BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air Bersih
Secara umum, air bersih dapat dipahami sebagai air yang layak digunakan
sebagai air bersih untuk keperluan minum. Sertifikasi ini juga mencakup kelayakan
untuk mandi, mencuci dan toileting. Sebagai air minum, air bersih tidak bisa
diminum begitu saja, jadi harus direbus atau direbus sampai mendidih. Secara
khusus, "Departemen Kesehatan memiliki definisi air bersih." Air bersih adalah air
yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan dapat diminum setelah perebusan
awal. Batas air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan sistem penyediaan air
minum. Persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan kualitas air, meliputi
kualitas fisik, kimia, biologi, dan radiologis, yang tidak menimbulkan efek buruk
pada saat dikonsumsi. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023
tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pengertian air minum
adalah air minum rumah tangga yang diolah dan tidak diolah. memuaskan Anda
dapat minum langsung dengan kebutuhan anda (Ahmad, 2022).
2.2 Sumber Air
Sumber air adalah merupakan komponen penting dalam penyediaan air bersih
karena tanpa sumber air maka suatu sistem penyediaan air bersih tidak akan
berfungsi. Air baku juga dapat dimanfaatkan sebagai air bersih atau air minum,
dalam memilih sumber air perlu diperhatikan persyaratan lain, yaitu pengolahan air
tersebut. Berikut ini ada beberapa macam sumber air: (Siregar, 2023)
2.2.1 Air atmosfer
Air meterologi dalam keadaan murni, sangat bersih, karena dengan adanya
pengotoran udara yang disebabkan oleh kotoran-kotaran industri/debu dan lain
sebagainya. Maka untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada
waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan mulai turun, karena
masih banyak mengandung kotoran.
2.2.2 Air permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir dipermukaan bumi. Pada
umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya,
misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran indsutri dan
sebagainya. Beberapa pengotoran ini, untuk masing-masing air permukaan akan
berbeda-beda, tergantung pada daerah pengaliran air permukaan ini. Jenis
pengotorannya adalah merupakan kotoran fisik, kimia dan bakteriologi. Setelah
mengalami suatu pengotoran, pada suatu air permukaan itu akan mengalami suatu
proses pembersihan sendiri yang dapat dijelaskan sebagi berikut: udara yang
mengandung Oksigen atau gas O2 akan membantu mengalami proses pembusukan
yang terjadi pada air permukaan yang telah mengalami pengotoran, karena selama
dalam perjalanan, O2 akan meresap ke dalam air permukaan. Air Permukaan terdiri
dari 2 macam, yaitu:
1. Air Sungai
Dalam penggunaanya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu
pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya
mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi.
2. Danau/Air Rawa
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang di sebebabkan oleh adanya zat-zat
organis yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air
yang menyebabkan warna kuning coklat. Dengan adanya pembusukan kadar
zat organik tinggi, maka kadar Fe dan Mn akan tinggi dan dalam keadaan
kelarutan O2 sangat berkurang (anaerob), maka unsur-unsur Fe dan Mn ini
akan larut. Pada permukaan air akan tumbuh algae (lumut) karena adanya
sinar matahari dan O2. Untuk mengambil air, Sebaiknya pada kedalaman
tertentu di tengah rawa/danau, agar tidak terdapat endapan-endapan Fe dan
Mn yang terbawa saat pengambilan. Demikian juga lumut yang ada pada
permukaan rawa/danau.
2.2.3 Air tanah
Air tanah (groundwater) merupakan air yang berada di bawah permukaan
tanah air tanah ditemukan pada afiker. Pergerakan air tanah sangat lambat
kecepatan arus berkisar antara 10-10-10-3 m/detik dipengaruhi oleh porositas,
permeabilitas dari lapisan tanah, dan pengisian kembali air (recharge). Air tanah
memasok sebagian besar kebutuhan air domestik umat manusia, terutama di negara-
negara maju seperti amerika serikat, sebagian besar penduduknya mengambil air
besih dari air tanah, air tanah terbagi atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air
tanah dangkal terjadi karena adanya daya proses peresapan air dari permukaan
tanah. Air tanah dangkal ini berada pada kedalaman 15,0 m² sebagai sumur air
minum, air dangkal ini ditinjau dari segi kualitas agak baik, segi kuantitas kurang
cukup dan tergantung pada musim. Sedangkan Air tanah dalam terdapat setelah
lapis rapat air tanah dangkal. Pengambilan air tanah dalam tidak semudah air tanah
dangkal katena harus mengguakan bor dan memasukan pipa kedalamnya sehingga
dalam suatu kedalaman biasanya antara 100-300m² (Damayanti, 2023).
2.3 Syarat Kualitas Air Bersih
Karakteristik air dipengaruhi oleh faktor–faktor manusia, sehingga kualitas
air sangat beragam dari satu tempat ke tempat lain. Standar – standar kualitas air
merupakan harga–harga yang ekstrim yang digunakan untuk meningkatkan
tingkat–tingkat air dimana air menjadi ofensif secara estetik, tidak sesuai secara
ekonomik maupun tidak layak secara higienik untuk penggunaan air. Berdasarkan
Permenkes No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
dan Persyaratan Kesehatan untuk keperluan Higiene Sanitasi menunjukkan kualitas
air yang baik adalah: (Lismawati, 2020)
Tabel 1 Standar baku mutu air bersih
Standar Baku Mutu (kadar
Parameter Unit
maksimum)
Kekeruhan NTU 25
Warna TCU 50
Zat padat terlarut (Total
mg/l 1000
Dissolved Solid)
Suhu °C Suhu udara ± 3
Rasa - Tidak berasa
Bau - Tidak berbau
Total coliform CFU/100 ml 50
E. coli CFU/100 ml 0
pH - 6,5 – 8,5
Standar Baku Mutu (kadar
Parameter Unit
maksimum)
Besi (Fe) mg/l 1
Fluorida mg/l 1,5
Kesadahan (CaCO₃) mg/l 500
Mangan mg/l 0,5
Nitrat (sebagai N) mg/l 10
Nitrit (sebagai N) mg/l 1
Sianida mg/l 0,1
Deterjen mg/l 0,05
Pestisida total mg/l 0,1
Sumber: Permenkes No. 32 Tahun 2017
2.4 Air Minum
Air minum ialah air yang telah melalui proses pengelolahan dan telah
memnuhi standar yang telah disesuaikan dengan baku mutu air minum yang telah
diatur dalam undang-undang. Air minum yang baik memenuhi unsur kesehatan dan
kemanana dalam segi konsumsi, yakni sesuai dengan ketentuan yang mengatur
terkait faktor fisik, kimia, bakteriologi serta radioaktivitas air itu sendiri. Yang
mana air minum digunakan sebagai salahsatu sumber kebutuhan asupan
pembangun tubuh (Nasution, 2022).
Air minum merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk kehidupan
manusia dan selalu menjadi yang tidak tergantikan oleh senyawa lain. Air juga
merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena dapat mempengaruhi
penampakan, tekstur, serta cita rasa makanan kita. Air berperan sebagai pembawa
zat-zat makanan dan sisa metabolisme, sebagai media reaksi yang menstabilkan
pembentukan biopolimer, dan sebagainya. Air yang dapat dikonsumsi untuk
menjadi air minum yaitu apabila air tersebut bebas dari mikroorganisme yang
bersifat patogen dan telah memenuhi syarat-syarat kesehatan. Untuk masyarakat
awam persediaan air minum, mereka mengambil dari sumber air yang sebelum
dikonsumsi air sudah direbus terlebih dahulu. Merebus air sampai mendidih
bertujuan untuk membunuh kuman yang mungkin terkandung didalam air itu.
Sedangkan air minum yang tersedia dipasar berupa air mineral yaitu berasal dari
sumber air pegunungan dan telah mengalami proses penyulingan atau industri
pemurnian besar (Siregar, 2023).
2.5.1 Syarat Kualitas Air Minum
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 tentang
persyaratan kualitas air minum, menyatakan bahwa air minum yang aman bagi
kesehatan harus memenuhi persyaratan fisik, biologi, dan kimia.
2.5.2 Syarat fisik
Air yang memenuhi syarat fisik adalah air yang tidak berbau, tidak berasa,
tidak berwarna, tidak keruh atau jernih, dan dengan suhu sebaiknya dibawah suhu
udara sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa nyaman dan jumlah zat padat
terlarut (TDS) yang rendah. Berikut standar mutu parameter fisik air minum:
Tabel 2 Standar mutu parameter fisik air minum
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
Bau - Tidak berbau
Warna TCU 15
Total zat padat terlarut (TDS) mg/l 500
Kekeruhan NTU 5
Rasa - Tidak berasa
Suhu °C Suhu udara + 3
Sumber: Permenkes No. 492 Tahun 2010
2.5.3 Syarat kimiawi
Air minum yang baik air yang tidak tercemar berlebihan oleh zat-zat kimia
yang bahaya bagi kesehatan antara lain kesadahan, aluminium (Al), besi (Fe),
mangan (Mn), derajat keasaman (Ph), klorida dan zat-zat kimia lainnya. Kandungan
zat kimia dalam kandungan air minum yang di konsumsi sehari-hari hendaknya
tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan seperti yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air
minum dan Standard Nasional Indonesia. Penggunaan air yang mengandung bahan
kimia beracun dan zat-zat kimia yang melebihi kadar maksimum yang di
perbolehkan berakibat tidak baik bagi kesehatan dan material yang digunakan
manusia. Berikut standar mutu parameter kimia air minum:
Tabel 3 Standar mutu parameter kimia air minum
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
Aluminium mg/l 0,2
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
Besi mg/l 0,3
Kesadahan mg/l 500
Klorida mg/l 250
Mangan mg/l 0,4
pH - 6,5 – 8,5
Seng mg/l 3
Sulfat mg/l 250
Tembaga mg/l 2
Amonia mg/l 1,5
Arsen mg/l 0,01
Fluorida mg/l 1,5
Total Kromium mg/l 0,05
Kadmium mg/l 0,003
Nitrit (sebagai NO₂⁻) mg/l 1,0
Nitrat (sebagai NO₃⁻) mg/l 50
Sianida mg/l 0,07
Selenium mg/l 0,01
Sumber: Permenkes No. 492 Tahun 2010
2.5.4 Syarat biologis
Sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri, baik air
angkas, air permukaan, maupun air tanah. Jumlah dan jenis bakteri berbeda sesuai
dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya. Oleh karena itu air yang
dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari harus bebas dari bakteri patogen. Bakteri
golongan Coli (Coliform Bacteria) tidak merupakan bakteri patogen, tetapi bakteri
ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen. Berikut standar
mutu parameter biologi air minum:
Tabel 4 Standar mutu parameter biologi air minum
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
E. Coli Jumlah per 100 ml sampel 0
Total Bakteri Koliform Jumlah per 100 ml sampel 0
Sumber: Permenkes No. 492 Tahun 2010
2.5 Standar Deviasi
Standar deviasi dapat diartikan sebagai nilai atau standar yang menunjukkan
besar jarak sebaran terhadap nilai rata-rata. Jadi semakin besar nilai standar deviasi,
maka data menjadi kurang akurat. Berikut merupakan rumusan dari perhitungan
standar deviasi:
∑𝑛𝑖=1(𝑋𝑖 − 𝑋)2
𝑆=√ (1)
𝑛−1
Keterangan:
𝑆 = standar deviasi
𝑋𝑖 = nilai varian (penduduk proyeksi)
𝑛 = jumlah data
𝑋 = nilai rata-rata
2.6 Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan hubungan antara satu variable dengan variable
lainnya yang menunjukkan kuat atau tidaknya antar dua variabel. Koefisien korelasi
biasanya dilambangkan dengan huruf r dimana nilai r dari -1 sampai +1. Berikut
merupakan rumusan dari perhitungan koefisien korelasi:
𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥)(∑ 𝑦)
𝑟= (2)
√{𝑛 ∑ 𝑥2 − (∑ 𝑥)2}{𝑛 ∑ 𝑦2 − (∑ 𝑦)2}
Keterangan:
𝑟 = faktor korelasi
𝑥 = jumlah penduduk dari data yang diketahui
𝑦 = jumlah penduduk pada tahun ke n
2.7 Perhitungan Proyeksi
Proyeksi berperan penting sebagai dasar perencanaan kebutuhan air minum
di masa depan, dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk serta
kebutuhan fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah, sehingga
penyediaan air dapat terjamin secara berkelanjutan.
2.7.1 Proyeksi penduduk
Pertumbuhan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor penting dalam
perencanaan kebutuhan air. Proyeksi jumlah penduduk digunakan sebagai dasar
untuk menghitung tingkat kebutuhan air bersih di masa yang akan mendatang.
Dengan seiring berkembangnya zaman pertumbuhan penduduk di suatu daerah
semakin meningkat sehingga perhitungan proyeksi penduduk sangat berperan
penting dalam perencanaan air bersih. Pertumbuhan penduduk dapat dihitung
apabila diketahui tingkat pertumbuhan penduduknya. Proyeksi jumlah penduduk di
masa mendatang dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yaitu:
(Fathirah, 2022)
1. Metode Aritmatika
Proyeksi penduduk dengan metode aritmatik mengasumsikan bahwa jumlah
penduduk pada masa depan akan bertambah dengan jumlah yang sama setiap
tahun. Jumlah perkembangan penduduk dengan menggunakan metode ini
dirumuskan sebagai berikut:
𝑃𝑛 = 𝑃0 (1 + 𝑟𝑛) (4)
Keterangan:
𝑃𝑛 = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
𝑟 = angka petumbuhan penduduk
𝑛 = periode waktu dalam tahun (tahun)
2. Metode Geometrik
Proyeksi penduduk dengan metode geometrik menggunakan asumsi bahwa
jumlah penduduk akan bertambah secara geometrik menggunakan dasar
perhitungan bunga majemuk. Laju pertumbuhan penduduk (rate of growth)
dianggap sama untuk setiap tahun. Dengan menggunakan metode geometrik,
maka perkembangan penduduk suatu daerah dapat dihitung dengan formula
sebagai berikut:
𝑃𝑛 = 𝑃0 (1 + 𝑟)𝑛 (5)
Keterangan:
𝑃𝑛 = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
𝑟 = angka petumbuhan penduduk
𝑛 = periode waktu dalam tahun (tahun)
3. Metode Eksponensial
Metode eksponensial menggambarkan pertambahan penduduk yang terjadi
secara sedikit-sedikit sepanjang tahun, berbeda dengan metode geometrik
yang mengasumsikan bahwa pertambahan penduduk hanya terjadi pada satu
saat selama kurun waktu tertentu. Perkiraan jumlah penduduk berdasarkan
metode eksponensial di dapat dengan persamaan berikut:
𝑃𝑛 = 𝑃0 . 𝑒 𝑟.𝑛
Keterangan:
𝑃𝑛 = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
𝑟 = angka petumbuhan penduduk
𝑛 = periode waktu dalam tahun (tahun)
𝑒 = bilangan logaritma natural (2,7182818)
2.7.2 Proyeksi fasilitas umum
Proyeksi fasilitas umum adalah perhitungan jumlah fasilitas umum
berdasarkan perbandingan jumlah penduduk pada tahun ke-n dan tahun ke-0, yang
selanjutnya dikalikan dengan jumlah fasilitas umum pada tahun ke-0. Persamaan
untum menghitung proyeksi fasilitas umum, yaitu:
𝐹𝑛 = 𝑤 × 𝐹0 (6)
Keterangan:
𝐹𝑛 = jumlah fasilitas umum pada tahun ke-n
𝑄 = perbandingan jumlah penduduk pada tahun ken dengan jumlah
penduduk pada tahun ke-0
𝐹0 = jumlah fasilitas umum pada tahun ke-0
2.8 Perhitungan Kebutuhan Air
Kebutuhan air merupakan hal yang wajar bagi setiap manusia. Pada umumnya
kebutuhan air ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Besar
tidaknya pemakaian air dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tingkat
kehidupan, pendidikan, tingkat ekonomi, dan juga kondisi sosial. Oleh karena itu,
di dalam perencanaan sistem penyediaan air harus diperhitungkan sedetail mungkin
untuk mendapatkan suatu perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
sekitar.
2.8.1 Kebutuhan air domestik
Kebutuhan domestik merupakan kebutuhan air yang digunakan untuk
keperluan rumah tangga dan sambungan kran umum. Besar kebutuhan domestik
yang diperlukan dihitung rerata kebutuhan air per satuan orang perhari. Kebutuhan
air perorang perhari disesuaikan dengan dimana orang tersebut tinggal. Setiap
kategori kota tertentu mempunyai kebutuhan akan air yang berbeda. Semakin besar
kota maka tingkat kebutuhan air juga akan semakin besar. Untuk kebutuhan air
domestik dapat dihitung dengan persamaan berikut:
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 × 𝑃𝑡
𝑄𝑑𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 =
86.400
Keterangan:
𝑃𝑡 = jumlah penduduk pada tahun t (jiwa)
Tabel 5 Kebutuhan air berdasarkan kategori kota
Kebutuhan
Kategori
Keterangan Jumlah Penduduk Air
Kota
(ltr/org/hr)
I Kota Metropolitan Di atas 1 juta 190
II Kota Besar 500.000 – 1 juta 170
III Kota Sedang 100.000 – 500.000 150
IV Kota Kecil 20.000 – 100.000 130
V Desa 10.000 – 20.000 100
VI Desa Kecil 3.000 – 10.000 60
Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 2015
2.8.2 Kebutuhan air non domestik
Kebutuhan non domestik merupakan kebutuhan air selain untuk keperluan
rumah tangga dan sambungan kran umum, seperti penyediaan air untuk sarana
sosial, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, asrama, dan juga untuk keperluan
komersil seperti industri, hotel, perdagangan, serta untuk pelayanan jasa umum.
𝑄𝑛𝑜𝑛 𝑑𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 = 𝑄𝑑𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 × 20%
2.8.3 Kebutuhan air rata-rata
Kebutuhan air rata-rata terdiri dari kebutuhan domestik, Kebutuhan non
domestik, serta kehilangan air. Kebutuhan air domestik adalah kebutuhan air bersih
untuk keperluan sehari-hari dalam rumah tangga. Kebutuhan non domestik adalah
kebutuhan perkantoran pemerintah, industry, dan komersial, serta kebutuhan
fasilitas umum. Kehilangan air adalah jumlah air yang hilang akibat pemasangan
sambungan pipa yang tidak benar, kebocoran pada jaringan pipa, penyambungan
liar (Setiawan, 2021). Rumus kebutuhan air rata-rata sebagai berikut:
𝑄𝑟 = 𝑄𝑑 + 𝑄𝑛 + 𝑄𝑎 (3)
Keterangan:
𝑄𝑟 = kebutuhan air rata-rata (L/s)
𝑄𝑑 = kebutuhan air domestik (L/s)
𝑄𝑛 = kebutuhan air non domestik (L/s)
𝑄𝑎 = kehilangan air (L/s)
2.8.4 Kebutuhan air puncak
Suatu kondisi dimana pemakaian air pada jam tersebut mencapai maksimum.
Banyaknya kebutuhan air terbesar pada saat jam tertentu dalam satu hari. Untuk
kebutuhan air jam puncak dapat dihitung dengan persamaan berikut: (Fathirah,
2022)
𝑄𝑗𝑚 = 𝐹𝑗𝑚 × 𝑄𝑟𝑗
Dimana:
Qjm = Debit kebutuhan air jam puncak (liter/jam)
Fjm = Faktor jam maksimum (1,5-2)
Qrj = Debit jam rata-rata (liter/jam)
2.8.5 Kebutuhan air maksimum
Menurut Nugroho & Sinatriya (2022), banyaknya air yang diperlukan terbesar
pada satu hari pada satu tahun dan berdasarkan Qrh (Kebutuhan air hari rata-rata).
Untuk menghitung Qhm (kebutuhan air hari maksimum) diperlukan faktor fluktuasi
kebutuhan air maksimum:
𝑄ℎ𝑚 = 𝐹ℎ𝑚 × 𝑄𝑟ℎ
Dimana:
Qhm = Debit kebutuhan air maksimum (liter/hari)
Fhm = Faktor harian maksimum (1,1-1,5)
Qrh = Debit hari rata-rata (liter/hari)
2.8.6 Kehilangan air
Kehilangan air diasumsikan sebesar 20% dari total kebutuhan air bersih,
perkiraan jumlah air ini disebabkan adanya sambungan pipa yang bocor, pipa yang
retak dan akibat kurang sempurnanya waktu pemmasangan, pencucian pipa,
kerusakan water meter dan pelimpah air di menara air (Ahmad, 2022). Kehilangan
air dapat dihitung dengan persamaan berikut:
𝐿𝑜 = 20% × 𝑃𝑟
Dimana:
Lo = Kehilangan air (liter/detik)
Pr = Produksi air (liter/detik)
2.9 Instalasi Pengolahan Air Minum
Pada umumnya Instalasi Pengolahan Air Minum merupakan suatu sistem
yang mengkombinsikan proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan
disinfeksi serta dilengkapi dengan pengontrolan Proses juga instrumen pengukuran
yang dibutuhkan. Instalasi ini harus didesain untuk menghasilkan air yang layak
yang dikonsumsi masyarakat bagaimanapun kondisi cuaca dan lingkungan. Selain
itu, sistem dan subsistem dalam instalasi yang akan didesain harus sederhana,
efektif, dapat diandalkan, tahan lama, dan murah dalam pembiayaan. Tujuan dari
sitem pengolahan air minum yaitu untuk mengolah sumber air baku menjadi air
minum yang sesuai dengan standar kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Berikut
unit-unit pengolahan air minum adalah: (Borahima, 2020)
2.9.1 Bangunan Penangkap Air
Bangunan penangkap air atau intake merupakan bangunan pengumpul air
yang berfungsi untuk: (Rafly dkk., 2023)
1. Mengumpulkan air baku dari sumber untuk menjaga kuantitas debit air yang
dibutuhkan oleh instalasi.
2. Menyaring benda-benda kasar dengan menggunakan bar screen.
3. Mengambil air baku yang sesuai dengan debit yang diperlukan oleh instalasi
pengolahan yang direncanakan untuk menjaga kontinuitas penyediaan atau
pengambilan air dari sumber.
Bangunan penangkap air atau intake dibagun pada sumber air baku dengan
bertujuan untuk mengambil air baku dari sumbernya yang kemudian akan dialiri
menuju instalasi pengolahan. Kapasitas intake harus dapat memenuhi jumlah
kebutuhan hari maksimum sepanjang periode perencanaan. Pada perencanaan
instalasi pengolahan air minum ini sudah terpasang intake dengan jenis intake gate.
Kontruksi intake gate ini, pada umumnya terdiri dari inlet beton bertulang
berbentuk persegi panjang dan didepannya terdapat penyaring (screen) untuk
mencegah masuknya potongan kayu dan benda-benda terapung lainnya. Beberapa
kriteria yang harus di penuhi dalam pembuatan intake adalah:
1. Tertutup untuk mencegah masuknya snar matahari yang memungkinakan
tumbuhan atau mikroganisme hidup di dalam saluran.
2. Tanah di lokasi intake harus stabil.
3. Intake harus kedap air sehingga agar tidak terjadi kebocoran.
4. Intake harus di desain untuk menghadapi keadaan darurat.
Adapun rumus persamaan yang digunakan dalam melakukan perhitungan di
intake ialah:
1. Kecepatan aliran pada saringan kasar
𝑄
𝑣= (1)
𝐴
Dimana:
v = kecepatan aliran (m/s)
Q = debit aliran (m3/s)
A = luas bukaan (m2)
2. Kecepatan aliran pada saringan halus
𝑄
𝑣= (2)
𝐴 × 𝑒𝑓𝑓
Dimana:
v = kecepatan aliran (m/s)
Q = debit aliran (m3/s)
A = luas bukaan (m2)
Eff = efisiensi (0,5 – 0,6)
Adapula kriteria desain untuk bangunan penangkap air sebagai berikut:
Tabel 6 Kriteria desain unit intake
Parameter Satuan Nilai
Kecepatan aliran pada saringan
m/s < 0,08
kasar
Kecepatan aliran pada saringan
m/s < 0,2
halus
Kecepatan aliran pada pintu intake m/s < 0,8
Lebar bukaan saringan kasar cm 5–8
Lebar bukaan saringan halus cm ± 5 cm
Sumber: SNI 6774-2008
2.9.2 Unit Prasedimentasi
Bangunan yang memiliki fungsi sebagai bak pengendapan disebut juga
dengan prasedimentasi, dimana pada bangunan ini tidak dilakukan penggunaan
bahan kimia dan diproses secara alami. Prasedimentasi adalah suatu proses dimana
partikel diskret atau partikel kasar maupun lumpur diendapkan, sedangkan
pengertian partikel diskret adalah partikel yang tidak mengalami perubahan dari
bentuk maupun ukuran selama mengendap di dalam air (Rina, 2020).
Sistem prasedimentasi secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis,
yaitu:
1. Prasedimentasi dengan pengendapan secara alami (gravitasi)
2. Sand -traps (Penjebak Pasir).
3. Prasedimentasi mekanik, untuk menghilangkan pasir dan kerikil.
Berikut persamaan dan kriteria desain yang digunakan dalam perhitungan unit
prasedimentasi, yaitu: (Ambat & Prasetyo, 2025)
1. Perhitungan panjang bak
𝑃 = 𝑉ℎ × 𝑡 (3)
Dimana:
P = panjang bak
Vh = kecepatan horizontal
t = waktu pengendapan
2. Kontrol kondisi aliran
𝑅
𝑁𝑅𝑒 = 𝑉ℎ𝑥 ≤ 2000 (4)
𝑣
𝑉ℎ2
𝑁𝐹𝑟 = ≥ 10−5 (5)
𝑔×𝑅
3. Hukum stoke
1 𝑠𝑠 − 1
𝑉𝑠 = [ ] × 𝑔 × 𝑑2 (6)
18 𝛿
Tabel 7 Kriteria desain unit prasedimentasi
Parameter Keterangan Nilai
V₀ Kecepatan mengendap partikel ideal 0,08 – 0,1 cm/detik
td Waktu pengendapan 0,5 – 3 jam
NRE Kondisi aliran (Reynolds Number) < 2000
NFr Kondisi aliran (Froude Number) > 10⁻⁵
Hubungan dengan kecepatan mengendap
Vh (10 – 18) × V₀
partikel ideal
2.9.3 Unit Koagulasi
Koagulasi merupakan proses pencampuran bahan kimia atau koagulan
dengan air baku sehingga homogen. Penambahan koagulan pada air maka akan
terbentuknya flok-flok halus, dimana flok tersebut berfungsi untuk mengikat
kotoran dalam air baku sehingga air lebih jernih. Temperatur merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi proses koagulasi, temperatur dapat diatur agar
hasil yang didapat lebih optimum. Temperatur rendah mempengaruhi proses
flokulasi dan koagulasi yaitu dengan diubahnya solubilitas koagulan, visikositas air
ditingkatkan, dan kinetika reaksi hidrolisis dan flokulasi partikel dapat diperlambat.
Koagulasi proses pengadukan cepat (flash mixing) dengan ditambahkan nya
koagulan ke dalam air baku dengan tujuan untuk mendestabilisasi partikel koloid
dan suspended solid.
Koagulan adalah bahan zat kimia yang berfungsi untuk memperbesar parikel-
partikel agar mudah untuk mengendap. Berikut ini adalah beberapa contoh jenis
koagulan antara lain:
1. Alumunium sulfat atau tawa (Al3(SO4)
2. Feri klorida (FeCl3)
3. Fero klorida (FeCl2)
4. Feri Sulfat (Fe2(SO4)3)
Sedangkan berikut contoh dari koagulan polimer atau sintesis:
1. Poli aluminum klorida (PAC)
2. Sitosan
Untuk merencanakan dimensi bak pengaduk cepat (koagulasi), waktu detensi,
dan gradien kecepatan di unit koagulasi adalah sebagai berikut: (SNI 6774:2008)
𝑣 = 𝑄 × 𝑡𝑑 (7)
Dimana:
td = gaya gravitasi (m/s2)
v = volume pengaduk cepat (m3)
Q = debit pengolahan (m3/s)
𝑉
𝑡𝑑 = (8)
𝐺
Dimana:
td = waktu detensi (dtk)
V = volume bak (m3)
G = gradien kecepatan (dtk-1)
Kriteria desain untuk unit koagulasi dapat dilihat pada tabel berikut:
(Andrean, 2021)
Tabel 8 Kriteria desain unit koagulasi
Parameter Satuan Nilai
Gradien Kecepatan (G) detik⁻¹ 200 – 1000
Waktu Detensi (tₑ) detik – menit 10 detik – 5 menit
Viskositas Kinematik (ν) pada 25°C m²/dtk 0,9055 × 10⁻⁶
Viskositas Dinamik (μ) pada 25°C Nd/m² 0,903 × 10⁻³
Densitas air (ρair) pada 25°C kg/m³ 997
Koefisien Discharge (Limpasan) - 0,62
Koefisien Kekasaran Bak (k) - 0,25
Gtd - 10⁴ – 10⁵
Bilangan Reynold (Nre) - > 2000
Bilangan Froude (NFr) - > 10⁻⁵
Perbandingan P : L - 2:01
Sumber: SNI 6774:2008
2.9.4 Unit Flokulasi
Flokulasi berfungsi memepercepat tumbukan antara kolid yang sudah
terdesbilisasi supaya bergabung membentuk mikrofok ataupun mikroflok yang
secara teknis dapat diendapkan. Dari pencampuran zat koagulan dengan air yang
mengandung kekeruhan di bak pengaduk cepat, akan terbentuk kumpulan partikel
yang akan mengendap. Proses flokulasi adalah proses pengadukan lambat dengan
kecepatan rendah, untuk memungkinkan terjadinya flok-flok yang terdesbilisasi
dan bahan kimia (alum) yang ditambahakan sebagai koagulan dalam air baku dapat
mudah terendapkan. Berbeda dengan proses koagulasi dimana faktor kecepatan
tidak menjadi kendala, pada flokulator terdapat batas maksimum kecepatan untuk
mencegah pecahnya flok akibat tekanan yang berlebihan. Untuk pengadukan
flokulasi ini jangka waktu pengadukan selama 30 - 40 menit menurut Standar
Nasional Indonesia 6774:2008. Tenaga yang dibutuhkan untuk pengadukan secara
halus dari air selama flokulasi dapat diberikan secara mekanis maupun hidrolis.
Kriteria desain untuk unit flokulasi dapat dilihat pada tabel berikut: (Rina, 2020)
Tabel 9 Kriteria desain unit flokulasi
Flokulator Mekanik
Flokulator Sumbu Sumbu Flokulator
Kriteria Umum
Hidrolis Horizontal Vertikal Clarifier
dengan Pedal dengan Bilah
60
G (gradien 60 (menurun) 70 (menurun)
(menurun) 100–10
kecepatan) / det 10 10
5–10
Waktu tinggal
30–45 30–40 20–40 20–100
(menit)
Tahap flokulasi
6–10 3–6 2–4 1
(buah)
Pengendalian Bukan Kecepatan Kecepatan
Kecepatan aliran
energi pintu/sekat putaran putaran
Kecepatan aliran
0,9 0,9 1,8–2,7 1,5–0,5
max. (m/det)
Luas bilah/pedal
dibandingkan 5–20 5–20 0,1–0,2 –
luas bak (%)
Tinggi (m) – – – 2–4
Sumber: SNI 6774:2008
Volume bak flokulasi dapat di hitung menggunakan persamaan sebagai
berikut: (SNI 6774:2008)
𝑣 = 𝑄 × 𝑡𝑑 (9)
Dimana:
td = gaya gravitasi (m/s2)
v = volume pengaduk cepat (m3)
Q = debit pengolahan (m3/s)
2.9.5 Unit Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan padatan dan cairan dengan menggunakan
pengendapan secara gravitasi untuk memisahkan partikel tersusupensi yang
terdapat dalam cairan tersebut. Proses ini sangat umum digunakan pada instalasi
pengolahan air minum. Aplikasi utama dari sedimentasi pada instalasi pengolahan
air minum adalah: (Rina, 2020)
1. Pengendapan awal dari air permukaan sebelum pengolahan oleh unit saringan
pasir cepat.
2. Pengendapan air yang telah melalui proses koagulasi dan flokulasi sebelum
memasuki unit saringan pasir cepat.
3. Pengendapan air yang telah melalui proses koagulasi dan flokulasi pada
instalasi yang menggunakan sistem pelunakan air oleh kapursoda.
4. Pengendapan air pada instalasi pemisahan besi dan mangan.
Persamaan dan kriteria desain yang digunakan dalam perhitungan
sedimentasi, yaitu: (SNI 6774:2008)
1. Rasio panjang-lebar bak
𝑝
(10)
𝑙
Dimana:
p = panjang bak
l = lebar bak
2. Surface loading rate
𝑄
𝑣𝑡 = (11)
𝐴
Dimana:
vt = surface loading rate
Q = debit bak
A = luas permukaan bak
Tabel 10 Kriteria desain unit sedimentasi
Parameter Satuan Nilai
Jarak antar plate (w) cm 5 – 10
Bilangan Reynold (Nre) - < 2000
Bilangan Froud (NFr) - > 10⁻⁵
Viskositas Dinamik (μ) pada 25°C kg/[Link] 0,903 × 10⁻³
Efisiensi penyisihan % 90 – 95
Kecepatan mengendap awal untuk mendapatkan
m/dtk (0,002 – 0,009)
flok (v₀)
Sudut kemiringan plate settler (α) ° 45 – 75
Rasio panjang : lebar - (4 – 6) : 1
Rasio lebar : tinggi - (3 – 6) : 1
25% panjang zona
Lebar zona inlet -
pengendapan
Beban pelimpah m³/m²/hari 250 – 500
Parameter Satuan Nilai
Waktu detensi dalam plate settler menit minimum 4 menit
Sumber: SNI 6774:2008
2.9.6 Unit Filtrasi
Filtrasi adalah proses pemisahan padatan dan larutan, dimana larutan tersebut
dilewatkan melalui suatu media berpori atau materi berpori lainnya untuk
menyisihkan partikel tersuspensi yang sangat halus sebanyak mungkin. Proses ini
digunakan pada instalasi pengolahan air minum untuk menyaring air yang telah
dikoagulasi dan diendapkan untuk menghasilkan air minum dengan kualitas yang
baik. Filtrasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis filter, antara
lain: saringan pasir lambat, saringan pasir cepat, bahkan dengan menggunakan
teknologi membran. Pada pengolahan air minum umumnya dipergunakan saringan
pasir cepat, karena filter jenis ini memiliki debit pengolahan yang cukup besar,
penggunaan lahan yang tidak terlalu besar, biaya operasi dan pemeliharaan yang
cukup rendah, dan tentunya kemudahan dalam pengoperasian dan pemeliharaan
(Rina, 2020). Adapula kriteria desain unit filtrasi sebagai berikut: (SNI 6774:2008)
Tabel 11 Kriteria desain unit filtrasi
Jenis Saringan
Saringan
Unit Saringan Biasa dengan Saringan
(Gravitasi) Pencucian antar Bertekanan
Saringan
Jumlah bak saringan: N = 12 Q/0,5 Minimum 5 bak -
Kecepatan penyaringan (m/jam) 6–11 6–11 12–33
Pencucian:
Kecepatan (m/jam) 36–50 36–50 72–198
Lama pencucian (menit) 10–15 10–15
Periode antar pencucian (jam) 18–24 18–24
Ekspansi (%) 30–50 30–50 30–50
Media Pasir:
Tebal (mm) 300–700 300–700
Single media (mm) 600–700 600–700
Media ganda (mm) 300–600 300–600
Ukuran efektif, ES (mm) 0,3–0,7 0,3–0,7
Koefisien keseragaman, UC 1,2–1,4 1,2–1,4
Berat jenis (kg/dm³) 2,5–2,65 2,5–2,65
Porositas 0,4 0,4
Kadar SiO₂ ≥95% ≥95%
Media Antrasit:
Tebal (mm) 400–500 400–500 400–500
Jenis Saringan
Saringan
Unit Saringan Biasa dengan Saringan
(Gravitasi) Pencucian antar Bertekanan
Saringan
ES (mm) 1,2–1,8 1,2–1,8 1,2–1,8
UC 1,5 1,5 1,5
Berat jenis (kg/dm³) 1,35 1,35 1,35
Porositas 0,5 0,5 0,5
Filter bottom/dasar saringan:
1. Lapisan penyangga dari atas
ke bawah
Kedalaman (mm) 80–100 80–100
Ukuran butir (mm) 2–5 2–5
Ukuran butir (mm) 80–150 80–150
Ukuran butir (mm) 15–30 15–30
2. Filter Nozel (mm)
Lebar slot nozel (mm) <0,5 <0,5 <0,5
Persentase luas slot nozel
>4% >4% >4%
terhadap luas filter (%)
Sumber: SNI 6774:2008
Perencanaan bak filtrasi menggunakan persamaan sebagai berikut: (SNI
6774:2008)
𝑄
𝐴= (12)
𝑣𝑓
Dimana:
A = luas permukaan bak filtrasi (m2)
Q = debit pengolahan (m3/s)
vf = kecepatan filtrasi (m/s)
2.9.7 Unit Disinfeksi
Desinfeksi adalah proses pengolahan air dengan tujuan membunuh kuman
atau bakteri yang ada didalam air. Proses desinfeksi dilakukan sebelum air
didistribusikan sehingga air menjadi aman untuk dikomsumsi. Pada era modern ini
proses desinfeksi dilakukan berdasarkan beberapa jenis, dapat dijelaskan seperti
berikut: (Borahima, 2020)
1. Desinfeksi Kimiawi
Desinfektan yang paling sering digunakan adalah kaporit (Ca(OCl)2)dan gas
klor (Cl2). Pada proses desinfeksi menggunkan kaporit. Sebagai suatu proses
kimia yang menyangkut reaksi antara biomassa mikroorganisme perlu
dipenuhi dua syarat yaitu dosis yang cukup, waktu kontak yang cukup,
minimum 30 menit. Selain itu diperlukan proses pencampuran yang sempurna
agar desinfektan benar-benar tercampur. Desinfeksi menggunakan ozon lazim
digunkan untuk desinfeksi hasil pengolahan waste water treatment.
2. Desinfeksi fisik
Desinfeksi menggunkan ultraviolet lebih aman daripada menggunakan klor
yang beresiko membentuk trihalometan yang bersifat karsinogenik, tetapi jika
digunakan ultraviolet sebagai desinfektan maka instalasi distribusi harus
benar-benar aman dan menjamin tidak akan ada kontaminasi setelah
desinfeksi. Apabila kontaminan masuk setelah air didesinfeksi, maka
kontaminan tersebut akan tetap berada dalam air dan sampai ke tangan
konsumen. Selain itu, biaya yang diperlukan juga lebih besar dibandingkan
dengan desinfeksi menggunakan kaporit. Umumnya desinfeksi dilakukan
sesaat sebelum air didistribusikan kepada konsumen.
Adapula kriteria desain unit disinfeksi sebagai berikut: (SNI 6774:2008)
Tabel 12 Kriteria desain unit disinfeksi
Parameter Satuan Nilai
Waktu detensi Menit 10 – 120
Dosis Khlor Mg/L 0,2 – 4
Sisa Khlor Mg/L 0,5 – 1
Sumber: SNI 6774:2008
2.9.8 Unit Reservoir
Reservoir adalah unit penampungan air hasil olahan yang akan didistribusikan ke
jaringan pelayanan. Umumnya, reservoir dibangun di bawah permukaan tanah atau
ditempatkan di atas permukaan dalam bentuk menara air. Reservoir biasanya
ditempatkan di lokasi yang berdekatan dengan sistem distribusi, serta pada elevasi
yang memadai agar dapat memastikan aliran air berlangsung secara merata ke
seluruh konsumen. Dalam instalasi pengolahan air, kapasitas reservoir ditentukan
berdasarkan kebutuhan air harian tertinggi, sementara sistem distribusinya
dirancang untuk menangani laju aliran maksimum per jam. Perbedaan antara
keduanya perlu diatasi dengan menyediakan reservoir distribusi sebagai
penyeimbang (Nu’aimah dan Hendrasarie., 2025)
Tabel 13 Kriteria desain unit reservoir
Parameter Nilai
Jumlah unit atau kompartemen >2
Kedalaman (H) (3-6) m
Tinggi jagaan (Hj) >30cm
Tinggi air minimum (Hmin) 15 cm
Waktu tinggal (td) >1 jam
Sumber: SNI 6773-2008
2.9.9 Cold Lime-Soda Process
Cold Lime-Soda Process merupakan salah satu teknologi pengolahan air minum
yang digunakan untuk menurunkan kesadahan, baik karbonat maupun non-
karbonat, melalui penambahan kapur (Ca(OH)₂) dan soda ash (Na₂CO₃) pada suhu
ruangan. Proses ini didasarkan pada reaksi kimia pengendapan kalsium dan
magnesium dalam bentuk CaCO₃ dan Mg(OH)₂, yang kemudian dapat dipisahkan
melalui sedimentasi dan filtrasi. Selain efektif menurunkan kesadahan, proses ini
juga dapat membantu mereduksi kandungan logam seperti besi dan mangan,
terutama ketika kondisi pH dinaikkan hingga sekitar 10–11 yang mempercepat
reaksi oksidasi mangan menjadi bentuk MnO₂ yang tidak larut. Namun, dalam
praktiknya, cold lime-soda umumnya dikombinasikan dengan tahap oksidasi
tambahan (misalnya aerasi atau penambahan oksidator seperti klorin/kalium
permanganat) agar efisiensi penghilangan mangan lebih optimal (Lzaod, 2020).
Proses ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain biaya bahan kimia yang
relatif murah, kemudahan penerapan, serta kemampuan menurunkan tingkat
kesadahan hingga mendekati standar kualitas air minum. Di sisi lain, kelemahan
yang perlu diperhatikan adalah terbentuknya lumpur dalam jumlah besar, perlunya
koreksi pH (recarbonation) agar air stabil dan tidak bersifat korosif, serta
keterbatasan dalam menurunkan kesadahan hingga sangat rendah dibanding
teknologi lain seperti reverse osmosis atau ion exchange. Studi terdahulu
menunjukkan bahwa penerapan cold lime-soda dengan dosis kapur dan soda ash
yang tepat dapat menurunkan kesadahan air tanah dari 200 mg/L menjadi
mendekati standar WHO, sementara penelitian lain menegaskan pentingnya proses
aerasi setelah softening untuk menurunkan pH dan menstabilkan air. Dengan
demikian, cold lime-soda process dapat dikategorikan sebagai metode sederhana,
efektif, dan ekonomis dalam pengolahan air minum berbasis air permukaan yang
memiliki kesadahan tinggi, sekaligus berpotensi membantu pengendalian mangan
jika dikombinasikan dengan tahapan oksidasi dan stabilisasi air. Persentase
penurunan kesadahan total adalah sebesar 95,12% (Samarasiri dkk., 2016).
2.9.10 Adsorben
Kebanyakan zat pengadsorpsi atau yang sering disebut dengan adsorben
merupakan bahan yang berpori, dan proses adsorpsi terjadi pada dinding-dinding
pori atau pada daerah tertentu didalam partikel tersebut. Pori-pori adsorben
memiliki ukuran sangat kecil sehingga luas permukaan dalamnya menjadi beberapa
kali lebih besar dari permukaan luarnya. Adsorben yang jenuh dapat diperbarui agar
bisa digunakan kembali pada proses adsorpsi. Syarat-syarat adsorben yang baik,
yaitu sebagai berikut:
1. Mempunyai daya serap tinggi
2. Berupa zat padat yang memiliki luas permukaan besar
3. Tidak boleh larut dalam zat yang akan di adsorpsi
4. Tidak membuat reaksi kimia dengan campuran yang akan dimurnikan
5. Dapat diperbarui kembali
6. Tidak beracun
7. Tidak meninggalkan kotoran berupa gas yang memiliki bau
8. Mudah ditemukan dan harga terjangkau (Agung dan Sherviena, 2010).
Adsorben dapat dikelompokkan berdasarkan:
1. Berdasarkan sifatnya terhadap air
2. Berdasarkan jenis
3. Berdasarkan ukuran pori-pori
Berdasarkan sifatnya terhadap air, adsorben dibagi menjadi 2, seperti yang
ditunjukkan pada table berikut:
Tabel 14 Penggolongan adsorben berdasarkan kemampuan menyerap air
Jenis Penyusun Struktur
Hidrofobik Polimer karbon aktif Molecular sieve karbon, silikat
Zeolit; 3A (KA), 4A (NaA), 5A (CaA),
Hidrofilik Silika gel, Alumina aktif 13X (NaX), Mordenite, Chabazite, dan
lain-lain
Sumber: Zilda, 2022
Berdasarkan ukuran porinya, adsorben dapat dibagi menjadi 3, seperti
ditunjukkan pada table berikut:
Tabel 15 Penggolongan adsorben berdasarkan ukuran pori
Tipe Diameter Pori (ω) Karakteristik
Mikropori ω < 2 nm Superimposed wall potentials
Mesopori 2 nm < ω < 50 nm Kondensasi kapiler
Makropori ω > 50 nm Efektif pada dinding tipis
Sumber: Zilda, 2022
Pada tipe mikropori, diameter yang dimiliki antar pori sangat kecil, sehingga
terjadinya tarik-menarik antara dinding pembentuk pori yang saling berlawanan.
Tarik-menarik menimbulkan energi potensial sehingga menghasilkan penyerap
yang kuat. Sedangkan pada tipe makropori, adanya penyebaran molekul didalam
partikel pori. Untuk adsorpsi fasa gas, molekul tidak mengisi adsorbat sampai fasa
gas menjadi jenuh.
2.10 Mass Balance
Kesetimbangan massa (Mass Balance) digunakan untuk membandingkan
kualitas air limbah sebelum dan sesudah proses pengolahan. Penerapan konsep ini
juga berfungsi dalam menentukan sistem operasi serta strategi pemeliharaan IPAL.
Selain itu, kesetimbangan massa menjadi acuan untuk menghitung jumlah masing-
masing parameter pencemar yang masuk maupun keluar pada setiap unit
pengolahan. Prinsip perhitungan kesetimbangan massa didasarkan pada hukum
kekekalan energi, yaitu energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan
hanya dapat berubah bentuk (Ricky dkk., 2023).
Mass Balance atau neraca massa adalah perhitungan dari keseluruhan aliran
massa bahan yang masuk, keluar, dan terakumulasi dari suatu unit operasi pada
jangka waktu tertentu. Adapun prinsip dari perhitungan neraca massa didasarkan
pada hukum kekekalan massa, sehingga jumlah massa bahan yang masuk akan
sama dengan jumlah massa bahan yang keluar (Dewantoro & Putri, 2022).
Perhitungan Mass Balance bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas air
limbah sebelum dilakukan pengolahan dan setelah dilakukan pengolahan, serta
mengidentifikasi efisiensi setiap unit proses berdasarkan perubahan konsentrasi
parameter pencemar, dimana efisiensi penyisihan setiap parameter air limbah
berbeda-beda. Hal ini terjadi karena karakteristik masing-masing parameter
memiliki sifat fisik-kimia berbeda (Cahyani et al., 2025). Perhitungan
kesetimbangan massa dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
𝐵𝑂𝐷𝑖𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡
massa BODinfluent = (15)
1000000
𝐵𝑂𝐷𝑖𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡
massa BODinfluent = (16)
1000000
𝐵𝑂𝐷𝑖𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡
massa CODinfluent = (17)
1000000
𝐵𝑂𝐷𝑖𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡
massa TSSinfluent = (18)
1000000
𝐵𝑂𝐷𝑖𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡
massa Minyak dan Lemakinfluent = (19)
1000000
BODremoval =%BODinfluent (20)
CODremoval =%CODinfluent (21)
TSSremoval =%TSSinfluent (22)
Minyak dan Lemakremoval =%Minyak dan Lemakinfluent (23)
BODeffluentl =%BODeffluent - BODremoval (24)
CODeffluentl =%CODeffluent - CODremoval (25)
TSSeffluentl =%TSSeffluent - TSSremoval (26)
2.11 Headloss
Kehilangan Energi atau Headloss adalah kehilangan energi per satuan berat fluida
dalam pengaliran cairan dalam sistem perpipaan. Headloss terdiri dari: (Sulhairi,
2021)
1. Headloss Mayor
Mayor Losses adalah kehilangan pada aliran dalam pipa yang disebabkan oleh
friksi yang terjadi disepanjang aliran fluida yang mengalir terhadap dinding
pipa. Besarnya mayor losses ditentukan oleh fungsi f (Friction factor), V
(rata-rata kecepatan fluida), l (panjang pipa), D (diameter pipa), e (nilai
kekasaran pipa), miu (viskositas fluida), rho (densitas fluida).
𝐿 𝑉2
ℎ𝑓 = 𝑓. . (12)
𝐷 2𝑔
Keterangan:
hf = headloss mayor / tinggi hilang akibat gesekan (m)
f = koefisien gesekan
L = panjang pipa (m)
D = diameter dalam pipa (m)
V = kecepatan aliran dalam pipa (m/s)
g = gaya gravitasi (m/s2)
Koefisien kehilangan energi (k) selain disebabkan oleh gesekan pada dinding
pipa, juga karena adanya percabangan pipa atau lubang pipa. Nilai k
merupakan koefisien kecepatan Cv atau ditulis k = (1/Cv2-1). Aliran pada
saluran tertutup akan mengalami kehilangan tinggi tekanan akibat adanya
gesekan dinding pipa sesuai dengan Persamaan Darcy Weisbach (Bambang
Triatmojo :1996) berikut ini:
ℎ𝑓 = (8𝑓𝐿𝑄 2 )/(𝑔𝜋 2 𝐷5 ) (13)
Keterangan:
hf = kehilangan tinggi tekanan (m)
f = koefisien gesekan
L = panjang pipa (m)
D = diameter dalam pipa (m)
V = kecepatan aliran dalam pipa (m/s)
g = gaya gravitasi (m/s2)
2. Headloss minor
Minor Headloss merupakan kehilangan energi yang disebabkan oleh
perubahan penampang pipa, sambungan, belokan dan katub atau disebut
kehilangan tenaga sekunder.
a. Kehilangan Energi pada Tikungan (Belokan)
Kehilangan energi pada belokan pipa yang lebih besar dari kehilangan
energi pada jaringan pipa lurus. Hal ini disebabkan daerah-daerah aliran
yang terpisah di dekat sisi dalam belokan (khususnya jika belokan tajam)
dan aliran sekunder yang berpusar karena ketidakseimbangan gaya-gaya
sentripugal akibat kelengkungan sumbu pipa. Ada dua macam belokan
pipa, yaitu belokan lengkung atau belokan patah (mitter atau multipiece
bend).
Kehilangan energi yang terjadi pada belokan tergantung pada sudut
belokan pipa. Rumus kehilangan energi pada belokan:
𝑣2
ℎ𝑩 = 𝑘𝐵 (14)
2𝑔
Dimana:
hB = kehilangan tinggi tekanan minor (m)
kB = koefisien kehilangan energi pada belokan
v = kecepatan aliran (m/s)
g = gaya gravitasi (m/s2)
b. Pembesaran Penampang
Perbesaran penampang mendadak dari aliran mengakibatkan kenaikan
tekanan dari p1 menjadi p2 dan kecepatan turun dari V1 menjadi V2. Pada
tempat di sekitar perbesaran penampang (1) akan terjadi olakan dan aliran
akan normal kembali mulai dari tampang (2). Di daerah antara tampang 1
dan 2 terjadi pemisahan aliran (Bambang Triatmojo :1996)
Kehilangan energi pada perbesaran penampang akan berkurang jika
pebesaran dibuat secara berangsur-angsur. dan menggunakan persamaan
di bawah ini:
𝑣12 𝑣22
ℎ𝑒 = 𝑘′ (15)
2𝑔
Dimana:
he = kehilangan tinggi tekanan minor (m)
k = faktor cabangan, belokan, dan sambungann
v = kecepatan aliran (m/s)
g = gaya gravitasi (m/s2)
c. Pengecilan Penampang
Pada pengecilan penampang yang tidak berangsur-angsur garis aliran
daerah hulu dari sambungan akan menguncup dan akan mengecil pada
vena kontraktan. Percobaan-percobaan yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa luas penampang sekitar 0.6 A2. Berdasarkan nilai ini maka
kehilangan energi dapat dihitung dengan persamaan di bawah: (dari vena
kontrakta ke pipa kecil)
𝑣2
ℎ𝑒 = 0,44 (16)
2𝑔
Dimana:
he = kehilangan tinggi tekanan minor (m)
v = kecepatan aliran (m/s)
g = gaya gravitasi (m/s2)
Kehilangan energi pada pengecilan diameter pipa dapat dikurangi dengan
memperkecil diameter pipa secara perlahan-lahan.
3. Headloss Pompa
Tekanan pompa sangat ditentukan oleh total head yang diperlukan di
lapangan. Dari berbagai komponen head tersebut, beberapa yang paling
berpengaruh meliputi: head statis, yang merepresentasikan perbedaan
ketinggian antara permukaan air; head gesek (friction head), yaitu kehilangan
tekanan akibat hambatan selama air mengalir; serta head sisa tekan, yang
berfungsi sebagai cadangan tekanan minimum yang direncanakan untuk
memastikan kinerja sistem yang stabil. Berdasarkan rumus Bernaulli untuk
menghitung head pompa dapat di lihat di Persamaan di bawah.
Hp = Hs + Hftotal + Hsisa (17)
Dimana:
Hp = tekanan total pompa (m)
Hftotal = Kehilangan tekanan pada pipa (m)
Hsisa = Sisa tekan (m)
4. Headloss Unit
Headloss unit adalah istilah yang menggambarkan penurunan tekanan atau
energi pada fluida yang mengalir di dalam pipa akibat gesekan dan gangguan
seperti sambungan, belokan, dan katup. Headloss ini menyebabkan tekanan
atau tekanan hidrolik berkurang saat fluida bergerak melalui sistem perpipaan.
𝐿 𝑉2
ℎ𝑓 = 𝑓 . . (18)
𝐷 2𝑔
Dimana:
hf = headloss akibat gesekan (m)
f = faktor gesekan
L = panjang pipa (m)
D = diameter pipa (m)
V = kecepatan aliran fluida (m/s)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/s2)
5. Daya Hidrolik Pompa
Daya hidrolik pompa adalah daya atau energi yang dibutuhkan oleh pompa
untuk mengalirkan sejumlah fluida (biasanya air) pada ketinggian tertentu
dalam satuan waktu. Daya ini disebut juga daya pompa teoritis atau daya air
(water horsepower) yang mewakili energi yang secara efektif diterima oleh
air dari pompa per satuan waktu. Daya ini dapat dihitung dengan rumus:
[Link]
HHP = (19)
75
Dimana:
HHP = daya hidrolik pompa (Hp)
y = berat spesifik cairan (kg/m3)
Hp = total head pompa (m)
6. Daya Poros Pompa
Daya poros pompa adalah daya yang harus ditransmisikan oleh poros pompa,
yang sudah memperhitungkan kerugian daya di dalam pompa sehingga
pompa bisa bekerja sesuai dengan daya air yang diperlukan. Daya poros ini
lebih besar dari daya air karena memperhitungkan efisiensi pompa.
𝐻𝐻𝑃
BHP = (20)
𝜂𝑝
Dimana:
BHP = daya poros pompa (Hp)
HHP = daya hidrolik pompa (Hp)
ηp = efisiensi pompa (60-85%)
7. Daya Penggerak Pompa
Daya penggerak pompa adalah daya yang harus disediakan oleh motor
penggerak untuk mengoperasikan pompa sehingga dapat menghasilkan daya
hidrolik tertentu pada cairan. Daya penggerak ini lebih besar dari daya
hidrolik pompa karena memperhitungkan berbagai kerugian, seperti efisiensi
pompa dan efisiensi motor penggerak.
BHP (1 + α)
Nd = (21)
ηtrans
Dimana:
Nd = daya penggerak (Hp)
BHP = daya poros pompa (Hp)
ηtrans = efisiensi transmisi pompa (75-95%)
α = faktor cadangan (untuk motor induksi 0,1-0,2)