0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Panduan Keluarga Berencana di Indonesia

Keluarga Berencana (KB) adalah program pemerintah untuk mengatur jumlah dan jarak kehamilan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mengendalikan pertumbuhan populasi. Program ini mencakup berbagai layanan seperti konseling, pendidikan seks, dan metode kontrasepsi untuk pasangan usia subur, serta bertujuan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan. Sasaran KB meliputi pasangan usia subur, remaja, dan perempuan dengan risiko kesehatan tertentu, dengan fokus pada pengurangan angka kelahiran yang tidak direncanakan.

Diunggah oleh

Nenden Imas Andini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Panduan Keluarga Berencana di Indonesia

Keluarga Berencana (KB) adalah program pemerintah untuk mengatur jumlah dan jarak kehamilan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mengendalikan pertumbuhan populasi. Program ini mencakup berbagai layanan seperti konseling, pendidikan seks, dan metode kontrasepsi untuk pasangan usia subur, serta bertujuan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan. Sasaran KB meliputi pasangan usia subur, remaja, dan perempuan dengan risiko kesehatan tertentu, dengan fokus pada pengurangan angka kelahiran yang tidak direncanakan.

Diunggah oleh

Nenden Imas Andini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

1 Konsep Dasar Keluarga Berencana


Keluarga Berencana (KB) merupakan suatu program pemerintah yang dirancang
untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk. Tujuan dan manfaat dari
KB adalah memperlambat pertumbuhan populasi, mengatur jarak dan menunda
kehamilan, mengurangi angka (Sumarsih & Rohmah, 2023). Keluarga Berencana (KB)
adalah upaya dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas melalui pengaturan usia
perkawinan yang ideal, pengaturan jumlah, jarak, dan usia yang ideal dalam melahirkan
anak, mengatur kehamilan serta membina ketaatan untuk kesejahteraan anak (Farouq et
al., 2022).
Keluarga Berencana adalah mengatur jumlah anak sesuai dengan keinginan dan
menentukan kapan ingin hamil. Jadi, KB (Family Planning, Planned Parenthood) adalah
suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan
memakai alat kontrasepsi. Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu
atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu, yaitu: (1) menghindari
kelahiran yang tidak diinginkan, (2) mendapat kelahiran yang diingikan, (3) mengatur
interval dintara (Nainggolan & Susilawati, 2022).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 87, 2014 tentang
perkembangan penduduk dan pengembangan keluarga, Keluarga Berencana, dan sistem
informasi keluarga, kebijakan KB. Program KB memiliki tujuan antara lain:
1. Mengatur kehamilan yang diinginkan (jarak anak, jumlah anak),
2. Menjaga kesehatan dan menurunkan AKI, AKB dan AKA,
3. Menaikkan akses dan kualitas seperti informasi, pendidikan anak dan ibu, konseling
dan pelayanan KB serta kesehatan reproduksi terhadap Pasangan Usia Subur (PUS),
4. Menaikkan partisipasi dan keikutsertaan suami dalam praktek keluarga berencana,
5. Mempromosikan pemberian ASI esklusif sampai 2 tahun sebagai upaya untuk
menjarangkan jarak kehamilan
Tujuan Keluarga Berencana meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran
dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. Di samping itu KB diharapkan dapat
menghasilkan penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan
meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sasaran dari program KB, meliputi sasaran
langsung, yaitu pasangan usia subur yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran
dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan, dan sasaran tidak langsung
yang terdiri dari pelaksana dan pengelola KB, dengan cara menurunkan tingkat kelahiran
melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai
keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera (Setyorini et al., 2024).
1.2 Ruang Linngkup Keluarga Berencana
Adapun ruang lingkup program KB, meliputi (Setyorini et al., 2024):
1. Komunikasi informasi dan edukasi
2. Konseling
3. Pelayanan infertilitas
4. Pendidikan seks
5. Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan
6. Konsultasi genetik
1.3 Tujuan KB dan Sasaran KB
A. Tujuan KB
Berikut ini adalah tujjuan KB (Setyorini et al., 2024) ;
1) Mengendalikan Pertumbuhan Populasi Salah
Salah satu tujuan utama KB adalah mengendalikan pertumbuhan populasi
dengan mengatur jumlah kelahiran. Populasi yang terlalu besar dapat
menimbulkan tekanan pada sumber daya alam, infrastruktur, dan layanan sosial.
Dengan mengurangi jumlah kelahiran yang tidak direncanakan, diharapkan dapat
menciptakan keberlanjutan dalam penggunaan sumber daya dan memperbaiki
kualitas hidup masyarakat.
2) Meningkatkan Kesehatan Reproduksi
Untuk meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan dan bayi. Dengan
memberikan akses yang lebih luas terhadap layanan kesehatan reproduksi,
termasuk konseling reproduksi, pemeriksaan kesehatan reproduksi, dan akses
terhadap kontrasepsi, diharapkan dapat mengurangi risiko komplikasi kehamilan
yang tidak diinginkan dan meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.
3) Mendorong Pemberdayaan Perempuan Program
Program KB juga bertujuan untuk mendorong pemberdayaan perempuan
dengan memberikan kontrol atas keputusan reproduksi kepada perempuan.
4) Meningkatkan Pembangunan Ekonomi
KB juga dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi dengan
mengurangi tekanan pada lapangan kerja dan sumber daya ekonomi. Dengan
mengendalikan jumlah kelahiran, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas
dan memperbaiki distribusi sumber daya ekonomi.
5) Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga
Tujuan KB lainnya adalah meningkatkan kesejahteraan keluarga secara
keseluruhan. Dengan memberikan akses yang lebih luas terhadap informasi dan
layanan KB, diharapkan dapat membantu keluarga merencanakan masa depan
mereka dengan lebih baik, baik dari segi kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi
6) KB dapat Menyelamatkan Nyawa
Kontrasepsi mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, mengurangi
jumlah aborsi, dan menurunkan angka kematian dan kecacatan yang terkait
dengan komplikasi kehamilan dan persalinan.
B. Sasaran KB
Program Keluarga Berencana (KB) memiliki sasaran yang luas dan meliputi
berbagai kelompok dalam masyarakat. Pertama, pasangan usia subur adalah salah satu
target utama program KB. Mereka diberikan akses ke informasi, layanan, dan metode
kontrasepsi yang beragam untuk membantu mereka mengatur jumlah anak yang
diinginkan dan menentukan jarak antara kehamilan. Selain itu, program KB juga
memperhatikan kebutuhan khusus perempuan, terutama yang rentan terhadap
komplikasi kesehatan akibat kehamilan di usia dini atau pada usia lanjut. Ini termasuk
remaja perempuan yang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan karena
kehamilan di usia muda dan wanita yang berisiko tinggi mengalami komplikasi
kehamilan karena usia lanjut. Selain itu, remaja juga menjadi sasaran penting dari
program KB. Mereka diberikan informasi, pendidikan, dan layanan yang tepat untuk
membantu mereka membuat keputusan yang bijak tentang kesehatan reproduksi
mereka (Setyorini et al., 2024).
1.4 Metode Konntrasepsi
1.4.1. Kontrasepsi Sederhana, Alamiah dan Masa Postpartum
[Link] Kontrasepsi Sederhana
1. Definisi
Kontrasepsi sederhana merupakan cara kontrasepsi atau pencegahan
kehamilan yang dilakukan atau digunakan secara sederhana atau sewaktu-waktu,
bahkan untuk sekali pemakaian saat melakukan hubungan seksual. Kontrasepsi
sederhana dibagi atas dua cara yaitu cara kontrasepsi tanpa menggunakan alat-alat
atau obat dan cara kontrasepsi dengan menggunakan alat atau obat (Yulizawati et
al., 2019).
2. Jenis Kontrasepsi Sederhana Menggunakan Alat
1) Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang terbuat dari berbagai
bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produksi
hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan. Kondom terbuat dari
karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal,
yang digulung berbentuk rata. Standar kondom dilihat dari ketebalannya, yaitu
0,02 mm (Setyorini et al., 2024).
a) Jenis Kondom
 Kondom biasa.
 Kondom berkontur (bergerigi).
 Kondom beraroma.
 Kondom tidak beraroma.
b) Cara Kerja Kondom
Alat kontrasepsi kondom mempunyai cara kerja sebagai berikut:
 Mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi wanita.
 Sebagai alat kontrasepsi.
 Sebagai pelindung terhadap infeksi/tranmisi mikro organisme
penyebab PMS
c) Efektifitas Kondom
Pemakaian kontrasepsi kondom akan efektif apabila dipakai secara
benar setiap kaliberhubungan seksual. Pemakaian kondom yang tidak
konsisten membuat tidakefektif. Angka kegagalan kontrasepsi kondom
sangat sedikit yaitu 2-12 kehamilanper 100 perempuan per tahun
d) Manfaat Kondom
Manfaat kondom terbagi dua, yaitu manfaat secara kontrasepsi dan
non kontrasepsi.
 Kontrasepsi
 Efektif bila pemakaian benar.
 Tidak mengganggu produksi ASI.
 Tidak mengganggu kesehatan klien.
 Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
 Murah dan tersedia di berbagai tempat.
 Tidak memerlukan resep dan pemeriksaan khusus.
 Metode kontrasepsi sementara
 Non kontrasepsi
 Peran serta suami untuk ber-KB.
 Mencegah penularan PMS.
 Mencegah ejakulasi dini.
 Mengurangi insidensi kanker serviks.
 Adanya interaksi sesama pasangan.
 Mencegah imuno infertilitas.
e) Keterbatasan Kondom
Alat kontrasepsi metode barier kondom ini juga memiliki
keterbatasan, antara lain:
 Tingkat efektifitas tergantung pada pemakaian kondom yang benar.
 Adanya pengurangan sensitifitas pada penis.
 Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
 Perasaan malu membeli di tempat umum.
 Masalah pembuangan kondom bekas pakai.
f) Cara penggunaan
 Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual.
 Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke dalam
kondom.
 Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting
atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan.
 Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada
glans penis dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung
uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan
tersebut kea rah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan
sebelum penetrasi penis ke vagina.
 Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada
bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian
ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi.
 Kondom dilepas sebelum penis melembek.
 Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga
kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom di
luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar
vagina.
 Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai.
 Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman.
 Sediakan kondom dalam jumlah cukup di rumah dan jangan disimpan
di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom
menjadi rusak atau robek saat digunakan.
 Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom
tampak rapuh/kusut.
 Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari
bahan petrolatum karena akan segera merusak kondom.
2) Spermisida
Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia yang
digunakan untuk membunuh sperma. Jenis spermisida terbagi menjadi:
 Aerosol (busa).
 Tablet vagina
 Krim
a) Cara Kerja
Cara kerja dari spermisida adalah sebagai berikut:
 Menyebabkan sel selaput sel sperma pecah.
 Memperlambat motilitas sperma.
 Menurunkan kemampuan pembuahan sel telur
b) Manfaat
Alat kontrasepsi spermisida ini memberikan manfaat secara
kontrasepsi maupun non kontrasepsi. Manfaat kontrasepsi
 Efektif seketika (busa dan krim).
 Tidak mengganggu produksi ASI.
 Sebagai pendukung metode lain.
 Tidak mengganggu kesehatan klien.
 Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
 Mudah digunakan.
 Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
 Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik. Manfaat non
kontrasepsi
Memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual
termasuk HB dan HIV/AIDS
c) Keterbatasan
 Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan
petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap
tahun dan bila wanita tidak selalu menggunakan sesuai dengan
petunjuk maka angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil
setiap tahun). 2.
 Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain
(misal kondom).
 Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara penggunaannya.
 Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap
melakukan hubungan seksual.
 Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah spermisida
dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual
 Hanya efektif selama 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.
 Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.
3) Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks
(karet) yang di insersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan
menutup serviks.
a) Jenis
 Flat spring (flat metal band)
 Coil spring (coil wire)
 Arching spring (kombinasi metal spring).
b) Cara Kerja
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran
alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat
tempat spermisida.
c) Manfaat Metode Diafragma Kontrasepsi
 Efektif bila digunakan dengan benar.
 Tidak mengganggu produksi ASI.
 Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang 6 jam
sebelumnya
 Tidak mengganggu kesehatan klien.
 Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
d) Nonkontrasepsi
 Salah satu perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS,
 Bila digunakan pada saat haid, menampung darah menstruasi.
e) Keterbatasan
 Efektivitas sedang (bila digunakan dengan spermisida angka kegagalan
6-16 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama).
 Keberhasilan sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan
mengikuti cara penggunaan.
 Motivasi diperlukan berkesinambungan dengan menggunakannya
setiap berhubungan seksual.
 Pemeriksaan pelvik oleh petugas kesehatan terlatih diperlukan untuk
memastikan ketepatan pemasangan.
 Pada beberapa pengguna menjadi penyebab infeksi saluran uretra.
 Pada 6 jam pascahubungan seksual, alat masih harus berada di
posisinya.
f) Cara Penggunaan
 Gunakan diafragma setiap kali melakukan hubungan seksual.
 Pertama kosongkan kandung kemih dan cuci tangan.
 Pastikan diafragma tidak berlubang (tes dengan mengisi diafragma
dengan air, atau melihat menembus cahaya).
 Oleskan sedikit spermisida krim atau jelli pada kap diafragma (untuk
memudahkan pemasangan tambahkan krim atau jelli, remas bersamaan
dengan pinggirannya).
 Posisi saat pemasangan diafragma: (1) Satu kaki diangkat ke atas kursi
atau dudukan toilet. (2) Sambil berbaring. (3) Sambil jongkok.
 Lebarkan kedua bibir vagina.
 Masukkan diafragma ke dalam vagina jauh ke belakang, dorong bagian
depan pinggiran ke atas di balik tulang pubis.
 Masukkan jari ke dalam vagina sampai menyentuh serviks, sarungkan
karetnya dan pastikan serviks telah terlindungi.
 Diafragma dipasang di vagina sampai 6 jam sebelum hubungan
seksual. Jika hubungan seksual berlangsung di atas 6 jam setelah
pemasangan, tambahkan spermisida ke dalam vagina. Diafragma
berada di dalam vagina paling tidak 6 jam setelah terlaksananya
hubungan seksual. Jangan tinggalkan diafragma di dalam vagina lebih
dari 24 jam sebelum diangkat (tidak dianjurkan mencuci vagina setiap
waktu, pencucian vagina bisa dilakukan setelah ditunda 6 jam sesudah
hubungan seksual).
 Mengangkat dan mencabut diafragma dengan menggunakan jari
telunjuk dan tengah.
 Cuci dengan sabun dan air, keringkan sebelum disimpan kembali di
tempatnya.
3. Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat/ Obat
1) Coitus Interruptus
Coitus interruptus atau senggama terputus merupakan salah satu metode
yang paling banyak digunakan sekarang. Cara ini dilakukan dengan
mengeluarkan penis dan membuang sperma diluar vagina saat pria ejakulasi.
Cara ini banyak digunakan dalam abad ke-18 dan 19 dan memegang peranan
penting dalam pembatasan penduduk.
Keuntungannya, cara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun
persiapan. Kekurangannya, untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan
pengendalian diri yang besar dari pihak pria.
Kegagalan dengan cara ini dapat disebabkan karena adanya pengeluaran
mani sebelum ejakulasi yang dapat mengandung sperma apalagi pada
hubungan seksual yang berulang, dan terlambatnya pengeluaran penis dari
vagina.
a) Pengertian
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga
berencana tradisional/alamiah, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya
(penis) dari vagina sebelum mencapai ejakulasi.
b) Cara Kerja
Alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma
tidak masuk ke dalam vagina, maka tidak ada pertemuan antara sperma
dan ovum, dan kehamilan dapat dicegah. Ejakulasi di luar vagina untuk
mengurangi kemungkinan air mani mencapai rahim.
c) Efektifitas
Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan
benar dan konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan
per tahun. Pasangan yang mempunyai pengendalian diri yang besar,
pengalaman dan kepercayaan dapat menggunakan metode ini menjadi
lebih efektif.
d) Manfaat
 Alamiah.
 Efektif bila dilakukan dengan benar.
 Tidak mengganggu produksi ASI.
 Tidak ada efek samping.
 Tidak membutuhkan biaya.
 Tidak memerlukan persiapan khusus.
 Dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
 Dapat digunakan setiap waktu. Manfaat non kontrasepsi
 Adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan
reproduksi.
 Menanamkan sifat saling pengertian.
 Tanggung jawab bersama dalam ber-KB
e) Keterbatasan
 Sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan
tumpahan sperma selama senggama.
 Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme).
 Sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah
interupsi coitus.
 Tidak melindungi dari penyakit menular seksual.
 Kurang efektif untuk mencegah kehamilan.
f) Indikasi
 Suami yang tidak mempunyai masalah dengan interupsi pra orgasmik.
 Pasangan yang tidak mau metode kontrasepsi lain.
 Suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana.
 Pasangan yang memerlukan kontrasepsi segera.
 Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu
metode lain.
 Pasangan yang membutuhkan metode pendukung.
 Menyukai senggama yang dapat dilakukan kapan saja/tanpa rencana.
g) Kontraindikasi
 Suami dengan ejakulasi dini.
 Suami yang tidak dapat mengontrol interupsi pra orgasmik.
 Suami dengan kelainan fisik/psikologis.
 Pasangan yang tidak dapat bekerjasama.
 Pasangan yang tidak komunikatif.
 Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus
2) Metode Kalender
a) Definisi
Metode Kalender adalah metode kontrasepsi sederhana ysng
dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan senggama
atau hubungan seksual pada masa subur atau ovulasi. Knaus (ahli
kebidanan Vienna) berpendapat bahwa ovulasi terjadi tepat 14 hari
sebelum menstrusi [Link] Ogino (ahli ginekologi Jepang)
berpendapat bahwa ovulasi tidak terjadi tepat 14 hari sebelum menstruasi
tetapi terjadi 12 atau 16 hari sebelum menstruasi berikutnya.
b) Efektivitas KB Kalender
Bagi wanita dengan siklus haid teratur, efektifitasnya lebih tinggi
dibandingkan wanita yang siklus haidnya tidak teratur. Hal yang dapat
menyebabkan metode kalender menjadi tidak efektif adalah:
 Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel
sperma dalam saluran reproduksi (sperma mampu bertahan selama 3
hari)
 Anggapan bahwa perdarahan yang datang bersamaan dengan ovulasi,
diinterpretasikan sebagai menstruasi. Hal ini menyebabkan
perhitungan masa tidak subur sebelum dan setelah ovulasi menjadi
tidak tepat
 Penentuan masa tidak subur tidak didasarkan pada siklus menstruasi
sendiri
 Kurangnya pemahaman tentang hubungan masa subur/ovulasi dengan
perubahan jenis mukus/lendir serviks yang menyertainya.
c) Keuntungan KB Kalender
 Ditinjau dari segi ekonomi: KB kalender dilakukan secara alami dan
tanpa biaya sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli
alat kontrasepsi.
 Dari segi kesehatan: sistem kalender ini jelas jauh lebih sehat karena
bisa dihindari adanya efek sampingan yang merugikan seperti halnya
memakai alat kontrasepsi lainnya (terutama yang berupa obat).
 Dari segi psikologis: yaitu sistem kalender ini tidak mengurangi
kenikmatanhubungan itu sendiri seperti bila memakai kondom
misalnya. Meski tentu saja dilain pihak dituntut kontrol diri dari
pasangan untuk ketat berpantang selama masa subur
d) Kerugian KB Kalender
 Diperlukan banyak pelatihan untuk biasa menggunakannya dengan
benar
 Memerlukan pemberian asuhan (non – medis) yang sudah terlatih
 Memerlukan penahanan nafsu selama fase kesuburan untuk
menghindari kehamilan
e) Manfaat
Metode kalender atau pantang berkala dapat bermanfaat sebagai
kontrasepsi maupun konsepsi. Sebagai alat pengendalian kelahiran atau
mencegah kehamilan. Dapat digunakan oleh para pasangan untuk
mengharapkan bayi dengan melakukan hubungan seksual saat masa
subur/ovulasi untuk meningkatkan kesempatan bisa hamil.
f) Efek Samping
Terlalu lama berpantang kadang kala tidak tertahankan, terutama bila
masa berpantang terlalu lebar (lama).
g) Indikasi KB Kalender
 Dari Semua usia subur.
 Dari semua paritas, termasuk wanita nullipara.
 Yang oleh karena alasan religious atau filosofis tidak bisa
menggunakan metode lain.
 Tidak bisa memakai metode lain
 Bersedia menahan nafsu birah ilebih dari seminggu setiap siklus
 Bersedia dan terdorong untuk mengamati, mencatat dan
menginterpretasikan tanda- tanda kesuburan.
h) Kontraindikasi KB Kalender
 Yang seharusnya tidak menggunakan/kontak indikasi Perempuan yang
dari segi umur, paritas atau masalah kesehatannya membuat kehamilan
menjadi suatu kondisi resiko tinggi.
 Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui, segera setelah
(abortus), kecuali MOB.
 Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur.
 Perempuan yang pasangannya tidak mau bekerja sama (berpantang)
selama waktu tertentu dalam siklus haid.
 Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genitalianya.
i) Cara Menghitung Masa Subur dengan Sistem Kalender
Masa berpantang dihitung dengan rumus sebagai berikut: Hari
pertama mulai subur = siklus haid terpendek - 18 Hari subur terakhir =
siklus haid terpanjang – 11 Sebenarnya, cara tersebut hanya cocok bagi
wanita yang siklus haidnya teratur mencatat pola siklus haidnya paling
sedikit selama 6 bulan dan sebaiknya selama 12 bulan. Setelah itu barulah
ditentukan kapan mulainya hari subu pertama dan hari subur terakhir
dengan mempergunakan rumus diatas
[Link] Kontrasepsi Darurat
a) Definisi
Kontrasepsi darurat adalah kontrasepsi darurat merupakan cara untuk
mencegah kehamilan setelah pasangan suami istri berhubungan seks tanpa
menggunakan kontrasepsi, lupa minum pil, atau mengalami kecelakaan
kontrasepsi (seperti kondom rusak).
b) Manfaat Kontrasepsi Darurat
 Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
 Mendukung hak perempuan untuk mengatur reproduksinya sendiri
 Mendukung kesehatan reproduksi perempuan memberi waktu pemulihan yang
sempurna bagi organ reproduksi, frekuensi kehamilan dapat diatur sesuai
kondisi kesehatan fisik dan psikososial, risiko aborsi dapat di hindarkan
 Bukan sebagai pil penggugur kandungan
 Cara kerja Kondar adalah “fisiologis”, sehingga tidak mempengaruhi
kesuburan dan siklus haid yang akan datang
 Efek samping ringan dan berlangsung singkat
 Tidak ada pengaruh buruk di kemudian hari pada organ sistem reproduksi dan
organ tubuh lainnya
c) Indikasi dan Kontraindikasi
 Indikasi Kontrasepsi darurat adalah untuk mencegah kehamilan yang tidak
diingkan.
 Kesalahan dalam pemakaian kontrasepsi, seperti:
 Wanita korban perkosaan kurang dari 72 jam
 Tidak menggunakan kontrasepsi, baik karena alasan medis maupun belum
bersedia, tetapi ingin mencegah kehamilan.
 Wanita yang tidak sedang memakai kontrasepsi apapun, karena tugas
suaminya yang sering bepergian dalam jangka waktu lama
 Kontraindikasi Kontrasepsi darurat: Wanita hamil atau disangka hamil
d) Efek samping
Efek samping yang mungkin timbul adalah rasa mual, sakit kepala, pusing,
muntah atau payudara tegang. Ini diakibatkan karena pil Kondar mengandung
hormon dosis tinggi. Pada umumnya efek samping berlangsung tidak lebih dari 24
jam.
[Link] Kontrasepsi Masa Postpartum
A. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
1. Definisi
Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea
Method (LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan
ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya. Metode
Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM)
dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau
natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode
kontrasepsi lain.
Meskipun penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat
menekan kesuburan, namun banyak wanita yang hamil lagi ketika
menyusui. Oleh karena itu, selain menggunakan Metode Amenorea
Laktasi juga harus menggunakan metode kontrasepsi lain seperti metode
barier (diafragma, kondom, spermisida), kontrasepsi hormonal (suntik, pil
menyusui, AKBK) maupun IUD. Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat
dipakai sebagai alat kontrasepsi, apabila:
a. Menyusui secara penuh (full breast feeding), lebih efektif bila
diberikan minimal 8 kali sehari.
b. Belum mendapat haid.
c. Umur bayi kurang dari 6 bulan
2. Cara kerja
Cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah menunda
atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat laktasi/menyusui, hormon yang
berperan adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka
kadar prolaktin meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon
penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar
estrogen, sehingga tidak terjadi ovulasi.
3. Efektifitas
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan
secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama
enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid pasca
melahirkan dan menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan
atau minuman tambahan). Efektifitas dari metode ini juga sangat
tergantung pada frekuensi dan intensitas menyusui.
4. Manfaat
Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat kontrasepsi
maupun non [Link] kontrasepsi dari MAL antara lain:
a. Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam bulan
pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui
eksklusif.
b. Dapat segera dimulai setelah melahirkan.
c. Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat
d. Tidak memerlukan pengawasan medis.
e. Tidak mengganggu senggama.
f. Mudah digunakan.
g. Tidak perlu biaya.
h. Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
i. Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama
5. Keterbatasan
Metode Amenorea Laktasi (MAL) mempunyai keterbatasan antara lain:
a. Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan.
b. Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan,
belum mendapat haid dan menyusui secara eksklusif.
c. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B
ataupun HIV/AIDS.
d. Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.
e. Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif.
6. Yang dapat menggunakan MAL
Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat digunakan oleh wanita yang
ingin menghindari kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
 Wanita yang menyusui secara eksklusif.
 Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
 Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan.
Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), harus
menyusui dan memperhatikan hal-hal di bawah ini:
 Dilakukan segera setelah melahirkan.
 Frekuensi menyusui sering dan tanpa jadwal.
 Pemberian ASI tanpa botol atau dot.
 Tidak mengkonsumsi suplemen.
 Pemberian ASI tetap dilakukan baik ketika ibu dan atau bayi sedang
sakit. Yang Tidak Dapat Menggunakan MAL
Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak dapat digunakan oleh:
 Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
 Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
 Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.
 Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan.
 Wanita yang menggunakan obat yang mengubah suasana hati.
 Wanita yang menggunakan obat-obatan jenis ergotamine, anti
metabolisme, cyclosporine, bromocriptine, obat radioaktif, lithium atau
anti koagulan.
 Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan.
 Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme
Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak direkomendasikan pada
kondisi ibu yang mempunyai HIV/AIDS positif dan TBC aktif. Namun
demikian, MAL boleh digunakan dengan pertimbangan penilaian klinis
medis, tingkat keparahan kondisi ibu, ketersediaan dan penerimaan metode
kontrasepsi lain.
7. Hal yang harus diperhatikan kepada klien
Sebelum menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), klien
terlebih dahulu diberikan konseling sebagai berikut:
 Bayi menyusu harus sesering mungkin (on demand).
 Waktu pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
 Bayi menyusu sampai sepuasnya (bayi akan melepas sendiri
hisapannya).
 ASI juga diberikan pada malam hari untuk mempertahankan
kecukupan ASI.
 ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.
 Waktu pemberian makanan padat sebagai pendamping ASI (diberikan
pada bayi sudah berumur 6 bulan lebih)
 Metode MAL tidak akan efektif, apabila ibu sudah memberikan
makanan atau minuman tambahan lain
 Ibu yang sudah mendapatkan haid setelah melahirkan dianjurkan untuk
menggunakan metode kontrasepsi lain.
 Apabila ibu tidak menyusui secara eksklusif atau berhenti menyusui
maka perlu disarankan menggunakan metode kontrasepsi lain yang
sesuai.
B. IUD / AKDR Post Partum
IUD/AKDR post partum adalah IUD yang dipasang pada 10 menit
setelah plasenta lahir (post plasenta) sampai 48 jam post partum. AKDR
merupakan pilihan kontrasepsi pascasalin yang aman dan efektif untuk ibu
yang ingin menjarangkan atau membatasi kehamilan. AKDR dapat dipasang
segera setelah bersalin ataupun dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun angka ekspulsi pada pemasangan AKDR segera pascasalin
lebih tinggi dibandingkan teknik pemasangan masa interval (lebih dari 4
minggu setelah persalinan), angka ekspulsi dapat diminimalisasi bila:
 Pemasangan dilakukan dalam waktu 10 menit setelah melahirkan plasenta
 AKDR ditempatkan cukup tinggi pada fundus uteri
 Pemasangan dilakukan oleh tenaga terlatih khusus
Keuntungan pemasangan AKDR segera setelah lahir (pascaplasenta) antara
lain:
 Biaya lebih efektif dan terjangkau.
 Lebih sedikit keluhan perdarahan dibandingkan dengan pemasangan
setelah beberapa hari/minggu.
 Tidak perlu mengkhawatirkan kemungkinan untuk hamil selama menyusui
dan AKDR pun tidak mengganggu produksi air susu dan ibu yang
menyusui.
 Mengurangi angka ketidakpatuhan pasien.
a) Indikasi
 Usia reproduktif
 Keadaan multipara
 Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
 Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
 Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
 Resiko rendah dari IMS
 Tidak menghendaki metode hormonal
 Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari
b) Kontraindikasi
 Ruptur membrane yang lama (lebih dari 24 jam)
 Demam atau ada gejala PID
 Perdarahan antepartum atau post partum yang berkelanjutan setelah
bayi lahir
 Gangguan pembekuan darah
 Perdarahan pervagina yang belum diketahui sebabnya
 Penyakit tropoblas dalam kehamilan (jinak atau ganas)
 Abnormal uterus
c) Komplikasi
 Dapat terjadi robekan dinding rahim.
 Ada kemungkinan kegagalan pemasangan.
 Kemungkinan mengalami nyeri setelah melahirkan hingga beberapa
hari kemudian.
 Kemungkinan terjadi infeksi setelah pemasangan AKDR (pasien harus
kembali jika ada demam, bau amis/anyir dari cairan vagina dan sakit
perut terus menerus).
d) Cara Kerja
IUD yang dipasang setelah persalinan selanjutnya juga akan
berfungsi seperti IUD yang dipasang saat siklus menstruasi. Pada
pemasangan IUD post plasenta, umumnya digunakan jenis IUD yang
mempunyai lilitan tembaga yang menyebabkan terjadinya perubahan
kimia di uterus sehingga sperma tidak dapat membuahi sel telur.
e) Efektivitas
Kejadian hamil yang tidak diinginkan pada pasca insersi IUD post
plasenta sebanyak 2.0 - 2.8 per 100 akseptor pada 24 bulan setelah
pemasangan. Setelah 1 tahun, penelitian menemukan angka kegagalan
IUD post plasenta 0.8 %, dibandingkan dengan pemasangan setelahnya.
1.5 Kontrasepsi Hormonal dan Operatif
1.4.1 Kontrasepsi Hormonal
A. KB Suntik
a) Definisi
Hormon progesteron yang disuntikkan ke bokong/ otot panggul
lengan atas tiap 3 bulan atau 1 bulan (hormon estrogen).
b) Cara Kerja
 Mencegah lepasnya sel telur dari indung telur wanita
 Mengentalkan lendir mulut rahim, sehingga spermatozoa tidak masuk
ke dalam rahim.
 Menipiskan endometrium/ selaput lendir
c) Kerugiannya
 Kembalinya kesuburan agak telat
 Hrs kembali ke tempat pelayanan
 Tidak dianjurkan bagi penderita kanker, darah tinggi, jantung, dan liver
Tingkat keberhasilan (efektifitas) > 99% sangat efektif Keuntungannya
 Praktis, efektif, dan aman
 Tidak mempengaruhi ASI, cocok untuk ibu menyusui
 Tidak terbatas umur
d) Cara Penggunaan
 Depo provera disuntikkan ke dlm otot (intra musculer) tiap 3 bulan
sekali, dgn kelonggaran 1 minggu batas waktu suntik
 Cyclofem disuntikkan tiap 4 minggu (1 bulan) ke dalam otot (intra
musculer)
e) Kontra indikasi (yang tidak boleh menggunakan):
 Ibu hamil
 Pendarahan di vagina yang tidak tahu sebabnya
 Tumor
 Penyakit jantung, lever (hati), darah tinggi, dan kencing manis
 Sedang menyusui bayi < 6 minggu
f) Efek/akibat sampingnya
 Pusing, mual (jarang terjadi)
 Kadang-kadang menstruasi tidak keluar selama 3 bulan pertama
 Kadang-kadang terjadi pendarahan yang banyak pada saat menstruasi
Keputihan
 Perubahan berat badan
g) Tempat mendapatkannya : rumah sakit, klinik, dan puskesmas
B. KB Pil
a) Definisi
Minipil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon progesteron
dalam dosis rendah. Minipil atau pil progestin disebut juga pil menyusui.
Dosis progestin yang digunakan 0,03-0,05 mg per tablet.
b) Jenis
 Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil: mengandung 75 mikro gram
desogestrel.
 Mini pil dalam kemasan dengan isi 35 pil: mengandung 300 mikro
gram levonogestrel atau 350 mikro gram noretindron.
c) Cara Kerja
Cara kerja dari kontrasepsi pil progestin atau minipil dalam
mencegah kehamilan antara lain dengan cara:
 Menghambat ovulasi.
 Mencegah implantasi.
 Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.
 Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma menjadi
terganggu.
d) Efektifitas
Pil progestin atau minipil sangat efektif (98,5%). Penggunaan yang
benar dan konsisten sangat mempengaruhi tingkat efektifitasnya.
Efektifitas penggunaan minipil akan berkurang pada saat mengkonsumsi
obat anti konvulsan (fenitoin), carbenzemide, barbiturat, dan obat anti
tuberkulosis (rifampisin).
e) Indikasi
 Wanita usia reproduksi.
 Wanita yang telah memiliki anak maupun yang belum mempunyai
anak.
 Pasca persalinan dan tidak menyusui.
 Menginginkan metode kontrasepsi efektif selama masa menyusui.
 Pasca keguguran.
 Tekanan darah kurang dari 180/110 mmHg atau dengan masalah
pembekuan darah.
 Tidak boleh mengkonsumsi estrogen atau lebih senang menggunakan
progestin
f) Kontra Indikasi
 Wanita usia tua dengan perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya.
 Wanita yang diduga hamil atau hamil.
 Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid.
 Riwayat kehamilan ektopik
 Riwayat kanker payudara atau penderita kanker payudara.
 Wanita pelupa sehingga sering tidak minum pil.
 Gangguan tromboemboli aktif (bekuan di tungkai, paru atau mata).
 Ikterus, penyakit hati aktif atau tumor hati jinak maupun ganas.
 Wanita dengan miom uterus.
 Riwayat stroke.
 Perempuan yang sedang mengkonsumsi obat-obat untuk tuberculosis
dan epilepsi
g) Keuntungan
 Cocok sebagai alat kontrasepsi untuk perempuan yang sedang
menyusu
 Sangat efektif untuk masa laktasi
 Dosis gestagen rendah
 Tidak menurunkan produksi ASI
 Tidak mengganggu hubungan seksual
 Kesuburan cepat kembali
 Tidak memberikan efek samping estrogen
 Tidak ada bukti peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler, resiko
tromboemboli vena dan resiko hipertensi
 Cocok untuk perempuan yang tidak biasa mengkomsumsi estrogen
 Dapat mengurangi disminorhea
h) Kerugian
 Memerlukan biaya.
 Harus selalu tersedia.
 Efektifitas berkurang apabila menyusui juga berkurang.
 Penggunaan mini pil bersamaan dengan obat tuberkulosis atau epilepsi
akan mengakibatkan efektifitas menjadi rendah.
 Mini pil harus diminum setiap hari dan pada waktu yang sama.
 Angka kegagalan tinggi apabila penggunaan tidak benar dan konsisten.
 Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk HBV dan
HIV/AIDS.
 Mini pil tidak menjamin akan melindungi dari kista ovarium bagi
wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik
i) Efek Samping
 Gangguan haid (perdarahan bercak, spotting, amenorea dan haid tidak
teratur).
 Peningkatan/penurunan (fluktuasi) berat badan.
 Nyeri tekan payudara
 Mual.
 Pusing.
 Perubahan mood.
 Dermatitis atau jerawat.
 Kembung
 Depresi
 Hirsutisme (pertumbuhan rambut atau bulu yang berlebihan pada
daerah muka) tetapi sangat jarang.
C. Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK)
a) Jenis-jenis KOK Monofasik
 Semua pil mengandung Estrogen / Progestin (E/P) dalam konsentrasi
yang sama dalam 1 siklus
 BIFASIK
21 Pil mengandung E/P dengan konsentrasi yang berbeda dalam 2
periode yang berbeda (mis. 10/11) dalam 1 siklus
 TRIFASIK
21 pil mengandung 3 kombinasi E/P dengan konsentrasi yang berbeda
dalam 3 periode berbeda (mis. 6/5/10) dalam 1 siklus
b) Cara Kerja KOK
 Menekan ovulasi
 Mengurangi transpor sperma di bagian atas saluran genital (tuba
fallopii)
 Mengganggu pertumbuhan endometrium, sehingga menyulitkan proses
implantasi
 Memperkental lendir serviks (mencegah penetrasi sperma) Kemasan
21 hari baik dari jenis mono atau bifasik 28 hari yang mungkin
tergolong dalam jenis monofasik, bifasik atau trifasik Manfaat
Kontraseptif
 Efektivitasnya tinggi jika di minum setiap hari (0.1- 51 kehamilan per
100 wanita selama pemakaian di tahun pertama)
 Segera efektif jika dimulai di hari yang sesuai pada siklus menstruasi
 Selama tampak sehat, tidak mutlak dilakukan periksa dalam untuk
memulai penggunaan • Tidak mengganggu hubungan seksual
1.4.2 Kontrasepsi Operatif
A. Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi merupakan metode KB yang paling
efektif, murah, aman dan mempunyai nilai demografi yang tingg. Kontap
sampai saat ini masih belum masuk gerakan keluarga berencana nasional
Indonesia, namun pelayanan kontrasepsi mantap dapat diterima masyarakat,
dan makin lama makin besar jumlahnya dengan usia semakin muda.
Fungsi bidan terutama KIE dan KIM tentang kontrasepsi mantap sebagai
berikut:
1) Bagaimana kontrasepsi mantap itu? Kontrasepsi mantap mempunyai ciri-
ciri:
 Sifatnya relatif permanen, artinya untuk melakukan rekanalisasi
memerlukan waktu dan biaya.
 Perlu dilakukan konseling yang mantap, karena metode ini sifatnya
permanen.
 Dalam jangka panjang relatif murah, aman, dan tanpa komplikasi.
2) Dimana tempat pelayanan kontrasepsi mantap? Pelayanan kontrasepsi
mantap dapat dilakukan:
a. Vasektomi (kontap pria)
 Puskesmas
 Tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dokter ahli bedah,
pemerintah maupun swasta
 Tindakan vasektomi murah dan ringan sehingga dapat dilakukan di
lapangan (puskesmas)
b. Kontap wanita
Rumah sakit, yang terdapat kamar bedah, baik rumah sakit pemerintah
ataupun swasta.
3) Kapan kontap dapat dilaksanakan?
Sebagian besar dilakukan pada saat wanita masih dirawat di rumah sakit,
yaitu:
 Setelah melahirkan
 Setelah keguguran
B. Tubektomi
C. Vasektomi
1.6 Penapisan KB
Lingkaran Kriteria Kelayakan Medis dalam Penggunaan Kontrasepsi
 Modifikasi dengan penambahan:
 Penapisan Kehamilan
 Prosedur Penapisan Klien
 Tingkat Efektivitas metode kontrasepsi
 Kontrasepsi Darurat
Tujuan Jangka Pendek
• Memperkenalkan alat bantu Diagram Lingkaran Kriteria Kelayakan Medis dalam
Penggunaan Kontrasepsi
• Melatih penggunaan Diagram Lingkaran Kritria Kelayakan Medis dalam Penggunaan
Kontrasepsi
• Menjadikan Diagram Lingkaran Kriteria Kelayakan Medis dalam Penggunaan
Kontrasepsi sebagai media informasibagi pengguna kontrasepsi
• Pengguna kontrasepsi dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai untuk dirinya dan
keinginannya
Tujuan Jangka Panjang
• Meningkatkan angka penggunaan dan penerimaan kontrasepsi
• Menekan laju pertumbuhan penduduk
• Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
Konseling Keluarga Berencana
1.7 Peran Bidan Dalam Pelayanan Kontrasepsi
Bidan merupakan satu profesi tertua didunia sejak adanya peradaban umat manusia.
Peran dan posisi bidan dimasyarakat sangat dihargai dan dihormati karena tugasnya
sangat mulia, memberi semangat, mendampingi serta menolong ibu yang akan
melahirkan. Bidan sebagai konselor memiliki kemampuan teknik konseling, pengetahuan
tentang alat kontrasepsi dan yang berkaitan dengan pemakaiannya. Salah satu tugas
mandiri bidan yaitu memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang
membutuhkan pelayanan keluarga berencana dimana mencakup :
 Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada PUS
 Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan
 Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas masalah bersama klien
 Melaksanakan asuhan sesuai dengan rencana yang telah dibuat
 Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan
 Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama
 Membuat pencatan dan pelaporan

Anda mungkin juga menyukai