0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan8 halaman

Asuhan Keluarga Berencana di Puskesmas Jati Raya

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan mengatur jumlah kehamilan melalui berbagai metode kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi modern meningkat secara global, dengan suntik 3 bulan menjadi metode yang populer di Indonesia, meskipun terdapat tantangan dalam pemilihannya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan asuhan kebidanan pada akseptor KB di UPTD Puskesmas Jati Raya, serta memberikan manfaat bagi mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Diunggah oleh

Irna Septiana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan8 halaman

Asuhan Keluarga Berencana di Puskesmas Jati Raya

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan mengatur jumlah kehamilan melalui berbagai metode kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi modern meningkat secara global, dengan suntik 3 bulan menjadi metode yang populer di Indonesia, meskipun terdapat tantangan dalam pemilihannya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan asuhan kebidanan pada akseptor KB di UPTD Puskesmas Jati Raya, serta memberikan manfaat bagi mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Diunggah oleh

Irna Septiana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu Pelayanan Kesehatan Preventif Dasar dan Utama

bagi wanita. Peningkatan jejaring Pelayanan Keluarga Berencana (KB) yang luas merupakan salah satu
bentuk usaha untuk menurunkan angka kematian ibu yang tinggi akibat [Link] wanita
kesulitan menentukan pilihan kontrasepsi dikarenakan oleh beberapa faktor, misalnya jumlah metode
yang terbatas. Metode-metode kontrasepsi tertentu juga mungkin tidak dapat diterima dikarenakan
Kebijakan Nasional KB, kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh
kontrasepsi tersebut (Kusnadi et al., 2019)

World Health Organization (WHO) menjelaskan peningkatan penggunaan kontrasepsi tertinggi terdapat
di Asia dan Amerika Latin, dan terendah di SubSahara Afrika. Secara global penggunaan kontrasepsi
modern telah meningkat sejak tahun 1990 dari 54% sampai tahun 2015 menjadi 57%. Peningkatan
angka juga terjadi di Afrika dari 23,6% menjadi 28,5%, di Asia 60,9% menjadi 61,8%, sedangkan di
Amerika Latin dan Karibia tetap stabil di angka 66,7% (Karimang et al., 2020).

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2021 menunjukan bahwa angka pravalensi PUS peserta
Kb di indoneisa pada tahun 2021 sebesar 57,4%. Pola pemilihan jenis metode kontrasepsi modern pada
tahun 2021 menunjukan bahwa sebagian besar akspektor memilih menggunakan suntik(56,9%), Pil
(15,8%), Implant (10%), IUD/AKDR (8%), MOW ( 4,2%), Kondom (1,8%), MOP (0,2). Pola ini terjadi setiap
tahun, dimana peserta KB Lebih Banyak memilih metode kontrasepsi jangka pendek disbanding metode
kontrasepsi jangka panjang. Jika dilihat dari efektifitas , kedua jenis alat/obat/cara KB ini (suntik dan pil)
termasuk metode kontrasepsi jangka pendek sehingga tingkat efektifitas dalam pengendalian kehamilan
lebih rendah dibandingkan metode kontrasepsi jangka panjang (Kemenkes RI 2022)

Dalam rangka mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas, pemerintah
menetapkan kebijakan keluarga berencana melalui penyelenggaraan program keluarga berencana
(Kusnadi et al., 2019). Terdapat hubungan yang bermakna antara Keluarga Berencana (KB) dengan naik
turunnya Total Fertility Rate (TFR). Hal ini memiliki arti bahwa semakin tinggi angka pengguna KB di
suatu negara maka semakin rendah pula Total Fertility Rate (TFR) pada negara tersebut (Nurullah, 2021).

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan pengkajian kasus dengan judul “ Laporan
Asuhan Keluarga Berencana Pada Ny “F” Di UPTD Puskesmas Jati Raya Kota Kendari”
B. Tujuan

1. Tujuan umum
Untuk menerapkan asuhan kebidanan pada akspektor KB secara holistic dan mampu melakukan
pendokumentasian terhadap penkajian akseptor kb di UPTD Puskemas Jati Raya
2. Tujuan khusus

a. Mampu melakukan pengumpulan data dasar secara subyektif dan obyektif pada askpektor KB suntik 3
bulan di UPTD puskesmas Jati Raya

b. Menginterpretasikan data klien meliputi diagnose, masalah, dan kebutuhan khusus pada askpektor KB
suntik 3 bulan di UPTD puskesmas Jati Raya
c. Merumuskan diagnosa potensial dan antisipasi yang harus dilakukan bidan pada pada askpektor KB
suntik 3 bulan di UPTD puskesmas Jati Raya

d. Menyusun rencana tindakan pada askpektor KB suntik 3 bulan di UPTD puskesmas Jati Raya

e. Melaksanakan tindakan terhadap kebidanan terkait pada askpektor KB suntik 3 bulan di UPTD
puskesmas Jati Raya

f. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan pada askpektor KB suntik 3 bulan di UPTD


puskesmas Jati Raya

[Link]

1. Bagi mahasiswa
Kajian ini dapat menjadikan sumber informasi dan bahan bacaan untuk meningkatkan pengetahuan
asuhan kebidanan keluarga berencana KB

2. Bagi profesi bidan


Kajian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan panduan bagi tenaga kesehatan bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan serta meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan dalam
melakukan tindakan.

3. Bagi Klien dan Masyarakat


Untuk Klien diharapkan mampu mendapatkan asuhan kebidanan keluarga berencana. Bagi masyarakat
diharapkan mengerti mengenai penggunaan dan dampak dari penggunaan KB suntik 3 bulan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

[Link] Teori Keluarga Berencana

[Link] Keluarga Berencana


Keluarga Berencana (KB) secara umum juga didefiniskan suatu bentuk upaya untuk melakukan
pengaturan banyaknya jumlah kehamilan, sehingga mempunyai dampak positif bagi ibu, bapak dan
keluarga yang bersangkutan sehingga tidak akan terjadi dampak yang tidak diinginkan Yang disebabkan
karena membuat keputusan untuk hamil sehingga ada pengaruh di luar yang diharapkan
(Kusumawardani and Azizah 2021).

Menurut World Health Organisation (WHO) Keluarga Berencana adalah suatu tindakan yang membantu
individu atau pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan
kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kelahiran, mengontrol waktu saat kelahiran dalam
hubungan dengan umur suami dan istri, menentukan jumlah anak dalam keluarga (Mardiani, 2019).
Menurut UU RI Nomor 3 Tahun 2017, Keluarga Berencana (KB) adalah suatu upaya untuk mengatur
kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan,
serta bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Keluarga
Berencana (KB) adalah suatu usaha yang bertujuan untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan
jarak kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi (Lubis 2022).

[Link] Keluarga Berencana


Tujuan dilaksanakan program KB yaitu untuk membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial
ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia
dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (Fauziah, 2020).Tujuan program KB lainnya
yaitu untuk menurunkan angka kelahiran yang bermakna, untuk mencapai tujuan tersebut maka
diadakan kebijakaan yang dikategorikan dalam tiga fase (menjarangkan, menunda, dan menghentikan)
maksud dari kebijakaan tersebut yaitu untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia
muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua (Fauziah, 2020).

3. Pengklasifikasian metode kontrasepsi


Metode kontrasepsi dibagi tiga yaitu berdasarkan kandungan, masa perlindungan, cara modern dan
tradisional sesuai dengan penggolongan di tabel. Metode kontrasepsi yang digunakan dalam program
pemerintah adalah berdasarkan masa perlindungan yaitu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
dan non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (non-MKJP). Pemahaman yang jelas dan transparan
diperlukan untuk klasifikasi Metode Kontrasepsi Modern/Tradisional yang umum digunakan.
Departemen Kesehatan Reproduksi dan Riset dari Organisasi Kesehatan Dunia (The World Health
Organization Department of Reproductive Health and Research) dan United States Agency for
International Development (USAID) mengadakan konsultasi teknis pada bulan Januari 2015 untuk
mengatasi masalah yang berkaitan dengan klasifikasi Metode Kontrasepsi Modern/Tradisional. Dalam
konsultasi tersebut disepakati bahwa Metode Kontrasepsi Modern harus memiliki karakteristik sebagai
berikut: dasar yang kuat dalam biologi reproduksi, protokol yang tepat untuk penggunaan yang benar
dan data yang ada menunjukkan bahwa metode tersebut telah diuji dalam studi yang dirancang dengan
tepat untuk menilai kemanjuran dalam berbagai kondisi. Dengan karakteristik ini, metode kontrasepsi
baru ketika mereka datang di pasar umumnya akan dimasukkan sebagai modern. Semua inovasi
kontrasepsi baru harus diuji terhadap kriteria ini untuk didefinisikan sebagai "modern" (Angsar, Hartiti,
and Junita 2020)

4. Jenis Kontrasepsi
Menurut Maryunani (2016), jenis-jenis alat kontrasepsi, yaitu:

a. Kondom/karet KB

1) Kondom adalah suatu karet tipis yang dipakai menutupi zakar sebelum dimasukkan ke dalam vagina
untuk mencegah terjadinya pembuahan.

2) Cara kerja kondom : mencegah spermatozoa bertemu dengan ovum/sel telur pada waktu senggama
karena sperma tertampung dalam kondom.

3) Keuntungan : Murah, mudah didapat, Mudah dipakai sendiri, Dapat mencegah penyakit kelamin, Efek
samping hampir tidak ada

4) Kerugian : Mengganggu kenyamanan bersenggama, Harus selalu ada persediaan, Dapat sobek bila
tergesa-gesa,Efek lecet, karena kurang licin.

b. Pil KB

1) Pil KB atau oral contraceptives pill merupakan alat kontrasepsi hormonal yang berupa obat dalam
bentuk pil yang dimasukkan melalui mulut (diminum), berisi hormon estrogen atau progesteron.

2) Cara kerja : Menekan ovulasi yang akan mencegah lepasnya sel telur dari ovarium, mengendalikan
lendir mulut rahim sehingga sel sperma tidak dapat masuk ke dalam rahim dan menipiskan lapisan
endometrium.

3) Keuntungan : Menunda kehamilan pertama pada PUS muda, Mencegah anemia defisiensi zat besi.

4) Kerugian: Dapat mengurangi ASI, Harus disiplin

c. Suntik
1) Suntik adalah suatu cara kontrasepsi yang diberikan melalui suntikan. Jenis yang tersedia antara lain :
Depo provera 150 mg, noristerat 200 mg, dan depo Progestin 150 mg.

2) Cara kerja : Mencegah lepasnya sel telur dari indung telur wanita. Mengentalkan lendir mulut rahim,
sehingga sel sperma tidak dapat masuk dalam rahim. Menipiskan endometrium.

3) Keuntungan : Sangat efektif dengan kegegalan kurang dari 1%. Tidak mempengaruhi produksi ASI.

4) Kerugian : Gangguan haid. Pusing, mual kenaikan berat badan.

d. Implant

1) Implant adalah alat kontrasepsi yang ditanam di bawah kulit (susuk KB). Jenis implant yang beredar di
Indonesia antara lain : norplant, implanon, indoplan, sinoplan, dan jadena.

2) Kelebihan : Praktis, efektif. Tidak ada faktor lupa. Tidak menekan produksi ASI. Masa pakai jangka
panjang 5 tahun.

3) Kekurangan : Harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih. Lebih mahal
daripada kontrasepsi jangka pendek. Implant sering mengubah pola haid.

e. AKDR
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya bermacam-macam. Cara
kerja: dengan adanya alat ini, maka terjadinya perubahan pada endometrium yang mengakibatkan
kerusakan pada sperma yang masuk. Tembaga pada AKDR akan menghalangi mobilitas atau pergerakan
sperma, mematikan hasil pembuahan

f. Vasektomi
Vasektomi adalah sterilisasi sukarela pada pria dengan cara memotong atau mengikat kedua saluran
mani (vas deferens) kiri dan kanan sehingga penyaluran spermatozoa terputus.

g. Tubektomi

Tubektomi adalah sterilisasi atau kontrasepsi mantap (permanen) pada wanita yang dilakukan dengan
cara melakukan tindakan pada kedua saluran.

B. Tinjauan Teori KB suntik 3 bulan


Kontrasepsi suntik 3 bulan ialah salah satu contoh kontrasepsi hormonal yang mengandung
depotmedroksiprogesterone asetat (DMPA). Depo-provera ialah 6 alfa medroksiprogesteron yang
penggunaannya bertujuan sebagai alat kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progesteron yang kuat
dan sangat efektif. Suntikan DMPA dengan dosis 150 mg/ml disuntikkan ke dalam tubuh secara
intramuscular (IM) pada umumnya di daerah bokong per 12 minggu sekali. Kontrasepsi suntik 3 bulan
cukup popular di Indonesia. Dengan nama dagang Depoprovera, Depo-provera adalah depot
medroksiprogesterone asetat (DMPA) yang diproduksi oleh Upjohn, Amerika Serikat dimana prosedur
pemberiannya dengan cara disuntikkan secara intramuskular pada otot bokong (muskulus gluteus)
dengan posisi agak dalam karena jika terlalu dangkal, penyerapan obat akan lambat dan tidak bekerja
segera sehingga tidak efektif. Sebelum diberikan, botol obat harus dikocok terlebih dahulu dan diberikan
sekali per 3 bulan. Jika pemberian suntikan dilakukan secara tidak teratur, maka tingkat keefektivan
menurun (Lubis 2022).

1. Efektifitas KB suntik 3 bulan

Selain relatif murah dan sederhana, kontrasepsi suntik juga memiliki tingkat efektivitas yang terbilang
tinggi yakni 0,3 kehamilan per 100 perempuan di setiap tahunnya, dengan syarat penyuntikan dilakukan
sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan (Nurhayati 2021)

2. Efek samping KB suntik 3 bulan

a. Mengalami gangguan haid seperti amenore, spooting, menorarghia, metrorarghia

b. Penambahan berat badan

c. Mual

d. Kunang-kunang

e. Sakit kepala

f. Nervositas

g. Penurunan libido

h. Vagina kering (Susilowati 2019).

3. Kelebihan dan kekurangan KB suntik 3 bulan

a. Kelebihan

1) Efektivitas

2) Tidak mempengaruhi dalam berhubungan seksual

3) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius pada pasien dengan riwayat penyakit
jantung, dan gangguan pembekuan darah

4) Tidak berpengaruh terhadap ASI

5) Minim efek samping

6) Dapat digunakan oleh perempuan diatas usia 35 tahun sampai dengan premenopause

7) Dapat membantu mencegah terjadinya kanker endometrium, kehamilan ektopik, serta penyakit jinak
payudara
8) Menekan angka krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
b. Kekurangan

1) Sering ditemukan adanya gangguan menstruasi, seperti perubahan siklus menstruasi, perubahan
volume menstruasi, munculnya spotting, atau justru tidak mengalami menstruasi sama sekali.

2) Akseptor tidak diperbolehkan untuk melakukan injeksi secara mandiri sehingga sangat bergantung
kepada tenaga kesehatan

3) Kenaikan berat badan

4) Jika digunakan dalam jangka panjang, kepadatan tulang akan sedikit berkurang, libido menurun,
vagina terasa kering, sakit kepala, serta munculnya jerawat (Lubis 2022)

4. Mekanisme kerja suntik 3 bulan

a. Primer : Mencegah ovulasi Kadar Folikel Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH)
menurun serta tidak terjadi lonjakan LH. Pada pemakaian DMPA, endometrium menjadi dangkal dan
atrofis dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Dengan pemakaian jangka lama endometrium bisa
menjadi semakin sedikit sehingga hampir tidak didapatkan jaringan bila dilakukan biopsi, tetapi
perubahan tersebut akan kembali normal dalam waktu 90 hari setelah suntikan DMPA berakhir.

b. Sekunder

1) Lendir servik menjadi kental dan sedikit sehingga merupakan barier terhadap spermatozoa.

2) Membuat endometrium menjadi kurang baik untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi.

3) Mungkin mempengaruhi kecepatan transportasi ovum didalam tuba falopi. (Susilowati 2019)

5. Indikasi dan KontraIndikasi

a. Indikasi
1) Wanita usia reproduktif
2) Wanita yang telah memiliki anak
3) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektifitas tinggi

4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai

5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui. f. Setelah abortus dan keguguran.

6) Memiliki banyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi.

7) Masalah gangguan pembekuan darah

8) Menggunakan obat epilepsy dan tuberculosis.

b. Kekurangan
1) Hamil atau dicurigai hamil

2) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya

3) Wanita yang tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid

4) Penderita kanker payudara atau ada riwayat kanker payudara

5) Penderita diabetes mellitus disertai komplikasi (Susilowati 2019)

Anda mungkin juga menyukai