Pengertian Perceraian dan Dasar Hukumnya.
Pengertian Perceraian Di Indonesia peraturan yang
mengatur tentang perceraian adalah Undang-undang No 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan Jo.
Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 Tentang pelaksanaan Undang-undang No 1 Tahun 1974,
akan tetapi di dalamnya tidak ditemukan interpretasi mengenai istilah perceraian.
Menurut R. Subekti perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan keputusan hakim atau
tuntutan salah satu pihak selama [Link] pengertian perceraian menurut bahasa
Indonesia berasal dari suku kata cerai, dan perceraian menurut bahasa berarti perpisahan, perihal
bercerai antara suami dan istri, perpecahan, [Link] Perceraian dan Dasar
Hukumnya
Pengertian Perceraian Di Indonesia peraturan yang mengatur tentang perceraian adalah Undang-
undang No 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan Jo. Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975
Tentang pelaksanaan Undang-undang No 1 Tahun 1974, akan tetapi di dalamnya tidak
ditemukan interpretasi mengenai istilah perceraian. Menurut R. Subekti perceraian adalah
penghapusan perkawinan dengan keputusan hakim atau tuntutan salah satu pihak selama
perkawinan.
Sedangkan pengertian perceraian menurut bahasa Indonesia berasal dari suku kata cerai, dan
perceraian menurut bahasa berarti perpisahan, perihal bercerai antara suami dan istri,
perpecahan, menceraikan. diambil dari kata )اطالقitlaq), artinya melepaskan, atau
meninggalkan.
Sedangkan dalam istilah syara', talak adalah melepaskan ikatan perkawinan, atau rusaknya
hubungan perkawinan.
Beberapa rumusan yang diberikan ahli fikih tentang definisi talak di antaranya adalah:
Sayyid Sabiq, memberikan pengertian sebagai berikut :
artinya melepaskan atau meninggalkan. Sedangkan dalam istilah syara’, talak artinya
melepaskan ikatan perkawinan atau mengakhiri hubungan perkawinan.
Zainuddin Ibn 'Abdul Aziz, memberikan pengertian sebagai berikut :
Talak menurut bahasa adalah melepaskan ikatan, sedangkan menurut istilah syara' talak
adalah melepaskan ikatan perkawinan dengan menggunakan kata-kata.
Muhammad, memberikan pengertian sebagai berikut :
Talak menurut bahasa adalah melepaskan kepercayaan yang diambil dari kata itlaq yang
berarti meninggalkan.
Sedangkan menurut syara’ talak adalah melepaskan tali perkawinan. Pengertian talak menurut
istilah juga banyak didefinisikan oleh ahli hukum, mereka dalam memberikan definisi bervariasi
akan tetapi maksudnya
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah putusnya
ikatan perkawinan antara suami istri yang dilakukan atas kehendaknya suami dan istri tersebut
atau karena adanya putusan pengadilan. .
Hukum Perceraian Memang tidak terdapat dalam al-Qur’an ayat-ayat yang menyuruh atau
melarang eksistensi perceraian itu, sedangkan untuk perkawinan ditemukan beberapa ayat yang
menyuruh melakukannya.
Meskipun banyak ayat alQur’an yang mengatur talak tetapi isinya hanya sekedar mengatur bila
talak itu terjadi, meskipun dalam bentuk suruhan atau larangan.8 Kalau mau mentalak
seharusnya sewaktu istri itu berbeda dalam keadaan yang siap untuk memasuki masa iddah,
seperti dalam firman Allah.
Artinya : Hai Nabi bila kamu mentalaq istrimu, maka talaqlah dia sewaktu masuk ke dalam
iddahnya.
Demikian pula dalam bentuk melarang seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 232
yang artinya : Apabila kamu mentalak istrimu dan sampai masa iddahnya, maka janganlah kamu
enggan bila dia nikah suami yang lain.
Meskipun tidak ada ayat al-Qur’an yang menyuruh atau melarang melakukan talak yang
mengandung arti hukumnya mubah, namun talak itu termasuk perbuatan yang tidak disenangi
Nabi.
Hal ini mengandung arti perceraian itu hukumnya makruh. Adapun ketidak senangan Nabi
kepada perceraian itu terlihat dalam hadisnya dari Ibnu Umar.
Menurut riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan disahkan oleh Hakim.
Sabda Nabi : ابغض الحالل الى االله تعالى الطالق
Artinya : Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah talak. Walaupun hukum asal dari
talak itu adalah makruh, namun melihat keadaan tertentu dalam situasi tertentu.
Maka hukum talak itu adalah sebagai berikut :
Nadab atau sunnah, yaitu dalam keadaan rumah tangga sudah tidak dapat dilanjutkan
dan seandainya dipertahankan juga kemudaratan yang lebih banyak akan timbul;
Mubah atau boleh saja dilakukan bila memang perlu terjadi perceraian dan tidak ada
pihak-pihak yang dirugikan dengan perceraian itu sedangkan manfaatnya juga ada
kelihatannya.
Wajib atau mesti dilakukan yaitu perceraian yang mesti dilakukan oleh hakim terhadap
seseorang yang telah bersumpah untuk tidak menggauli istrinya sampai masa tertentu,
sedangkan ia tidak mau pula membayar kafarat sumpah agar ia dapat bergaul dengan
istrinya. Tindakan itu memudharatkan istrinya. d) Haram talak itu dilakukan tanpa alasan,
sedangkan istri dalam keadaan haid atau suci yang dalam masa itu ia telah digauli.
Bentuk-bentuk Perceraian Ditinjau dari segi tatacara beracara di Pengadilan Agama maka bentuk
perceraian dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :
Cerai talak Cerai talak ialah putusnya perkawinan atas kehendak suami karena alasan
tertentu dan kehendaknya itu dinyatakan dengan ucapan tertentu. Tidak dapat dikatakan
dengan lisan dan juga dengan tulisan, sebab kekuatan penyampaian baik melalui ucapan
maupun tulisan adalah sama. Perbedaannya adalah jika talak disampaikan dengan ucapan,
maka talak itu diketahui setelah ucapan talak disampaikan suami.
Sedangkanpenyampaian talak dengan lisan diketahui setelah tulisan tersebut terbaca,
pendapat ini disepekati oleh mayoritas ulama.
Cerai Gugat Cerai gugat ialah suatu gugatan yang diajukan oleh istri terhadap suami
kepada pengadilan dengan alasan-alasan serta meminta pengadilan untuk membuka
persidangan itu, dan perceraian atas dasar cerai gugat ini terjadi karena adanya suatu
putusan pengadilan. Adapun prosedur cerai gugat telah diatur dalam Peraturan
Pemerintah No. 9 tahun 1975 pasal 20 sampai pasal 36 jo. Pasal 73 sampai pasal 83
Undang-undang No. 7 tahun 1989. Dalam hukum Islam cerai gugat disebut dengan
khulu’.
Khulu’ berasal dari kata khal’u al-saub, artinya melepas pakaian, karena wanita adalah pakaian
laki-laki dan sebaliknya laki-laki adalah pelindung wanita.
Para ahli fikih memberikan pengertian khulu’ yaitu perceraian dari pihak perempuan dengan
tebusan yang diberikan oleh istri kepada suami.
Adapun yang termasuk dalam cerai gugat dalam lingkungan Pengadilan Agama itu ada beberapa
macam, yaitu :
1. Fasakh
2. Syiqaq
3. Khulu’
4. Ta'liq Talaq
Alasan Perceraian Alasan-alasan untuk bercerai secara tegas telah diatur di dalam pasal 19
Undang-undang No 1 Tahun 1974, yang menyebutkan :
ayat 1, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Ayat 2; untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak
akan dapat rukun sebagai suami istri. Alasan tersebut juga diatur dalam Peraturan Pemerintah
No. 9 Tahun 1975, pasal 19, menyebutkan, perceraian dapat terjadi karena alasan sebagai berikut
:Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya
yang sukar disembuhkan.
Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua (2) tahun berturutturut tanpa izin pihak lain
dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.
Salah satu pihak mendapatkan hukuman lima (5) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah
perkawinan berlangsung.
Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak
yang lain.
Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat atau tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.
Antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan
akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga 16 Sedangkan di dalam Kompilasi Hukum Islam.
pasal 116, menambahkan 2 alasan lagi selain yang disebutkan di atas :
Suami melanggar ta'liq talaq.
Peralihan Agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak harmonisan
dalam rumah tangga.
Hanya dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974 pasal 41 disebutkan bahwa akibat putusnya
perkawinan karena perceraian ialah:
Baik ibu atau Bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anakanaknya, semata-mata
berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak,
pengadilan memberikan keputusannya.
Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan
anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memberikan kewajiban tersebut,
pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan
atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri-istri.
Bila hubungan perkawinan putus antara suami istri dalam segala bentuknya, maka hukum yang
berlaku sesudahnya adalah:
Hubungan antara keduanya adalah asing dalam arti harus berpisah dan tidak boleh saling
memandang, apabila bergaul sebagai suami istri. Bila terjadi hubungan menurut jumhur ulama
termasuk zina. Hanya keduanya tidak diberlakukan sanksi atau had zina karena adanya syubhat
ikhtilaf ulama, atau syubhat karena perbedaan faham ulama padanya.
Ulama Hanafiah dan ulama Syi’ah imamiyah membolehkan hubungan kelamin antara
mantan suami dengan mantan istri yang sedang menjalani 'iddah talaq raj’iy dan hal itu sudah
diperhitungkan sebagai ruju’.
Ulama zhahiriyah juga berpendapat bolehnya suami bergaul dengan mantanistrinya dalam 'iddah
raj’iy, namun yang demikian tidak dengan sendirinya berlaku sebagai ruju’
Keharusan memberi mut’ah, yaitu pemberian suami kepada istri yang diceraikannya sebagai
suatu konpensasi. Hal ini berbeda dengan mut’ah sebagai pengganti mahar bila istri di cerai
sebelum digauli dan sebelumnya jumlah mahar tidak ditentukan, tidak wajib suami memberi
mahar, namun diimbangi dengan suatu pemberian yang bernama mut’ah. Dalam kewajiban
memberi mut’ah itu terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, golongan zhahiriyah
berpendapat bahwa mut’ah itu hukunya wajib.
Dasarnya ialah firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 241, ialah sebagai berikut:
Artinya : "Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah
menurut yang ma`ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa."
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mut’ah itu hukumnya sunnah, karena kalimat haqqan 'ala
al-muttaqin di ujung ayat tersebut menunjukkan hukumnya adalah tidak wajib, kewajiban mut’ah
itu berlaku dalam keadaan tertentu.
Melunasi utang yang wajib dibayarnya dan belum dibayarnya selama masa perkawinan, baik
dalam bentuk mahar atau nafkah, yang menurutsebagian ulama wajib dilakukannya bila ada
waktunya dia tidak dapat membayarnya.
Begitu pula mahar yang belum dibayar atau dilunasinya, harus dilunasinya setelah bercerai.
Berlaku atas istri yang dicerai ketentuan iddah, sebagaimana dijelaskan di bawah.
Pemeliharaan terhadap anak atau hadhanah. Pendapat Ulama tentang perceraian karena
disebabkam adanya penentuan tempat tinggal bersama oleh orang tua Penentuan tempat tinggal
oleh orang tua terjadi karena pemahaman orang tua terhadap sendi-sendi perkawinan dalam
Islam masih sangat dangkal seperti pemahamannya tentang hak-hak suami istri dan juga faktor
pendidikan orang tua juga mempengaruhi sehingga mereka tidak mempunyai kesadaran bahwa
campur tangan mereka terhadap penentuan tempat tinggal menimbulkan ketegangan dan konflik
yang mengarah kepada perselisihan.
Tentang turut campurnya orang tua dalam masalah penentuan tempat tinggal penulis berpendapat
seharusnya orang tua tidak boleh ikut campur karena dalam UU No. 1 tahum 1974 sendiri sudah
jelas bahwasanya masalah tempat tinggal itu ditentukan oleh suami istri.
Hak dan Kewajiban suami istri Seperti yang termuat dalam Undang-undang No 1 tahun 1974
pasal 30 dijelaskan bahwasanya suami istri memikul kewajiban yang luhuruntuk menegakkan
rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan
masyarakat.
Suami istri mempunyai tanggung jawab terhadap pasangannya, sama-sama mempunyai hak dan
kewajiban terhadap pasangannya. Termasuk dalam masalah tempat tinggal. suami wajib
melindungi istrinya, membiayai keperluan istrinya dan sebagainya.
istri mempunyai kewajiban patuh terhadap suami selama perintah tersebut tidak melanggar
Syariat Islam. salah satu kewajiban suami kepada istri ialah memberikan tempat tinggal yang
layak, tempat yang kelak mereka gunakan sebagai tempat berteduh, tempat beristirahat bagi
mereka berdua.
Kewajiban suami memberikan tempat tinggal kepada istrinya termuat dalam pasal 32 dijelaskan
bahwasanya Pasal 1 Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
Pasal 2 Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini ditentukan oleh suami
istri bersama. Di samping Kewajiban suami termuat dalam Undang-undang No 1 tahun 1974,
kewajiban suami kepada istri juga dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 233, Allah
berfirman:
Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang
ingin menyempurnakan penyusuan. dankewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada
para ibu dengan cara ma'ruf.
Dengan menggunakan redaksi di atas, ayat ini memerintahkan dengan sangat kukuh kepada para
ibu agar menyusukan anak-anaknya.
Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsir Al-Misbah bahwasanya, seorang ibu yang
menyusukan anak-anaknya tentu saja memerlukan biaya agar kesehatannya tidak terganggu dan
air susunya selalu tersedia.
Atas dasar itu, lanjutan ayat menyatakan: merupakan kewajiban atas apa yang dilahirkan
untuknya, yakni ayah, memberi makan dan pakaian kepada para ibu (kalau ibu anak-anak yang
disusukan itu telah diceraikan secara bain, bukan raj’i). Adapun jika ibu anak itu masih berstatus
istri walau telah ditalak secara raj’i, maka kewajiban memberi makan dan pakaian adalah
kewajiban atas dasar hubungan suami istri, sehingga bila mereka menuntut imbalan penyusuan
anaknya, maka suami wajib memenuhinya selama tuntutan imbalan itu dinilai wajar
Di samping ayat tentang kewajiban suami di atas, Nabi Muhammad saw bersabda dalam
hadisnya :
Artinya : Dari ‘Umar Ibnu Hafas bin Giyats, meriwayatkan pada kami ayahku, meriwayatkan
juga juga Aumas\, lalu meriwayatkan juga ‘Umarah, yang ia dari ‘Abdurrahman bin Yazid,
bahwa ia berkata, kami masuk bersama ‘Alqamah dan Aswad ke rumah ‘Abdullah, lalu
‘Abdullah berkata “Kami bersama Rasulullah bersama beberapa pemuda”, kemudian beliau
berkata: wahai pemuda, barangsiapa mampu di antara kalian untuk menikah, menikahlah, karena
itu akan dapat menundukkan pendangan dan menjaga kemaluan dan jika tidak mampu, maka
hendaknya puasa, karena dengan itu akan lebih terjaga ( sebagai obat).
Sebab-sebab Perceraian Menurut Hukum Islam Walaupun pada dasarnya melakukan perkawinan
iu adalah bertujuan untuk selama-lamanya, akan tetapi adakalanya ada sebab-sebab tertentu yang
mengakibatkan perkawinan tidak dapat diteruskan, diputuskan di tengah jalan atau terpaksa
diputus dengan sendirinya, atau dengan kata lain terjadi perceraian antara suami istri.
Sebab-sebab putusnya hubungan perkawinan (perceraian) menurut hukum Islam ialah sebagai
berikut :
Talak Hukum Islam menentukan bahwa hak talak adalah pada suami dengan alasan
bahwa seorang laki-laki itu pada umumnya lebih mengutamakan pemikiran dalam
mempertimbangkan sesuatu dari pada wanita yang biasanya bertindak atas dasar emosi.
Adapun syarat-syarat seorang suami yang sah menjatuhkan talak ialah berakal sehat,
telah baligh, tidak karena paksaan. Semua para ahli fikih sepakat bahwa sahnya seorang
suami menjatuhkan talak ialah telah dewasa, baligh dan atas kehendak sendiri, bukan
terpaksa atau ada paksaan dari pihak ketiga.
Khulu' Talak khulu' atau talak tebus ialah perceraian atas persetujuan suami istri dengan
jatuhnya talak satu kepada istri dengan tebusan harta atau uang dari pihak istri yang
menginginkan cerai dengan cara khulu'.
Dasar diperbolehkannya khulu’ ialah : surat al-Baqarah ayat 229, sebagai berikut :
Artinya : Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan
cara yang ma`ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu
mengambil kembali dari sesuatu yang telahkamu berikan kepada mereka, kecuali
kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.
syarat sahnya khulu' ialah sebagai berikut:
Perceraian dengan khulu' itu harus dilaksanakan dengan kerelaan dan persetujuan suami
istri.
Besar kecilnya jumlah uang tebusan harus ditentukan dengan persetujuan bersama antara
suami istri. Apabila tidak dapat persetujuan antara keduanya mengenai jumlah uang
tebusan, hakim Pengadilan Agama dapat menentukan jumlah uang tebusan [Link] itu
berarti perselisihan atau menurut istilah fikih berarti perselisihan suami istri yang
diselesaikan dua orang hakam, satu orang dari pihak suami dan satu orang dari pihak
istri.
Pengangkatan hakam kalau terjadi syiqaq ini, ketentuannya terdapat dalam al-Qur’an surat an-
Nisa’ ayat 35, yang berbunyi :
Artinya Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka
kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang
hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan
perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Menurut Kamal Mukhtar tugas dan syarat-syarat orang yang boleh diangkat menjadi hakam
adalah sebagai berikut :
berlaku adil di antara pihak yang berperkara
dengan ikhlas berusaha untuk mendamaikan suami istri itu
kedua hakam disegani oleh kedua belah pihak (suami istri)
hendaklah berpikir kepada yang teraniaya/dirugikan apabila pihak lain tidak mau
berdamai.
Fasakh Arti fasakh ialah merusakkan atau membatalkan. Ini berarti bahwa perkawinan itu
diputuskan/dirusakkan atau permintaan salah satu pihak oleh hakim Pengadilan Agama.
alasan-alasan yang diperbolehkan seorang istri menuntut fasakh di pengadilan ialah :
a) Suami sakit gila
b) Suami menderita penyakit menular yang tidak mungkin untuk sembuh
c) Suami tidak mau atau kehilangan kemampuan untuk melakukan hubungan
kelamin
d) Suami jatuh miskin hingga tidak mampu memberi nafkah pada istrinya
e) Istri merasa tertipu baik dalam nasab, kekayaan atau kedudukan suami
f) Suami pergi tanpa diketahui tempat tinggalnya dan tanpa berita, sehingga
tidak diketahui hidup atau mati dan waktunya sudah cukup lama.
Ta'liq talaq Arti dari pada ta'liq ialah menggantungkan, jadi pengertian ta'liq talaq ialah suatu
talak yang digantungkan pada suatu hal yang mungkin terjadi yang telah disebutkan dalam suatu
perjanjian yang telah diperjanjikan lebih dahulu. Pembacaan ta'liq talaq ini tidak merupakan
keharusan hanya secara sukarela, tetapi pada umumnya hampir semua suami mengucapkan ta'liq
setelah melakukan akad nikah. Ta'liq t}alaq ini diadakan dengan tujuan untuk melindungi
kepentingan si istri supaya tidak dianiaya oleh suami.
Ketentuan diperbolehkannnya mengadakan ta'liq itu tercantum di dalam al-Qur’an surat An-
Nisa’ ayat 128,
Artinya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari
suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang
sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun
manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu
secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kalau tidak mau menjalankan salah satu dari kedua perkara tersebut, hakim berhak menceraikan
mereka dengan paksa. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah 226-227 :
Mengenai cara kembali dari sumpah ila’ tersebut dalam ayat di atas ada 3 pendapat :
Kembali dengan mencampuri istrinya itu, berarti mencabut sumpah dengan
melanggarnya (berbuat) sesuatu yang menurut sumpahnya tidak akan diperbuatnya.
Apabila habis masa 4 bulan ia tidak mencampuri istrinya itu, maka dengan sendirinya
kepada istri jatuh talak bain
Kembali dengan campur jika tidak halangan, tetapi jika ada halangan, boleh dengan lisan
atau dengan niat saja
Cukup kembali dengan lisan, baik ketika berhalangan ataupun tidak. 35 7. Zihar Zihar
adalah prosedur talak, yang hampir samadengan ila'. Arti zihar ialah seorang suami yang
bersumpah bahwa istrinya baginya sama dengan punggung ibunya.
Dengan bersumpah demikian itu berarti suami telahAdapun denda zihar ialah :
Memerdekakan hamba sahaya
Kalau tidak dapat memerdekakan hamba sahaya, puasa 2 bulan berturutturut
Kalau tidak kuat puasa, memberi makan 60 orang miskin tiap-tiap orang ½ sa’ fitrah (3/4)
liter; Tingkatan ini perlu berurutan sebagaimana tersebut di atas, dan wajib dijalankan
ialah yang pertama dahulu, kalau yang pertama tidak mampu, baru pindah ke jalan yang
kedua, begitu seterusnya.
Li'an Arti li'an ialah laknat yang di dalamnya terdapat pernyataan bersedia menerima laknat
Tuhan apabila yang mengucapkan sumpah itu berdusta. Dalam hukum perkawinan sumpah li'an
ini dapat mengakibatkan putusnya perkawinan antara suami istri untuk selama-lamanya.
Sedangkan menurut Abu Bakar mendefinisikan, kata li'an itu diambil dari sulasi mujarrad al-
la’nu (kutukan), karena sesungguhnya suami mengucapkan pada kali yang kelima setelah
bersumpah itu.
Akibat li'an suami, timbul beberapa hukum:
a) Dia tidak disiksa (didera)
b) Si istri wajib disiksa (didera) dengan siksaan zina
c) Suami istri bercerai selama-lamanya
Kalau ada anak, anak itu tidak dapat diakui oleh suami. Untuk melepaskan si istri dari siksaan
zina, dia boleh meli'an pula, membalas li'an suaminya itu.
Firman Allah SWT : surat Al-Nur : 8-9 sebagai berikut :
Artinya : Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas
nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang
dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu
termasuk orang-orang yang benar.
Kematian Putusnya perkawinan (perceraian) dapat pula disebabkan karena kematian
suami atau istri. Dengan kematian salah satu pihak, maka pihak lain berhak
mendapatkan harta waris atas harta peninggalan yang meninggal.
Walaupun dengan kematian suami tidak dimungkinkan hubungan mereka
disembunyikan lagi, namun bagi istri yang baru ditinggalkansuaminya sampai
menunggu masa iddah habis yang lamanya 4 bulan 10 hari