0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan8 halaman

Penanganan Stunting di Nusa Tenggara Timur

Dokumen ini membahas upaya penanganan stunting di Nusa Tenggara Timur, yang memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia. Stunting, yang disebabkan oleh kekurangan gizi dan infeksi, berdampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Berbagai intervensi, termasuk pemberian makanan tambahan dan pemberdayaan kader kesehatan, telah dilakukan untuk mengurangi angka stunting di daerah tersebut.

Diunggah oleh

tartklapertart
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan8 halaman

Penanganan Stunting di Nusa Tenggara Timur

Dokumen ini membahas upaya penanganan stunting di Nusa Tenggara Timur, yang memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia. Stunting, yang disebabkan oleh kekurangan gizi dan infeksi, berdampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Berbagai intervensi, termasuk pemberian makanan tambahan dan pemberdayaan kader kesehatan, telah dilakukan untuk mengurangi angka stunting di daerah tersebut.

Diunggah oleh

tartklapertart
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia

Volume 5, Nomor 2, Juli 2025


p-ISSN: 2827-8488; e-ISSN: 2827-797X, Hal. 79-86
DOI: [Link]
Available Online at: [Link]

Studi Literatur:Upaya Penanganan Keadaan Stunting di Nusa


Tenggara Timur

Atalia Pili Mangngi1*, Brigita Dina Manek2,Ni Putu Indu Dewi Pradnyani Murti3,Isna
Yuswela Babys4, Fitri Atapukang5,Diah Ayu Dwi Satiti6, Ninick Corea
Fernandes7,Bernadetha Erni8
1-8
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maranatha Kupang,Indonesia
ataliapm90@gmail.com1*, brigitamanek@gmail.com2, dewimurti888@gmail.com3,
isnababys@gmail.com4,vitrymiraldy05@gmail.com5,ayu103323@gmail.com6,ninickfernandez24@gmail.com7,
ernibernadeta35@gmail.com8

Alamat: [Link] bajawa Nasipanaf-Baumata [Link]


Korespondensi Penulis : ataliapm90@[Link]*

[Link] in children is a nutritional problem that is a national problem, this is because stunting has a
negative impact on human resources in the future. Stunting is a problem because it is related to an increased risk
of disease and death, less than optimal brain development so that motor development is delayed and mental
growth is hampered. Stunting is a form of growth failure (growth faltering) due to the accumulation of long-term
nutritional deficiencies from pregnancy to 24 months of age. The decline in stunting prevalence in Indonesia in
2024 is 14%, but this has not reached the target. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the
prevalence of stunting in Indonesia is 21.5%. East Nusa Tenggara is the province with the highest stunting rate,
namely 37.9%. Efforts to handle stunting that have been carried out are the Provision of Additional Recovery
Food (ARF). Training and counseling on stunting, empowerment of cadres, to strengthen knowledge about
stunting and its [Link] study uses a literature review with data collection sources derived from scientific
articles.

Keywords:Development; Nutrition; Stunting

[Link] pada anak merupakan masalah gizi yang menjadi masalah nasional, hal ini dikarenakan
stunting berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan datang. Stunting menjadi
permasalahan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan
otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Stunting
merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang
berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Penurunan prevelensi stunting diindonesia pada
tahun 2024 adalah 14%, namun ini belum mencapai target. Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023,
prevelensi stunting di Indonesia adalah 21.5%. Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan angka stunting
tertinggi yaitu sebesar 37.9%. Upaya penangan stunting yang telah dilakukan adalah Pemberian Makanan
Tambahan Pemulihan (MTP). Pelatihan dan penyuluhan tentang stunting, pemberdayaan kader, untuk
memperkuat pengetahuan mengenai stunting beserta dampaknya. Penelitian ini menggunakan kajian literatur
dengan sumber pengumpulan data berasal dari artikel ilmiah.

Kata Kunci: Gizi; Perkembangan; Stunting

1. LATAR BELAKANG
Masalah Gizi merupakan masalah yang sampai saat ini masih terjadi terutama di
Indonesia. Stunting merupakan kondisi dimana pertumbuhan anak terhambat. Kasus stunting
dapat terjadi pada anak-anak yang tidak memiliki gizi yang cukup, sering terkena infeksi, atau
kurang mendapatkan stimulasi psikososial yang memadai. Stunting dapat dikatakan

Received: April 16, 2024; Revised: April 30, 2024; Accepted: Mei 22, 2025; Published: Mei 24,2025;
Studi Literatur:Upaya Penanganan Keadaan Stunting di Nusa Tenggara Timur

terjadi pada anak jika tinggi badannya tidak sesuai atau tidak mencapai grafik pertumbuhan
standar dunia (Mediani et al., 2020). Kasus Stunting tetap menjadi permasalahang lobal yang
penting untuk diatasi di seluruh dunia, sehingga stunting dinobatkan sebagai salah satu fokus
utama untuk target perbaikan gizi di dunia hingga tahun 2025 (Asri, 2022).
Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak lebih pendek dari dua standar deviasi
di bawah rata-rata anak seusianya. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan
perkembangan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang
(Mangngi.,Manek.,dkk.2022) Kondisi balita yang mengalami stunting dapat diukur melalui
tinggi badannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh WHO, yaitu minus dua
dari standar deviasi median standar pertumbuhan anak. Masalah kurang gizi pada balita
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama serta pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. (Roslin.,Mangngi.,dkk.2024). Stunting dapat terjadi
mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun
(Noorhasanah & Tauhidah, 2021).
Stunting cukup memiliki dampak yang signifikan terhadap anak-anak baik dalam
jangka masa panjang maupun pendek. Salah satu dampak yang paling umum dijumpai dan
dapat dilihat secara kasat mata adalah tinggi badan yang cenderung lebih pendek dari pada
anak-anak lain di usianya dan anak akan menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Selain itu,
stunting juga dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif, yaitu kecerdasan dan cara
berpikir. Dampak stunting sangat besar terhadap kesehatan anak hingga dewasa. Masa emas
anaka ada pada 1000 (Hari Pertama Kehidupan) pada masa ini mengoptimalkan kebutuhan gizi
pada anak agar anak tersebut memiliki pertumbuhan dan perkembangannya maksimal dan
terhin dari stunting (Yuwanti dkk., 2021).
Hal tersebut dapat dipicu dengan berbagai faktor keadaan, yaitu faktor ekonomi
keluarga, tinggi badan orang tua, jumlah anggota keluarga,dan pemberian asi eksklusif oleh ibu
pada anak dapat berperan signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak ketika
masa 1000 HPK (Yuwanti dkk., 2022). Upaya pencegahan Stunting masih sangat gencar
dilakukan agar angka kejadian di Indonesia maupun di Provinsi Nusa Tenggra Timur dapat
menurun, umumnya dilakukan dengan cara preventif, tetapi tidak menutup kemungkinan
dilakukan dengan metode lainnya.
Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia
dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak,
menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saatdewasa.
Adapun dampak yang ditimbulkan oleh stunting ini bisa dirasakan jangka pendek maupun

80 Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia – Volume 5, Nomor 2, Juli 2025
p-ISSN: 2827-8488; e-ISSN: 2827-797X, Hal. 79-86

jangka panjang. Pada jangka pendek, daya tahan tubuh anak akan berkurang dan mudah
terserang penyakit, sedangkan pada jangka panjang akan menyebabkan berkurangnya
perkembangan kognitif dan motorik pada anak. Keadaan ini jika dibiarkan terus menerus, akan
mempengaruhi kualitas SDM bangsa Indonesia di masa depan.

2. KAJIAN TEORITIS
Dalam melakukan upaya percepatan penurunan stunting maka tiap-tiap Organisasi
Perangkat Daerah termasuk juga di dalamnya sektor kesehatan mempunyai peran besar
dalam upaya tersebut. Sektor kesehatan berperan aktif memberikan komunikasi
perubahan perilaku untuk mempengaruhi sasaran secara positif dalam menerapkan
perilaku hidup sehat. Perilaku kesehatan yang berhubungan terhadap kejadian stunting
antara lain : ibu hamil rutin meminum tablet tambah darah setiap hari, ibu hamil mengikuti
kelas ibu hamil, PMBA (pemberian makan untuk bayi dan anak), rutin mengunjungi
posyandu, CTPS (cuci tangan pakai sabun), jamban sehat. Dalam melakukan komunikasi
perubahan perilaku kader juga bisa ambil bagian di dalamnya sebagai perpanjangan
tangan dari tenaga kesehatan (Untung, Bunga., dkk,2021)

3. METODE PENELITIAN
Penulisan artikel ini menggunakan metode penulisan literature review, metode ini
merupakan metode penulisan ilmiah menggunakan data sekunder yang didapatkan dari
database Google Scholar yang berisikan jurnal-jurnal penelitian ilmiah. Jurnal yang direview
dalam artikel ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan penulisan artikel berdasarkan kriteria
inklusi.
Tabel 1. Acuan Studi Literatur
Judul (Penulis,Tahun) Metode Kesimpulan
Pemberdayaan Masyarakat  Maria H. A. L. Observasi dan Pemberdayaan bidan dan kader-
Dalam Upaya Mencegah K,Urbanus O. H wawancara kader posyandu menjadi sumber
Stunting Melalui Kegiatan informasi mencegah stunting
Posyandu sehingga bisa menambah
pengetahuan masyarakat posyandu
khususnya ibu-ibu dalam
meningkatkan pengetahuan
tentang stunting dan pudding kelor
(tumbuhan kelor) sebagai makanan
tambahan bergizi untuk
pencegahan stunting bagi balita.
Pemberian PMT Modifikasi Yusti A. U.P, Yudied Desk study Pemberian PMT modifikasi berbasis
Berbasis Kearifan Lokal pada A. M, Eko W pangan lokal merupakan Intervensi
Balita Stunting: Studi Kasus sebagai MPASI dapat memberikan
di Kabupaten Timor Tengah hasil positif dalam pencegahan stunting
Selatan Nusa Tenggara Timur pada anak salah satunya adalah pangan
lokal jagung bose. Jagung bose adalah
salah satu pangan lokal yang memiliki
Studi Literatur:Upaya Penanganan Keadaan Stunting di Nusa Tenggara Timur

kandungan gizi tinggi yang dapat


dimanfaatkan untuk mencegah stuntin.
Pemanfaatan jagung bose memberikan
hasil positif bagi ibu menyusui dimana
jagung bose dapat meningkatkan
produksi ASI juga melancarkan ASI
pada ibu. Produksi ASI yang tinggi
pada ibu dapat memberikan kecukupan
gizi pada anak sehingga dapat
mencegah stunting sejak dini pada
anak.
Pemberdayaan Kader Odi L. N, Tirza V.I Edukasi Adanya peningkatan pengetahuan
Posyandu Dalam Pencegahan [Link],2024 kader posyandu dan orangtua balita
Stunting Melalui Penerapan dimana Sebelum mengikutikegiatan
Promosi MP-ASI Pengabdian masyarakat, pengetahuan
kader posyandu sebesar 66,6%
mempunyai pengetahuan cukup dan
setelah mengikuti kegiatan
Penyuluhan pengetahuan kader
posyandu mengalami peningkatan
yakni 80% mempunyai pengetahuan
Baik. Sehingga Kader Mampu
melakukan pencegahan stunting dan
melakukan promosi MP-ASI pada ibu-
ibu yang mempunyai Balita.
Pendampingan Kader Yurissetiowati,Wanti, Edukasi Hasil yang didapat dapat disimpulkan
Berbasis Pemberdayaan dan Namsyah.2024 bahwa terdapat kenaikan berat badan yang
Ota2s cukup signifikan dari balita stunting
dI Kelurahan Liliba tersebut. Dalam kegiatan OTA2S ini
kader dan orangtua belajar mengenai
cara pengolahan makanan untuk anak
stunting bahwasanya makanan yang
bergizi itu tidak harus mahal karena
kita bisa memanfaatkan bahan pangan
yang tersedia di sekitar kita.

Pemberdayaan Loriana L. M, Mareta Edukasi dan Adanya peningkatan pengetahuan kader


Masyarakat melalui B. B, Nursusilowaty, Pelatihan posyandu dan perubahan perilaku
Pelatihan Kader Posyandu dkk. 2023 individu, keluarga dan masyarakat
Cegah Stunting Didesa untuk meningkatkan pola konsumsi
Oelnasi Wilayah Kerja keluarga dan mencegah angka kejadian
Puskesmas Tarus stunting pada anak

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Keadaan Stunting di Nusa Tenggara Timur
Berdasarkan data SSGI 2022, prevalensi balita stunting menurut umur tertinggi berada
pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (35.3%). Meskipun NTT berada pada posisi atas, tetapi
prevalensi atau angka kejadian stunting di NTT menurun, yang sebelumnya menyentuh angka
sebesar(37,8%).
Dalam upaya mewujudkan percepatan penurunan angka stunting di seluruh Indonesia
dan Nusa tenggara Timur dengan target di tahun 2024 sebesar 14%, pemerintah memiliki peran
sebagai pengarah, regulator, pelaksana. Salah satu upaya nya adalah menjadikan target
penurunan prevalensi wasting dan stunting pada balita di Indonesia menjadi sasaran pokok
RPJMN 2020-2024.

82 Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia – Volume 5, Nomor 2, Juli 2025
p-ISSN: 2827-8488; e-ISSN: 2827-797X, Hal. 79-86

Penanganan Stunting di Nusa Tenggara Timur


Terdapat cara untuk menangani stunting di Nusa Tenggara Timur yang sudah dilakukan
di indonesia salah satunya adalah Scaling Up Nutrition (SUN). SUN merupakan upaya yang
dilakukan secara global untuk menangani masalah gizi yang berfokus pada perbaikan gizi pada
usia 1000 HPK. (Nilfar, Ruanida, 2018 dalam Waroh, 2019). Hal tersebut diikuti dengan
program pemberian makanan tambahan pemulihan atau yang bisa disingkat menjadi PMT-P
yang bertujuan untuk memperbaiki asupan kebutuhan gizi yang cukup pada balita. Makanan
yang boleh dikonsumsi balita dapat berupa makanan keluarga yang berbasis cita rasa lokal
yang disesuaikan dengan selera balita dan metode memasaknya. Selain itu, dengan
suplementasi gizi yang diberikan juga dapat memberikan asupan gizi, hanya saja lebih praktis.
Pemberian makanan dilakukan pada balita apabila anak tersebut merupakan balita yang
termasuk ke dalam kategori rawan, yaitu usia 6-24 bulan dengan proporsi badan yang kurang
dari anak [Link] beberapa standar yang harus diperhatikan dalam pemberian
makanan pada balita usia 6 bulan hingga 2 tahun. Makanan tersebut harus diperhatikan apa saja
kandungan yang terdapat di dalamnya dan jika makanan tersebut bahan tambahan pangan
(BTP), harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Permenkes. Pemberian
Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) memberikan kontribusi terhadap asupan energi dan
protein yang didukung dengan makanan bergizi yang dikonsumsi balita. Sedangkan balita yang
memiliki status gizi buruk, sangat dianjurkan untuk memberikan perhatian yang lebih atas
kecukupan dan keseimbangan nutrisi balita agar keadaan imun dan fisiologi balita dapat
berfungsi dengan normal dan mengalami kenaikan berat badan. (Waroh, 2019)
Penanganan stunting juga dapat dilakukan dengan pemberdayaan kader kesehatan.
Penanganan stunting prioritas dalam rencana pembangunan nasional yang tercatat dalam
RPJMN tahun 2020-2024. Kementerian Kesehatan RI memiliki fokus utama dalam
penanganan stunting melalui intervensi gizi khusus yang diberikan selama 1000 Hari Pertama
Kehidupan (HPK). Gerakan 1000 HPK ini dianggap sebagai periode penting dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan otak (Kraemer [Link], 2018). Salah satu strategi yang dapat
digunakan dalam intervensi pennganan stunting adalah memanfaatkan Posyandu,sebagai
bentuk pelayanan kesehatan yang melibatkan masyarakat, terutama ibu hamil dan balita
(Kemenkes RI, 2013).
Peran kader sangat penting dalam menjalankan kegiatan Posyandu, karena pelayanan
Posyandu tidak dapat terlaksana tanpa keterlibatan aktif kader. Dalam hal pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan anak, kader memiliki tugas dalam hal gizi anak. Tugas kader
dalam hal ini adalah melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi/ panjang
Studi Literatur:Upaya Penanganan Keadaan Stunting di Nusa Tenggara Timur

badan, kemudian mencatat informasi tersebut kedalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Kader juga
bertanggung jawab untuk memberikan makanan tambahan dan vitamin A kepada anak-anak,
serta memberikan penyuluhan tentang gizi.
Pelatihan dan penyuluhan merupakan bentuk pemberdayaan yang penting bagi kader,
dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan motivasi mereka terkait masalah gizi pada
masyarakat, terutama balita. Tujuan pelatihan dan penyuluhan ini untuk memberi kader
kesehatan pengetahuan mengenai informasi terbaru tentang cara memberikan pelayanan
Posyandu. Peningkatan pengetahuan kader dapat dilakukan melalui berbagai metode pelatihan,
seperti diskusi, ceramah ,dan praktikum yang disampaikan oleh tenaga kesehatan kepada kader.
Metode pelatihan ini telah terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan
pengetahuan dan motivasi kader kesehatan tentang stunting.
Cara selanjutnya yang dapat menangani stunting adalah dengan melaksanakan kelas ibu
Hamil. Berdasarkan penelitian (Malia et al., 2022), kelas ibu hamil yang dilakukan diharapkan
untuk membantu dalam meningkatkan pengetahuan kepada ibu hamil untuk mempersiapkan
persalinan dan menyusui demi menurunkan angka kejadian stunting. Kelas ibu hamil yang
dilakukan juga sangat beragam, materi yang diberikan berkaitan dengan periode emas 1000
HPK, diantaranya seperti perawatan ibu hamil, stunting, gizi ibu hamil, pengenalan tanda
bahaya kehamilan, dan masih banyak lagi.
Dalam upaya untuk meningkatkan pengetahuan pada ibu hamil, maka kelas ibu hamil
menjadi sarana yang sangat tepat untuk dilakukan. mulai dari pengetahuan tentang stunting,
apa dampaknya, dan bagaimana cara pencegahannya. Selain memberikan pengetahuan tentang
stunting, kelas ibu stunting juga memberikan materi seputar gizi yang baik bagi ibu hamil mulai
dari pengetahuan tentang gizi, cara mengolah makananyangtepat dengan mengombinasikan
menu makanan yang bervariasi, serta pengaturan nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan
dan menyusui (Ekayanthi & Suryani, 2019).

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan studi literatur yang telah dibahas, dapat disimpulkan bahwa Kasus Stunting
merupakan suatu permasalahan global yang penting untuk diatasi. Dengan penangan stunting
yang baik generasi indonesia akan terbebas dari stunting dan masalah Gizi. Meskipun, stunting
di Nusa Tenggara Timur semakin menurun, tetapi angka tersebut masih dapat dikatakan di atas
target yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu sebesar 20%. Maka dari itu, masih perlu terus
dilakukan upaya penanggulangan diantaranya seperti pemberian MPASI setelah ASI Ekslusif
6 bulan pada bayi dan balita, memberikan pemberdayaan, pelatihan pembutan MPT (Makanan

84 Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia – Volume 5, Nomor 2, Juli 2025
p-ISSN: 2827-8488; e-ISSN: 2827-797X, Hal. 79-86

Tambahan Pemulihan) sehat dan bergizi dati bahan-bahan sederhana maupun makanan lokal
dan penyuluhan pencegahan stunting merupakan bentuk pemberdayaan yang penting bagi
kader.

DAFTAR REFERENSI

Asri, M. N. (2022). Pengaruh edukasi gizi menggunakan media booklet terhadap pengetahuan
dan sikap ibu hamil tentang ASI eksklusif untuk pencegahan stunting [Skripsi,
Universitas Andalas]. [Link]

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2022). Buku saku
hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) 2022.
[Link]
indonesia-ssgi-tahun-2021/

Ekayanthi, N. W. D., & Suryani, P. (2019). Edukasi gizi pada ibu hamil mencegah stunting
pada kelas ibu hamil. Jurnal Kesehatan, 10(3), 312.
[Link]

Loriana, L. M., Mareta, B. B., dkk. (2023). Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kader
posyandu cegah stunting di Desa Oelnasi wilayah kerja Puskesmas Tarus. Jurnal
Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), 6(12).
[Link]

Mangngi, P. A., Manek, D. B., & Ilma, N. Nn. (2022). Pendidikan kesehatan pemanfaatan ASI
eksklusif dan makanan bergizi sebagai upaya pencegahan stunting di Desa Pukdale
Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan.
[Link]

Maria, H. A. L. K., & Urbanus, O. H. (2023). Pemberdayaan masyarakat dalam upaya


mencegah stunting melalui kegiatan posyandu. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Nusantara (JPkMN), 4(3), 2715–2723. [Link]

Mediani, H. S., Nurhidayah, I., & Lukman, M. (2020). Pemberdayaan kader kesehatan tentang
pencegahan stunting pada balita. Media Karya Kesehatan, 3(1), 82–90.
[Link]

Odi, L. N., Tirza, V. I. T., Martina, F. D., & Hasri, Y. (2024). Pemberdayaan kader posyandu
dalam pencegahan stunting melalui penerapan promosi MP-ASI. Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat, 2(1), 92–99. [Link]

Rosha, B., Susilowati, A., Amaliah, N., & Permanasari, Y. (2020). Penyebab langsung dan
tidak langsung stunting di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor
(Studi kualitatif kohor tumbuh kembang anak tahun 2019). Buletin Penelitian
Kesehatan, 48(3), 169–182.

Sormin, R. E. M., Manggi, P. A., dkk. (2024). Edukasi 1000 HPK sebagai upaya pencegahan
dan penurunan stunting di Desa Pukdale Kecamatan Kupang Timur. Jurnal Abdi
Insani, 11(2), 1665–1670. [Link]
Studi Literatur:Upaya Penanganan Keadaan Stunting di Nusa Tenggara Timur

Waroh, Y. K. (2019). Pemberian makanan tambahan sebagai upaya penanganan stunting pada
balita di Indonesia. Embrio: Jurnal Kebidanan, 11(1), 47–54.

Yurissetiowati, W., Namsyah, B., & Wanti. (2024). Pendampingan kader berbasis
pemberdayaan dan otak tengah atas di Kelurahan Liliba. Jurnal Kreativitas dan
Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(2). [Link]

Yusti, A. U. P., Yudied, A. M., & Eko, W. (2023). Pemberian PMT modifikasi berbasis
kearifan lokal pada balita stunting: Studi kasus di Kabupaten Timor Tengah Selatan
Nusa Tenggara Timur. Sci-Tech Journal, 2(2), 245–251.
[Link]

Yuwanti, Y., Himawati, L., & Susanti, M. M. (2022). Pencegahan stunting pada 1000 HPK.
Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 35–39.

Yuwanti, Y., Mulyaningrum, F. M., & Susanti, M. M. (2021). Faktor–faktor yang


mempengaruhi stunting pada balita di Kabupaten Grobogan. Jurnal Keperawatan dan
Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama, 10(1), 74–84.

86 Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia – Volume 5, Nomor 2, Juli 2025

Anda mungkin juga menyukai