0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Sarada: Membangun Kemandirian Kepresidenan

Sarada, yang kini menjadi Presiden, bertekad untuk membuktikan kemampuannya tanpa bantuan Boruto, meskipun tekanan dan tantangan terus datang. Dalam rapat penting, ia berhasil meyakinkan konsorsium Eropa tanpa Boruto, menunjukkan kekuatan dan ketangguhannya. Namun, hubungan mereka semakin tegang ketika Sarada menolak semua tawaran bantuan Boruto, yang berujung pada perpisahan emosional dan pengakuan bahwa Sarada telah belajar untuk berdiri sendiri.

Diunggah oleh

tri yolandasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Sarada: Membangun Kemandirian Kepresidenan

Sarada, yang kini menjadi Presiden, bertekad untuk membuktikan kemampuannya tanpa bantuan Boruto, meskipun tekanan dan tantangan terus datang. Dalam rapat penting, ia berhasil meyakinkan konsorsium Eropa tanpa Boruto, menunjukkan kekuatan dan ketangguhannya. Namun, hubungan mereka semakin tegang ketika Sarada menolak semua tawaran bantuan Boruto, yang berujung pada perpisahan emosional dan pengakuan bahwa Sarada telah belajar untuk berdiri sendiri.

Diunggah oleh

tri yolandasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pagi berikutnya, Istana Kepresidenan sibuk seperti biasa.

Para staf berlarian membawa


berkas, menteri silih berganti masuk ruang rapat, sementara Sarada duduk tegak di
kursi utamanya. Rambutnya digelung rapi, matanya tajam.
“Tidak ada alasan lagi untuk bergantung pada orang lain,” gumamnya lirih, seolah
meneguhkan dirinya sendiri. “Aku Presiden. Aku harus bisa.”
Sejak subuh ia sudah menolak semua bantuan dari tim Boruto. Kartu hitam yang
kemarin diberikan kini tergeletak di dalam laci meja kerjanya, tak tersentuh. Setiap
kali melihatnya, Sarada merasa seolah bayangan Boruto ikut mengintai langkahnya.
Hari itu, ia menghadapi salah satu rapat paling krusial: kerja sama teknologi dengan
konsorsium Eropa. Awalnya para menteri ragu biasanya negosiasi kelas dunia selalu
lebih mulus jika Boruto hadir. Tapi Sarada bersikeras.
“Tidak ada Boruto kali ini. Aku akan menanganinya sendiri,” ucapnya tegas,
menghentikan bisikan ajudannya.
Diskusi berlangsung menegangkan. Delegasi asing berulang kali meminta jaminan
tambahan, bahkan sempat melontarkan sindiran halus tentang stabilitas politik Jepang.
Jantung Sarada berdegup keras, tapi ia menolak goyah.
Dengan suara tegas dan argumen tajam, ia memaparkan data, menyodorkan simulasi,
bahkan menantang balik pihak asing dengan pernyataan:
“Kalau kalian ragu, itu berarti kalian belum benar-benar siap berbisnis dengan Jepang.
Karena Jepang tidak butuh investor yang setengah hati.”
Hening sejenak. Semua mata menatap Sarada, beberapa bahkan terbelalak. Aura
dominan yang biasanya diasosiasikan dengan Boruto kini memancar dari dirinya
sendiri.
Akhirnya, pimpinan konsorsium menghela napas panjang. “Baiklah… kami setuju
dengan syarat yang Anda ajukan. Tidak perlu penjamin tambahan.”
Sorak kecil terdengar di antara menteri Jepang. Sarada hanya menunduk singkat,
menahan senyumnya.
Rapat usai, semua berdiri memberi hormat pada Presiden muda itu. Dan untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, Sarada melangkah keluar ruang rapat dengan
kepala tegak, tanpa bayang-bayang Boruto di sisinya.
Namun begitu ia kembali ke ruang kerjanya, tatapannya tak sengaja jatuh pada laci
tempat kartu hitam itu disimpan. Tangannya sempat terulur, tapi ia menarik kembali
dengan cepat.
“Aku bisa melakukannya sendiri,” bisiknya lirih. “Aku tidak butuh dia… tidak butuh
kartunya.”
Meski begitu, jauh di lubuk hati, ia tahu: bayangan Boruto tidak akan pernah benar-
benar hilang.

Hari-hari berikutnya berjalan penuh ketegangan. Boruto berulang kali menghubungi


Sarada, baik lewat pesan pribadi, panggilan video, hingga undangan resmi melalui staf
istana. Namun setiap kali, jawabannya sama: ditolak.
“Presiden sedang sibuk, Tuan Uzumaki,” ujar ajudan Sarada sopan, berulang kali
menutup pintu untuk Boruto.
Dan di balik pintu itu, Sarada duduk tegak di meja kerjanya, wajahnya dingin tanpa
ekspresi.
Bantuan pun datang dokumen analisis dari konsultan global milik Boruto, laporan
investasi yang sudah disaring, bahkan rancangan pidato internasional yang siap pakai.
Semuanya ditolak mentah-mentah.
“Aku punya tim sendiri. Aku bisa menyusunnya sendiri,” ucap Sarada singkat.
Boruto tidak berhenti. Ia mencoba cara lain hukuman. Setiap kali Sarada menolak, ia
mengirimkan tantangan yang seolah ingin menjatuhkannya: rapat yang sengaja
dihadirkan investor paling sulit, agenda mendadak dengan diplomat yang dikenal
keras, bahkan krisis kecil yang ia biarkan berkembang sebelum menyerahkan “solusi”
padanya.
Namun alih-alih terpojok, Sarada justru menggunakan semua itu sebagai bahan bakar.
Ia begadang bersama tim ekonominya, menghafal data hingga detail terkecil. Ia
mempelajari ulang teknik negosiasi yang dulu ia pelajari di universitas. Ia berdiri di
podium, menghadapi delegasi internasional dengan senyum tenang, bahkan
menggunakan tekanan Boruto sebagai alasan untuk tampil lebih kuat.
Ketika Boruto mengira ia akan runtuh, Sarada justru bangkit lebih tinggi.
Ketika Boruto menyiapkan “hukuman”, Sarada menjadikannya latihan.
“Aku tidak akan kalah hanya karena dia ingin menguji aku,” gumamnya suatu malam,
sambil menutup setumpuk dokumen yang berhasil ia rampungkan sendiri.
Para menteri mulai berbisik kagum. “Presiden semakin tangguh belakangan ini.
Bahkan tanpa Tuan Uzumaki, ia mampu menghadapi tekanan internasional.”
Kabar itu perlahan sampai juga ke telinga Boruto. Dari ruang kantornya di lantai 72, ia
menatap laporan keberhasilan Sarada satu demi satu. Tangannya mengepal di meja,
matanya tajam.
Ia tahu Sarada sengaja mengabaikan dirinya, sengaja membuktikan bahwa ia bisa
berjalan tanpa bayangan The Silent Storm.
Namun yang tidak disadari Sarada setiap kali ia mengalahkan tantangan itu, semakin
dalam ia masuk ke dalam permainan Boruto.
Boruto menyandarkan tubuhnya, senyum tipis muncul di bibirnya.
“Baiklah, Sarada. Kau bisa gunakan semua hukumanmu untuk memperkuat dirimu.
Tapi pada akhirnya… semua itu tetap datang dariku. Dan cepat atau lambat, kau akan
sadar: kau masih menari di dalam arena yang kubuat.”

Ruang konferensi internasional sore itu dipenuhi pejabat, investor asing, dan para
menteri kunci Jepang. Agenda resminya adalah meninjau hasil kerja sama teknologi
terbaru, tapi semua orang tahu ada hal lain yang membuat udara terasa berat: Boruto
dan Sarada hadir dalam satu ruangan setelah berminggu-minggu tidak bertemu.
Boruto duduk di sisi kanan meja, jas hitamnya rapi, sorot matanya dingin menusuk.
Sementara Sarada masuk dengan setelan formal marun, langkahnya tegak, ekspresi
tenang. Semua kepala menunduk memberi hormat, tapi tatapan Boruto dan Sarada
langsung bertemu — seakan seluruh ruangan seketika membeku.
“Presiden Uchiha,” sapa Boruto datar, suaranya rendah namun bergema.
“CEO Uzumaki,” jawab Sarada singkat, senyum profesional terpampang, meski
gengsinya jelas terasa.
Rapat berjalan kaku. Setiap kali Sarada memaparkan data, Boruto menimpali dengan
koreksi tajam. Setiap kali Boruto memberi masukan, Sarada membalas dengan
argumentasi logis yang tak terbantahkan. Dari luar, itu tampak seperti diskusi biasa.
Tapi semua yang hadir bisa merasakan: ini lebih mirip duel pribadi daripada rapat
bisnis.
Hingga akhirnya, Boruto mencondongkan tubuhnya, suaranya menekan.
“Jangan pikir aku tidak tahu, Sarada. Kau sengaja mengabaikan semua panggilanku.
Semua bantuanku.”
Sarada menoleh pelan, matanya tajam. “Aku tidak mengabaikan, Boruto. Aku hanya
memilih jalan sendiri. Itu hakku sebagai Presiden.”
Hening sejenak. Suasana ruangan semakin tegang. Para menteri saling pandang
gelisah, investor menahan napas. Semua menunggu, takut ketegangan itu berubah
menjadi ledakan.
Boruto mengepalkan tangannya di atas meja. “Kau pikir kau bisa terus lari dariku?
Kau masih—”
Pintu ruangan terbuka.
Langkah sepatu terdengar.
“Permisi…” suara lembut itu mengisi udara. Sumire masuk dengan map tebal di
tangannya, mengenakan setelan profesional, wajahnya tersenyum ramah. “Maaf
terlambat, saya diundang langsung untuk memberikan laporan tambahan.”
Sarada menoleh cepat. Sekejap, sorot matanya berubah. Ada sesuatu di balik
ketenangan itu — getir, marah, tapi juga rapuh.
Boruto menoleh ke Sumire, rahangnya mengeras, lalu kembali melirik Sarada.
Sarada tersenyum tipis, senyum formal khas Presiden. Ia bangkit dari kursinya,
merapikan jasnya.
“Baiklah, kalau begitu rapat ini bisa dilanjutkan tanpa saya. Saya punya agenda lain
yang harus dihadiri.”
“Presiden—” salah satu menteri mencoba menahan, tapi Sarada hanya mengangguk
singkat.
Ia berjalan keluar dengan langkah tenang, tanpa menoleh lagi. Semua orang
memperhatikan, bahkan Sumire tampak ragu melihat sosok Sarada pergi
meninggalkan ruangan.
Boruto duduk diam, matanya tajam mengikuti punggung Sarada hingga pintu tertutup.
Udara di dadanya bergolak marah, frustrasi, dan sebuah rasa kehilangan yang sulit ia
kendalikan.
Di tangannya, pena yang tadi ia pegang patah karena genggamannya terlalu kuat.

Boruto tidak tahan. Begitu pintu ruang rapat tertutup, ia segera bangkit, meninggalkan
Sumire dan semua pejabat yang masih duduk terdiam. Suara sepatunya menggema di
koridor panjang, langkahnya cepat mengejar Sarada.
“Sarada!” panggilnya keras.
Sarada berhenti sejenak, namun tidak menoleh. Hanya suara napasnya yang terdengar
teratur, seolah ia berusaha menjaga wibawa bahkan ketika emosinya mendidih.
Boruto menyusul, menarik lengannya dengan kasar. “Kau pikir kau bisa terus lari
dariku? Kau mengabaikanku berminggu-minggu, menolak semua bantuanku, dan
sekarang—kau bahkan meninggalkan rapat begitu saja di depanku?”
Sarada menoleh perlahan. Tatapannya dingin, berbeda dari biasanya. Tidak ada marah
yang meledak-ledak, tidak ada rasa malu yang memerah di pipinya. Hanya… datar.
“Lalu apa? Kau mau menghukumku lagi, Boruto?” suaranya tenang, nyaris menusuk.
“Silakan. Kalau itu membuatmu puas.”
Boruto terdiam sepersekian detik. Ia tidak menyangka jawaban itu keluar dari Sarada.
Biasanya, setiap kali ia menekan, Sarada akan melawan dengan emosinya atau
akhirnya tunduk. Tapi sekarang—Sarada tidak goyah.
Boruto mencoba mendekat, menundukkan wajahnya, suaranya rendah dan bergetar
marah.
“Kau masih milikku. Apa pun yang kau lakukan, kau tidak akan bisa lepas dariku.”
Sarada menatap lurus ke matanya. “Milikmu? Lucu sekali. Aku bahkan sudah tidak
merasa apa pun ketika kau berkata begitu.”
Kalimat itu menghantam Boruto lebih keras daripada tamparan.
Tangannya yang masih memegang lengan Sarada melemah, lalu perlahan terlepas.
Untuk pertama kalinya, Boruto tidak punya kata balasan. Ia yang biasanya
mendominasi, kini justru kehilangan kendali.
Sarada merapikan lengannya, melangkah mundur tanpa mengalihkan tatapannya.
“Lakukan apa pun yang kau mau, Boruto. Hukuman, ancaman, permainan… aku tidak
peduli lagi. Aku sudah belajar berjalan tanpamu.”
Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Boruto berdiri sendiri
di koridor sepi.
Boruto mengepalkan tangannya, matanya bergetar. Semua keangkuhan yang ia bangun
runtuh begitu saja oleh ketidakpedulian Sarada.
Dan di lorong itu, ia sadar untuk pertama kalinya, dialah yang kalah.

Boruto tidak menyerah. Begitu Sarada keluar dari gedung rapat menuju parkiran, ia
terus mengejarnya. Para staf hanya bisa saling pandang, pura-pura sibuk, ketika
melihat CEO Uzumaki mengekori Presiden dengan langkah panjang penuh amarah.
Sarada membuka pintu mobil dinasnya sendiri. Namun sebelum ia sempat menutup
pintu, Boruto sudah menyelip masuk ke kursi belakang, langsung duduk di
sampingnya.
“Boruto keluar,” suara Sarada datar, nyaris tanpa emosi.
Boruto tidak bergeming. Tangannya bertumpu di lutut, tubuhnya condong ke depan,
sorot matanya menusuk tajam.
“Tidak. Kau bisa mengabaikan panggilanku berminggu-minggu, tapi kau tidak akan
bisa mengabaikanku sekarang.”
Suasana di dalam mobil sepi, hanya detak jam di dashboard yang terdengar.
Boruto perlahan mendekat. Wajahnya semakin dekat dengan Sarada, matanya berkilat
penuh gengsi dan amarah. Ia mencoba mencium bibir Sarada.
Sarada tetap diam. Tidak menoleh, tidak menahan, tidak pula membalas. Wajahnya
kosong, dingin, seolah ciuman itu tidak pernah terjadi.
Frustasi, Boruto bergeser, menunduk, bibirnya menyentuh leher Sarada. Ia berharap
mendengar desahan, napas tercekat, atau sekadar reaksi yang selalu ia kenal. Namun
yang ia dapatkan… hanya keheningan.
Sarada menggenggam rok formalnya erat, menahan tubuhnya agar tidak bereaksi.
Nafasnya ditahan mati-matian, seolah menolak memberi Boruto kepuasan sekecil apa
pun.
Boruto berhenti, wajahnya mendekat ke telinga Sarada. “Kenapa kau diam saja? Kau
mau aku teruskan?”
Perlahan Sarada menoleh, tatapannya dingin, matanya nyaris tanpa cahaya.
“Aku tidak merasakan apa pun darimu lagi, Boruto.”
Kalimat itu menghantam seperti palu.
Boruto membeku. Tangannya yang tadi menekan kursi longgar, tubuhnya sedikit
mundur. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kata-kata.
Sarada merapikan jasnya sendiri, lalu bersandar ke kursi dengan tenang. Suaranya
rendah, dingin, penuh jarak.
“Kalau kau pikir dengan semua itu aku akan runtuh, kau salah besar. Kau tidak berarti
apa-apa lagi bagiku.”
Boruto hanya bisa menatapnya, napasnya berat. Semua rasa angkuh dan keyakinan
yang ia bangun runtuh dalam sekejap oleh kalimat itu.
Di dalam mobil kosong itu, yang terdengar hanya suara mesin yang baru saja
menyala.
Dan sore itu, untuk pertama kalinya, Boruto benar-benar merasa kalah bukan
dalam bisnis, bukan dalam politik, tapi di hadapan Sarada yang tak lagi
terguncang olehnya.

Sarada menyalakan mesin. Suara kendaraan mengisi keheningan. Boruto menatapnya


beberapa detik lebih lama, seolah masih berharap Sarada akan menarik kata-katanya.
Tapi Sarada tetap menatap lurus ke depan, tanpa goyah sedikit pun.
Dengan kesal, Boruto membuka pintu mobil dan keluar dengan kasar. Pintu terbanting
keras, menggema di parkiran yang lengang.
Ia berdiri di sana beberapa saat, kedua tangannya terkepal, napasnya terengah.
Amarahnya meluap, tapi bukan hanya pada Sarada juga pada dirinya sendiri.
“Kenapa… kenapa dia bisa begitu tenang?!” gumamnya penuh geram.
Boruto menendang ban mobil hingga alarmnya berbunyi singkat. Ia mencabut dasi
dari lehernya, melemparnya ke tanah, lalu meninju dinding beton parkiran. Bunyi
keras terdengar, kulit jarinya robek. Tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa
kosong yang mulai menggerogoti dadanya.
Mobil Sarada melaju pergi, meninggalkannya sendirian di parkiran luas. Boruto
menatap lampu belakang mobil itu menjauh, rahangnya mengeras.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar ditinggalkan.
Malam itu, Boruto duduk sendirian di ruang kantornya di lantai tertinggi gedung
perusahaannya. Ruangan luas itu gelap, hanya diterangi lampu kota Tokyo yang
berkelap-kelip di balik jendela kaca raksasa.
Setumpuk berkas dan laporan proyek internasional terbengkalai di meja. Ponselnya
bergetar berkali-kali panggilan dari mitra, bahkan dari Sumire. Ia tidak menjawab satu
pun.
Boruto hanya duduk, menatap kosong ke luar jendela.
Kata-kata Sarada terus terngiang di kepalanya:
“Aku tidak merasakan apa pun darimu lagi.”
Ia bersandar ke kursi, menutup mata. Dada sesak, kepalan tangannya lemah di
pangkuan. Semua dominasinya, semua hukuman, semua permainan yang ia susun…
tidak berarti apa-apa di hadapan dinginnya Sarada tadi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Boruto merasa bukan predator, melainkan
pria biasa yang ditolak oleh satu-satunya wanita yang benar-benar ia inginkan.
Air mata kecil muncul di sudut matanya cepat ia usap dengan kasar, seolah menolak
mengakuinya. Tapi kehancuran itu nyata.
“Tidak… aku tidak bisa kalah darinya,” bisiknya pelan, nyaris seperti doa. “Aku harus
menemukan cara… apa pun caranya…”

Mobil melaju menembus jalanan kota malam itu. Namun begitu mobil semakin jauh
dari parkiran, genggamannya di roda kemudi semakin kencang.
Matanya menatap lurus ke depan, tapi pandangannya sedikit bergetar. Nafasnya tidak
stabil ia menahannya sedari tadi agar Boruto tidak mendengar.
Begitu tiba di gerbang istana, Sarada menepikan mobil. Ia mematikan mesin, duduk
terdiam beberapa saat di dalam kabin yang gelap. Baru saat itu ia berani melepas
gengsi.
Tangannya menutup wajah, tubuhnya sedikit gemetar. Suara Boruto, tatapan
tajamnya, bibirnya yang sempat menyentuh lehernya semua masih terpatri jelas.
Sarada menggigit bibirnya kuat-kuat, mencoba membunuh ingatan itu.
“Aku… tidak boleh goyah,” bisiknya lirih, nyaris seperti mantra.
Air mata hampir pecah, tapi ia buru-buru mengusapnya dengan kasar. Ia tahu, jika ia
menangis sekarang, itu sama saja mengakui Boruto masih punya kuasa atasnya.
Sarada membuka laci dashboard, menarik sebuah cermin kecil. Ia menatap refleksi
dirinya: Presiden muda Jepang, sosok yang dikagumi rakyat dan ditakuti lawan
politik. Wajahnya pucat, tapi tatapannya dipaksa tegas.
“Tidak, Sarada,” katanya pada dirinya sendiri. “Kau sudah bilang… kau tidak
merasakan apa pun lagi. Kau harus percaya pada kata-katamu sendiri.”
Ia menarik napas panjang, menyandarkan tubuh ke kursi, berusaha menenangkan
degup jantung yang masih liar. Namun jauh di dalam hatinya, ia sadar: ia memang
masih merasakan sesuatu. Sangat dalam.
Dan itulah yang membuatnya takut.
Begitu keluar dari mobil, ia kembali memakai topengnya: senyum profesional,
langkah mantap, aura tak tergoyahkan. Para staf yang menunggu hanya melihat
Presiden Uchiha yang berwibawa. Mereka tidak tahu, di balik senyum itu, Sarada
sedang bertarung mati-matian dengan dirinya sendiri.

Pagi itu, suasana Istana Kepresidenan terlihat normal dari luar: staf lalu-lalang
membawa map, rapat kabinet dijadwalkan siang, dan agenda internasional sudah
menunggu. Namun di ruang kerja Presiden, badai sedang berkecamuk.
Sarada duduk di kursi kerjanya, menatap layar tablet di tangannya. Berita utama
memenuhi portal-portal media:
“CEO Uzumaki Boruto Terlihat Bersama Sumire Kakei, Apakah Ini Pertanda
Hubungan Baru?”
“Presiden Uchiha Kehilangan Dukungan Pribadi? Boruto Makin Mesra dengan
Konsultan Internasional.”
“Boruto & Sumire: Pasangan Ideal Dunia Bisnis?”
Foto-foto Boruto berjalan berdampingan dengan Sumire di luar gedung rapat kemarin
dipajang besar-besar, disertai analisis murahan yang menyudutkan dirinya sebagai
Presiden yang “ditinggalkan tunangannya”.
Sarada membaca cepat, matanya panas. Nafasnya memburu, tapi wajahnya tetap
menahan ekspresi. Hingga kalimat itu muncul di salah satu artikel:
“Boruto tampak lebih nyaman dengan Sumire daripada dengan Presiden Sarada.
Apakah ini alasan keretakan hubungan mereka?”
Brak!
Tanpa pikir panjang, Sarada melempar tab itu ke dinding. Layar pecah berantakan,
suara benturannya membuat beberapa staf di luar pintu kaget.
Sarada berdiri, kedua tangannya menggenggam meja erat hingga buku jarinya
memutih. Dadanya naik-turun cepat.
“Berani sekali mereka… berani sekali mereka menuliskannya seakan-akan aku… aku
yang ditinggalkan,” desisnya dengan suara serak.
Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, mencoba menahan amarah yang hampir
meluap. Sebagian dari dirinya ingin mengabaikan, ingin tetap memakai topeng
Presiden yang dingin. Tapi bagian lain—bagian yang masih sangat pribadi—terluka
parah.
Bayangan Boruto bersama Sumire berkelebat di kepalanya. Tatapan Boruto, senyum
tipisnya, berdiri di samping wanita lain… itu membuat perutnya terasa mual.
“Kenapa aku harus peduli?!” Sarada membentak dirinya sendiri, tapi suaranya pecah.
“Kenapa aku masih peduli, padahal aku sudah bilang… aku tidak merasakan apa-apa
lagi?”
Ia berhenti di depan kaca jendela besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Mata yang
sedikit berkaca-kaca, wajah pucat, bahu gemetar. Presiden muda Jepang yang
digadang sebagai simbol kekuatan kini terlihat rapuh di balik ruang kerjanya yang
tertutup rapat.
Pintu diketuk pelan. “Presiden, rapat kabinet akan segera dimulai,” suara ajudan
terdengar hati-hati.
Sarada menutup mata, menarik napas panjang. Ia menghapus air matanya cepat-cepat,
merapikan jasnya, lalu berkata dengan suara datar:
“Sebentar lagi.”

Hari-hari berikutnya terasa seperti siksaan batin.


Setiap pagi, Sarada membuka berkas rapat, tapi yang muncul di layar selalu sama:
gosip Boruto dan Sumire. Foto-foto mereka di hotel, di lobi perusahaan, bahkan
“bukti” pertemuan makan malam tersebar di media sosial. Media asing pun ikut
menyorot, menulis spekulasi murahan yang membuat reputasi Presiden muda Jepang
terguncang.
Boruto tidak tinggal diam. Berkali-kali ia mencoba menemuinya.
Mengirim pesan pribadi: “Izinkan aku menjelaskan, Sarada.”
Menelepon tengah malam: “Dengar dulu aku sekali saja.”
Bahkan sampai menunggu di depan ruang kerja Sarada.
Namun setiap kali, Sarada selalu memberi jawaban yang sama: menolak.
Bahkan tidak sekali pun ia membiarkan Boruto bicara lebih dari satu kalimat.
Hari-hari itu semakin menekan. Hingga akhirnya, satu artikel membuat Sarada hampir
melempar barang lagi: “Boruto dan Sumire Menginap di Hotel Mewah Tokyo,
Benarkah Hubungan Mereka Sudah Resmi?”
Sarada menutup tab dengan tangan bergetar.
Sudah cukup.
Malam itu, ia menandatangani dokumen cuti singkat sebagai Presiden—dengan alasan
kesehatan. Hanya beberapa orang terdekat yang tahu, selebihnya diumumkan bahwa ia
akan bekerja jarak jauh untuk sementara.
Esoknya, tanpa pengawalan besar, Sarada terbang dengan jet pribadi kecil menuju
sebuah pulau mewah namun sangat eksklusif, jauh dari keramaian media.
Pulau itu tenang, hanya ada villa-villa pribadi di tepi pantai, dengan laut biru
membentang luas tanpa gangguan paparazi. Begitu kakinya menjejak pasir putih,
Sarada menghela napas panjang untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.
Ia menanggalkan sepatu formalnya, membiarkan pasir dingin menyentuh telapak
kakinya. Angin laut menerpa rambutnya, membuatnya terlihat berbeda: bukan lagi
Presiden yang kaku, melainkan hanya seorang wanita muda yang ingin melarikan diri
dari dunia yang menekannya.
Malam itu, ia duduk di balkon villanya, memandangi laut luas dengan segelas anggur
di tangan. Ponselnya berdering—nama Boruto kembali muncul. Ia menatap layar
lama, jantungnya berdegup, tapi akhirnya ia mematikan ponsel itu.
“Cukup… biarkan aku sendiri kali ini,” gumamnya pelan, suaranya nyaris hilang
diterpa angin.
Untuk pertama kalinya, Sarada benar-benar sendirian. Tidak ada menteri, tidak ada
ajudan, tidak ada Boruto. Hanya dirinya, laut, dan kebebasan singkat yang ia rebut
paksa dari kehidupan yang selalu penuh tekanan.
Namun jauh di lubuk hatinya, Sarada tahu: melarikan diri tidak akan selamanya
berhasil.

Hari-hari di pulau terasa tenang.


Sarada bangun pagi dengan suara ombak, berjalan di pantai berpasir putih tanpa
gangguan kamera, lalu membaca buku di balkon villanya sambil menikmati kopi.
Untuk sesaat, ia merasa bebas—seperti kembali menjadi Sarada biasa, bukan Presiden
yang diburu media atau tunangan seorang pria yang selalu mendominasi hidupnya.
Namun kebebasan itu rapuh.
Setiap malam, saat ia membuka berita di tabletnya, gosip Boruto dan Sumire selalu
menghantui.
Ia berusaha mengabaikan.
Sampai akhirnya, satu artikel muncul, dengan judul besar yang menusuk hati:
“Boruto Uzumaki dan Sumire Kakei Dikatakan Menginap di Suite yang Sama
Selama Konferensi Bisnis di Osaka.”
Foto-foto buram menyertai artikel itu: Boruto dan Sumire keluar dari lobi hotel yang
sama, Boruto menahan pintu untuknya, Sumire tampak tersenyum. Jurnalis murahan
menulis narasi seakan-akan mereka menghabiskan malam bersama.
Sarada terdiam lama.
Dadanya sesak, pandangannya kabur. Tangannya yang memegang tablet bergetar,
hingga akhirnya ia meletakkannya di meja dengan kasar.
Air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Selama ini ia sudah menahan, sudah
berusaha kuat, tapi kali ini… rasanya berbeda.
Kalimat yang tertulis di artikel itu seolah menamparnya berkali-kali: “Pasangan baru
dunia bisnis Jepang.”
“Pasangan baru…” Sarada mengulang lirih, suaranya pecah.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya bergetar hebat. Semua kata yang
pernah ia ucapkan—“Aku tak merasakan apa pun darimu lagi”—tiba-tiba terasa palsu.
Yang ia rasakan sekarang hanyalah sakit hati yang dalam.
Malam itu, Sarada duduk di meja kerjanya di villa. Ia meraih ponsel satelit khusus
yang masih aktif, lalu menghubungi staf kepercayaannya di Tokyo. Suaranya tegas,
meski parau karena tangis:
“Siapkan dokumen pembatalan pertunangan dengan Boruto Uzumaki. Kirimkan
padanya malam ini.”
“Pre… Presiden, apa Anda yakin?” suara stafnya terdengar terkejut.
Sarada menutup matanya, menahan gejolak di dadanya. “Aku yakin. Dan pastikan rilis
resminya keluar besok pagi. Tidak boleh ditunda.”
“Baik, Presiden.”
Telepon ditutup. Sarada menatap laut gelap di luar jendela. Air matanya masih jatuh,
tapi wajahnya dipaksa tegas.
Keputusan sudah dibuat.
Besok pagi, dunia akan tahu: pertunangan antara Presiden Sarada Uchiha dan
Boruto Uzumaki resmi berakhir.
Dan di malam sunyi itu, di pulau mewah yang seharusnya menjadi tempat pelarian,
Sarada merasa seperti kehilangan segalanya.

Malam itu, kantor pusat Uzumaki Corporation diterangi lampu redup. Boruto baru
saja kembali dari rapat maraton, jasnya berantakan, dasinya longgar. Saat ia hendak
masuk ke ruang kerjanya, seorang kurir resmi dari istana menunggu di sana.
“Ini… untuk Tuan Uzumaki,” katanya sambil menyerahkan map hitam bersegel resmi.
Boruto mengernyit, mengambilnya tanpa banyak bicara. Begitu kurir pergi, ia
membuka map itu.
Mata birunya langsung membelalak.
“Surat Pembatalan Pertunangan”
Tertanda: Presiden Sarada Uchiha.
Dan di bawahnya—cap resmi negara.
Boruto terdiam lama. Jemarinya bergetar saat membaca setiap baris kalimat. Dunia di
sekitarnya seakan berhenti. Kata-kata dingin itu terasa seperti belati menusuk
dadanya.
“Tidak… tidak mungkin…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Amarah bercampur panik membuncah. Ia meremas kertas itu hingga kusut, lalu
melemparnya ke meja dengan kasar. Gelas kristal di atas meja jatuh, pecah
berantakan.
Boruto mengacak rambutnya, napasnya memburu. “Apa yang kau lakukan,
Sarada…?! Apa kau benar-benar ingin memutuskan semuanya dengan cara ini?”
Ia segera meraih ponselnya, menghubungi kontak khusus di kementerian komunikasi.
“Hentikan. Hentikan semua rilis pers dari Istana Presiden besok pagi. Apa pun
caranya, aku tidak peduli! Blokir, sabotase, bayar mereka—aku tidak peduli! Jangan
biarkan itu keluar.”
Suara di ujung telepon terdengar gugup. “Tuan Uzumaki, itu rilis resmi negara. Jika
kami menghentikannya tanpa dasar hukum, itu akan dianggap skandal besar—”
Boruto membentak. “Aku tidak peduli! Lakukan apa saja. Aku tidak akan membiarkan
dunia membaca pengkhianatan itu!”
Ia menutup telepon dengan kasar, lalu meraih laptopnya. Jarinya menari cepat,
mengakses jaringan informasi global miliknya. Ia menghubungi kantor berita
internasional, memberikan perintah pribadi: “Abaikan rilis dari Jepang besok.
Gunakan reputasiku. Katakan itu berita palsu, katakan apa saja.”
Namun dalam hati, Boruto tahu… ini tidak bisa ia hentikan selamanya. Begitu surat
itu sudah keluar dari tangan Sarada, dunia hanya tinggal menunggu.
Boruto berdiri di depan jendela kaca besar, menatap cahaya kota Tokyo. Tubuhnya
gemetar, bukan karena takut, tapi karena ketakutan baru yang belum pernah ia
rasakan: ketakutan kehilangan Sarada sepenuhnya.
Dengan suara rendah, ia berbisik ke dirinya sendiri:
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi… Sarada. Kau dengar aku? Aku tidak akan
biarkanmu melepaskan cincin itu begitu saja.”
Matahari pagi menyinari kamar villa di pulau mewah itu. Sarada terbangun pelan,
rambutnya berantakan, matanya masih berat. Ia menatap ke arah meja kecil tempat
ponselnya tergeletak.
Hari ini… seharusnya berita itu sudah keluar.
Hari ini… seluruh dunia akan tahu bahwa pertunangannya dengan Boruto resmi
dibatalkan.
Sarada menghela napas panjang. Jantungnya berdetak keras. Tangannya gemetar
ketika meraih ponsel. Sesaat, ia ragu untuk menyalakan layar—bagian dari dirinya
takut melihat kenyataan.
Namun akhirnya ia membuka layar. Notifikasi berita memenuhi feed.
Ia menatap judul teratas, lalu… membeku.
“BREAKING NEWS: Presiden Jepang Sarada Uchiha dan CEO Uzumaki
Boruto Akan Segera Menikah.”
“Pernikahan Megah Dijadwalkan Dalam Waktu Dekat, Sumber Resmi
Mengkonfirmasi.”
Sarada langsung duduk tegak di ranjang. Matanya melebar, tangannya bergetar saat
menggulir layar.
Foto dirinya dan Boruto terpampang besar, dengan cincin pertunangan masih
melingkar di jarinya. Artikel itu menuliskan narasi indah: “Alih-alih retak, hubungan
pasangan paling berpengaruh di Asia ini ternyata semakin serius. Pernikahan megah
diperkirakan akan dilangsungkan dalam beberapa bulan mendatang.”
“Tidak… ini… apa-apaan?!” suara Sarada pecah.
Ia melempar ponsel ke ranjang, berdiri dengan napas tersengal. Wajahnya memerah
bukan karena malu, tapi karena campuran marah dan panik.
“Bagaimana mungkin…? Aku sudah menandatangani pembatalan itu. Seharusnya
dunia tahu aku sudah melepaskannya!”
Sarada menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu berjalan mondar-mandir di
kamar. Ia meraih telepon khusus dan menghubungi stafnya di Tokyo.
“Apa yang terjadi?! Bukankah aku sudah perintahkan rilis pembatalan itu keluar pagi
ini?!”
Suara stafnya terdengar gugup di ujung telepon. “Presiden… kami… kami menerima
perintah kontra dari pihak Uzumaki Corporation. Mereka mengajukan dokumen baru
ke media internasional dengan segel seolah-olah resmi. Mereka mengklaim rilis
pembatalan itu palsu, lalu menggantinya dengan pengumuman pernikahan.”
Sarada terdiam. Nafasnya tercekat. Dunia seakan berputar.
Boruto.
Hanya dia yang bisa melakukan semua itu.
Tangannya gemetar hebat, matanya memanas. “Dia… berani sekali…
memutarbalikkan dunia dengan caranya sendiri.”
Ia menjatuhkan diri ke kursi, wajahnya menunduk. Rasanya seperti terperangkap di
permainan Boruto yang tak ada ujungnya. Sakit hati karena gosip Sumire belum
hilang, kini ia dipaksa menghadapi kebohongan publik yang lebih besar.
Dan untuk pertama kalinya, Sarada merasa benar-benar terkunci.

Anda mungkin juga menyukai