2
mengajarkan tentang bagaimana menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
dalam lingkungan sekolah. Sikap yang dimiliki oleh sekolah terhadap
kesehatan dalam pemeliharaan kesehatan terlihat belum secara baik
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini dikarenakan banyak nya
siswa yang tidak tahu dan tidak peduli tentang cuci tangan, masih terdapat
siswa yang merokok di lingkungan sekolah pada waktu istirahat, membuang
sampah tidak pada tempatnya, kurangnya kesadaran untuk membersihkan
jamban yang tersedia, dalam pengamatan kurangnya kesadaran dalam
menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Demikian halnya dengan
fasilitas atau sarana prasarana sekolah yang erat kaitannya dengan PHBS
siswa (Rorimpandei, 2021).
Solulusi yang tepat dalam upaya promosi kesehatan pada anak sekolah
yaitu perlu adanya strategi yang menarik agar anak mampu secara mudah
menerima informasi kesehatan salah satunya adalah dengan metode Papan
Sehat (Pahat). Dengan demikian tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku anak
usia sekolah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat akan bertambah dan
mudah dipahami (Proverawati, 2021).
Upaya mempromosikan kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa
media atau cara dalam memberikan informasi salah satunya yaitu dengan cara
memberikan ceramah interaktif, hal ini cukup efektif bila disertai dengan
demonstrasi. Selain itu pemberian informasi bisa menggunakan media
permainan maupun media seperti leaflet, poster maupun media audio visual (
Azis, dkk., 2020).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kartini dkk, (2020) bahwa
inovasi papa sehat secara umum telah memberikan dampak positif dalam
3
meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, warga sekolah, terutama peserta
didik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fivi dkk, (2017)
menunjukan bahwa lebih dari dari sebagian siswa belum melaksanakan
Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu 54,7% pada SD
Negeri 001 Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun Tahun 2017.
Hal yang sama juga diungkapkan Korong, dkk, (2019) bahwa
berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, masih terdapat siswa yang
berpengetahuan rendah tentang indikator PHBS di sekolah, terutama pada
penggunaan jamban bersih dan sehat. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa
siswa masih ada yang belum mau bersikap menerima dan tidak melaksanakan
jajan sehat di kantin sekolah.
Sedangkan menurut penelitian Prasetyanti & Yanuaringsih, (2019)
terjadi peningkatan perilaku dalam PHBS pada siswa setelah dilakukan
promosi kesehatan pencegahan penyakit yang di akibatkan oleh tidak
melaksanakan PHBS. Upaya peningkatkan dan pencegahan penyakit maka
perlu diberikan edukasi lebih mengenai PHBS.
Hasil penelitian Dewi, (2022) didapatkan nilai rata-rata sikap sebelum
dilakukan pendidikan kesehatan PHBS yaitu 49,13% sedangkan nilai ratarata
sesudah dilakukan pendidikan kesehatan yaitu 53,89%. Hasil uji diperoleh p
value = 0.000 < 0.05. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap
peningkatan sikap PHBS pada siswa sekolah dasar.
Menurut penelitian Alamar (2022) menunjukan rata-rata penerapan
PHBS di sekolah masih kurang atau hampir sebagian di terapkan, sebelum
dilakukan intervensi pengetahuan PHBS rata-rata hamper sebagian
4
berpengetahuan rendah, sebelum dilakukan intervensi PHBS rata-rata sikap
sebagian kecil bersikap negatif. Sedangkan, penelitian setelah dilakuan
intervensi penerapan PHBS di SDN 72 Kota Bengkulu rata-rata penerapan
baik atau hampir seluru, setelah dilakukan intervensi pengetahuan PHBS rata-
rata hamper seluruh berkategori tinggi, setelah dilakukan intervensi sikap
PHBS rata-rata hamper seruluh besikap positif. Penelitian ini juga
menunjukkan adanya pengaruh peningkatan skor pengetahuan, sikap dan
penerapan siswa/i yang diberikan media Pahat (papan sehat) dengan p value
= 0,000 < dari 0,05.
Menurut WHO (World Health Organization), menyatakan bahwa
secara global penyakit yang berkaitan dengan PHBS telah menginfeksi lebih
dari 2 miliar orang di dunia dan 880 juta diantaranya terjadi pada anak-anak.
Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO pada tahun 2020, terdapat 6
wilayah endemik di dunia yang menjadi prioritas untuk pengobatan. Asia
Tenggara menempati prioritas pertama dengan persentase 42%, Afrika
menempati prioritas kedua dengan persentase 32%, Wilayah Pasific Barat
menempati prioritas ketiga dengan persentase 11%, wilayah Mediterania
Timur menempati prioritas keempat dengan persentase 9%, Amerika
menempati proritas kelima dengan persentase 5%, dan Eropa menempati
prioritas keenam dengan persentase 1%. (WHO, 2020).
Di Indonesia pemerintah Persentase Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) sebelum masa pandemic Covid-19 masih tergolong rendah.
Berdasarkan dari data Riskesdas Tahun 2017 Persentase penerapan PHBS di
Indonesia sebesar 60,89 %. Sedangkan pada tahun 2018 persentase penerapan
PHBS di Indonesia meningkat sebesar 70,62%. (Kemenkes RI, 2024).