0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Dampak IEU-CEPA pada Ekonomi Indonesia

Perjanjian IEU-CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa membuka akses pasar yang lebih luas, namun dampak ekonominya diperkirakan terbatas, dengan pertumbuhan PDB hanya 0,1-0,2 persen. Keberhasilan perjanjian ini bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas tarif dan memenuhi standar teknis Uni Eropa. Tiga tantangan utama yang harus diwaspadai adalah regulasi deforestasi, mekanisme penyesuaian karbon, dan proses ratifikasi di Parlemen Eropa.

Diunggah oleh

Viona Veny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Dampak IEU-CEPA pada Ekonomi Indonesia

Perjanjian IEU-CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa membuka akses pasar yang lebih luas, namun dampak ekonominya diperkirakan terbatas, dengan pertumbuhan PDB hanya 0,1-0,2 persen. Keberhasilan perjanjian ini bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas tarif dan memenuhi standar teknis Uni Eropa. Tiga tantangan utama yang harus diwaspadai adalah regulasi deforestasi, mekanisme penyesuaian karbon, dan proses ratifikasi di Parlemen Eropa.

Diunggah oleh

Viona Veny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Lael Keiser

Director of Harry S Truman School of Government and Public Affairs


College of Arts and Science
E321 Locust Street Building
keiserl@[Link]

Political science is concerned with government, politics and public policies. In


political science courses, students learn how government operates and how to
analyze and evaluate public policies and political ideas. This training can help
students be more effective as active citizens, as political leaders and as government
administrators.

Many political science graduates attend law school or graduate school in political
science, public administration, business administration, the social sciences, and
other subjects. Others are employed in governmental or political jobs as legislative
assistants, military officers or lobbyists, and more go into business or private
employment. Many public officials and government administrators have political
science degrees.

Courses in political science help students learn to think critically, analyze complex
material and communicate effectively. Political science classes require extensive
writing assignments, and majors are given many opportunities to hone their writing
skills.

The department offers BA, MA and PhD degrees with majors in Political Science.
Undergraduate Academic Advisors

Kati Abbott
W109B Locust Street Building
abbottkm@[Link]

Rebecca Fallon
W109A Locust Street Building
fallonrm@[Link]

Sarah Kammeyer
W109C Locust Street Building
kammeyers@[Link]
IEU-CEPA Buka Akses Pasar, Dampaknya ke Ekonomi RI Kecil

Meskipun Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (IEU–


CEPA) membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia, dampak
ekonominya diperkirakan masih terbatas.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics


and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, hal tersebut karena
bergantung kepada kemampuan pelaku usaha mampu memanfaatkan fasilitas tarif
serta memenuhi standar teknis Uni Eropa.

Penandatanganan IEU–CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa merupakan tonggak


penting yang membuka akses pasar lebih luas melalui penghapusan tarif pada lebih
dari 98 persen pos tarif dan hampir 99 persen nilai impor. Secara makro, perjanjian
ini berpotensi mendorong perluasan dagang dan menurunkan biaya masuk bagi
komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit, perikanan, tekstil, alas kaki,
serta furnitur.

"Namun, transmisi ke pertumbuhan domestik bruto (PDB) diperkirakan masih


moderat, sekitar 0,1–0,2 persen menurut studi ex-ante. Ini karena manfaat riil sangat
bergantung pada sejauh mana pelaku usaha mampu memanfaatkan fasilitas tarif
itu," kata Rizal kepada Media Indonesia, dikutip Rabu, 24 September 2025.

Perlu dicatat pula, perjanjian baru efektif setelah proses ratifikasi, kemungkinan
mulai 2027, sehingga dampak ekonomi dinilai tidak langsung terasa.

Selain preferensi tarif, Rizal mengatakan IEU–CEPA juga dapat memicu masuknya
investasi asing langsung dari Eropa, khususnya untuk diversifikasi rantai pas ok
dan hilirisasi industri di Indonesia. Hal ini tentu positif jika kebijakan domestik
konsisten dalam menjaga kepastian hukum, regulasi investasi, dan ketersediaan
energi yang kompetitif.

3 hal yang harus diwaspadai


Meski demikian, ada tiga faktor utama yang berpotensi menggerus manfaat
perjanjian ini. Pertama, Peraturan Deforestasi Uni Eropa atau The European Union
Deforestation Regulation (EUDR) yang berlaku mulai Desember 2025. Kebijakan ini
menuntut traceability atau penelusuran ketat hingga koordinat kebun untuk sawit,
karet, kakao, kopi, dan kayu.

"Tanpa pemenuhan regulasi ini, tarif nol persen tidak ada artinya karena produk bisa
tertahan di perbatasan," jelas Rizal.

Masalah kedua, CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism) yang efektif Januari
2026, dikhawatirkan akan membebani ekspor baja, aluminium, maupun produk
berbasis nikel dengan biaya karbon, menguji daya saing ekspor berbasis energi fosil
Indonesia.

Ketiga, lanjut Rizal, proses ratifikasi di Parlemen Eropa bisa memunculkan tekanan
tambahan pada bab Trade and Sustainable Development, sehingga kewajiban
lingkungan dan ketenagakerjaan bisa semakin ketat.
Dari sisi kebijakan, disarankan Indonesia cepat menyiapkan langkah teknis untuk
mengamankan manfaat IEU–CEPA. Ini mencakup percepatan sistem traceability
untuk petani kecil melalui pemetaan kebun, geo-referencing, dan due diligence agar
lolos EUDR. Kemudian, pentingnya penyiapan skema monitoring, reporting, and
verification (MRV) emisi dan bauran energi lebih bersih guna menekan biaya CBAM,
serta pendirian helpdesk nasional untuk aturan asal barang (ROO) dan akreditasi
laboratorium agar produk ekspor memenuhi standar Sanitary and Phytosanitary
Measures (STS) dan TBT (Technical Barriers to Trade) Uni Eropa.

"Tanpa kesiapan ini, Indonesia bisa mengalami under-utilization, preferensi tarif tidak
termanfaatkan optimal, sebagaimana yang terjadi di beberapa FTA sebelumnya,"
jelas dia.

Anda mungkin juga menyukai