DARURAT PERUNDUNGAN
DUNIA pendidikan kembali dirundung duka akibat perundungan. Seorang
siswi kelas 6 SD di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, tewas akibat
terjatuh saat bermain-main di lantai 4 gedung sekolah pada Selasa (26/9)
lalu.
Walaupun sempat dirawat di RS Fatmawati, nyawa korban berinisial SR itu
tidak bisa tertolong lagi. Siswi yang berusia 13 tahun ini kemudian
dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petukangan Utara,
Jakarta Selatan.
Berdasarkan CCTV yang diperoleh kepolisian dan keterangan sejumlah
saksi mata, diduga jatuhnya siswi ini akibat bunuh diri setelah mengalami
perundungan (bullying). Namun demikian, pihak kepolisian hingga saat ini
belum bisa menyimpulkan penyebab kematian siswi tersebut.
Pada hari yang sama di Cilacap, Jawa Tengah, seorang siswa berinisial FF,
14, terpaksa menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Menjenang akibat perundungan yang dilakukan teman sekolahnya. Akibat
kasus yang videonya sempat viral di media sosial tersebut, Polresta
Cilacap terpaksa turun tangan menahan pelaku.
Dua kasus yang terjadi di hari yang sama ini sepertinya mengingatkan kita,
terutama orang tua dan pendidik, bahwa kasus bullying di dunia pendidikan
serta anak semakin menghantui kita. Dampaknya pun bukan hanya
berbahaya bagi mental anak-anak untuk jangka panjang, tetapi juga nyawa
bisa melayang.
Berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),
hingga 31 Maret 2023, lembaga tersebut sudah menerima 64 aduan
dengan rincian kekerasan terhadap anak pada satuan pendidikan.
Sementara pada tahun sebelumnya, KPAI mencatat kasus bullying dengan
kekerasan fisik dan mental yang terjadi di lingkungan sekolah sebanyak
226 kasus, termasuk 18 kasus bullying di dunia maya.
Sementara itu, data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyebutkan
sebanyak 16 kasus perundungan terjadi di lingkungan sekolah pada
periode Januari hingga Agustus 2023. Kasus perundungan di lingkungan
sekolah paling banyak terjadi di sekolah dasar (SD) dan sekolah
menengah pertama (SMP) dengan proporsi 25% dari total kasus.
Data itu tentu belum mencerminkan realitas sesungguhnya mengingat
kemungkinan besar banyak kasus yang terjadi di dunia pendidikan, tetapi
tidak dilaporkan ke KPAI. Pun bisa jadi karena kasusnya tidak mencuat di
media massa.
Kondisi ini sesungguhnya memperlihatkan lembaga pendidikan formal di
Indonesia sejak lama tidak kondusif untuk berlangsungnya pendidikan dan
pengajaran. Karena itu, masyarakat perlu mendesak pemerintah untuk
membuat aturan yang mewajibkan sekolah lembaga pendidikan terkait,
lebih bertanggung jawab memperbaiki iklim proses belajar mengajar di
sekolah, termasuk berusaha mencegah terjadinya bullying di sekolah.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)
diharapkan bisa terlibat aktif melakukan pendampingan satuan pendidikan
dalam kegiatan sosialisasi perlindungan anak, pelatihan pendidikan ramah
anak, rehabilitasi sosial, hingga pendampingan hukum apabila dibutuhkan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan
Kementerian Agama yang terlibat langsung dalam menangani pendidikan
diharapkan bisa lebih aktif mengakhiri tiga dosa besar pendidikan, yakni
perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
Kita tentu tidak ingin anak-anak kita menjadi sosok buas seperti Mario
Dandy yang dengan entengnya menginjak-injak dan menendang kepala
David Ozora. Namun, kita juga tidak ingin melihat anak-anak Indonesia
terganggu mentalnya serta terancam nyawanya akibat perundungan ini.
Maraknya kasus perundungan yang dilakukan sesama pelajar perlu kajian
yang mendalam kenapa hal itu bisa terjadi. Pembentukan karakter pelajar
yang bermental baik, seperti sopan santun, toleransi, suka menolong,
gotong royong, integritas, mandiri dan demokratis, tak hanya di sekolah,
tapi juga di rumah dan lingkungan sosial atau pergaulan. Selamatkan anak-
anak Indonesia.