0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Peran dan Kewenangan DPD dalam Ketatanegaraan

Makalah ini membahas tentang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai lembaga negara yang dibentuk pasca-amandemen UUD 1945 untuk mewakili kepentingan daerah di tingkat nasional. DPD memiliki kewenangan terbatas dalam legislasi dan pengawasan, serta diatur oleh berbagai dasar hukum termasuk UUD 1945 dan UU MD3. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran, kewenangan, dan efektivitas DPD dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Diunggah oleh

sryadrmaa515
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Peran dan Kewenangan DPD dalam Ketatanegaraan

Makalah ini membahas tentang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai lembaga negara yang dibentuk pasca-amandemen UUD 1945 untuk mewakili kepentingan daerah di tingkat nasional. DPD memiliki kewenangan terbatas dalam legislasi dan pengawasan, serta diatur oleh berbagai dasar hukum termasuk UUD 1945 dan UU MD3. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran, kewenangan, dan efektivitas DPD dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Diunggah oleh

sryadrmaa515
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

LEMBAGA NEGARA

“MPR”

DI SUSUN OLEH:

ARDYAN PRATAMA 12220714008

ARIUS SYAIKHI 12220711418

BAHRUR RIZKI 122207152827

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

2025
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pembentukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan salah satu produk


reformasi ketatanegaraan yang lahir dari amandemen UUD 1945. Secara
konstitusional kehadiran DPD ditegaskan pertama kali dalam Perubahan Ketiga
UUD 1945 (disahkan November 2001) dengan tujuan memberikan saluran
representasi bagi kepentingan daerah pada level nasional. Pembentukan lembaga
ini dimaksudkan untuk memperbaiki keseimbangan antara pusat dan daerah serta
memperkuat peran daerah dalam proses pembentukan kebijakan nasional. Secara
yuridis, kewenangan dasar DPD diatur dalam Pasal 22C dan Pasal 22D UUD
1945. Pasal-pasal tersebut memberikan DPD mandat untuk mewakili aspirasi
daerah dalam bidang tertentu, antara lain mengajukan rancangan undang-undang
yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat-daerah,
pembentukan/pemekaran wilayah, pengelolaan sumber daya alam dan
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan
terhadap RUU yang terkait APBN, pajak, pendidikan, dan agama. Ketentuan
konstitusional inilah yang menjadi dasar tugas representatif DPD dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia.

Secara operasional dan tata kerja, kewenangan DPD diperinci lebih lanjut
melalui peraturan perundang-undangan, termasuk Undang-Undang MD3 (mis. UU
No. 17/2014 dan perubahannya) serta peraturan internal DPD. Regulasi ini
mengatur mekanisme pengajuan usul RUU, hak pemberian pertimbangan kepada
DPR, serta fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang yang
berdampak pada daerah. Namun, kerangka normatif tersebut juga menegaskan
adanya keterbatasan kewenangan legislatif DPD — khususnya bahwa keputusan
akhir mengenai RUU tetap berada di tangan DPR, sehingga posisi DPD lebih
bersifat pemberi usul/pertimbangan daripada pembuat undang-undang yang setara.
Dalam praktiknya, keterbatasan kewenangan ini menimbulkan perhatian akademik
dan kritik publik. Sejumlah kajian menyatakan bahwa meskipun DPD memiliki
fungsi representasi daerah, efektivitasnya dalam mempengaruhi kebijakan nasional
masih terbatas karena tidak memiliki hak suara yang setara dalam pengambilan
keputusan legislatif bersama DPR. Isu-isu lain yang muncul antara lain tentang
mekanisme koordinasi pusat-daerah, kapasitas kader DPD dalam penyusunan
kebijakan teknis, serta kebutuhan penguatan instrumen pengawasan dan legislasi
yang memang menyentuh kepentingan daerah. Kritik dan kajian akademik ini
menandakan adanya celah antara rancangan konstitusional dan realitas politik-
lembaga di lapangan.

Berdasarkan kondisi tersebut, kajian mengenai peran, kewenangan, dan posisi


institusional DPD menjadi penting — baik dari perspektif teori representasi daerah
dalam sistem presidensial-parlementer hybrid Indonesia, maupun dari perspektif
efektivitas pengaturan otonomi daerah. Penelitian ini diperlukan untuk menjawab
pertanyaan tentang sejauh mana DPD mampu mewujudkan tujuan
pembentukannya, faktor-faktor apa saja yang menghambat peran tersebut, serta
alternatif reformasi hukum atau kebijakan yang dapat memperkuat fungsi DPD
sebagai wakil daerah dalam sistem legislatif nasional.
I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia?
2. Apa dasar hukum yang menjadi landasan pembentukan dan pelaksanaan tugas
DPD?
3. Bagaimana sejarah pembentukan DPD sejak masa reformasi hingga saat ini?
4. Apa saja tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh DPD menurut konstitusi
dan peraturan perundang-undangan?
5. Bagaimana fungsi dan peran DPD dalam sistem ketatanegaraan Indonesia,
khususnya dalam mewakili kepentingan daerah di tingkat nasional?

I.3 Tujuan

1. Menjelaskan pengertian DPD sebagai lembaga perwakilan daerah yang


memiliki fungsi representatif dalam struktur lembaga negara Republik
Indonesia.
2. Menguraikan dasar hukum pembentukan DPD, baik yang tercantum dalam
konstitusi maupun peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan
kewenangannya.
3. Menguraikan sejarah terbentuknya DPD sejak masa reformasi sebagai upaya
memperkuat keterwakilan daerah di tingkat nasional.
4. Menjabarkan tugas dan kewenangan DPD sesuai dengan ketentuan dalam
UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR,
DPD, dan DPRD (UU MD3) beserta perubahannya.
5. Menganalisis fungsi DPD dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, serta menilai
sejauh mana lembaga ini mampu menjalankan peran representatifnya bagi
kepentingan daerah.
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dalam Sistem Ketatanegaraan


Indonesia

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan salah satu lembaga negara yang
dibentuk pasca-amandemen UUD 1945 sebagai wujud representasi daerah dalam
sistem ketatanegaraan Indonesia. Secara konseptual, DPD adalah lembaga
perwakilan yang anggotanya berasal dari setiap provinsi di Indonesia melalui
mekanisme pemilihan umum. Keberadaan DPD dimaksudkan untuk menyalurkan
aspirasi dan kepentingan daerah ke tingkat nasional, serta memperkuat prinsip
demokrasi dan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) (Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar
Demokrasi, 2010). Menurut Pasal 22C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, “Anggota
Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan
jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah tidak lebih dari sepertiga
jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.” Ketentuan tersebut menunjukkan
bahwa DPD memiliki karakter representatif daerah yang berbeda dari DPR yang
berorientasi pada representasi politik partai.

Dalam konteks kelembagaan, DPD termasuk dalam kategori state auxiliary


organ, yaitu lembaga negara yang dibentuk untuk memperkuat fungsi-fungsi
tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan demokrasi. Namun berbeda
dengan DPR yang menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan secara
penuh, DPD hanya memiliki kewenangan terbatas di bidang legislasi dan
pengawasan yang terkait langsung dengan kepentingan daerah. Hal ini ditegaskan
dalam Pasal 22D UUD 1945, yang menyatakan bahwa DPD dapat mengajukan
rancangan undang-undang tertentu, ikut membahas RUU tertentu, serta
memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU tertentu, tetapi tidak memiliki
hak untuk mengesahkan undang-undang.

Menurut Sri Soemantri (2003), DPD merupakan perwujudan dari prinsip


regional representation, yaitu representasi yang didasarkan pada wilayah atau
daerah, bukan pada ideologi politik. Hal ini berbeda dari prinsip political
representation yang menjadi dasar keberadaan DPR. Dengan demikian, DPD
dibentuk untuk memastikan bahwa kepentingan daerah memiliki saluran politik di
tingkat nasional tanpa harus bergantung pada partai politik.

Lebih lanjut, Bagir Manan (2004) menegaskan bahwa DPD hadir untuk
memperkuat sistem perwakilan bikameral di Indonesia. Meskipun belum
sepenuhnya bicameral balance seperti dalam sistem parlemen dua kamar di
negara-negara lain (misalnya Amerika Serikat atau Australia), keberadaan DPD
dimaksudkan sebagai second chamber atau kamar kedua yang memberikan
pandangan, pengawasan, dan pertimbangan terhadap kebijakan nasional dari
perspektif daerah.
Dengan demikian, secara yuridis dan teoritis, pengertian Dewan Perwakilan
Daerah dapat dipahami sebagai lembaga perwakilan rakyat yang berasal dari
daerah-daerah di Indonesia, dibentuk untuk memperjuangkan kepentingan daerah
dalam sistem pemerintahan nasional. DPD merupakan bagian dari lembaga
legislatif dalam arti luas, namun dengan fungsi dan kewenangan yang berbeda dari
DPR. Eksistensinya menegaskan bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia berusaha
mengakomodasi prinsip keseimbangan antara sentralisasi dan desentralisasi dalam
satu kesatuan negara yang utuh.

II.2 Dasar Hukum Yang Menjadi Landasan Pembentukan Dan


Pelaksanaan Tugas DPD

Dasar hukum pembentukan dan keberadaan Dewan Perwakilan Daerah (DPD)


di Indonesia berakar pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang disahkan pada tanggal 9 November 2001.
Melalui amandemen ini, DPD secara resmi menjadi lembaga konstitusional yang
memiliki kedudukan sejajar dengan lembaga-lembaga negara lainnya. Pengaturan
mengenai DPD termuat secara eksplisit dalam Pasal 22C dan Pasal 22D UUD NRI
Tahun 1945, yang menjadi landasan utama keberadaan, keanggotaan, serta
kewenangan lembaga tersebut. Pasal 22C UUD 1945 mengatur mengenai
komposisi dan keanggotaan DPD, yaitu bahwa anggota DPD dipilih dari setiap
provinsi melalui pemilihan umum dengan jumlah yang sama untuk setiap provinsi,
serta jumlah keseluruhan anggota DPD tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota
DPR. Ketentuan ini menegaskan bahwa representasi DPD bersifat teritorial dan
non-partisan, berbeda dari DPR yang berlandaskan representasi politik melalui
partai.

Selain pengaturan dalam konstitusi, dasar hukum DPD juga diperkuat dengan
berbagai undang-undang organik dan peraturan pelaksana. Salah satunya adalah
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (UU MD3), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2019. Undang-undang ini mengatur secara rinci
mengenai kedudukan, susunan, tugas, kewenangan, serta tata kerja DPD. Di dalam
UU MD3, DPD diakui sebagai lembaga negara yang memiliki fungsi legislasi,
pertimbangan, dan pengawasan yang bersifat terbatas. Pasal 248 ayat (1) UU No.
17 Tahun 2014 menyebutkan bahwa DPD merupakan lembaga negara yang
anggotanya dipilih melalui pemilihan umum dari setiap provinsi dan berkedudukan
sebagai wakil daerah dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. Pengaturan ini
memberikan legitimasi formal terhadap keberadaan DPD sekaligus menjadi acuan
hukum dalam menjalankan tugas-tugas kelembagaannya. Lebih lanjut, pelaksanaan
tugas DPD juga didukung oleh Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2022 tentang
Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, yang menjadi pedoman
internal dalam hal mekanisme sidang, pembentukan alat kelengkapan, prosedur
pengajuan RUU, serta tata cara pelaksanaan fungsi pengawasan dan pertimbangan.

Selain itu, dalam kerangka hukum nasional, keberadaan DPD juga berkaitan
dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang
mengatur mekanisme pemilihan anggota DPD secara langsung oleh rakyat di
setiap provinsi. Ketentuan tersebut menjamin legitimasi demokratis bagi anggota
DPD, sekaligus memperkuat prinsip representative democracy di tingkat daerah.

Secara teoretis, dasar hukum pembentukan DPD mencerminkan penerapan


prinsip checks and balances dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Sebagaimana
dijelaskan oleh (2012 Jimly Asshiddiqie), pembentukan DPD merupakan langkah
konstitusional untuk memperluas partisipasi daerah dalam proses pembuatan
kebijakan nasional serta memperkuat integrasi antara pemerintah pusat dan daerah
dalam satu kesatuan sistem pemerintahan.

Dengan demikian, dasar hukum DPD tidak hanya bersumber dari konstitusi,
tetapi juga dari berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur struktur,
fungsi, dan kewenangan lembaga ini. Seluruh ketentuan tersebut menjadi pijakan
yuridis bagi DPD dalam menjalankan perannya sebagai lembaga perwakilan
daerah yang berkontribusi terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang
demokratis, adil, dan berimbang antara pusat dan daerah.

II.3 Sejarah Pembentukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD)

Sejarah pembentukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tidak dapat dilepaskan


dari dinamika reformasi konstitusi yang terjadi pasca runtuhnya rezim Orde Baru
pada tahun 1998. Sebelum reformasi, sistem ketatanegaraan Indonesia menganut
model perwakilan tunggal melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bersifat hierarkis. Dalam struktur MPR
sebelum amandemen, terdapat unsur “Utusan Daerah” dan “Utusan Golongan,”
namun keberadaannya bersifat non-elektif (tidak dipilih langsung oleh rakyat) dan
memiliki posisi yang lemah dalam proses legislasi (Jimly Asshiddiqie,
Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, 2010).

Tuntutan reformasi yang bergulir pada akhir 1990-an membawa perubahan


besar dalam struktur ketatanegaraan, termasuk dorongan kuat untuk menghadirkan
lembaga perwakilan baru yang mampu menyalurkan aspirasi daerah secara
langsung. Hal ini didorong oleh munculnya berbagai ketimpangan pembangunan
antara pusat dan daerah, serta kuatnya dominasi kekuasaan pusat yang
mengabaikan kepentingan lokal. Oleh karena itu, dalam proses amandemen UUD
1945 yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1999–
2002, muncul gagasan untuk membentuk lembaga perwakilan daerah yang bersifat
demokratis dan otonom dari partai politik.

Gagasan pembentukan DPD mulai dibahas secara serius pada Sidang Tahunan
MPR tahun 2000, dan akhirnya disahkan dalam Perubahan Ketiga UUD 1945 pada
tanggal 9 November 2001. Perubahan tersebut melahirkan Pasal 22C dan Pasal
22D, yang secara eksplisit mengatur tentang DPD sebagai lembaga negara baru
yang memiliki fungsi representasi daerah di tingkat nasional. Dengan demikian,
pembentukan DPD merupakan salah satu hasil penting dari reformasi konstitusi,
yang menandai pergeseran sistem ketatanegaraan Indonesia dari model unicameral
legislature (satu kamar) menuju model bicameral legislature (dua kamar),
meskipun dengan karakteristik soft bicameralism karena kewenangan DPD yang
masih terbatas dibanding DPR (Bagir Manan, Lembaga-Lembaga Negara Menurut
UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, 2005).
Secara historis, pemilihan umum pertama untuk memilih anggota DPD
diselenggarakan pada tahun 2004, bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan
DPRD. Pada masa itu, setiap provinsi di Indonesia diwakili oleh empat orang
anggota DPD yang dipilih langsung oleh rakyat melalui mekanisme pemilu. Hal
ini menandai dimulainya peran DPD secara formal dalam struktur lembaga
perwakilan di Indonesia. Anggota DPD periode pertama kemudian dilantik pada
tanggal 1 Oktober 2004, bersamaan dengan pembentukan MPR hasil pemilu 2004.

Setelah berdiri secara resmi, DPD mulai menjalankan fungsi legislasi,


pertimbangan, dan pengawasan sebagaimana diatur dalam UUD 1945 dan
Undang-Undang MD3. Namun dalam praktiknya, peran DPD seringkali
menghadapi kendala akibat keterbatasan kewenangan konstitusional. DPD tidak
memiliki hak untuk memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang,
dan hanya dapat menyampaikan usulan serta memberikan pertimbangan kepada
DPR. Kondisi ini menimbulkan perdebatan akademik mengenai perlunya
penguatan peran DPD agar sistem bikameral di Indonesia dapat berfungsi lebih
seimbang (balanced bicameralism).

Beberapa upaya untuk memperkuat peran DPD telah dilakukan melalui judicial
review di Mahkamah Konstitusi (MK). Salah satu putusan penting adalah Putusan
MK Nomor 92/PUU-X/2012, yang menyatakan bahwa DPD memiliki hak untuk
ikut membahas RUU secara setara dengan DPR dan Presiden dalam hal-hal
tertentu sesuai dengan kewenangannya. Putusan ini menjadi tonggak penting
dalam memperluas ruang partisipasi DPD dalam proses legislasi nasional,
meskipun dalam implementasinya masih memerlukan penyesuaian kelembagaan.

Dengan demikian, sejarah pembentukan DPD merupakan bagian dari proses


panjang reformasi politik dan hukum di Indonesia. Lahirnya DPD menandai
komitmen negara untuk memperkuat prinsip demokrasi, representasi, dan otonomi
daerah dalam satu kesatuan sistem pemerintahan. Meskipun kewenangan DPD
masih terbatas, keberadaannya menjadi instrumen penting dalam memastikan
bahwa aspirasi daerah dapat tersampaikan dan dipertimbangkan dalam kebijakan
nasional. Dalam konteks perkembangan hukum tata negara, DPD merupakan
simbol upaya menuju sistem parlemen dua kamar yang lebih inklusif dan
berimbang antara kepentingan pusat dan daerah.

II.4 Tugas Dan Wewenang Lembaga Dpr

Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah (DPD)


memiliki kedudukan sebagai lembaga perwakilan yang mewakili kepentingan
daerah di tingkat nasional. Walaupun secara struktural sejajar dengan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR), namun kewenangan DPD bersifat terbatas sesuai
dengan amanat konstitusi. Tugas dan kewenangan DPD diatur dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan diperjelas melalui
peraturan perundang-undangan, seperti Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3).

Menurut Pasal 22D UUD NRI Tahun 1945, DPD memiliki tiga bidang utama
kewenangan, yaitu bidang legislasi, bidang pertimbangan, dan bidang pengawasan.
Pertama, dalam bidang legislasi, DPD berwenang mengajukan rancangan undang-
undang (RUU) tertentu kepada DPR. RUU yang dapat diajukan terbatas pada
bidang otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Selain itu, DPD juga ikut
membahas RUU yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut, walaupun tidak
memiliki hak akhir dalam pengesahan undang-undang.

Kedua, dalam bidang pertimbangan, DPD memiliki kewenangan memberikan


masukan kepada DPR atas RUU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), pajak, pendidikan, dan agama. Fungsi pertimbangan ini menunjukkan
bahwa DPD berperan dalam menjaga keseimbangan kepentingan antara pusat dan
daerah agar kebijakan nasional tidak mengabaikan aspirasi daerah. Selain itu, DPD
juga memberikan pertimbangan dalam proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) sebagaimana diatur dalam Pasal 23F ayat (1) UUD 1945.

Ketiga, dalam bidang pengawasan, DPD berwenang melakukan pengawasan


atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan dan
pemekaran daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainnya, serta pelaksanaan APBN. Hasil pengawasan
tersebut disampaikan kepada DPR sebagai bahan pertimbangan dalam
menjalankan fungsi pengawasan secara lebih luas. Namun demikian, hasil
pengawasan DPD tidak bersifat mengikat, melainkan hanya berupa rekomendasi
politik yang dapat dijadikan masukan oleh DPR dan pemerintah.

Lebih lanjut, Pasal 249 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MD3
mempertegas rincian tugas DPD. Dalam ketentuan tersebut disebutkan bahwa
DPD memiliki tugas menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat daerah,
melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan otonomi daerah, serta ikut serta dalam
penyusunan program legislasi nasional yang berkaitan dengan kepentingan daerah.
DPD juga dapat membentuk alat kelengkapan seperti panitia, komite, dan
kelompok kerja untuk melaksanakan fungsi legislasi, pertimbangan, dan
pengawasan secara efektif.

Meskipun kewenangan DPD secara konstitusional masih terbatas dibandingkan


dengan DPR, perannya tetap penting dalam memperkuat integrasi nasional.
Menurut pendapat Jimly Asshiddiqie (2010), keterlibatan DPD dalam proses
legislasi dan pengawasan menjadi bentuk check and balance yang memperkaya
demokrasi Indonesia, terutama dalam memastikan kebijakan nasional berpihak
pada pemerataan pembangunan daerah. Namun demikian, efektivitas DPD masih
bergantung pada reformasi kelembagaan dan penguatan fungsi yang
memungkinkannya memiliki posisi yang lebih seimbang dalam sistem perwakilan
dua kamar (bikameral).

Dengan demikian, tugas dan kewenangan DPD dapat dipahami sebagai


mekanisme representasi daerah dalam proses legislasi dan pengawasan di tingkat
nasional. Walaupun bersifat terbatas, DPD memiliki fungsi strategis untuk
memperjuangkan kepentingan daerah dan memastikan bahwa kebijakan nasional
dilaksanakan secara adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
II.5 Fungsi Dan Peran Dalam Lembaga DPD

Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah (DPD)


memegang fungsi strategis sebagai lembaga perwakilan daerah yang berperan
menyalurkan aspirasi dan kepentingan daerah ke tingkat nasional. Lembaga ini
dibentuk dengan tujuan utama memperkuat prinsip representasi daerah dalam
penyelenggaraan pemerintahan, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap
dominasi kekuasaan legislatif yang sebelumnya hanya dipegang oleh Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan demikian, DPD merupakan bagian dari
reformasi politik pasca-amandemen UUD 1945 yang bertujuan untuk menciptakan
sistem perwakilan yang lebih adil, demokratis, dan inklusif. Secara normatif,
fungsi dan peran DPD diatur dalam Pasal 22D Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam pasal tersebut, DPD memiliki tiga fungsi
utama, yaitu fungsi legislasi, fungsi pertimbangan, dan fungsi pengawasan. Fungsi
legislasi DPD diwujudkan melalui kewenangan mengajukan rancangan undang-
undang kepada DPR, khususnya dalam bidang otonomi daerah, hubungan pusat
dan daerah, pembentukan dan pemekaran daerah, pengelolaan sumber daya alam,
serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Fungsi ini menegaskan peran DPD
sebagai saluran aspirasi daerah dalam proses legislasi nasional, meskipun
kewenangan akhirnya tetap berada pada DPR.

Fungsi pertimbangan DPD tercermin dalam kewenangannya memberikan


masukan kepada DPR terhadap RUU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), pajak, pendidikan, dan agama. DPD juga berperan dalam memberikan
pertimbangan terhadap calon anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Melalui
fungsi ini, DPD berperan menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan
kepentingan daerah agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat tidak
mengabaikan pemerataan dan keadilan antarwilayah. Sementara itu, fungsi
pengawasan DPD berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang di bidang
otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, serta pengelolaan sumber daya
ekonomi di daerah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang
MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3), hasil pengawasan DPD disampaikan
kepada DPR dan pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab representatif terhadap
masyarakat daerah. Walaupun hasil pengawasan tersebut tidak bersifat mengikat,
peran ini penting dalam mengawal implementasi kebijakan publik agar sesuai
dengan kebutuhan daerah.

Dari sudut pandang teoritis, DPD memiliki peran representatif yang berbeda
dengan DPR. DPR menjalankan political representation atau perwakilan politik
yang didasarkan pada partai politik, sedangkan DPD menjalankan regional
representation atau perwakilan wilayah yang didasarkan pada daerah. Menurut
Bagir Manan (2004), peran DPD sebagai representasi daerah adalah bentuk
konkret dari upaya memperkuat integrasi nasional melalui pengakuan terhadap
keberagaman dan kepentingan daerah. Dengan mekanisme pemilihan langsung,
anggota DPD diharapkan mampu menyalurkan aspirasi daerah tanpa intervensi
kepentingan politik partai. Dalam konteks sistem ketatanegaraan, kehadiran DPD
juga menegaskan bahwa Indonesia menganut sistem perwakilan dua kamar
(bicameral system), meskipun dalam bentuk yang tidak seimbang (soft
bicameralism). Menurut Jimly Asshiddiqie (2010), sistem ini diharapkan dapat
mendorong proses legislasi yang lebih cermat, partisipatif, dan berimbang antara
kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Namun, karena kewenangan DPD
masih terbatas, peran strategisnya lebih bersifat konsultatif daripada determinatif.

Secara praktis, DPD berperan sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah


pusat dan daerah. Melalui DPD, aspirasi dari pemerintah daerah maupun
masyarakat di berbagai provinsi dapat disalurkan dan diperjuangkan dalam proses
pengambilan kebijakan nasional. Selain itu, DPD juga berperan dalam
memperjuangkan perimbangan keuangan daerah, mendorong pembangunan yang
merata, serta memastikan bahwa kebijakan pusat tidak hanya menguntungkan
daerah tertentu. Dengan demikian, keberadaan DPD memperkuat integrasi
nasional melalui mekanisme representasi daerah yang demokratis dan partisipatif.

Meskipun demikian, efektivitas peran DPD masih menjadi perdebatan dalam


praktik ketatanegaraan. Keterbatasan kewenangan dalam legislasi dan pengawasan
sering kali membuat aspirasi daerah kurang tersampaikan secara optimal. Oleh
karena itu, banyak kalangan akademisi dan praktisi hukum tata negara yang
mengusulkan penguatan fungsi DPD agar memiliki posisi yang lebih seimbang
dengan DPR, sehingga sistem perwakilan dua kamar dapat berjalan secara efektif
dan fungsional.

Dengan demikian, fungsi dan peran DPD dalam sistem ketatanegaraan


Indonesia tidak hanya bersifat formal, tetapi juga substansial dalam
memperjuangkan kepentingan daerah. DPD berperan menjaga keseimbangan
kekuasaan, memperkuat prinsip otonomi daerah, serta memastikan keadilan dan
pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan terhadap seluruh rumusan masalah, dapat


disimpulkan bahwa Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memiliki peran fundamental
dalam memperkuat sistem ketatanegaraan Indonesia yang demokratis dan
berkeadilan. Lembaga ini dibentuk sebagai perwujudan prinsip regional
representation, yakni representasi berbasis wilayah yang melengkapi perwakilan
politik partai yang dijalankan oleh DPR. Keberadaan DPD menunjukkan bahwa
konstitusi Indonesia pasca-reformasi berupaya mengakomodasi aspirasi daerah
secara langsung dalam proses pengambilan keputusan nasional. Secara konseptual
dan konstitusional, DPD memiliki kedudukan sejajar dengan lembaga legislatif
lainnya, namun dengan fungsi dan kewenangan yang berbeda. Pengaturan dalam
Pasal 22C dan 22D UUD NRI Tahun 1945 menunjukkan bahwa DPD berperan
dalam bidang legislasi, pertimbangan, dan pengawasan yang berkaitan langsung
dengan kepentingan daerah. Hal ini menjadikan DPD sebagai instrumen untuk
memperkuat otonomi daerah dan memperjuangkan keadilan antarwilayah,
sekaligus menjaga integrasi nasional dalam bingkai negara kesatuan.

Dari perspektif ketatanegaraan, DPD memiliki arti penting dalam membangun


keseimbangan kekuasaan antara pusat dan daerah. Fungsi legislasi dan
pengawasan yang dijalankannya memungkinkan aspirasi daerah masuk dalam
agenda kebijakan nasional. Walaupun kewenangan DPD masih terbatas, secara
substantif lembaga ini menjadi simbol demokratisasi politik di tingkat daerah dan
memperkuat hubungan representatif antara rakyat di daerah dan pemerintah pusat.
Selain itu, sejarah pembentukan DPD mencerminkan dinamika reformasi
konstitusi yang menuntut sistem perwakilan yang lebih terbuka dan inklusif. DPD
hadir bukan sekadar pelengkap lembaga legislatif, tetapi sebagai wujud komitmen
terhadap desentralisasi politik dan keadilan pembangunan. Keberadaan DPD
menjadi bukti bahwa negara mengakui pentingnya suara daerah dalam menentukan
arah kebijakan nasional.

Dengan demikian, hasil dari keseluruhan pembahasan menunjukkan bahwa


DPD memiliki fungsi dan peran strategis sebagai penghubung antara daerah dan
pusat dalam sistem pemerintahan nasional. Walaupun masih terdapat keterbatasan
dalam pelaksanaan kewenangan, DPD tetap menjadi lembaga representatif yang
esensial bagi penguatan demokrasi, otonomi daerah, dan integrasi nasional di
Indonesia.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

imly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi (Jakarta: Sinar
Grafika, 2010).

Bagir Manan, Dewan Perwakilan Daerah dalam Sistem Ketatanegaraan Republik


Indonesia (Yogyakarta: FH UII Press, 2004).

Sri Soemantri, Tentang Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945


(Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003).

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan


Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
182).

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,


DPR, DPD, dan DPRD (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor
92).

Ni’matul Huda, Lembaga Negara dalam Masa Transisi Demokrasi (Yogyakarta:


UII Press, 2009).

Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen


Konstitusi (Jakarta: Rajawali Pers, 2011).

M. Fadli, “Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah dalam Sistem Ketatanegaraan


Indonesia,” Jurnal Konstitusi 14, no. 2 (2017): 310–332,
[Link]

Susi Dwi Harijanti, “Bikameralisme dan Tantangan Representasi Daerah di


Indonesia,” Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM 22, no. 4 (2015): 617–634,
[Link]

Anda mungkin juga menyukai