0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Hukum Perikatan dalam Ekonomi Syariah

Dokumen ini membahas tentang hukum perikatan dalam Islam, termasuk konsep, sumber hukum, jenis-jenis akad, dan asas-asas hukum perikatan. Perikatan diartikan sebagai hubungan hukum antara pihak-pihak yang saling terikat oleh kewajiban, dan sumber hukumnya berasal dari Al-Qur'an, Sunnah, serta ijma'. Berbagai jenis akad seperti murabahah, musyarakah, dan mudharabah dijelaskan untuk menunjukkan penerapan hukum perikatan dalam transaksi bisnis syariah.

Diunggah oleh

jihannurhaliza77
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Hukum Perikatan dalam Ekonomi Syariah

Dokumen ini membahas tentang hukum perikatan dalam Islam, termasuk konsep, sumber hukum, jenis-jenis akad, dan asas-asas hukum perikatan. Perikatan diartikan sebagai hubungan hukum antara pihak-pihak yang saling terikat oleh kewajiban, dan sumber hukumnya berasal dari Al-Qur'an, Sunnah, serta ijma'. Berbagai jenis akad seperti murabahah, musyarakah, dan mudharabah dijelaskan untuk menunjukkan penerapan hukum perikatan dalam transaksi bisnis syariah.

Diunggah oleh

jihannurhaliza77
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUKUM PERIKATAN ISLAM

Jihan Nurhaliza
2404010
Dosen Pengampu
Qurrotul Ayni, M.M

Manajemen Bisnis Syariah

Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Falah

Bandung Barat

2025
A. KONSEP PERIKATAN

Perikatan dalam bahasa belanda Verbintenis berasal dari Obligatio,


Obligation (Perancis, Inggris) Verbintenis (Belanda : Ikatan/hubungan).
Verbintenis memiliki banyak pengertian diantaranya Perikatan: Masing – masing
pihak saling terikat oleh suatu kewajiban atau prestasi (dipakai oleh subekti dan
sudikno) ; Perutangan: Hubungan hutang piutang antara pihak ; Perjanjian
(Overeenkomst): dipakai oleh (Wiyono Prodjo Dikoro). Mariam Darus
Badrulzaman, bahwa perikatan dimaknai sebagai "hubungan (hukum) yang terjadi
di antara dua orang atau lebih, yang terletak di bidang harta kekayaan, dengan pihak
yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi
tersebut" (1994: 3), sedangkan hukum perikatan dimaknai sebagai seperangkat
aturan yang mengatur pelaksanaan perikatan.

Sumber hukum perikatan pada pasal 1233 KUH Perdata menyatakan ”Tiap-
tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanjian, baik karena undang-undang”.
Maknanya, perikatan bersumber dari, 1) Perjanjian, 2) Undang-Undang. Namun
demikian, perikatan juga dapat bersumber dari Jurisprudensi, Hukum Tertulis dan
Hukum Tidak Tertulis serta Ilmu Pengetahuan Hukum. Pada pasal 1234 KUH
Perdata tertulis tujuan hukum perikatan, yaitu memberikan penjelasan tentang
tujuan dari pihak-pihak yang mengadakan perikatan adalah terpenuhinya prestasi
bagi kedua belah pihak. Yang dimaksud prestasi adalah halal dan tidak
bertentangan baik itu dengan Undang-undang ataupun ketertiban umum. Prestasi
ini dapat berbentuk kewajiban memberikan sesuatu, melakukan sesuatu (jasa) atau
tidak melakukan sesuatu.

Unsur-unsur hukum perikatan terdiri dari 4 bagian. Pertama, adanya


hubungan hukum yang menimbulkan hak bagi kreditur dan kewajiban bagi debitur,
timbul dari perbuatan hukum (perjanjian, pembayaran) atau peristiwa hukum
(kelahiran, kematian). Kedua, kekayaan yang menjadi bagian dari hukum harta
kekayaan, setiap perbuatan hukum yang dapat dinilai dengan uang termasuk
perikatan. Ketiga, subjek/pihak-pihak yang terdiri dari kreditur (berhak atas
prestasi) dan debitur (berkewajiban), minimal satu kreditur atau debitur, bisa lebih
dari satu. Keempat, objek/prestasi yaitu memberi sesuatu, berbuat sesuatu, atau
tidak berbuat sesuatu (pasal 1234 BW), syarat objek dapat ditentukan/tertentu,
diperbolehkan hukum, dapat dinilai uang, dan mungkin dilaksanakan. Dengan
terpenuhinya keempat unsur ini, maka mampu melahirkan hubungan hukum /
perikatan yang sah antara para pihak.

Pengaturan hukum perikatan yang lahir karena undang-undang diatur dalam


Buku Ketiga Bab III KUH Perdata, dalam Pasal 1352 sampai dengan Pasal
[Link] juga mendasarkan pada ketentuan Pasal 1233 KUH Perdata yang
menyatakan, “Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena
undang-undang”. Maknanya, hubungan hukum yang terkait harta kekayaan dapat
terjadi secara tiba tiba, yang dikehendaki para pihak ataupun tidak dikehendaki,
hubungan hukum yang muncul secara tiba-tiba atau tanpa adanya kesepakatan
biasanya terjadi karna adanya suatu peristiwa atau keadaan yang diatur oleh
undang-undang. Hal tersebut melahirkan kewajiban atau prestasi yang harus
dipenuhi oleh pihak-pihak.

a. Jenis-jenis Akad

Dalam sistem ekonomi Syariah, terdapat berbagai jenis akad yang digunakan
untuk mengatur berbagai transaksi dan aktivitas bisnis. Berikut jenis-jenis akad
dalam sistem ekonomi syariah :

1. Murabahah: Akad jual beli dengan keuntungan yang dijelaskan, dimana penjual
menginformasikan terlebih dahulu kepada pembeli tentang keuntungan yang akan
diperoleh oleh penjual dan pembeli menyetujui harga beserta keuntungannya. Akad
ini sering digunakan oleh pembiayaan syariah atau perbankan seperti dalam jual
beli kendaraan atau properti, tanpa melibatkan unsur riba.

2. Musyarakah: Akad kerja sama bisnis dengan pembagian keuntungan dan


kerugian ditanggung bersama-sama sesuai dengan kesepakatan diawal, kedua belah
pihak sama-sama menjalankan usahanya. Akad ini menggambarkan prinsip
kebersamaan, saling berbagi, dan menciptakan rasa tanggung jawab dalam
mengelola bisnis dan hasilnya.

3. Mudharabah: Akad investasi dengan pembagian keuntungan, menggambarkan


interaksi antara pemilik modal (Shahibul mal) dan pengelola modal (Mudharib)
untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan
(nisbah), sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal dengan catatan
kerugian bukan karena kelalaian pengelola.

4. Ijarah: Akad sewa menyewa, menggambarkan interaksi antara dua pihak atau
lebih penyewa (mustajir) yang menggunakan barang atau jasa yang disediakan oleh
pihak penyedia sewa (mu’jir) dengan membayarkan sejumlah uang sewa yang telah
disepakati di awal. Akad ini mencegah praktik riba karena tidak adanya unsur bunga
dalam transaksi

5. Salam dan Istishna: Akad pemesanan, salam adalah akad pemesanan dimana
pembeli (muslam ilayh) memberikan uang muka di awal untuk mendapatkan
barang atau komoditas tertentu. Istishna adalah bentuk pra-jual yang lebih berfokus
pada pembuatan barang sesuai pesanan, pembayaran dapat dicicil / uang dimuka.
Adanya uang muka diawal dapat membantu produsen mendapatkan bantuan uang
modal dan memberikan manfaat untuk mencegah adanya praktik riba.

Berikut perbedaan utama antara akad salam dan akad istishna:

 Waktu transaksi: Akad salam membayar uang dimuka dan barang menyudul di
masa depan sesuai dengan kesepakatan diawal sedangkan Akad istishna
menerima pesanan terlebih dahulu lalu barang dibuatkan setelah pesanan
diterima sehingga barang diterima dimasa depan setelah barang selesai dibuat
dan untuk pembayarannya dapat dibayar diawal ataupun dicicil atau dibayar
setelah barang dibuat.
 Penggunaan akad: Akad salam digunakan dalam transaksi komoditas atau
barang yang tersedia di pasar dengan jelas dan dapat diukur, seperti biji-bijian
atau logam berharga. Sedangkan istishna lebih umum digunakan dalam
transaksi yang melibatkan produksi barang khusus sesuai pesanan, seperti
pembuatan peralatan khusus atau proyek konstruksi.
 Keuntungan: Dalam akad salam keuntungan dapat diperoleh dari membeli
barang dengan harga murah dan bisa menjualnya dengan harga yang tinggi
dimasa depan. sehingga potensi spekulasi menjadi hal yang penting. Akad
salam bisa lebih menguntungkan pembeli namun mempunyai resiko yang
tinggi. Keuntungan dalam akad istishna biasanya lebih terkait dengan keahlian
dalam produksi barang sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh pembeli,
sehingga akad ini lebih menguntungkan untuk produsen karena lebih bisa
fleksibel, harga bisa diatur dan bisa memberikan harga yang lebih tinggi.

b. Asas-asas dalam hukum perikatan

Asas-asas dalam hukum perikatan diatur dalam Buku III KUH Perdata, yakni
menganut azas kebebasan berkontrak dan azas konsensualisme.

1. Asas kebebasan berkontrak terlihat di dalam Pasal 1338 KUHP Perdata


yang menyebutkan bahwa segala sesuatu perjanjian yang dibuat adalah sah
bagi para pihak yang membuatnya dan berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.

2. Asas konsensualisme, artinya bahwa perjanjian itu lahir pada saat


tercapainya kata sepakat antara para pihak mengenai hal-hal yang pokok
dan tidak memerlukan sesuatu formalitas. Dengan demikian, azas
konsensualisme lazim disimpulkan dalam Pasal 1320 KUHP Perdata

Untuk sahnya suatu perjanjian atau akad diperlukan 4 syarat, yaitu :

1. Kata sepakat antara pihak yang mengikatkan diri yakni yang mengadakan
perjanjian harus seia sekata.
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian yaitu telah dewasa (21 tahun) dan
tidak dibawah pengampuan
3. Mengenai suatu hal tertentu yaitu apa yang dijanjikan harus jelas dan terinci
(jenis, jumlah, dan harga) agar tidak terjadi perselisihan dimasa yang
mendatang.
4. Suatu sebab yang halal yaitu isi perjanjian harus mempunyai tujuan yang
diperbolehkan oleh undang-undang, kesusilaan, atau ketertiban umum.

B. SUMBER HUKUM

Peter Mahmud Marzuki dalam Pengantar Ilmu Hukum menjelaskan bahwa


sumber hukum adalah bahan-bahan yang digunakan sebagai dasar oleh pengadilan
dalam memutus perkara (hal 255). Jimly Asshiddiqie dalam Pengantar Ilmu
Hukum Tata Negara, menerangkan bahwa sumber hukum berasal dari “dasar
hukum”, “landasan hukum”, ataupun “payung hukum”. Dasar hukum atau landasan
hukum adalah legal basis atau legal ground, yaitu norma hukum yang mendasari
suatu tindakan atau perbuatan hukum tertentu sehingga dapat dianggap sah atau
dapat dibenarkan secara hukum (hal 121). Sesuatu yang menjadi lahirnya,
berlakunya, atau diterapkannya hukum adalah sumber hukum baik secara norma
hukum (undang-undang) atau praktik hukum (pengadilan).

Macam-macam sumber hukum:

1. Sumber hukum materiil adalah sumber hukum yang berkaitan dengan


materi atau subtansi hukum. Hal yang mempengaruhi terjadinya
pembentukan hukum ada karena kondisi sosial dan ekonomi, tradisi dan
agama, dan penelitian ilmiah.
Contoh: Pandangan keagamaan yang menjadi moral
2. Sumber hukum formil adalah sumber hukum yang ditetapkan melalui
tahapan-tahapan yang formal. Yaitu, undang-undang, adat istiadat,
yurisprudensi, traktat internasional, doktrin.
Contoh: Kebiasaan yang telah diterima oleh masyarakat sebagai hukum.
a. Sumber Hukum dalam Perikatan Islam

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan aturan-aturan


kehidupan yang kompleks, mencakup berbagai aspek dalam kehidupan kita.
Mengatur hubungan manusia dengan sang maha pencipta (Allah), dan hubungan
manusia dengan manusia. Sandaran utama dalam agama islam yaitu Al-Qur’an.

[Link]-Qur’an

Hubungan manusia dengan manusia lainnya yang timbul dalam bentuk akad
atau perikatan juga telah diatur dalam al-qur’an, ayat al-qur’an yang berhubungan
dengan istilah akad atau perjanjian telah disebut dalam Q.S Al – Maidah ayat 1:

‫علَ ۡي ُﻜﻢۡ غ َۡي َر ُمﺤِ لِّى ال ﱠ‬


‫ص ۡي ِد َوا َ ۡنـتُﻢۡ ُح ُر ٌمؕ ا ﱠِن‬ َ ۡ ُ‫ٰۤيـاَيﱡ َها الﱠذ ِۡينَ ٰا َمنُ ۡۤوا اَ ۡوفُ ۡوا ِب ۡالعُقُ ۡو ِدؕاُحِ لﱠ ۡت لَـ ُﻜﻢۡ بَ ِه ۡي َمة‬
َ ‫اﻻ ۡن َع ِام ا ﱠِﻻ َما يُ ۡت ٰلى‬
١- ُ‫ﱣ َ يَ ۡﺤ ُﻜ ُﻢ َما ي ُِر ۡيد‬

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji! Hewan ternak dihalalkan


bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan
berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah
menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.” Q.S Al-Maidah:1.
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap mukmin wajib memenuhi akad atau
perjanjian yang telah dibuatnya, baik itu perkataan atau perbuatan. Walaupun
kerelaan sifatnya tersembunyi dihati, tetapi ada indikator dan tanda yang mampu
dilihat.
[Link] Nabi / Hadits
Setelah Al-Qur’an Sunnah nabi menjadi sandaran hidup kedua. Hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan sifat, yaitu al Qur’an bersifat Qhat’i al wurud,
sedangkan sunnah bersifat Dhanni al wurud. Adapun pengertian sunnah secara
bahasa sunnah memiliki arti jalan, kebiasaan, perilaku. Secara istilah (Usul Fiqh)
adalah segala yang disandarkan Rasulullah S.A.W baik itu perkataan, perbuatan,
dan ketetapan.
Fungsi sunnah dalam hukum perikatan yaitu:
1. Sunnah menguatkan pesan-pesan hukum yang terkandung dalam al-Quran.
Dalam hal ini sunnah menjadi ta’kid (penguat) dengan cara menjelaskan
hukumnya, menjelaskan bahasa yang timbul karna suatu perbuatan yang
dilarang dan memberi peringatan bagi pelaku yang melakukan perbuatan
terlarang atau meninggalkan kewajibannya, menegaskan amalan atau
kewajiban yang perlu dilakukan secara konsisten dan memperingatkan
penolakan terhadap amalan yang dilarang, menerangkan posisi kewajiban
dan larangan dalam syari‟at Islam.
2. Sunnah menjelaskan dan menjabarkan pesan-pesan hukum tersebut.
Mengikat makna-makna yang bersifat lepas, yang terkandung dalam ayat-
ayat al Qur’an, seperti pergelangan tangan yang ditunjuk oleh sunnah
sebagai penjelasan teradap “yadun” yang terdapat dalam QS. Al Maidah
ayat 38. Mengkhususkan ketetapan yang disebutkan secara umum dalam
nash-nash al Qur’an, seperti bayan al gharar sebagai pengecualian atas
dihalalkannya jual beli yang tersebut dalam QS al Baqarah ayat 275.
Menjelaskan mekanisme pelaksanaan dari ketetapan al Qur’an, seperti tata
cara pelaksanaan shalat, haji, puasa dan kewajiban-kewajiban lainnya.
3. Sunnah menetapkan sendiri pesan-pesan dalam hukum yang belum diatur
dalam al-Quran. Sunnah melakukan tasyri’ yang boleh dikata sebagai
tambahan atas hukum-hukum yang tersurat dalam al Quran, seperti larangan
memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkaki
menyambar sebagai tambahan atas empat jenis hewan yang diharamkan
untuk dimakan dalam al Qur’an.
Selain itu, prinsip sunnah dalam perikatan islam yaitu:
1. Al-muslimun’ala syurutihim dimana umat islam wajib memenuhi syarat
akad.
2. La dharar wa la dhirar tidak boleh merugikan orang lain.
3. Ridha bermakna setiap akad harus berdasarkan kerelaan bersama (taradhi).
4. Amanah artinya setiap akad yang kita diperbuat kelak akan diminta
pertanggungjawaban didunia dan akhirat.
3. Ijma’ (Konsesus Ulama)

Ijma ialah sebuah metode dari mujtahidin untuk menetapkan sebuah hukum,
sebuah persoalan hukum yang tidak ada didalam Al-Qur’an dan Hadits sehingga
landasan hukum itu disebut Ijma. Ijma secara bahasa atau lughah memiliki definisi
sebagai mengumpulkan perkara kemudian memberi hukum atas perkara tersebut
dan meyakininya. ijma menurut istilah diartikan sebagai kebulatan pendapat
seluruh ahli ijtihad sesudah wafatnya Rasulullah SAW pada suatu masa atas hukum
syara (Madjid, 67). Hal ini yang menjadikan ijma menjadi sumber hukum ketiga
setelah Al-Qur’an dan Hadits dikarenakan wafatnya Rasulullah SAW, yang muncul
atas kebingungan umat mempertanyakan penyelesaian dari suatu permasalahan.
Diperkirakan muncul dimasa kepemimpinan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan di
masa kepemimpinan Utsman bin Affan. Akad yang status hukumnya ditetapkan
melalui ijma:

1. Jual beli (al-bay’) para ulama sepakat bahwa jual beli yang memenuhi rukun
dan syaratnya adalah halal dan sah
2. Sewa menyewa (ijarah) disepakati kebolehannya selama manfaat dan harga
jelas
3. Mudharabah (qiradh) disepakati sah, meskipun pembagian keuntungan
dilakukan setelah usaha berjalan.
4. Wakalah, Rahn, Kafalah, Hawalah diperkuat kedudukannya melalui ijma.

Fungsi dan tujuan ijma:

1. Menjaga konsistensi hukum: Agar umat islam tidak berselisih setiap kali
muncul permasalahan baru.
2. Menyatukan pandangan ulama: Menjembatani perbedaan madzhab dengan
prinsip kemaslahatan.
3. Menjadi legitimasi sosial: Memberikan otoritas keilmuan terhadap hukum
yang sudah disepakati.
4. Menjadi dasar pengembangan hukum islam

Dalil kehujjahan ijma dalam Al-Qur’an salah satunya dalam Q.S An-Nissa:59

ِ ‫ﻲءٍ فَ ُرد ْﱡوهُ اِلَى ﱣ‬ َ ْ ‫الرس ُْو َل َواُولِى‬


َ ‫اﻻ ْم ِر مِ ْن ُﻜ ۚ ْﻢ فَا ِْن تَنَازَ ْعت ُ ْﻢ فِ ْﻲ‬
ْ ‫ﺷ‬ ‫ٰيٓاَيﱡ َها الﱠ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْٓوا اَطِ ْيعُوا ﱣ َ َواَطِ ْيعُوا ﱠ‬
ࣖ ْ
‫س ُن تَأ ِوي ًْﻼ ۝‬ َ ْ‫اﻻخِ ۗ ِر ٰذلِكَ َخي ٌْر ﱠواَح‬
ٰ ْ ‫س ْو ِل ا ِْن ﻛُ ْنتُ ْﻢ تُؤْ مِ ن ُْونَ ِبا ﱣ ِ َوا ْل َي ْو ِم‬
ُ ‫الر‬
‫َو ﱠ‬
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi
Muhammad) serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu
berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan
Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian
itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). Q.S An-
Nissa: 59.

Melalui ayat ini allah memerintah kita untuk taat kepada Allah dengan mengimani
Al-Qur’an sebagai wahyu-Nya, mentaati Rasul-Nya dengan mengikuti Sunnahnya,
dan kepada Ulil Amri. Beberapa ulama mengartikan ulil amri disini adalah Ulama
Mujtahidin yang bersepakat dan menetapkan hukum (Ijma).

C. AKAD TIJARAH

Istilah tijarah berasal dari bahasa Arab yang artinya perniagaan, dan bisnis.
Sementara secara istilah, pengertian akad tijarah adalah jenis akad yang bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan dengan memenuhi syarat dan unsur-unsur
syariah. Akad tijarah kerap dikenal sebagai akad perdagangan atau bisnis. Sebab,
pada akad tijarah terjadi perjanjian atau kesepakatan antara dua pihak untuk
melakukan transaksi jual-beli berdasarkan ekonomi Islam. Dalam konsep akad
tijarah, harus memperhatikan nilai-nilai keadilan dan kejujuran. Adapun hukum
akad tijarah adalah mubah atau diperbolehkan. Dasar hukum terkait tijarah
tercantum dalam Q.S An Nisa ayat 29

َ ُ‫اض ِ ّم ْن ُﻜ ۗ ْﻢ َو َﻻ ت َ ْقتُلُ ْٓوا اَ ْنف‬


َ ‫س ُﻜ ۗ ْﻢ ا ﱠِن ﱣ‬ ٍ ‫ع ْن ت ََر‬ ٓ ‫ٰيٓاَيﱡ َها الﱠ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا َﻻ ت َأْﻛُلُ ْٓوا ا َ ْم َوا َل ُﻜ ْﻢ بَ ْينَ ُﻜ ْﻢ بِ ْالبَاطِ ِل ا ﱠ‬
َ ‫ِﻻ ا َ ْن ت َ ُﻜ ْونَ تِ َج‬
َ ً‫ارة‬
‫ﻛَا َن بِ ُﻜ ْﻢ َرحِ ْي ًما ۝‬

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta


sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (Q.S An Nisa: 29)
Berdasarkan ayat tersebut Allah memerintahkan bahwa dalam jual-beli
barang atau jasa, antara penjual dan pembeli harus suka sama suka, tanpa adanya
paksaan. Adapun macam-macam akad tijarah:

 Akad Murabahah: Transaksi jual-beli dengan keuntungan yang jelas


dinyatakan sejak awal. pemilik modal berkontribusi sebesar 100% dari
kebutuhan, sedangkan pengelola usaha (mudharib) berkontribusi dalam hal
keahlian mengelola dana dari pemodal.
 Akad Salam: Pembayaran dimuka dengan pengiriman barang di kemudian
hari. Jenis ini umum ditemukan saat bertransaksi di marketplace.
 Istishna: Pembeli melakukan pemesanan terlebih dahulu. Pembuatan barang
dengan spesifikasi tertentu sesuai permintaan pembeli.
 Musyarakah atau syirkah: Bentuk kerja sama di mana masing-masing pihak
memberikan kontribusi dana. Keuntungan dibagi berdasarkan nisbah yang
disepakati, sedangkan kerugian ditanggung oleh para pihak sebesar
partisipasi modal yang disertakan dalam usaha.
 Ijarah: bentuk kerja sama di mana seseorang memanfaatkan kegunaan suatu
barang atau jasa dalam waktu tertentu. Contohnya sewa kendaraan.
 Sharf: bentuk akad tijarah di mana transaksi dilakukan dalam mata uang
yang berbeda dan hanya dilakukan secara tunai. Contoh transaksi valas
(valuta asing).

Anda mungkin juga menyukai