Memahami Osteoarthritis Lutut dan Anatomi
Memahami Osteoarthritis Lutut dan Anatomi
Tinjauan Pustaka
A. Osteoarthritis Lutut
1. Definisi osteoarthritis
“arthro” (sendi), dan “itis” (inflamasi). Sehingga jika dilihat dari arti kata tersebut
dapat disimpulkan bahwa OA adalah bentuk inflamasi tulang pada sendi (Prieto-
(OARSI) dalam Parker (2016) bahwa gerakan dapat timbul karena adanya sendi,
apabila terjadi cedera pada sendi dapat menimbulkan berbagai kondisi patologis
salah satunya adalah OA. Secara fisiologis, tubuh akan mengadakan perbaikan
pada setiap cedera, yaitu akan timbul keadaan pro-inflamasi yang berasal dari
imunitas tubuh itu sendiri. Disisi lain penyakit OA ini ditandai oleh adanya stress
sel dan degradasi matriks ekstraseluler. Secara klinis OA ini dapat timbul akibat
sendi lutut. Dalam keadaan ini dapat memberikan dampak kepada penderita
berupa timbulnya nyeri, dan kehilangan fungsi sendi lutut secara fisiologis
8
9
Gambar 2.1
Anatomis lutut normal (kiri) dan saat terjadi OA (kanan) (Aigner, 2011).
Keterangan gambar 2.1 :
1. Kerusakan kartilago
2. Fibrosis kapsuler
3. Osteofit
4. Hiperplasia sinovial
5. Remodelling subkondral dan sklerosis
6. Kartilago
7. Kapsul sendi
8. Membran sinovial
9. Subkondral
kronis yang progresif, degeneratif dan termasuk penyakit yang pasif. Namun
Sehingga dapat diketahui bahwa OA tidak hanya berdampak pada kartilago, tetapi
berdampak pada semua struktur sendi, misalnya otot-otot disekitar sendi, ligamen,
tulang dan synovial. OA menyerang kartilago tetapi hal ini tidak menimbulkan
keluhan apapun pada penderita, karena kartilago tidak memiliki serabut saraf
sehingga tidak bisa secara langsung timbul adanya nyeri (Prieto-Alhambra, dkk,
2014). Kartilago ini mengalami perubahan kearah yang lebih buruk, menjadi
dapat mengakibatkan adanya gesekan antar kedua tulang tersebut. Hal inilah yang
(Parekh dan Vaghela, 2018). Adanya penipisan kartilago (tulang rawan) akan
sendi penopang berat badan antara lain vertebra, sendi panggul, sendi lutut dan
2. Anatomi fungsional
berdiri dan menunjang postur tubuh. Maka dari itu sendi-sendi ini memiliki
2013). Sendi lutut merupakan sendi yang paling penting untuk menopang berat
badan, karena ia menghubungkan antara tungkai atas dan tungkai bawah. Sendi
lutut sendiri merupakan sendi yang paling besar serta memiliki otot-otot
penggerak sendi dan ligament yang kuat (Pratama, 2019). Menurut arah
gerakannya sendi lutut ini merupakan sendi engsel yang hanya memiliki 1 arah
gerakan, yaitu kearah fleksi dan ekstensi (Iannotti dan Parker, 2013)
11
1
10
2
9
3
4 8
5
7
6
Gambar 2.2
Anatomi sendi lutut tampak depan (Drake, dkk, 2012).
Keterangan gambar 2.2 :
1. Femur
2. Ligamen collaterale lateral
3. Articulatio patellofemoral
4. Meniskus lateralis
5. Articulatio tibiofibular proksimal
6. Fibula
7. Tibia
8. Articulatio tibiofemoral
9. Meniskus medialis
10. Ligamen collaterale medial
11. Patella
12
femur, tulang tibia, tulang fibula dan tulang tempurung (patella). Diantara tulang
tulang terbesar dan terpanjang. Selain itu fungsi patella sendiri adalah untuk
tempat melekatnya tendon atau otot, serta sebagai pengungkit [Link] akan
Ligamen pada sendi lutut yang paling banyak bertugas dalam aktivitas
terletak berpisah yaitu di diluar kapsul sendi atau bisa disebut dengan ligamen
esktrakapsuler untuk ligamen collaterale dan didalam kapsul sendi atau ligamen
untuk mencegah sendi lutut mengarah ke varus, dan ligamen collaterale medial
posterior berfungsi untuk mencegah tibia bergeser kearah posterior dan ligamen
(Thompson, 2010).
mengurangi gesekan antar tulang, otot, dan tendon. Teksturnya yang lunak dan
licin menyerupai putih telur terbagi menjadi bursa anterior yang terdiri dari bursa
profunda dan bursa superior yang terdiri dari bursa subpopliteus, serta musculus
Pada sendi lutut terdapat meniskus yang terdapat pada permukaan tibia.
2013).Pada sendi lutut terdapat meniskus medialis yang berukuran lebih besar
Meniskus memiliki beberapa peran yang sangat penting untuk sendi lutut, yaitu
sebagai shock absorber atau peredam kejut saat terjadinya tekanan secara tiba-tiba
kartilago yang berada diantara kedua tulang (femur dan tibia), propioseptif sendi
lutut, penentu kestabilan sendi lutut, mendistribusikan nutrisi untuk kartilago dan
Kapsul sendi pada sendi lutut terdapat 2 lapisan, yaitu lapisan luar dan
lapisan dalam. Kapsul sendi memiliki fungsi sebagai pengikat antara femur dan
tibia agar tidak bergeser saat dilakukan gerakan pada sendi. Lapisan luar atau
disebut dengan fibrous capsule yang terdiri dari jaringan pengikat yang kuat,
sebagai pelumas sendi agar sendi mudah digerakkan. Di lapisan dalam juga
itu kartilago juga sebagai pemisah agar tidak langsung terjadi benturan antar
Otot utama untuk penggerak sendi lutut adalah hamstring dan quadriceps.
semimebranosus yang biasa disebut dengan grup otot hamstring dan dibantu oleh
quadriceps terdiri atas 4 otot yaitu rectus femoris, vastus medialis, vastus
intermedius, dan vastus lateralis (Pratama, 2019). Otot rectus femoris berorigo di
caput rectum spina iliaca anterior inferior dan caput reflexum pada ilium, otot
vastus medialis berorigo pada tulang femur bagian medial, otot vastus intermedius
berorigo pada 2/3 bagian atas femur anterior-lateral sedangkan vastus lateralis
berorigo pada tulang femur bagian lateral. Otot quadriceps berinsertio pada
dari tulang femur dan dipersarafi oleh nervus femoralis yang berasal dari L2, L3
Otot quadriceps memiliki peran lain selain sebagai otot penggerak utama
ekstensi yaitu berperan dalam kestabilan dinamis sendi lutut. Apabila terjadi
kelemahan otot quadriceps maka akan berdampak pada kurangnya kestabilan otot
penurunan output neuromotor, hal ini lah yang menyebabkan adanya penurunan
1
2
6
4
Gambar 2.3
Otot quadriceps (Drake, dkk, 2012)
Keterangan gambar 2.3 :
1. Caput reflexum musculus rectus femoris
2. Caput rectum musculus rectus femoris
3. Vastus lateralis
4. Tendon quadriceps femoris
5. Rectus femoris
6. Vastus medialis
Penyusun sendi lutut terdiri dari dari tulang femur, tibia, fibula dan
1) Sendi tibiofemoral
medialis dan kondilus lateralis pada tulang femur dengan tibia plateau pada
16
tulang tibia (Pratama, 2019).Sendi ini termasuk dalam jenis sendi engsel
(Thompson, 2010). Diantara kedua tulang ini terdapat pemisah agar tidak
langsung terjadi benturan antar tulang yaitu adanya kartilago (Iannotti dan Parker,
2013).
2) Sendi patellofemoral
Sendi ini dibentuk oleh tulang patella dan tulang femur (femoral throclear
2010). Pada sendi ini mendapat dukungan dari otot vastus medialis dan vastus
lateralis, mereka saling menarik patella ke arah medial untuk vastus medialis dan
kearah proksimal untuk vastus lateralis dengan tujuan untuk stabilitas patella agar
dan tulang fibula. Sendi ini sering disebut dengan sendi sindesmosis. Dalam
2019)
sumbu gerak. Kedua sumbu gerak tersebut adalah transverse untuk gerakan fleksi
(Paulsen dan Waschke, 2013). Namun dalam sendi lutut, gerakan yang paling
utama adalah fleksi dan ekstensi (Thompson, 2010). Gerakan ini terjadi pada
17
tulang femur dan tibia, jika tulang femur yang berbentuk konvek bergerak maka
rolling dan sliding akan berlawanan. Namun berbeda jika tulang tibia yang
berbentuk konkaf bergerak, maka rolling dan sliding akan searah dengan arah
Secara fungsional lingkup gerak pada gerakan ekstensi adalah 00, jika
hiperekstesi akan mencapai 50-100 (Pratama, 2019). Lingkup gerak sendi pada
gerakan fleksi secara aktif adalah 1200-1400, jika secara pasif dapat mencapai
1600 karena tidak terbatas oleh pertemuan antar tulang hanya jaringan lunak
3. Patogenesis osteoarthritis
unsur penyusun sendi yang berfungsi sebagai peredam getaran atau peredam
beban tekanan yang terjadi pada sendi. Tulang rawan sendi yang kehilangan unsur
tulang rawan sendi tidak tahan terhadap beban tekanan yang terjadi pada sendi.
Hilangnya proteoglikan juga akan berdampak pada kerusakan kolagen yang akan
Apabila keadaan ini terus berlanjut akan terjadi tekanan tinggi terhadap celah-
Yuniarto, 2011). Osteofit juga timbul untuk mendukung serta menstabilkan sendi,
namun disisi lain osteofit juga akan menimbulkan rasa nyeri, krepitasi dan
terjadi akan memicu adanya peningkatan tekanan pada nerve ending, sehingga
nyeri OA lutut berasal dari periosteum, kapsul sendi, ligamen dan tendon. Nyeri
yang timbul akan diteruskan oleh nosiseptor ke Posterior Horn Cell (PHC).
Sensibilitas yang terjadi pada PHC juga menyerang didaerah sekitar lesi atau
daerah yang mendapatkan innervasi yang sama dengan sendi lutut. Berdasarkan
hal itu, otot quadriceps lah yang akan mengalami kelemahan untuk pertama
kalinya akibat dari aktivasi nosiseptor pada sendi lutut karena otot quadriceps
mendapat persarafan yang sesegmen dengan sendi lutut yaitu lumbal 4. Otot
quadriceps ini berfungsi sebagai pemberi kekuatan dan kestabilan pada sendi
lutut, namun jika tidak digunakan akan mudah melemah bahkan menjadi atrofi.
Yuniarto, 2011).
19
terjadinya OA. Faktor resiko ini dapat berdiri sendiri atau gabungan diantaranya.
a. Usia
Usia merupakan faktor resiko yang paling utama serta tidak dapat diubah.
Dalam bertambahnya usia, akan terjadi pula proses penuaan yang akan
mengalami kerusakan (Wijaya, 2018). Pada keadaan OA, lebih sering menyerang
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan penyebab umum yang kedua terjadi, hal ini
dikarenakan dipengaruhi oleh sistem hormon yang berbeda antara pria dan wanita
keparahan OA lebih besar pada wanita (Wijaya, 2018). Hal ini dikarenakan
2014).
c. Gen
terjadi pada sistem kolagen yang bersifat herediter (Pratama, 2019). Selain itu,
bentuk sendi, kekuatan otot serta berat badan juga dapat bersifat keturunan.
dkk, 2014).
20
d. Aktivitas fisik
manusia. Apabila melakukan aktivitas fisik secara berat dan terus-menerus maka
aktivitas fisik tidak semata-mata selalu menjadi faktor resiko yang diwaspadai,
karena apabila terjadi keseimbangan antara gerakan sendi dan otot disekitarnya
akan menjadikan sendi lutut lebih stabil dan lebih kuat. Sehingga adanya
keseimbangan antara gerakan sendi dan otot dapat menurunkan tingkat resiko
riwayat cedera sendi lutut. Terdapat peningkatan resiko 5-6 kali lipat terjadinya
OA pada orang yang memiliki riwayat cedera sendi lutut (Pratama, 2019).
Terdapat 2 cedera pada sendi lutut yang berkolerasi dengan peningkatan resiko
f. Deformitas sendi
khususnya kelainan pada sendi yang menyebabkan sendi tidak berfungsi dengan
g. Obesitas
Orang dengan obesitas memiliki resiko lebih tinggi 2 kali lipat terjadinya
(Wijaya, 2018).
h. Kekuatan otot
Kekuatan otot yang baik dalam sendi akan menurunkan tingkat resiko
terjadinya OA. Telah terbukti bahwa kekuatan otot quadriceps yang baik akan
harinya yang akan berdampak pada kelemahan dan atrofi otot (Wijaya, 2018).
a. Nyeri
tidak dirasakan pada awal timbulnya OA tetapi kemungkinan terlihat jelas secara
saraf karena osteofit dan distruksi kartilago secara progresif merupakan penyebab
timbulnya nyeri OA (Kuntoro dan Yuniarto, 2011). Nyeri akan bertambah saat
22
melakukan aktivitas berat atau adanya penekanan pada sendi lutut, seperti
aktivitas naik-turun tangga dan berjalan. Selain itu nyeri juga dirasa bertambah
saat cuaca sedang dingin. Apabila kerusakan sendi sudah parah, nyeri ini akan
terasa selama aktivitas bahkan pada saat istirahat. Jika pada sendi dengan
kerusakan yang masih ringan atau sedang, nyeri akan berkurang saat istirahat
b. Kaku sendi
Kaku sendi terjadi karena kapsul sendi menjadi restriksi dan terisi oleh
adanya gerakan pada sendi dapat membantu untuk menghilangkan kaku sendi.
Kaku sendi yang khas karena adanya OA sering muncul pada pagi hari setelah
bangun tidur dengan durasi < 30 menit atau setelah istirahat di siang hari (Prieto-
timbul pada OA, seperti nyeri dan kaku sendi menyebabkan penderita cenderung
d. Tenderness
e. Krepitasi
kartilago menjadi lebih keras. Krepitasi merupakan sensasi pada sendi yang
2014).
f. Pembengkakan
pembengkakan tulang. Jika pembengkakan pada sendi berwarna merah dan teraba
panas berarti bukan OA, karena bengkak pada OA hanya dirasa hangat.
g. Kelemahan otot
fungsi propioseptor pada saat merespon perubahan posisi sendi lutut (Kuntoro dan
Yuniarto, 2011).
24
mengganggu aktivitas pasien. Namun keluhan nyeri pada lutut bukan hanya
disebabkan oleh OA, tetapi terdapat penyakit lain seperti gout arthritis dan
bahwa diagnosis OA lutut harus memenuhi 3 gejala dan 3 tanda. Ketiga gejala
tersebut yaitu nyeri yang terus-menerus, kaku sendi pada pagi hari, menurunnya
fungsi sendi lutut dan ketiga tanda tersebut yaitu krepitas, berkurangnya lingkup
gerak sendi, pembesaran tulang. Semakin banyak tanda dan gejala yang dirasakan
beberapa kriteria sesuai gejala klinis, klinis dan hasil radiologi serta klinis dan
TABEL 2.1
Nyeri lutut yang sering + Nyeri lutut yang sering Nyeri lutut yang sering +
minimal 3 dari kriteria + osteofit + 1 dari minimal 5 dari kriteria
dibawah ini : kriteria dibawah ini : dibawah ini :
Tenderness Tenderness
menjadi 5 sesuai dengan perubahan yang dapat dilihat dari sisi gambaran
TABEL 2.2
Grade Penjelasan
7. Prognosis osteoarthritis
Sendi lutut terdiri dari 3 persendian yang menyusunnya, hal ini membuat
sendi lutut merupakan sendi yang paling komplek. Banyak penelitian yang telah
waktu yang lama bahkan sampai beberapa tahun. Namun jika disertai adanya
cedera pada lutut maka progresitifitas OA berjalan lebih cepat. Selain itu,
penambahan beban pada sendi yang berulang-ulang dan berat badan. Pembebanan
berat badan yang tidak merata karena perubahan alignment pada sendi lutut akan
memerlukan bantuan agar dapat kembali ke aktivitas seperti sedia kala. Prevalensi
mau merubah gaya hidup dengan berolahraga dan berusaha untuk menurunkan
B. Kemampuan Fungsional
fungsional pada penderita (Handono, dkk, 2012 dikutip oleh Pramita dan
dan disuse atrophy atau kelemahan dari otot quadriceps yang merupakan stabilitas
utama pada sendi lutut sehingga sendi lutut akan menjadi instabil (Wibowo, dkk,
terhadap alat bantu dalam beraktivitas (Pratama, 2019). Aktivitas tersebut meliputi
dinamis seperti berjalan dan naik turun tangga (Ogut, dkk, 2018).
(Pramita dan Wahyudi, 2020). WOMAC terdiri dari 24 item yang masing-masing
itemnya memiliki nilai 0-4 yang berarti 0 berarti normal, 1 berarti ringan, 2 berarti
sedang, 3 berarti berat, dan 4 berarti sangat berat. Item-item tersebut terdiri dari 5
item untuk nyeri, 2 item untuk kekauan dan 17 item untuk kemampuan fungsional
TABEL 2.3
kekakuan dan keterbatasan fungsional semakin baik dan sebaliknya jika nilai
yang disebabkan oleh karena instabilitas sendi lutut. Instabilitas sendi lutut
sebagai stabilisator aktif pada sendi lutut (Nugraha dan Kambayan, 2017).
nosiseptor di Posterior Horn Cell (PHC) yang selanjutnya akan menginhibisi sel
motoris yang berada di Anterior Horn Cell (AHC) pada segmen Lumbal 4. Otot
dengan sendi lutut (Kuntoro dan Yuniarto, 2011). Kelemahan otot akan
Otot quadriceps termasuk otot yang dianggap lebih kuat daripada otot
ekstensor lainnya, maka dari itu dibutuhkan kekuatan otot quadriceps yang lebih
optimal untuk dapat kembali ke aktivitas fungsional seperti berjalan, berdiri dari
kemampuan aktivitas dimulai dari kontraksi isometrik otot quadriceps yang dapat
sehingga massa otot akan bertambah. Jika latihan dilakukan secara rutin akan
lebih baik dan kemampuan fungsional pada penderita OA lutut dapat meningkat
lancarnya sistem vaskularisasi lokal yang akan kaya nutrisi dan oksigen serta
serabut otot baru yang akan berperan dalam peningkatan kekuatan otot
rangsangan yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot adalah dalam keadaan
darah dalam otot mengalami iskemik karena terjepit oleh otot yang sedang
berkontraksi.
32
yang bersifat statis, dengan kata lain latihan ini tidak disertai adanya perubahan
panjang otot, serta hanya sedikit atau bahkan tidak ada pergerakan pada sendi
yang dapat merangsang nyeri pada sendi lutut. Selain itu review dari jurnal
Jayson, dkk (2011), Norden (2008), Amin dan Baker, dkk (2009), Cetin, dkk
yang paling cocok untuk penderita OA. Dengan alasan bahwa latihan ini aman,
murah, dapat sebagai home program exercise serta membutuhkan alat yang
Jika adanya kelemahan otot dan dibiarkan saja maka gangguan pada sendi
akan menjadi lebih parah, sehingga latihan penguatan otot sangat penting bagi
penderita OA lutut. Disisi lain otot merupakan pelindung sendi dan stabilitas sendi
yang aktif. Namun dalam latihan penguatan harus diperhatikan karena bisa jadi
akan memperparah kondisi pada sendi, misal pada posisi 450-900 fleksi knee akan
terjadi kompresi pada patella dan menyebabkan nyeri pada patelofemoral. Selain
itu latihan isometrik quadriceps dilakukan pada posisi tanpa adanya nyeri
dengan 2 posisi yaitu dengan pasien terlentang atau duduk serta posisi lutut dalam
lalu meminta pasien untuk menekankan lutut kearah bawah dan mengencangkan
Gambar 2.4
Quadriceps set (Nugraha dan Kambayana, 2017).
Namun latihan quadriceps set ini hanya difokuskan pada otot vastus
medialis oblique. Untuk melatih bagian rectus femoris dan vastus intermedius
dapat dilakukan dengan latihan straight leg raise (SLR). Posisi pasien terlentang
dan lutut kontralateral fleksi bertujuan untuk menstabilkan pelvis, panggul, dan
kontralateral. Lalu tungkai yang berada di posisi bawah difleksikan 900, kemudian
angkat tungkai yang berada di atas dengan lutut tetap ekstensi. Diangkat sekitar 10
A B
Gambar 2.5
Latihan isometrik otot vastus lateralis (Huang, dkk, 2017)
minimal 6 detik dan tidak lebih dari 10 detik karena akan menimbulkan otot lebih
cepat lelah (Prio, dkk, 2017). Latihan dilakukan minimal 2 set per hari dengan 10
kali repetisi serta selingan istirahat selama 2 detik disetiap kontraksi (Nugraha dan
Arthritis Care and Research yang mana apabila latihan quadriceps set yang
dilakukan selama 2-3 kali dalam seminggu dapat mempercepat pelepasan hormon
2018).
35
D. Kinesio Taping
yang diaplikasikan pada otot yang lemah agar dapat menurunkan nyeri dan
modalitas fisioterapi untuk menangani kasus OA, salah satunya ialah KT yang
memiliki beberapa manfaat dan memiliki sifat elastis dan tipis seperti kulit
(Nayanti, dkk., 2020). Manfaat yang bisa didapat dari KT adalah dapat
fungsional penderita OA (Wise, 2011 dikutip oleh Pramita dan Wahyudi, 2020).
(2011) meliputi aktivasi mekanoreseptor dikulit, terutama terjadi pada saat otot
Serabut afferen IIa merupakan serabut saraf penampang tebal yang berperan aktif
dalam inhibisi nyeri yang ditransmisikan oleh serabut saraf berpenampang kecil
(tipe Aδ dan C). Inhibsi ini dikenal sebagai teori gerbang kontrol.
Aplikasi taping akan memberikan efek penarikan pada fascia otot sehingga
akan mengaktivasi pembuluh darah limfatik dan kapiler diregio lesi. Efek ini
terhadap pengurangan beban otot pada saat berkontraksi, sehingga otot dalam
keadaan rileks dan terpenuhinya supplai oksigen dan nutrisi (Kuntoro dan
Yuniarto, 2011).
36
dengan metode yang dianjurkan oleh Kenzo Kase dengan membentuk tape elastik
menjadi huruf “Y” dan dipasang dari origo ke insersio otot. Pemasangan KT
dengan bentuk huruf “Y” pada otot quadriceps bertujuan untuk menstimulasi otot.
Otot quadriceps terdiri dari 4 otot, namun pemasangan KT disini hanya pada 3
otot yaitu rectus femoris, vastus medialis dan vastus lateralis sehingga terdapat 3
lembar KT dengan bentuk huruf “Y” yang digunting dan disesuaikan pada
spina iliaca anterior superior sampai pada atas patella dengan posisi sendi
Pemasangan KT pada otot vastus medialis yaitu dipasang pada otot vastus
medialis atau sepertiga distal otot paha sisi medial sampai sejajar sisi medial
patella dengan posisi panggul ekstensi. Cabang tape KT bagian lateral dipasang
dengan tarikan 100% dari panjang tape KT dan ditempelkan pada sekitar medial
patella sampai bawah patella dengan posisi lutut fleksi 450, sedangkan cabang
tape KT bagian medial dipasang dengan tarikan 100% dari panjang tape KT dan
ditempelkan disepanjang sisi medial tibia dengan posisi lutut fleksi 450.
major sampai distal paha sejajar sisi lateral patella dengan posisi panggul
ekstensi. Cabang tape KT bagian medial dipasang dengan tarikan 100% dari
panjang tape KT dan ditempelkan di sekitar lateral patella sampai bawah patella
37
dipasang dengan tarikan 100% dari panjang tape KT dan ditempelkan kearah
Gambar 2.6
Lutut dengan Kinesio Taping (Ogut, dkk, 2018).
Penelitian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Kim dan
latihan penguatan otot anggota gerak bawah dan kelompok II yaitu 12 subjek
diberi latihan penguatan otot anggota gerak bawah ditambah dengan pemasangan
KT. Kedua kelompok ini diberikan latihan penguatan dengan open kinetic chain
dan close kinetic chain 3 kali seminggu dalam 4 minggu dengan durasi latihan 30
KT pada otot quadriceps femoris. Pengukuran dilakukan selam pre-test dan post-
38
test dengan alat ukur Korean Western Ontario and McMaster Universities
standing (STS) untuk mengukur durasi selama 5 set duduk dan berdiri pada kursi
tanpa sandaran dan time up and go test (TUGT) untuk mengukur durasi dari
duduk di kursi dengan sandaran setinggi 46 cm lalu berjalan sejauh 3 meter dan
alat ukur yang digunakan antara pre-test dan post-test dalam kelompok yang
diberi latihan penguatan lalu ditambah dengan pemasangan KT. Namun pada
yang signifikan.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Ogut, dkk (2018) dengan metode
pack selama 30 menit, dan ultrasound selama 10 menit selama 5 hari per-minggu
dalam 3 minggu. Pasien dianjurkan untuk latihan penguatan otot sekitar lutut yang
Index (WOMAC), goniometer, berjalan dengan jarak 50 meter dan puncak torsi
39
treatment, 1 bulan dan 3 bulan setelah treatment. Hasil yang didapat dalam
penelitian ini ditemui adanya penurunan secara signifikan pada nyeri dengan alat
pada pasien perempuan dengan OA lutut efektif untuk nyeri dan kapasitas
fungsional.
40
F. Kerangka Pikir
Faktor Resiko :
- Usia
Penipisan kartilago
- Jenis kelamin
- Gen
- Aktivitas fisik Osteoarthritis lutut
- Cedera sendi
- Deformitas sendi - Nyeri
- Obesitas - Kaku sendi
- Pembengkakan
- Krepitasi
- Menurunnya lingkup gerak sendi
- Menurunnya kekuatan otot sekitar sendi
- Instabilitas sendi lutut
adalah usia, gen, jenis kelamin, aktivitas fisik, cedera sendi, deformitas sendi dan
obesitas. Jika faktor-faktor resiko ini tidak ditangani dengan baik, akan
adanya krepitasi, serta menurunnya lingkup gerak sendi. Selain itu OA juga akan
pada latihan isometrik quadriceps yang dapat meningkatkan sirkulasi darah dan
G. Kerangka Konsep
Penambahan KT
Pre- pada latihan Post-
Kriteria eksklusi test isometrik test
quadriceps
Dari populasi lalu disaring untuk dijadikan sampel subjek yang memenuhi
kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Lalu subjek dalam penelitian ini akan dibagi
lebih berpengaruh.
43
H. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah (1) terdapat pengaruh latihan isometrik
lutut.