0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Strategi Meningkatkan PHBS di Sekolah

Dokumen ini membahas pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah, yang masih rendah di kalangan siswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan dan penggunaan media menarik seperti Papan Sehat dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa terhadap PHBS. WHO mencatat bahwa penyakit terkait PHBS menginfeksi lebih dari 2 miliar orang secara global, dengan Indonesia menunjukkan peningkatan penerapan PHBS dari 60,89% pada 2017 menjadi 70,62% pada 2018.

Diunggah oleh

Salsa grafika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Strategi Meningkatkan PHBS di Sekolah

Dokumen ini membahas pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah, yang masih rendah di kalangan siswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan dan penggunaan media menarik seperti Papan Sehat dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa terhadap PHBS. WHO mencatat bahwa penyakit terkait PHBS menginfeksi lebih dari 2 miliar orang secara global, dengan Indonesia menunjukkan peningkatan penerapan PHBS dari 60,89% pada 2017 menjadi 70,62% pada 2018.

Diunggah oleh

Salsa grafika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2

mengajarkan tentang bagaimana menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat

dalam lingkungan sekolah. Sikap yang dimiliki oleh sekolah terhadap

kesehatan dalam pemeliharaan kesehatan terlihat belum secara baik

menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini dikarenakan banyak nya

siswa yang tidak tahu dan tidak peduli tentang cuci tangan, masih terdapat

siswa yang merokok di lingkungan sekolah pada waktu istirahat, membuang

sampah tidak pada tempatnya, kurangnya kesadaran untuk membersihkan

jamban yang tersedia, dalam pengamatan kurangnya kesadaran dalam

menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Demikian halnya dengan

fasilitas atau sarana prasarana sekolah yang erat kaitannya dengan PHBS

siswa (Rorimpandei, 2021).

Solulusi yang tepat dalam upaya promosi kesehatan pada anak sekolah

yaitu perlu adanya strategi yang menarik agar anak mampu secara mudah

menerima informasi kesehatan salah satunya adalah dengan metode Papan

Sehat (Pahat). Dengan demikian tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku anak

usia sekolah terhadap perilaku hidup bersih dan sehat akan bertambah dan

mudah dipahami (Proverawati, 2021).

Upaya mempromosikan kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa

media atau cara dalam memberikan informasi salah satunya yaitu dengan cara

memberikan ceramah interaktif, hal ini cukup efektif bila disertai dengan

demonstrasi. Selain itu pemberian informasi bisa menggunakan media

permainan maupun media seperti leaflet, poster maupun media audio visual (

Azis, dkk., 2020).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kartini dkk, (2020) bahwa

inovasi papa sehat secara umum telah memberikan dampak positif dalam
3

meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, warga sekolah, terutama peserta

didik.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fivi dkk, (2017)

menunjukan bahwa lebih dari dari sebagian siswa belum melaksanakan

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu 54,7% pada SD

Negeri 001 Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun Tahun 2017.

Hal yang sama juga diungkapkan Korong, dkk, (2019) bahwa

berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, masih terdapat siswa yang

berpengetahuan rendah tentang indikator PHBS di sekolah, terutama pada

penggunaan jamban bersih dan sehat. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa

siswa masih ada yang belum mau bersikap menerima dan tidak melaksanakan

jajan sehat di kantin sekolah.

Sedangkan menurut penelitian Prasetyanti & Yanuaringsih, (2019)

terjadi peningkatan perilaku dalam PHBS pada siswa setelah dilakukan

promosi kesehatan pencegahan penyakit yang di akibatkan oleh tidak

melaksanakan PHBS. Upaya peningkatkan dan pencegahan penyakit maka

perlu diberikan edukasi lebih mengenai PHBS.

Hasil penelitian Dewi, (2022) didapatkan nilai rata-rata sikap sebelum

dilakukan pendidikan kesehatan PHBS yaitu 49,13% sedangkan nilai ratarata

sesudah dilakukan pendidikan kesehatan yaitu 53,89%. Hasil uji diperoleh p

value = 0.000 < 0.05. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

peningkatan sikap PHBS pada siswa sekolah dasar.

Menurut penelitian Alamar (2022) menunjukan rata-rata penerapan

PHBS di sekolah masih kurang atau hampir sebagian di terapkan, sebelum

dilakukan intervensi pengetahuan PHBS rata-rata hamper sebagian


4

berpengetahuan rendah, sebelum dilakukan intervensi PHBS rata-rata sikap

sebagian kecil bersikap negatif. Sedangkan, penelitian setelah dilakuan

intervensi penerapan PHBS di SDN 72 Kota Bengkulu rata-rata penerapan

baik atau hampir seluru, setelah dilakukan intervensi pengetahuan PHBS rata-

rata hamper seluruh berkategori tinggi, setelah dilakukan intervensi sikap

PHBS rata-rata hamper seruluh besikap positif. Penelitian ini juga

menunjukkan adanya pengaruh peningkatan skor pengetahuan, sikap dan

penerapan siswa/i yang diberikan media Pahat (papan sehat) dengan p value

= 0,000 < dari 0,05.

Menurut WHO (World Health Organization), menyatakan bahwa

secara global penyakit yang berkaitan dengan PHBS telah menginfeksi lebih

dari 2 miliar orang di dunia dan 880 juta diantaranya terjadi pada anak-anak.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO pada tahun 2020, terdapat 6

wilayah endemik di dunia yang menjadi prioritas untuk pengobatan. Asia

Tenggara menempati prioritas pertama dengan persentase 42%, Afrika

menempati prioritas kedua dengan persentase 32%, Wilayah Pasific Barat

menempati prioritas ketiga dengan persentase 11%, wilayah Mediterania

Timur menempati prioritas keempat dengan persentase 9%, Amerika

menempati proritas kelima dengan persentase 5%, dan Eropa menempati

prioritas keenam dengan persentase 1%. (WHO, 2020).

Di Indonesia pemerintah Persentase Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

(PHBS) sebelum masa pandemic Covid-19 masih tergolong rendah.

Berdasarkan dari data Riskesdas Tahun 2017 Persentase penerapan PHBS di

Indonesia sebesar 60,89 %. Sedangkan pada tahun 2018 persentase penerapan

PHBS di Indonesia meningkat sebesar 70,62%. (Kemenkes RI, 2024).

Anda mungkin juga menyukai