0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Modul Pembelajaran Koding Kelas V

Modul ajar ini ditujukan untuk siswa kelas V SD tentang konsep komputasi sederhana, dengan fokus pada perbedaan antara mesin cerdas dan non-cerdas serta dampak teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dilakukan melalui metode Problem-Based Learning dan melibatkan diskusi kelompok, analisis studi kasus, serta presentasi. Asesmen dilakukan melalui diskusi, observasi, dan tes tertulis untuk mengevaluasi pemahaman siswa.

Diunggah oleh

Riza Pahlawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Modul Pembelajaran Koding Kelas V

Modul ajar ini ditujukan untuk siswa kelas V SD tentang konsep komputasi sederhana, dengan fokus pada perbedaan antara mesin cerdas dan non-cerdas serta dampak teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dilakukan melalui metode Problem-Based Learning dan melibatkan diskusi kelompok, analisis studi kasus, serta presentasi. Asesmen dilakukan melalui diskusi, observasi, dan tes tertulis untuk mengevaluasi pemahaman siswa.

Diunggah oleh

Riza Pahlawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL AJAR

Nama Sekolah : SD Negeri 08 Lubuk Linggau


Nama Penyusun : Riza Pahlawan, [Link].
Kelas/Fase/Semester : V / B / Ganjil
Mata Pelajaran : Koding dan Kecertasan Artifisial (KKA)
Materi : Konsep Komputasi (KA) Sederhana
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (2JP)

A. Identifikasi
Murid : Murid memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang perangkat di
sekitar mereka dan senang berdiskusi tentang cara kerja teknologi.
Materi Pelajaran : Konsep Komputasi Sederhana, manfaat dan dampaknya pada
kehidupan sehari-hari, perbedaan manusia dan komputer dalam
penginderaan, serta perbedaan antara mesin cerdas dan mesin non-
cerdas.
Relevansi dengan kehidupan nyata murid sangat tinggi, karena materi ini berkaitan dengan
perangkat sehari-hari yang sering dijumpai murid seperti smartphone, TV pintar, atau mesin cuci
otomatis.
Dimensi Profil Lulusan
 Kreatif: Murid belajar untuk merancang solusi sederhana dan menemukan cara-cara
inovatif untuk menyelesaikan masalah menggunakan konsep komputasi.
 Mandiri: Murid belajar untuk mengamati, menganalisis, dan mengambil kesimpulan
secara mandiri mengenai cara kerja suatu perangkat.
 Gotong Royong: Murid berinteraksi dan berdiskusi dalam kelompok untuk memecahkan
masalah yang diberikan.

B. Desain Pembelajaran
Capaian Pembelajaran: Peserta didik mampu memahami konsep KA sederhana, manfaat dan
dampak KA pada kehidupan sehari-hari, prinsip bahwa KA dikembangkan untuk meningkatkan
kesejahteraan manusia dan tidak boleh merugikan manusia, mengetahui perbedaan manusia dan
komputer dalam melakukan penginderaan, dan mengetahui perbedaan antara mesin cerdas dan
mesin non-cerdas.

Tujuan Pembelajaran:
 Menganalisis berbagai permasalahan di lingkungan sekolah atau rumah yang dapat
diselesaikan dengan konsep komputasi sederhana.
 Mengidentifikasi dan menjelaskan perbedaan antara mesin cerdas dan non-cerdas melalui
pengamatan langsung pada perangkat di sekitar.
 Membandingkan dan mengklasifikasikan cara manusia dan komputer dalam melakukan
penginderaan dan memproses informasi.
 Menyimpulkan manfaat dan dampak positif-negatif dari penggunaan teknologi komputasi
pada kehidupan sehari-hari.
Topik Pembelajaran
Konsep Dasar Komputasi dan Perangkat Pintar

Praktik Pedagogis:
 Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)
 Pendekatan Pembelajaran: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
 Metode Pembelajaran: Diskusi Kelompok, Studi Kasus, Tanya Jawab, Penugasan
 Kemitraan Pembelajaran: Warga lingkungan sekolah (guru lain, petugas kebersihan)
 Lingkungan Pembelajaran: Ruang kelas, lingkungan sekolah, atau laboratorium
komputer jika tersedia.
 Pemanfaatan Digital: Video edukasi dari YouTube tentang contoh-contoh perangkat
pintar dan cara kerjanya.

C. Pengalaman Belajar
Kegiatan Awal (10 menit)
Orientasi:
 Salah satu murid memimpin pembacaan doa dilanjutkan dengan penegasan oleh guru
tentang pentingnya berdoa sebelum memulai suatu kegiatan. Berkesadaran
 Murid secara bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya.
 Murid bersama guru menyanyikan lagu nasional. Berkesadaran
 Guru memberi salam, menyapa murid (menanyakan kabar, mengecek kehadiran dan
kesiapan murid, dan lain-lain) Berkesadaran
 Murid bersama-sama dengan guru melakukan Ice Breaking. Menggembirakan
 Guru memberikan pertanyaan untuk mengenal materi:
o "Coba sebutkan alat elektronik di rumahmu yang bisa 'berpikir' sendiri!"
o "Apa bedanya lampu yang dinyalakan dengan sakelar biasa dengan lampu yang
bisa mati sendiri saat tidak ada orang?"

Kegiatan Inti (50 menit)


Sintaks 1: Orientasi Murid pada Masalah
Pengalaman Belajar: Memahami
 Murid menyimak penjelasan guru mengenai materi pembelajaran
 Murid disajikan skenario permasalahan: "Bayangkan ada kulkas yang bisa mendeteksi
kapan isinya hampir habis, lalu otomatis memesan barang baru. Bagaimana caranya
kulkas itu bisa melakukan hal tersebut? Mengapa hal ini bisa terjadi?"
Berkesadaran

Sintaks 2: Mengorganisasikan Murid untuk Belajar


Pengalaman Belajar: Memahami
 Murid dibagi menjadi beberapa kelompok (4-5 orang).
 Setiap kelompok menerima kartu studi kasus yang berbeda (misalnya: lampu otomatis,
pintu gerbang otomatis, atau robot penyedot debu).
 Murid secara berkelompok merumuskan masalah dalam kalimat tanya, misalnya:
o "Bagaimana cara sebuah pintu gerbang otomatis tahu ada mobil yang datang?"
o "Informasi apa yang dibutuhkan robot penyedot debu untuk membersihkan
ruangan?"
Berkesadaran dan Bermakna

Sintaks 3: Melakukan Penyelidikan dan Penelusuran


Pengalaman Belajar: Menganalisis
 "Data Collection": Murid mengamati secara teliti kartu studi kasus yang mereka
dapatkan.
 "Feature Extraction": Murid menganalisis data yang dikumpulkan, fokus pada fitur-
fitur "pintar" yang dimiliki perangkat (misalnya, sensor, kamera, atau suara).
 "Pattern Recognition": Guru memandu murid untuk membandingkan fitur-fitur dari
studi kasus yang berbeda. "Pola apa yang kalian temukan? Apakah semua perangkat
'pintar' menggunakan sensor?"
 "Classification": Berdasarkan pola yang dikenali, murid mengklasifikasikan perangkat
ke dalam kategori mesin cerdas (memiliki kemampuan untuk "berpikir" atau
berinteraksi) dan mesin non-cerdas (hanya beroperasi sesuai perintah manual).
 "Inference": Murid menyimpulkan fungsi dari setiap fitur perangkat dengan
mengaitkannya dengan konsep komputasi sederhana. Contoh: "Karena ada sensor gerak,
fungsinya pasti untuk mendeteksi pergerakan manusia."
Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan

Sintaks 4: Menyusun Hasil Karya dan Mempresentasikannya


Pengalaman Belajar: Mengaplikasikan
 Setiap kelompok membuat diagram atau poster sederhana yang menggambarkan alur
kerja perangkat pada studi kasus mereka.
 Setiap kelompok mempresentasikan poster di depan kelas. Kelompok lain memberikan
tanggapan.
Berkesadaran, Bermakna, menggembirakan

Sintaks 5: Melakukan Evaluasi dan Refleksi


Pengalaman Belajar: Merefleksi
 Murid diberikan kesempatan oleh guru untuk menyampaikan kesulitan atau pertanyaan
yang masih belum dipahami
 Murid menulis refleksi pribadi dengan menjawab pertanyaan yang disediakan guru.
 Murid bersama dengan guru menyimpulkan proses pembelajaran yang telah dilakukan
Berkesadaran, Bermakna

Kegiatan Penutup (10 menit)


 Murid diberikan penguatan, apresiasi serta motivasi oleh guru
 Guru memberikan tugas rumah untuk mempersiapkan murid agar memahami materi yang
akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
 Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam.
Berkesadaran, Bermakna

D. Asesmen Pembelajaran
Asesmen Awal Pembelajaran
 Metode: Diskusi kelas, tanya jawab
 Bentuk: Pertanyaan lisan
 Pertanyaan: "Apa yang membedakan robot mainan dengan robot penyedot debu yang
bisa menghindari rintangan?"
Asesmen Proses Pembelajaran
 Metode: Observasi diskusi & presentasi kelompok serta penilaian poster
 Bentuk: Lembar Observasi & Rubrik Penilaian

Lembar Observasi Diskusi Kelompok:

Nama Aktif Menghargai Membantu Catatan


No.
Murid Berdiskusi Pendapat Teman Kelompok Guru

1.

2.

dst

Lembar Observasi Presentasi Kelompok:


Kerja sama Keberanian Kesesuaian Isi
Catatan
No. Kelompok saat Menyampaikan dengan
Guru
Presentasi Gagasan Masalah

Kelompok
1.
1

Kelompok
2.
2

Kelompok
3.
3

dst

Asesmen Akhir Pembelajaran


 Metode: Tes tulis individu
 Bentuk: Soal evaluasi tertulis (esai)
 Soal Asesmen:
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara cara kerja otak manusia dan komputer dalam
memproses informasi. Berikan satu contoh!
2. Jika sebuah lampu jalan dilengkapi dengan sensor cahaya sehingga bisa menyala
otomatis saat gelap, apakah lampu tersebut termasuk mesin cerdas atau non-
cerdas? Jelaskan alasanmu!

Mengetahui, Lubuk Linggau, September 2025


Kepala SDN 8 Lubuk Linggau Guru Kelas V A

Rusmani, [Link] Riza Pahlawan, [Link]


NIP 19670718 199104 2 001 NIP 199501062022211003
Kartu Studi Kasus 1: Lampu Otomatis
Topik: Lampu Otomatis di Teras Rumah
Deskripsi Masalah:
Bayangkan sebuah lampu teras rumah yang bisa menyala sendiri ketika hari mulai gelap dan
mati sendiri saat pagi tiba. Lampu ini bekerja tanpa perlu ditekan sakelarnya oleh manusia.
Pertanyaan untuk Diskusi Kelompok:
1. Menurut kelompok kalian, apa "mata" atau "telinga" dari lampu ini yang membantunya
"merasakan" kondisi di sekitarnya?
2. Bagaimana cara lampu ini "memutuskan" kapan harus menyala dan kapan harus mati?
3. Apakah lampu otomatis ini bisa kita sebut sebagai mesin cerdas? Jelaskan alasanmu!
4. Apa saja manfaat dari penggunaan lampu otomatis ini?
Kunci Jawaban untuk Guru:
1. "Mata" atau "telinga": Lampu ini memiliki sensor cahaya. Sensor ini berfungsi
sebagai "mata" yang dapat mendeteksi tingkat kegelapan di lingkungan sekitarnya. Ini
mirip dengan cara manusia mengindera atau melihat cahaya.
2. Cara "memutuskan": Lampu ini diprogram dengan sebuah instruksi sederhana: jika
sensor mendeteksi cahaya kurang dari tingkat tertentu (misalnya, di bawah 50 lux), maka
lampu akan menyala. Sebaliknya, jika cahaya kembali terang (di atas 50 lux), lampu akan
mati.
3. Mesin cerdas atau non-cerdas: Lampu ini dikategorikan sebagai mesin non-cerdas
atau mesin otomatis. Meskipun dapat beroperasi sendiri, ia hanya melakukan satu tugas
berdasarkan satu instruksi yang sudah ditetapkan. Ia tidak bisa belajar atau beradaptasi
dengan kondisi yang tidak terprogram sebelumnya (misalnya, tidak bisa membedakan
antara gelap karena malam atau gelap karena mendung).
4. Manfaat: Menghemat energi karena lampu tidak akan menyala di siang hari. Praktis
karena pemilik rumah tidak perlu repot menyalakan atau mematikan lampu secara
manual. Meningkatkan keamanan rumah karena lampu selalu menyala saat malam.
Kartu Studi Kasus 2: Pintu Gerbang Otomatis
Topik: Pintu Gerbang Otomatis di Sekolah
Deskripsi Masalah:
Setiap pagi, saat bus sekolah mendekat ke gerbang, pintu gerbang sekolah akan terbuka secara
otomatis. Ketika bus sudah masuk, pintu akan tertutup kembali. Ini terjadi tanpa ada satupun
petugas yang menekan tombol.
Pertanyaan untuk Diskusi Kelompok:
1. Apa yang membuat pintu gerbang ini "tahu" ada bus yang mendekat?
2. Bagaimana cara pintu gerbang ini "berkomunikasi" dengan sistemnya untuk memberitahu
bahwa ia harus membuka?
3. Dalam kasus ini, siapa yang melakukan "penglihatan" (penginderaan), manusia atau
mesin?
4. Apakah menurut kalian pintu gerbang otomatis ini berbahaya? Bagaimana caranya agar
pintu ini tidak merugikan orang lain?
Kunci Jawaban untuk Guru:
1. Pintu "tahu" ada bus: Pintu gerbang ini menggunakan sensor untuk mendeteksi
keberadaan objek. Bisa berupa sensor inframerah, sensor tekanan di bawah jalan, atau
kamera yang mendeteksi plat nomor kendaraan. Sensor ini berfungsi sebagai "indra" bagi
gerbang.
2. Cara "berkomunikasi": Sensor tersebut akan mengirimkan sinyal elektronik ke "otak"
pintu gerbang (komputer kecil). Sinyal ini berisi "perintah" untuk membuka atau
menutup pintu.
3. Penginderaan: Dalam kasus ini, mesin yang melakukan penginderaan. Manusia hanya
melihat hasil dari kerja mesin. Mesin dapat melakukan penginderaan dengan lebih cepat
dan konsisten.
4. Potensi bahaya: Pintu otomatis bisa berbahaya jika tidak dilengkapi dengan fitur
keamanan. Contohnya, jika sensor tidak berfungsi, pintu bisa menutup saat ada orang
atau hewan di tengahnya. Untuk mencegahnya, pintu ini perlu dilengkapi dengan sensor
pengaman tambahan yang akan segera menghentikan gerakan pintu jika ada benda yang
menghalangi jalannya.
Kartu Studi Kasus 3: Robot Penyedot Debu
Topik: Robot Penyedot Debu di Ruang Tamu
Deskripsi Masalah:
Di ruang tamu, ada sebuah robot penyedot debu kecil yang bergerak sendiri untuk membersihkan
lantai. Robot ini bisa menghindari kaki meja, tidak jatuh dari tangga, dan bahkan kembali ke
tempat pengisian dayanya saat baterainya lemah.
Pertanyaan untuk Diskusi Kelompok:
1. Bagaimana robot ini bisa "melihat" dan "mengenali" rintangan seperti kaki meja agar
tidak menabraknya?
2. Saat baterainya hampir habis, bagaimana robot ini "tahu" bahwa ia harus kembali ke
stasiun pengisian?
3. Berdasarkan kemampuannya, apa perbedaan antara robot penyedut debu ini dengan
penyedot debu biasa yang harus digerakkan oleh manusia?
4. Jelaskan mengapa robot ini termasuk mesin cerdas, dan sebutkan satu contoh mesin
non-cerdas yang ada di rumah kalian.
Kunci Jawaban untuk Guru:
1. Cara robot "melihat" rintangan: Robot ini dilengkapi dengan berbagai sensor, seperti
sensor inframerah atau sensor sentuhan. Sensor ini mengirimkan informasi ke "otak"
robot, yang kemudian memprosesnya untuk menginstruksikan robot berbelok.
2. Cara robot "tahu" baterai lemah: Robot memiliki sensor tegangan atau sensor
baterai. Sensor ini memantau sisa daya baterai. Ketika daya mencapai level rendah,
sensor ini akan mengirimkan sinyal ke "otak" robot untuk memicu perintah "kembali ke
stasiun pengisian."
3. Perbedaan dengan penyedot debu biasa: Penyedot debu biasa sepenuhnya
dikendalikan oleh manusia. Manusia yang "mengindera" rintangan dan menggerakkan
alatnya. Robot penyedot debu dapat "mengindera" sendiri, membuat keputusan
(misalnya, berbelok), dan bahkan melakukan tugas yang lebih kompleks seperti mencari
stasiun pengisian.
4. Mesin cerdas atau non-cerdas: Robot penyedot debu termasuk mesin cerdas karena
memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membuat keputusan berdasarkan data
dari lingkungannya. Contohnya, robot bisa mengubah rute geraknya jika ada rintangan
baru. Contoh mesin non-cerdas di rumah adalah kipas angin yang hanya bisa menyala
atau mati, atau blender yang hanya berputar saat tombol ditekan.
Materi Pembelajaran: Konsep Komputasi Sederhana
1. Pengantar: Apa Itu Komputer dan Mesin Pintar?
Kita sering melihat banyak alat di sekitar kita yang bekerja secara otomatis. Ada lampu yang
menyala sendiri, pintu gerbang yang terbuka sendiri, atau robot yang membersihkan lantai tanpa
kita sentuh.
Semua alat tersebut, baik yang besar seperti komputer maupun yang kecil seperti lampu
otomatis, memiliki satu kesamaan: mereka membutuhkan informasi untuk bekerja. Alat-alat ini
memproses informasi, lalu melakukan sesuatu sesuai perintah yang diberikan kepadanya. Inilah
yang kita sebut dengan komputasi.
2. Indera Manusia vs. Indera Komputer
Manusia memiliki panca indra (mata, telinga, hidung, lidah, kulit) untuk mengumpulkan
informasi dari dunia sekitar. Contohnya, saat kita melihat lampu mati, mata kita melihat
kegelapan, dan otak kita memproses informasi itu untuk memutuskan menyalakan lampu.
Komputer atau mesin juga memiliki "indera" mereka sendiri, yang disebut sensor. Sensor inilah
yang membantu mesin mengumpulkan data dari lingkungan.
 Mata Komputer: Komputer menggunakan kamera atau sensor cahaya untuk "melihat"
objek atau tingkat kegelapan.
 Telinga Komputer: Komputer menggunakan mikrofon untuk "mendengar" suara atau
perintah.
 Kulit Komputer: Komputer menggunakan sensor sentuhan atau sensor panas untuk
"merasakan" sentuhan atau suhu.
Dengan sensor ini, mesin bisa mengumpulkan data yang kemudian akan diproses untuk
mengambil keputusan.
3. Mesin Cerdas vs. Mesin Non-Cerdas (Otomatis)
Penting untuk membedakan antara mesin yang hanya otomatis dan mesin yang benar-benar
cerdas.
 Mesin Non-Cerdas (Otomatis): Mesin ini hanya bekerja berdasarkan satu atau beberapa
perintah yang sudah diprogram sebelumnya. Mereka tidak bisa berpikir, belajar, atau
beradaptasi dengan kondisi di luar programnya.
o Contoh: Lampu otomatis yang menyala saat gelap. Ia hanya tahu satu perintah:
"jika gelap, nyala". Ia tidak akan tahu harus berbuat apa jika lampu terhalang tirai.
 Mesin Cerdas: Mesin ini bisa mengambil keputusan dan beradaptasi berdasarkan data
yang mereka terima. Mereka dapat "belajar" dari pengalaman atau informasi baru.
o Contoh: Robot penyedot debu. Ia diprogram untuk membersihkan lantai, tetapi ia
juga bisa menggunakan sensornya untuk membuat keputusan di tempat, seperti
berbelok ketika bertemu rintangan, atau mencari stasiun pengisian saat baterainya
lemah.
4. Manfaat dan Dampak Komputasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Komputasi dan teknologi punya banyak manfaat untuk kita:
 Membuat hidup lebih praktis: Kita tidak perlu lagi repot menyalakan atau mematikan
lampu secara manual.
 Meningkatkan keamanan: Gerbang otomatis bisa menjaga keamanan sekolah atau
rumah.
 Membantu pekerjaan manusia: Robot penyedot debu membantu pekerjaan rumah
tangga kita.
Namun, kita juga harus ingat bahwa komputasi dibuat untuk kesejahteraan manusia dan
tidak boleh merugikan manusia. Oleh karena itu, semua alat yang kita ciptakan harus
dilengkapi dengan fitur keamanan dan dirancang agar tidak membahayakan.
5. Kegiatan Diskusi dan Aplikasi (Sesi Praktik)
Setelah menjelaskan materi, Anda dapat memandu murid untuk menggunakan kartu studi kasus
yang telah disiapkan. Biarkan mereka berdiskusi dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang ada.
Dorong mereka untuk:
 Menganalisis: "Indera" apa yang dimiliki oleh alat ini?
 Mengklasifikasi: Apakah ini termasuk mesin cerdas atau non-cerdas?
 Menyimpulkan: Apa manfaat dan potensi dampak dari alat ini?

Anda mungkin juga menyukai