0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Isolasi Sosial: Definisi dan Etiologi

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang asuhan keperawatan untuk klien dengan isolasi sosial, yang mencakup definisi, etiologi, tanda dan gejala, serta akibat dari isolasi sosial. Isolasi sosial didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk perkembangan, komunikasi keluarga, dan faktor sosial budaya. Laporan ini juga mencakup strategi intervensi keperawatan seperti terapi psikofarmaka, terapi individu, dan terapi kelompok.

Diunggah oleh

desywidihastuti29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Isolasi Sosial: Definisi dan Etiologi

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang asuhan keperawatan untuk klien dengan isolasi sosial, yang mencakup definisi, etiologi, tanda dan gejala, serta akibat dari isolasi sosial. Isolasi sosial didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk perkembangan, komunikasi keluarga, dan faktor sosial budaya. Laporan ini juga mencakup strategi intervensi keperawatan seperti terapi psikofarmaka, terapi individu, dan terapi kelompok.

Diunggah oleh

desywidihastuti29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Dosen Pembimbing:
Vera Fauziah Fatah, [Link]., Ners., [Link]

Disusun Oleh:
Desy Widihastuti
P17320125512

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN
2025-2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL
A. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan atau
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien
mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang
berarti dengan orang lain (Purba, dkk. 2008).
Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme
individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi
dengan orang lain dan lingkungan (Dalami, dkk. 2009).
Isolasi soaial adalah pengalaman kesendirian seorang individu yang diterima sebagai
perlakuan dari orang lain serta sebagai kondisi yang negatif atau mengancam (Wilkinson,
2007).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang
lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam ( Twondsend, 1998 ). Atau suatu
keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima,
kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina
hubungan yang berarti dengan orang lain (Budi Anna Kelliat, 2006 ). Menarik diri
merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain ( Pawlin, 1993 dikutip Budi Kelliat, 2001). Faktor
perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku isolasi
sosial. (Budi Anna Kelliat 2006).

B. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah:
a. Faktor Perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan
sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi, akan menghambat
masa perkembangan selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan
pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kurangnya stimulasi,
kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari ibu/pengasuh pada bayi bayi akan memberikan
rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa
ketidakpercayaan tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain
maupun lingkungan di kemudian hari. Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa
ini, agar anak tidak mersaa diperlakukan sebagai objek.
Menurut Purba, dkk. (2008) tahap-tahap perkembangan individu dalam berhubungan terdiri
dari:
1) Masa Bayi
Bayi sepenuhnya tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologis
maupun psikologisnya. Konsistensi hubungan antara ibu dan anak, akan menghasilkan rasa
aman dan rasa percaya yang mendasar. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi
hubungannya dengan lingkungan di kemudian hari. Bayi yang mengalami hambatan dalam
mengembangkan rasa percaya pada masa ini akan mengalami kesulitan untuk berhubungan
dengan orang lain pada masa berikutnya.
2) Masa Kanak-kanak
Anak mulai mengembangkan dirinya sebagai individu yang mandiri, mulai mengenal
lingkungannya lebih luas, anak mulai membina hubungan dengan teman-temannya. Konflik
terjadi apabila tingkah lakunya dibatasi atau terlalu dikontrol, hal ini dapat membuat anak
frustasi. Kasih sayang yang tulus, aturan yang konsisten dan adanya komunikasi terbuka
dalam keluarga dapat menstimulus anak tumbuh menjadi individu yang interdependen, Orang
tua harus dapat memberikan pengarahan terhadap tingkah laku yang diadopsi dari dirinya,
maupun sistem nilai yang harus diterapkan pada anak, karena pada saat ini anak mulai masuk
sekolah dimana ia harus belajar cara berhubungan, berkompetensi dan berkompromi dengan
orang lain.
3) Masa Praremaja dan Remaja
Pada praremaja individu mengembangkan hubungan yang intim dengan teman
sejenis, yang mana hubungan ini akan mempengaruhi individu untuk mengenal dan
mempelajari perbedaan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Selanjutnya hubungan intim
dengan teman sejenis akan berkembang menjadi hubungan intim dengan lawan jenis. Pada
masa ini hubungan individu dengan kelompok maupun teman lebih berarti daripada
hubungannya dengan orang tua. Konflik akan terjadi apabila remaja tidak dapat
mempertahankan keseimbangan hubungan tersebut, yang seringkali menimbulkan perasaan
tertekan maupun tergantung pada remaja.
4) Masa Dewasa Muda
Individu meningkatkan kemandiriannya serta mempertahankan hubungan
interdependen antara teman sebaya maupun orang tua. Kematangan ditandai dengan
kemampuan mengekspresikan perasaan pada orang lain dan menerima perasaan orang lain
serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Individu siap untuk membentuk suatu kehidupan
baru dengan menikah dan mempunyai pekerjaan. Karakteristik hubungan interpersonal pada
dewasa muda adalah saling memberi dan menerima (mutuality).
5) Masa Dewasa Tengah
Individu mulai terpisah dengan anak-anaknya, ketergantungan anak-anak terhadap
dirinya menurun. Kesempatan ini dapat digunakan individu untuk mengembangkan aktivitas
baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan diri. Kebahagiaan akan dapat diperoleh dengan
tetap mempertahankan hubungan yang interdependen antara orang tua dengan anak.
6) Masa Dewasa Akhir
Individu akan mengalami berbagai kehilangan baik kehilangan keadaan fisik,
kehilangan orang tua, pasangan hidup, teman, maupun pekerjaan atau peran. Dengan adanya
kehilangan tersebut ketergantungan pada orang lain akan meningkat, namun kemandirian
yang masih dimiliki harus dapat dipertahankan.
b. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk mengembangkan
gangguan tingkah laku.
1) Sikap bermusuhan/hostilitas
2) Sikap mengancam, merendahkan dan menjelek-jelekkan anak
3) Selalu mengkritik, menyalahkan, anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan
pendapatnya.
4) Kurang kehangatan, kurang memperhatikan ketertarikan pada pembicaananak,
hubungan yang kaku antara anggota keluarga, kurang tegur sapa, komunikasi kurang
terbuka, terutama dalam pemecahan masalah tidak diselesaikan secara terbuka dengan
musyawarah.
5) Ekspresi emosi yang tinggi
6) Double bind (dua pesan yang bertentangan disampaikan saat bersamaan yang
membuat bingung dan kecemasannya meningkat)
c. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan oleh karena norma-norma yang
salah yang dianut oleh satu [Link] anggota tidak produktif diasingkan dari
lingkungan sosial.
d. Factor Biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Insiden tertinggi
skizofrenia ditemukan pada keluarga yang anggota keluarga yang menderita skizofrenia.
Berdasarkan hasil penelitian pada kembar monozigot apabila salah diantaranya menderita
skizofrenia adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot persentasenya 8%. Kelainan pada
struktur otak seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta
perubahan struktur limbik, diduga dapat menyebabkan skizofrenia.
2. Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor internal
maupun eksternal, meliputi:
a. Stressor Sosial Budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan, terjadinya
penurunan stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai,
kehilangan pasangan pada usia tua, kesepian karena ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit
atau dipenjara. Semua ini dapat menimbulkan isolasi sosial.
b. Stressor Biokimia
1) Teori dopamine: Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik serta tractus
saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
2) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan meningkatkan
dopamin dalam otak. Karena salah satu kegiatan MAO adalah sebagai enzim yang
menurunkan dopamin, maka menurunnya MAO juga dapat merupakan indikasi
terjadinya skizofrenia.
3) Faktor endokrin: Jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan pada pasien
skizofrenia. Demikian pula prolaktin mengalami penurunan karena dihambat oleh
dopamin. Hypertiroidisme, adanya peningkatan maupun penurunan hormon
adrenocortical seringkali dikaitkan dengan tingkah laku psikotik.
4) Viral hipotesis: Beberapa jenis virus dapat menyebabkan gejala-gejala psikotik
diantaranya adalah virus HIV yang dapat merubah stuktur sel-sel otak.
c. Stressor Biologik dan Lingkungan Sosial
Beberapa peneliti membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi akibat
interaksi antara individu, lingkungan maupun biologis.
d. Stressor Psikologis
Kecemasan yang tinggi akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk
berhubungan dengan orang lain. Intesitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan individu untuk mengatasi masalah akan menimbulkan berbagai
masalah gangguan berhubungan pada tipe psikotik.
Menurut teori psikoanalisa; perilaku skizofrenia disebabkan karena ego tidak dapat
menahan tekanan yang berasal dari id maupun realitas yang berasal dari luar. Ego pada
klien psikotik mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi stress. Hal ini berkaitan
dengan adanya masalah serius antara hubungan ibu dan anak pada fase simbiotik sehingga
perkembangan psikologis individu terhambat.
Menurut Purba, dkk. (2008) strategi koping digunakan pasien sebagai usaha
mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya.
Strategi koping yang sering digunakan pada masing-masing tingkah laku adalah sebagai
berikut:
a) Tingkah laku curiga: proyeksi
b) Dependency: reaksi formasi
c) Menarik diri: regrasi, depresi, dan isolasi
d) Curiga, waham, halusinasi: proyeksi, denial
e) Manipulatif: regrasi, represi, isolasi
f) Skizoprenia: displacement, projeksi, intrijeksi, kondensasi, isolasi, represi dan regrasi.

C. Pohon Masalah

Sumber: (Keliat, 2006)


D. Tanda Dan Gejala
Menurut Purba, dkk. (2008) tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan
wawancara, adalah:
1. Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
2. Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3. Pasien mengatakan tidak ada hubungan yang berarti dengan orang lain
4. Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
5. Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
6. Pasien merasa tidak berguna
7. Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup

E. Akibat Yang Ditimbulkan


Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya perubahan persepsi
sensori halusinasi. Perubahan persepsi sensori halusinasi adalah persepsi sensori yang salah
(misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi sensori yang tidak sesuai dengan
realita/kenyataan seperti melihat bayangan atau mendengarkan suara-suara yang sebenarnya
tidak ada.
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera, di
mana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh
psikotik, gangguan fungsional, organik atau [Link] merupakan pengalaman
mempersepsikan yang terjadi tanpa adanya stimulus sensori eksternal yang meliputi lima
perasaan (pengelihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, perabaan), akan tetapi yang
paling umum adalah halusinasi pendengaran.

F. Petalaksanaan
1. Terapi Psikofarmaka
a. Chlorpromazine
Mengatasi sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas,
kesadaran diri terganggu, daya ingat norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat
dalam fungsi-fungsi mental: faham, halusinasi. Gangguan perasaan dan perilaku yang aneh
atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu
bekerja, berhubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin. Mempunyai efek samping
gangguan otonomi (hypotensi) antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam
miksi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama
jantung. Gangguan ekstra pyramidal (distonia akut, akathsia sindrom parkinson). Gangguan
endoktrin (amenorhe). Metabolic (Soundiee). Hematologik, agranulosis. Biasanya untuk
pemakaian jangka panjang. Kontraindikasi terhadap penyakit hati, penyakit darah, epilepsy,
kelainan jantung (Andrey, 2010).
b. Haloperidol (HLP)
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi mental serta dalam
fungsi kehidupan sehari-hari. Memiliki efek samping seperti gangguan miksi dan
parasimpatik, defeksi, hidung tersumbat mata kabur , tekanan infra meninggi, gangguan
irama jantung. Kontraindikasi terhadap penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan
jantung (Andrey, 2010).
c. Trihexyphenidil (THP)
Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pasca ensepalitis dan idiopatik, sindrom
Parkinson akibat obat misalnya reserpina dan fenotiazine. Memiliki efek samping
diantaranya mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi,
konstipasi, takikardia, dilatasi, ginjal, retensi urine. Kontraindikasi terhadap hypersensitive
Trihexyphenidil (THP), glaukoma sudut sempit, psikosis berat psikoneurosis (Andrey,
2010).
2. Terapi Individu
Terapi individu pada pasien dengan masalah isolasi sosial dapat diberikan strategi
pertemuan (SP) yang terdiri dari tiga SP dengan masing-masing strategi pertemuan yang
berbeda-beda. Pada SP satu, perawat mengidentifikasi penyebab isolasi social, berdiskusi
dengan pasien mengenai keuntungan dan kerugian apabila berinteraksi dan tidak
berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan cara berkenalan, dan memasukkan kegiatan
latihan berbiincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian. Pada SP dua,
perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, memberi kesempatan pada pasien
mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang, dan membantu pasien memasukkan
kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. Pada SP
tiga, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, memberi kesempatan untuk
berkenalan dengan dua orang atau lebih dan menganjurkan pasien memasukkan ke dalam
jadwal kegiatan hariannya (Purba, dkk. 2008)
3. Terapi kelompok
Menurut (Purba, 2009), aktivitas pasien yang mengalami ketidakmampuan
bersosialisasi secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Activity Daily Living (ADL)
Adalah tingkah laku yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
yang meliputi:
1) Bangun tidur, yaitu semua tingkah laku/perbuatan pasien sewaktu bangun tidur.
2) Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), yaitu semua bentuk tingkah
laku/perbuatan yang berhubungan dengan BAB dan BAK.
3) Waktu mandi, yaitu tingkah laku sewaktu akan mandi, dalam kegiatan mandi dan
sesudah mandi
4) Ganti pakaian, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan keperluan berganti
pakaian.
5) Makan dan minum, yaitu tingkah laku yang dilakukan pada waktu, sedang dan
setelah makan dan minum.
6) Menjaga kebersihan diri, yaitu perbuatan yang berhubungan dengan kebutuhan
kebersihan diri, baik yang berhubungan dengan kebersihan pakaian, badan, rambut,
kuku dan lain-lain.
7) Menjaga keselamatan diri, yaitu sejauhmana pasien mengerti dan dapat menjaga
keselamatan dirinya sendiri, seperti, tidak menggunakan/menaruh benda tajam
sembarangan, tidak merokok sambil tiduran, memanjat ditempat yang berbahaya
tanpa tujuan yang positif.
8) Pergi tidur, yaitu perbuatan yang mengiringi seorang pasien untuk pergi tidur. Pada
pasien gangguan jiwa tingkah laku pergi tidur ini perlu diperhatikan karena sering
9) merupakan gejala primer yang muncul padagangguan jiwa. Dalam hal ini yang dinilai
bukan gejala insomnia (gangguan tidur) tetapi bagaimana pasien mau mengawali
tidurnya.
b. Tingkah laku sosial
Adalah tingkah laku yang berhubungan dengan kebutuhan sosial pasien dalam kehidupan
bermasyarakat yang meliputi:
1) Kontak sosial terhadap teman, yaitu tingkah laku pasien untuk melakukan hubungan
sosial dengan sesama pasien, misalnya menegur kawannya, berbicara dengan kawannya
dan sebagainya.
2) Kontak sosial terhadap petugas, yaitu tingkah laku pasien untuk melakukan hubungan
sosial dengan petugas seperti tegur sapa, menjawab pertanyaan waktu ditanya, bertanya
jika ada kesulitan dan sebagainya.
3) Kontak mata waktu berbicara, yaitu sikap pasien sewaktu berbicara dengan orang lain
seperti memperhatikan dan saling menatap sebagai tanda adanya kesungguhan dalam
berkomunikasi.
4) Bergaul, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan kemampuan bergaul dengan
orang lain secara kelompok (lebih dari dua orang).
5) Mematuhi tata tertib, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan ketertiban yang
harus dipatuhi dalam perawatan rumah sakit.
6) Sopan santun, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan tata krama atau sopan
santun terhadap kawannya dan petugas maupun orang lain.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi,
penilaian stressor , suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis
tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
1. Identitas klien
Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama, tangggal MRS
, informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
2. Keluhan utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang
atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan
kegiatan sehari – hari , dependen.
3. Factor predisposisi
kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak
realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur
sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami ,
putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh
kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif
terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
4. Aspek fisik/biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik
yang dialami oleh klien.
5. Aspek Psikososial
a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi
b. Konsep diri
1) Citra tubuh
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima
perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan
tubuh , persepsi negatip tentang tubuh . Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang ,
mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.
2) Identitas diri
Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan tidak
mampu mengambil keputusan .
3) Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua ,
putus sekolah, PHK.
4) Ideal diri
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan
yang terlalu tinggi
5) Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri , gangguan
hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri.
a) Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga social dengan
orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat.
b) Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual)
6) Status mental
Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat
memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan
orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
7) Kebutuhan persiapan pulang
a) Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan
b) Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC,
membersikan dan merapikan pakaian.
c) Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi
d) Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah
e) Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
8) Mekanisme koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang
orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri).
9) Aspek medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor,
therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko perubahan persepsi sensori
2. Isolasi sosial
3. Gangguan konsep diri
C. Intervensi
Diagnosis Tujuan Kriteria Intervensi Rasional
keperawatan (TUM/TUK) Evaluasi
Isolasi sosial TUM: Setelah 1x 1.1. Bina Membina
Klien dapat interaksi, hubungan hubungan
berinteraksi Klien saling percaya saling
dengan orang menunjukan dengan percaya
lain. tanda-tanda mengemukakan dengan
percaya prinsip Klien.
TUK 1: kepada komunikasi kontak yang
Klien dapat perawat: terapeutik : jujur,
membina singkat,
hubungan [Link] a. Mengucapkan dan
saling wajah salam konsisten
percaya cerah, dengan
terapeutik. Sapa
tersenyum perawat
[Link] Klien dengan dapat
berkenalan ramah, baik membantu
[Link] verbal ataupun Klien
kontak non verbal. membina
mata kembali
b. Berjabat tangan
[Link] interaksi
menceritaka dengan Klien. penuh
n perasaan c. Perkenalkan diri percaya
[Link] dengan sopan. dengan
mengungkap d. Tanyakan nama orang lain.
kan masalah
lengkap Klien
dan nama
pangglian yang
disukai Klien.
e. Jelaskan tujuan
pertemuan
f. Membuat
kontak topik,
waktu, dan
tempat setiap
kali bertemu
Klien.
g. Tunjukan sikap
empati dan
menerima
Klien apa
adanya.
h. Beri perhatian
kepada Klien
dan perhatian
kebutuhan
dasar Klien.
TUK 2: Kriteria [Link] Dengan
Klien evaluasi: pada mengetahui
mampu Klien tentang :
menyebutkan tanda dan
penyebab [Link] a. Orang yang gejala
isolasi sosial dapat tinggal serumah isolasi
menyebutka sosial yang
atau sekamar
n minimal muncul,
satu dengan Klien. perawat
penyebab b. Orang yang dapat
isolasi paling dekat menentukan
sosial. dengan Klien langkah
[Link] intervensi
dirumah atau
munculnya selanjutnya.
isolasi ruang
sosial: diri perawatan.
sendiri, c. Hal apa yang
orang membuat Klien
lain,dan dekat dengan
lingkungan
orang tersebut.
d. Orang yang
tidak dekat
dengan Klien,
baik dirumah
atau di ruang
perawatan.
e. Apa yang
membuat Klien
tidak dekat
dengan orang
tersebut.
f. Upaya yang
sudah dilakukan
agar dekat
dengan orang
lain.

2.2. Diskusikan
dengan Klien
penyebab
isolasi sosial
atau tidak mau
bergaul
dengan orang
lain
2.3. Beri pujian
terhadap
kemampuan
Klien dalam
mengungkap
kan perasaan
TUK 3: Kriteria 3.1 tanyakan Perbedaan
Klien Evaluasi: kepada Klien seputar
mampu tentang: manfaat
menyebutkan Klien dapat a. Manfaat hubugan
keuntungan menyebutka hubungan sosial sosial dan
berhubungan n kerugian
b. Kerugian isolasi
sosial dan keuntungan isolasi
kerugian dari dalam sosial sosial
isolasi sosial. berhubugan membantu
sosial 3.2. Diskusikan Klien
seperti: bersama Klien mengidentif
a. Banyak tentang manfaat i kasi apa
teman berhubungan yang terjadi
b. Tidak pada
sosial dan dirinya,
kesepian kerugian isolasi sehingga
c. Bisa diskusi sosial dapat
d. Saling diambil
menolong 3.3. Beri Pujian langkah
terhadap untuk
[Link] mengatasi
dapat kemampuan
masalah ini.
menyebutka Klien dalam
n kerugian mengungkapkan Penguatan
menarik perasaannya. dapat
diri, membantu
seperti: meningkatk
a. sendiri a n harga
b. keseptian diri Klien.
c. tidak bisa
diskusi
TUK 4: Kriteria 4.1 Observasi Dengan
Klien dapat evaluasi : perilaku Klien kehadiran
melaksanaka ketika orang yang
n [Link] tepat dapat
dapat berhubungan dipercaya
hubungan melaksanaka sosial memberi
sosial secara n hubungan 4.2 Jelaskan kepada Klien rasa
bertahap. sosial secara Klien cara aman dan
bertahap berinteraksi terlindungi
dengan: Setelah
Perawaat, dengan orang dapat
perawat lain, lain berinteraksi
Klien lain, 4.3 Berikan contoh dengan
keluarga dan cara berbicara orang lain
kelompok dengan orang dan
memberi
lain
kesempatan
4.4 Beri Klien dalam
kesempatan mengikuti
kepada Klien aktifitas
kelompok,
mempraktikan Klien
cara merasa
berinteraksi lebih
berguna dan
dengan orang rasa percaya
yang diri Klien
dilakukan di dapat
hadapan tumbuh
perawat kembali.
4.5 Bantu Klien
berinteraksi
dengan salah
satu orang,
teman atau
anggota
keluarga
4.6 Bila Klien
sudah
menunjukan
kemajuan,
tingkatkan
jumlah interaksi
dengan dua,
tiga, empat
orang dan
seterusnya
4.7 Beri pujian
untuk setiap
kemajuaan
interaksi yang
telah dilakukan
4.8 Latih Klien
bercakap-cakap
dengan anggota
keluarga saat
melakukan
kegiatan harian
dan kegiatan
rumah tangga
4.9 Latih Klien
bercakap-cakap
saaat melakukan
kegiatan sosial
misalnya:
belanja ke
warung, ke
pasar, ke kantor
pos, ke bank,
dan lain-lain.
4.10 Siap
mendengarkan
ekspresi
perasaan
Klien setelah
berinteraksi
dengan orang
lain. mungkin
Klien akan
mengungkapk
an
keberhasilan
atau
kegagalan
beri dorongan
terus-menerus
agar Klien
tetap
semangat
meningkatkan
interaksinya.
TUK 5: Kriteria 5.1 Diskusikan Ketika
Klien Evaluasi: dengan Klien Klien
mampu Klien dapat tentang merasa
menjelaskan menjelaskan dirinya
perasaannya perasaannya perasaannya lebih baik
setelah setelah setelah dan
berhubugan berhubngan berhubungan mempunyai
sosial sosial sosial dengan: makna,
dengan: Orang lain dan interaksi
Orang lain, sosial
kelompok. kelompok. dengan
5.2 Beri pujian orang lain
terhadap dapat
kemampuan ditingkatka
Klien n.
mengungkapkan
perasaannya.
TUK 6 : Kriteria 6.1 Diskusikan Dukungan
Klien Evaluasi: pentingnya dari
mendapat keluarga peran serta keluarga
dukungan dapat merupakan
keluarga menjelaskan keluarga bagian
dalam tentang: sebgai penting dari
memperluas pendukung rehabilitasi
hubungan a. isolasi untuk Klien.
sosial mengatasi
beserta tanda
perilaku
isolasi
sosial dan sosial
gejalannya. 6.2 Diskusikan
b. penyebab
dan akibat potensi keluarga
dari isolasi untuk
sosial. membantu
c. Cara Klien mengatasi
merawat
Klien isolasi perilaku isolasi
sosial sosial.
6.3 Jelaskan pada
keluarga
tentang:
a. Isolasi sosial
beserta tanda
dan gejalanya
b. Penyebab dan
akibat isolasi
sosial
c. Cara merawat
Klien isolasi
sosial
6.4 Latih keluarga
cara merawat
Klien isolasi
sosial
6.5 Tanyakan
perasaan
keluarga setelah
mencoba cara
yang dilatihkan
6.6 Beri motivasi
keluarga agar
membantu
Klien untuk
bersosialisasi
6.7 Beri pujian
kepada keluarga
atas
keterlibatannya
merawat Klien
dirumah sakit
TUK 7: kriteria 7.1 Diskusikan Membantu
Klien dapat Evaluasi: dengan Klien dalam
memanfaat Klien bisa tentang manfaat meningkatk
a
kan obat menyebutka dan kerugian n perasaan
dengan baik n: tidak minum kembali dan
a. Manfaat obat. keterlibatan
minum obat 7.2 Pantau Klien dalam
b. Kerugian pada saat perawatan
yang penggunaan kesehatan
Klien
dtimbulkan obat
akibat tidak 7.3 Berikan pujian
minum obat kepada Klien
c. Nama, jika Klien
warna, dosis, menggukan obat
efek terapi, dengan benar
dan efek
samping 7.4 Diskusikan
obat akibat berhenti
d. Akibat minum obat
berhenti tanpa konsultasi
minum obat dokter.
tanpa
7.5 Anjurkan Klien
konsultasi
dokter untuk konsultasi
dengan dokter
atau perawat
jika terjadi hal-
hal yang tidak
diinginkan
Sumber : Sutejo, 2017

D. Implementasi
Pelaksanaan atau implementasi merupakan realisasi dari rangkaian dan penentuan
diagnosa keperawatan. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun untuk
membantu pasien mencapai tujuan yang diharapkan dan implementasi harus sesuai dengan
rencana keperawatan yang telah dibuat.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir proses asuhan keperawatan. Pada tahap ini kita
melakukan penilaian terakhir terhadap kondisi pasien dan disesuaikan dengan kriteria hasil
sebelumnya yang telah dibuat. Dalam evaluasi asuhan keperawatan menggunakan format
SOAP seperti : S : Subjective ( pernyataan atau keluhan dari pasien) O : Objective ( data
yang diobservasi oleh perawat) A : Analisys ( kesimpulan dari subjektif dan objektif) P :
Planning ( rencana tindakan yang dilakukan berdasarkan analisis)
DAFTAR PUSTAKA

Budi Anna, Dkk. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Dalami, Ermawatin, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa.
Jakarta: CV. Trans Info Media.
Purba, dkk. 2008. Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah psikososial dan
gangguan jiwa. Medan: USU Press
Sutejo. (2017). Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Ganguan Jiwa dan
Psikososial. Yogyakarta: PT. Pustaka Baru.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi ke 7. Penterjemah:
Widiyawati. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai