-424). Apabila tanah
mulai mengalami retak-retak atau pecah ketika digulung, maka kadar air dari
sampel tersebut adalah Batas Plastis.
Batas Plastis (Plastic Limit) adalah kadar air tanah yang kedudukan antara
daerah plastis dan semi padat yang memiliki batasan nilai antara 0 – 100, tetapi
kebanyakan tanah memiliki nilai dibawah kurang dari 40 (Holtz dan Kovacs,
1981).
c. Batas Susut (Shrinkage Limit)

17
Batas susut adalah nilai kadar air pada kedudukan antara zone semi padat
dengan zone padat. Pada kondisi ini pengurangan kadar air dalam tanah tidak
akan mempengaruhi lagi pengurangan volume pada tanah.
Percobaan untuk mengetahui batas susut dilakukan dengan mengisi
tanah jenuh sempurna ke dalam cawan porselin berukuran diameter 44,4 mm dan
tinggi 12,7 mm. Selanjutnya cawan dan tanah isinya dikeringkan dalam oven.
Setelah tanah dalam cawan mengering, selanjutnya dikeluarkan dari cawan
tersebut. Untuk mengetahui nilai batas susut, maka sampel yang telah kering
dicelupkan ke dalam air raksa, dan nilai batas susutnya dapat dinyatakan dalam
persamaan. Seperti yang ditunjukkan pada rumusan dibawah ini.
(𝑊1 −𝑊2 ) (𝑉1 −𝑉2) 𝜌𝑤
SL = ( − ) 𝑋 100% ....................................................... (2.5)
𝑚2 𝑚2

Dimana :
𝑊1 : Berat Tanah Basah Dalam Cawan Percobaan (gr)

𝑊 : Berat Tanah Kering Oven (gr)

𝑉1 : Volume Tanah Basah Dalam Cawan (cm3)

𝑉2 : Volume Tanah Kering Oven (cm3)

𝜌𝑤 : Berat Jenis Air (gr/cm3)

d. Indeks Plastisitas (Plasticity Index)

Indeks plastisitas adalah parameter yang penting sebagai tolak ukur


stabilitas tanah sebagai tanah dasar yang diperoleh dari selisih antara batas cair
tanah (LL) dan batas plastisitasnya. Indeks Plastisitas merupakan interval kadar
air dimana tanah masih bersifat plastis. Maka semakin besar nilai indeks
plastisitasnya maka semakin besar pula kemungkinan tanah dalam keadaan
plastis. Jika mempunyai interval kadar air daerah plastis kecil, maka keadaan ini
disebut dengan tanah kurus. Kebalikannya, jika tanah mempunyai interval kadar
air daerah plastis besar disebut tanah gemuk. Nilai indeks plastisitas dapat
dihitung dengan persamaan 2.5 berikut :
IP = LL – PL ................................................................................. (2.6)

18
Dimana :

IP : Indeks Plastisitas
LL : Batas Cair
PL: Batas Plastis
Klasifikasi jenis tanah berdasarkan indeks plastisitasnya dilihat pada tabel 2.3
Tabel 2.4 Indeks Plastisitas Tanah

Pi Sifat Macam Tanah Kohesi

0 Non – Plastis Pasir Non – Kohesi

<7 Plastisitas Rendah Lanau Kohesi Sebagian

7 - 17 Plastisitas Sedang Lempung Berlanau Kohesi

> 17 Plastisitas Tinggi Lempung Kohesi

(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1, Hardiyatmo, 2002)

2.3.3 Berat Jenis (Spesific Gravity)


Berat jenis tanah (Gs) adalah merupakan perbandingan antara berat volume
butiran padat (γs) dengan volume air (γw) pada temperature 4°. Berat jenis partikel
(particle density) adalah perbandingan antara berat butir tanah dengan volume butir
pada temperatur tertentu. Tanah yang dimaksud disini adalah berat butir tanah itu
sendiri tanpa ada air atau udara (tanpa pori).
𝛾
𝐺𝑠 = 𝛾 𝑠 ..................................................................................... (2.7)
𝑤
Dimana :
𝐺𝑠 : Berat Jenis
𝛾𝑠 : Berat Volume Padat (gr/cm3)
𝛾𝑤 : Berat Volume Air (gr/cm3)
Nilai-nilai berat jenis dari berbagai jenis tanah dapat dilihat pada tabel 2.5

berikut ini.

19
Tabel 2.5 Berat Jenis Tanah

Macam tanah Berat jenis

Kerikil 2,65 – 2,68

Pasir 2,65 – 2,68

Lanau Anorganik 2,65 – 2,68

Lanau Organik 2,58 – 2,65

Lempung Anorganik 2,68 – 2,75

Humus 1,37

Gambut 1,25 – 1,80


(Sumber : Mekanika Tanah Jilid 1,Hardiyatmo, 2002)

2.3.4 Analisa Saringan

Analisa saringan adalah teknik mengayak dengan cara menggetarkan


tanah melalui satu set ayakan dimana lubang-lubang ayakan tersebut semakin
kecil secara berurutan. Pertama tanah yang ingin dianalisis haruslah dikeringkan
dengan panas matahari atau oven. Selanjutnya dihaluskan dan diayak
dengan ayakan yang tersusun dari bawah dengan lubang ayakan
terkasar/terbesar. Dari sisa-sisa tanah yang tertinggal diatas ayakan maka dapat
ditentukan jenis tanahnya dan gradasinya sesuai dengan ukuran-ukuran ayakan
berdasarkan ASTM yang dapat dilihat pada tabel :
Tabel 2.6 Ukuran Ayakan Standart di Amerika Serikat (ASTM)
Ayakan Nomor Lubang Saringan (mm)
4 4,75
6 3,35
8 2,36
10 2
16 1,18

20
20 0,85
60 0,25
80 0,18
100 0,15
140 0,106
170 0,088
200 0,075
270 0,053

(Sumber : Mekanika Tanah 1, Braja [Link],1995)

Gambar 2.7 Grafik Distribusi Ukuran Butiran


(Sumber : Mekanika Tanah 1, Braja M, Das, 1995)

Ukuran butiran tidak hanya menunjukkan rentang (range) ukuran butiran tetapi
juga jenis tanah. Berikut ini adalah tipe tanah yaitu:
a. GW dan SW mewakili suatu tipe tanah yang dimana ukuran butirannya
terbagi di dalam rentang yang lebar dan dinamakan tanah bergradasi baik
(well graded soil).

21
b. GP dan SP mewakili suatu tipe tanah yang dimana ukuran butirannya
terbagi di dalam rentang yang lebar dan dinamakan tanah yang bergradasi
buruk (poorly graded soil).

2.4 Sifat Mekanis Tanah


Sifat mekanis tanah adalah suatu prosedur pengujian sifat tanah yang
dinyatakan dalam presentase berat kering total dan dapat diketahui dengan beberapa
pengujian.
2.4.1 Pemadatan (Compaction)
Pemadatan tanah adalah usaha untuk mempertinggi kerapatan tanah.
Pemadatan tanah berfungsi untuk meningkatkan kekuatan tanah dan
memperbaiki daya dukungnya, juga mengurangi sifat mudah merapat
(compressibilitas) dan permeabilitas tanah. Derajat kepadatan tanah yang dapat
diperoleh tergantung tigafaktor yang saling berhubungan, yaitu kadar air selama
pemadatan yang digunakan Krebs dan Walker (Budi Satriyo, 1998).
Pemadatan dapat dikatakan sebagai proses pengeluaran udara pori-pori
tanah dengan mekanis. sedangkan dilaboratorium dengan cara menumbuk atau
memukul. Daya pemadatan ini tergantung pada kadar air, meskipun digunakan
energi yang sama, nilai kepadatan yang akan diperoleh akan berbeda-beda.
Pada kadar air yang cukup tinggi nilai kepadatannya akan menurun,
sampai suatu kadarair tinggi sekali hingga air tidak dapat dikeluarkan dengan
pemadatan. Pada pemadatan dengan kadar air yang berbeda-beda akan dapat
nilai kepadatan paling padat (angka pori yang paling rendah). Kadar air dimana
tanah mencapai keadaan yang paling padat disebut kadar air optimum.

Untuk menetukan kadar air optimum ini biasanya dibuat grafik antara kadar
air dan berat isi kering. Berat isi kering ini digunakan untuk menentukan kadar
air optimum dimana mencapai keadaan paling padat dapat dilakukan dengan
percobaan pemadatan di lapangan dan percobaan pemadatan di laboratorium.
Ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan pemadatan adalah
kurangnya penurunan permukaan tanah (subsidence), yaitu dimana suatu massa
tanah itu sendiri bergerak secara vertikal, akibatnya mengalami berkurangnya

22
angka pori, dan bertambahnya kekuatan tanah, dan juga berkurangnya
penyusutan volume akibat menurunnya kadar air dari nilai patokan pada saat
pengeringan (Bowles, 1993).
Hubungan berat volume tanah kering dengan volume tanah basah dan kering
air yang dinyatakan dengan persamaan berikut:
𝑠 𝛾
𝛾𝑑 = (1+𝑤) ................................................................................... (2.8)

dimana :
𝛾𝑑 : berat isi kering (gr/cm3)
𝛾𝑠 : berat isi basah (gr/cm3)
w : kadar air (%)
Pada percobaan pemadatan tanah yang dilakukan d penelitian ini dipakai

untuk menentukan kadar air optimum dan berat isi kering maksimum adalah

percobaan standard (standard compection test).

Hasil pengujian akan memperlihatkan kurva nilai kadar air optimum (ωopt)
untuk mencapai berat volume kering paling besar atau kepadatan maksimum.
Nilai kadar air rendah pada kebanyakan tanah, tanah cenderung bersifat kaku
dan sulit untuk dipadatkan. Setelah kadar air ditambah, tanah menjadi lebih
lunak. Pada kadar air yang tinggi, berat volume air akan berkurang. Bila seluruh
udara didalam tanah dipaksa keluar pada saat pemadatan, tanah akan berada
dalam kedudukan jenuh dan nilai berat volume kering akan menjadi maksimum.
Akan tetapi dalam praktek, kondisi ini sulit dicapai.
Gambar 2.8 Grafik Hubungan Berat Volume Kering dan Kadar Air

(Sumber: Das, 1985)

23
Berikut Alat Pengujian Pemadatan yang dapat dilihat pada gambar 2.9
berikut ini :

Gambar 2.9 Alat Uji Pemadatan


(Sumber : Mekanika Tanah 1 Hary Christady Hardyatmo, 1995)
Menurut SNI 1742:2008, peralatan yang digunakan berupa cetakan
diameter 101,60 mm mempunyai kapasitas 943 cm3 ± 8 cm3 dengan diameter
dalam 101,60 mm ± 0,41 mm dan tinggi 116,43 mm ± 0,13 mm dan cetakan
diameter 152,40 mm mempunyai kapasitas 2124 ± 21 cm3 dengan diameter
dalam 152,40mm ± 0,66 mm dan tinggi 116,43 mm ± 0,13 mm. Tanah dalam
cetakan dipadatkan dengan alat penumbuk, terdapat 2 alat menumbuk yaitu :
1. Alat penumbuk tangan (manual)
Dengan massa 2,495 kg ± 0,009 kg dan mempunyai permukaan
berbentuk bundar dan rata, diameter 50,80 mm ± 0,25 mm.
2. Alat penumbuk mekanis
Dilengkapi alat pengontrol tinggi jatuh bebas 305 mm ± 2 mm diatas
permukaan tanah yang akan dipadatkan dan dapat menyebarkan
tumbukan secara merata di atas permukaan tanah. Alat penumbuk harus
mempunyai massa 2,495 kg ± 0,009 kg dan mempunyai permukaan
tumbuk berbentuk bundar dan rata,berdiameter 50,80 mm ± 0,25 mm.
Pada Pengaruh Usaha Pemadatan Energi yang dibutuhkan untuk

pemadatan pada pemadatan standar (Hardiyatmo, 2002) dirumuskan

sebagai berikut :

24
𝑁.𝑊.𝐻.𝑛
E= ........................................................................................ (2.9)
𝑉

Dimana :

E = Energi Kepadatan (J/m3)

N= Jumlah pukulan per lapisan

W = Berat pemukul (kg)

H = Tinggi jatuh pemukul (cm)

n = Jumlah lapisan

V = Volume mold/tabung (cm)

2.4.2 Pengujian California Bearing Ratio (CBR)


CBR (California Bearing Ratio) adalah perbandingan antara tegangan
penetrasi suatu lapisan/bahan tanah atau perkerasan terhadap tegangan penetrasi
bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama
(dinyatakan dalam persen). Nilai CBR ini pertama kali diperkenalkan oleh
California Division Of Highway pada tahun 1928. Sedangkan metode CBR ini
dipopulerkan oleh O.J Porter.
Tujuan dari percobaan CBR adalah mencari nilai yang menyatakan
kualitas tanah dasar dibandingkan dengan bahan standar berupa batu pecah yang
mempunyai nilai CBR 100% dalam memikul lalu lintas.

CBR (CBR inplace) digunakan untuk mendapatkan nilai CBR asli


dilapangan, sesuai tanah dasar yang berada dilapangan. Umumnya digunakan
untuk perencanaan tebal lapis perkerasan yang lapisan tanah dasarnya tidak
akan didapatkan lagi, selain itu CBR ini digunakan untuk mengontrolkepadatan
yang diperoleh apakah sesuai dengan yang diinginkan. CBR lapangan digunakan
untuk mendapatkan besarnya nilai CBR asli dilapangan pada keadaan jenuh
air dan tanah mengalami pengembangan (swelling) yangmaksimum. Selain itu
untuk perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan

25
terhadap bahan standard dengan kedalaman dan kecepatan.

Gambar 2.10 Alat Pemeriksaan Lapangan


(Sumber : Soedarmo, Edy Purnomo, Mekanika Tanah 1,1997)

2.5 Dynamic Cone Penetrometer (DCP)


Tanah dasar (subgrade) adalah permukaan tanah asli, permukaan galian atau
permukaan tanah timbunan yang merupakan permukaan untuk perletakan bagian-
bagian perkerasan lainnya. Fungsi tanah dasar adalah menerima tekanan akibat
beban lalu lintas yang atasnya. Oleh karena itu tanah dasar harus mempunyai
kapasitas daya dukung yang optimal.
Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui stratifikasi lapisantanah
dan kapasitas dukung lapisan Sub-permukaan tanah adalah dengan menngunakan
metode Dari alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP) dan California
Bearing Ratio . DCP adalah alat yang digunakan untuk mengukur daya dukung
tanah dasar jalan langsung di tempat. Daya dukung tanah dasar tersebut
diperhitungkan berdasarkan pengolahan atas hasil tes DCP yang dilakukan dengan
cara mengukung seberapa dalam (mm) ujung konus masuk kedalam tanah dasar

26
tersebut setelah mendapatkan tumbukan palu geser pada landasan batang utamanya.
Korelasi antara banyaknya tumbukan dan penetrasi ujung konus dari alat DCP
kedalam tanah akan memberikan gambaran kekuatan dasar pada titik-titik tertentu.
Makin dalam konus masuk kedalam tanah untuk setiap tumbukannya artinya makin
lunak tanah dasar tersebut. Pengujian dengan menggunakan alat DCP akan
menghasilkan data yang setelah diolah akan menghasilkan CBR lapangan tanah
dasar untuk titik yang ditinjau.
Pengujian dengan alat DCP ini pada dasarnya sama dengan Dynamic Cone
Penetrometer (DCP) yaitu sama-sama mencari nilai CBR dari suatu lapisan tanah
langsung dilapangan. Hanya saja pada alat DCP digunakan untuk mengetahiu nilai
CBR tanah asli, sedangkan pada DCP hanya untuk mendapat kekuatan tanah
timbunan pada pembuatan badan jalan, alat ini dipakai pada pekerjaan tanah karena
mudah dipindahkan ke semua titik yang diperlukan tetapi letak lapisan
yang diperiksa tidak sedalam pemeriksaan tanah dengan alat sondir.
Pengujian dilaksankan dengan mencatat jumlah pukulan (blow) dan penetrasi
dari konus (kerucut logam) yang tertanam pada lapisan pondasi karna pengaruh dari
adanya tumbukan palu kemudian dengan menggunakan grafik dan rumus,
pembacaan penetrometer diubah menjadi pembacaan yang setara dengan nilai
CBR.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya,
banak rumus hubungan antara DCP dan CBR di gambarkan pada rumus berikut :

Log (CBR ) = a + b log (DCP) ............................................. ............... (2.10)

DCP = Dimana :

nilai DCP (mm/blow)


a. : nilai konstanta antara 2,44 – 2,60
b. : nilai konstanta antara 1,07 – 1,16
Persamaan diatas dapat digunakan untuk beberapa jenis tanah , diantaranya
adalah, granular, cohessif, aggregate base course, hingga piemond residual soil.

27

Anda mungkin juga menyukai