0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan85 halaman

Aplikasi Teknik: Pengukuran dan Volume Tanah

Dokumen ini membahas aplikasi teknik dalam pengukuran profil, hitungan luas, dan volume tanah menggunakan metode geodesi dan SIG. Topik yang diuraikan mencakup prinsip pengukuran tinggi, penggambaran profil memanjang dan melintang, serta metode hitungan luas dan volume tanah. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pentingnya data spot height dan teknik staking out dalam perencanaan proyek teknik sipil.

Diunggah oleh

figofabianahmad
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan85 halaman

Aplikasi Teknik: Pengukuran dan Volume Tanah

Dokumen ini membahas aplikasi teknik dalam pengukuran profil, hitungan luas, dan volume tanah menggunakan metode geodesi dan SIG. Topik yang diuraikan mencakup prinsip pengukuran tinggi, penggambaran profil memanjang dan melintang, serta metode hitungan luas dan volume tanah. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pentingnya data spot height dan teknik staking out dalam perencanaan proyek teknik sipil.

Diunggah oleh

figofabianahmad
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Geomatikan dan SIG

Minggu ke-5

Engineering applications:
Pengukuran profil, hitungan luas, volume tanah, stake out

Abdul Basith

abd_basith@[Link] L O C A L LY R O O T E D , G L O B A L LY R E S P E C T E D
Topik

• Engineering application: pengukuran profil, hitungan luas


• Pengukuran profil memanjang dan melintang dan
penggambarannya
• Pengukuran/hitungan luas dengan berbagai metode luas
• Engineering application: hitungan volume tanah, staking
out
• Hitungan volume tanah dengan berbagai metode
• Diagram Mass Haul
• Staking out dari hasil perencanaan
4
3

Bagaimana menghitung 6
luas polygon?

11

Obyek, volume kontur 1


dll? 7

11.A

10
8
9
PRINSIP LEVELLING
• Di dalam geodesi , pengukuran tinggi atau beda tinggi dilakukan
dengan cara sipat datar (levelling)

Alat Sipat Datar

m
B

b
dH

A
dH = beda tinggi
dH = b - m
PRINSIP PENGUKURAN TINGGI BM TERHADAP MSL

m2
b2

BM
m1
b1 dH1

H1
PEIL

MSL dH

t
SPOT HEIGHT

• UNTUK PENENTUAN VOLUME TANAH YANG BERSIFAT LUASAN


BIASANYA DIPERLUKAN DATA SPOT HEIGHT YAITU TITIK-TITIK TINGGI
DALAM BENTUK GRID BUJUR SANGKAR PADA SUATU LUASAN
TERTENTU
• DATA TINGGI TITK-TITK SPOT HIEGHT DAPAT DIPEROLEH DARI
PENGKURAN LEVELLING ATAU DARI PETA TOPOGRAFI
• gridding
PENGUKURAN SPOT HEIGHT
PROFIL MUKA TANAH ASLI
PENGUKURAN PROFIL MEMANJANG RENCANA JALAN RAYA
DENGAN LEVELLING

arah pengukuran

center line rencana jalan

20

3
1 2
skala 1 : 200
tinggi permukaan tanah

+ 150 m

168,9
166,5

167,4
160

161

162

165
tinggi (m)

titik / jarak (m) 50 m 50 m 50 m 50 m 50 m

3
1 2 jarak center line rencana jalan 20
skala 1 : 2000
PENGUKURAN PROFIL MELINTANG SALURAN

A1

A1 A2 A3 A 1, A2, A3, DST = P E N A M P A N G M E L IN T A N G

As saluran
GAMBAR PROFIL MELINTANG DI A1

skala 1 : 200
+ 150,00 m

152,6

151,9

148,5

148,2

147,3

153,3

154,5
Tinggi / Elevasi (m)

Titik & Jarak (m) 10,5 2 8,4 3 7,6 12,6

skala 1 : 200
Cross- section sungai
SIPAT DATAR MEMANJANG =
LONGITUDINAL LEVELLING/SECTIONING
• Tujuan:
• Mendapatkan profil asli tanah
secara memanjang
• Kegunaan:
• untuk kegunaan earthwork seperti
penentuan desain profil proyek
(jalan, pipa, kabel), hitungan cut &
fill
Beberapa ilustrasi lainnya
Pengukuran Profil Memanjang

• Berapa tinggi
BM 461?
Pengukuran Profil Melintang
• Tujuan:
• Untuk mendapatkan penampang asli
permukaan tanah secara melintang
pada titik-titik sepanjang profil
memanjang
• Kegunaan:
• Untuk hitungan volume antar penggal
rencana jalan
• Untuk acuan desain profil jalan
Beberapa ilustrasi lainnya
Longitudinal and cross sections
GAMBAR PROFIL
• Di dalam penggambaran profil , sumbu mendatar adalah
untuk jarak dan sumbu vertikal adalah untuk elevasi/tinggi
muka tanah asli
• Pada profil memanjang , Skala tinggi biasanya dibuat lebih
besar dibanding skala jarak, karena beda tinggi biasanya
relatif lebih kecil dari panjang proyek. Misalnya skala tinggi
1 : 200 dan skala jarak 1 : 5000.
• Pada profil melintang, skala tinggi bisa dibuat sama dengan
skala jarak.
Penggambaran Profil
Penggambaran Profil tanah asli

• Dengan cara
memproyeksikan ke
bidang datar
• Sumbu mendatar
• Jarak
• Sumbu tegak
• Tinggi tanah dari refrensi
Penggambaran Profil Memanjang

[Link]
Penggambaran Profil Memanjang
Profil memanjang dari peta kontur: Civil 3D

[Link]
Profil memanjang dari peta kontur Alignment jalan
Profil memanjang dari peta kontur
PROFIL DARI KONTUR
• Dari kontur dapat dibuat profil suatu lintasan garis
• Gambar profil/penampang topografi sepanjang AB dari kontur

A B
20

15

10
5

20

15

10

5
B

A
Penggambaran Profil melintang

[Link]
Desain jalan
Hitungan luas

• Secara grafis: planimeter


• Metode simpson
• Numeris:
• Input koordinat
PENENTUAN LUAS DENGAN METODE SIMPSON

• L = d/3[hpertama+hterakhir +2Σhganjil +4Σhgenap]

h1 h2 h6
h9

Catatan :
[Link] ofset harus ganjil (h)
[Link] ofset (d) harus teratur
PENENTUAN LUAS DENGAN METODE SIMPSON

4,0
3,5
R
45 4,5
8,,5
10
35 5,8
8,4
20
25 6,5
8,4
15 30 6,6
2,0
5 11 40
P 35 5,8
73 60
4,0 85 4,0
98 50
123
8,0 60
5,5 4,0 4,5
Q

Hasil pengukuran dengan angka-angka ukur seperti disajikan dalam gambar


Panjang garis PQ = 123 m; panjang QR = 60 m; panjang RP = 45 m.
Hitunglah luas area yang dibatasi : sungai – jalan – garis (putus) RP
Hitungan luas metode numeris
• Dengan angka koordinat
• Titik A,B,C,D, diketahui koordinatnya Y

B
• Luas ABCD = luas trapesium XAABXB + YB
luas trapesium XBBCXC – luas trapesium
XAADXD – luas trapesium XDDCXC. YC C
A
YA
Luas =
YD D
½ (XB – XA)(YB + YA) + ½ (XC – XB)(YC +
YB) - ½ (XD – XA)(YD + YA) – ½ (XC –
XD)(YC+YD)
XA X B XD XC X
Konsep hitungan luas metode numeris

Luas =
½ (XB – XA)(YB + YA) + ½ (XC – XB)(YC + YB) - ½ (XD – XA)(YD + YA) – ½ (XC –
XD)(YC+YD)

2 L = [ (Xn – Xn-1) ( Yn + Yn-1)]

Atau jika diproyeksikan ke sumbu Y menjadi :


2 L = [ (Yn – Yn-1) ( Xn + Xn-1)]
Contoh-1
Y
3
2 titik X (m) Y(m)
1 0 0
1 2 71 71
0,0 X
3 163 148
4 263 -25
4

2L = [Xn(Yn – Yn+1)]
L = 0,5 [ X1( Y2 – Y4) + X2 ( Y3 – Y1 ) + X3 (Y4 – Y2 ) + X4 (Y1 – Y3 )]
0,5 [ 0 + 71 (163) + 148(263 – 71 ) + (-25)(0 – 163) ]
0,5 [ 11573 + 28416 + 4075 ]
22032 m2
Catatan untuk memudahkan mengingat rumus
X1 Y1
X2 Y2
Y1.X2 X3 Y3 X1.Y2

Y2.X3 X4 Y4 X2.Y3

Y3.X4 X1 Y1 X3.Y4

Y4.X1  ([Link]+1) X4.Y1


([Link]+1)

L = 0,5 [([Link]+1) -  ([Link]+1)]


• 2L = [ (Yn – Yn-1) ( Xn + Xn-1)]
• L = 0,5 [ X1( Y2 – Y4) + X2 ( Y3 – Y1 ) + X3 (Y4 – Y2 ) + X4 (Y1 – Y3 )]
• 0,5 [ 0 + 71 (163) + 148(263 – 71 ) + (-25)(0 – 163) ]
• 0,5 [ 11573 + 28416 + 4075 ]
• 22032 m2

0 0

71 71
0 +10508 – 4075 + 0 = 6433
163 148
0 +11573 +38924 +0 = 50497
263 -25
2 L = 44064
0 0
L = 22032
 ([Link]+1
([Link]+1) )
Rumus hitungan luas

[Link]
Luas dari data raster dan vector?

• Luas dari data vector


• Metode numeris/koordinat
• Luas dari data raster
• Jumlah pixel x resolusi pixel
Topik Bagian ke-2

• Engineering application: hitungan volume tanah, staking


out
• Hitungan volume tanah dengan berbagai metode
• Diagram Mass Haul
• Staking out dari hasil perencanaan
Volume benda beraturan
Pengukuran profil memanjang dan melintang

• Untuk pekerjaan desain dan konstruksi proyek teknik sipil seperti jalan
raya, jalan kereta api, bandara, saluran irigasi , pemasangan pipa , saluran
transmisi lisytik, dll., diperlukan data profil permukaan tanah asli

• Profil permukaan tanah asli yang memanjang searah sumbu proyek (center
line) disebut profil memanjang ( longitudinal section). Panjang profil
memanjang adalah sepanjang sumbu proyek.

• Profil permukaan tanah asli yang tegak lurus sumbu proyek disebut cross-
section atau profil melintang. Lebar profil melintang yang diukur dari
center line tergantung pada kebutuhan yang diperlukan untuk desain.
Misalnya untuk jalan raya bisa mencapai 100 m ke kiri dan ke kanan dari
center line
[Link]
PENGUKURAN SLOPE (LERENG)
• SLOPE GARIS ANTARA TITIK A DAN B β ADALAH BEDA
TINGGI TITIK A DAN B DIBAGI JARAKNYA. SLOPE BISA
DINYATAKAN DALAM SATUAN % ATAU SATUAN SUDUT
dH
• B
β = ----- x 100 %
• D
dH

β β = tan-1 dH/D
A
D
GRADIEN
• UNTUK MENYATAKAN KEMIRINGAN SUATU
BIDANG
• BESAR GRADIEN DINYATAKAN DALAM SLOPE KE
ARAH BARAT-TIMUR DAN UTARA –SELATAN
• G (X,Y) = (X-SLOPE )2 + (Y-SLPOE)2
Xslope
• ARAH GRADIEN , α = [Link]
Yslope
PENGUKURAN PROFIL MELINTANG UNTUK CUT DAN FILL
HITUNGAN VOLUME

• PADA SETIAP PEKERJAAN KONSTRUKSI SELALU DIPERLUKAN


PEKERJAAN TANAH (EARTHWORKS) YAITU PEKERJAAN GALIAN (CUT)
DAN TIMBUNAN (FILL), UNTUK ITU HITUNGAN VOLUME CUT DAN
FILL MENJADI SANGAT DIPERLUKAN

• ADA 2 TIPE PEKERJAAN TANAH


• PEKERJAAN TANAH YANG SEMPIT DAN PANJANG DENGAN KEDALAMAN YANG
BERBEDA ,MISAL GALIAN UNTUK SALURAN ATAU TANGGUL UNTUK SALURAN
MAUPUN JALAN

• PEKERJAAN TANAH YANG LEBAR DAN RATA SEPERTI WADUK, LAPANGAN OLAH RAGA
DAN TEMPAT PARKIR, PERUMAHAN, ATAU PEMBANGUNAN PABRIK.
HITUNGAN VOLUME TUBUH TANAH
ADA 3 CARA

1. DENGAN PENAMPANG MELINTANG (CROSS-SECTION)


2. DENGAN GARIS KONTUR
3. DENGAN SPOT LEVEL (SPOT HEIGT) DARI DATA SIPAT
DATAR
LANGKAH HITUNGAN SECARA UMUM :
• HITUNG LUAS TIAP PENAMPANG
• HITUNG VOLUME
GAMBAR PENAMPANG UNTUK MENGHITUNG
TIMBUNAN

Muka Tanah Rencana


A.2 = Luas Penampang
di 9 + 00

9 + 00
d
Muka Tanah Asli

8 + 00
A.1 = Luas Penampang Muka Tanah Asli
di 8 + 00
GAMBAR PENAMPANG UNTUK MENGHITUNG
VOLUME GALIAN

A.2

d Muka Tanah Asli

A.1

Muka Tanah Asli

Muka Tanah Rencana


PENAMPANG CUT and FILL

galian timbunan

galian
timbunan
RUMUS VOLUME END AREA

• Untuk galian (Cut) ataupun Timbunan


( Fill) , rumus Volume End Area adalah :
( A.1 + A.2)
V = -------------- x d
2
A.1 dan .A.2 = luas penampang, dapat dihitung dan d =
jarak antar cross-section
HITUNGAN VOLUME METODE CROSS-SECTION
MENGGUNAKAN RUMUS PRISMOIDA

• V = d/3[A.1+A.2+4.M ] m3

A.2

A.1 d

A.1 = Luas Penampang awal


A.2 = Luas Penampang akhir
d = Jarak antar penampang
M = Luas penampang tengah, bukan rata-rata A.1 dan A.2

d
HITUNGAN VOLUME METODE CROSS-SECTION
MENGGUNAKAN RUMUS SIMPSON

• V = d/3[A.1+A.5+2.A.3+4x(A.2+A.4)] m3
A = Luas Penampang A.5
d = Jarak antar penampang
biasanya dibuat sama
A.4

d
A.3

A.2

A.1

Jumlah penampang
dihitung ganjil
VOLUME DARI KONTUR RUMUS SIMPSON

A3 A2 2

3
A4 1
A5
5 4 A1

Ci = interval kontur

A1 = luas yang dibatasi kontur 1


diukur dengan planimeter

• V = Ci/3[A1+A5+2A3+4(A2+A4)]
VOLUME DARI 3 KONTUR DIHITUNG DIHITUNG DENGAN
RUMUS PRISMOIDA

• V = Ci/3(A1+4M+A2)
A2

Ci
M

Ci

A1
LUAS PENAMPANG
• SEBELUM MENGHITUNGAN VOLUME SEPERTI RUMUS- RUMUS DI ATAS, PADA TAHAP
AWAL ADALAH MENENTUKAN LUAS TIAP PENAMPANG.
• PADA SEMUA PENAMPANG MELINTANG DIKETAHUI :
• LEBAR FORMASI : w
• KEMIRINGAN TALUD ( 1 : s ) DARI SETIAP GALIAN ATAU TIMBUNAN (SESUAI DESAIN)
dan
• TINGGI TIMBUNAN/GALIAN (c)
• 1 : k , kemiringan tanah asli
• 1 : m , kemiringan tanah asli yang kedua

• YANG TIDAK DIKETAHUI ADALAH :LEBAR TOTAL D, YANG TERGANTUNG c.

ADA BEBERAPA TIPE PENAMPANG SEPERTI KASUS-KASUS BERIKUT :


PENAMPANG MENDATAR BERBENTUK TRAPESIUM
( PERMUKAAN TANAH ASLI MENDATAR ATAU ONE LEVEL SECTION PADA GALIAN
ATAU TIMBUNAN )

• D= cs + w + cs
• D = 2 cs + w
• Luas trapesium = [( D + w)/2] x c
• Luas trapesium = [(2 cs + w + w)/2] x c
Luas trapesium = (cs + w) c
ketinggian formasi

• w

s
c
1

Muka Tanah Asli


timbunan
galian
D
GAMBAR PENAMPANG PERMUKAAN TANAH ASLI MIRING

timbunan
• w ketinggian formasi

s permukaan tanah asli miring

c 1

1:k

D Muka Tanah Asli

1:k

c 1

galian s

w
PENAMPANG PERMUKAAN TANAH ASLI MEMPUNYAI 2
KEMIRINGAN

• Galian

1:m

1:k

c
1:s

w
Rencana galian untuk bangunan pabrik

35
34
5

4 4
36 3
3
2 2
4 D
C
33

3
2 2

32
1

A B

36 35 34 33 32 32 33 34 35 36
Skala 1 : 500
PROSES HITUNGAN
• ABCD adalah rencana bangunan pabrik dengan ketinggian lantai +32, 00
[Link] penggalian untuk pembangunan tersebut. Lereng galian
pekerjaan tanah adalah 1 : 2
• Kontur-kontur pekerjaan tanah digambarkan pada selang vertikal 1 meter,
jadi terpisah 2 m secara horisontal (lihat garis biru)
• Irisan permukaan didapat dan garis bentuk galian digambar dalam garis
putus-putus
• Luas di dalam masing-masing kontur dapat dihitung dengan berbagai cara,
misalnya dengan [Link] 32 m dibatasi oleh A1CD, kontur 33 m
oleh semua titik dengan nomer 2, kontur 34 m oleh semua titik dengan
nomer 3, kontur 35 m oleh semua titik nomer 4, sedang kontur 36 m (titik 5
) tidak mempunyai luas
• Misal luas masing-masing kontur adalah: (32) = 315 m2, (33) = 294,5 m2,
(34) = 125 m2 , kontur (35) = 30 m2 dan (36) = 0 m2, maka volume galian
dengan rumus Simpson :
• V=1/3[315 +0+2x125+4(294,5+30)] = 621,0 m2
METODE SPOT HEIGHT ATAU
BORROW PIT
• UNTUK VOLUME PEKERJAAN TANAH SKALA BESAR SEPERTI
LAPANGAN TERBANG, ATAU LAPANGAN OLAH RAGA ATAU PABRIK
BESAR, PENENTUAN VOLUME PEKERJAAN TANAH BIASANYA
DILAKUKAN DENGAN METODE BORROW PIT DARI DATA SPOT HEIGHT
MENGHITUNG VOLUME DARI DATA SPOT
HEIGHT

94,0 95,0
91,0 93,0 94,0 95,0

A B C D
3
2 cm 1 2 3

92,5 92,0 92,0 93,0 92,0 93,0

E F G H
4 5 6 t1
90,0 90,0
92,0 94,0 95,0 96,0

l J K L
7 8 9

93,0 95,0 95,0 96,0 90,0 90,0

M N O P

SKALA 1 : 1.000 TINGGI FORMASI GALIAN PADA 90,00 m


MENGHITUNG VOLUME
• DIHITUNG VOLUME TIAP BLOK, YAITU
V1,V2,V3,V4,…….., V9
• VOLUME BLOK = LUAS BLOK x TINGGI RATA-RATA
BLOK
• TINGGI t1 = Tinggi titik 1 – tinggi dasar
• LUAS BLOK = LUAS BUJUR SANGKAR
• VOLUME TOTAL VTOT = V1 + V2 + …+ V8 + V9
HITUNGAN VOLUME DARI DATA
SPOT HEIGHT (BORROW PIT)

Ttk Tinggi di Brp kali Hasil kali Ttk Tinggi di Brpkali Hasil kali
atas Diguna atas Diguna
formasi kan formasi kan

A 1 1 1 I 2 2 4
B 2 2 4 J 4 4 8
C 3 2 6 K 5 4 20
D 4 1 4 L 6 2 12
E 2,5 2 5 M 1 1 1
F 2 4 6 N 5 2 10
G 2 4 8 O 5 2 10
H 3 2 6 P 6 1 6
18 40 18 71
JMLH 36 111
TINGGI RATA-RATA GALIAN 111/36 =3,083 m
Luas total = 60 m x 60 m = 3600 m2 Volume 11098,8 m3
DIAGRAM MASS-HAUL (DMH)
• Diagram Mass-Haul (DMH) adalah suatu diagram yang digunakan
untuk membandingkan secara ekonomi terhadap berbagai metode
pekerjaan tanah untuk galian dan timbunan (Earthwork) dalam
pelaksanaan konstruksi (misalnya: jalan raya, jalan kereta api).
• Cara pembuatan DMH adalah dengan melakukan penggambaran
DMH langsung diplot di bawah gambar penampang memanjang
(Longitudinal Section) center-line ( sumbu proyek) sehingga akan
diperoleh :
• jarak antara tempat yang digali dan yang ditimbun seimbang (balance)
• jumlah material yang harus dipindahkan dan arah pemindahan
• luas tanah yang akan diambil (borrowed) atau dibuang (wasted) dan
volumenya
• pilihan terbaik pekerjaan tanah (galian dan timbunan) yang akan diambil
dengan pertimbangan ekonomi
BEBERAPA PENGERTIAN

• Haul adalah volume material (tanah) yang dipindahkan dikalikan dengan


jarak pemindahan dinyatakan dalam ” station meter” ( stn. m )
• Station metre (stn. m) adalah 1 m3 material yang dipindahkan sejauh 100
m . Bila ada material tanah 20 m3 dipindahkan sejauh 1500 m , maka
haul adalah 20 x 1500/100 = 300 stn. m
• Freehaul dan overhaul dapat dijelaskan dengan suatu contoh berikut .
Seorang kontraktor akan membuang material yang secara ekonomis telah
dihitung misalnya dengan unit price 50 p per m3 pada jarak angkut 150
m.
• Maka jarak angkut 150 m ini disebut freehaul. Apabila material harus diangkut
melebihi jarak freehaul , kelebihan jarak dinamakan overhaul .
• Waste (material yang dibuang) adalah material yang digali namun tidak
digunakan untuk menimbun.
BEBERAPA PENGERTIAN
• Borrow adalah material yang dibutuhkan untuk formasi tanggul
(penimbunan) yang diambil dari tempat lain.
• Limit of economical haul adalah jarak maksimum overhaul ditambah
freehaul. Bila limit itu tercapai, berarti waste dan borrow dari segi
biaya sangat ekonomis. Contoh :
Jarak Freehaul = 500 m
Overhaul = 10 p per stn m
Borrow = 30 p per m3
• Dari data di atas terlihat bahwa untuk overhaul 1 m3 pada jarak
300 m memerlukan biaya sebesar 30 p, sama dengan biaya
untuk borrow , sehingga
• 300 m adalah jarak maksimum overhaul. Sehingga limit of
enconomical haul
• adalah = (300 + 500 ) = 800 m
MASS HAUL DIAGRAM
MASS HAUL DIAGRAM
DIAGRAM MASS-HAUL
Mass-Haul Diagram
DMH
Cara pembutan DMH

• Gambarkan profil permukaan tanah memanjang sumbu proyek.


Sumbu vertikal adalah tinggi, sumbu mendatar adalah jarak.
Skala jarak biasanya dibuat lebih kecil dari skala tinggi, karena
beda tinggi antar stasiun pada umumnya relatif kecil dibanding
jarak memanjang sumbu proyek.
• Pada gambar profil memanjang tersebut , plot gambar rencana
sumbu proyek (grade line), sehingga akan dapat ditentukan
dimana yang harus digali dan ditimbun (lihat gambar di atas)
• Menggunakan data profil melintang pada setiap stasiun akan
dapat dihitung volume tanah yang digali atau ditimbun pada
setiap jarak antar dua stasiun.
Cara pembutan DMH
• Di bawah gambar profil memanjang, plot DMH . Pada sumbu mendatar
plot jarak antar stasiun dengan skala yang sama dengan gambar profil
memanjang di atasnya. Pada sumbu vertikal plot volume tanah. Skala pada
sumbu vertikal menyatakan volume per meter kubik, misalnya 1 cm untuk
100 m3 .
• Dimulai dari stasiun 0+00 ( titik awal) volume adalah 0 m3 . Pada stasiun
1+00, plotkan volume tanah antar stasiun 0 dan stasiun 1 yang telah
dihitung ( V1) Pada stasiun 2+00 , plotkan volume hasil penjumlahan
aljabar V1 + V2 . Pada stasiun 3+00, plotkan volume hasil penjumlahan
aljabar V1 + V2 + V3 . Demikian seterusnya dilakukan untuk setiap stasiun
sehingga akan diperoleh diagram Mass . Pada diagram mass, untuk yang
naik menunjukan penggalian (+) , dan yang turun menunjukan
penimbunan ( - ).
Cara pembutan DMH
• Titik-titik maksimum dari DMH terjadi pada perpotongan
antara permukaan tanah asli (natural ground) dengan
formasi rencana , disebut grade points .
• Pada gambar DMH di atas, galian di luar freehaul ( 500 m
) disebut waste , yaitu material yang digali namun tidak
digunakan untuk menimbun, sedang timbunan di lauar
freehaul disebut Borrow yaitu material yang dibutuhkan
untuk menimbunan yang diambil dari tempat lain
disekitarnya.

Anda mungkin juga menyukai