The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di
sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap
orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan
identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika
mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin,
arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita??
PART lll : Abaut Sarada
Sakura POV
Aku tidak bisa tenang. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik sambil menggigiti ujung jari tanganku.
Oh, jangan anggap ini aneh,ini adalah kebiasaanku ketika aku sedang gelisah. Aku tidak bisa melupakan
wajah sedih Sarada tadi. Ia terlihat terluka ketika aku menyinggung tentang ibunya. Apakah terjadi
sesuatu pada ibunya? Apakah aku telah menyakitinya? Atau,,,, ah, aku makin tidak bisa tenang. Aku
mencoba merebahkan tubuhku di atas sofa dan memejamkan mataku. Aku benar-benar butuh istirahat.
Beberapa saat setelah aku memejamkan mataku, aku membukanya kembali. Oh my,,,, aku tidak bisa
menghentikan kegelisahanku, dan oh, aku benar-benar benci dengan gaunku sekarang. Ini benar-benar
sudah kotor dan sangat menggangguku.
“apa yang kau lakukan?”
Suara baritone itu lagi. Aku menolehkan kepalaku dan langsung menatap Sasuke yang tengah berdiri
dengan rambut yang acak-acakan dan wajah khas lelaki bangun tidur. Liar dan seksi. Oh tidak, pemikiran
apa lagi ini? Liar? Seksi? Jangan bercanda! Kugeleng-gelengkan kepalaku, mengusir pemikiran bodoh itu
dari kepalaku.
“aku bertanya padamu”
Suara itu kembali menyadarkanku. “eh.. em,,, aku merasa gelisah” jawabku kikuk
“kenapa?”
“apakah Sarada baik-baik saja? Ia tampak sedih tadi” sial. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kikuk ku.
“dia hanya lelah” Sasuke merogoh dompet dari saku celananya dan mengeluarkan sebuah ATM
unlimited nya. “gunakan ini, dan belanjalah apapun yang kau butuhkan untuk mengurus apartemen ini.
Kau juga boleh membeli barang kebutuhan pribadimu”
“tapi, aku tidak tahu mall di dekat sini, bahkan aku belum tau daerah ini” jawabku polos memandangi
ATM itu yang kini tengah berada di tanganku.
“satu blok dari apartemen ini ada pusat perbelanjaan, kau dapat berbelanja disana”
“dengan baju kotor dan penuh keringat ini?” aku melihat gaunku sendiri. Ini benar-benar buruk. Aku
tidak akan mau keluar dari apartemen dengan penampilan ini.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya lalu berjalan menuju kamarnya. Setelah beberapa saat, dia kembali
dan membawa sebuah kaos dan celana training. Sepertinya itu milik Sasuke.
“sementara pakai ini dulu” ucapnya sambil menyodorkan kaos dan celana itu.
“kau yakin?” aku tidak percaya ini. “ maksudku ini,,, terlihat,,,,,” menyedihkan lanjutku dalam hati
“aku tidak tau apa yang biasanya kau pakai ketika kau bekerja atau bersantai, tapi hanya itu yang dapat
aku tawarkan “ Sasuke menarik kembali tangannya yang menyodorkan kaos dan celana itu.
“aku mau!” seruku cepat menyambil kaos dan celana itu. Aku mengerti apa yang tersirat dari
perkatannnya tadi. Dia mengira aku seorang jalang. Dan dia menyindir cara berpakaianku. Menyebalkan.
“apakah kau akan benar-benar membiarkan aku pergi sendiri?” aku kembali bertanya pada Sasuke. Aku
tidak yakin dengan ini. Dari awal ini memang sesuatu yang salah. Aku tidak pernah pergi ke Mall untuk
membeli barang kebutuhan rumah, yang kulakukan hanya lah shopping.
“apa ada masalah lagi?” sasuke menaikkan sebelah alisnya sambil memandangku.
“kau tega? Aku benar-benar tidak tahu dengan daerah ini” aku masih bersikeras agar Sasuke ikut. Aku
tidak suka berkeliaran di tempat asing seorang diri apalagi dengan penampilanku yang sekarang ini.
“aku masih ada pekerjaan” sahut Sasuke datar.
“aku ingin ikut” aku menolehkan kepalaku dan mendapati Sarada sudah bediri di depan pintu kamarnya.
“benarkah?” tanyaku antusias. oh ini dia malaikat penyelamatku, dengan wajah khas bangun tidurnya,
Sarada tampak sangat manis, sorot matanya sudah kembali datar seperti awal aku melihatnya tadi.
“tidak sayang. Kau sebaiknya istirahat” Sasuke berjalan menuju Sarada dan berjongkok di depan gadis
kecil itu.
Sarada tampak cemberut. “aku ingin beli Es krim Papa, aku juga ingin jalan-jalan sedikit”
“tapi,,,”
“oh ayolah Sasuke, Sarada ingin ikut, kenapa kau melarangnya? Ada aku yang akan menjaganya” aku
memotong perkataan Sasuke sebelum lelaki itu kembali melarang Sarada. “Kau bisa percaya padaku”
ucapku dengan sungguh-sungguh.
“ayolah Papa…” Sarada ikut membujuk Sasuke, mata hitamnya memandang sasuke dengan tatapan
memohon. Sepertinya Sasuke terpengaruh oleh tatapan Sarada.
“baiklah, Papa ijinkan kau untuk ikut” mendengar itu Sarada tersenyum lebar “ dan kau!’ sasuke
mengalihkan tatapannya padaku
“I,,,iya” oh sial. Kenapa aku tiba-tiba menjadi gugup seperti ini?
“jaga Sarada dengan baik” mata tajamnya tetap memandangku
“tentu” aku meneguk ludahku dengan susah payah. Dasar perasaan sialan! Kenapa aku jadi gugup
seperti ini? “aku,,, akan bersiap-siap dulu”
ΩΩΩ
Aku berjalan bersama Sarada sambil mendorong troli belanjaan menuju bagian sayuran. Aku menahan
keinginanku untuk mengganti kaos sialan ini dengan baju yang lebih layak yang baru saja kubeli bersama
Sarada. Ketika sampai di bagian sayuran, aku membeli beberapa sayuran, Sarada ikut memilih dan ia
memasukkan banyak tomat ke dalam troli. Apakah keluarga ini pecinta tomat? Bahkan, di lemari
pendingin tadi masih banyak tomat yang tersisa.
“kau yakin dengan semua tomat ini?”
Sarada menganguk. “papa sangat suka tomat” Sarada kembali melanjutkan kegiatannya memilih
beberapa sayuran.
“apakah kau juga sangat suka dengan tomat?” aku kembali bertanya. Mataku melirik tubuh kecil Sarada,
wajahnya yang putih halus, matanya yang hitam. Benar-benar mirip Sasuke. Sarada gadis yang manis,
namun entah mengapa saat aku melihatnya, aku merasa ada yang aneh. ia tampak meyimpan misteri
dalam tatapan mata kelamnya.
“aku juga suka tomat, tapi aku lebih suka makanan manis” ucap Sarada membuyarkan lamunanku.
“benarkah? Bagaimana dengan dango? Kau suka?” tayaku riang. Sepertinya Sarada tidak sedingin yang
aku pikirkan, ia gadis manis, apalagi ketika melihatnya tersenyum. Itu menyenangkan
“aku suka. Apakah nanti kita akan membelinya?” Sarada kembali bertanya dengan antusias. matanya
yang terbingkai kacamata tampak berbinar.
“tentu saja “ aku kembali mendorong troli dan menuju kebagian buah. “apakah kau sering berbelanja?
Kau tampak terbiasa dengan ini”
“hn. Aku dan Papa selalu berbelanja bersama” Jawab Sarada sambil memilih beberapa buah apel.
“ibu mu? Kau tidak berbelanja dengan ibumu? Bukankah hal seperti ini seharusnya dilakukan dengan
seorang ibu? Dulu sewaktu kecil aku juga sering,,,,”
Aku menghentikan kata-kataku ketika melihat tangan Sarada tampak bergetar dan menjatuhkan buah
apel yang tengah ia pegang. Apakah ada yang salah? “Sarada? Kau baik-baik saja?”
Aku berjalan mendekati Sarada dan mengambil buah yang Sarada jatuhkan. Sarada masih diam. Namun,
aku lihat bahunya bergetar. Ya tuhan! Ada apa dengan Sarada?
“aku,,, tidak apa-apa” Aku mendengarnya. Suara Sarada terdengar seperti sebuah isakan. “aku ingin
pulang” Sarada membalikkan tubuhnya membelakangiku.
Tunggu. Ada yang salah disini. dari awal aku sudah merasa ada yang aneh ketika aku meyinggung
tentang ibu Sarada. Aku mengejar Sarada dan memegang tangannya, kubalikkan tubuhnya hingga
menghadapku. Aku melihatnya. Air mata Sarada mengalir membasahi pipinya yang putih mulus.
“kau menangis,,,,” aku lengsung memeluk Sarada. Sungguh, aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan
hal seperti ini. Memeluk seorang anak kecil? itu seperti daftar pekerjaan yang tidak akan pernah
kulakukan. Namun, melihat Sarada menangis, ada sebagian hatiku yang juga merasakan nyeri.
“apakah aku telah membuatmu menangis?” aku masih memeluknya. Isakan Sarada makin mengeras.
“apa aku telah berbuat kesalahan?”
Aku merasakan kepala Sarada menggeleng. Ia tengah menenggelamkan kepalanya di perpotongan
bahuku. “kalau kau punya masalah kau bisa membicarakannya denganku, meski kita baru kenal, tapi
kedepannya kita akan selalu bersama, kan?”
“aku,,, tidak punya mama,,,”
Suara Sarada terdengar lirih. Sepertinya hal ini sangat berpengaruh dengan perasaan sarada. Dan apa
maksudnya ini? Sarada tidak memiki seorang ibu? Apakah mereka bercerai?
“Papa bilang, Mama telah di surga dan hidup bahagia disana, jadi Sarada tidak usah mencari Mama lagi.
Tapi kenapa Mama meninggalkan Sarada dan Papa? Apa Mama tidak sayang dengan Sarada? Padahal,
Sarada juga ingin punya mama seperti yang lainnya”
Aku ikut terisak mendengar cerita Sarada. Anak sekecil ini, kenapa harus melewati hal yang menyakitkan
seperti ini. Kulonggarkan pelukanku dan memandang lekat Sarada “ dengar, Mama Sarada memang
tidak ada disini, tapi ada dihati Sarada” ucapku menunjuk ke arah jantung Sarada “ dia selalu ada
disetiap detak jantung Sarada “
Sarada mengarahkan tangannya dan memegang jantungnya. Ia pasti tengah merasakan detak
jantungnya sendiri. Oh, dia benar-benar anak yang manis. “kalau Sarada mau, Sarada bisa menganggap
bibi sebagai Mama nya Sarada” oh, aku benar-benar sudah mulai gila sekarang. Bagaimana bisa aku
menyuruh Sarada menganggap aku sebagai ibunya? Bagaimana dengan tanggapan Sasuke nanti?
“mama Sarada?” mata Sarada tampak berbinar mendengarnya. “ benarkah ?”
“tentu saja” aku kembali memeluknya dan sarada terseyum dipelukanku. Oh, aku menyukai ini. Persetan
dengan Sasuke.
ΩΩΩ
Aku berjalan pulang menggandeng tangan Sarada, ia terlihat lebih ceria. Binar matanya juga tampak
bersinar. Sepertinya kejadian di mall tadi sedikit memberikan perubahan pada Sarada. Aku
menyukainya. Aku meyukai gadis kecil ini. Sesuatu hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada
diriku jika aku berada di kehidupanku sebelumnya. Tanpa terasa, kami telah sampai di depan pintu. Ku
buka pintu itu, dan selanjutnya aku sangat tidak percaya dengan apa yang terlihat di depan mataku!
Demi tuhan! Aku melihatnya! Seorang pria berambut kuning tengah berada tepat dihadapan celana
Sasuke! Dibagian selangkangannya! Selangkangannya!! Apa yang mereka lakukan? Jangan-jangan
mereka,,,, oww shitt! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
“wah, Sarada-chan!” Pria berambut kuning itu berseru nyaring ketika menyadari kami telah berada di
ruangan itu. Ia terseyum cerah dan bersemangat.
“hai paman Naruto” Sarada tampaknya akrab dengan lelaki ini.
“Sarada,,,”
Itu suara sasuke. Sarada yang semula berada disampingku, mulai bergerak menuju ke arah Sasuke. Aku
tidak bisa membiarkan ini. Bagaimana mungkin anak kecil seperti Sarada tinggal dilingkungan yang
seperti ini? Dengan cepat, aku mencekal tangan Sarada dan langsung membawanya masuk ke dalam
kamarnya. Aku hiraukan tatapan heran Sarada, ataupun tatapan tajam Sasuke yang seakan mengulitiku
hidup-hidup.
Ketika tanganku hampir menyentuh pintu, ada tangan lain yang memegang tanganku. Aku menatap
ngeri, ketika ku tau pemilik tangan besar ini adalah Sasuke. Matanya yang hitam menatapku, dan
rahangnya tampak mengeras.
“apa yang kau lakukan?” suara Sasuke terdengar berbahaya. Dengan gugup aku menelan ludahku.
Sepertinya aku telah berada dalam bahaya.
ΩΩΩ
Huaaa,,,,, akhirnya chapter 3 nya udah update!
Buat yang udah review dan mampir kesini, terima kasih banyakkk!!!
Chapter 4 nya langsung aku update juga.
Buat yang Tanya siapa ibu Sarada, awalnya aku juga bingung. Karena di canonnya, Sarada kan anaknya
Sakura. Tapi, karena ceritanya disini gak kayak gitu ya mau gimana lagi, dengan terpaksa aku bikin beda.
Buat siapa ibu sarada, liat di chapter brikutnya ya,,,,,,
Hehehee,,,,,,