0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan6 halaman

Teknik Pengujian Ultrasonik Diskontinuitas

Dokumen ini membahas tentang pengaruh struktur butiran dan kondisi permukaan diskontinuitas terhadap gelombang suara dalam pengujian ultrasonik. Terdapat dua teknik dasar untuk mengevaluasi diskontinuitas sudut, serta penjelasan mengenai zona dekat dan jauh dalam pengujian ultrasonik. Selain itu, dijelaskan juga tentang tampilan visual yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas material, termasuk scan-A yang menunjukkan diskontinuitas.

Diunggah oleh

yandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan6 halaman

Teknik Pengujian Ultrasonik Diskontinuitas

Dokumen ini membahas tentang pengaruh struktur butiran dan kondisi permukaan diskontinuitas terhadap gelombang suara dalam pengujian ultrasonik. Terdapat dua teknik dasar untuk mengevaluasi diskontinuitas sudut, serta penjelasan mengenai zona dekat dan jauh dalam pengujian ultrasonik. Selain itu, dijelaskan juga tentang tampilan visual yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas material, termasuk scan-A yang menunjukkan diskontinuitas.

Diunggah oleh

yandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sebaliknya, benda cor umumnya memiliki struktur butiran yang lebih sulit dilalui gelombang

suara.

Perhatikan bahwa struktur butiran kasar muncul sebagai indikasi berulang tak beraturan yang
kadang kala disebut “grass”, “hash”, atau “noise”. Struktur butiran halus memiliki pola yang
relatip bersih dengan indikasi-indikasi permukaan depan dan belakang yang tajam.

Material yang memiliki porositas halus yang berlebihan juga memperlihatkan pola pada layar
mirip dengan pola struktur butiran kasar.
Terjadi pengurangan atau hilangnya indikasi permukaan belakang dan banyak indikasi
diskontinuitas yang amplitudonya bervariasi muncul sebagai gangguan pada layar.

29
Jika posisi diskontinuitas tidak tegak lurus (90 derajat) terhadap gelombang datang, gelombang
pantul juga akan membentuk sudut. Seperti terlihat di bawah, hasilnya berupa pengurangan
amplitudo indikasi diskontinuitas yang dimunculkan pada layar.

Pada posisi “A”, terjadi amplitudo maksimum dan indikasi diskontinuitas yang tajam dan indikasi
permukaan belakang dengan amplitudo agak rendah.

Saat transducer digerakkan pada posisi “B”, amplitudo indikasi diskontinuitas akan turun dan
amplitudo indikasi permukaan belakang cenderung naik sedikit karena bagian gelombang
datang yang melewati diskontinuitas lebih besar. Perhatikan bahwa pada posisi B, indikasi
diskontinuitas yang muncul pada layar tidak hanya turun amplitudonya, namun juga cenderung
melebar dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pada posisi “C”, indikasi diskontinuitas berada pada posisi terendah, atau bahkan tak terlihat
sama sekali dan indikasi permukaan belakang memiliki amplitudo seperti halnya pada spesimen
yang tidak ada diskontinuitasnya.

Dua teknik dasar yang digunakan untuk menentukan dan mengevaluasi diskontinuitas sudut:

1. PENGUJIAN KONTAK – menggunakan PROBE SUDUT dengan baji plastik untuk


mengubah arah perambatan gelombang.

2. PENGUJIAN IMMERSION– menggunakan air sebagai kuplan, dan dengan memiringkan


transducer untuk memperoleh arah yang diinginkan.

30
Bentuk atau kondisi permukaan sebuah diskontinuitas mempengaruhi indikasi pada layar.
Sebuah diskontinuitas yang memiliki permukaan kasar akan cenderung menyebarkan
gelombang pantul jika dibandingkan dengan diskontinuitas dengan permukaan halus.
Inklusi nonlogam biasanya kasar dan akan menyebarkan suara melebihi diskontinuitas yang
berbentuk retakan.

UDARA adalah media perambatan getaran ultrasonik yang BURUK. Oleh karenanya, harus
digunakan kuplan untuk meneruskan energi dari transducer ke benda uji.

Bagian terbesar dari energi ultrasonik terkonsentrasi sepanjang garis pusat berkas suara.
Cuping sekunder atau sisi terbentuk pada permukaan transducer dan memancar dari arah
perambatan gelombang suara utama. Cuping-cuping sekunder menunjukkan daerah daerah
dengan intensitas tinggi dan rendah pada tepi-tepi berkas suara dan dekat dengan transducer.

Akibat cuping sekunder, lebar efektip dari berkas transducer menjadi lebih kecil daripada lebar
fisik/aktual dari transducer tersebut. Diameter transducer memiliki pengaruh yang besar pada
berkas suara yang dipancarkan ke dalam sebuah media. Untuk frekuensi tertentu, transducer
berdiameter lebih kecil memiliki sudut penyebaran gelombang lebih besar dibandingkan
dengan transducer berdiameter lebih besar seperti dalam gambar:

31
Mengubah frekuensi getaran transducer juga akan mengubah penyebaran gelombang.
Besarnya penyebaran berbanding terbalik dengan frekuensi. Oleh karenanya, transducer
berfrekuensi tinggi memiliki diameter berkas suara yang lebih konstan dibanding transducer
berfrekuensi rendah.

Penyebaran gelombang dapat dikurangi dengan memperbesar frekuensi transducer atau


memakai transducer berdiameter lebih besar.

Dalam pengujian ultrasonik, berkas suara secara teoritis dianggap sebagai bidang lurus yang
diproyeksikan dari permukaan transducer. Kenyataannya, berkas suara bentuknya tidak
konsisten. Jika intensitas berkas diukur pada berbagai jarak dari transducer, terdapat DUA
ZONA YANG BERBEDA seperti dalam gambar di bawah:

Zona-zona tersebut dikenal sebagai ZONA DEKAT (atau ZONA FRESNEL) dan ZONA JAUH
(atau ZONA FRAUNHOFER). Pada zona dekat, intensitas energi suara bervariasi secara tak
beraturan. Dalam zona ini terdapat daerah-daerah lokal dengan intensitas rendah dan tinggi.

32
Pola tak beraturan dihasilkan akibat interferensi antar gelombang suara yang dipancarkan oleh
permukaan transducer.

Dalam zona jauh, intensitas suara akan berkurang secara teratur dengan bertambahnya jarak
dari transducer. Hal ini disebabkan karena material menyerap dan menghamburkan sebagian
energi suara.

Panjang/kedalaman zona dekat bergantung pada DIAMETER TRANSDUCER dan PANJANG


GELOMBANG berkas ultrasonik, dan dapat dinyatakan sebagai:

Ingat bahwa zona dekat BERBEDA dengan zona mati (dead zone).

33
BAB VI
MENAMPILKAN INDIKASI ULTRASONIK

Ada tiga jenis dasar tampilan visual yang umum digunakan untuk mengevaluasi kemulusan
atau kualitas sebuah material yang diuji: scan-A, scan-B, dan scan-C.

SCAN-A adalah tampilan “WAKTU VERSUS AMPLITUDO” yang menyatakan sebuah


diskontinuitas menggunakan “PIP” pada layar.

Tampilan scan-A, dibaca dari kiri ke kanan. Ketinggian puncak dari sebuah diskontinuitas dapat
dibandingkan dengan ketinggian puncak dari pemantul referensi yang ukurannya diketahui
untuk memberikan gambaran seberapa besar ukuran relatip diskontinuitas tersebut.

34

Anda mungkin juga menyukai