0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan36 halaman

Panduan Lengkap COVID-19: Gejala & Penularan

Dokumen ini membahas COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, termasuk pengertian, manifestasi klinis, cara penyebaran, kelompok risiko, epidemiologi, dan pencegahan. COVID-19 dapat menular melalui droplet dan kontak dengan permukaan terkontaminasi, dengan gejala bervariasi dari asimtomatik hingga pneumonia berat. Pencegahan meliputi penggunaan alat pelindung diri, vaksinasi, deteksi dini, dan praktik higiene yang baik.

Diunggah oleh

kadekpurwati086
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan36 halaman

Panduan Lengkap COVID-19: Gejala & Penularan

Dokumen ini membahas COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, termasuk pengertian, manifestasi klinis, cara penyebaran, kelompok risiko, epidemiologi, dan pencegahan. COVID-19 dapat menular melalui droplet dan kontak dengan permukaan terkontaminasi, dengan gejala bervariasi dari asimtomatik hingga pneumonia berat. Pencegahan meliputi penggunaan alat pelindung diri, vaksinasi, deteksi dini, dan praktik higiene yang baik.

Diunggah oleh

kadekpurwati086
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PEMBAHASAN

A. Telaah Pustaka

1. COVID-19

a. Pengertian

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang

disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-

CoV-2). SARS-CoV-2 merupakan coronavirus jenis baru yang belum pernah

diidentifikasi sebelumnya pada manusia.1

Coronavirus adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia).

Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV ditransmisikan dari kucing luwak

(civetcats) ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia.19

Coronavirus adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm.

Virus ini utamanya menginfeksi hewan, termasuk di antaranya adalah

kelelawar dan unta. Sebelum terjadinya wabah COVID-19, ada 6 jenis

coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu alpha coronavirus 229E,

alphacoronavirus NL63, betacoronavirus OC43, betacoronavirus HKU1,

Severe Acute Respiratory Illness Coronavirus (SARS-CoV), dan Middle East

Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).2 Virus ini berbentuk bulat

dengan diameter sekitar 125 nm seperti yang digambarkan dalam penelitian

menggunakan cryo-electronmicroscopy.20

10
11

b. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pasien COVID-19 memiliki spektrum yang luas,

mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia

berat, ARDS, sepsis, hingga syok sepsis. Sekitar 80% kasus tergolong ringan

atau sedang, 13,8% mengalami sakit berat, dan sebanyak 6,1% pasien jatuh

ke dalam keadaan kritis. Berapa besar proporsi infeksi asimtomatik belum

diketahui.

Gejala ringan didefinisikan sebagai pasien dengan infeksi akut saluran

napas atas tanpa komplikasi, bisa disertai dengan demam, fatigue, batuk

(dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti

nasal, atau sakit kepala. Pasien tidak membutuhkan suplementasi oksigen.

Pada beberapa kasus pasien juga mengeluhkan diare dan muntah. Pasien

COVID-19 dengan pneumonia berat ditandai dengan demam, ditambah salah

satu dari gejala:

1) Frekuensi pernapasan >30x/menit

2) Distres pernapasan berat, atau

3) Saturasi oksigen 93% tanpa bantuan oksigen.

4) Pada pasien geriatri dapat muncul gejala-gejala yang atipikal.

Sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan

gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, batuk, bersin, dan sesak

napas. Berdasarkan data 55.924 kasus, gejala tersering adalah demam, batuk

kering, dan fatigue. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk produktif,

sesak napas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/artralgia, menggigil,


12

mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti

konjungtiva.2

c. Cara Penyebaran

Corona Virus merupakan Zoonosis (ditularkan antara hewan dan

manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari kucing

luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun,

hewan yang menjadi sumber penularan COVID-19 ini masih belum

diketahui. Masa inkubasi COVID-19 rata-rata 5-6 hari, dengan range antara

1 dan 14 hari namun dapat mencapai 14 hari. Risiko penularan tertinggi

diperoleh di hari-hari pertama penyakit disebabkan oleh konsentrasi virus

pada sekret yang tinggi. Orang yang terinfeksi dapat langsung dapat

menularkan sampai dengan 48 jam sebelum onset gejala (presimptomatik)

dan sampai dengan 14 hari setelah onset gejala. Sebuah studi Du Z et. al, pada

tahun 2020 melaporkan bahwa 12,6% menunjukkan penularan

presimptomatik. Penting untuk mengetahui periode presimptomatik karena

memungkinkan virus menyebar melalui droplet atau kontak dengan benda

yang terkontaminasi. Sebagai tambahan, bahwa terdapat kasus konfirmasi

yang tidak bergejala (asimptomatik), meskipun risiko penularan sangat

rendah akan tetapi masih ada kemungkinan kecil untuk terjadi penularan.

Berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat ini membuktikan

bahwa COVID-19 utamanya ditularkan dari orang yang bergejala

(simptomatik) ke orang lain yang berada jarak dekat melalui droplet. Droplet

merupakan partike berisi air dengan diameter >5-10 µm. Penularan droplet
13

terjadi ketika seseorang berada pada jarak dekat (dalam 1 meter) dengan

seseorang yang memiliki gejala pernapasan (misalnya, batuk atau bersin)

sehingga droplet berisiko mengenai mukosa (mulut dan hidung) atau

konjungtiva (mata).

Penularan juga dapat terjadi melalui benda dan permukaan yang

terkontaminasi droplet di sekitar orang yang terinfeksi. Oleh karena itu,

penularan virus COVID-19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan

orang yang terinfeksi dan kontak tidak langsung dengan permukaan atau

benda yang digunakan pada orang yang terinfeksi (misalnya, stetoskop atau

termometer).

Dalam konteks COVID-19, transmisi melalui udara dapat

dimungkinkan dalam keadaan khusus dimana prosedur atau perawatan

suportif yang menghasilkan aerosol seperti intubasi endotrakeal,

bronkoskopi, suction terbuka, pemberian pengobatan nebulisasi, ventilasi

manual sebelum intubasi, mengubah pasien ke posisi tengkurap, memutus

koneksi ventilator, ventilasi tekanan positif noninvasif, trakeostomi, dan

resusitasi kardiopulmoner. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai

transmisi melalui udara.1

d. Kelompok Risiko Penularan COVID-19

Berdasarkan data yang sudah ada, penyakit komorbid hipertensi dan

diabetes melitus, jenis kelamin laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor

risiko dari infeksi SARS-CoV-2. Distribusi jenis kelamin yang lebih banyak
14

pada laki-laki diduga terkait dengan prevalensi perokok aktif yang lebih

tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes melitus.

Pasien kanker dan penyakit hati kronik lebih rentan terhadap infeksi

SARS-CoV-2. Pasien dengan sirosis atau penyakit hati kronik juga

mengalami penurunan respons imun, sehingga lebih mudah terjangkit

COVID-19, dan dapat mengalami luaran yang lebih buruk. Studi Guan, dkk.

Menemukan bahwa dari 261 pasien COVID-19 yang memiliki komorbid, 10

pasien di antaranya adalah dengan kanker dan 23 pasien dengan hepatitis B.

Infeksi saluran napas akut yang menyerang pasien HIV umumnya memiliki

risiko mortalitas yang lebih besar dibanding pasien yang tidak HIV. Namun,

hingga saat ini belum ada studi yang mengaitkan HIV dengan infeksi SARS-

CoV-2. Belum ada studi yang menghubungkan riwayat penyakit asma dengan

kemungkinan terinfeksi SARS-CoV-2. Namun, studi meta-analisis yang

dilakukan oleh Yang, dkk. menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan

riwayat penyakit sistem respirasi akan cenderung memiliki manifestasi klinis

yang lebih parah.

Tenaga medis merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi

tertular. Di Italia, sekitar 9% kasus COVID-19 adalah tenaga medis. Di

China, lebih dari 3.300 tenaga medis juga terinfeksi, dengan mortalitas

sebesar 0,6%.2

e. Epidemiologi

Sejak kasus pertama di Wuhan, terjadi peningkatan kasus COVID-19 di

China setiap hari dan memuncak diantara akhir Januari hingga awal Februari
15

2020. Awalnya kebanyakan laporan datang dari Hubei dan provinsi di sekitar,

kemudian bertambah hingga ke provinsi-provinsi lain. lain dan seluruh China.

Tanggal 30 Januari 2020, telah terdapat 7.736 kasus terkonfirmasi COVID-

19 di China, dan 86 kasus lain dilaporkan dari berbagai negara seperti Taiwan,

Thailand, Vietnam, Malaysia, Nepal, Sri Lanka, Kamboja, Jepang,

Singapura, Arab Saudi, Korea Selatan, Filipina, India, Australia, Kanada,

Finlandia, Prancis, dan Jerman.

COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020

sejumlah dua kasus. Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang

terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat

mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 8,9%, angka ini merupakan yang

tertinggi di Asia Tenggara. Per 30 Maret 2020, terdapat 693.224 kasus dan

33.106 kematian di seluruh dunia. Eropa dan Amerika Utara telah menjadi

pusat pandemi COVID-19, dengan kasus dan kematian sudah melampaui

China. Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dengan kasus COVID-

19 terbanyak dengan penambahan kasus baru sebanyak 19.332 kasus pada

tanggal 30 Maret 2020 disusul oleh Spanyol dengan 6.549 kasus baru. Italia

memiliki tingkat mortalitas paling tinggi di dunia, yaitu 11,3%.2

f. Pencegahan

COVID-19 merupakan penyakit yang baru ditemukan oleh karena itu

pengetahuan terkait pencegahannya masih terbatas. Kunci pencegahan

meliputi pemutusan rantai penularan dengan isolasi, deteksi dini, dan

melakukan proteksi dasar.


16

1)Vaksin

Salah satu upaya yang sedang dikembangkan adalah pembuatan vaksin

guna membuat imunitas dan mencegah transmisi. Saat ini, sedang

berlangsung 2 uji klinis fase I vaksin COVID-19. Studi pertama dari

National Institute of Health (NIH) menggunakan mRNA-1273 dengan

dosis 25, 100, dan 250 µg.124 Studi kedua berasal dari China

menggunakan adenovirus type 5 vector dengan dosisringan, sedang dan

tinggi.

2) Alat Pelindung Diri

SARS-CoV-2 menular terutama melalui droplet. Alat pelindung diri

(APD) merupakan salah satu metode efektif pencegahan penularan

selama penggunannya rasional. Komponen APD terdiri atas sarung

tangan, masker wajah, kacamata pelindung atau face shield, dan gaun

nonsteril lengan panjang. Alat pelindung diri akan efektif jika didukung

dengan kontrol administratif dan kontrol lingkungan dan teknik.

Penggunaan APD secara rasional dinilai berdasarkan risiko pajanan dan

dinamika transmisi dari patogen. Pada kondisi berinteraksi dengan pasien

tanpa gejala pernapasan, tidak diperlukan APD. Jika pasien memiliki

gejala pernapasan, jaga jarak minimal satu meter dan pasien dipakaikan

masker. Tenaga medis disarankan menggunakan APD lengkap.126 Alat

seperti stetoskop, thermometer, dan spigmomanometer sebaiknya

disediakan khusus untuk satu pasien. Bila akan digunakan untuk pasien

lain, bersihkan dan desinfeksi dengan alcohol 70%. World Health


17

Organization tidak merekomendasikan penggunaan APD pada

masyarakat umum yang tidak ada gejala demam, batuk, atau sesak.

Penggunaan Masker N95 dibandingkan Surgical Mask Berdasarkan

rekomendasi CDC, petugas kesehatan yang merawat pasien yang

terkonfirmasi atau diduga COVID-19 dapat menggunakan masker N95

standar. Masker N95 juga digunakan ketika melakukan prosedur yang

dapat menghasilkan aerosol, misalnya intubasi, ventilasi, resusitasi

jantung-paru, nebulisasi, dan bronkoskopi. Masker N95 dapat menyaring

95% partikel ukuran 300 nm meskipun penyaringan ini masih lebih besar

dibandingkan ukuran SARS-CoV-2 (120-160 nm). Studi retrospektif di

China menemukan tidak ada dari 278 staf divisi infeksi, ICU, dan

respirologi yang tertular infeksi SARS-CoV-2 (rutin memakai N95 dan

cuci tangan).

Sementara itu, terdapat 10 dari 213 staf di departemen bedah yang

tertular SARS-CoV-2 karena di awal wabah dianggap berisiko rendah

dan tidak memakai masker apapun dalam melakukan pelayanan. Saat ini,

tidak ada penelitian yang spesifik meneliti efikasi masker N95

dibandingkan masker bedah untuk perlindungan dari infeksi SARS-CoV-

2. Meta-analisis oleh Offeddu, dkk. melaporkan bahwa masker N95

memberikan proteksi lebih baik terhadap penyakit saluran napas atas dan

bawah. Merokok menurunkan fungsi proteksi epitel saluran napas,

makrofag alveolus, sel dendritik, sel NK, dan sistem imun adaptif.
18

Merokok juga dapat meningkatkan virulensi mikroba dan resistensi

antibiotika.

Suatu meta-analisis dan telaah sistematik menunjukkan bahwa

konsumsi alkohol berhubungan dengan peningkatan risiko pneumonia

[Link] juga berhubungan dengan konsumsi alkohol yang

berat. Konsumsi alkohol dapat menurunkan fungsi neutrofil, limfosit,

silia saluran napas, dan makrofag alveolus. Kurang tidur juga dapat

berdampak terhadap imunitas. Gangguan tidur berhubungan dengan

peningkatan kerentanan terhadap infeksi yang ditandai dengan gangguan

proliferasi mitogenik limfosit, penurunan ekspresi HLA-DR, upregulasi

CD14+, dan variasi sel limfosit T CD4+ dan CD8+.

Salah satu suplemen yang didapatkan bermanfaat yaitu vitamin D.

Suatu meta-analisis dan telaah sistematik menunjukkan bahwa

suplementasi vitamin D dapat secara aman memproteksi terhadap infeksi

saluran napas akut. Efek proteksi tersebut lebih besar pada orang dengan

kadar 25-OH vitamin D kurang dari 25 nmol/L dan yang mengonsumsi

harian atau mingguan tanpa dosis bolus. Suplementasi probiotik juga

dapat memengaruhi respons imun. Suatu review Cochrane mendapatkan

pemberian probiotik lebih baik dari plasebo dalam menurunkan episode

infeksi saluran napas atas akut, durasi episode infeksi, pengunaan

anitbiotika dan absensi sekolah. Namun kualitas bukti masih rendah.

Terdapat penelitian yang memiliki heterogenitas besar, besar sampel

kecil dan kualitas metode kurang baik. Defisiensi seng juga berhubungan
19

dengan penurunan respons imun. Suatu meta-analisis tentang

suplementasi seng pada anak menunjukkan bahwa suplementasi rutin

seng dapat menurunkan kejadian infeksi saluran napas bawah akut.

3) Deteksi dini dan Isolasi

Seluruh individu yang memenuhi kriteria suspek atau pernah

berkontak dengan pasien yang positif COVID-19 harus segera berobat ke

fasilitas kesehatan. WHO juga sudah membuat instrumen penilaian risiko

bagi petugas kesehatan yang menangani pasien COVID-19 sebagai

panduan rekomendasi tindakan lanjutan. Bagi kelompok risiko tinggi,

direkomendasikan pemberhentian seluruh aktivitas yang berhubungan

dengan pasien selama 14 hari, pemeriksaan infeksi SARS-CoV-2 dan

isolasi.

Pada kelompok risiko rendah, dihimbau melaksanakan pemantuan

mandiri setiap harinya terhadap suhu dangejala pernapasan selama 14

hari dan mencari bantuan jika keluhan memberat.126 Pada tingkat

masyarakat, usaha mitigasi meliputi pembatasan berpergian dan kumpul

massa pada acara besar (social distancing).

4) Higiene, Cuci Tangan, dan Disinfeksi

Rekomendasi WHO dalam menghadapi wabah COVID-19 adalah

melakukan proteksi dasar, yang terdiri dari cuci tangan secara rutin

dengan alkohol atau sabun dan air, menjaga jarak dengan seseorang yang

memiliki gejala batuk atau bersin, melakukan etika batuk atau bersin, dan

berobat ketika memiliki keluhan yang sesuai kategori suspek.


20

Rekomendasi jarak yang harus dijaga adalah satu meter. Pasien rawat

inap dengan kecurigaan COVID-19 juga harus diberi jarak minimal satu

meter dari pasien lainnya, diberikan masker bedah, diajarkan etika

batuk/bersin, dan diajarkan cuci tangan. Perilaku cuci tangan harus

diterapkan oleh seluruh petugas kesehatan pada lima waktu, yaitu

sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur, setelah

terpajan cairan tubuh, setelah menyentuh pasien dan setelah menyentuh

lingkungan pasien. Air sering disebut sebagai pelarut universal, namun

mencuci tangan dengan air saja tidak cukup untuk menghilangkan

coronavirus karena virus tersebut merupakan virus RNA dengan

selubung lipid bilayer.

Sabun mampu mengangkat dan mengurai senyawa hidrofobik seperti

lemak atau minyak. Selain menggunakan air dan sabun, etanol 62-71%

dapat mengurangi infektivitas virus.29 Oleh karena itu, membersihkan

tangan dapat dilakukan dengan hand rub berbasis alkohol atau sabun dan

air. Berbasis alkohol lebih dipilih ketika secara kasat mata tangan tidak

kotor sedangkan sabun dipilih ketika tangan tampak kotor. Hindari

menyentuh wajah terutama bagian wajah, hidung atau mulut dengan

permukaan tangan.

Ketika tangan terkontaminasi dengan virus, menyentuh wajah dapat

menjadi portal masuk. Terakhir, pastikan respirasi klinis dan infeksi

bakteri tetapi tidak ada perbedaan bermakna pada infeksi virus atau

influenzalike illness. Radonovich, [Link] menemukan adanya


21

perbedaan bermakna kejadian influenza antara kelompok yang

menggunakan masker N95 dan masker bedah. Metaanalisis Long Y,

[Link] mendapatkan hal yang serupa.2

2. Kecemasan

a. Pengertian

Istilah kecemasan dalam Bahasa Inggris yaitu anxiety yang berasal dari

Bahasa Latin angustus yang memiliki arti kaku, dan ango, anci yang berarti

mencekik. Kecemasan berasal dari kata Latin anxius, yang berarti

penyempitan atau pencekikan. Kecemasan mirip dengan rasa takut tapi

dengan fokus kurang spesifik, sedangkan ketakutan biasanya respon

terhadap beberapa ancaman langsung.

Kecemasan ditandai oleh kekhawatiran tentang bahaya tidak terduga

yang terletak di masa depan. Kecemasan merupakan keadaan emosional

negatif yang ditandai dengan adanya firasat dan somatik ketegangan, seperti

hati berdetak kencang, berkeringat, kesulitan bernapas. kecemasan adalah

kondisi emosi dengan timbulnya rasa tidak nyaman pada diri seseorang, dan

merupakan pengalaman yang samar-samar disertai dengan perasaan yang

tidak berdaya serta tidak menentu yang disebabkan oleh suatu hal yang

belum jelas.21

b. Jenis-Jenis Kecemasan

1) Trait anxiety

Trait anxiety, yaitu adanya rasa khawatir dan terancam yang

menghinggapi diri seseorang terhadap kondisi yang sebenarnya tidak


22

berbahaya. Kecemasan ini disebabkan oleh kepribadian individu yang

memang memiliki potensi cemas dibandingkan dengan individu yang

lainnya.

2) State anxiety

State anxiety merupakan kondisi emosional dan keadaan sementara pada

diri individu dengan adanya perasaan tegang dan khawatir yang

dirasakan secara sadar serta bersifat subjektif. Sedangkan menurut Freud

(dalam Feist & Feist, 2012: 38) membedakan kecemasan dalam tiga

jenis, yaitu :

a) Kecemasan neurosis

Kecemasan neurosis adalah rasa cemas akibat bahaya yang tidak

diketahui. Perasaan itu berada pada ego, tetapi muncul dari

dorongan individu. Kecemasan neurosis bukanlah ketakutan

terhadap insting-insting itu sendiri, namun ketakutan terhadap

hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan.

b) Kecemasan moral

Kecemasan ini berakar dari konflik antara ego dan super ego.

Kecemasan ini dapat muncul karena kegagalan bersikap

konsisten dengan apa yang mereka yakini benar secara moral.

Kecemasan moral merupakan rasa takut terhadap suara hati.

Kecemasan moral juga memiliki dasar dalam realitas, di masa

lampau sang pribadi pernah mendapat hukuman karena

melanggar norma moral dan dapat dihukum kembali.


23

c) Kecemasan realistik

Kecemasan realistik merupakan perasaan yang tidak

menyenangkan dan tidak spesifik yang mencakup kemungkinan

bahaya itu sendiri. Kecemasan realistik merupakan rasa takut

akan adanya bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar.22

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan

Faktor-faktor yang menimbulkan kecemasan, seperti pengetahuan

yang dimiliki seseorang mengenai situasi yang sedang dirasakannya,

apakah situasi tersebut mengancam atau tidak memberikan ancaman, serta

adanya pengetahuan mengenai kemampuan diri untuk mengendalikan

dirinya (seperti keadaan emosi serta fokus kepermasalahannya).

Kemudian Adler dan Rodman (dalam M. Nur Ghufron & Rini Risnawita,

S, 2014: 145-146) menyatakan terdapat dua faktor yang dapat

menimbulkan kecemasan, yaitu :

1) Pengalaman negatif pada masa lalu

Sebab utama dari timbulnya rasa cemas kembali pada masa kanak-

kanak, yaitu timbulnya rasa tidak menyenangkan mengenai peristiwa

yang dapat terulang lagi pada masa mendatang, apabila individu

menghadapi situasi yang sama dan juga menimbulkan

ketidaknyamanan, seperti pengalaman pernah gagal dalam mengikuti

tes.

2) Pikiran yang tidak rasional

Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu :


24

a) Kegagalan ketastropik, yaitu adanya asumsi dari individu bahwa

sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Individu

mengalami kecemasan serta perasaan ketidakmampuan dan

ketidaksanggupan dalam mengatasi permasalahannya.

b) Kesempurnaan, individu mengharapkan kepada dirinya untuk

berperilaku sempurna dan tidak memiliki cacat. Individu

menjadikan ukuran kesempurnaan sebagai sebuah target dan

sumber yang dapat memberikan inspirasi.

c) Persetujuan

d) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan,

ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman.21

d. Tingkatan Kecemasan

Kecemasan (Anxiety) diantaranya :21

1) Ansietas ringan

Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari,

ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan

lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan

menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

2) Ansietas sedang

Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan

mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi

individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian yang


25

selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan

untuk melakukannya.

3) Ansietas berat

Sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung

berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang

hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.

Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area

lain.

4) Tingkat panik

Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Hal yang

rinci terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali,

individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu

walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan

menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan

untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan

kehilangan pemikiran yang rasional.

e. Upaya Untuk Mengurangi Kecemasan

1) Pembelaan

Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk

akal bagi tindakan yang sesungguhnya tidak masuk akal, dinamakan

pembelaan. Pembelaan ini tidak dimaksudkan agar tindakan yang tidak

masuk akal itu dijadikan masuk akal, akan tetapi membelanya, sehingga

terlihat masuk akal. Pembelaan ini tidak dimaksudkan untuk membujuk


26

atau membohongi orang lain, akan tetapi membujuk dirinya sendiri,

supaya tindakan yang tidak bisa diterima itu masih tetap dalam batas-

batas yang diingini oleh dirinya.

2) Proyeksi

Proyeksi adalah menimpakan sesuatu yang terasa dalam dirinya

kepada orang lain, terutama tindakan, fikiran atau dorongan-dorongan

yang tidak masuk akal sehingga dapat diterima dan kelihatannya masuk

akal.

3) Identifikasi

Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut

merasakan sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang

lain. Apabila ia melihat orang berhasil dalam usahanya ia gembira

seolah-olah ia yang sukses dan apabila ia melihat orang kecewa ia juga

ikut merasa sedih.

4) Hilang hubungan (disasosiasi)21

f. Alat Ukur Kecemasan

Kecemasan seseorang dapat diukur dengan menggunakan instrumen

Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), Analog anxiety Scale, Zung self

Rating Anxiety Scale (ZSAS), dan Trait Anxiety Inventory Form Z-I (STAI

Form Z-I).

Zung Self Rating Anxiety Scale adalah penilaian kecemasan pada pasien

dewasa yang dikembangkan berdasarkan gejala kecemasan dalam Diagnostic

and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM II). Terdapat 20


27

pertanyaan, dimana setiap pertanyaan dinilai 1-4 (1: tidak pernah; 2: kadang-

kadang; 3: sebagian waktu; 4: Hampir setiap waktu). Terdapat 15 pertanyaan

ke arah peningkatan dan 5 buah pertanyaan ke arah penurunan kecemasan.23

Rentang penilaian 20-80, dengan pengelompokkan antara lain:

Skor 20-44: Normal/ Tidak Cemas

Skor 45-59: Kecemasan Ringan

Skor 60-74: Kecemasan Sedang

Skor 75-80: Kecemasan Berat

3. Pertumbuhan Balita

a. Konsep Pertumbuhan Balita

Balita adalah individu atau sekelompok individu dari suatu penduduk yang

berada dalam rentan usia tertentu. Balita merupakan anak usia 0-59 bulan,

sedangkan anak balita adalah anak usia 12-59 bulan. Pada periode ini, terjadi

percepatan pertumbuhan yang sangat pesat sehingga diperlukan asupan zat gizi

yang optimal dari sisi kualitas dan kuantitas. Kelompok balita berada dalam

proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, artinya memiliki

pola pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan

motorik kasar), kecerdasan (daya fikir, daya cipta, kecerdasan emosi,

kecerdasan spiritual), sosial-emosional (sikap dan perilaku serta agama),

bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan

perkembangan yang dilalui oleh anak.24

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya jumlah dan besarnya sel

tubuh. Dapat dilihat dari kenaikan tinggi badan, berat badan, serta lingkar
28

kepala.25 Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam

besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang

bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm,

meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensu kalsium dan

nitrogen tubuh). 26

b. Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Anak

1) Masa Pranatal

a) Masa Mudigah/embrio : Konsepsi-8 minggu

b) Masa Janin/fetus : 9 minggu-lahir

2) Masa Bayi : Usia 0-1 tahun

a) Masa Neonatal : Usia 0-28 hari

(1) Neonatal dini : 0-7 hari

(2) Neonatal lanjut : 8-28 hari

b) Masa Pasca Neonatal : 29 hari-1 tahun

3) Masa Pra-Sekolah : usia 1-6 tahun

4) Masa Sekolah : usia 6- 18 tahun

a) Masa Pra-Remaja : usia 6-10 tahun

b) Masa Remaja : Remaja dini dan remaja lanjut.26

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

1) Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan dasar tercapainya hasil akhir proses tumbuh

kembang anak. Genetik merupakan sifat bawaan anak, yaitu potensi yang

memang menjadi ciri khas biasanya diwariskan dari orang tuanya.


29

Hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang

diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun

psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh

sperma) sebagai pewarisan dari orangtua melalui gen-gen. Hereditas ialah

genotif yang diwariskan dari induk pada keturunannya dan akan membuat

keturunan memiliki karakter seperti induknya.

Definisi hereditas sebagai transmisi genetik dari orang tua pada

keturunannya merupakan penyederhanaan yang berlebih karena

sesungguhnya yang diwariskan oleh anak dari orangtuanya adalah

satu set alel dari masing-masing orang tua serta mitokondria yang

terletak di luar nukleus (inti sel), kode genetik inilah yang

memproduksi protein kemudian berinteraksi dengan lingkungan untuk

membentuk karakter fenotif. Istilah hereditas akan mengenalkan

terminologi Gen dan Alel sebagai ekspresi alternatif yang terkait sifat.

Setiap individu memiliki sepasang alel yang khas dan terkait dengan

tetuanya. Pasangan alel ini dinamakan genotif apabila individu memiliki

pasangan alel yang sama maka individu tersebut bergenotipe homozigot dan

jika berbeda maka disebut heterozigot.27

2) Faktor Lingkungan

Lingkungan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak untuk

tumbuh kembang sejak dalam kandungan sampai dewasa.

a) Faktor Biologis

(1) Jenis Kelamin


30

Pertumbuhan fisik dan motorik berbeda antara laki-laki dan

[Link] penelitian hubungan gender dengan kemampuan

motorik yang dilakukan pada anak prasekolah menunjukkan bahwa

pada anak perempuan memiliki kinerja yang lebih tinggi

dibandingkan dengan anak laki-laki dalam keterampilan motorik

halus, sedangkan pada anak laki-laki secara signifikan lebih tinggi

dibandingkan dengan anak perempuan dalam keterampilan

motorik kasar.

(2) Umur

Satu tahun pertama masa balita merupakan umur sangat

rentan terhadap penyakit dan sering terjadi kurang gizi serta

merupakan dasar pembentukan kepribadian anak. Sehingga, pada

masa balita sangat perlu perhatian khusus.

(3) Gizi

Gizi seimbang merupakan suatu faktor yang sangat penting

bagi pertumbuhan dan perkembangan. Sehingga diperlukannya

zat makanan yang adekuat.

(4) Perawatan kesehatan

Perawatan kesehatan bukan hanya dilaksanakan pada saat

anak sakit. Namun, mencakup pemeriksaan kesehatan, imunisasi,

skrining dan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK), stimulasi

dini, termasuk pemantauan pertumbuhan dengan menimbang

anak secara rutin setiap bulan.


31

(5) Kerentanan terhadap penyakit

Balita sangat rentan terhadap penyakit. Sehingga perlunya

dilakukan upaya pencegahan, antara lain dengan memberikan gizi

yang baik termasuk ASI dan imunisasi. Dengan demikian,

diharapkan dapat terhindar dari penyakit yang sering

menyebabkan cacat dan kematian.

b) Faktor lingkungan fisik

Sanitasi lingkungan mempunyai peran yang cukup dominan

terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Kebersihan

lingkungan memegang peranan penting pada timbulnya penyakit.

Kebersihan yang kurang dapat menyebabkan anak sering sakit,

misalnya diare, demam tifoid, hepatitis, malaria, demam berdarah dan

sebagainya. Demikian juga, lingkungan dengan polusi udara yang

berasal dari pabrik, asap kendaraan dapat berpengaruh terhadap

tingginya angka kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Tumbuh kembang anak yang sering menderita sakit akan terganggu.

c) Faktor Psikososial

Faktor psikososial yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang

anak yaitu stimulasi. Stimulasi dari lingkungan hal yang paling penting

untuk tumbuh kembang anak. Lingkungan yang kondusif akan

mendorong perkembangan fisik dan mental yang baik. Anak yang

mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat

berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang/tidak mendapat


32

stimulasi. Stimulasi pada anak erat kaitannya dengan pola pengasuhan

yang diberikan oleh orang tua.

d) Faktor Keluarga

(1) Pekerjaan Orang Tua

Orang tua yang bekerja akan menambah pendapatan keluarga.

Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh

kembang karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan

dasar anak. Kondisi sosial ekonomi yang baik akan menunjang

terpenuhinya kebutuhan gizi anak. Orang tua yang bekerja akan

mengurangi waktu untuk berperan dalam perkembangannya.

Terutama ibu yang mempunyai tugas utama untuk merawat anaknya.

Ibu yang bekerja akan menyerahkan pengasuhan anaknya pada

orang lain yang belum tentu mempunyai pengetahuan mengenai

pengasuhan anak yang benar, sehingga dapat mempengaruhi tumbuh

kembang anak.

(2) Pendidikan ayah/ibu

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang

penting untuk tumbuh kembang anak. Pendidikan yang baik, dapat

menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara

pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anak,

mendidiknya dan sebagainya.


33

(3) Jumlah saudara

Keluarga yang mempunyai jumlah anak yang banyak dapat

menyebabkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang

diterima anak, apabila kalau jarak kelahiran terlalu dekat. Pada

keluarga dengan sosial ekonomi kurang, jumlah anak banyak dapat

menyebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak,

selain kebutuhan dasar anak juga tidak terpenuhi.28

e. Pemantauan Pertumbuhan Balita

Pertumbuhan dapat diamati dengan pertambahan ukuran

antropometrik dan gejala lain pada rambut, otot, kulit serta jaringan

lemaknya, darah dan lain-lain. Pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan

dengan ukuran antropometri, gejala/tanda pemeriksaan fisik, gejala/tanda

pada pemeriksaan laboratorium, gejala/tanda pada pemeriksaan

radiologi/imaging.29

Pertumbuhan lebih banyak dinilai pada pemeriksaan antropometrik

secara berkala. Pemantauan antropometrik ini terutama untuk memantau

keadaan gizi yang merupakan bagian dari pertumbuhan anak.28

Pemantauan pertumbuhan adalah serangkaian kegiatan yang terdiri dari :

1) Penilaian pertumbuhan anak secara teratur melalui penimbangan berat

badan setiap bulan, pengisian KMS, menentukan status pertumbuhan

berdasarkan hasil penimbangan; dan

2) Menindaklanjuti setiap kasus gangguan pertumbuhan. Tindak lanjut

hasil pemantauan pertumbuhan berupa konseling, PMT, dan rujukan.30


34

f. Kartu Menuju Sehat (KMS) bagi Balita

Perubahan berat badan merupakan indikator yang sangat sensitif untuk

memantau pertumbuhan anak. Bila kenaikan berat badan anak lebih rendah dari

yang seharusnya, pertumbuhan anak terganggu dan anak berisiko akan

mengalami kekurangan gizi. KMS adalah kartu yang memuat kurva

pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan

menurut umur (BB/U). Dengan KMS, gangguan pertumbuhan atau risiko

kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan

pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat.30

KMS adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan

untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak, oleh karena itu memantau

pertumbuhan anak dapat dilakukan bila setiap bulan ditimbang ke Posyandu

dan dicatat di KMS, yang dibaca dengan menghubungkan titik antara

penimbangan bulan lalu dan bulan ini dengan sebuah garis. Rangkaian titik

tersebut akan membentuk grafik pertumbuhan.30

Status pertumbuhan anak dapat diketahui dengan 2 cara, yaitu dengan

menilai garis pertumbuhannya, atau menghitung kenaikan berat badan anak

dibandingkan dengan kenaikan berat badan minimum (KBM). Kesimpulan

dari penentuan status pertumbuhan anak adalah sebagai berikut:

1) Naik (N) : grafik berat badan memotong garis pertumbuhan di

atasnya atau mengikuti garis pertumbuhannya dan

kenaikan berat badan lebih besar dari KBM;


35

2) Tidak Naik(T) : grafik berat badan memotong garis pertumbuhan di

bawahnya, mendatar, atau menurun dan kenaikan berat

badan minimal lebih kecil dari KBM.24

4. Posyandu

a. Pengertian

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber

Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk

dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan,

guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada

masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat

penurunan angka kematian ibu dan bayi. UKBM adalah wahana pemberdayaan

masyarakat, yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh,

dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari petugas

Puskesmas, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya.31 Manfaat

penyelenggaraan posyandu yaitu : 1) untuk mendukung perbaikan perilaku; 2)

mendukung perilaku hidup bersih dan sehat; 3) mencegah penyakit yang

berbasis lingkungan dan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; 4)

mendukung pelayanan Keluarga Berencana; 5) mendukung pemberdayaan

keluarga dan masyarakat dalam penganekaragaman pangan melalui

pemanfaatan pekarangan.31

b. Jenjang Posyandu

Jenjang Posyandu dibagi menjadi 4 tingkatan berdasarkan tingkat

perkembangan Posyandu sebagai berikut31 :


36

1) Posyandu Pratama

Posyandu Pratama adalah Posyandu yang belum mantap, yang

ditandai oleh kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin

serta jumlah kader sangat terbatas yakni kurang dari 5 (lima) orang.

2) Posyandu Madya

Posyandu Madya adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan

kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan ratarata jumlah kader

sebanyak lima orang atau lebih, tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya

masih rendah, yaitu kurang dari 50%.

3) Posyandu Purnama

Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat

melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan ratarata jumlah

kader sebanyak lima orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya

lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta

telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh

masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK

di wilayah kerja Posyandu.

4) Posyandu Mandiri

Posyandu Mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan

kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan ratarata jumlah kader

sebanyak lima orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih

dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah

memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh


37

masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK yang bertempat tinggal

di wilayah kerja Posyandu.

c. Kegiatan Bayi Dan Balita Di Posyandu

Pelayanan Posyandu untuk bayi dan anak balita harus dilaksanakan secara

menyenangkan dan memacu kreativitas tumbuh kembangnya. Jika ruang

pelayanan memadai, pada waktu menunggu giliran pelayanan, anak balita

sebaiknya tidak digendong melainkan dilepas bermain sesama balita dengan

pengawasan orangtua di bawah bimbingan kader. Untuk itu perlu disediakan

sarana permainan yang sesuai dengan umur balita.31

Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup:

1) Penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan/tinggi badan

Pemantauan pertumbuhan balita dilakukan oleh kader posyandu dengan

melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan/tinggi

badan.

2) Penentuan status pertumbuhan

Hasil penimbangan berat badan yang dilakukan akan dicatat pada KMS

(kartu menuju sehat) yang akan menilai status gizi dan mendeteksi secara dini

jika terjadi gangguan pertumbuhan. KMS adalah kartu yang memuat kurva

pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri BB/U.32

3) Penyuluhan dan konseling

Penyuluhan gizi di posyandu dilakukan oleh kader kepada ibu/keluarga

balita. Penyuluhan dilakukan melalui pendekatan perorangan, sehingga bukan

merupakan penyuluhan kelompok namun kader dapat melakukan penyuluhan


38

kelompok pada hari Posyandu atau di luar hari Posyandu.

4) Jika ada tenaga kesehatan puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan,

imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan,

segera dirujuk ke puskesmas.

Pelayanan rutin balita sehat mengikuti kebijakan Pemerintah yang

berlaku di wilayah kerja dan mempertimbangkan transmisi lokal virus Corona,

mobilitas penduduk, serta kemampuan/kapasitas penyedia layanan di tingkat

Puskesmas dan UKBM.6

Tabel 2. Pelayanan Kesehatan Balita Masa Pandemi COVID-19

Jenis Pelayanan Kebijakan PSBB (+) Kebijakan PSBB (–) atau


atau Kasus COVID-19 Kasus COVID-19 (-)
(+)
Pemantauan Menunda kegiatan Pemerintah Daerah
pertumbuhan (BB, yang mengumpulkan massa, menentukan bisa/tidaknya
PB/TB, LK) termasuk pelayanan balita di pelayanan Posyandu
Pemantauan Posyandu. • Jika ditentukan bisa maka
perkembangan • Pemantauan pertumbuhan dan diterapkan
(Buku perkembangan persyaratan ketat,pencegahan
KIA/KPSP/ dilakukan secara mandiri di rumah infeksi dan
instrumen baku dengan Buku KIA. physical distancing
lainnya) • Pelayanan imunisasi, • Jika tidak bisa maka
Imunisasi dasar vitamin A di fasilitas pelayanan balita seperti
lengkap dan kesehatan dengan janji pada wilayah yang
lanjutan temu. menerapkan kebijakan
Vitamin A • Pemeriksaan khusus PSBB.
(EID/Viral Load/HBsAg)
Triple Eliminasi terintegrasi dengan
(HIV, janji temu pelayanan
Hepatitis, Sifilis) imunisasi.
Obat Pencegahan • Pemberian obat
Masal Cacingan pencegahan massal
cacingan ditunda.
• Pemantauan balita berisiko
dengan tele konsultasi/janji temu/
kunjungan rumah.

d. Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Ibu Balita

Faktor yang memengaruhi tindakan masyarakat dalam memanfaatkan

posyandu, diantaranya faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan,


39

sosial ekonomi, keyakinan, nilai-nilai, sikap mental, dan sebagainya), faktor

pendukung (lingkungan fisik, tersedia atau tidak fasilitas atau sarana kesehatan),

dan faktor penguat (sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain).33

1) Wilayah Posyandu

Wilayah tempat tinggal merupakan bagian dalam jaringan sosial yang

melibatkan keluarga, teman sebaya, dan lain sebagainya. Hubungan sosial

ini sangat berpengaruh terhadap perilaku, sehingga dalam mempromosikan

lingkungan yang mendukung mampu mengatasi masalah sosial.34 Presentasi

ibu balita yang tidak aktif ke posyandu lebih banyak pada ibu balita yang

bertempat tinggal jauh dari posyandu dibandingkan dengan ibu balita yang

bertempat tinggal dekat dengan posyandu.35

2) Umur Ibu Balita

Istilah usia diartikan dengan lama waktu hidup terhitung sejak dilahirkan.36

Ibu yang relatif muda cenderung kurang memiliki pengetahuan dan

pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh

dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orang tuanya terdahulu.

Sebaliknya pada ibu yang lebih berumur cenderung akan menerima dengan

senang hati tugasnya dan sebagai ibu yang lebih berumur cenderung akan

menerima dengan senang hati tugasnya sebagai ibu sehingga akan

mempengaruhi pula terhadap kualitas dan kuantitas pengasuhan anak.37

Dalam penelitian yang berjudul “Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan

dengan Kunjungan Bayi dan Balita ke Posyandu di Desa Wonorejo,

Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri menyatakan bahwa terdapat hubungan


40

antara usia ibu dengan kunjungan bayi dan balita ke posyandu di Desa

Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri dengan tingkat signifikan

(α = 0,05) didapatkan p= 0,043; POR=2,911 95% CI: 1,126-7,527

menunjukkan p= 0,043 kurang dari tingkat signifikasi α =0,05.38

3) Pendapatan Keluarga

Tingkat ekonomi sebuah keluarga ditentukan dengan besar pendapatan dan

pengeluaran yang dilakukan oleh sebuah keluarga. Keluarga yang tidak

kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dikatakan tingkat ekonomi tinggi

sedangkan keluarga yang masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya

dikatakan tingkat ekonomi masih kurang.39 Taraf pendapatan yang

diperoleh seseorang juga akan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan

kesehatan, jika seseorang memiliki pendapatan yang tinggi akan lebih

mudah memperoleh pelayanan kesehatan namun sebaliknya jika seseorang

tidak mempunyai pendapatan yang baik maka layanan kesehatan sulit ia

dapatkan.40

4) Pendidikan Ibu Balita

Pendidikan merupakan usaha untuk mensejahterakan masyarakat agar

mampu berbudaya sesuai standar yang ada di masyarakat. Sistem

Pendidikan Nasional, pendidikan adalah upaya untuk melakukan

pengembangan potensi yang terdapat dalam seorang individu dan mengasah

kemampuan dalam melaksanakan kegiatan belajar sehingga menciptakan

pribadi yang berakhlak dan memiliki kecerdasan tinggi.41 Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ibu balita dengan pengetahuan cukup memiliki


41

frekuensi penimbangan balita yang cukup sebesar 75,7%, dan memiliki

frekuensi penimbangan balita yang kurang sebesar 24,3%. Sedangkan ibu

balita dengan pengetahuan kurang memiliki frekuensi penimbangan balita

yang kurang sebesar 58,8%, dan memiliki frekuensi penimbangan balita

yang cukup sebesar 41,2%.42

5) Status Bekerja Ibu Balita

Pekerjaan memilki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta

berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi da berkaitan dengan

faktor lain seperti kesehatan. Dengan adanya pekerjaan tetap dalam suatu

keluarga, maka keluarga tersebut relatif terjamin pendapatannya setiap

bulan. Seseorang yang mempunyai pekerjaan dengan waktu yang cukup

padat akan mempengaruhi ketidakhadiran dalam pelaksanaan Posyandu.

Orang tua yang bekerja akan tidak mempunyai waktu luang, sehingga dapat

disimpulkan bahwa semakin tinggi aktivitas pekerjaan orang tua semakin

sulit datang ke Posyandu.43 Penelitian tentang “Hubungan Status Pekerjaan

dengan Keaktifan Kunjungan Ibu dalam Posyandu di Posyandu X

Surabaya” menunjukan hasil terdapat hubungan antara pekerjaan dengan

keaktifan kunjungan ibu dari balita dalam kegiatan posyandu di Posyandu

X Surabaya dengan hasil uji statistik menunjukkan p value = 0,000 dan r =

0,465.44

6) Jarak Tempuh dari Rumah ke Posyandu

Posyandu yang terjangkau semua pengguna dengan jalan kaki dapat

mendukung posyandu berjalan dengan baik sehingga mewujudkan


42

pelayanan gizi menjadi efektif. Penelitian menunjukan terdapat hubungan

antara jarak rumah dan peran kader posyandu dengan partisipasi kunjungan

balita di Desa Patalan Jetis Bantul dengan ditunjukkan keeratan

hubungannya sedang pada jarak rumah dan rendah pada peran kader

posyandu.45

7) Kehadiran Petugas Kesehatan

Pada setiap posyandu yang berjalan lancar dan teratur selalu ada tokoh motor

penggerak posyandu secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan

puskesmas dan bidan desa merupakan motivasi yang penting bagi kader dan

masyarakat. Peran aktif petugas kesehatan dan tokoh masyarakat di butuhkan

untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan posyandu.

Hasil penelitian tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keaktifan

Ibu Balita dalam Kegiatan Posyandu Dusun Mlangi Kabupaten Sleman

menunjukan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara peran kader

dengan keaktifan ibu balita dalam kegiatan Posyandu di Posyandu Dusun

Mlangi Kabupaten Sleman.46

8) Sikap Mental (Kecemasan)

Kecemasan merupakan keadaan emosional negatif yang ditandai dengan

adanya firasat dan somatik ketegangan, seperti hati berdetak kencang,

berkeringat, kesulitan bernapas. kecemasan adalah kondisi emosi dengan

timbulnya rasa tidak nyaman pada diri seseorang, dan merupakan pengalaman

yang samar-samar disertai dengan perasaan yang tidak berdaya serta tidak

menentu yang disebabkan oleh suatu hal yang belum jelas.21 Penelitian
43

tentang “Hubungan Kecemasan dan Kepatuhan dalam Pelaksanaan Protokol

Kesehatan di Posyandu Malangjiwan Colomadu” menyatakan bahwa

terdapat hubungan yang siginifikan antara tingkat kecemasan dengan

kepatuhan kunjungan posyandu (p. value = 0.002< 0.05), semakin merasa

terancamnya seseorang saat berada pada suatu kondisi tertentu; maka

seseorang tersebut akan mencari jalan keluar agar bisa merasa aman, terlebih

disaat masa pandemi. Rasa cemas akan dirasakan oleh semua orang, terlebih

perasaan cemas terinfeksi COVID-19.47


44

B. Kerangka Teori
Faktor Predisposisi :
 Umur
 Pendidikan
 Pekerjaan
 Pengetahuan
 Ras/suku
 Status ekonomi
 Sikap mental
(kecemasan)

Faktor Pendukung :
 Jarak tempuh
posyandu
 Persepsi individu Status Kunjungan ke
tentang pelayanan Posyandu
kesehatan
 Sumber Daya
Manusia
 Kelengkapan
posyandu

Faktor Pendorong :
 Dukungan
petugas kesehatan
 Tokoh masyarakat

Gambar 1. Kerangka Teori Modifikasi Zung Self-Rating Anxiety Scale dalam Ian
mcdowell, (2006),Teori Andersen (1995), Teori Lawrence Green (1980) dalam
Notoatmodjo (2005), dan Sudarti (2008)
45

C. Peta Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen

Tingkat Kecemasan Ibu


Balita : Status Kunjungan ke
1. Kecemasan berat Posyandu :
2. Kecemasan sedang 1. Tidak berkunjung
3. Kecemasan ringan 2. Berkunjung
4. Normal/Tidak cemas
Gambar 2. Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Ha : Ada hubungan antara tingkat kecemasan ibu balita di Masa

Pandemi COVID-19 dengan status kunjungan ke Posyandu di

Dusun Jati Desa Wonokromo Wilayah Kerja Puskesmas Pleret

Tahun 2021.

Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat kecemasan ibu balita di Masa

Pandemi COVID-19 dengan status kunjungan ke Posyandu di

Dusun Jati Desa Wonokromo Wilayah Kerja Puskesmas Pleret

Tahun 2021.

Anda mungkin juga menyukai