0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Asuhan Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan keperawatan untuk klien dengan risiko bunuh diri, yang mencakup pengertian bunuh diri, faktor predisposisi, jenis-jenis bunuh diri, fase-fase bunuh diri, serta penatalaksanaan yang diperlukan. Laporan ini juga menjelaskan manifestasi klinis dan mekanisme koping yang dapat digunakan oleh individu yang berisiko. Tujuan dari laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa di Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung.

Diunggah oleh

desywidihastuti29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Asuhan Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan keperawatan untuk klien dengan risiko bunuh diri, yang mencakup pengertian bunuh diri, faktor predisposisi, jenis-jenis bunuh diri, fase-fase bunuh diri, serta penatalaksanaan yang diperlukan. Laporan ini juga menjelaskan manifestasi klinis dan mekanisme koping yang dapat digunakan oleh individu yang berisiko. Tujuan dari laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa di Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung.

Diunggah oleh

desywidihastuti29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Dosen Pembimbing:
Vera Fauziah Fatah, [Link]., Ners., [Link]

Disusun Oleh:
Desy Widihastuti
P17320125512

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN
2025-2026
LAPORAN PENDAHULUAN
RISIKO BUNUH DIRI

I. kasus (Masalah Utama)


Risiko Bunuh Diri
A. Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan di mana individu mengalami risiko untuk
menyakiti diri sendiri atau tindakan yang dapat mengancam jiwa (Stuart dan Sundeen,
1995 dalam Fitria, 2009).
Bunuh diri merupakan tindakan aagresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terakhir individu
untuk memecakna masalah yang di hadapi individu( Keliat 1998).
Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri
kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan berupaya untuk mewujudkan hasratnya
untuk mati. Perilaku bbunuh diri ini meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman
verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri (Clinton,
1995 dalam Yosep, 2010).

II. Proses Terjadinya Masalah

A. Faktor Predisposisi

Lima factor predisposisi yang penunjang pemahaman perilaku destruktif diri


sepanjang siklus kehidupan (Fitria, 2009):
a. Diagnosa Psikiatrik. Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri mempunyai ganggguan jiwa (ganggan afektif, penyalagunaan
zat, dan skizofrenia).
b. Sifat Kepribadian. Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan risiko
bunuh diri adalah antipasti, impulsive, dan depresi.
c. Lingkungan Psikososial. Diantaranya adalah pengalaman kehilangan,
kehilangan dukungan social, kejadian-kkejadian negative dalam hidup, penyakit
kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian.
d. Riwayat Keluarga. Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor penting yang dpaat menyebabkan seseorang melakukan
tinfdakan bunuh diri.
e. Faktor Biokimia. Data menunjukkan bahwa pada klien dengan risiko bunuh diri
terdapat peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonin,
adrenalin, dan dopamine yang dapat dilihat dengan EEG.
B. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif dapat ditimbulkan oleh stress yang berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya seringkali kejadian hidup yang memalukan, melihat atau
membaca melalui media tentang orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan
bunuh diri (Fitria, 2009).
C. Jenis-Jenis Bunuh Diri

Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu

1. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)


Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh kondisi
kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa
mereka tidak menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri
dibandingkan mereka yang menikah.

2. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)

Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri
karena indentifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa kelompok tersebut
sangat mengharapkannya.

3. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)


Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan
masyarakat,sehingga individu tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan yang
biasa. Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak
memberikan kepuasan padanya karena tidak ada pengaturan atau pengawasan
terhadap kebutuhan-kebutuhannya.
D. Fase – Fase Bunuh Diri

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh klien untuk
mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan klien melakukan
bunuh diri, ada tiga macam perilaku bunuh diri yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Isyarat bunuh diri

Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin
bunuh diri, misalnya dengan mengatakan :”Tolong jaga anak-anak karena saya
akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.”Pada kondisi ini
klien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak
disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Klien umumnya
mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ marah/ putus asa/ tidak
berdaya. Klien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah.

2. Ancaman bunuh diri.

Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh klien, berisi keinginan untuk mati
disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk
melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif klien telah memikirkan rencana bunuh
diri, namun tidak disertai denganpercobaan bunuh [Link] dalam kondisi ini
klien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harusdilaksanakan.
Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan klien untuk melaksanakan
rencanabunuh dirinya.

3. Percobaan bunuh diri

Percobaan bunuh diri merupakan tindakan klien mencederai atau melukai diri
untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif mencoba bunuh diri
dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan
diri dari tempat tinggi.
E. Perilaku Bunuh Diri

Menurut (Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009) dibagi menjadi tiga
kategori yang sebagai berikut.
1. Upaya bunuh diri (scucide attempt)
Yaitu sengaja kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Kondisi ini
terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang hanya
berniat melakukan upaya bunuh diri dan tidak benar-benar ingin mati mungkin
akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
2. Isyarat bunuh diri (suicide gesture)
Yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang
lain.
3. Ancaman bunuh diri (suicide threat)
Yaitu suatu peringatan baik secara langsung verbal atau nonverbal bahwa
seseorang sedang mengupayakan bunuh diri. Orang tersebut mungkin
menunjukkan secara verbal bahwa dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau juga
mengungkapkan secara nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, dan
sebagainya. Kurangnya respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikan
sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.

F. Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala menurut Fitria, Nita (2009) :
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4. Impulsif.
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat dosis
mematikan).
8. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan
mengasingkan diri).
9. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis
dan menyalahgunakan alcohol).
10. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal).

G. Rentang Respon

RENTANG RESPONS PROTEKTIF DIRI

Gambar Rentang Respons Protektif Diri

Keterangan :
1. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan, yakin,
dan kesadaran diri meningkat.
2. Pertumbuhan-peningkatan berisiko, yaitu merupakan posisi pada rentang yang masih
normal dialami individu yang mengalami perkembangan perilaku.
3. Perilaku destruktif diri tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian,
seperti perilaku merusak, mengebut, berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam
rekreasi yang berisiko tinggi, penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara
sosial, dan perilaku yang menimbulkan stres.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri yang
dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa bantuan
orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh. Bentuk
umum perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar kulit,
membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya sedikit demi sedikit, dan
menggigit jari.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengakhiri kehidupan.
H. Mekanisme Koping

Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang


berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression,
dan magical thingking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak
ditentang tanpa memberikan koping alternative.

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Prningkatan Beresiko Destruktif diri Pencederaan Bunuh diri

diri destruktif tidak langsung diri

Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman


bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan
agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping
dan mekanisme adaptif pada diri seseorang.

Rentang Respons, YoseP, Iyus (2009)

1. Peningkatan diri.

Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap
situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.

2. Beresiko destruktif.

Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif


atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat
mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika
dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan
secara optimal.

3. Destruktif diri tidak langsung.

Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi
yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena
pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan

menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.

4. Pencederaan diri.

Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diriakibat hilangnya


harapan terhadap situasi yang ada.

5. Bunuh diri.

Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.

I. Akibat

Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh diri adalah
mencederai diri dan lingkungan dengan tujuan mengakhiri hidup. Perilaku yang muncul
meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan tindakan yang
mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri.
J. Penatalaksanaan

Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat atau dikamar pertolongan


darurat di RS, dibagian penyakit dalam atau bagian bedah. Dilakukan pengobatan
terhadap luka-luka atau keadaan keracunan, kesadaran penderita tidak selalu menentukan
urgensi suatu tindakan medis. Penentuan perawatan tidak tergantung pada faktor sosial
tetapi berhubungan erat dengan kriteria yang mencerminkan besarnya kemungkinan
bunuh diri. Bila keadaan keracunan atau terluka sudah dapat diatasi maka dapat
dilakukan evaluasi psikiatri. Tidak adanya hubungan beratnyagangguan badaniah dengan
gangguan psikologik. Penting sekali dalam pengobatannya untuk menangani juga
gangguan mentalnya. Untuk pasien dengan depresi dapat diberikan terapi elektro
konvulsi, obat obat terutama anti depresan dan psikoterapi.
III. Penjabaran Masalah

A. Pohon Masalah Risiko Bunuh Diri

Resiko Cidera / Kematian

Resiko Bunuh Diri

Harga Diri Rendah Halusinasi Gangguan Isi Pikir : Waham


(Nita Fitria, 2010)

B. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


1. Identitas klien

Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal MRS
(masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, No Rumah Sakit dan alamat
klien.
2. Keluhan utama

Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke
rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah, dan
perkembangan yang dicapai.
3. Faktor predisposisi

Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada
masa lalu, pernah melakukan atau mengalami penganiayaan fisik, seksual,
penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan criminal. Dan
pengkajiannya meliputi psikologis, biologis, dan social budaya.
4. Aspek fisik/biologis

Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernafasan, TB, BB) dan
keluhan fisik yang dialami oleh klien.
5. Aspek psikososial

a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi

b. Konsep diri
c. Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok,
yang diikuti dalam masyarakat
d. Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah

6. Status mental

Nilai klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien, afek
klien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran,
memori, tingkat konsentrasi, dan berhitung.
7. Kebutuhan persiapan pulang

a. Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan lat makan kembali.

b. Kemampuan BAB, BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta


membersihkan dan merapikan pakaian.
c. Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi.

d. Istirahat tidur kilien, aktivitas didalam dan diluar rumah.

e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum.

8. Mekanisme koping

9. Malas beraktivitas, sulit percaya dengan orang lain dan asyik dengan stimulus
internal, menjelaskan suatu perubahan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab
kepada orang lain.
10. Masalah psikososial dan lingkungan

Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok, lingkungan, pendidikan,


pekerjaan, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
11. Pengetahuan

Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah.

12. Aspek medic

Diagnosa medis yang telah dirumuskan dokter, therapy farmakologi, psikomotor,


okopasional, TAK dan rehabilitas.
13. Daftar masalah keperawatan

a. Risiko bunuh diri.

b. Bunuh diri.

c. Isolasi sosial.

d. Harga diri rendah. (Fitria, 2009).


C. Analisa Data
Data Subjektif Data objektif
1. Klien mengatakan tidak ada harapan 1. Klien tampak gelisah
hidup lagi
2. Klien tampak sedih
2. Klien merasa tidak berguna lagi
3. Kontak mata kurang
3. Klien selalu mengatakan tentang
4. Klien nampak putus asa
kematian dirinya
4. Klien kadang menunjukkan secara

verbal tentang rencana bunuh diri

IV. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang dapat ditarik dari pohon masalah tersebut adalah :
Risiko Bunuh Diri.
V. Rencana Tindakan Keperawatan

PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK DIAGNOSA KEPERAWATAN RENCANA BUNUH DIRI


RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien :
Ruangan :
No. CM :
[Link] :

Tgl No Dx Perencanaan
Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
Perilaku Tujuan Umum: Kriteria hasil:
Risiko Bunuh Klien tidak akan • Klien menjawab salam Bina hubungan saling percaya dengan Bila sudah terbina hubungan
Diri membahayakan dirinya dari perawat. menggunakan prinsip komunikasi saling percaya diharapkan
sendiri secara fisik. • Klien menjawab terapeutik : klien dapat kooperatif ,
Tujuan Khusus: pertanyaan dari perawat. • Sapa klien dg ramah baik sehingga pelaksanaan asuhan
1. Setelah dilakukan....... X • Klien dapat verbal dan non verbal keperawatan dapat berjalan
pertemuan klien dapat mempertahankan kontak • Perkenalkan nama, nama dengan baik.
membina hubungan mata terhadap perawat. panggilan dan tujuan perawat
saling percaya. • Klien dapat menyebutkan berkenalan
nama perawat • Tanyakan nama lengkap dan
• Klien dapat nama panggilan yang disukai
mengungkapkan klien
perasaan tentang masalah • Ciptakan lingkungan yang
yang dihadapi tenang
• Buat kontrak yg
Jelas [topik, waktu, tempat]
• Tunjukkan sikap jujur dan
menepati janji setiap kali
interaksi
Tunjukkan sikap empati dan
menerima apa adanya
• Beri perhatian pada klien dan
perhatikan kebutuhan dasar
klien
• Tanyakan perasaan klien dan
masalah yang dihadapi klie
• Dengarkan dengan penuh
perhatian ekspresi perasaan
klien.
Setelah .... x pertemuan, Dengan kriteria: • Observasi dengan ketat • aktivitas penyelamatan
klien tidak akan Klien dapat mengurangi • Pindahkan benda yang hidup pasien
melakukan aktivitas ancaman terhadap integritas berbahaya • Perilaku pasien harus
yang mencederai fisik atau sistem diri klien • Siapkan lingkungan yang aman diawasi sampai kendali
dirinya. dalam sifat, jumlah, • Berikan kebutuhan fisiologik diri memadai untuk
asal,atau waktu. dasar keamanan.

• Kontrak untuk keamanan jika


3. Setelah .... X pertemuan, Dengan kriteria:
tepat
klien akan Klien dpt menyebutkan
• Pantau pengobatan
mengidentifikasikan aspek positif yang dimiliki
aspek-aspek positif klien, keluarga Perilaku bunuh diri
yang ada pada dirinya. mencerminkan depresi yang
• Identifikasi kekuatan klien
mendasar dan terkait dengan
• Ajak klien untuk berperan serta
Dengan kriteria : harga diri rendah serta
4. Setelah ..... X dalam aktifitas yg disukai dan
Klien dapat menyebutkan , kemarahan terhadap diri
pertemuan, klien akan dapat dilakukannya
mengimplementasikan dan sendiri.
mengimplementasikan • Dukung kebersihan diri dan
mekanisme koping adaptif
dua respons protektif keinginan untuk berhias
yang efektif bagi diri
diri yang adaptif. • Tingkatkan hubungan
sendiri guna mencegah
interpersonal yang sehat
perilaku mencederai diri
sendiri secara fisik.

5. Setelah .... X
Dengan Kriteria:
pertemuan, klien akan • Permudah kesadaran,
Klien dpt menyebutkan dua Mekanisme koping
mengidenti dua sumber penamaan dan ekspresi
dukungan sosial yang sember dukungan sosial perasaan maladaptif harus dirubah
bermanfaat. yang bermanfaat guna • Bantu pasien mengenal dengan yang sehat untuk
mencegah mekanisme koping yang tidak mengatasi stress dan
perilakumencederai diri sesuai ansietas.
sendiri. • Identifikasi alternatif cara Harga diri rendah
koping menyebabkan isolasi sosial
• Beri pujian untuk perilaku dan depresi, mencetuskan
koping yang sehat perilaku destruktif terhadap
diri sendiri.
6. Setelah .... X Dengan kriteria: • Bantu orang terdekat untuk
Pemahaman dan peran
pertemuan, klien akan • Klien dapat berkomunikasi secara
serta dalam perencanaan
mampu menguraikan menggunakan obat konstruktif dengan klien
pelayanan kesehatan
rencana pengobatan dengan benar baik • Tingkatkan hubungan keluarga
meningkatkan kepatuhan.
dan rasionalnya. jumlah, jenis, waktu dan yang sehat
dosis obat, serta • Identifikasi sumber komunitas
manfaatnya yang relevan
• Obat diminum sesuai • Prakarsai rujukan untuk
aturan menggunakan sumber
Klien mengungkapkan komunitas
perasaannya selama minum
obat
DAFTAR PUSTAKA

Keliat A. Budi, Akemat. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC
Keliat A. Budi. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Fitria, Nita. 2010. Prinsip Dasar Dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) Untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa
Berat Bagi Program S1 Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama

Jenny., dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan
Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.
Sujono & Teguh. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta: Graha Ilmu.
Downloaded by Desy (desywidihastuti29@[Link])

Anda mungkin juga menyukai