PEMBIASAAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN SEBAGAI KUNCI
PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS
Mutia Sari*
Universitas Islam negeri (UIN) Raden Fatah Palembang
mutiasari1610@[Link]
Fajri Ismail
Universitas Islam negeri (UIN) Raden Fatah Palembang
fajriismail_uin@[Link]
Muhammad Win Afgani
Universitas Islam negeri (UIN) Raden Fatah Palembang
muhammadwinafgani_uin@[Link]
Abstract
This article discusses the importance of character education and religious values in schools. The Ministry
of Education and Culture has introduced a structured character education program to instill national
character values in the younger generation. Additionally, in facing current moral crises such as free
association, violence, crime, and drug abuse, religious education is also crucial. Schools play an
important role in shaping the character and religious education of students, using the habituation method
to instill Islamic values in students. Schools also have various religious activities to instill religious values
in students. This article uses a literature research method with secondary data collection techniques and
critical analysis of relevant literature such as books and journals. The results of the analysis are
presented descriptively to provide an overview of the formation of character education and the habituation
of religious values in schools.
Keywords: Character education, habituation, religious activities, religious character, religious values
Abstrak
Artikel ini membahas tentang pentingnya pendidikan karakter dan nilai agama di
sekolah. Untuk menanamkan nilai karakter nasional pada generasi muda, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan telah memperkenalkan program pendidikan karakter yang
terstruktur. Selain itu, dalam menghadapi krisis moral saat ini, seperti pergaulan bebas,
kekerasan, kejahatan dan penyalahgunaan narkoba, pendidikan agama juga sangat
penting. Dalam membentuk karakter dan pendidikan agama siswa, sekolah memiliki
peran penting, dengan menggunakan metode habituasi (pembiasaan) untuk
menanamkan nilai-nilai Islam pada siswa. Sekolah juga memiliki berbagai kegiatan
keagamaan untuk menanamkan nilai agama pada siswa. Artikel ini menggunakan
metode penelitian kepustakaan dengan teknik pengumpulan data sekunder dan analisis
kritis terhadap bahan pustaka yang relevan seperti buku dan jurnal. Hasil analisis
disajikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran tentang pembentukan
pendidikan karakter dan pembiasaan nilai-nilai agama di sekolah-sekolah.
Kata Kunci : karakter religius, kegiatan keagamaan, nilai agama, pembiasaan, Pendidikan
karakter
PENDAHULUAN
Saat ini, pendidikan karakter menjadi topik yang sering dibicarakan. Dalam setiap
lingkungan, Pendidikan karakter harus diuatamakan karena setiap individu membutuhkan
nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter memainkan peran
penting dalam kesuksesan seseorang dalam menjalani hidup. Jika seseorang memiliki karakter
yang kuat, mereka akan dapat menghadapi tantangan zaman dan membuat keputusan yang
bijak. Karena peran karakter yang penting dalam dalam kehidupan, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan telah memperkenalkan program penguatan pendidikan karakter yang
terstruktur dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, agar karakter bangsa Indonesia dapat
ditanamkan sejak dini pada generasi muda bangsa.(Arofah et al., 2021)
Kegiatan keagamaan di sekolah merupakan salah satu cara untuk mengembangkan
pendidikan dan mencapai tujuan pendidikan Nasional. Seperti yang dijelaskan dalam pasal 1
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana unuk mewujudkan susasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat dan negara.(Nasional, 2020)
Lembaga pendidikan seperti sekolah memainkan peran penting dalam membentuk
karakter generasi muda. Setiap sekolah memiliki strategi yang berbeda-beda dalam
menanamkan nilai-nilai keagamaan pada siswa. Sekolah dapat memulai pembentukan karakter
siswa dari hal-hal yang mendasar dan terkait dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Pembentukan karakter yang tepat sangat penting untuk mencegah perilaku destruktif pada
siswa.(Nuraeni & Labudasari, 2021)
Pendidikan karakter religius sangat penting dalam menghadapi tantangan zaman yang
penuh dengan degradasi moral. Beberapa krisis moral saat ini antara lain peningkatan perilaku
pergaulan bebas, kekerasan pada anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian,
kecurangan, penyalahgunaan narkoba, pornografi dan perusahakan harta milik orang lain.
Hingga saat ini, krisis moral tersebut belum sepenuhnya dapat diatasi.(Maharani et al., 2019)
Semakin disadari betapa pentingnya pendidikan karakter. Kecerdasan intelektual saja
tidak cukup jika tidak diimbangi dengan karakter atau akhlaq yang baik. Karakter atau akhlaqul
karimah adalah sesuatu yang sangat mendasar dan saling melengkapi. Sayangnya, pendidikan
karakter religius saat ini mengalami penurunan, sehingga dalam dunia pendidikan, peran guru
sebagai komponen utama sangatlah penting untuk mengubah generasi muda dalam
mengembangkan karakter religius peserta didik.(Anwar, 2021) Untuk meningkatkan landasan
religius pada siswa, salah satu cara yang digunakan adalah melalui pembiasaan. Metode
pembiasaan ini dilakukan dnegan mengulang-ulang suatu kegiatan agar siswa dapat berfikir,
bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam.(Wilujeng et al., 2020)
Pembiasaan merupakan hal yang penting karena seseorang akan cenderung berperilaku
dan berbuat sesuai dengan kebiasaannya.(Nurbaiti et al., 2020) Awalnya, pembiasaan
memerlukan tindakan paksa untuk dilakukan, namun seiring waktu, individu akan menjadi
terbiasa melakukannya. Setelah itu, jika kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan, maka akan
menjadi habit, dimana kebiasaan tersebut akan terjadi secara otomatis dan sulit diubah.
Akhirnya, kegiatan tersebut akan menjadi aktivitas rutin.(Azizy, 2003)
2
Mutia Sari, Fajri Ismail, Muhammad Win Afgani
Sekolah umumnya memiliki program pembiasaan nilai-nilai Islami sebagai bagian dari
kegiatan sebelum dan selama proses belajar mengajar. Kegiatan pembiasaan tersebut dilakukan
pada jam ke-0 seperti: budaya 3S (Senyum, Sapa, Salam), rutin membaca doa bersama,
membaca surah pendek sebelum dan sesudah pelajaran, Pembacaan surah pendek (juz 30),
pembacaan surah yaa-siin, shalawat dan shalat dhuha, program ekstrakurikuler BTQ, Tahfidz,
Hadroh, dan sebagainya.
Kegiatan ini memberikan kesempatan pada siswa untuk terbiasa mengembangkan
karakter religiusnya. Dengan pembiasaan, diharapkan siswa akan terbiasa dan menjadikan
nilai-nilai tersebut sebagai kebiasaan yang mengakar dalam kehidupannya serta menjadi
kewajiban moral dalam mewujudkannya. Hal ini diharapkan dapat mencerminkan perilaku
yang senantiasa patuh dan taat, mempunyai akhlak dan perilaku yang baik, memiliki fondasi
keimanan yang kuat dan memiliki kemauan dalam mempelajari agama. Dalam lingkungan
sekolah, pembiasaan diharapkan dapat membentuk watak atau karakter siswa melalui
pendidikan yang di dapatkan dari lingkungan belajarnya. Melalui kegiatan pembiasaan ini,
siswa dapat mengembangkan potensinya dan mengalami perubahan perilakunya menjadi lebih
baik.
METODE PENELITIAN
Artikel ini dikaji menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan
melakukan analisis kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan seperti
buku dan jurnal yang dapat dijadikan referensi. Penelitian kepustakaan menurut Miqzaqon T
dan Purwokoialah studi yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan data dengan
menggunakan berbagai macam material yang tersedia di perpustakaan seperti dokumen, buku,
majalah, kisah-kisah sejarah dan sebagainya.(Milya Sari dan Asmendri, 2020)
Apriyanti, Syarif, Ramadhan, Zaim dan Agustina juga menyatakan bahwa literature
review adalah bentuk pemberian teori baru dengan dukungan teknik pengumpulan data yang
sesuai. (Fatha Pringgar & Sujatmiko, 2020) dalam pengumpulan data untuk artikel ini,
digunakan teknik pengumpulan data sekunder dengan meneliti objek yang berkaitan. Setelah
mengumpulkan beberapa jurnal dan buku yang relevan dengan topik, dilakukan analisis materi
melalui studi pustaka dengan hasil analisis disajikan secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil survei karakter siswa dari aspek religius, nasionalisme, kemandirian,
gotong royong, dan integritas yang dilakukan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan
Keagamaan pada tahun 2021, data observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata angka
indeks menurun dibandingkan hasil indeks tahun lalu. Pada tahun 2021, indeks karakter siswa
jenjang pendidikan menengah mencapai angka 69,52, yang menurun dua point dari angka
indikatif tahun sebelumnya (71,41).(Ihyakulumudin & Dewi, 2022) Diperkirakan penurunan
angka indeks ini disebabkan oelh dampak pandemik covid 19. Oleh karena itu, diperlukan
penguatan karakter melalui pembelajaran dan kegiatan budaya di sekolah sebagai alternatif di
luar pembelajaran konvensional yang selama ini dilakukan. Hal ini sangat penting mengingat
bahwa pendidikan karakter merupakan modal dasar utama dan strategis dalam membangun
3
daya saing bangsa. Penelitian ini mengeksplorasi pentingnya pembiasaan nilai-nilai keagamaan
dalam pembentukan karakter religius.
Pembiasaan Nilai-Nilai Keagamaan
E. Mulyasa mengatakan bahwa pembiasaan ialah proses mengulang-ulang sesuatu
yang sengaja untuk membentuk kebiasaan.(Muhammad Ansori, 2015) Pembiasaan merupakan
proses pendidikan yang menghasilkan karakter atau perilaku melalui latihan yang berulang-
ulang. Ketika suatu praktek sudah menjadi kebiasaan melalui pembiasaan, maka akan menjadi
habit (kebiasaan) bagi yang melakukannya. Ketika sudah menjadi habit, ia akan selalu menjadi
aktivitas rutin.(Azizy, 2003) Pembiasaan juga dapat membentuk suatu kompetensi melalui
pembelajaran yang berulang-ulang, baik secara Bersama-sama maupun sendiri-sendiri.
Pembentukan karakter melalui pembiasaan dapat dilakukan secara terjadwal atau tidak
terjadwal baik di dalam kelas maupun di luar kelas.(Kepri, 2022)
Tujuan metode pembiasaan menurut Amin ialah untuk membentuk sikap dan
kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif, selaras dengan kebutuhan kontekstual dan norma,
tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan
kultural.(Ihsani et al., 2018)
Wetherington mengemukakan bahwa pembentukan pembiasaan dapat dilakukan
melalui dua cara, yaitu dengan pengulangan dan dengan direncanakan (disengaja).(Jalaluddin,
2016) Guru dan orangtua memegang peranan penting dalam membina karakter anak melalui
pembiasaan, yang dapat membantu mereka mencapai kedewasaan, sehingga anak dapat
mengendalikan dirinya, menyelesaikan persoalannya dan menghadapi tantangan
hidupnya.(Ihsani et al., 2018)
Jadi dengan mengajarkan anak untuk melakukan aktivitas pembiasaan nilai keagamaan
dan memberikan peneladanan yang baik, akan membentuk karakter religius pada anak. Melalui
pembiasaan tersebut, diharapkan anak dapat memiliki sikap positif, perilaku yang baik dalam
berinteraksi sosial, dan menghindari perilaku yang buruk dan mungkar. Dengan menanamkan
pembiasaan ini, diharapkan dapat menciptakan siswa yang berakhlak mulia, beradab dan
memiliki etika yang terpuji yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka di
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam hal ini, sekolah perlu berupaya dengan
sungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pembiasaan guna membentuk
karakter siswa melalui program pembiasaan tersebut
Pembiasaan nilai keagamaan merupakan suatu proses yang bertujuan untuk
menanamkan nilai-nilai agama pada individu dengan cara mengulang-ulang perilaku dan
kegiatan yang terkait dengan agama tersebut, sehingga nilai-nilai tersebut dapat menjadi
kebiasaan atau sikap yang melekat pada diri individu dan diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Dengan adanya pembiasaan nilai keagamaan, diharapkan individu dapat memahami dan
mempraktikkan ajaran agamanya dengan lebih baik, sehingga mampu membentuk karakter
yang religius dan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.
Dimensi Pembiasaan Nilai-Nilai Keagamaan
Menanamkan nilai-nilai keagamaan di sekolah merupakan sebuah kebutuhan yang
sangat penting. Hal ini dilakukan agar seluruh warga sekolah memiliki kesempatan untuk
memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai keagamaan dalam semua aspek keberagamaannya
4
Mutia Sari, Fajri Ismail, Muhammad Win Afgani
termasuk keyakinan (keimanan), praktik agama, pengalaman, pengetahuan agama, dan dimensi
pengamalan keagamaan. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan
pembiasaan keagamaan melalui berbagai kegiatan, yang bertujuan untuk menciptakan dan
mengembangkan budaya religius di sekolah.(Nuraeni & Labudasari, 2021)
Seorang Muslim yang baik dapat menunjukkan nilai-nilai keagamaannya melalui
tindakan individu maupun sosial melalui keselarasan antara dimensi akidah, ibadah, dan
akhlak. Keseimbangan antara ketiga dimensi ini akan membawa kedewasaan psikologis,
sehingga akan memiliki sikap yang baik dan konsisten dalam tindakan moral dan kehidupan
sosialnya.(Rahmawati et al., 2021)
Berdasarkan ketiga dimensi tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut:(Yunani &
Sumadi, 2016)
1. Pembiasaan nilai-nilai aqidah, dengan indikator membaca bismillah dan alhamdulillah,
yakin, toleransi, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, semangat, gemar membaca,
tanggung jawab dan bersyukur.
2. Pembiasaan nilai-nilai akhlak, dengan indikator mengucapkan salam, berjabat tangan, sopan
dalam berbuat, santun dalam berbicara, jujur, disiplin, berani, penyayang, sabar,
menghargai, bersahabat, komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, serta
memelihara diri
3. Pembiasaan nilai-nilai fikih ibadah, dengan indikator:
a. Pembiasaan rutin: berdoa sebelum maupun sesudah belajar, membaca ayat al-Qur’an
(Juz ‘Amma), membaca surah yaa-siin bersama dilakukan pada pembiasaan jam ke-0
(sebelum pelaksanaan proses pembelajaran), melaksanakan sholat dhuha.
b. Aspek bernuansa sosial, yaitu infaq sodakoh.
c. Kegiatan keagamaan: mempeingati dan merayakan hari-hari besar umat Islam seperti
Pesantren Ramadhan, peringatan tahun baru Islam 1 Muharram, peringatan maulid
Nabi, isra’ Mi’raj agar siswa mampu menghayati dan mengambil ibrah dari sejarah
peradaban Islam.
Pembentukan Karakter Religius
F.W. Foerster menyatakan bahwa karakter merupakan kualifikasi yang melekat pada
seseorang dan menjadi identitas, ciri, serta sifat yang tetap, yang mengatasi pengalaman yang
selalu berubah.(Ekawati et al., 2018) Kerschensteiner berpandangan bahwa karakter sebagai
sikap manusia terhadap lingkungannya, yang cenderung konstan (stabil) dan dinyatakan
melalui tindakan. Karakter menurut Lickona berkaitan dengan konsep moral (moral knocking),
sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior) yang semuanya terkait dengan
kebaikan dan keinginan untuk berbuat baik.(Maharani et al., 2019) Pendidikan karakter
bertujuan untuk memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga dapat
tercermin dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah lulus dari
sekolah.(Kesuma, 2011)
Glock dan Stark mengartikan karakter religius sebagai komitmen individu dalam hal
aktivitas atau perilaku yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan pribadi. Aktivitas
berkaitan agama harus ditanamkan pada siswa karena pondasi utama dalam berperilaku
terletak pada kekuatan religiusitasnya. Inana mengungkapkan bahwa pendidikan karakter
5
sangat penting untuk ditingkatkan melalui pembiasaan-pembiasaan dalam budaya sekolah
guna mengatasi penurunan moral di kalangan anak-anak, dan juga sebagai indikasi kegagalan
sistem pendidikan di era globalisasi saat ini.(Arofah et al., 2021)
Dapat disimpulkan bahwa karakter religius mencakup sikap dan perilaku yang taat
dalam menjalankan agama, toleransi dan hidup harmonis dengan agama lain. Pendidikan
karakter bermuara pada nilai religius yang penting ditanamkan sejak dini. Karakter religius
mencakup hubungan dengan Tuhan yang tercermin dalam pikiran, perkataan, dan tindakan
yang dilandaskan pada nilai ketuhanan atau ajaran agama. Aktivitas agama menunjukkan
komitmen religius individu dan harus ditanamkan pada siswa untuk memperkuat dasar
perilaku. Pembiasaan dalam budaya sekolah dapat memperkuat pendidikan karakter untuk
mengatasi penurunan moral di kalangan anak-anak pada era globalisasi.
Untuk membentuk karakter religius, diperlukan penanaman tindakan, sikap dan
perilaku yang didasarkan pada ajaran agama yang dianut. Hal ini didasarkan pada sumber-
sumber utama seperti Al-Qur’an, Hadits, Teladan para sahabat Nabi dan Tabiin serta ijtihad
para ulama.(Luthfiyah & Zafi, 2021) Tujuannya ialah agar siswa dapat mempraktikkan amar
ma’ruf dan menjauhi yang munkar sesuai dengan ajaran agama yang dianut.(Luthfiyah & Zafi,
2021)
Selain itu, pembentukan karakter religius juga membantu siswa untuk memahami,
memperhatikan dan menjalankan nilai-nilai etika yang positif dan moral dalam kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu, pengembangan nilai-nilai agama menjadi pendidikan karakter
religius dapat dianggap sebagai upaya untuk mempengaruhi moral dan nilai-nilai positif siswa.
(Maharani et al., 2019)
Dalam hakikatnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk transfer of
knowledge. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah juga harus menjalankan pembelajaran yang
bererorientasi pada nilai-nilai (enterprise value oriented) untuk membangun karakter peserta
didik.(Furkan, 2014) Hal ini ditegaskan dalam grand design pendidikan karakter, dimana budaya
sekolah merupakan pendekatan yang sangat penting da;am pengembangan pendidikan
karakter di sekolah. Budaya belajar mengajar dalam suasana sekolah mencerminkan kehidupan
sehari-sehari siswa melalui pembiasaan-pembiasaan yang akhirnya menjadi sebuah tradisi di
sekolah, oleh karena itu budaya belajar mengajar harus diberikan perhatian khusus sebagai
urutan kedua dalam grand design pendidikan karakter sekolah (Furkan, 2014)
Pembentukan karakter religius dapat terwujud dengan partisipasi dan peran serta dari
semua pemangku kepentingan pendidikan, termasuk orangtua siswa. Interaksi yang melibatkan
perasaan dan kedekatan dengan anak merupakan cara untuk membentuk karakter melalui
internalisasi nilai moral, sehingga dapat menjadi bagian dari sikap dan tindakan sehari-hari.
Pembentukan karakter religius adalah suatu proses untuk membentuk sikap dan
perilaku yang patuh dalam menjalankan agama, toleran dan hidup berdampingan dengan
agama lain. Proses ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti penguatan pendidikan
karakter dengan menanamkan nilai-nilai agama melalui pembiasaan dalam budaya sekolah dan
kegiatan keagamaan di sekolah. Selain itu, interaksi yang dilakukan antara individu dengan
anak sangat penting dalam membentuk karakter religius, sehingga nilai-nilai moral dapat
diterapkan dalam tindakan kehidupan. Kegiatan keagamaan di sekolah harus dilaksanakan
secara terus menerus agar dapat memberikan pengaruh positif terhadap perilaku religius siswa.
6
Mutia Sari, Fajri Ismail, Muhammad Win Afgani
Semua pemangku kepentingan pendidikan termasuk orangtua siswa, harus turut berpartisipasi
dan berperan serta dalam memperkuat pendidikan karakter religus. Dengan memiliki karakter
religius yang kuat, diharapkan individu dapat memiliki komitmen religius yang tinggi dan
mampu mengamalkan ajaran agama secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dimensi Pembentukan Karakter Religius
Skala karater religius terkait dengan tingkat kepercayaan, ketekunan dalam melakukan
ibadah dan pemahaman agama seseorang. Dalam pengembangan karakter religius, ada
beberapa aspek yang digunakan untuk mengukur dimensi religiusitas, yaitu dimensi keyakinan,
dimensi praktek agama, dimensi penghayatan, serta dimensi konsekuensi/pengamalan dan
pengalaman, sesuai dengan pandangan Glock dan Stark, diuraikan sebagai berikut:(Arofah et
al., 2021)
1. Aspek keyakinan memuat harapan bahwa orang yang memeluk suatu agama akan meyakini
dan berpegang teguh terhadap ajaran dalam agamanya. Dengan indikator aspek keyakinan
yaitu: percaya kepada tuhan dalam ajaran agama, percaya kepada Kitab suci dan percaya
akan takdir Tuhan.
2. Aspek praktek agama melingkupi amalan, kepatuhan dan hal lainnya yang diamalkan
seseorang sebagai bentuk kepatuhan pada agamanya. Dengan indikator aspek praktek
agama yaitu: menjalankan ibadah sesuai ajaran agama, melakukan kegiatan keagamaan
seperti mendengarkan ceramah agama, kegiatan amal, bersedekah dan berperan dalam
kegiatan keagamaan.
3. Aspek penghayatan berkaitan dengan apa yang dialami seseorang pada perjalanan
kehidupan beragamanya, dapat berupa sensasi atau perasaan yang dirasakan seseorang.
Dengan indikator aspek penghayatan yaitu: sabar dalam menghadapi cobaan, perasaan
selalu bersyukur kepada Tuhan, menganggap kegagalan yang dialami sebagai musibah yang
ada hikmahnya (tawakkal), serta takut ketika melanggar aturan dan merasakan tentang
kehadiran Tuhan.
4. Aspek konsekuensi/pengamalan dan pengalaman yaitu mengacu pada konsekuensi yang
ditimbulkan oleh agama yang dianut, baik dari segi keyakinan, prakktik agama atau ibadah,
pengalaman dan pengetahuan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya.(Jalaluddin, 2016)
Dengan indikator aspek konsekuensi/pengamalan dan pengalaman yaitu perilaku suka
menolong, berlaku jujur dan pemaaf, menjaga amanat, serta menjaga kebersihan
lingkungan.
KESIMPULAN
Pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang merupakan tindakan dalam
membentuk perilaku dan kebiasaan pada seseorang. Pembiasaan nilai keagamaan bertujuan
untuk menanamkan nilai-nilai agama dan dapat membantu karakter religius yang bermanfaat
bagi diri sendiri dan masyarakat. Pembiasaan nilai keagamaan dapat tercermin dalam tindakan
individu dan sosial yang sejalan dengan dimensi akidah, ibadah, dan akhlak. Karakter
mencakup nilai dan kebiasaan yang melkat pada diri seseorang, termasuk karakter religius yang
mencakup sikap dan perilaku yang tekun dalam ibadah, toleransi, dan hidup harmonis dengan
agama lain. Skala karakter religius berkaitan dengan keimanan individu terhadap ajaran agama,
7
ketekunan pelaksanaan ibadah, dan penghayatan agama seseorang, serta dapat dikembangkan
melalui dimensi keyakinan, praktek agama, penghayatan, serta konsekuensi dan pengalaman.
Pendidikan karakter religius yang kuat dapat memperkuat dasar perilaku seseorang dan
membantu mengatasi penurunan moral di era globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, S. (2021). Pentingnya Pendidikan Karakter Religius di Masa Pandemi Covid-19. Radar
Kudus. [Link]
pendidikan-karakter-religius-di-masa-pandemi-covid-19/
Arofah, L., Andrianie, S., & Ariyanto, R. D. (2021). Skala Karakter Religius Sebagai Alat Ukur
Karakter Religius Bagi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. PINUS: Jurnal Penelitian
Inovasi Pembelajaran, 6(2), 16–28. [Link]
Azizy, A. Q. (2003). Pendidikan Agama untuk Membangun Etika Sosial: Mendidik Anak Sukses
Masa Depan, Pandai dan Bermanfaat. Aneka Ilmu.
Ekawati, Y. N., Saputra, N. E., & Perianto, J. (2018). Konstruksi Alat Ukur Karakter Religius
Siswa Sekolah. Pscyco Idea, 16(2), 131–139. [Link]
Fatha Pringgar, R., & Sujatmiko, B. (2020). Penelitian Kepustakaan (Library Research) Modul
Pembelajaran Berbasis Augmented Reality pada Pembelajaran Siswa. Jurnal IT-EDU,
05(01), 317–329.
Furkan, N. (2014). The Implementation of Character Education through the School Culture
in Sma Negeri 1 Dompu and Sma Negeri Kilo Dompu Regency. Journal of Literature and
Linguistics, 3, 14–44.
Ihsani, N., Kurniah, N., & Suprapti, A. (2018). Hubungan Metode Pembiasaan Dalam
Pembelajaran Dengan Disiplin. Jurnal Ilmiah Potensia, 3(1), 50–55.
Ihyakulumudin, M., & Dewi, R. S. (2022). Analisis Biplot Pada Pemetaan Indeks Karakter
Siswa Dan Pembangunan Manusia Pada Provinsi Di Indonesia. Educandum, 8(1), 172–
181.
Jalaluddin. (2016). Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip
Psikologi. Rajawali Pers.
Kepri, K. W. K. A. P. (2022). Kegiatan Pembiasaan Sebagai Pendukung Pendidikan Karakter
di Madrasah. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepri.
[Link]
pendidikan-karakter-di-madrasah
Kesuma, D. (2011). Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Remaja Rosdakarya.
Luthfiyah, R., & Zafi, A. A. (2021). Penanaman Nilai Karakter Religius Dalam Perspektif
Pendidikan Islam Di Lingkungan Sekolah RA Hidayatus Shibyan Temulus. Jurnal Golden
Age, 5(02), 513–526.
8
Mutia Sari, Fajri Ismail, Muhammad Win Afgani
Maharani, S. D., MS, Z., & Nadiroh, N. (2019). Transformation of The Value of Religious
Characters in Civic Education Learning in Elementary Schools. International Journal of
Multicultural and Multireligious Understanding, 6(2), 295–302.
[Link]
Milya Sari dan Asmendri. (2020). Penelitian Kepustakaan ( Library Research ) dalam Penelitian
Pendidikan IPA. Natural Science : Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA, 6(1), 41–
53.
Muhammad Ansori. (2015). Implementasi Pembiasaan Shalat Awal Waktu Sebagai Metode Pembentuk
Sikap Kedisiplinan Santri Pondok Pesantren Putra Al-Ishlah Mangkang Kulon Tugu Kota
Semarang. Universitas Islam Negeri Walisongo.
Nasional, U. S. P. (2020). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidika Nasional. Kemdikbud. [Link]
Nuraeni, I., & Labudasari, E. (2021). Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Religius
Siswa di SD IT Noor Hidayah. DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 5(1), 119–
131. [Link]
Nurbaiti, R., Alwy, S., & Taulabi, Ii. (2020). Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui
Pembiasaan Aktivitas Keagamaan. El-Bidayah: Jurnal of Islamic Education, 2(1), 55–65.
Rahmawati, N. R., Oktaviani, V. D., Wati, D. E., Nursaniah, S. S. J., Anggraeni, E., &
Firmansyah, M. I. (2021). Karakter Religius dalam Berbagai Sudut Pandang dan
Implikasinya terhadap Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Ta’dibuna: Jurnal
Pendidikan Islam, 10(4), 535–550. [Link]
Wilujeng, E. W. S., Sa’dullah, A., & Rodafi, D. (2020). pembiasaan Kegiatan-Kegiatan
Keagamaan dalam Pembentukan Karakter Disiplin di SMPI Karangploso.
VICRATINA : Jurnal Pendidikan Islam, 5(8), 17–23.
Yunani, Y., & Sumadi. (2016). Pembiasaan Nilai-Nilai Islami Dan Keteladanan Guru Dalam
Mengembangkan Karakter Peserta Didik. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 4(1), 21–34.