Pembangunan Pagar SMP Negeri 31 Sigi
Pembangunan Pagar SMP Negeri 31 Sigi
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan :
PEMBANGUNAN PAGAR KANTOR KOORWIL
PENDIDIKAN KECAMATAN KOTAWARINGIN LAMA
1. Pendahuluan
1) Sejalan dengan meningkatnya kegiatan dan layanan yang harus diberikan
kepada Siswa di Kabupaten Sigi, maka dibutuhkan sarana fasilitas yang
lebih memadai khususnya Pembangunan Pagar SMP Negeri 31 Sigi Kec.
Gumbasa guna mempermudah memberi fasilitas serta Keamanan.
2) Setiap pembangunan untuk sarana dan prasarana umum untuk Siswa harus
diwujudkan sebaik-baiknya sehingga mampu memenuhi secara optimal
fungsi bangunan tersebut.
2. Latar Belakang
Pembangunan yang terus dilaksanakan secara kontinyu agar tercapainya
rencana Pemerintah Kabupaten Sigi untuk memiliki infrastruktur yang
memadai.
4. Sasaran
Melaksanakan Kegiatan Pengadaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan
Pemerintah Daerah, Sub Kegiatan Pengadaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Atau Bangunan Lainnya, sebagaimana yang tercantum dalam RKA APBD Tahun
Anggaran 2025.
5. Lokasi Pekerjaan
Lokasi Pekerjaan D e s a S a l u a , Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.
6. Sumber Pendanaan
Kegiatan Pengadaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pendidikan , Sub
Kegiatan Pengadaan Sarana Dan Prasarana Gedung Sekolah Atau Bangunan
Lainnya dibiayai dari RKA APBD Tahun Anggaran 2025 dan untuk penandatangan
Kontrak pada saat DPA SKPD ditetapkan.
7.5 S u b Kegiatan :-
8. Dasar Penunjang
Data Dasar
1) Dokumen Kontrak.
2) Dan peraturan perundang-undangan yang masih berlaku.
Data Teknis
Pekerjaan Pembangunan Pagar SMP Negeri 31 Sigi ini dirancang sedemikian
rupa sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah direncanakan.
9. Lingkup Kegiatan
Penyusunan HPS oleh Pengguna Anggaran berdasarkan harga pasar +
ongkos angkut + over head dan keuntungan + PPN
10. Keluaran
- Gambar Kerja Pembangunan Pagar SMP Negeri 31 Sigi, Desa Salua Kec.
Gumbasa, Kabupaten Sigi.
- Laporan Harian, Mingguan dan
Bulanan
- Laporan Back Up Data Quantity, Back Up Data
Quality
- Foto Dokumentasi
Pekerjaan
11. Peralatan, Material, Personil dan Fasilitas Dari Pejabat Pembuat Komitmen
Pengguna Anggaran tidak menyiapkan peralatan, material dan fasilitas
untuk pelaksanaan pekerjaan.
a) Semen 50 kg
b) Agregat
Kasar c) Pasir
d) Paku
e) Besi beton
f) Kawat beton
g) Solar
h) Oli
i) Cat
j) Bahan pendukung lainya
16. Laporan
Penyedia jasa membuat laporan yang disusun kedalam:
1) Laporan Harian
2) Laporan Min gguan
3) Laporan Bulanan Laporan Shop Drawing
4) Laporan Asbuilt Drawing
5) Laporan Quantity & Quality
6) Laporan Hasil Pemeriksaan Kemajuan Pekerjaan
7) Foto dokumentasi pelaksanaan pekerjaan 0 %, foto pada
saat pelaksanaan dan foto selesai pelaksanaan 100 %
17. Produksi Dalam Negeri Semua kegiatan jasa konstruksi berdasarkan S pesi fi
kasi Tekni s ini harus dalam wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali
ditetapkan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri
18. Pedoman Pengumpulan Data Lapangan dilakukan di lain dengan Pengumpulan data
lapangan harus memenuhi persyaratan berikut :
- Pengumpulan data lapangan dilakukan oleh penyedia jasa konstruksi,
disaksikan oleh konsultan pengawas dan personil yang ditugaskan oleh Pengguna
Anggaran.
19. IDENTIFIKASI BAHAYA
5. PEKERJAAN STRUKTUR
a. Pek. Bekisting Sloof 20/20 - Terluka akibat material (serpihan batu besar) 15
b. Pek. Cor beton Fc' 14,5 - Terkena palu – tangan luka
Mpa Sloof 20/20 - Terkena cor beton – luka berat
c. Pek. Besi Tulangan Sloof - Terkena percikan air semen – mata rusak
20/20 - Terkena mesin pemotong besi – luka berat
d. Pek. Bekisting Kolom
20/20
e. Pek. Cor beton Fc' 14,5
Mpa Kolom 20/20
f. Pek. Besi Tulangan Kolom
20/20
g. Pek. Bekisting Ring Balok
20/20
h. Pek. Cor beton Fc' 14,5
Mpa Ring Balok 20/20
i. Pek. Besi Tulangan Ring
Balok 20/20
6. PEKERJAAN PASANGAN
a. Pek. Dinding Pas. ½ Bata - Terkena Mesin Pemotong Besi 6
b. Pek. Plesteran - Tertimpa Kusen/Daun Pintu & Jendela 6
c. Pek. Acian - Terkena Alat Pemukul/Pemotong Pemasangan 6
20. Alih Pengetahuan
Jika diperlukan, penyedia jasa konstruksi berkewajiban untuk
menyelenggarakan pertemuan dan pembahasan dalam rangka alih
pengetahuan kepada personil Pejabat Pembuat Komitm en.
21. Penutup
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat
pula:
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
3. Surat Perjanjian ( SP ).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.
SPESIFIKASI TEKNIS
Pasal
1
Lingkup
Pekerjaan
TAHAPAN-TAHAPAN PEKERJAAN
: A. PEKERJAAN PERSIAPAN
B. PEKERJAAN PENGECATAN
B.1. Pengecatan Pagar
Eksisting
C. PEKERJAAN TANAH
C.1. Pek. Galian Tanah
C.2. Pek. Urugan Pasir
D. PEKERJAAN PONDASI
D.1. Pek. Pondasi Pasangan Batu
E. PEKERJAAN STRUKTUR
E.1. Pek. Bekisting Sloof 20/20
E.2. Pek. Cor beton Fc' 14,5 Mpa Sloof 15/20
E.2. Pek. Besi Tulangan Sloof 15/20
E.3. Pek. Bekisting Kolom 20/20
E.4. Pek. Cor beton Fc' 14,5 Mpa Kolom 20/20
E.5. Pek. Besi Tulangan Kolom 20/20
E.6. Pek. Bekisting Ring Balok 20/20
E.1 Pek. Cor beton Fc' 14,5 Mpa Ring Balok 15/20
E.1 Pek. Besi Tulangan Ring Balok 5/20
F. PEKERJAAN PASANGAN
F.1. Pek. Pasangan 1/2 Bata F.2. Pek. Plesteran
F.3. Pek. Acian
1.2 Lokasi Pekerjaan
Lokasi Pekerjaan yang dimaksud pada item 1.1 pasal ini adalah di Dinas Pendidikan
Dan Kebudayaan Kabupaten Sigi.
Pasal 2
Penjelasan RKS dan Gambar
2.1 Kontraktor wajib meneliti semua gambar serta Rencana Kerja dan Syarat-
Syarat (RKS) termasuk tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita
Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwizjing).
2.2 Bila gambar tidak sesuai dengan RKS, yang berlaku adalah RKS dan setelah
disetujui konsultan Pengawas.
2.3 Ukuran
a. Pada dasarnya ukuran utama yang tertera dalam gambar kerja dan gambar
pelengkap meliputi :
As - As
Luar - Luar
Dalam -
Dalam Luar -
Dalam
b. Ukuran-ukuran yang digunakan semuanya dinyatakan dalam (meter), cm
(centi meter) kecuali ukuran-ukuran untuk baja yang dinyatakan dalam inci
atau mm (mili meter).
c. Mengingat masalah ukuran ini sangat penting, maka kontraktor wajib meneliti
terlebih dahulu Ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar arsitektur
maupun gambar-gambar kerja lainnya yang dimuat dalam dokumen
lelang/kontrak, terutam untuk peil, ketinggian,lebar, ketebalan, luas penampang
dan lain-lain.
d. Kontraktor tidak dibenarkan merubah atau mengganti Ukuran-ukuran
yang tercantum di dalam gambar pelaksanaan tanpa sepengetahuan direksi.
Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab kontraktor dari segi waktu
maupun biaya.
e. Khusus ukuran-ukuran dalam gambar arsitektur, pada dasarnya
adalah gambar jadi seperti dalam keadaan selesai.
2.4 Perbedaan Gambar
a. Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin
kerja, gambar yang mempunyai skala lebih besar yang berlaku. Bila ada
perbedaan antara gambar arsitektur dengan sipil/struktur yang berlaku adalah
gambar kerja struktur mengingat gambar struktur telah dilaksanakan terlebih
dahulu.
c. Bila ada perbedaan antara gambar arsitektur dengan sanitasi elektrikal/
listrik/mekanikal yang dipakai sebagai pegangan adalah ukuran fungsional
dalam gambar kerja arsitektur.
d. Bila perbedaan-perbedaan ini menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam
pelaksanaan akan menimbulkan kesalahan, kontraktor wajib menanyakan
kepada konsultan Pengawas/pengelola proyek, dan kontraktor harus mengikuti
keputusan tersebut.
2.5 Istilah
a. AR : Arsitektur.
Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan bangunan secara
menyeluruh dari semua disiplin kerja yang ada baik teknis maupun estetika.
b. SR : Struktur.
Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan perhitungan konstruksi, bahan
konstruksi utama dan spesifikasinya, serta dimensionering beton struktur.
c. M/E : Mekanikal/Elektrikal
Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan daya listrik, sistem distribusi.
d. PL : Plumbing.
Mencakup hal-hal yang berhubungan dengan serta sistem instalasi air bersih dan
kotor.
Pasal 3
Standar Rujukan
3.1 Semua pekerjaan yang akan dilaksanakan harus mengikuti Normalisasi Indonesia,
Standar Konstruksi Indonesia dan peraturan nasional lainnya yang berhubungan
dengan pekerjaan, antara lain :
a. NI-2 (PBI-1991) : Peraturan Beton Indonesia (1991)
b. PUBI-1992 : Peraturan Bahan Bangunan di Indonesia
c. NI-3 PMI PUBB 1970 : Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia
d. NI-4 : Persyaratan cat Indonesia
e. NI-5 PKKI : Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia
f. NI-8 : Peraturan semen Portland Indonesia
g. NI-10 : Bata Merah sebagai Bahan Bangunan
h. PPI-1979 : Pedoman Plumbing Indonesia
i. PUIL-1977 : Peraturan Umum Instalasi Listrik
j. SNI 3976 : Standar Tatacara Pengadukan dan Pengecoran
Beton
k. SNI 3449 : Tata cara Pembuatan Campuran Beton Ringan
Dengan Agregat Ringan.
l. SNI 2834 : Standar Tatacara Pembuatan Rencana Campuran
Beton Normal
3.2 Jika tidak terdapat dalam peraturan, standar dan normalisasi tersebut di atas maka
berlaku peraturan, standar dan normalisai internasional atau dari negara asal
produsen bahan/material yang bersangkutan.
Pasal 4
Tanggung Jawab Kontraktor
4.1 Kontraktor harus bertanggung jawab penuh atas semua hasil pekerjaan sesuai
dengan kontrak yang telah ditanda tangani.
4.2 Kehadiran direksi selaku wakil dari pemberi tugas untuk melihat, mengawasi,
menegur atau memberi nasihat tidak mengurangi tanggung jawab penu tersebut
di atas.
4.3 Kontraktor harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang timbul akibat
pelaksanaan pekerjaan. Oleh karena itu, kontraktor berkewajiban memperbaiki
kerusakan tersebut dengan kontraktor sendiri.
4.4 Bilamana terjadi gangguan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan,
kontraktor wajib memberikan saran-saran perbaikan kepada pemberi tugas
melalui direksi. Apabila hal ini tidak dilakukan, kontraktor bertanggung jawab
atas kerusakan yang timbul.
4.5 Kontraktor bertanggung jawab menanggung biaya yang timbul akibat kelalaian
kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan.
4.6 Kontraktor harus menjaga keamanan baik material, barang milik proyek, direksi,
pihak ketiga yang ada di lapangan maupun bangunan yang dilaksanakannya
sampai tahap serah terima. Apabila terjadi kehilangan atas semua itu, kontraktor
harus bertanggung jawab, dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaan
tambah.
4.7 Kontraktor bertanggung jawab atas keselamatan tenaga kerja yang dikerahkan
dalam pelaksanaan pekerjaan.
4.8 Kontraktor bertanggung jawab bila terjadi kebakaran, dan menanggung segala
akibatnya baik yang berupa barang mmaupun keselamatan jiwa.
4.9 Apabila pekerjaan telah selesai, kontraktor bertanggung jawab atas biaya
pengangkutan bahan bongkaran dan sisa bahan bangunan yang sudah tidak
dipergunakan lagi keluar lokasi pekerjaan.
4.0 Memiliki Kemampuan Menyediakan Personil
a. Pelaksanaa Pekerjaan Bangunan Gedung 1 Orang Minimal Pendidikan SMA/SMK
Pengalman 2 Tahun.
b. Ahli K3 Konstruksi/Petugas K3 1 Orang Minimal Pendidikan S1/ SMK
Pasal 5
Kuasa Kontraktor di Lapangan
5.1 Kontraktor harus bertanggung jawab penuh atas semua hasil pekerjaan sesuai
dengan kontrak yang telah ditanda tangani.
5.2 Kehadiran direksi selaku wakil dari pemberi tugas untuk melihat, mengawasi,
menegur atau memberi nasihat tidak mengurangi tanggung jawab penu tersebut
di atas.
5.3 Kontraktor harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang timbul akibat
pelaksanaan pekerjaan. Oleh karena itu, kontraktor berkewajiban memperbaiki
kerusakan tersebut dengan kontraktor sendiri.
5.4 Bilamana terjadi gangguan yang dapat mempengaruhi Pelaksanaan pekerjaan,
kontraktor wajib memberikan saran-saran perbaikan kepada pemberi tugas
melalui direksi. Apabila hal ini tidak dilakukan, kontraktor bertanggung jawab
atas kerusakan yang timbul.
5.5 Kontraktor bertanggung jawab menanggung biaya yang timbul akibat kelalaian
kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan.
Pasal 6
Situasi
6.1 Hal mana pembangunan akan diserahkan kepada pelaksana sebagaimana adanya
pada waktu rapat penjelasan, untuk itu para calon pemborong wajib meneliti situasi
medan terutama kondisi tanah bangunan, sifat dan luasnya pekerjaan dan hal lain
yang berpengaruh terhadap harga penawaran.
6.2 Kelalaian dan kekurang telitian dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk
klaim dikemudian hari.
6.3 Dalam rapat penjelasan akan ditunjukan dimana pembangunan akan dilaksanakan.
Pasal 7
Pekerjaan Persiapan Bangunan
7.1 Semua ukuran yang tercantum dalam rencana ini dinyatakan dalam cm dan inc.
7.2 Permukaan atas lantai ubin (P ± 0.00) adalah ; ± 53 cm dan tanah sekitarnya / tanah
rencana, kecuali ditetapkan lain pada waktu rapat penjelasan.
7.3 Ukuran penduga dibuat dari besi pipa atau kayu terentang 5/7 cm x 3 m yang
diketam, rata semua sisinya, kemuadian sebagian ditanam dalam tanah asli sedalam
1 m1 dan di cor beton ukuran penduga tersebut merupakan titik pikat tetap
yang harus dibuat pemborong di bawah pengamatan Direksi Lapangan yang
dipelihara selama pelaksanaan.
B. PEKERJAAN TANAH
3. Pekerjaan Galian
3.1 Galian tanah harus sesuai dengan ukuran dalam gambar atau sampai tanah yang dianggap
cukup menahan beban bangunan. Apabila diperlukan untuk mendapatkan daya dukung yang
baik, dasar galian harus dipadatkan /ditumbuk.
3.2 Jika galian melampaui batas kedalaman, pemborong harus menimbun kembali dan dipadatkan
sampai kepadatan maksimum.
3.3 Hasil galian yang dapat dipakai untuk penimbunan harus diangkat langsung ketempat yang
direncanakan, atau tempat sementara yang disetujui oleh Direksi.
1.1 Pondasi Bangunan Ini mengggunakan pasangan batu belah dengan adukan 1 pc : 4 ps
konstruksi dapat dilihat pada gambar kerja.
1.2 Di bawah pasangan batu belah dipasang alas urugan pasir setebal 5 cm yang dipadatkan sesuai
dengan gambar kerja.
1.3 Pemasangan balok sloof dan gelagar dilaksanakan sesuai petunjuk Pengawas dan gambar kerja
D. PEKERJAAN STRUKTUR
2 PASIR :
2.1 Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.
2.2 Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila lebih dari 5% maka
pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
2.3 Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan penelitian di
Laboratorium Beton.
2.4 Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.
2.5 Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk campuran material beton.
2.6 Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton adalah butiran yang
tertahan pada saringan nomor 100.
2.7 Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-za lain yang dapat merusak beton.
2.8 Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses penyelidikan di
Laboratorium Beton.
2.9 Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.
3 KERIKIL :
3.1 Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.
3.2 Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila lebih dari 1% maka
kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
3.3 Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan penelitian di
Laboratorium Beton.
3.4 Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.
3.5 Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk campuran material beton.
3.6 Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6 mm.
3.7 Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.
3.8 Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses penyelidikan di
Laboratorium Beton.
3.9 Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural atau beton dengan
mutu dibawah K-175.
3.10 Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.
4 BATU PECAH :
4.1 Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone Cruser) dan bukan hasil pekerjaan
manual (manusia).
4.2 Batu pecah berasal dari batuan kali.
4.3 Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.
4.4 Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.
4.5 Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.
4.6 Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak `beton seperti zat alkali.
4.7 Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar maksimal 3 cm.
4.8 Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh seragam tetapi merupakan
campuran antara butiran 1 cm sampai butiran 3 cm.
4.9 Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton harus melalui proses pemeriksaan
di Laboratorium beton.
4.10 Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton struktural atau beton dengan mutu K-
175 sampai mutu K-300.
5 SEMEN PORTLAND :
5.1 Terdaftar dalam merk dagang.
5.2 Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan beton structural
maupun beton non struktural.
5.3 Mempunyai butiran yang halus dan seragam.
5.4 Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.
5.5 Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen Portland Type I.
5.6 Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk bangunan gedung
berlaku juga pada spesifikasi teknis ini
6 AIR :
6.1 Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.
6.2 Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat merusak beton.
6.3 Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan dari tempat lain
kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas sebelum digunakan.
7 TULANGAN BETON :
7.1 Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan ditentukan oleh Konsultan
Pengawas.
7.2 Baja tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari hubungan langsung
dengan tanah dan terlindung dari air hujan.
7.3 Semua peraturan tentang baja tulangan di Indonesia untuk bangunan gedung berlaku juga pada
spesifikasi teknis ini.
8 SELIMUT BETON :
8.1 Kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Perencana dalam Bill of Quantiti dan Gambar Kerja
maka aturan ketebalan selimut beton adalah seperti berikut ini :
Komponen Beton yang Tidak Langsung Beton yang Berhubungan Dengan Tanah
Struktur Berhubungan Dengan Tanah Atau Cuaca Atau Cuaca
Lantai ØD 36 Dan Lebih Kecil : 20 mm ØD 16 Dan Lebih Kecil : 40 mm
Lantai > ØD 36 : 40 mm > ØD 36 : 50
Dinding ØD 36 Dan Lebih Kecil : 20 mm ØD 16 Dan Lebih Kecil : 40 mm
Dinding > ØD 36 : 40 mm > ØD 36 : 50
Balok Seluruh Diameter : 40 mm ØD 16 Dan Lebih Kecil : 40 mm
Balok > ØD 16 : 50 mm
Seluruh Diameter : 40 mm ØD 16 Dan Lebih Kecil : 40 mm
> ØD 16 : 50 mm
9 PERAKITAN TULANGAN :
9.1 Perakitan tulangan balok dan kolom dapat dilakukan di bengkel kerja oleh Kontraktor Pelaksana
atau langsung pada lokasi konstruksi.
9.2 Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton perakitan tulangan harus dilakukan langsung lokasi
konstruksi atau Bekisting.
9.3 Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus sesuai dengan Gambar
Bestek dan Shop Drawing, standar Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
9.4 Kontraktor Pelaksana harus menyediakan Shop Drawing dan daftar bengkokan, dimensi, model,
dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel kerja untuk menghidari kesalahan dalam
pekerjaan perakitan tulangan.
9.5 Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung dipasang harus diletakan
ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak boleh besentuhan langsung dengan tanah.
9.6 Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting yang telebih dahulu
telah selesai dikerjakan.
9.7 Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh sengkang dengan alat ikat
kawat beton.
9.8 Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari dalam bekisting.
11 SAMBUNGAN ANTAR TULANGAN :
12.1 Sambungan antar tulangan, penjangkaran tulangan dan panjang penyaluran tulangan pada
kondisi pembeban lentur, beban tarik, beban tekan, jika tidak ditentukan lain dalam Gambar
Bestek maka harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
12.2 Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat pada posisi satu garis
lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zig-zag antara batang yang disambung
dengan batang yang tidak disambung.
12.3 Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar Bestek, Peraturan Beton
Indonesia (PBI) dan SK SNI T- 15-1991-03 harus diambil minimal 40 kali diameter batang
yang disambung.
12.4 Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak dibenarkan dengan
alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan tambahan) untuk menyambung tulangan
utama dengan tulangan utama lain kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia
(PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
12.5 Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika tidak ditentukan lain
dalam Gambar Bestek maka harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan
Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
12.6 Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada komponen balok, plat
lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain
dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
12.7 Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof dan plat lantai atau
pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan pada posisi selain pada posisi tersebut
dengan alasan apapun tidak dibenarkan.
13 ACUAN / BEKISTING :
13.1 Bahan utama bekisting adalah Papan 2/20 cm Kayu kelas III yang diperkuat oleh balok-balok
kayu 5/7 cm atau 5/10 cm dari kayu kelas kuat III.
13.2 Pengantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan pada point 1 harus
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
13.3 Kontraktor pelaksana harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk konstruksi bekisting
balok, kolom, plat lantai, Pilecap dan pondasi Travelator serta konstruksi lain yang dianggap
perlu oleh Konsultan Pengawas.
13.4 Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
13.5 Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu atau cairan Ter
supaya hasil campuran beton tidak menempel pada bekisting waktu akan dibuka sehingga dapat
menghasilkan permukaan beton yang rapi.
13.6 Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.
13.7 Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan campuran beton tidak bocor
atau berubah bentuknya.
13.8 Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi ,kelurusannya terhadap
arah vertikal oleh Kontraktor Pelaksana dengan alat Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan
secara manual tidak dibenarkan.
13.9 Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum dilakukan pekerjaan
pengecoran beton.
13.10 Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari terhitung sejak waktu
pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan PENGAWAS karena alasan penggunaan zat
additive yang dapat mempercepat proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang dapat
dipertanggung jawabkan .
13.11 Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika hal ini terjadi
Kontraktor Pelaksana harus memperbaikinya dengan pekerjaan acian beton.
13.12 Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan bekisting atau sebab lain
harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.
17 LAIN - LAIN
17.1 Persyaratan pekerjaan beton dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 22 berlaku untuk semua item
pekerjaan beton structural ( K-175 sampai K-300 ) yang ada dalam Proyek ini.
17.2 Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya dalam proses pelaksanaan
pekerjaan ditentukan kemudian oleh Konsultan Perencana bersama dengan Konsultan
Pengawas dalam proses pelaksanaan pekerjaan dengan persetujuan Owner.
17.3 Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu ketentuan yang mengikat dan wajib
untuk dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana
18 PEMBESIAN
19 JAMINAN MUTU
Bahan-bahan harus dari produk yang sama seperti yang telah disetujui oleh Direksi Lapangan.
Sertifikat dari percobaan (percobaan giling atau lainnya) harus diperlihatkan untuk semua tulangan
yang dipakai. Percobaan-percobaan ini harus memperlihatkan hasil-hasil dari semua kom- posisi
kimia dan sifat-sifat fisik.
1 Bahan
1.1 Pengertian cat disini meliputi cat-cat dinding bata, beton, , besi yang tampak ter-expose
dengan bahan cat emulsion merk sekualitas Decolith (cat tembok) dan sekualitas Bee brand
(cat besi).
1.2 Cat-catlplamir yang didatangkan harus dalam keadaan utuh dalam kemasan kaleng, tertera
nama perusahaannya dan serta masih terdapat segel yang utuh.
1.3 Semua cat yang dipakai harus mendapatkan persetujuan dari DireksilPengawas LapanganlTim
Pengelola Teknis Kegiatan.
1.4 Plamir dan dempul untuk pekerjaan cat tembok dan kayu digunakan merk yang sama dengan
merk cat yang dipilih.
1.5 Cat meni digunakan sesuai dengan cat jadi dan sesuai dengan penggunaan cat.
1.6 Bahan pengencer digunakan dari produksi pabrik dari bahan yang diencerkan.
2 Macam Pekerjaan
2.1 Mengecat dengan cat tembok dan cat kayu untuk semua bidang exterior dan interior seperti
dinyatakan dalam gambar.
3 Cara Pelaksanaan
3.1 Cat Tembok
Bata merah bermutu baik, pembakaran sesempurna mungkin / merata bebas dari cacat
dan retak, minimum telah menjadi 2 (dua) bagian, produk lokal dan telah memenuhi
standard “Persyaratan bahan – bahan PUBB 1970”.