Boruto duduk di ruang kerjanya larut malam, lampu neon redup menerangi meja
penuh berkas. Tatapannya tajam menatap layar ponsel, percakapan dengan Sumire
Kakei masih terbuka.
Ia mengetik cepat:
[Boruto: “Pertemuan kita kemarin menimbulkan masalah dengan Sarada. Aku ingin
jelaskan agar semuanya jelas.”]
Tak lama, balasan masuk.
[Sumire: “Masalah? Padahal kita hanya membicarakan proyek. Kalau kau mau, aku
bisa bicara langsung dengan Sarada untuk meluruskan.”]
Boruto terdiam. Ia tahu Sarada sedang diliputi cemburu. Kalau Sumire yang
menjelaskan langsung, Sarada akan tahu tidak ada apa-apa.
Ia menekan tombol, mengatur jadwal pertemuan rahasia dengan Sumire di sebuah
kafe privat bermaksud agar bisa membuktikan kesetiaannya.
Namun yang tidak ia sadari, beberapa wartawan politik dan staf lawan sudah
mengendus gosip itu. Kamera tersembunyi dipasang, menunggu momen yang tepat.
Keesokan harinya, Boruto benar-benar bertemu Sumire. Mereka duduk berhadapan di
sudut kafe yang sepi. Boruto serius menjelaskan situasinya.
“Aku butuh kau bantu meluruskan. Sarada harus tahu tidak ada apa-apa di antara kita.
Aku tidak mau gosip murahan ini merusak hubungan kami.”
Sumire mengangguk lembut. “Aku mengerti, Boruto. Kau benar-benar tulus soal
Sarada… aku akan bantu jelaskan.”
Boruto menghela napas lega. Namun tepat saat itu, blitz kamera kecil menyala dari
kejauhan tak sengaja tertangkap.
Beberapa jam kemudian, foto-foto itu sudah beredar di media sosial:
“Boruto Uzumaki Tertangkap Basah Bertemu Diam-Diam dengan Sumire Kakei di
Kafe Privat!”
“Hanya Bisnis, atau Ada Hubungan Rahasia?”
Sore harinya, berita itu sampai ke telinga Sarada saat ia masih di istana. Staf
pribadinya, Aoi, tampak gelisah saat memberikan tablet berisi artikel yang sudah viral.
Sarada menatap layar itu, tubuhnya gemetar. Foto Boruto dan Sumire tampak terlalu
intim padahal hanya momen kebetulan saat mereka sedang berbicara serius.
Air matanya hampir pecah, tapi ia buru-buru menggertakkan gigi menahannya.
“Jadi ini caramu membuktikan kesetiaanmu, Boruto? Dengan bertemu diam-diam
lagi…”
Kantor Presiden sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sarada duduk di balik meja
kerjanya, menatap kosong dokumen yang belum tersentuh. Tablet di sampingnya
masih menampilkan artikel tentang Boruto dan Sumire, dengan foto-foto yang sudah
viral.
Pintu terbuka pelan. Boruto masuk, wajahnya tegang namun tetap tenang.
“Sarada,” panggilnya rendah.
Sarada tidak menoleh. Ia tetap menatap meja, seolah Boruto hanya angin lalu.
Boruto melangkah mendekat. “Kau lihat berita itu, kan? Dengarkan aku. Semua itu
salah paham. Aku bertemu Sumire hanya untuk—”
“Tidak perlu.” Suara Sarada datar, memotong kalimatnya. Ia meraih berkas,
menandatangani dengan cepat tanpa mengangkat kepala.
Boruto mengepalkan tangannya. “Sarada… jangan seperti ini. Aku mencoba
membuktikan kesetiaanku padamu, tapi keadaan berbalik. Setidaknya, dengarkan dulu
—”
Sarada berdiri, akhirnya menatap Boruto dengan sorot mata dingin. “Aku sudah
terlalu sering mendengarkan alasanmu.”
Ia menoleh ke arah staf pribadinya, Aoi, yang berdiri canggung di sudut ruangan.
“Aoi, mulai hari ini… hentikan semua informasi dan akses Boruto ke agendaku. Tidak
ada lagi yang perlu ia atur. Tidak ada lagi yang perlu ia ketahui.”
Aoi tampak kaget, menoleh ke Boruto sebentar, tapi cepat-cepat menunduk. “Baik,
Presiden.”
Boruto melangkah maju, wajahnya mengeras. “Sarada!”
Tapi Sarada sudah meraih mapnya, lalu berjalan melewati Boruto tanpa menoleh. Saat
ia melewati pintu, suaranya terdengar pelan tapi penuh ketegasan.
“Mulai sekarang, aku tidak akan lagi membiarkanmu mengatur seluruh hidupku.”
Pintu tertutup keras di belakangnya, meninggalkan Boruto berdiri sendiri di ruang
kerja Presiden. Matanya berkilat tajam, rahangnya mengeras menahan emosi.
Ia bergumam rendah, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.
“Kalau begitu… aku akan menemukan caraku sendiri untuk membuatmu kembali
percaya. Entah kau mau atau tidak.”
Beberapa hari berlalu sejak Sarada memutus akses Boruto pada seluruh agendanya.
Di Istana Kepresidenan, Sarada bekerja lebih keras dari biasanya. Setiap rapat, setiap
tanda tangan, setiap konferensi pers ia jalani dengan wajah tegas dan dingin. Semua
orang di sekelilingnya kagum akan keteguhan Presiden muda itu.
Namun, begitu pintu ruang kerjanya tertutup dan hanya ada dirinya sendiri, topeng itu
runtuh.
Ia duduk di kursinya, menatap kosong ke luar jendela. Jemarinya menyentuh gelang
hitam di pergelangan tangannya gelang yang masih setia melekat, meski ia tahu hanya
Boruto yang bisa membukanya.
Kenapa aku tidak melepas ini sejak awal? pikirnya getir. Aku yang bilang tak mau
lagi diatur olehnya, tapi gelang ini masih kutahan di tanganku sendiri.
Air matanya mendesak keluar, tapi ia buru-buru menghapusnya dengan kasar.
“Boruto bodoh…” bisiknya. “Kenapa selalu membuatku ragu? Kenapa selalu
meninggalkanku di antara marah dan ingin percaya?”
Hatinya terasa seperti medan perang. Di satu sisi, ia muak dengan sikap dominan
Boruto, selalu mengatur hidupnya. Di sisi lain, ia tidak bisa melupakan rasa aman saat
pria itu berada di sisinya.
Malam itu, ketika semua staf sudah pulang, Sarada masih duduk sendirian di ruang
kerja. Dokumen menumpuk di depannya, tapi matanya kosong, pikirannya melayang.
Bayangan Boruto bersama Sumire terus menghantui, bercampur dengan kenangan
hangat beberapa malam lalu saat ia tidur dalam pelukannya.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar menahan tangis.
“Kenapa aku selalu kalah kalau menyangkut dia…”
Namun, meski hatinya hancur, Sarada tetap keras kepala. Ia menolak menghubungi
Boruto lebih dulu, menolak memperlihatkan kelemahan. Ia memilih menjauh, meski
setiap detik tanpa pria itu membuat dadanya semakin sesak.
Ruang rapat istana malam itu penuh dengan para menteri, politisi senior, dan pebisnis
besar. Dokumen-dokumen terbuka di meja panjang, proyektor menampilkan grafik
anggaran.
Sarada duduk di kursi utama, elegan dan tegas. Boruto ada di sisi, mendampingi
dengan wajah dingin, tangannya menyelip di saku jas.
Awalnya rapat berjalan lancer laporan anggaran, pembahasan investasi, diskusi
pembangunan. Namun, salah satu politisi muda mendadak menyinggung hal pribadi
dengan nada hati-hati.
“Presiden Sarada, ada kekhawatiran dari publik mengenai stabilitas pemerintahan…
mengingat belakangan ini beredar gosip tentang tunangan Anda, Tuan Boruto
Uzumaki, yang terlihat sering bertemu pebisnis muda, Sumire Kakei. Apakah isu ini
berpengaruh pada konsistensi keputusan Anda?”
Ruangan langsung sunyi. Semua mata tertuju pada Sarada.
Boruto menoleh perlahan, ekspresinya tetap tenang tapi matanya tajam, menunggu
reaksi Sarada.
Sarada mengepalkan tangannya di bawah meja. Hatinya sakit, tapi gengsi
menuntutnya menjawab. Ia tersenyum tipis, lalu berkata dengan nada dingin:
“Kalau pun benar Boruto Uzumaki dekat dengan wanita lain, itu tidak ada
hubungannya dengan jalannya pemerintahan. Negara ini tidak ditopang oleh
kehidupan pribadiku.”
Beberapa menteri saling berpandangan, kaget mendengar nada setajam itu.
Boruto menyipitkan mata, tapi tetap diam.
Sarada melanjutkan, kali ini suaranya lebih keras.
“Dan saya tegaskan urusan pribadi seseorang yang bahkan bukan pejabat negara tidak
ada tempatnya dalam rapat kabinet.”
Kata-kata itu menampar, seolah sengaja diarahkan ke Boruto. Suasana ruang rapat
menegang.
Boruto perlahan mendorong kursinya ke belakang, berdiri tegak. Suaranya rendah,
tapi bergema jelas di ruang rapat yang hening.
“Sarada… cukup.”
Sarada menoleh cepat, wajahnya merah karena marah dan malu. “Aku hanya bicara
fakta.”
Boruto melangkah ke sisinya. Tatapannya tajam menusuk, membuat beberapa menteri
tak berani mengangkat kepala.
“Kau sudah melewati batas. Ikut aku. Sekarang.”
“Boruto, ini rapat—”
Namun Boruto sudah menunduk, suaranya nyaris berbisik tapi penuh tekanan.
“Kalau kau ingin menantangku di depan mereka, kau akan menanggung
hukumannya.”
Tanpa menunggu persetujuan, ia meraih lengan Sarada dengan mantap, menariknya
bangkit dari kursinya. Beberapa menteri terkejut, sebagian menunduk pura-pura sibuk
dengan dokumen, suasana jadi kacau.
Boruto membawa Sarada keluar ruang rapat, pintu besar menutup keras di belakang
mereka, meninggalkan para pejabat yang saling berbisik penuh tanda tanya.
Pintu ruang pribadi tertutup rapat. Suasana hening, hanya terdengar napas Sarada yang
masih memburu karena ditarik paksa keluar rapat.
Ia menepis tangan Boruto dengan kasar, menoleh dengan wajah penuh amarah.
“Lepaskan aku! Kau mempermalukanku di depan semua menteri!”
Boruto berdiri tegak, matanya menatapnya dalam tanpa berkedip. Tangannya
mengepal, rahangnya mengeras menahan emosi. Ia tidak langsung bicara diamnya
justru membuat tekanan makin berat.
Beberapa detik terasa seperti menit. Sarada akhirnya tak tahan.
“Kenapa? Kau pikir hanya karena kau Boruto Uzumaki, kau bisa menyeretku begitu
saja? Aku Presiden negara ini, bukan boneka yang bisa kau tarik seenaknya!”
Boruto mendekat perlahan, langkahnya berat dan penuh wibawa. Ia berhenti hanya
beberapa inci di depan Sarada.
“Sarada…” suaranya rendah, tenang tapi dingin. “Kau benar-benar ingin
mempermalukanku tadi? Di depan semua pejabat? Kau sadar apa yang sudah kau
lakukan?”
Sarada menggertakkan gigi. “Aku hanya menjawab pertanyaan! Apa yang salah
dengan itu?”
Boruto menunduk sedikit, matanya menatap lurus menembus mata Sarada.
“Kau bisa menjawab tanpa harus menyindirku. Tapi kau memilih untuk
melakukannya. Di depan orang-orang yang sudah menunggu retakan kecil untuk
menghancurkanmu.”
Sarada terdiam, tapi matanya masih berkilat penuh gengsi. “Mungkin… memang aku
ingin kau merasa sedikit bagaimana rasanya dipermalukan.”
Boruto menghela napas panjang, lalu menyentuh dagunya, mengangkat wajah Sarada
agar tetap menatapnya.
“Permalukan aku sepuasmu, Sarada. Tapi ingat, setiap kali kau menjatuhkanku, kau
juga menjatuhkan dirimu sendiri. Karena kita ini suka atau tidak saling terikat.”
Sarada menepis tangannya, mundur selangkah, dadanya naik turun. “Aku tidak butuh
kau mengingatkanku soal itu.”
Boruto menatapnya lama, lalu suaranya merendah, lebih dingin lagi.
“Kalau begitu, aku yang akan mengingatkanmu dengan caraku. Kau tidak akan lari
dariku, Sarada. Tidak di rapat, tidak di publik, tidak di ruang pribadi ini.”
Ketegangan kian memuncak, udara seolah menipis. Sarada berusaha tetap berdiri
tegak, tapi jantungnya berdegup kencang, matanya berair meski ia menahan keras-
keras.
Boruto mendekat sekali lagi, lebih dekat dari sebelumnya, hingga suara napasnya
terasa di wajah Sarada.
“Katakan padaku, Sarada… apa sebenarnya yang kau inginkan? Menjatuhkanku? Atau
hanya ingin aku membuktikan bahwa aku milikmu, dan hanya milikmu?”
Ruang pribadi itu sunyi. Sarada masih berusaha menahan gengsi, meski dadanya
berdegup kencang. Boruto berdiri begitu dekat, aura dominannya memenuhi ruangan.
Sarada menoleh ke samping, mencoba menghindari tatapannya. “Aku tidak perlu
menjelaskan apa pun padamu.”
Boruto mengangkat alis, lalu tersenyum tipis senyum berbahaya. “Begitu, ya? Kalau
mulutmu tidak bisa jujur, aku akan membuat tubuhmu sendiri yang mengaku.”
Sarada tersentak, wajahnya memerah. “Apa maksudmu, Boruto—”
Boruto mendekat sepenuhnya, meraih kedua pergelangan tangannya dan
menempelkannya ke dinding di belakang. Sarada terperangkap, matanya membelalak,
tubuhnya menegang.
“Lepaskan!” protesnya, tapi suaranya bergetar.
Boruto menunduk, suaranya rendah dan mantap di telinganya.
“Kalau kau benar-benar tidak peduli… kalau gosip itu tidak membuatmu cemburu…
maka tatap mataku sekarang dan katakan kau tidak marah. Katakan kau tidak sakit
hati.”
Sarada membuka mulut, ingin membantah. Tapi kata-kata tak keluar. Tatapannya
goyah, bibirnya bergetar.
Boruto menatapnya lebih dalam, semakin menekan.
“Tidak bisa, kan? Karena kau tahu kenyataannya. Kau cemburu, Sarada. Kau takut
kehilanganku. Kau ingin aku hanya untukmu.”
Air mata tipis menggenang di mata Sarada. Ia menggertakkan gigi, mencoba
menggeleng. “Aku… tidak…”
Boruto mengepalkan tangannya di samping kepalanya, tapi suaranya justru melunak.
“Kalau benar tidak, buktikan. Tolak aku sekarang.”
Sarada terdiam. Jantungnya berdetak keras, tubuhnya lemah dalam genggaman
Boruto. Ia menutup mata, tapi tubuhnya tidak bergerak, tidak melawan lagi.
Boruto tersenyum samar, lalu melepas salah satu tangannya dan mengusap pipinya
lembut.
“Diam-mu sudah cukup jadi jawaban.”
Sarada membuka mata, air matanya jatuh, tapi wajahnya penuh campuran marah,
malu, dan lega. Ia berbisik lirih, hampir tak terdengar.
“Boruto… menyebalkan.”
Sarada masih terperangkap di antara dinding dan tubuh Boruto. Air mata tipis jatuh di
pipinya, tapi ia menatap Boruto dengan campuran marah dan rapuh.
Boruto menatapnya lama, ekspresinya dingin tapi terkendali. “Kau pikir kau bisa
mempermalukanku di rapat, lalu mengabaikanku, lalu bertindak seolah kau yang
memegang kendali?”
Sarada menggertakkan gigi. “Aku… hanya ingin kau tahu rasanya—”
Boruto memotong, suaranya tegas.
“Tidak. Kau salah. Aku yang membuat aturan. Aku yang mengingatkanmu di mana
posisimu.”
Ia melepaskan tangan Sarada, tapi hanya untuk menarik pergelangan tangannya lebih
erat. Dari sakunya, Boruto mengeluarkan sebuah pena berlapis hitam dengan ukiran
logo Uzumaki pena pribadinya yang sering ia pakai untuk menandatangani kontrak
bisnis besar.
Dengan gerakan mantap, ia menyelipkan pena itu ke dalam saku jas Sarada,
menekannya kuat seakan menandai.
“Mulai malam ini, kau akan selalu membawa ini.” Tatapannya tajam. “Setiap kali kau
mengeluarkannya, kau akan ingat… bahwa aku yang menandatangani hidupmu.
Bahwa aku yang mendominasi, bahkan di balik semua jabatan dan kekuasaanmu.”
Sarada terperanjat, menatap pena itu, lalu menatap Boruto dengan mata berkilat.
“Kau… menyebalkan, Boruto. Aku bukan milikmu untuk kau tandai sesukamu.”
Boruto mendekat, wajahnya hanya sejengkal darinya.
“Kau salah. Kau memang milikku. Dan semakin kau melawan, semakin aku akan
mengikatmu dengan caraku.”
Sarada terdiam, tubuhnya gemetar antara marah, malu, dan… rasa aneh yang
membuat hatinya berdebar.
Boruto akhirnya mundur selangkah, tapi senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Itu hukumannya, Sarada. Simbol yang tidak bisa kau buang begitu saja. Sama seperti
aku… yang tidak bisa kau singkirkan dari hidupmu.”
Malam itu di kediaman presiden, Sarada duduk sendirian di meja kerja pribadinya.
Lampu ruangan remang, berkas-berkas menumpuk di hadapannya.
Tangannya menyentuh pena hitam berlapis ukiran Uzumaki yang kini terselip di saku
jasnya. Ia menariknya keluar dan menatap benda itu lama, napasnya berat.
Kenapa aku masih membiarkan benda ini bersamaku? pikirnya. Ini cuma simbol
dominasinya. Aku seharusnya membuangnya.
Dengan tekad, ia berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka kaca. Malam Tokyo
berkilau dengan lampu-lampu kota. Tanpa ragu, ia melemparkan pena itu keluar.
Pena jatuh, menghilang ke kegelapan. Sarada menutup jendela, dadanya terasa sedikit
lega.
“Sudah. Aku tidak butuh lagi.”
Namun keesokan paginya, saat ia tiba di ruang kerja di istana dan hendak
menandatangani sebuah dokumen penting, staf Aoi menyodorkan sesuatu.
“Presiden, pena Anda tertinggal di meja. Saya menemukannya saat membereskan
ruang kerja tadi malam.”
Sarada tertegun. Di tangannya, pena hitam itu kembali.
Ia menatap Aoi kaget, tapi tidak berkata apa-apa.
Hari-hari berikutnya, ia kembali mencoba.
Pernah ia menjatuhkan pena itu ke tempat sampah kantor, tapi staf lain
membersihkannya dan meletakkannya kembali di mejanya.
Pernah ia sengaja meninggalkannya di ruang rapat, tapi saat rapat berikutnya dimulai,
pena itu sudah rapi tertata di kursinya.
Bahkan sekali waktu, ia meletakkannya di laci terkunci dan bertekad tak akan
menyentuhnya… tapi saat ia lupa membawa pena lain, tangannya justru secara refleks
meraih pena itu untuk tanda tangan.
Setiap kali, Sarada merasa seolah pena itu menolak untuk benar-benar hilang dari
hidupnya.
Malam lain, ia memandanginya lagi, mata berkilat. “Apa ini, Boruto? Hukumanmu…
atau kutukanmu?”
Tapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa, meski ia berusaha menolak,
saat pena itu berada di tangannya, tanda tangannya terasa lebih mantap. Seolah ia
butuh benda itu… seolah ia butuh Boruto.
Malam itu, Boruto berdiri bersandar di pintu ruang kerja Sarada. Wajahnya tenang,
tapi tatapannya menusuk. Sarada yang sedang sibuk membaca berkas mendongak,
sedikit terkejut melihatnya.
“Boruto? Kenapa kau masuk tanpa izin?”
Boruto tidak menjawab. Ia berjalan perlahan mendekat, jemarinya mengetuk meja
sekali. “Aku sudah tahu, Sarada.”
Sarada mengernyit. “Tahu… apa?”
Boruto mencondongkan tubuhnya, menatapnya lurus.
“Kau berulang kali mencoba membuang pena itu.”
Sarada tercekat, matanya membesar. “Kau—”
Boruto menyeringai tipis. “Kau pikir aku tidak tahu? Aku punya orangku di mana-
mana. Setiap kali kau menjatuhkannya, membuangnya, bahkan meninggalkannya…
selalu ada yang melapor padaku.”
Sarada menelan ludah, lalu mencoba membela diri. “Itu hanya… benda kecil. Tidak
penting.”
Boruto meraih pena hitam yang tergeletak di meja, lalu mengangkatnya setinggi mata
Sarada.
“Kalau benar tidak penting, kenapa masih kembali padamu setiap saat? Atau lebih
tepatnya…” suaranya merendah, penuh penekanan, “…kenapa kau selalu
membiarkannya kembali?”
Sarada menggertakkan gigi, wajahnya memerah. “Aku tidak—”
Boruto memotong, kali ini nadanya lebih keras.
“Kau bisa memerintahkan siapapun untuk menyingkirkannya secara permanen. Kau
Presiden. Tapi kau tidak melakukannya. Karena jauh di dalam dirimu, kau butuh
simbol ini. Kau butuh aku.”
Sarada menoleh, matanya berair, mencoba menyangkal. “Tidak… aku hanya—”
Boruto meletakkan pena itu di genggaman tangannya, lalu menutup jemari Sarada
dengan tangannya sendiri, kuat dan mantap.
“Jangan bohong, Sarada. Tubuhmu sendiri sudah mengaku. Kau tidak bisa
melepaskanku, sekeras apa pun kau mencoba.”
Sarada menunduk, terdiam. Air matanya jatuh ke meja, tapi ia tetap menggenggam
pena itu erat, seolah tak sanggup membuangnya lagi.
Boruto menatapnya lama, lalu suaranya melunak.
“Itu bukan sekadar hukuman. Itu pengingat. Bahwa aku akan selalu ada… di
tanganmu, di hidupmu. Suka atau tidak.”
Sarada terisak pelan, tapi tidak melepaskan genggaman pada pena itu. Dan Boruto
hanya berdiri di sana, puas melihat simbol kecilnya tetap melekat pada wanita yang ia
klaim miliknya.
Sarada mendongak cepat, air matanya kini berubah jadi api kemarahan.
“Kalau kau bilang aku butuhmu… kalau kau bilang aku tidak bisa melepaskanmu…
lalu jelaskan ini, Boruto!”
Ia meraih tablet di mejanya, menampilkan artikel gosip yang memuat foto Boruto dan
Sumire di kafe. Ia menghempaskannya ke dada Boruto dengan kasar.
“Semua orang sudah melihat! Kau bilang aku milikmu, tapi kau malah makan malam
diam-diam dengan Sumire Kakei!”
Boruto menahan napas, lalu mengambil tablet itu, menaruhnya kembali ke meja
dengan tenang. “Itu pertemuan bisnis. Aku menemui Sumire hanya untuk meluruskan
gosip, justru demi membuktikan kesetiaanku padamu.”
Sarada tertawa getir, matanya berkaca-kaca. “Buktimu justru membuat semuanya
terlihat lebih buruk! Kau pikir aku bisa percaya begitu saja? Kau pikir aku sebodoh
itu?”
Boruto mendekat, suaranya lebih tegas. “Sarada, aku tidak berbohong. Kau yang
memilih untuk percaya pada gosip ketimbang kata-kataku.”
Sarada berdiri cepat, wajahnya dekat sekali dengan Boruto, matanya penuh
perlawanan.
“Karena kau tidak pernah memberitahuku lebih dulu! Kau selalu membuat keputusan
sendiri, seolah aku hanya bayangan yang harus mengikutimu.”
Boruto mengepalkan tangannya, menahan amarah. “Aku melakukan itu untuk
melindungimu. Kau tahu betapa kotornya politik di sekelilingmu. Kau butuh aku.”
Sarada menatapnya dengan tajam, napasnya terengah. “Mungkin dulu aku butuhmu…
tapi tidak sekarang.”
Boruto tertegun. “Apa?”
Sarada menegakkan tubuh, suaranya lantang meski bergetar.
“Aku tidak akan menuruti semua aturanmu seperti dulu lagi. Kalau kau mau
mendominasi, terserah. Mau menghukumku, terserah. Tapi jangan pernah berpikir aku
akan tunduk begitu saja padamu lagi.”
Hening. Kalimat itu menggantung di udara, berat seperti palu.
Boruto menatap Sarada lama, matanya berkilat antara amarah dan luka. Untuk sekali
ini, Sarada berdiri tegak di hadapannya tanpa menunduk, meski air matanya masih
jatuh.
Tanpa peringatan, Boruto menghantam meja kerja dengan telapak tangannya. BRAK!
Suara kayu bergetar, membuat Sarada tersentak.
“Aku sudah menahan diri berkali-kali, Sarada.” Suaranya rendah, namun penuh
ancaman. “Tapi kau terus menantangku. Kau pikir aku akan membiarkanmu
mempermalukanku lagi?”
Sarada mundur selangkah, tapi tatapannya tetap menantang meski matanya basah.
“Kalau kau mau menghukum, lakukan! Aku tidak takut!”
Boruto mendekat cepat, meraih kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke
meja. Tubuhnya menjulang, mendominasi penuh.
“Tidak takut? Kau bahkan gemetar saat bicara, Sarada.”
Sarada berusaha melepaskan diri, menggeliat sekuat tenaga. “Aku lebih baik melawan
daripada tunduk buta padamu!”
Boruto menunduk, wajahnya hanya sejengkal dari Sarada. Napasnya berat, matanya
menusuk. “Kau pikir perlawanan kecilmu akan membuatku mundur? Tidak. Itu hanya
membuatku semakin keras padamu.”
“Cukup, Boruto! Kau melarangku seolah-olah aku anak kecil, mengatur setiap
langkahku… tapi kau sendiri bisa bebas bertemu Sumire sesukamu?!”
Boruto menatapnya dingin, tidak bereaksi. “Itu berbeda.”
Sarada mendengus getir, suaranya meninggi. “Berbeda? Kau bisa makan malam
berdua, ngobrol lama, bahkan membiarkan gosip itu menyebar… tapi aku, Presiden
negara ini, tidak boleh menghadiri rapat tanpa pengawasmu?!”
Boruto melangkah mendekat, ekspresinya masih tenang tapi nadanya mulai lebih
tajam.
“Aku tidak perlu izin darimu untuk melindungi posisimu. Semua yang kulakukan
dengan Sumire murni bisnis. Kau tahu itu, Sarada.”
Sarada menggertakkan gigi, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Kau selalu punya
alasan! Kau selalu benar, selalu bersembunyi di balik kata ‘melindungi’. Padahal
kenyataannya… kau tidak mempercayaiku.”
Boruto berhenti tepat di hadapannya, tubuhnya menjulang tinggi. “Aku
mempercayaimu. Tapi aku tidak mempercayai dunia di sekelilingmu. Mereka semua
menunggu saat kau lengah untuk menghancurkanmu.”
Sarada balas menatapnya, wajahnya memerah karena marah. “Dan bagaimana
denganku? Siapa yang melindungiku dari rasa sakit setiap kali mendengar namamu
dengan wanita lain?”
Keheningan menekan ruangan. Boruto menatap Sarada lama, rahangnya mengeras.
Untuk sesaat, senyumnya hilang terganti sorot mata yang penuh dengan sesuatu antara
luka dan murka.
Ia akhirnya berkata pelan tapi menusuk.
“Itu bukan masalahku, Sarada. Itu masalahmu yang terlalu takut kehilangan.”
Sarada tertegun, dadanya seolah diremas. Namun ia cepat menegakkan kepala,
menolak terlihat lemah.
“Kalau begitu, aku lebih baik kehilanganmu daripada hidup terus-menerus dikekang.”
“Cukup, Boruto! Kau melarangku seolah-olah aku anak kecil, mengatur setiap
langkahku… tapi kau sendiri bisa bebas bertemu Sumire sesukamu?!”
Boruto menatapnya dingin, tidak bereaksi. “Itu berbeda.”
Sarada mendengus getir, suaranya meninggi. “Berbeda? Kau bisa makan malam
berdua, ngobrol lama, bahkan membiarkan gosip itu menyebar… tapi aku, Presiden
negara ini, tidak boleh menghadiri rapat tanpa pengawasmu?!”
Boruto melangkah mendekat, ekspresinya masih tenang tapi nadanya mulai lebih
tajam.
“Aku tidak perlu izin darimu untuk melindungi posisimu. Semua yang kulakukan
dengan Sumire murni bisnis. Kau tahu itu, Sarada.”
Sarada menggertakkan gigi, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Kau selalu punya
alasan! Kau selalu benar, selalu bersembunyi di balik kata ‘melindungi’. Padahal
kenyataannya… kau tidak mempercayaiku.”
Boruto berhenti tepat di hadapannya, tubuhnya menjulang tinggi. “Aku
mempercayaimu. Tapi aku tidak mempercayai dunia di sekelilingmu. Mereka semua
menunggu saat kau lengah untuk menghancurkanmu.”
Sarada balas menatapnya, wajahnya memerah karena marah. “Dan bagaimana
denganku? Siapa yang melindungiku dari rasa sakit setiap kali mendengar namamu
dengan wanita lain?”
Keheningan menekan ruangan. Boruto menatap Sarada lama, rahangnya mengeras.
Untuk sesaat, senyumnya hilang terganti sorot mata yang penuh dengan sesuatu antara
luka dan murka.
Ia akhirnya berkata pelan tapi menusuk.
“Itu bukan masalahku, Sarada. Itu masalahmu yang terlalu takut kehilangan.”
Sarada tertegun, dadanya seolah diremas. Namun ia cepat menegakkan kepala,
menolak terlihat lemah.
“Kalau begitu, aku lebih baik kehilanganmu daripada hidup terus-menerus dikekang.”
Boruto menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih berbahaya daripada
amarah.
“Benarkah? Kita lihat… seberapa jauh kau bisa hidup tanpa aku.”
Sarada berdiri tegak, napasnya terengah karena emosi. Matanya berkilat penuh tekad.
Tanpa ragu, ia membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan kotak kecil tempat ia
menyimpan beberapa benda yang pernah Boruto berikan.
Boruto menyipitkan mata, waspada. “Apa yang kau lakukan, Sarada?”
Dengan tangan gemetar tapi mantap, Sarada meletakkan satu per satu benda di atas
meja:
Pena hitam dengan ukiran spiral.
Cincin perak sederhana yang pernah Boruto paksa ia kenakan.
Kartu hitam khusus yang menghubungkannya langsung dengan jaringan bisnis
Uzumaki.
Terakhir, ia menatap gelang hitam di pergelangan tangannya alat pelacak yang selalu
membuatnya merasa diawasi. Jantungnya berdegup kencang.
Boruto melangkah maju, nadanya tegas. “Jangan coba-coba, Sarada. Gelang itu tidak
bisa kau lepas tanpa aku.”
Sarada menggertakkan gigi, lalu dengan satu tarikan penuh tekad, gelang itu terlepas.
Klik kecil terdengar, logamnya terbuka sempurna.
Keduanya terdiam. Boruto membelalak, nyaris tidak percaya. “Bagaimana… itu bisa
terbuka?”
Sarada menatap gelang di tangannya, napasnya berat. “Mungkin karena akhirnya aku
benar-benar memilih… untuk tidak tunduk padamu lagi.”
Ia meletakkan gelang itu bersama benda-benda lainnya di meja, lalu mendorong
semuanya ke arah Boruto. Air matanya jatuh, tapi suaranya mantap.
“Inilah semua tanda dominasimu. Ambil kembali. Aku tidak mau lagi hidup dengan
beban ini.”
Boruto menatap benda-benda itu lama, ekspresinya sulit ditebak antara marah,
terkejut, dan entah kenapa sedikit terusik. Tangannya mengepal, namun ia tidak
langsung menyentuh benda-benda itu.
Sarada menatapnya lurus, meski matanya basah. “Mulai sekarang… aku hanya akan
berjalan dengan kakiku sendiri. Kalau kau benar-benar ingin melihat apakah aku bisa
tanpa dirimu… maka lihatlah.”
Ia lalu melangkah melewati Boruto dengan tegas, meninggalkannya sendiri bersama
benda-benda yang dulu jadi simbol ikatan mereka.
Boruto berdiri kaku di depan meja, menatap benda-benda yang kini tak lagi melekat
pada Sarada. Pena, kartu, cincin, dan terakhir… gelang hitam yang seharusnya tidak
bisa dibuka tanpa dirinya.
Tangannya mengepal keras, urat di pelipisnya menonjol.
“Berani sekali kau, Sarada…” suaranya rendah, penuh amarah yang bergetar. “Kau
benar-benar menantangku secara langsung.”
Sarada yang berdiri di ambang pintu menoleh sebentar. Wajahnya basah oleh air mata,
tapi sorot matanya dingin. “Aku tidak menantangmu, Boruto. Aku hanya ingin bebas.”
BRAK! Boruto menghantam meja dengan tinjunya. Semua benda itu bergetar, gelang
hitam nyaris terguling jatuh. Suara dentuman membuat Sarada tersentak, tapi ia tetap
berdiri tegak.
Boruto menatapnya dengan sorot api yang liar. “Kau pikir ini permainan? Gelang itu
tidak bisa dibuka oleh siapa pun! Tidak seharusnya bisa! Kau… bagaimana kau
melakukannya?”
Sarada menggenggam sisi pintu, napasnya berat. “Mungkin… karena hatiku benar-
benar menolakmu kali ini.”
Boruto terdiam, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, ada keretakan di wajah
dominannya sorot mata yang bukan hanya marah, tapi juga bingung.
Ia menunduk, jemarinya menyentuh gelang itu perlahan, seolah memastikan benda itu
nyata. Bisikan lirih lolos dari bibirnya, hampir tak terdengar.
“Tidak mungkin… tidak ada yang bisa melawan sistem ini…”
Sarada memandangnya terakhir kali, lalu melangkah pergi dengan tegas.
Pintu menutup dengan suara berat. Tinggallah Boruto seorang diri, berdiri di tengah
ruangan dengan amarah bercampur guncangan. Ia memungut gelang itu,
menggenggamnya kuat, seakan takut benda kecil itu akan lenyap.
Matanya menatap kosong, penuh dengan bara yang tertahan.
“Kalau kau pikir kau bisa benar-benar lepas dariku, Sarada… kau salah besar. Aku
akan buktikan sendiri bahwa kau masih milikku.”