BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mual dan muntah pasca operasi atau Post Operative Nausea and Vomiting
(PONV) adalah efek samping yang sering ditemukan setelah tindakan operasi dan
anestesi (Faranak, 2001). Mual dan muntah paska operasi atau Postoperative Nausea
and Vomitting (PONV) adalah komplikasi yang tidak menyenangkan yang dapat
terjadi selama 24 jam sesudah tindakan operasi dengan anestesi baik anestesi umum
maupun regional (Semi Purhonen, 2005).
Kejadian PONV sering dijuluki “big little problem” karena berdampak pada
berbagai komplikasi yang dapat dialami pasien (Chilkoti, 2015). Mual muntah pasca
operasi dapat meningkatkan angka morbiditas, termasuk dehidrasi, gangguan
elektrolit, luka operasi terbuka kembali, perdarahan, rupture esophagus dan gangguan
jalan nafas (Harmon, 2000). Selain itu, mual muntah dapat meningkatkan lamanya
waktu perawatan di ruang pemulihan dan berbagai tambahan perawatan yang
memerlukan penambahan biaya pengobatan (emadwiandr, 2013).
Tenaga kesehatan semakin meningkat kesadarannya bahwa PONV merupakan
suatu masalah secara klinis. Seperti diketahui, di masa lalu PONV dianggap
merupakan suatu keadaan klinis yang tidak bermasalah karena memiliki karakter
dapat sembuh/pulih sendiri, dan tidak pernah menjadi kronik dan hampir tidak
menyebabkan mortalitas. Tetapi pada tahun 1998 suatu survei menunjukkan;
walaupun dengan teknik anestesi modern kekerapan terjadinya PONV sekitar 30%
pada pasien yang menjalani pembedahan. Kejadian PONV lebih sering menyebabkan
ketidaknyamanan pasien dibandingkan nyeri pasca bedah. Mual (Nausea)
menyebabkan pasien tidak nyaman dan muntah (Vomiting) menyebabkan
meningkatnya risiko aspirasi, dan berhubungan dengan terbukanya jahitan, ruptur
esophagus, empisema subkutis dan pneumothoraks bilateral. PONV seringkali
13
menyebabkan memanjangnya waktu pasien keluar dari ruang pulih dan menjadi
penyebab utama pasien bedah rawat jalan harus dirawat inap di rumah sakit. Oleh
sebab itu pencegahan PONV akan menyebabkan meningkatnya kepuasan pasien
bedah (Apfel CC, 2005; MR, 2004)
Menurut Nileshwar (2014) PONV adalah mual dan muntah yang terjadi
setelah pembedahan, mual muntah merupakan komplikasi yang sering terjadi selama
anestesi. Sebanyak 30% dari 100 juta lebih pasien bedah di seluruh dunia mengalami
PONV (Damian Farrow & Joseph Baker, 2015). Di Indonesia, angka mual muntah
post bedah belum tercatat jelas. Pada pasien yang menjalani pembedahan mastektomi
angka kejadian mual muntah postbedahnya sekitar 31,4%. Hal ini juga di dukung
dengan penyataan bahwa mual dan muntah post operasi menunjukkan 30-40%
kejadian. Angka kejadian mual muntah dari seluruh pasien yang menjalani operasi
terjadi pada 30% pasien sampai 70% pada pasien rawat inap yang timbul dalam 24
jam pertama. Mual muntah post anestesi meliputi tiga gejala utama (mual, muntah,
dan retaching) yang terjadi secara terpisah atau dalam kombinasi setelah pembedahan
(Damian Farrow & Joseph Baker, 2015)
Ranitidin mengalami metabolisme lintas pertama di hati sehingga membuat
bioavabilitasnya menjadi sekitar 50%.7 Ranitidin memiliki kemampuan untuk
menginhibisi enzime alcohol dehydrogenase yang akhirnya mengurangi efek dari
toksisitas methanol (Putri & Suharto, 2017).
Sedangkan ondansetron merupakan obat selektif terhadap antagonis reseptor 5-
hidroksi-triptamin (5-HT3) di otak, dan bekerja pada aferen nervus vagus (Farid,
2005).Ondansentron merupakan obat yang paling disukai untuk mencegah dan
mengobati mual muntah pasca bedah karena obat ini berkerja di sentral dan perifer
tanpa menyebabkan rasa mengantuk, reaksi piramida dan perubahan kardiovaskular.
Ondansentron merupakan obat yang paling sering digunakan sebagai anti mual dan
muntah dibandingkan dengan yang lain karena efektivitas dan keamanannya, tetapi
14
biaya ondansentron yang relatif mahal merupakan salah satu faktor penting yang
membatasi penggunaannya untuk profilaksis rutin (Efendy, 2016).
Penggunaan ondansetron dalam sediaan injeksi merupakan pilihan profilaksis
yang tepat untuk pasien yang akan segera menjalani operasi. Mengingat obat sediaan
injeksi memiliki efek yang lebih cepat daripada sediaan oral. Bioavailabilitas
ondansetron pada dosis oral atau intravena rata-rata 60% pada konsentrasi terapi dan
akan muncul 30-60 menit dalam darah setelah pemberian (emadwiandr, 2013).
Berdasarkan latar belakang ini peniliti ingin mengetahui Perbandingan
Ondansentron Dengan Ranitidin Untuk Hilangkan Rasa Mual Post OP di Rumah
Sakit Yosua Lubuk Pakam. Hal ini karena sangat sedikit studi yang membahas
perbandingan ondansentron dengan Ranitidin untuk hilangkan rasa mual post op.
1.2 Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka timbul
rumusan masalah yaitu apakah terdapat perbedaan efektifitas Ondansetron dan
Ranitidin dalam menghilangkan rasa mual post OP pada Rumah Sakit Yosua
Lubuk Pakam.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbandingan efektifitas ondansetron dan ranitidin dalam
menghilangkan rasa mual setelah operasi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui prevalensi kejadian mual muntah pada pasien post op
2. Mengetahui efektivitas ondansetron dalam mengatasi kejadian mual
muntah pada pasien post OP
3. Mengetahui efektivitas ranitidin dalam mengatasi kejadian mual muntah
pada pasien post op.
15
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Menambah pengetahuan peneliti tentang metode penelitian, pengetahuan
tentang bidang farmakologi, pengetahuan tentang anestesiologi, Memperoleh
pengalaman ilmiah dan klinis dalam melakukan penelitian serta menerapkan
ilmu yang sudah didapat .
2. Bagi Pasien
Mendapatkan pelayanan yang semaksimal mungkin dengan efek samping
yang minimal.
3. Bagi institusi pendidikan
Dapat memberikan pengetahuan dan wawasan dalam bidang farmakologi dan
anestesiologi,yaitu memberikan data mengenai perbandingan efektifitas
ondansetron dan ranitidin dalam menghilangkan rasa mual post op.
4. Bagi penelitian yang akan datang
Hendaknya penelitian ini dapat dijadikan sebagai data dasar atau referensi
bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai
perbandingan efektifitas ondansetron dan ranitidin dalam menghilangkan rasa
mual post op.
16
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ondansentron
2.1.1 Definisi Ondansentron
Ondansetron Merupakan golongan antagonis reseptor 5-HT3 (serotonin)
selektif pertama yang dipasarkan, yang merupakan derivat karbazol dan merupakan
campuran rasemik, dimana efek antiemetiknya melalui antagonis reseptor 5-HT3
yang terdapat di viseral aferen vagus dan area postrema dan bersifat selektif
kompetitif, tidak mempunyai efek klinis terhadap reseptor 5-HT1 atau 5-HT2 maupun
pada reseptor α1, β1, reseptor muskarinik dan nikotinik kolinergik, reseptor H1 dan
H2 reseptor GABA. Obat ini dapat diberikan baik oral maupun parenteral. Setelah
dosis peroral, maka obat ini akan diabsorbsi melalui traktus gastrointestinal dan
selanjutnya mengalami metabolisme ekstensif di hepar terutama hidroksilasi diikuti
dengan konjugasi glukoronid atau sulfat. Obat ini mempunyai bioavailabilitas antara
56% - 71% dimana kecepatan ini dipengaruhi sedikit dengan adanya makanan.
Eliminasi waktu paruh antara 3-6 jam pada orang dewasa sedangkan pada anak- anak
dibawah 15 tahun antara 2-3 jam. Kira-kira 5 – 10% obat akan diekskresi di urin
dalam keadaan tidak berubah. . Ondansetron adalah obat yang paling umum
digunakan dan muncul efektif bila digunakan secara oral sebelum operasi dan
intravena untuk PONV.(Penggunaan et al., 2016).
2.1.2 Sifat Umum Ondansetron
Menurut Philip Ondansetron merupakan obat selektif terhadap reseptor
antagonis 5- Hidroksi-Triptamin (5-HT3) di otak dan mungkin juga pada aferen vagal
saluran cerna. Di mana selektif dan kompetitif untuk mencegah mual dan muntah
setelah operasi dan radioterapi. Ondansetron memblok reseptor di gastrointestinal dan
area postrema di CNS (Penggunaan et al., 2016). Ondansetron yang paling disukai
untuk mencegah dan mengobati mual muntah pasca bedah karena obat ini bekerja di
17