0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan36 halaman

Memahami Osteoarthritis Lutut dan Anatomi

Osteoarthritis (OA) adalah penyakit inflamasi sendi yang ditandai oleh degradasi kartilago dan remodelling tulang, yang dapat menyebabkan nyeri dan kehilangan fungsi sendi lutut. Penyakit ini melibatkan ketidakseimbangan antara perbaikan dan penghancuran dalam sendi, mempengaruhi semua struktur sendi, termasuk otot dan ligamen. Patogenesis OA dipicu oleh beban mekanik berlebihan yang mengakibatkan hilangnya matriks proteoglikan, menyebabkan kerusakan kolagen dan penurunan elastisitas sendi.

Diunggah oleh

widyazulma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan36 halaman

Memahami Osteoarthritis Lutut dan Anatomi

Osteoarthritis (OA) adalah penyakit inflamasi sendi yang ditandai oleh degradasi kartilago dan remodelling tulang, yang dapat menyebabkan nyeri dan kehilangan fungsi sendi lutut. Penyakit ini melibatkan ketidakseimbangan antara perbaikan dan penghancuran dalam sendi, mempengaruhi semua struktur sendi, termasuk otot dan ligamen. Patogenesis OA dipicu oleh beban mekanik berlebihan yang mengakibatkan hilangnya matriks proteoglikan, menyebabkan kerusakan kolagen dan penurunan elastisitas sendi.

Diunggah oleh

widyazulma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

Tinjauan Pustaka

A. Osteoarthritis Lutut

1. Definisi osteoarthritis

Osteoarthritis berasal dari bahasa latin yang berarti “osteo” (tulang),

“arthro” (sendi), dan “itis” (inflamasi). Sehingga jika dilihat dari arti kata tersebut

dapat disimpulkan bahwa OA adalah bentuk inflamasi tulang pada sendi (Prieto-

Alhambra, dkk, 2014). Menurut Osteoarthritis Research Society International

(OARSI) dalam Parker (2016) bahwa gerakan dapat timbul karena adanya sendi,

apabila terjadi cedera pada sendi dapat menimbulkan berbagai kondisi patologis

salah satunya adalah OA. Secara fisiologis, tubuh akan mengadakan perbaikan

pada setiap cedera, yaitu akan timbul keadaan pro-inflamasi yang berasal dari

imunitas tubuh itu sendiri. Disisi lain penyakit OA ini ditandai oleh adanya stress

sel dan degradasi matriks ekstraseluler. Secara klinis OA ini dapat timbul akibat

adanya degradasi kartilago, remodellling tulang serta pembentukkan osteofit pada

sendi lutut. Dalam keadaan ini dapat memberikan dampak kepada penderita

berupa timbulnya nyeri, dan kehilangan fungsi sendi lutut secara fisiologis

sehingga penderita akan membatasi gerakan pada sendi lutut.

8
9

Gambar 2.1
Anatomis lutut normal (kiri) dan saat terjadi OA (kanan) (Aigner, 2011).
Keterangan gambar 2.1 :
1. Kerusakan kartilago
2. Fibrosis kapsuler
3. Osteofit
4. Hiperplasia sinovial
5. Remodelling subkondral dan sklerosis
6. Kartilago
7. Kapsul sendi
8. Membran sinovial
9. Subkondral

Ilmuwan muskuloskeletal mendefinisikan bahwa OA merupakan penyakit

kronis yang progresif, degeneratif dan termasuk penyakit yang pasif. Namun

definisi terbaru mengatakan bahwa OA termasuk penyakit aktif dengan adanya


10

ketidakseimbangan antara perbaikan dan penghancuran dalam sendi itu sendiri.

Sehingga dapat diketahui bahwa OA tidak hanya berdampak pada kartilago, tetapi

berdampak pada semua struktur sendi, misalnya otot-otot disekitar sendi, ligamen,

tulang dan synovial. OA menyerang kartilago tetapi hal ini tidak menimbulkan

keluhan apapun pada penderita, karena kartilago tidak memiliki serabut saraf

sehingga tidak bisa secara langsung timbul adanya nyeri (Prieto-Alhambra, dkk,

2014). Kartilago ini mengalami perubahan kearah yang lebih buruk, menjadi

terkikis dan lama-kelamaan akan mengakibatkan bertemunya antar tulang yang

dapat mengakibatkan adanya gesekan antar kedua tulang tersebut. Hal inilah yang

mengakibatkan adanya penurunan kemampuan fungsional dalam aktivitas sehari-

hari disertai adanya nyeri, pembengkakan, melemahnya otot-otot sekitar lutut

(Parekh dan Vaghela, 2018). Adanya penipisan kartilago (tulang rawan) akan

diikuti dengan terbentuknya osteofit disekitar sendi dan di subkondral. Sendi-

sendi penopang berat badan antara lain vertebra, sendi panggul, sendi lutut dan

sendi pergelangan kaki merupakan lokasi sering terjadinya OA (Askandar, dkk,

2007 dikutip oleh Ismail, 2017).

2. Anatomi fungsional

a. Struktur sendi lutut

Sendi-sendi anggota gerak bawah meliputi, sendi panggul, lutut, dan

pergelangan kaki merupakan sendi yang berperan dalam keseimbangan saat

berdiri dan menunjang postur tubuh. Maka dari itu sendi-sendi ini memiliki

ligamen-ligamen yang stabil untuk menjalankan tugasnya (Paulsen dan Waschke,


11

2013). Sendi lutut merupakan sendi yang paling penting untuk menopang berat

badan, karena ia menghubungkan antara tungkai atas dan tungkai bawah. Sendi

lutut sendiri merupakan sendi yang paling besar serta memiliki otot-otot

penggerak sendi dan ligament yang kuat (Pratama, 2019). Menurut arah

gerakannya sendi lutut ini merupakan sendi engsel yang hanya memiliki 1 arah

gerakan, yaitu kearah fleksi dan ekstensi (Iannotti dan Parker, 2013)

11
1

10
2
9
3

4 8

5
7
6
Gambar 2.2
Anatomi sendi lutut tampak depan (Drake, dkk, 2012).
Keterangan gambar 2.2 :
1. Femur
2. Ligamen collaterale lateral
3. Articulatio patellofemoral
4. Meniskus lateralis
5. Articulatio tibiofibular proksimal
6. Fibula
7. Tibia
8. Articulatio tibiofemoral
9. Meniskus medialis
10. Ligamen collaterale medial
11. Patella
12

Sendi lutut terbentuk karena adanya beberapa tulang meliputi tulang

femur, tulang tibia, tulang fibula dan tulang tempurung (patella). Diantara tulang

kerangka yang terdapat di tubuh manusia, tulang femur-lah yang merupakan

tulang terbesar dan terpanjang. Selain itu fungsi patella sendiri adalah untuk

tempat melekatnya tendon atau otot, serta sebagai pengungkit [Link] akan

mengikuti gerakan sendi lutut (Pratama, 2019).

Ligamen pada sendi lutut yang paling banyak bertugas dalam aktivitas

fungsional adalah ligamen collaterale dan cruciatum (Pratama, 2019).Ligamen ini

terletak berpisah yaitu di diluar kapsul sendi atau bisa disebut dengan ligamen

esktrakapsuler untuk ligamen collaterale dan didalam kapsul sendi atau ligamen

intrakapsuler untuk ligamen cruciatum (Netter, 2013). Ligamen collaterale lateral

untuk mencegah sendi lutut mengarah ke varus, dan ligamen collaterale medial

untuk mencegah sendi lutut kearah valgus, sedangkan ligamen cruciatum

posterior berfungsi untuk mencegah tibia bergeser kearah posterior dan ligamen

cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah tibia bergeser kearah anterior

(Thompson, 2010).

Sendi lutut memiliki bursa yang berfungsi sebagai pelumas untuk

mengurangi gesekan antar tulang, otot, dan tendon. Teksturnya yang lunak dan

licin menyerupai putih telur terbagi menjadi bursa anterior yang terdiri dari bursa

suprapatellaris, prepatellaris, infrapatellaris superficialis, serta infrapatellaris

profunda dan bursa superior yang terdiri dari bursa subpopliteus, serta musculus

semimembranosus (Pratama, 2019).


13

Pada sendi lutut terdapat meniskus yang terdapat pada permukaan tibia.

Meniskus ini berbentuk lempengan fibrokartilago seperti bulan sabit (Netter,

2013).Pada sendi lutut terdapat meniskus medialis yang berukuran lebih besar

daripada meniskus lateralis. Namun karena meniskus medialis memiliki bentuk

seperti huruf “C” dinilai pergerakkannya kurang mobile, sedangkan meniskus

lateralis memiliki bentuk sirkuler sehingga lebih mobile (Pratama, 2019).

Meniskus memiliki beberapa peran yang sangat penting untuk sendi lutut, yaitu

sebagai shock absorber atau peredam kejut saat terjadinya tekanan secara tiba-tiba

di sendi lutut, mentransmisikan beban tubuh dengan tujuan untuk melindungi

kartilago yang berada diantara kedua tulang (femur dan tibia), propioseptif sendi

lutut, penentu kestabilan sendi lutut, mendistribusikan nutrisi untuk kartilago dan

sebagai pelumas sendi yang mendistribusikan cairan synovial, (Thompson, 2010).

Kapsul sendi pada sendi lutut terdapat 2 lapisan, yaitu lapisan luar dan

lapisan dalam. Kapsul sendi memiliki fungsi sebagai pengikat antara femur dan

tibia agar tidak bergeser saat dilakukan gerakan pada sendi. Lapisan luar atau

disebut dengan fibrous capsule yang terdiri dari jaringan pengikat yang kuat,

sedangkan untuk lapisan dalam atau membran synovial menghasilkan cairan

sebagai pelumas sendi agar sendi mudah digerakkan. Di lapisan dalam juga

terdapat artikular kartilago (Pratama, 2019). Kartilago sendiri berperan untuk

memudahkan sendi bergerak dengan mudah (Prieto-Alhambra, dkk, 2014). Selain

itu kartilago juga sebagai pemisah agar tidak langsung terjadi benturan antar

tulang femur dan tibia (Iannotti dan Parker, 2013).


14

b. Anatomi fungsional otot sendi lutut

Otot utama untuk penggerak sendi lutut adalah hamstring dan quadriceps.

Otot penggerak utama fleksor meliputi bicep femoris, semitendinosus,

semimebranosus yang biasa disebut dengan grup otot hamstring dan dibantu oleh

otot gracilis, sartorius, gastrocnemius, popliteus sertaplantaris (Pratama, 2019).

Otot penggerak utama gerakan ekstensi adalah otot quadriceps. Otot

quadriceps terdiri atas 4 otot yaitu rectus femoris, vastus medialis, vastus

intermedius, dan vastus lateralis (Pratama, 2019). Otot rectus femoris berorigo di

caput rectum spina iliaca anterior inferior dan caput reflexum pada ilium, otot

vastus medialis berorigo pada tulang femur bagian medial, otot vastus intermedius

berorigo pada 2/3 bagian atas femur anterior-lateral sedangkan vastus lateralis

berorigo pada tulang femur bagian lateral. Otot quadriceps berinsertio pada

tendon musculus quadriceps femoris. Otot quadriceps berada di bagian anterior

dari tulang femur dan dipersarafi oleh nervus femoralis yang berasal dari L2, L3

dan L4 (Drake, dkk, 2012).

Otot quadriceps memiliki peran lain selain sebagai otot penggerak utama

ekstensi yaitu berperan dalam kestabilan dinamis sendi lutut. Apabila terjadi

kelemahan otot quadriceps maka akan berdampak pada kurangnya kestabilan otot

quadriceps untuk melakukan aktivitas fungsional. Kelemahan otot quadriceps

dapat diakibatkan karena penyakit OA lutut. Terjadinya kelemahan karena adanya

penurunan rekruitmen motor unit otot quadriceps sehingga menyebabkan adanya

penurunan output neuromotor, hal ini lah yang menyebabkan adanya penurunan

aktivitas otot quadriceps (Puspita, dkk, 2019).


15

1
2

6
4

Gambar 2.3
Otot quadriceps (Drake, dkk, 2012)
Keterangan gambar 2.3 :
1. Caput reflexum musculus rectus femoris
2. Caput rectum musculus rectus femoris
3. Vastus lateralis
4. Tendon quadriceps femoris
5. Rectus femoris
6. Vastus medialis

c. Biomekanik sendi lutut

Penyusun sendi lutut terdiri dari dari tulang femur, tibia, fibula dan

tempurung (patella) dan membentuk 3 persendian yaitu :

1) Sendi tibiofemoral

Persendian ini terbentuk karena adanya pertemuan antara kondilus

medialis dan kondilus lateralis pada tulang femur dengan tibia plateau pada
16

tulang tibia (Pratama, 2019).Sendi ini termasuk dalam jenis sendi engsel

(Thompson, 2010). Diantara kedua tulang ini terdapat pemisah agar tidak

langsung terjadi benturan antar tulang yaitu adanya kartilago (Iannotti dan Parker,

2013).

2) Sendi patellofemoral

Sendi ini dibentuk oleh tulang patella dan tulang femur (femoral throclear

groove). Sendi patellofemoral termasuk dalam jenis sendi sellar (Thompson,

2010). Pada sendi ini mendapat dukungan dari otot vastus medialis dan vastus

lateralis, mereka saling menarik patella ke arah medial untuk vastus medialis dan

kearah proksimal untuk vastus lateralis dengan tujuan untuk stabilitas patella agar

tetap pada tempatnya (Pratama, 2019).

3) Sendi tibiofibular proksimal

Sendi tibiofibular terbentuk karena adanya pertemuan antara tulang tibia

dan tulang fibula. Sendi ini sering disebut dengan sendi sindesmosis. Dalam

menerima pembebanan, sendi lutut dibantu oleh sendi tibofemoral dalam

keikutsertaannya memperkuat sendi lutut sebesar 1/16 berat badan (Pratama,

2019)

d. Kinematika sendi lutut

Sendi lutut termasuk ke dalam sendi bikondilaris, dimana ia memiliki 2

sumbu gerak. Kedua sumbu gerak tersebut adalah transverse untuk gerakan fleksi

dan ekstensi sedangkan longitudinal untuk gerakan endorotasi dan eksorotasi

(Paulsen dan Waschke, 2013). Namun dalam sendi lutut, gerakan yang paling

utama adalah fleksi dan ekstensi (Thompson, 2010). Gerakan ini terjadi pada
17

tulang femur dan tibia, jika tulang femur yang berbentuk konvek bergerak maka

rolling dan sliding akan berlawanan. Namun berbeda jika tulang tibia yang

berbentuk konkaf bergerak, maka rolling dan sliding akan searah dengan arah

gerakannya (Pratama, 2019).

Secara fungsional lingkup gerak pada gerakan ekstensi adalah 00, jika

hiperekstesi akan mencapai 50-100 (Pratama, 2019). Lingkup gerak sendi pada

gerakan fleksi secara aktif adalah 1200-1400, jika secara pasif dapat mencapai

1600 karena tidak terbatas oleh pertemuan antar tulang hanya jaringan lunak

(Paulsen dan Waschke, 2013).

3. Patogenesis osteoarthritis

Pemicu timbulnya OA karena adanya beban mekanik yang berlebihan

yang akan menyebabkan hilangnya matriks proteoglikan. Proteoglikan merupakan

unsur penyusun sendi yang berfungsi sebagai peredam getaran atau peredam

beban tekanan yang terjadi pada sendi. Tulang rawan sendi yang kehilangan unsur

proteoglikan menyebabkan fungsi dari tulang rawan sendi menurun, sehingga

tulang rawan sendi tidak tahan terhadap beban tekanan yang terjadi pada sendi.

Hilangnya proteoglikan juga akan berdampak pada kerusakan kolagen yang akan

mengakibatkan berkurangnya elastisitas dan permukaan sendi mudah robek

(Kuntoro dan Yuniarto, 2011).

Seiring dengan proses degenerasi akan menimbulkan beberapa perubahan

berupa degradasi kartilago yang terjadi karena adanya ketidaksembangan, tulang

subkondral yang mengalami pemadatan, sinovitis yang dapat meningkatkan cairan


18

sendi sehingga menekan celah-celah sendi dan mempercepat kerusakan kartilago.

Apabila keadaan ini terus berlanjut akan terjadi tekanan tinggi terhadap celah-

celah sendi dan mengakibatkan timbulnya kista subkondral (Kuntoro dan

Yuniarto, 2011). Osteofit juga timbul untuk mendukung serta menstabilkan sendi,

namun disisi lain osteofit juga akan menimbulkan rasa nyeri, krepitasi dan

penurunan lingkup gerak sendi (Pratama, 2019). Perubahan-perubahan yang

terjadi akan memicu adanya peningkatan tekanan pada nerve ending, sehingga

ujung-ujung saraf teriritasi (Kuntoro dan Yuniarto, 2011).

Kerusakan yang terjadi pada OA terletak pada kartilago, namun sumber

nyeri OA lutut berasal dari periosteum, kapsul sendi, ligamen dan tendon. Nyeri

yang timbul akan diteruskan oleh nosiseptor ke Posterior Horn Cell (PHC).

Sensibilitas yang terjadi pada PHC juga menyerang didaerah sekitar lesi atau

daerah yang mendapatkan innervasi yang sama dengan sendi lutut. Berdasarkan

hal itu, otot quadriceps lah yang akan mengalami kelemahan untuk pertama

kalinya akibat dari aktivasi nosiseptor pada sendi lutut karena otot quadriceps

mendapat persarafan yang sesegmen dengan sendi lutut yaitu lumbal 4. Otot

quadriceps ini berfungsi sebagai pemberi kekuatan dan kestabilan pada sendi

lutut, namun jika tidak digunakan akan mudah melemah bahkan menjadi atrofi.

Ketidakstabilan sendi karena melemahnya otot quadriceps akan menimbulkan

penurunan kemampuan fungsional pada penderita OA lutut (Kuntoro dan

Yuniarto, 2011).
19

4. Faktor resiko osteoarthritis lutut

Osteoarthritis memiliki beberapafaktor yang dapat meningkatkan resiko

terjadinya OA. Faktor resiko ini dapat berdiri sendiri atau gabungan diantaranya.

Faktor resiko tersebut antara lain :

a. Usia

Usia merupakan faktor resiko yang paling utama serta tidak dapat diubah.

Dalam bertambahnya usia, akan terjadi pula proses penuaan yang akan

mempengaruhi produksi kondrosit pada kartilago sehingga kartilago akan

mengalami kerusakan (Wijaya, 2018). Pada keadaan OA, lebih sering menyerang

pada lansia dibanding dengan orang dewasa (Prieto-Alhambra dkk, 2014)

b. Jenis kelamin

Jenis kelamin merupakan penyebab umum yang kedua terjadi, hal ini

dikarenakan dipengaruhi oleh sistem hormon yang berbeda antara pria dan wanita

yang berpengaruh dalam mekanisme terjadinya OA. Prevalensi dan tingkat

keparahan OA lebih besar pada wanita (Wijaya, 2018). Hal ini dikarenakan

adanya penurunan hormon esterogen pada perempuan (Prieto-Alhambra, dkk,

2014).

c. Gen

Faktor gen memiliki pengaruh terhadap terjadinya OA lutut yang akan

terjadi pada sistem kolagen yang bersifat herediter (Pratama, 2019). Selain itu,

bentuk sendi, kekuatan otot serta berat badan juga dapat bersifat keturunan.

Beberapa hal tersebut merupakan faktor penyebab OA lainnya (Prieto-Alhambra,

dkk, 2014).
20

d. Aktivitas fisik

Osteoarthritis dapat juga dipengaruhi oleh tingkatan aktivitas fisik pada

manusia. Apabila melakukan aktivitas fisik secara berat dan terus-menerus maka

akan meningkatkan pula resiko terjadinya OA pada waktu mendatang karena

adanya penekanan pada sendi lutut (Prieto-Alhambra, dkk, 2014). Namun

aktivitas fisik tidak semata-mata selalu menjadi faktor resiko yang diwaspadai,

karena apabila terjadi keseimbangan antara gerakan sendi dan otot disekitarnya

akan menjadikan sendi lutut lebih stabil dan lebih kuat. Sehingga adanya

keseimbangan antara gerakan sendi dan otot dapat menurunkan tingkat resiko

terjadinya OA (Wijaya, 2018).

e. Cedera sendi lutut

Studi Framingham telah menemukan adanya hubungan antara OA dengan

riwayat cedera sendi lutut. Terdapat peningkatan resiko 5-6 kali lipat terjadinya

OA pada orang yang memiliki riwayat cedera sendi lutut (Pratama, 2019).

Terdapat 2 cedera pada sendi lutut yang berkolerasi dengan peningkatan resiko

OA adalah cedera meniskus dan ligamen cruciatum anterior (Wijaya, 2018).

f. Deformitas sendi

Deformitas sendi ini didapatkan dari kelainan kongenital atau kelainan

bawaan. Biasanya ini berhubungan dengan kelainan anatomi muskuloskeletal,

khususnya kelainan pada sendi yang menyebabkan sendi tidak berfungsi dengan

semestinya (Prieto-Alhambra, dkk, 2014).


21

g. Obesitas

Orang dengan obesitas memiliki resiko lebih tinggi 2 kali lipat terjadinya

OA, dikarenakan penambahan beban pada sendi, menurunkan tingkat aktivitas

fungsional sehingga mengakibatkan otot-otot disekitar sendi menjadi lemah

(Wijaya, 2018).

h. Kekuatan otot

Kekuatan otot yang baik dalam sendi akan menurunkan tingkat resiko

terjadinya OA. Telah terbukti bahwa kekuatan otot quadriceps yang baik akan

menurunkan tingkat resiko terjadinya OA (Prieto-Alhambra, dkk, 2014). Adanya

nyeri OA, akan menyebabkan penderita membatasi kegiatan aktivitas sehari-

harinya yang akan berdampak pada kelemahan dan atrofi otot (Wijaya, 2018).

5. Tanda dan gejala

Terdapat beberapa tanda dan gejala terjadinya OA sebagai berikut :

a. Nyeri

Nyeri OA merupakan nyeri nosiseptif yang diakibatkan karena adanya

peningkatan tekanan vena pada subkondral, mikrofraktur pada subkondral,

osteofit, synovitis, penebalan kapsul, subluksasi, kelemahan otot. Letak lesi OA di

kartilago, namun kartilago bersifat uninnervasi dan avaskularisasi sehingga nyeri

tidak dirasakan pada awal timbulnya OA tetapi kemungkinan terlihat jelas secara

radiologis. Adanya iritasi saraf yang disebabkan oleh terjepitnya ujung-ujung

saraf karena osteofit dan distruksi kartilago secara progresif merupakan penyebab

timbulnya nyeri OA (Kuntoro dan Yuniarto, 2011). Nyeri akan bertambah saat
22

melakukan aktivitas berat atau adanya penekanan pada sendi lutut, seperti

aktivitas naik-turun tangga dan berjalan. Selain itu nyeri juga dirasa bertambah

saat cuaca sedang dingin. Apabila kerusakan sendi sudah parah, nyeri ini akan

terasa selama aktivitas bahkan pada saat istirahat. Jika pada sendi dengan

kerusakan yang masih ringan atau sedang, nyeri akan berkurang saat istirahat

dalam beberapa menit (Prieto-Alhambra, dkk 2014).

b. Kaku sendi

Kaku sendi terjadi karena kapsul sendi menjadi restriksi dan terisi oleh

infiltrat setelah adanya inaktivitas (Solomon, 2010). Aktivitas yang melibatkan

adanya gerakan pada sendi dapat membantu untuk menghilangkan kaku sendi.

Kaku sendi yang khas karena adanya OA sering muncul pada pagi hari setelah

bangun tidur dengan durasi < 30 menit atau setelah istirahat di siang hari (Prieto-

Alhambra, dkk 2014).

c. Penurunan lingkup gerak sendi

Penurunan lingkup gerak sendi didapatkan karena beberapa gejala yang

timbul pada OA, seperti nyeri dan kaku sendi menyebabkan penderita cenderung

tidak menggerakkan sendi-sendinya yang akan mempengaruhi pada lingkup gerak

sendi (Prieto-Alhambra, dkk 2014).

d. Tenderness

Osteoarthritis dapat disertai adanya peradangan atau bahkan tidak terdapat

peradangan. Namun tenderness pada OA dapat muncul meskipun tanpa adanya

peradangan (Prieto-Alhambra, dkk 2014).


23

e. Krepitasi

Pada OA, krepitasi merupakan tanda yang umum terjadi. Adanya

gangguan pada kartilago, maka akan menyebabkan perubahan pada struktur

kartilago menjadi lebih keras. Krepitasi merupakan sensasi pada sendi yang

dirasakan penderita dengan munculnya suara berderit (Prieto-Alhambra, dkk

2014).

f. Pembengkakan

Pembengkakan terjadi karena efusi dari cairan synovial dan

pembengkakan tulang. Jika pembengkakan pada sendi berwarna merah dan teraba

panas berarti bukan OA, karena bengkak pada OA hanya dirasa hangat.

Pembengkakan pada OA disebabkan oleh adanya efusi dan pembesaran tulang

atau munculnya osteofit disekitar sendi (Prieto-Alhambra, dkk 2014).

g. Kelemahan otot

Kelemahan otot dapat terjadi ketika adanya inaktivitas sendi. Penderita

OA akan cenderung membatasi aktivitasnya karena adanya gejala yang

mengganggu. Struktur-struktur pada penyusun sendi juga akan mengalami

ketidakstabilan (Prieto-Alhambra, dkk 2014).

h. Instabilitas sendi lutut

Instabilitas sendi lutut disebabkan oleh gangguan stabilitas karena

berkurangnya kekuatan otot quadriceps hingga mencapai 1/3 serta menurunnya

fungsi propioseptor pada saat merespon perubahan posisi sendi lutut (Kuntoro dan

Yuniarto, 2011).
24

6. Diagnosis osteoarthritis lutut

Pada OA lutut, keluhan utamanya yaitu nyeri dan bisa sampai

mengganggu aktivitas pasien. Namun keluhan nyeri pada lutut bukan hanya

disebabkan oleh OA, tetapi terdapat penyakit lain seperti gout arthritis dan

rheumatoid arthritis. The European League Against Rheumatism menjelaskan

bahwa diagnosis OA lutut harus memenuhi 3 gejala dan 3 tanda. Ketiga gejala

tersebut yaitu nyeri yang terus-menerus, kaku sendi pada pagi hari, menurunnya

fungsi sendi lutut dan ketiga tanda tersebut yaitu krepitas, berkurangnya lingkup

gerak sendi, pembesaran tulang. Semakin banyak tanda dan gejala yang dirasakan

maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya OA serta 99% kemungkinan

ditemui OA pada radiografi (Wijaya, 2018). Untuk menegakkan diagnosis

terhadap penyakit OA, American College of Rheumatology mengeluarkan

beberapa kriteria sesuai gejala klinis, klinis dan hasil radiologi serta klinis dan

hasil laboratorium sebagai berikut :


25

TABEL 2.1

KRITERIA DIAGNOSIS OSTEOARTHRITIS LUTUT

Klinis Klinis dengan Klinis dengan Laboratorium


Radiologi

Nyeri lutut yang sering + Nyeri lutut yang sering Nyeri lutut yang sering +
minimal 3 dari kriteria + osteofit + 1 dari minimal 5 dari kriteria
dibawah ini : kriteria dibawah ini : dibawah ini :

Usia > 50 tahun Usia > 50 tahun Usia > 50 tahun

Pembesaran tulang Krepitasi saat gerak Pembesaran tulang


aktif
Krepitasi saat gerak aktif Krepitasi saat gerak aktif
Kaku sendi pagi hari Kaku sendi pagi hari <30
Kaku sendi pagi hari <30
<30 menit
menit menit

Tenderness Tenderness

Tidak teraba hangat Tidak teraba hangat

LED < 40mm/jam

Rheumatoid faktor < 1 : 40

Cairan sinovial yang sesuai


dengan tanda OA

Sumber : Wijaya, 2018

Menurut kriteria Kellgren dan Lawrence, grade OA dapat diklasifikasikan

menjadi 5 sesuai dengan perubahan yang dapat dilihat dari sisi gambaran

radiografi. Berikut tabel yang akan menjelaskan grade OA :


26

TABEL 2.2

GRADE OSTEOARTHITIS LUTUT

Grade Penjelasan

0 Tidak ada gambaran OA.

1 Dicurigai adanya penyempitan celah sendi dan kemungkinan


terdapat osteofit.

Osteofit jelas terlihat dan mungkin disertai penyempitan celah


2
sendi.

Osteofit berukuran sedang, penyempitan celah sendi,


3
kemungkinan sklerosis dan deformitas ujung tulang.

Osteofit berukuran besar, penyempitan celah sendi, sklerosis


4 berat dan deformitas ujung tulang

Sumber : Parker, 2016.

7. Prognosis osteoarthritis

Sendi lutut terdiri dari 3 persendian yang menyusunnya, hal ini membuat

sendi lutut merupakan sendi yang paling komplek. Banyak penelitian yang telah

menemukan bahwa progresifitas OA ke kondisi yang lebih buruk membutuhan

waktu yang lama bahkan sampai beberapa tahun. Namun jika disertai adanya

cedera pada lutut maka progresitifitas OA berjalan lebih cepat. Selain itu,

percepatan progresifitas OA juga dipengaruhi oleh aktivitas berat yang melibatkan

penambahan beban pada sendi yang berulang-ulang dan berat badan. Pembebanan

berat badan yang tidak merata karena perubahan alignment pada sendi lutut akan

meningkatkan resiko terjadinya OA (Prieto-Alhambra, dkk, 2014).


27

Keterbatasan aktivitas sendi seperti berjalan, naik turun tangga merupakan

kondisi yang umum terjadi pada penderita OA. Sehingga penderita OA

memerlukan bantuan agar dapat kembali ke aktivitas seperti sedia kala. Prevalensi

OA meningkat seiring dengan penambahan berat badan dan penuaan, namun

individu dapat mengurangi gejala yang berhubungan dengan OA apabila individu

mau merubah gaya hidup dengan berolahraga dan berusaha untuk menurunkan

berat badannya (Pratama, 2019).

B. Kemampuan Fungsional

Aktivitas fungsional merupakan aktivitas pengeluaran energi untuk

bekerjanya otot-otot rangka dalam menjalani aktivitas sehari-hari untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk menjadi manusia yang mandiri dibutuhkan

pergerakan aktivitas yang normal dalam mejalankan berbagai kegiatannya (Jussi,

2017 dikutip oleh Mentari, 2018).

Saat seseorang mengalami OA akan terdapat gangguan seperti nyeri, kaku

sendi dan hilangnya propioseptif. Terjadinya peningkatan derajat problematik OA

dalam menjalani aktivitas sehari-hari, akan menyebabkan penurunan kemampuan

fungsional pada penderita (Handono, dkk, 2012 dikutip oleh Pramita dan

Wahyudi, 2020). Penurunan kemampuan fungsional pada penderita OA karena

ditemukannya proses degenerasi, tulang subkondral, inflamasi, penurunan LGS,

dan disuse atrophy atau kelemahan dari otot quadriceps yang merupakan stabilitas

utama pada sendi lutut sehingga sendi lutut akan menjadi instabil (Wibowo, dkk,

2017). Saat melakukan aktivitas sehari-hari pada penderita OA lutut akan


28

mengalami adanya kesulitan mobilisasi sendi serta meningkatkan ketergantungan

terhadap alat bantu dalam beraktivitas (Pratama, 2019). Aktivitas tersebut meliputi

aktivitas statis seperti berdiri dan mempertahankan keseimbangan serta aktivitas

dinamis seperti berjalan dan naik turun tangga (Ogut, dkk, 2018).

Kemampuan fungsional ini dapat diukur dengan Western Ontario and

McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) yang dapat melihat

gambaran kemampuan dari penderita OA dalam melakukan aktivitas sehari-hari

(Pramita dan Wahyudi, 2020). WOMAC terdiri dari 24 item yang masing-masing

itemnya memiliki nilai 0-4 yang berarti 0 berarti normal, 1 berarti ringan, 2 berarti

sedang, 3 berarti berat, dan 4 berarti sangat berat. Item-item tersebut terdiri dari 5

item untuk nyeri, 2 item untuk kekauan dan 17 item untuk kemampuan fungsional

(Sathiyanarayanan, dkk, 2017).


29

TABEL 2.3

PENILAIAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL DALAM WOMAC

Penilaian Item yang Diukur dalam Kemampuan


Fungsional
Nyeri 1. Berjalan
2. Naik-turun tangga
3. Tidur malam hari
4. Duduk dan berbaring
5. Berdiri
Kaku sendi 1. Bangun di pagi hari
2. Duduk dan istirahat
Kemampuan fungsional 1. Turun tangga
2. Naik tangga
3. Duduk ke berdiri
4. Berdiri
5. Membungkuk ke depan
6. Berjalan
7. Keluar-masuk mobil
8. Belanja
9. Mengenakan kaos kaki
10. Bangun dari tempat tidur
11. Melepaskan kaos kaki
12. Berbaring
13. Keluar-masuk kamar
14. Duduk
15. Keluar-masuk toilet
16. Pekerjaan rumah yang berat
17. Pekerjaan rumah yang ringan

Sumber : Huang, dkk, 2017.


30

Jika jumlah skor menunjukkan semakin rendah berarti tingkat nyeri,

kekakuan dan keterbatasan fungsional semakin baik dan sebaliknya jika nilai

menunjukkan semakin tinggi berarti tingkat nyeri, kekauan dan keterbatasan

fungsional yang berat. WOMAC sering digunakan sebagai pengukuran

kemampuan fungsional terhadap penderita OA karena iamemiliki validitas terbaik

daripada alat ukur lainnya (Sathiyanarayanan, dkk, 2017). Validitas tersebut

diantara 0.78-0.94, sedangkan untuk reliabilitasnya antara 0.80-0.98 (Basaran,

dkk, 2010 dikutip oleh Syahruddin, 2017).

C. Latihan Isometrik Quadriceps

Salah satu problematik OA adalah adanya gangguan aktivitas fungsional

yang disebabkan oleh karena instabilitas sendi lutut. Instabilitas sendi lutut

diakibatkan oleh penurunan kekuatan otot quadriceps yang memiliki peran

sebagai stabilisator aktif pada sendi lutut (Nugraha dan Kambayan, 2017).

Penurunan kekuatan otot quadriceps ini terjadi karena terstimulasinya sensoris

nosiseptor di Posterior Horn Cell (PHC) yang selanjutnya akan menginhibisi sel

motoris yang berada di Anterior Horn Cell (AHC) pada segmen Lumbal 4. Otot

quadriceps akan mengalami penurunan kekuatan otot atau kelemahan untuk

pertama kalinya karena mendapatkan persarafan somatis sensoris yang sesegmen

dengan sendi lutut (Kuntoro dan Yuniarto, 2011). Kelemahan otot akan

menyebabkan fungsional kontraksi otot yang tidak sinergis sehingga akan

menambah pembebanan pada sendi lutut dan mempercepat degenerasi OA

(Khairuruizal, dkk, 2019).


31

Otot quadriceps termasuk otot yang dianggap lebih kuat daripada otot

ekstensor lainnya, maka dari itu dibutuhkan kekuatan otot quadriceps yang lebih

optimal untuk dapat kembali ke aktivitas fungsional seperti berjalan, berdiri dari

posisi duduk, berlari, melompat (Wibowo, dkk, 2017).

Mekanisme terjadinya penurunan nyeri hingga dapat meningkatkan

kemampuan aktivitas dimulai dari kontraksi isometrik otot quadriceps yang dapat

mengaktifkan muscle spindle yang akan meningkatkan aktivitas γ motorneuron.

Peningkatan aktivitas γ motorneuron juga akan meningkatkan jumlah miofibril

sehingga massa otot akan bertambah. Jika latihan dilakukan secara rutin akan

menghasilkan peningkatan kekuatan otot, sehingga stabilitas sendi lutut menjadi

lebih baik dan kemampuan fungsional pada penderita OA lutut dapat meningkat

(Keys 2014). Latihan isometrik quadriceps juga akan menimbulkan adanya

pumping action sehingga terjadi vasodilatasi jaringan yang akan mengakibatkan

lancarnya sistem vaskularisasi lokal yang akan kaya nutrisi dan oksigen serta

terbuangnya sisa-sisa metabolisme. Kontraksi yang maksimal akan memunculkan

serabut otot baru yang akan berperan dalam peningkatan kekuatan otot

(Kesemenli, dkk, 2014). Menurut Schmitt, dkk (2012) menyatakan bahwa

rangsangan yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot adalah dalam keadaan

anaerobik. Keadaan ini berlangsung selama otot berkontraksi dimana peredaran

darah dalam otot mengalami iskemik karena terjepit oleh otot yang sedang

berkontraksi.
32

Terdapat beberapa jenis program latihan untuk meningkatkan kekuatan

otot quadriceps, salah satunya adalah latihan penguatan isometrik quadriceps.

Latihan isometrik quadriceps merupakan latihan penguatan pada otot quadriceps

yang bersifat statis, dengan kata lain latihan ini tidak disertai adanya perubahan

panjang otot, serta hanya sedikit atau bahkan tidak ada pergerakan pada sendi

yang dapat merangsang nyeri pada sendi lutut. Selain itu review dari jurnal

Jayson, dkk (2011), Norden (2008), Amin dan Baker, dkk (2009), Cetin, dkk

(2008) telah dikemukakan bahwa latihan isometrik quadriceps dianggap latihan

yang paling cocok untuk penderita OA. Dengan alasan bahwa latihan ini aman,

murah, dapat sebagai home program exercise serta membutuhkan alat yang

mudah didapat (Laasara, 2018).

Jika adanya kelemahan otot dan dibiarkan saja maka gangguan pada sendi

akan menjadi lebih parah, sehingga latihan penguatan otot sangat penting bagi

penderita OA lutut. Disisi lain otot merupakan pelindung sendi dan stabilitas sendi

yang aktif. Namun dalam latihan penguatan harus diperhatikan karena bisa jadi

akan memperparah kondisi pada sendi, misal pada posisi 450-900 fleksi knee akan

terjadi kompresi pada patella dan menyebabkan nyeri pada patelofemoral. Selain

itu latihan isometrik quadriceps dilakukan pada posisi tanpa adanya nyeri

(Nugraha dan Kambayana, 2017).

Latihan quadriceps set merupakan latihan isometrik yang dapat dilakukan

dengan 2 posisi yaitu dengan pasien terlentang atau duduk serta posisi lutut dalam

keadaan ekstensi. Menggunakan gulungan handuk yang diletakkan dibawah lutut


33

lalu meminta pasien untuk menekankan lutut kearah bawah dan mengencangkan

otot paha (Prio, dkk, 2017).

Gambar 2.4
Quadriceps set (Nugraha dan Kambayana, 2017).

Keterangan gambar 2.4 :


Quadriceps set dilakukan dengan menekankan lutut ke bawah atau kearah handuk.

Namun latihan quadriceps set ini hanya difokuskan pada otot vastus

medialis oblique. Untuk melatih bagian rectus femoris dan vastus intermedius

dapat dilakukan dengan latihan straight leg raise (SLR). Posisi pasien terlentang

dan lutut kontralateral fleksi bertujuan untuk menstabilkan pelvis, panggul, dan

punggung punggung bawah. Kemudian pasien dianjurkan untuk

mengkontraksikan otot quadriceps sebelum mengangkat tungkai sekitar 450

(Nugraha dan Kambayana, 2017).

Latihan isometrik untuk vastus lateralis posisi pasien miring kearah

kontralateral. Lalu tungkai yang berada di posisi bawah difleksikan 900, kemudian

angkat tungkai yang berada di atas dengan lutut tetap ekstensi. Diangkat sekitar 10

cm (Huang, dkk, 2017).


34

A B

Gambar 2.5
Latihan isometrik otot vastus lateralis (Huang, dkk, 2017)

Keterangan gambar 2.5 :


A. Pasien posisi miring, dengan posisi tungkai diatas yang akan dilatih.
B. Pasien posisi miring, dengan mengangkat tungkai yang berada diatas.

Latihan isometrik untuk penguatan otot quadriceps ini kontraksi ditahan

minimal 6 detik dan tidak lebih dari 10 detik karena akan menimbulkan otot lebih

cepat lelah (Prio, dkk, 2017). Latihan dilakukan minimal 2 set per hari dengan 10

kali repetisi serta selingan istirahat selama 2 detik disetiap kontraksi (Nugraha dan

Kambayana, 2017). Latihan quadriceps set dilakukan 2 kali dalam seminggu

selama 4 minggu. Frekuensi latihan ini menurut rekomendasi dari penelitian

Arthritis Care and Research yang mana apabila latihan quadriceps set yang

dilakukan selama 2-3 kali dalam seminggu dapat mempercepat pelepasan hormon

endhorpine bahkan dapat meningkatkan kesehatan penderita OA lutut (Laasara,

2018).
35

D. Kinesio Taping

Kinesio Taping (KT) merupakan modalitas fisioterapi berupa tape elastik

yang diaplikasikan pada otot yang lemah agar dapat menurunkan nyeri dan

meningkatkan kemampuan fungsional pada penderita OA lutut (Pramita dan

Wahyudi, 2020). The American College of Rheumatology menyarankan beberapa

modalitas fisioterapi untuk menangani kasus OA, salah satunya ialah KT yang

memiliki beberapa manfaat dan memiliki sifat elastis dan tipis seperti kulit

(Nayanti, dkk., 2020). Manfaat yang bisa didapat dari KT adalah dapat

menurunkan derajat nyeri, meningkatkan kekuatan otot serta kemampuan

fungsional penderita OA (Wise, 2011 dikutip oleh Pramita dan Wahyudi, 2020).

Efek terapeutik dan fisiologis aplikasi KT menurut Kuntoro dan Yuniarto

(2011) meliputi aktivasi mekanoreseptor dikulit, terutama terjadi pada saat otot

berkontraksi. Kontraksi otot akan mengaktivasi muscle spindle yang akan

meneruskan informasi mekanoreseptor melalui serabut saraf afferen tipe IIa.

Serabut afferen IIa merupakan serabut saraf penampang tebal yang berperan aktif

dalam inhibisi nyeri yang ditransmisikan oleh serabut saraf berpenampang kecil

(tipe Aδ dan C). Inhibsi ini dikenal sebagai teori gerbang kontrol.

Aplikasi taping akan memberikan efek penarikan pada fascia otot sehingga

akan mengaktivasi pembuluh darah limfatik dan kapiler diregio lesi. Efek ini

sering disebut dengan efek dekompresi, yaitu merupakan suatu mekanisme

terhadap pengurangan beban otot pada saat berkontraksi, sehingga otot dalam

keadaan rileks dan terpenuhinya supplai oksigen dan nutrisi (Kuntoro dan

Yuniarto, 2011).
36

Menurut Ogut, dkk (2018) KT pada otot quadriceps dilakukan sesuai

dengan metode yang dianjurkan oleh Kenzo Kase dengan membentuk tape elastik

menjadi huruf “Y” dan dipasang dari origo ke insersio otot. Pemasangan KT

dengan bentuk huruf “Y” pada otot quadriceps bertujuan untuk menstimulasi otot.

Otot quadriceps terdiri dari 4 otot, namun pemasangan KT disini hanya pada 3

otot yaitu rectus femoris, vastus medialis dan vastus lateralis sehingga terdapat 3

lembar KT dengan bentuk huruf “Y” yang digunting dan disesuaikan pada

panjang tungkai dari masing-masing pasien.

Pemasangan KT pada otot rectus femoris yaitu dipasang 10 cm dibawah

spina iliaca anterior superior sampai pada atas patella dengan posisi sendi

panggul ekstensi, lalu dua cabangan tape KT ditempelkan di sekitar patella

sehingga terlihat mengelilingi patella dengan posisi lutut fleksi 450.

Pemasangan KT pada otot vastus medialis yaitu dipasang pada otot vastus

medialis atau sepertiga distal otot paha sisi medial sampai sejajar sisi medial

patella dengan posisi panggul ekstensi. Cabang tape KT bagian lateral dipasang

dengan tarikan 100% dari panjang tape KT dan ditempelkan pada sekitar medial

patella sampai bawah patella dengan posisi lutut fleksi 450, sedangkan cabang

tape KT bagian medial dipasang dengan tarikan 100% dari panjang tape KT dan

ditempelkan disepanjang sisi medial tibia dengan posisi lutut fleksi 450.

Pemasangan pada otot vastus lateralis yaitu dipasang dari throchanter

major sampai distal paha sejajar sisi lateral patella dengan posisi panggul

ekstensi. Cabang tape KT bagian medial dipasang dengan tarikan 100% dari

panjang tape KT dan ditempelkan di sekitar lateral patella sampai bawah patella
37

dengan posisi panggul ekstensi, sedangkan cabang tape KT bagian lateral

dipasang dengan tarikan 100% dari panjang tape KT dan ditempelkan kearah

caput fibula dengan posisi panggul ekstensi.

Gambar 2.6
Lutut dengan Kinesio Taping (Ogut, dkk, 2018).

E. Penelitian yang Relevan

Penelitian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Kim dan

Lee, (2017) dengan jumlah subjek 24 lansia perempuan dengan diagnosis OA

lutut. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok I yaitu 12 subjek diberi

latihan penguatan otot anggota gerak bawah dan kelompok II yaitu 12 subjek

diberi latihan penguatan otot anggota gerak bawah ditambah dengan pemasangan

KT. Kedua kelompok ini diberikan latihan penguatan dengan open kinetic chain

dan close kinetic chain 3 kali seminggu dalam 4 minggu dengan durasi latihan 30

menit. Setelah dilakukan latihan penguatan kelompok II dilakukan pemasangan

KT pada otot quadriceps femoris. Pengukuran dilakukan selam pre-test dan post-
38

test dengan alat ukur Korean Western Ontario and McMaster Universities

Osteoarthritis Index (K-WOMAC) untuk fungsional anggota gerak bawah, sit to

standing (STS) untuk mengukur durasi selama 5 set duduk dan berdiri pada kursi

tanpa sandaran dan time up and go test (TUGT) untuk mengukur durasi dari

duduk di kursi dengan sandaran setinggi 46 cm lalu berjalan sejauh 3 meter dan

duduk kembali. Penelitian ini menghasilkan perbedaan yang signifikan terhadap

alat ukur yang digunakan antara pre-test dan post-test dalam kelompok yang

diberi latihan penguatan lalu ditambah dengan pemasangan KT. Namun pada

kelompok yang hanya diberikan latihan penguatan tidak menghasilkan perbedaan

yang signifikan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Ogut, dkk (2018) dengan metode

randomized controlled trial single blind. Subjek berjumlah 66 pasien perempuan

dengan kisaran usia antara 50 sampai 60 tahun dengan diagnosis OA lutut

menurut American College of Rheumatology dan Kellgren-Lawrence (K-L) grade

2 atau 3. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok A diberikan KT sebanyak

31 pasien sedangkan kelompok B diberi sham-KT sebanyak 30 pasien sekali per

minggu selama 3 minggu. Kedua kelompok tersebut mendapatkan intervensi

berupa trancutaneous electrical nerve stimulation (TENS) selama 30 menit, hot

pack selama 30 menit, dan ultrasound selama 10 menit selama 5 hari per-minggu

dalam 3 minggu. Pasien dianjurkan untuk latihan penguatan otot sekitar lutut yang

dilakukan dirumah. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan Visual Analog

Scale (VAS) serta Western Ontario and McMasterUniversities Osteoarthritis

Index (WOMAC), goniometer, berjalan dengan jarak 50 meter dan puncak torsi
39

isokinetik otot ekstensor lutut. Pengukuran dilakukan sebelum treatment, setelah

treatment, 1 bulan dan 3 bulan setelah treatment. Hasil yang didapat dalam

penelitian ini ditemui adanya penurunan secara signifikan pada nyeri dengan alat

ukur VAS, WOMAC (pain, stiffness, physical function) serta meningkatnya

puncak torsi isokinetik quadriceps setelah dilakukan treatment pada kedua

kelompok. Dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini bahwa aplikasi KT

pada pasien perempuan dengan OA lutut efektif untuk nyeri dan kapasitas

fungsional.
40

F. Kerangka Pikir

Faktor Resiko :
- Usia
Penipisan kartilago
- Jenis kelamin
- Gen
- Aktivitas fisik Osteoarthritis lutut

- Cedera sendi
- Deformitas sendi - Nyeri
- Obesitas - Kaku sendi
- Pembengkakan
- Krepitasi
- Menurunnya lingkup gerak sendi
- Menurunnya kekuatan otot sekitar sendi
- Instabilitas sendi lutut

Penambahan KT pada Penurunan


latihan isometrik Latihan isometrik
kemampuan quadriceps
quadriceps
fungsional

- Meningkatkan sirkulasi darah - Meningkatkan kekuatan


dan limfatik dan masa otot
- Menurunkan nyeri - Meningkatkan stabilitas
- Memperbaiki propioseptik sendi
- Menstimulasi mekanoreseptor - Meningkatkan sirkulasi
- Mengurangi spasme

Peningkatan kemampuan fungsional

Gambar 2.7 Kerangka pikir


41

Keterangan gambar 2.7 :

Beberapa faktor resiko penyebab terjadinya penyakit OA, diantaranya

adalah usia, gen, jenis kelamin, aktivitas fisik, cedera sendi, deformitas sendi dan

obesitas. Jika faktor-faktor resiko ini tidak ditangani dengan baik, akan

menimbulkan perubahan pada kartilago yaitu penipisan dan akan menyebabkan

beberapa gangguan seperti nyeri disekitar lutut, kaku sendi, pembengkakan,

adanya krepitasi, serta menurunnya lingkup gerak sendi. Selain itu OA juga akan

menimbulkan penurunan kekuatan otot-otot sekitar sendi (terutama otot

quadriceps) sehingga mengakibatkan instabilitas sendi dan menimbulkan adanya

penurunan kemampuan aktivitas fungsional.

Pemberian modalitas fisioterapi kepada subjek berupa penambahan KT

pada latihan isometrik quadriceps yang dapat meningkatkan sirkulasi darah dan

limfatik, menurunkan nyeri, memperbaiki propioseptik, dan menstimulasi

mekanoreseptor. Modalitas lain berupa latihan isometrik quadriceps dapat

meningkatkan kekuatan dan masa otot, meningkatan stabilitas sendi,

meningkatkan sirkulasi dan mengurangi spasme. Kedua modalitas tersebut

diharapkan dapat meningkatkan kemampuan fungsional subjek.


42

G. Kerangka Konsep

Aktivitas subjek dan


medika menosa

Pre- Latihan isometrik Post-


Kriteria inklusi
test quadriceps test

Populasi Subjek Dibandingkan

Penambahan KT
Pre- pada latihan Post-
Kriteria eksklusi test isometrik test
quadriceps

Aktivitas subjek dan


medika mentosa

Gambar 2.8 Kerangka konsep

Keterangan gambar 2.8 :

Dari populasi lalu disaring untuk dijadikan sampel subjek yang memenuhi

kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Lalu subjek dalam penelitian ini akan dibagi

menjadi 2 kelompok. Kelompok I diberi perlakuan berupa latihan isometrik

quadriceps, sedangkan kelompok II diberi perlakuan berupa penambahan KT

pada latihanisometrik quadriceps. Pengukuran diukur selama pre-test dan post-

test. Hasil post-test dilakukan perbandingan untuk mengetahui manakah yang

lebih berpengaruh.
43

H. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah (1) terdapat pengaruh latihan isometrik

quadriceps terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada penderita OA lutut,

(2) terdapat pengaruh penambahan KT pada latihan isometrik quadriceps terhadap

peningkatan kemampuan fungsional pada penderita OA lutut, (3) terdapat

perbedaanpengaruh antara penambahan KT dengan tanpa penambahan KT pada

latihan isometrik quadriceps terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada

penderita OA lutut, (4) penambahan KT pada latihan isometrik quadriceps lebih

berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada penderita OA

lutut.

Anda mungkin juga menyukai