0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan14 halaman

Konsep dan Operasi Matriks dalam Matematika

Dokumen ini membahas konsep dasar matriks, termasuk pengertian, operasi, dan jenis-jenis matriks. Standar kompetensi mencakup pemahaman dan penerapan matriks dalam pemecahan masalah. Terdapat penjelasan mengenai operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan sifat-sifat matriks khusus seperti matriks identitas dan simetris.

Diunggah oleh

Haerul Azwar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan14 halaman

Konsep dan Operasi Matriks dalam Matematika

Dokumen ini membahas konsep dasar matriks, termasuk pengertian, operasi, dan jenis-jenis matriks. Standar kompetensi mencakup pemahaman dan penerapan matriks dalam pemecahan masalah. Terdapat penjelasan mengenai operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan sifat-sifat matriks khusus seperti matriks identitas dan simetris.

Diunggah oleh

Haerul Azwar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATRIKS

Bahan Ajar Matematika

Program Tahun Pertama Bersama


Universitas Mataram
2016
BAB IV. MATRIKS

STANDAR KOMPETENSI:
Menerapkan konsep-konsep matriks dalam pemecahan masalah.

KOMPETENSI DASAR
1. Memahami matriks dan penggunaannya.
2. Menerapkan operasi-operasi matriks dalam pemecahan masalah.
3. Mendeskripsikan jenis-jenis matriks dan penggunaannya.

INDIKATOR
1. Menjelaskan pengertian matriks.
2. Menjelaskan operasi-operasi pada matriks.
3. Menjelaskan transpose dari suatu matriks.
4. Menjelaskan jenis-jenis matriks.
5. Menjelaskan transformasi elementer pada baris dan kolom sutau matriks.
6. Menjelaskan invers dari matriks.

1.1 PENGERTIAN

Matriks adalah susunan angka atau bilangan, variabel, atau parameter yang disusun
atau dijajarkan secara empat persegi panjang menurut baris-baris dan kolom-
kolom. Dapat juga didefinisikan Matriks adalah suatu himpunan kuantitas-kuantitas
(yang disebut elemen), disusun dalam bentuk persegi panjang yang memuat baris-
baris dan kolom-kolom.
Notasi yang digunakan

1
  atau atau

Di dalam Matriks terdapat Ruang Baris (Row Space) dan Ruang Kolom (Coloum
Space) dari suatu Matriks

Misal : Matriks A ukuran (4 x 5) sebagai berikut :

 21 2 23 44 35 
 
16 77 8 39 10 
A= 
11 12 13 14 15 
 
16 17 48 19 20 

Tiap – tiap baris/Kolom dari matriks A dapat di anggap sebagai vektor dan disebut vektor
baris/kolom. Ruang baris dari matriks A (mxn) adalah suatu ruang vektor bagian dari Rn
yang dibentuk oleh vektor-vektor baris dari A. Ruang kolom dari matriks A (mxn) adalah
suatu ruang vektor bagian dari Rn yang dibentuk oleh vektor-vektor kolom dari A.

NOTASI MATRIKS

Matriks di lambangkan dengan huruf besar seperti A, B, X, Y dan sebagainya. Matriks


yang mempunyai I baris dan J kolom ditulis A=(aij ), artinya suatu matriks A yang
elemen-elemennya aij dimana indeks I menyatakan baris ke-i dan indeks J
menyatakan kolom ke-j dari elemen tersebut.

Secara umum :
Matriks A=(aij ), i= 1, 2, 3,…..k dan j=1, 2, 3,……., l yang berarti bahwa banyaknya
baris sebanyak k dan banyaknya kolom sebanyak l.

Contoh : 8 5 -3
A= B= 8 C= 2 3 12 -1 9
10 1 -4

2
Ukuran matriks 2x2 3x1 1x5
Jumlah baris 2 3 1
Jumlah kolom 2 1 5

Matriks yang hanya mempunyai satu baris disebut MATRIKS BARIS, sedangkan
matriks yang hanya mempunyai satu kolom disebut MATRIKS KOLOM. Dua buah
matriks A dan B dikatakan SAMA jika ukurannya sama (mxn) dan berlaku aij = bij
untuk setiap i dan j

1.2 OPERASI PADA MATRIKS

A. PENJUMLAHAN MATRIKS

Penjumlahan matriks hanya dapat dilakukan terhadap matriks-matriks yang


mempunyai ukuran (orde) yang sama. Jika A=(aij ) dan B=(bij ) adalah matriks-
matriks berukuran sama, maka A+B adalah suatu matriks C=(cij ) dimana (cij ) = (aij )
+(bij ) atau [A]+[B] = [C] mempunyai ukuran yang sama dan elemennya (cij ) = (aij )
+(bij )

Contoh :
8 1 10 2
9 2 12 3

A= B=
8 1
A+B = 9 2 + 10
12
2
3
= C= 18
21
3
5

B. PENGURANGAN MATRIKS

Operasi pengurangan matriks sama engan operasi penjumlahan matriks,


pengurangan matriks hanya dapat dilakukan pada matriks-matriks yang
mempunyai ukuran yang sama. Jika ukurannya berlainan maka matriks hasil tidak
terdefinisikan.

Contoh : A – B = C
30 40 10 20 20 20
A= 14 55 B= 13 40 maka hasilnya C= 1 15

3
C. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR

Jika k adalah suatu bilangan skalar dan A=(aij ) maka matriks kA=(kaij ) yaitu suatu
matriks kA yang diperoleh dengan mengalikan semua elemen matriks A dengan
skalar k. Mengalikan matriks dengan skalar dapat dituliskan di depan atau
dibelakang matriks. Misalnya [C]=k[A]=[A]k dan (cij ) = (kaij )

Contoh :
10 20 3
A= 0 -1 15 maka 2A= 2* 10 2*20 2* 3
2* 0 2*-1 2*15

Pada perkalian skalar berlaku hukum distributif dimana k(A+B)=kA+kB.

Contoh :
0 1 3 4
A= 2 -1 B= 1 1 dengan k=2, maka

K(A+B) = 2(A+B) = 2A+2B

0 1 3 4 3 5 6 10
2(A+B) = 2 2 -1 + 1 1 =2 3 0 = 6 0

0 1 3 4 6 10
2A+2B = 2 2 -1 + 2 1 1 = 6 0

D. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS

Beberapa sifat dalam perkalian matriks di antaranya:


1. Syarat perkalian adalah jumlah banyaknya kolom pertama matriks sama
dengan jumlah banyaknya baris matriks kedua.
2. Jika matriks A berukuran mxp dan matriks pxn maka perkalian A*B adalah
suatu matriks C=(cij ) berukuran mxn dimana
cij = ai1b1j + ai2b2j + ai3b3j + ………………….+ aipbpj
3
Contoh : 1) A= 6 4 2 dan B= 1
maka
0

3
A x B= 6 4 2 * 1 = (6*3) + (4*1) + (2*0) = 22
0
3
4
1
0
3 2 1
2) A= dan B= maka
1 2 1

(3*3) + (2*1) + (1*0) 11


AxB= = 5
(1*3) + (2*1) + (1*0)

Hukum-hukum perkalian pada matriks :


1. Tidak Komutatif, A*B  B*A
2. Hukum Distributif, A*(B+C) = AB + AC
3. Hukum Assosiatif, A*(B*C) = (A*B)*C
4. Jika A*B = 0, maka beberapa kemungkinan
(i) A=0 dan B=0
(ii) A=0 atau B=0
(iii) A0 dan B0
5. Bila A*B = A*C, belum tentu B = C

1.3 TRANSPOSE MATRIKS

Jika diketahui suatu matriks A=aij berukuran mxn maka transpose dari A
adalah matriks AT =nxm yang didapat dari A dengan menuliskan baris ke-i dari A
sebagai kolom ke-i dari AT.

Beberapa Sifat Matriks Transpose :


(i) (A+B)T = AT + BT
(ii) (AT) = A
(iii) k(AT) = (kA)T
(iv) (AB)T = BT AT
Tugas Buktikan sifat-sifat transpose (i), (ii), (iii), dan (iv) !

1.4 JENIS-JENIS MATRIKS KHUSUS

Berikut ini diberikan beberapa jenis matriks selain matriks kolom dan matriks baris

(i) MATRIKS SEGITIGA BAWAH ( LOWER TRIANGULAR )


adalah matriks bujur sangkar yang semua elemen di atas diagonal
utama sama dengan nol.
Contoh : X

5
9 0 0
 
5 2 0
 5 4 2
 

(ii) MATRIKS SEGITIGA ATAS ( UPPER TRIANGULAR )


adalah matriks bujur sangkar yang semua elemen di bawah diagonal utama
sama dengan nol.
Contoh :
8 5 0
 
 0 9 3
 0 0 2
 

(iii) MATRIKS NOL.


Merupakan matriks yang semua elemennya nol
 0 0 0
 
Contoh.  0 0 0 
 0 0 0
 
Sifat-sifat :
1. A+0=A, jika ukuran matriks A = ukuran matriks 0
2. A*0=0, begitu juga 0*A=0.

(iv) MATRIKS BUJURSANGKAR


Merupakan matriks yang jumlah baris dan jumlah kolomnya sama. Barisan
elemen a11, a22, a33, ….ann disebut diagonal utama dari matriks bujursangkar A
tersebut.
Contoh : Matriks berukuran 2x2
8 60
A=
20 13

(v) MATRIKS BUJURSANGKAR ISTIMEWA


Beberapa sifat dari matriks bujursangkar istimewa

6
a. Bila A dan B merupakan matriks-matriks bujursangkar sedemikian
sehingga AB=BA maka A dan B disebut COMMUTE (saing).
b. Bila A dan B sedemikian sehingga AB=-BA maka A dan B disebut ANTI
COMMUTE.
c. Mtriks M dimana Mk+1=M untuk k bilangan bulat positif disebut matriks
PERIODIK.
d. Jika k bilangan bulat positif terkecil sedemikian sehingga Mk+1=M maka M
disebut PERIODIK dengan PERIODE k.
e. Matriks idempotent yaitu Jika A Matriks Bujur Sangkar dan berlaku
AA = A2 = A.
f. Matriks A dimana Ap=0 untuk p bilangan bulat positif disebut dengan
matriks NILPOTEN.
g. Jika p bilangan positif bulat terkecil sedemikian hingga Ap=0 maka A
disebut NILPOTEN dari indeks p.

(vi) MATRIKS DIAGONAL


Merupakan matriks bujursangkar yang semua elemen diluar diagonal
utamanya nol.
Contoh :
1 0 0

A= 0 2 0
0 0 3

(vii) MATRIKS SATUAN/IDENTITY


Merupakan matriks diagonal yang semua elemen diagonalnya adalah 1.
Contoh :
1 0 0
0 1 0
A=
0 0 1

Sifat-sifat matriks identitas :


1. A*I=A
2. I*A=A

(viii) MATRIKS SKALAR


Merupakan matriks diagonal yang semua elemennya sama tetapi bukan nol
atau satu.
Contoh :
40 0 0
0 40 0
A=
0 0 40

(ix) MATRIKS SIMETRIS


7
Merupakan matriks bujursangkar yang elemennya simetris secara diagonal.
Dapat juga dikatakan bahwa matriks simetris adalah matriks yang
transposenya sama dengan dirinya sendiri.

Contoh : 18 22 0 18 27 0
A= 27 34 1 dan AT= 22 34 16
0 16 1 0 1 1

(x) MATRIKS ANTISIMETRIS


Merupakan matriks yang transpose-nya adalah negatif dari matriks tersebut.
Maka AT=-A dan aij=-aij, elemen diagonal utamanya = 0
Contoh :
0 1 -3 0 0 -1 3 0
-1 0 4 2 1 0 -4 -2
A= maka AT = -3 4 0 1
3 -4 0 -1
0 2 1 0 0 -2 -1 0

(xi) MATRIKS TRIDIAGONAL


Merupakan matriks bujursangkar yang semua elemen-elemennya = 0 kecuali
elemen-elemen pada diagonal utama serta samping kanan dan kirinya.
Contoh : 1 2 0 0
1 2 3 0
A=
0 2 3 4
0 0 4 5

(xii) MATRIKS JODOH Ā.


Jika A matriks dengan elemen-elemen bilangan kompleks maka matriks jodoh
Ā dari A didapat dengan mengambil kompleks jodoh (CONJUGATE) dari semua
elemen-elemnya.
Contoh : 2+3i 2i 2-3i -2i
A= 5 3-i
maka Ā=
5 3+i

(xiii) MATRIKS HERMITIAN.


Matriks bujursangkar A=(aij) dengan elemen-elemen bilangan kompleks
dinamakan MATRIKS HERMITIAN jika (Ā)'=A atau matriks bujursangkar A
disebut hermitian jika aij = āij . dengan demikian jelas bahwa elemen-elemen
diagonal dari matriks hermitian adalah bilangan-bilangan riil.
Contoh :
2 5+i 2 5-i 2 5+i
A= 5-i 3 maka 5+i 3 dan Ā'= 5-i 3

8
1.5 TRANSFORMASI ELEMENTER PADA BARIS DAN KOLOM SUATU
MATRIKS

Transformasi pada baris atau kolom suatu matriks A adalah sebagai berikut.

1. Penukaran tempat baris ke-i dan baris ke-j atau penukaran kolom ke-i dan
kolom ke-j dan ditulis Hij(A) untuk transformasi baris dan Kij(A) untuk
transformasi kolom.
Contoh :
a. Penukaran baris
11 22 0 2 3 1
A= 2 3 1 H12(A) 11 22 0
0 1 1 0 1 1

H12(A) berarti menukar baris ke-1 matriks A dengan baris ke-2


b. Penukaran kolom
1 2 0 1 0 2
2 3 1
A= K23(A) 2 1 3
0 1 1 0 1 1

K13(A) berarti menukar kolom ke-2 matriks A dengan kolom ke-3

2. Mengalikan baris ke-i dengan suatu bilangan skalar h0, ditulis Hi(h)(A) dan
memperkalikan kolom ke-i dengan skalar k0, ditulis Ki(k)(A).
Contoh :
1 2 0 1 2 0 1 2 0
2 3 1 -4 -6 -2 2 3 1/2
A= H2(-2)(A)= K3(1/2)(A)=
0 1 1 0 1 1 0 1 1/2

3. Menambah kolom ke-i dengan k kali kolom ke-j, ditulis Kij(k)(A) dan
menambah baris ke-i dengan h kali baris ke-j, ditulis Hij(h)(A).
Contoh :
1 2 0 1 2 0
H23(-1)(A)
2 3 1 2 2 0
A=
0 1 1 H2 + (-1*H3) 0 1 1

1 2 2
K31(2)(A)
2 2 4

K3 + (2*K1) 0 1 1

9
1.6 INVERS MATRIKS

1. INVERS MATRIKS ORDO 2 x 2

1 0
Jika AB = BA = I , dimana I matriks satuan yaitu I    maka A dan B dikatakan saling
0 1
invers. Invers matriks A dinotasikan A1 .
a b   p q
Misal A    dan B   r s  maka :
c d   
a b  p q   1 0 ap  br aq  bs 1 0
AB = I    
    cp  dr cq  ds  0 1
c d   r s  0 1    

 p q 1  d  b
Karena B  A1 =   maka A1 
 r s ad  bc  c a 

ad – bc disebut Determinan (D) atau A atau det(A).


Jadi D  A  det( A)  ad  bc .
Jika D = 0, maka matriks A tidak mempunyai invers dan matriks A disebut matriks Singular.
Jika ad – bc  0 maka matriks A disebut matriks Non Singular.

22  31
Contoh 1: Tentukan determinan A   
50  15

Jawab : A  ....

8 8
Contoh 2: Tentukan invers dari P   
 4  2
Jawab : P1  ....

 5 6
Contoh 3: Tentukan x jika A    merupakan matriks singular !
 2 x 

Jawab : ad – bc = 0  …

10
2  1  13  3
Contoh 4: Tentukan matriks X jika X   
3 2   3  2
Jawab : XA = B  X = BA1 = …

Jika ada persamaan matriks berbentuk :

AX = B maka X  A1B
XA = B maka X = BA1

2. INVERS MATRIKS ORDO 3 x 3

2.1 DETERMINAN MATRIKS ORDO 3 X 3

Cara menentukan determinan matriks ordo 3 x 3 dengan menggunakan diagram SARRUS,


yaitu :
1. Salin kolom ke-1 dan ke-2 pada kolom ke-4 dan ke-5
2. Kurangkan jumlah perkalian elemen-elemen pada diagonal ke bawah dengan jumlah
perkalian elemen-elemen pada diagonal ke atas.

 a11 a12 a13 


A  a21 a22 a23 
a11 a12 a13 a11 a12
 det (A) = A  a21 a22 a23 a21 a22
a31 a32 a33 
a31 a32 a33 a31 a32

= ( ….. ) + ( …. ) + ( …. )–( … )
-( … )–( … )

1 2 3
Contoh 1: Jika P  1 3 4 maka tentukan P
1 4 3

2.2. MINOR, KOOFAKTOR DAN ADJOINT

Minor yaitu sebuah determinan yang diperoleh dengan cara menghilangkan baris ke-i dan
kolom ke-j, dan ditulis dengan M ij . Sedangkan koofaktor diperoleh dari perkalian M ij
dengan 1 dan ditulis dengan Aij . Sedangkan adjoint yaitu koofaktor yang
i j

ditransposekan dan ditulis dengan Adj(A).

11
 1 2  1
Contoh 2: Diketahui M   1 1 2  . Tentukan :
 2  1 1 
a. M12 b. M 22 c. A31 d. A23 e. Adj(M)

2.3 INVERS MATRIKS ORDO 3 X 3

Untuk menentukan invers matriks A ordo 3 x 3 dengan menggunakan rumus :

1
A1  Adj( A)
A

1 2 3
Contoh 3: Tentukan invers dari P  1 3 4
1 4 5

1.7 SOAL LATIHAN


23 -12 8 7 11

1. Diketahui matriks Z= 11 25 10 -4 22
13 7 31 15 -12

a. Berapakah ukuran matriks Z?


b. Tentukan mana yang merupakan baris 1, baris 2, baris 3 kolom 4, kolom 5
baris 1
c. Tentukan P11, P31, P23, P15, P35

2. Diketahui persamaan matriks sebagai berikut :


4 5 3 x3+1 5 3
2 x1 6 2 4 1/2x4
=
-1 2 x2+3 -1 2 5

Carilah x1 , x2 , x3 , x4

3. Diketahui
-1 3 2 2 -1 -3

A= 2 0 7 B= 4 1 0

-2 3 1 1 3 2

12
Tentukan
a. 5A, -3B, 12A-3B, 3B-5A
b. (2A-2B)(3B-8A)
c. AT
d. Invers dari matriks A

4. Tunjukan bahwa matriks A idempoten jika A= -1 3 5


1 -3 -5
-1 3 5
5. Periksalah apakah matriks A dan B berikut ekuivalen
3 1 2 3 1 2
a. A= 4 2 0 dan B= 1 3 1
1 3 1 4 2 0

3 5 1 3 5 1
b. A= 2 0 3 dan B= 2 0 3
5 5 4 0 0 0

6. Tentukan determinan dari :

 1 2 0  4  2 1  5  2 4
a. A   3 2 1 b. B   3 3 0 c C   1 0 3
 0 3 1  1  1 2  4  1 2

3 x 1
7. Tentukan x jika 4 0  1  35
2 1 3

8. Tentukan invers matriks berikut ! (jika ada)


 1 1  5  1 4 8 10  6
a. A    b. B    c. C    d D 
 5 3  4 0   3  6  8  5

13

Anda mungkin juga menyukai