0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan17 halaman

Penelitian Tindakan Kelas PGSD 2024/2025

Dokumen ini adalah laporan penelitian tindakan kelas oleh Riska Purwaningsih yang mencakup hasil penelitian dari siklus I dan II, termasuk perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus I, terdapat beberapa indikator keberhasilan yang belum tercapai, dengan hanya 40% siswa yang menguasai materi, sedangkan siklus II menunjukkan perbaikan dengan 5 indikator tercapai dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui metode demonstrasi yang lebih efektif.

Diunggah oleh

karsiyem8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan17 halaman

Penelitian Tindakan Kelas PGSD 2024/2025

Dokumen ini adalah laporan penelitian tindakan kelas oleh Riska Purwaningsih yang mencakup hasil penelitian dari siklus I dan II, termasuk perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus I, terdapat beberapa indikator keberhasilan yang belum tercapai, dengan hanya 40% siswa yang menguasai materi, sedangkan siklus II menunjukkan perbaikan dengan 5 indikator tercapai dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui metode demonstrasi yang lebih efektif.

Diunggah oleh

karsiyem8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

TUGAS 3

NAMA : RISKA PURWANINGSIH


NIM : 856620479
JURUSAN : PGSD-S1 UPBJJ JAMBI
TAHUN AJARAN : 2024/2025
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Pada Bab ini penulis akan menguraikan tentang hasil data penelitian terutama sikap siswa
selama proses tindakan dan hasil belajar siswa itu sendiri dari siklus I sampai siklus III.
1. Siklus I
a. Perencanaan
Setelah mengevaluasi dan mengkaji masalah yang terjadi dan selanjutnya melakukan
diskusi dengan kepala sekolah, maka peneliti dan kolaborator menyusun dan
mempersiapkan langkah – langkah yang akan dilakukan pada tahap tindakan, yaitu
sebagai berikut: (1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan
penerapan metode demonstrasi; (2) Menyediakan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam demonstrasi; (3) Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan
digunakan siswa dalam melakukan demonstrasi; (4) Membuat serangkaian soal -
soal tes yang akan digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai
materi pelajaran (5) Melakukan uji coba di rumah agar dapat diketahui kemungkinan
– kemungkinan yang akan terjadi dalam kegiatan demonstrasi; (6) Membuat
pedoman observasi beserta panduan penskorannya, dan menyediakan kamera
sebagai alat bantu dokumentasi. Hal ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
tentang pembelajaran yang dilakukan secara spesifik.
b. Tindakan
Tindakan siklus I dilaksanakan pada Hari Kamis Tanggal 25 Juli dan 1 Agustus 2019
pada Pukul 07.30–08.50 WIB. Pada tindakan siklus I, peneliti bertindak sebagai
pengajar dan dibantu oleh teman sejawat sebagai observer. Tindakan siklus I diawali
mengecek kesiapan belajar siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran. Kemudian,
guru melakukan apersepsi dengan cara mengaitkan materi pelajaran dengan
kehidupan siswa. Kegiatan inti pada tindakan siklus I dilakukan dengan prosedur
sebagai berikut: (1) Membagi siswa dalam 10 kelompok, dimana setiap kelompok
terdiri dari 4 siswa; (2) Perwakilan setiap kelompok mengambil alat dan bahan yang
akan digunakan dalam melakukan demonstrasi, serta lembar kerja Siswa (LKS) yang
di dalamnya memuat tentang langkah – langkah yang akan ditempuh dalam
melakukan demonstrasi; (3) Setiap kelompok melakukan demonstrasi sesuai dengan
petunjuk – petunjuk yang tertera dalam LKS dan mencatat hal – hal yang ditemukan
dalam demonstrasi. Di samping itu, guru mengarahkan dan membimbing kelompok
yang mengalami kesulitan dalam melakukan demonstrasi; (4) Setiap kelompok
melakukan diskusi inter Siswa untuk membahas temuan – temuan dalam
demonstrasi, selanjutnya membuat kesimpulan; (5) Melakukan diskusi antar
kelompok dimana guru bertindak sebagai moderator. Diskusi dilakukan dengan cara
memberikan kesempatan kepada perwakilan setiap Siswa untuk mempresentasikan
hasil demonstrasinya, kemudian Siswa lain menanggapinya. Di akhir tindakan siklus
I, siswa dibimbing dan diarahkan untuk menyimpulkan materi pelajaran.
Selanjutnya, menyampaikan pesan–pesan moral.
c. Observasi
Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru dalam proses pembelajarandiperoleh data
bahwa guru hanya mampu melaksanakan 3 indikator dengan kualifikasi sangat baik
(SB) dari 8 indikator yang telah ditetapkan untuk dinilai. Data tersebut
dideskripsikan sebagai berikut: (1) Guru sudah menyampaikan tujuan – tujuan
pembelajaran yang akan dicapai dengan bahasa yang jelas, suara yang nyaring, dan
pandangan yang mengarah kepada semua siswa; (2) Guru sudah melakukan
apersepsi dengan maksimal. Apersepsi dilakukan oleh guru dengan cara mengaitkan
materi pelajaran dengan kehidupan siswa; (3) Pembagian kelompok yang dilakukan
guru sudah heterogen dilihat dari aspek gender, tetapi jika ditinjau dari tingkat
kognitif, pembagianSiswa tersebut belum heterogen; (4) Guru sudah menyiapkan
dengan lengkap alat dan bahan yang akan digunakan dalam demonstrasi. Selain itu
pula, Lembar Kerja Siswa yang disiapkan oleh guru sudah maksimal, dimana
langkah–langkah demonstrasi sudah tertera di dalamnya secara jelas serta dengan
bahasa yang mudah dipahami oleh siswa; (5) Guru belum maksimal dalam
membimbing dan mengarahkan siswa dalam melakukan demonstrasi. Hanya 4 dari
10 kelompok yang mendapat bimbingan dari guru dalam menyelesaikan kesulitan
pada saat melakukan demonstrasi; (6) Guru masih kurang dalam mengontrol
keaktifan setiap siswa dalam melakukan demonstrasi pada kelompoknya masing –
masing. Guru juga tidak memberikan teguran kepada siswa yang tidak aktif; (7)
Guru belum maksimal dalam memandu pelaksanaan diskusi antar kelompok. Hal ini
terlihat dari tidak adanya pemerataan kesempatan berbicara kepada setiap Siswa; (8)
Guru hanya memberikan kesempatan kepada 2 kelompok saja untuk menyimpulkan
materi pelajaran.
Selanjutnya, dari hasil observasi aktivitas belajar siswa diperoleh data bahwasiswa
hanya mampu melaksanakan 3 indikator dengan kualifikasi sangat baik (SB) dari 10
indikator yang telah dirumuskan untuk diamati. Data tersebut dideskripsikan sebagai
berikut:
1. Ada 6 siswa yang terlihat sibuk bercerita dengan temannya dan tidak menyimak
2. apersepsi yang disampaikan oleh guru; (2) Siswa sudah membentuk
3. Siswa sesuai instruksi guru;(3) Perwakilan setiap Siswa secara mandiri
mengambil alat dan bahan, serta LKS yang akan digunakan dalam demonstrasi;
4. 2 dari 10 Siswa masih terlihat kesulitan dalam melakukan demonstrasi khususnya
demonstrasi 3 dan 5;
5. Hanya 1 Siswa yang semua anggotanya aktif dalam melakukan demonstrasi;
6. Hanya 1 Siswa yang melakukan diskusi inter Siswa untuk membuat kesimpulan
atas temuan – temuannya dalam demonstrasi;
7. Semua kelompok sudah mempresentasikan hasil demonstrasinya. Namun, hanya
1 kelompok yang hasil demonstrasinya mencapai taraf sangat baik dan 1 Siswa
mencapai taraf baik, sedangkan hasil demonstrasi dari 2 Siswa lainnya berada di
taraf kurang;
8. Hanya 2 dari 10 Siswa yang saling menanggapi dalam diskusi antar Siswa;
9. Hanya 2 Siswa yang terlibat aktif dalam menyimpulkan materi pelajaran
10. Setiap kelompok sudah membersihkan dan menyimpan alat dan bahan yang
digunakan dalam demonstrasi.
d. Tes
Pada siklus I, tes yang digunakan berbentuk essay, yang terdiri dari 1 butir soal.
Adapun hasil tes yang dilakukan peneliti pada siklus I dapat dilihat pada tabel
berikut ini:Tabel 4.1: Hasil Tes Siklus I

No Penguasaan Materi Pelajaran Frekuensi Persentase (%)


(%)
1 85 – 100 3 8,57
2 70 – 84 11 31,43
3 55 – 69 14 40
4 46 – 54 5 14.29
5 0 – 45 2 5.71
Sedangkan perbandingan persentase jumlah siswa yang berhasil menguasai materi
pelajaran pada siklus I ini adalah hanya 40 % dan yang yang tidak menguasai materi
sebanyak 60 %.
e. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan tes yang telah dilakukan, maka peneliti
bersama observer melakukan diskusi untuk membahas data yang telah diperoleh
[Link] dianalisis, maka ditemukan fakta bahwa antara data yang diperoleh
dengan desain pembelajaran yang telah direncanakan sertaindikator keberhasilan
penelitian yang telah ditetapkanterdapat beberapa ketidaksesuaian, yaitu sebagai
berikut: (1) Peneliti yang bertindak sebagai pengajar belum maksimal dalam
mengarahkan dan membimbing siswa dalam melakukan demonstrasi. Akibatnya, ada
beberapa Siswa yang mengalami kesulitan dalam melakukan demonstrasi; (2) Masih
banyak siswa yang tidak aktif dalam melakukan demonstrasi serta diskusi inter
Siswa. Hal ini disebabkan karena guru lepas kontrol; (3) Pelaksanaan diskusi antar
Siswa untuk membahas temuan – temuan dalam demonstrasi belum berjalan
optimal; (4) Aktivitas belajar siswa belum mencapai indikator keberhasilan, dimana
hanya terdapat 3 indikator yang terlaksana dengan kualifikasi sangat baik (SB) dari
10 indikator. Sedangkan dari segi hasil belajar siswa hanya terdapat 40% dari 35
siswa yang mengikuti materi pembelajaran dengan baik sehingga tuntas. Untuk
memperoleh hasil yang lebih baik pada siklus II, maka perlu adanya perbaikan.
Adapun perbaikan – perbaikan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Membagi siswa
dalam beberapa Siswa yang heterogen dengan meminta saran dari kolaborator,
sehingga siswa yang memiliki tingkat kognitif yang tinggi mampu menjadi tutor
sebaya di Siswanya. Hal inilah yang memungkinkan kegiatan demonstrasi akan
berlangsung dengan optimal; (2) Lebih memaksimalkan dalam hal mengarahkan dan
membimbing serta mengontrol keaktifan siswa melakukan demonstrasi, sehingga
mereka bisa mencapai tujuan yang dikehendaki dalam demonstrasi; (3) Memberikan
penekanan pada setiap Siswa untuk melakukan diskusi inter Siswa dalam membahas
hasil demonstrasi pada Siswanya masing – masing; (4) Lebih memaksimalkan dalam
bertindak sebagai moderator diskusi antar Siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara memberikan kesempatan yang merata kepada setiap Siswa untuk
mengungkapkan gagasan dan pendapatnya. Selain itu pula, guru hendaknya
memperhatikan alokasi waktu agar terjadi pembelajaran yang efektif; (5)
Memberikan kesempatan yang sebesar mungkin kepada siswa untuk menyimpulkan
materi pelajaran di akhir pembelajaran.
2. Siklus II
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I serta saran – saran dari kolaborator, maka
peneliti mengambil langkah – langkah perencanaan siklus II sebagai berikut: (1)
Mengklasfikasi siswa berdasarkan tingkat kognitifnya. Hal inilah yang akan
dijadikan sebagai pedoman dalam menetapkan anggota – anggota setiap Siswa; (2)
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi
dengan menyesuaikan perbaikan siklus I; (3) Menyediakan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam demonstrasi; (4) Membuat lembar kerja Siswa yang memuat
tentang alat dan bahan serta langkah – langkah yang akan dilakukan dalam
demonstrasi; (5) Membuat serangkaian soal – soal yang akan digunakan dalam
mengevaluasi hasil belajar siswa. (6) Melakukan uji coba di rumah agar dapat
diketahui kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi dalam kegiatan
demonstrasi; (7) Membuat pedoman observasi disertai panduan penskorannya dan
serta menyediakan kamera sebagai alat bantu dokumentasi. Hal ini bertujuan untuk
memperoleh gambaran tentang pembelajaran yang dilakukan secara spesifik karena
tidak mungkin semua proses pembelajaran dapat direkam sendiri oleh peneliti.
b. Tindakan
Berdasarkan hasil perencanaan, maka pembelajaran siklus II dilaksanakan pada Hari
Kamis Tanggal 8 dan 15 Agustus 2019 Pada Pukul 07.30–08.50 WIB. Pada siklus II,
peneliti bertindak sebagai pengajar dan dibantu oleh teman sejawat sebagai
pengamat, Tindakan siklus II diawali dengan mengecek kesiapan belajar siswa,
menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai; dan melakukan apersepsi
dengan cara mengaitkan materi pelajaran dengan peristiwa – peristiwa yang ada di
kehidupan siswa baik yang dialami secara langsung maupun tidak langsung.
Kegiatan inti pada tindakan siklus II dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: (1)
Membagi siswa dalam 10 kelompok heterogen, dimana setiap kelompok terdiri dari
3 atau 4 siswa yang berbeda tingkat kognitifnya dan gender; (2) Perwakilan setiap
kelompok mengambil alat dan bahan serta Lembar Kerja Siswa yang akan
digunakan dalam demonstrasi, (3) Setiap kelompok melakukan demonstrasi sesuai
dengan petunjuk yang tertera dalam LKS dan mencatat temuan – temuan dalam
demonstrasi. Di sisi lain, guru mengarahkan dan membimbing kelompok siswa yang
mengalami kesulitan serta mengontrol keaktifan setiap siswa pada Siswanya masing
- masing; (4) Setiap kelompok melakukan diskusi inter kelompok untuk membahas
hasil temuan mereka dalam demonstrasi; (5) Melakukan diskusi antar kelompok
dimana guru bertindak sebagai moderator. Diskusi dilakukan dengan cara
memberikan kesempatan kepada perwakilan setiap kelompok untuk
mempresentasikan hasil demonstrasinya, kemudian kelompok lain menanggapinya.
Di akhir tindakan siklus II, siswa diberi kesempatan untuk menyimpulkan materi
pelajaran. Selanjutnya, menyampaikan pesan – pesan moral dan moril.
c. Observasi
Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru dalam proses pembelajara, diperoleh data
bahwa guru mampu melaksanakan 5 indikator dengan kualifikasi sangat baik (SB)
dan 2 indikator dengan kualifikasi baik (B) dari 8 indikator yang telah ditetapkan
untuk dinilai. Data tersebut dideskripsikan sebagai berikut: (1) Guru menyampaikan
tujuan – tujuan pembelajaran dengan bahasa yang jelas, suara yang nyaring, dan
pandangan yang mengarah kepada semua siswa; (2) Guru melakukan apersepsi
dengan sangat baik karena mengaitkan materi pelajaran dengan peristiwa – peristiwa
yang pernah dialami oleh siswa secara langsung maupun tidak langsung; (3)
Pembagian Siswa yang dilakukan oleh guru sudah heterogen dilihat dari tingkat
kognitif maupun gender; (4) Guru sudah menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam demonstrasi dengan lengkap. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang
disiapkan oleh guru sudah dilengkapi langkah kerja dalam demonstrasi dengan
tulisan dan bahasa jelas serta mudah dimengerti oleh siswa; (5) Guru sudah
maksimal dalam mengarahkan dan membimbing siswa dalam melakukan inquir, (6)
Guru sudah mengontrol keaktifan siswa dengan baik. Namun, hal ini masih perlu
ditingkatkan karena guru belum memberikan teguran kepada semua siswa yang tidak
aktif; (7) Guru belum maksimal dalam memandu pelaksanaan diskusi antar Siswa.
Guru hanya memberikan kesempatan kepada 3 Siswa untuk memberikan
tanggapannya dalam diskusi Siswa (8) Guru hanya memberikan kesempatan kepada
2 Siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran. Selanjutnya, dari hasil observasi
aktivitas belajar siswa, diperoleh data bahwa siswa hanya mampu melaksanakan 5
indikator dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan 3 indikator dengan kualifikasi baik
(B) dari 10 indikator yang telah dirumuskan untuk diamati. Data tersebut
dideskripsikan sebagai berikut: (1) Ada 2 siswa tidak menyimak apersepsi yang
disampaikan oleh guru; (2) Siswa sudah membentuk Siswa sesuai instruksi guru; (3)
Perwakilan setiap Siswa secara mandiri mengambil alat dan bahan, serta LKS yang
akan digunakan dalam demonstrasi; (4) Semua Siswa sudah mampu melakukan
demonstrasi dengan baik; (5) Terdapat 7 Siswa yang semua anggotanya aktif dalam
melakukan demonstrasi, sedangkan 3 Siswa lagi hanya 3 dari 4 orang anggotanya
yang aktif; (6) Semua Siswa sudah melakukan diskusi inter Siswa untuk membahas
temuan–temuan mereka dalam demonstrasi; (7) Semua Siswa sudah
mempresentasikan hasil demonstrasinya, tetapi masih ada 1 kelompok yang hasil
demonstrasinya belum sepenuhnya mencapai apa yang diharapkan; (8) Hanya 5 dari
10 kelompok yang saling menanggapi dalam diskusi antar Siswa; (9) Hanya 6
kelompok yang terlibat aktif dalam menyimpulkan materi pelajaran; (10) Setiap
kelompok sudah membersihkan dan menyimpan alat dan bahan yang digunakan
dalam demonstrasi.
d. Tes
Tes siklus II dilakukan dengan memberikan soal tes tertulis yang terdiri dari 1 soal
essay. Adapun hasil tes siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.2: Hasil Tes Siklus II

No. Penguasaan Materi Pelajaran (%) Frekuensi Persentase (%)

1 85–100 5 14.29
2 70–84 17 48,57
3 55–69 7 20
4 46–54 6 17,14
5 0–45 0 0
Perbandingan persentase jumlah siswa yang berhasil menguasai≥70% materi
pelajaran adalah 62,86 % dan yang belum menguasai materi pelajaran adalah 37,14
%.

e. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti bersama kolaborator melakukan diskusi untuk membahas
data yang telah diperoleh melalui observasi, wawancara, dan tes. Setelah dianalisis,
maka ditemukan fakta bahwa antara data yang diperoleh dengan desain
pembelajaran yang telah direncanakan serta indikator keberhasilan penelitian yang
telah ditetapkan masih terdapat beberapa ketidaksesuaian, yaitu sebagai berikut: (1)
Guru belum maksimal dalam mengontrol keaktifan siswa dan memberikan teguran
kepada siswa yang tidak aktif. Hal ini terlihat masih ada 1 Siswa yang anggota
Siswanya belum sepenuhnya aktif dalam melakukan demonstrasi; (2) Tidak semua
kelompok memberikan tanggapannya dalam diskusi Siswa; (3) Hanya 8 kelompok
yang terlibat dalam menyimpulkan materi pelajaran (4) Aktivitas belajar siswa
belum mencapai indikator keberhasilan, dimana hanya terdapat 5 indikator yang
terlaksana dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan 3 indikator yang terlaksana
dengan kualifikasi baik (B) dari 10 indikator yang tertera di pedoman observasi.
Sedangkan dari segi hasil belajar siswa hanya terdapat 60% dari 40 siswa yang
mengikuti proses pembelajaran yang berhasil menguasai ≥70% materi pelajaran.
Setelah melihat adanya beberapa kekurangan pada siklus II, maka perlu adanya
perbaikan. Hal ini ditujukan agar pelaksanaan pada siklus III memberikan hasil yang
lebih baik. Adapun perbaikan – perbaikan tersebut adalah sebagai berikut: (1)
Pembagian Siswa dilakukan berdasarkan hasil tes. Maksudnya, setiap kelompok
terdiri dari siswa yang memperoleh nilai tinggi, nilai sedang, dan nilai rendah; (2)
Guru perlu memaksimalkan dalam mengontrol siswa dalam melakukan demonstrasi
dan memberikan teguran kepada siswa yang tidak aktif; (3) Untuk pembelajaran
berikutnya, siswa yang memperoleh nilai rendah ditunjuk sebagai ketua Siswa. Di
samping itu, guru harus memberi perhatian khusus bagi siswa yang nilainya rendah
dalam melakukan demonstrasi: (4) Dalam diskusi antar kelompok, hendaknya guru
memberikan kesempatan berbicara yang lebih besar kepada siswa yang memperoleh
nilai rendah pada evaluasi yang telah dilakukan pada siklus I dan II. Setiap Siswa
seharusnya memberikan tanggapannya dalam diskusi antar Siswa; (5) Semua
kelompok harus dilibatkan dalam menyimpulkan materi pelajaran.
3. Siklus III
a. Perencanaan
Adapun langkah – langkah perencanaan/persiapan yang dilakukan peneliti pada
siklus III, yaitu sebagai berikut: (1) Mencari materi yang membahas tentang
kerajinan tangan menjahit di beberapa buku seni budaya. Hal ini bertujuan untuk
menambah wawasan dan pengetahuan yang kemudian akan ditransfer kesiswa; (2)
Membuat desain pembelajaran dengan metode demonstrasi dengan menyesuaikan
hasil refleksi siklus II, (3) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam
melakukan demonstrasi; (4) Membuat lembar kerja siswa yang memuat tentang alat
dan bahan digunakan serta langkah – langkah yang akan dilakukan dalam
demonstrasi; (5) Membuat serangkaian soal – soal yang akan digunakan dalam
mengevaluasi hasil belajar siswa; (6) Membuat pedoman observasi disertai panduan
penskorannya dan menyediakan kamera sebagai alat bantu dokumentasi.
b. Pelaksanaan
Berdasarkan hasil perencanaan, maka pembelajaran siklus III dilaksanakan pada
Hari Kamis Tanggal 22 dan 29 Agustus 2019 Pada Pukul 07.30 – 08.50 WIB. Pada
siklus III, peneliti bertindak sebagai pengajar dan observer dari teman sejawat.
Tindakan siklus III diawali dengan mengecek kesiapan belajar siswa,
membangkitkan motivasi belajar siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai; dan melakukan apersepsi dengan cara mengaitkan materi pelajaran
dengan peristiwa–peristiwa yang ada di kehidupan siswa baik yang dialami secara
langsung maupun tidak langsung. Kegiatan inti pada tindakan siklus III dilakukan
dengan prosedur sebagai berikut: (1) Membagi siswa dalam 10 kelompok heterogen,
dimana setiap kelompok terdiri dari 3 atau 4 siswa yang berbeda tingkat kognitifnya
dan gender; (2) Perwakilan setiap kelompok mengambil alat dan bahan serta Lembar
Kerja Siswa yang akan digunakan dalam demonstrasi; (3) Setiap kelompok
melakukan demonstrasi sesuai dengan petunjuk yang tertera dalam LKS dan
mencatat temuan–temuan dalam demonstrasi. Di sisi lain, guru mengarahkan dan
membimbing Siswa yang mengalami kesulitan serta mengontrol keaktifan setiap
siswa khususnya siswa yang nilainya rendah; (4) Setiap kelompok melakukan
diskusi inter Siswa untuk menyimpulkan hasil demonstrasinya; (5) Melakukan
diskusi antar kelompok dimana guru bertindak sebagai moderator. Diskusi dilakukan
dengan cara memberikan kesempatan kepada perwakilan setiap kelompok untuk
mempresentasikan hasil demonstrasinya, kemudian kelompok lain diberi
kesempatan untuk menanggapinya. Di akhir tindakan siklus III, setiap kelompok
diberi kesempatan untuk menyimpulkan materi pelajaran. Selanjutnya,
menyampaikan pesan–pesan moral.
c. Observasi
Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru dalam proses pembelajaran, diperoleh
data bahwa guru mampu melaksanakan indikator yang telah ditetapkan untuk dinilai
dengan kualifikasi sangat baik (SB). Data tersebut dideskripsikan sebagai berikut:
(1) Guru sudah menyampaikan tujuan – tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
dengan suara yang nyaring, bahasa yang jelas, dan pandangan mengarah kepada
semua siswa; (2) Guru sudah maksimal dalam melakukan apersepsi, yakni dengan
menanyakan pengalaman – pengalaman siswa yang berkaitan dengan kerajinan
tangan menjahit ; (3) Pembagian kelompok yang dilakukan oleh guru sudah
heterogen dilihat dari tingkat kognitif maupun gender; (4) Guru sudah menyiapkan
alat dan bahan demonstrasi dengan lengkap, serta Lembar Kerja Siswa yang memuat
langkah kerja dalam melakukan demonstrasi dengan bahasa yang jelas; (5) Guru
sudah maksimal dalam mengarahkan dan membimbing siswa dalam melakukan
demonstrasi; (6) Guru sudah maksimal dalam mengontrol keaktifan setiap siswa
dalam melakukan demonstrasi pada kelompoknya masing – masing dan memberikan
teguran kepada siswa yang tidak aktif; (7) Guru sudah maksimal dalam memandu
diskusi kelompok; (8) Guru sudah memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk menyimpulkan materi pelajaran.
Selanjutnya, dari hasil observasi aktivitas belajar siswa, diperoleh data bahwa
aktivitas belajar siswa mencapai 9 indikator dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan
1 indikator dengan kualifikasi baik (B) dari 10 indikator yang telah dirumuskan
untuk diamati. Data tersebut dideskripsikan sebagai berikut: (1) Semua siswa sudah
menyimak apersepsi yang disampaikan oleh guru; (2) Siswa sudah membentuk
kelompok sesuai instruksi guru; (3) Perwakilan setiap kelompok secara mandiri
mengambil alat dan bahan, serta LKS yang akan digunakan dalam demonstrasi; (4)
Semua kelompok sudah mampu melakukan demonstrasi dengan baik; (5) Terdapat 9
kelompok yang semua anggotanya aktif dalam melakukan demonstrasi, sedangkan 1
kelompok lagi hanya 3 dari 4 orang anggotanya yang aktif; (6) Semua Siswa sudah
melakukan diskusi inter kelompok untuk membahas temuan–temuan mereka dalam
demonstrasi; (7) Semua Siswa sudah mempresentasikan hasil demonstrasinya
dengan baik, (8) Semua kelompok sudah terlibat aktif dalam mengemukakan
pendapat dan gagasannya pada diskusi antar Siswa; (9) Semua kelompok sudah
terlibat dalam memberi kesimpulan tentang materi pelajaran yang telah dipelajarai;
(10) setiap Siswa sudah membersihkan dan menyimpan alat dan bahan yang
digunakan dalam demonstrasi.
d. Tes
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran pada siklus
III dilakukan dengan cara memberikan tes tertulis. Tes tersebut berbentuk essay yang
terdiri dari 1 butir soal. Adapun hasil tes siklus III dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 4.3: Hasil Tes Siklus III

No. Penguasaan Materi Pelajaran (%) Frekuensi Persentase (%)

1 85–100 5 14.29
2 70 – 84 23 65,71
3 55 – 69 4 11,43
4 46 – 54 1 2,86
5 0 – 45 0 0
Perbandingan persentase jumlah siswa yang berhasil menguasai materi pelajaran
adalah 85,71 % dan yang tidak menguasai materi adalah 14,29 %.

e. Refleksi
Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan evaluasi kemudian
dianalisis bersama dengan kolaborator. Setelah dianalisis, ditemukan fakta bahwa:
(1) Secara umum proses pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi sudah
berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Namun, masih
terdapat sedikit kekurangan, yakni ada 1 siswa yang belum sepenuhnya aktif dalam
melakukan demonstrasi pada Siswanya. Padahal guru sudah memberikan teguran;
(2) Aktivitas belajar siswa sudah mencapai indikator keberhasilan, dimana hanya
terdapat 9 indikator yang terlaksana dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan 1
indikator yang terlaksana dengan kualifikasi baik (B) dari 10 indikator yang tertera
di pedoman observasi.
Sedangkan dari segi hasil belajar siswa terdapat 85,71 % dari 35 siswa yang
mengikuti proses pembelajaran yang berhasil menguasai ≥70% materi pelajaran.

B. Pembahasan Hasil Penelitian


Pada bagian ini akan dibahas mengenai data yang telah disajikan atau dipaparkan pada
bagian sebelumnya. Berdasarkan indikator yang telah ditetapkan, yaitu pertama, Semua
indikator aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran yang tertera pada pedoman
observasi harus mencapai kualifikasi baik (B) atau sangat baik (SB). Kedua,75% atau
lebih dari jumlah siswa yang mengikuti proses pembelajaran harus menguasai ≥70%
materi pelajaran. Oleh karena itu, data yang akan dibahas pada bagian ini adalah aktivitas
guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.
Data yang diperoleh dari hasil observasi pada pra penelitian menunjukkan bahwa aktivitas
belajar siswa dalam proses pembelajaran sangat rendah. Siswa hanya mendengarkan
penjelasan guru kemudian ditugaskan untuk menjawabsoal – soal yang ada dalam buku
paket. Hal ini berpengaruh besar terhadap hasil belajar siswa. Nilai ulangan harian siswa
pada pembelajaran seni budaya dengan materi pokok “kerajinan tangan menjahit” yang
diperoleh dari daftar nilai yang disusun oleh guru menunjukkan bahwa pencapaian hasil
belajar siswa masih tergolong rendah, yakni hanya 20% siswa yang memperoleh nilai ≥70,
sedangkan jika dikaitkan dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan,
maka hanya 7 atau 20% siswa yang berhasil menguasai ≥70% materi pelajaran. Penerapan
metode demonstrasi dalam proses pembelajaran merupakan solusi untukmengatasi
permasalahan tersebut karena dengan metode demonstrasi siswa akan terlibat aktif secara
langsung dalam memperoleh pengetahuan yang akan berdampak pada peningkatan hasil
belajar. Menurut Daves (dalam Riyanto, 2009: 76), hal apapun yang dipelajari siswa, maka
ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukan kegiatan
belajar tersebut untuknya. Pada tindakan siklus I dengan menerapkan metode demonstrasi,
aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari pembelajaran sebelumnya. Siswa
sudah aktif dalam melibatkan dirinya untuk mencari, menemukan, dan memperoleh
pengetahuan. Namun, pada tindakan siklus I belum semua siswa aktif dalam melakukan
demonstrasi sesuai hasil observasi yang menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa hanya
mencapai 3 indikator yang terlaksana dengan kualifikasi snagat baik (SB) dari 10 indikator
yang telah ditetapkan. Ternyata, fakta ini dipengaruhi oleh peran guru sebagai desainer,
fasilitator, dan motivator yang belum maksimal dalam proses pembelajaran. Guru lepas
kontrol dalam mengecek keaktifan dan keterlibatan setiap siswa dalam melakukan
demonstrasi, pelaksanaan diskusi antar Siswa juga belum melibatkan semua Siswa untuk
saling menanggapi, serta pemberian kesempatan kepada setiap Siswa untuk
menyimpulkan materi pelajaran juga belum maksimal. Hal ini terlihat dari hasil observasi,
dimana aktivitas guru hanya mencapai3 indikator yang terlaksana dengan kualifikasi
sangat baik (SB) dari 8 indikator yang telah ditetapkan. Masih rendahnya aktivitas guru
dan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran berdampak pada pencapaian hasil
belajar yang belum maksimal. Hasil tes siklus I yang telah dilakukan diperoleh data bahwa
hanya terdapat 40% dari 35 siswa yang mengikuti proses pembelajaran yang berhasil
menguasai ≥70% materi pelajaran. Jika hasil belajar siswa pada siklus I akan
dibandingkan dengan nilai ulangan harian siswa, maka pada siklus I terjadi peningkatan
sebanyak 4 atau 10 %dari 35 siswa yang mengikuti proses pembelajaran berhasil
menguasai ≥70% materi pelajaran. Pada siklus I, memang terjadi peningkatan aktivitas
dan hasil belajar siswa, tetapi belum mencapai indikator keberhasilan penelitian yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu, penelitian ini dilanjutkan ke siklus II. Tindakan siklus II
dilaksanakan dengan melakukan perbaikan–perbaikan yang telah disepakati pada refleksi
siklus I. Hasil observasi, menunjukkan bahwa aktivitas guru sudah mencapai 5 indikator
yang terlaksana dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan 2 indikator yang terlaksana
dengan kualifikasi baik (B) dari 8 indikator yang telah ditetapkan. Pada proses
pembelajaran siklus II dengan menerapkan metode demonstrasi, guru sudah membimbing
dan mengarahkan siswa yang berkesulitan dalam melakukan demonstrasi, serta
mengontrol keaktifan setiap siswa dalam melakukan demonstrasi dan memberikan teguran
kepada siswa yang tidak aktif. Dalam memberi kesempatan kepada setiap Siswa pada
diskusi antar Siswa dan penyimpulan materi pelajaran juga mengalami peningkatan dari
siklus I. Besarnya peran guru dalam proses pembelajaran memberikan dampak yang baik
terhadap aktivitas siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa
mencapai 5 indikator yang terlaksana dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan 3 indikator
yang terlaksana dengan kualifikasi baik (B) dari 10 indikator yang telah ditetapkan. Besar
keaktifan dan keterlibatan langsung siswa dalam pembelajaran siklus II ternyata memberi
dampak yang baik bagi hasil belajar siswa. Berdasarkan Hasil tes siklus II, diperoleh data
bahwa terdapat 62,86% dari 40 siswa yang mengikuti proses pembelajaran berhasil
menguasai ≥70% materi pelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus II terjadi
peningkatan sebanyak 2 orang atau 14% dari hasil tes siklus I. Pada tindakan siklus II,
aktivitas siswa sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian, tetapi hasil belajar siswa
belum mencapai indikator keberhasilan penelitian. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan
ke siklus III. Ada beberapa aspek yang menjadi fokus perbaikan dalam pelaksanaan
tindakan siklus III sesuai dengan hasil refleksi siklus II agar memperoleh hasil yang
maksimal. Perbaikan – perbaikan yang dirumuskan pada refleksi siklus II ternyata
memberikan hasil yang maksimal. Hasil observasi pada pembelajaran siklus III, diperoleh
data bahwa aktivitas guru sudah mencapai taraf maksimal dalam melaksanakan 8 indikator
yang telah ditetapkandengan kualifikasisangat baik (SB) dan aktivitas belajar siswa juga
sudah mencapai 9 indikator yang terlaksana dengan kualifikasi sangat baik (SB) dan 1
indikator dengan kualifikasi baik (B) dari 10 indikator yang telah ditetapkan. Aktivitas
guru dan siswa sudah mencapai tahap maksimal yang tentunya akan mempengaruhi
pencapaian hasil belajar siswa. Hasil tes siklus III menunjukkan bahwa 85,71% dari 35
siswa yang mengikuti proses pembelajaran berhasil menguasai ≥70% materi pelajaran.
Artinya, bahwa pada siklus III terjadi peningkatan dari siklus II, yakni meningkat 3 orang
atau 2,5%. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus III menggambarkan bahwa aktivitas dan
hasil belajar siswa sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan. Oleh
karena itu, penelitian sudah mencapai tahap keberhasilan. Keberhasilan tindakan pada
siklus III ini tidak lepas dari besarnya keterlibatan siswa dalam mencari, menemukan, dan
menggali pengetahuannya sendiri.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan data dan uraian pada BAB IV, maka penulis akan memberikan kesimpulan
sebagai berikut: Pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi adalah suatu proses
pembelajaran yang efektif digunakan dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa. Melalui penerapan metode demonstrasi, siswa diberikan kesempatan yang besar
untuk aktif melibatkan diri secara langsung dalam mencari, menemukan, dan menjawab
suatu permasalahan. Selain itu pula, siswa akan memperoleh kebermaknaan dalam belajar
yang berdampak pada pencapaian hasil belajar yang maksimal. Hal ini sudah terbukti
bahwa dengan penerapan metode demonstrasi, aktivitas dan hasil belajar siswa pada
pembelajaran seni budaya tentang kerajinan tangan menjahit di Kelas VIII B SMP Negeri
1 Takalar meningkat secara signifikan.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang hendak
disampaikan peneliti, yaitu:
1. Bagi praktisi pendidikan (guru) yang tertarik untuk menerapkan metode demonstrasi
dalam pembelajaran kerajinan tangan, perlu memperhatikan beberapa hal sebagai
berikut:
a. mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam demonstrasi dengan
lengkap. Selain itu pula, guru menyiapkan lembar kerja Siswa sebagai pedoman
dalam melakukan demonstrasi. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam
melakukan demonstrasi;
b. membentuk Siswa secara heterogen dilihat dari tingkat kognitif. Tujuannya agar
siswa yang tingkat kognitifnya tinggi mampu menjadi tutor sebaya dalam
Siswanya;
c. membimbing dan mengarahkan siswa dalam melakukan demonstrasi; (d)
mengoptimalkan diskusi untuk membahas hasil demonstrasi.
2. Bagi peneliti yang berkeinginan untuk menerapkan metode demonstrasi diharapkan
untuk menerapkannya pada konsep – konsep kerajinan tangan yang lain. Tujuannya
untuk membuktikan bahwa metode demonstrasi adalah metode yang efektif digunakan
dalam pembelajaran. Namun, perlu diperhatikan kesesuaian materi pelajaran dengan
metode demonstrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, Soli dan Sulo, Sulo Lipu La. 2008. Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Aqib, Aisyah. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.
Bundu, Patta. 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran
Sains. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Direktorat Ketenagaan.
Bundu, Patta dan Kasim, Ratna. 2015. Konsep Dasar Kerajinan tangan X Teori dan Praktik.
Makassar: Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri
Makassar.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2006. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Seni
Budaya Untuk SMP. Jakarta: Kemendikbud.
Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Roestiyah. 2008. Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Rositawaty, S. dan Muharam Aris. 2008. Senang Belajar Ilmu Kerajinan
tangan Untuk SMP. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional.
Sagala, Syaiful.2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Samatowa, Usman. 2006. Bagaimana Membelajarkan Kerajinan tangan di SMP. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat
Ketenagaan.
Slameto, 2003. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Trianto. [Link] Pembelajaran Kontekstual di Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Winataputra, Udin S., dkk. 2005. Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen
Pendidikan Nasional.

Anda mungkin juga menyukai