23
BAB II
TINJAUAN UMUM HUKUM PERJANJIAN, HUKUM
PERBANKAN, HUKUM JAMINAN DAN HUKUM
KEPAILITAN.
2.1. Hukum Perjanjian.
2.1.1 Pengertian Perjanjian.
Kata perjanjian menurut Prof. Subekti “Suatu perjanjian adalah suatu
peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu
saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.”1 Pengertian perjanjian atau
kontrak diatur Pasal 1313 Kitab Undang – undang Hukum Perdata. Pasal 1313
Kitab Undang – undang Hukum Perdata menyatakan: "Perjanjian adalah suatu
perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu
orang atau lebih.”
Definisi perjanjian dalam Pasal 1313 ini adalah:2
1. tidak jelas, karena setiap perbuatan dapat disebut perjanjian,
2. tidak tampak asas konsensualisime, dan ;
3. bersifat dualisme. "
1 ?)
Ricardo Simanjuntak, Hukum Kontrak; Teknik Perancangan Kontrak Bisnis, (Jakarta:
Kontan Publishing, 2011), hal. 29.
2
Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta:Pradnya
Paramita, 2001).
24
Sama seperti pendapat – pendapat ahli lainnya, Prof Subekti tidak membedakan
pengertian perjanjian dengan persetujuan yang dalam bahasa Belanda lebih dikenal
overeenkomst, sebab, menurut beliau, perjanjian dan persetujuan sama – sama
mempunyai pengertian yang telah disepakati bersama. Dengan demikian,
penggunaannya dapat saja secara bebas menggunakan perjanjian, persetujuan,
kesepakatan, ataupun kontrak dalam menggambarkan hubungan hukum yang
mengikat para pihak untuk melaksanakannya atau sebaliknya penggunaan
Perjanjian, Persetujuan, ataupun kesepakatan pada hubungan yang tidak
mempunyai konsekuensi hukum yang mengikat, seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.3
2.1.2. Syarat Sahnya Perjanjian
Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain
atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. 4) Melalui
perjanjian terciptalah perikatan atau hubungan hukum yang menimbulkan hak dan
kewajiban pada masing-masing pihak yang membuat perjanjian. Dengan kata lain,
para pihak terikat untuk mematuhi perjanjian yang telah mereka buat tersebut.
Pengaturan tentang Perjanjian terdapat di dalam Kitab Undang – undang Hukum
Perdata, yaitu dalam Buku III, disamping mengatur mengenai perikatan yang
timbul dari perjanjian, juga mengatur perikatan yang timbul dari Undang-
undang misalnya tentang perbuatan melawan hukum. Dalam Kitab Undang –
undang Hukum Perdata terdapat aturan umum yang berlaku untuk semua
3
Ibid. hlm. 62.
4)
R Subekti, Pokok – Pokok Hukum Perdata Cetakan Ke – XXXIV (Jakarta: Intermasa,
2010) hal
25
perjanjian dan aturan khusus yang berlaku hanya untuk perjanjian tertentu saja
(perjanjian khusus) yang namanya sudah diberikan Undang-undang.
Suatu asas hukum penting berkaitan dengan berlakunya perjanjian adalah asas
kebebasan berkontrak. Artinya, pihak-pihak bebas untuk membuat perjanjian apa
saja, baik yang sudah ada pengaturannya maupun yang belum ada pengaturannya
dan bebas menentukan sendiri isi perjanjian. Namun, kebebasan tersebut tidak
mutlak karena terdapat pembatasannya, yaitu tidak boleh bertentangan dengan
Undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan
Tentang isi perjanjian sepenuhnya diserahkan kepada para pihak (party
autonomy) yang bersangkutan. Dengan kata lain, selama perjanjian itu tidak
bertentangan dengan hukum yang berlaku, kesusilaan, kepentingan umum, dan
ketertiban, maka perjanjian itu dibolehkan. Jadi, semua perjanjian atau seluruh isi
perjanjian, asalkan pembuatannya memenuhi syarat, berlaku bagi para
pembuatnya, sama sebagai Undang-undang. Pihak-pihak bebas untuk membuat
perjanjian apa saja dan menuangkan apa saja di dalam isi sebuah kontrak. Dari
Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang – undang Hukum Perdata jelas bahwa Perjanjian
yang mengikat hanyalah perjanjian yang sah. 5 Supaya sah suatu perjanjian harus
memenuhi Pasal 1320 Kitab Undang – undang Hukum Perdata. Pasal 1320 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata menentukan empat syarat sahnya perjanjian,
yaitu ;6
1) Kesepakatan (Agreement) kedua belah pihak.
5
Opcit. hal. 87.
6
Budiono Kusumohamidjojo, Perancangan Dan Legalitas Kontrak, Cetakan Ke- 1
(Bandung : Mandar Maju, 2017). hal. 9.
26
Syarat pertama sahnya kontrak adalah adanya kesepakatan atau
konsensus antara pihak. Kesepakatan ini diatur dalam Pasal 1320 ayat (1)
Kitab Undang – undang Hukum Perdata. Dengan sepakat atau juga
dinamakan perizinan, dimaksudkan bahwa kedua subjek mengadakan
perjanjian itu harus bersepakat, setuju atau seia-sekata mengenai hal-hal
yang pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Apa yang dikehendaki oleh
pihak yang satu, juga dikehendaki oleh pihak yang lain. Mereka
menghendaki dalam hal mendapatkan hak dan kewajiban yang sama secara
timbal balik. 7
2) Kecakapan untuk Membuat Suatu Perikatan (Capacity)
Kecakapan untuk melakukan tindakan hukum merupakan
kewenangan yang diberikan dan dijamin oleh hukum baik terhadap orang
pribadi dan juga korporasi (legal entity) sebagai subjek pendukung hak dan
pelaksana kewajiban. Jika seorang sebagai subjek hukum (personal entity)
dianggap cakap berarti ia memilki hak dan kewajiban untuk bertindak
dalam perbuatan hukum. Setiap orang yang akan mengadakan perjanjian
haruslah orang-orang yang cakap dan mempunyai wewenang untuk
melakukan perbuatan hukum, sebagaimana yang ditentukan oleh Undang-
undang. Seseorang oleh hukum dianggap tidak cakap melakukan
perjanjian, jika orang tersebut belum berumur 21 tahun, kecuali jika ia
telah kawin sebelum cukup 21 tahun. Sebaliknya setiap orang yang
berumur 21 tahun ke atas, oleh hukum dianggap cakap, kecuali karena
7
I Ketut Oka Setiawan, Hukum Perikatan, Cetakan Ke-I (Jakarta : Sinar
Grafika, 2015). halal. 61.
27
suatu hal dia ditaruh di bawah pengampuan, seperti gelap mata, dungu,
sakit ingatan, atau pemboros. Dalam Pasal 1330 Kitab Undang – undang
Hukum Perdata, ditegaskan sebagai orang yang belum dewasa, tidak cakap
untuk membuat suatu perjanjian :8
(1) Orang-orang yang belum dewasa;
(2) Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
(3) Perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-Undang telah
melarang membuat perjanjian tertentu.
3) Hal Tertentu (Consideration)
Syarat ketiga dari suatu perjanjian haruslah memenuhi “hal
tertentu” maksudnya adalah suatu perjanjian haruslah memiliki objek.
Objek perjanjian adalah prestasi. Prestasi adalah apa yang menjadi
kewajiban debitor dan apa yang menjadi hak kreditor. Berdasarkan Pasal
1234 Kitab Undang – undang Hukum Perdata, prestasi terdiri dari
perbuatan positif dan perbuatan negatif, prestasi itu terdiri atas:9
a) Menyerahkan sesuatu/ memberikan sesuatu;
b) Berbuat sesuatu; dan
c) Tidak berbuat sesuatu
4). Adanya causa yang halal (Legal Cause)
8
Ricardo Simanjuntak, Hukum Kontrak; Teknik Perancangan Kontrak Bisnis, (Jakarta :
Kontan Publishing, 2011) hal. 196.
9
Opcit hal. 67.
28
Dalam Pasal 1320 Kitab Undang – undang Hukum Perdata, tidak
dijelaskan pengertian orzaak (causa yang halal) di dalam Pasal 1337 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata hanya ditegaskan causa yang terlarang.
Suatu sebab adalah terlarang apabila bertentangan dengan Undang-undang,
kesusilaan dan ketertiban umum.10
Ketentuan pasal 1320 Kitab Undang – undang Hukum Perdata
mengatur dua macam akibat prinsipal dari syarat-syaratnya: syarat yang
bersifat subjektif dan syarat yang bersifat objektif, dengan konsekuensi
sebagai berikut;
1. Syarat 1 dan 2 dari Pasal 1320 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata bersifat subjektif, dengan akibatn bahwa diabaikannya salah
satu atau kedua syarat tersebut dapat menjadi dasar untuk menuntut
dibatalkannya suatu kontrak (voidable).
2. Syarat 3 dan 4 dari Pasal 1320 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata bersifat objektif, dengan akibat bahwa diabaikannya salah
satu atau kedua syarat tersebut dapat menjadi dasar untuk menuntut
dibatalkannya suatu kontrak batal demi hukum (null and void by
law)11
2.1.3 Asas-Asas Perjanjian
I Ketut Oka Setiawan, Hukum Perikatan, Cetakan Ke-I (Jakarta : Sinar
10
Grafika, 2015). hal. 67
11
Budiono Kusumohamidjojo, Perancangan dan Legalitas Kontrak,Cetakan ke – I
(Bandung: Mandarmaju, 2017). hal. 10
29
Istilah “semua” maka pembentuk Undang-undang menunjukkan
bahwa perjanjian yang dimaksud bukanlah hanya semata-mata perjanjian
bernama, tetapi juga meliputi perjanjian tidak bernama, Pasal 1338 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata :
a. Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai
Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.
b. Persetujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain
dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang
olesh Undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
c. Persetujuan-persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik”
Istilah “semua” itu terkandung suatu asas yang dikenal dengan asas
“partij autonomie”. Pasal 1338 Kitab Undang – undang Hukum Perdata ini
harus juga dibaca dalam kaitannya dengan Pasal 1319 Kitab Undang –
undang Hukum Perdata. Istilah “secara sah” pembuat Undang-undang
menunjukkan, bahwa pembuatan perjanjian harus memenuhi syarat-syarat
yang ditentukan. Semua persetujuan yang dibuat menurut hukum atau
secara sah (Pasal 1320 Kitab Undang – undang Hukum Perdata) adalah
mengikat sebagai Undang-undang terhadap para pihak. Disini tersimpul
realisasi asas kepastian hukum.
A. Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract)
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338
ayat (1) Kitab Undang – undang Hukum Perdata, menyatakan: “Semua
30
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi
mereka yang membuatnya”. Asas ini merupakan suatu asas yang
memberikan kebebasan kepada para pihak untuk :12
1).membuat atau tidak membuat perjanjian;
2). mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
3).menentukan isi perjanjian,pelaksanaan,dan persyaratannya, serta
4). menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.
B. Asas Konsensualisme (Concensualism)
Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1)
Kitab Undang – undang Hukum Perdata. Pada pasal tersebut ditentukan
bahwa, salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kata kesepakatan
antara kedua belah pihak. Asas ini merupakan asas yang menyatakan
bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan
cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah
persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah
pihak.13
C. Asas Kepribadian (Personality)
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang
yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan
12
I Ketut Oka Setiawan, Hukum Perikatan, Cetakan Ke-I (Jakarta : Sinar
Grafika, 2015). hal.45
13
Ibid. hal.46).
31
perseorangan saja. Hal ini dapat diketahui dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340
Kitab Undang – undang Hukum Perdata. Pasal 1315 Kitab Undang –
undang Hukum Perdata menegaskan: Pada umumnya seseorang tidak dapat
mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri. 14 Inti
ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian, orang
tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri. Pasal 1340 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata menyatakan: Perjanjian hanya berlaku
antara pihak yang membuatnya.15 Hal ini mengandung maksud bahwa
perjanjian yang di buat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang
membuatnya. Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya
sebagaimana diintridusir dalam Pasal 1317 Kitab Undang – undang
Hukum Perdata yang menyatakan: Dapat pula perjanjian diadakan untuk
kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri
sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat
semacam itu.16
D. Asas Kepastian Hukum (Pacta Sunt Servanda)
Asas kepastian hukum atau disebut juga dengan asas pacta sunt
servanda merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian.
Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak
ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak,
sebagaimana layaknya sebuah Undang-undang. Siapapun tidak boleh
14 ?
Ibid, hal. 46.
15 ?
Ibid, hal. 47.
16 ?
Ibid, hal. 47.
32
melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para
pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat
(1) Kitab Undang – undang Hukum Perdata . Asas ini pada mulanya
dikenal dalam hukum gereja. Dalam hukum gereja itu disebutkan
bahwa terjadinya suatu perjanjian bila ada kesepakatan antar pihak yang
melakukannya dan dikuatkan dengan sumpah.17
E. Asas I’tikad Baik (Good Faith)
Asas I’tikad baik tercantum pada Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang –
undang Hukum Perdata yang menyatakan: “Perjanjian harus dilaksanakan
dengan I’tikad baik.” Asas ini merupakan asas bahwa para pihak, yaitu
pihak kreditor dan debitor harus melaksanakan substansi kontrak
berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik
dari para pihak. Asas itikad baik terbagi menjadi dua macam, yakni itikad
baik nisbi dan itikad baik mutlak. Pada itikad yang pertama, seseorang
memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada itikad
yang kedua, penilaian terletak pada akal sehat dan keadilan serta dibuat
ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak)
menurut norma-norma yang objektif. 18
2.1.4 Perjanjian Jaminan Yang Bersifat Accesoir.
Perjanjian kredit lazimnya diikuti degan perjanjian kredit yang bersifat
accessoir yang menimbulkan hak separatis. Perjanjian accesoir adalah perjanjian
17
Ibid, hal. 48
18 ?
Ibid, hal. 48
33
yang senantiasa merupakan perjanjian yang di hubungkan dengan perjanjian pokok
dan mengacu kepada perjanjian pokok.
Dalam praktek perbankan perjanjian pokoknya itu berupa perjanjian
pemberian kredit atau perjanjian membuka kredit oleh Bank, dengan kesanggupan
memberikan jaminan berupa hak tanggungan, hipotik, gadai, fiducia, borgtocht
dan lain – lain. Kemudian diikuti prjanjian penjaminan secara tersendiri yang
merupakan tambahan (accessoir) yang dikaitkan dengan perjanjian pokok tersebut.
Dalam praktek perbankan nampak bahwa perjanjian pemberian kredit (perjanjian
pokok) dan perjanjian penjaminan (perjanjian accessoir) itu tercantum dalam
formulir (model) atau akta yang terpisah.19
2.2. Hukum Perbankan.
2.2.1 Kredit Dalam Hukum Perbankan
Salah satu cara pelaku bisnis pada jaman sekarang untuk mendapatkan
modal / dana guna menjalankan atau mengembangkan bisnisnya tidak lepas dari
peranan Bank, dengan salah satu jenis layanan jasa perbankan yang bisa
dimanfaatkan oleh para pebisnis yaitu kredit. Kredit merupakan modal / dana yang
diperoleh dengan cara utang.
Kredit secara terminology berasal dari bahasa latin “Credere” yang
mempunyai makna kepecayaan. Jika demikian halnya, pemberi kredit atau kreditor
percaya bahwa penerima kredit atau debitor akan memenuhi janjinya sesuai
dengan apa yang telah disepakati secara bersama anatara pemberi kredit dengan
19
Ny. Sri Soedewi Masjchoen, Hukum Jaminan Di Indonesia, Cetakan ke-5. (Yogyakarta:
Liberty Offset, 2011) hal.37
34
penerima kredit. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Suharno, 20 kepercayaan
dilihat dari sudut pandang Bank berarti adanya suatu keyakinan bahwa dana yang
akan diberikan kepada debitor akan dikembalikan tepat pada waktunya sesuai
dengan kesepakatan kedua belah pihak yang akan dituangkan dalam perjanjian
tertulis. Jadi akar dari suatu kredit adalah sebuah perjanjian yang telah disepakati
oleh para pihak.
Pentingnya perjanjian dalam sebuah kredit tidak lepas dari 1313 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata dan 1320 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata sebagai dasar hukum perikatan dan syarat sah perikatan. Selain itu
pengertian kredit yang terdapat pada Pasal 1 angka 13 Undang-undang Perbankan
dapat disimpulkan dasar hukum pemberian kredit adalah perjanjian. 21 Pendapat
yang spesifik dikemukakan oleh Sutan Remy Sjahdeini, pencantuman kata-kata
persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam di dalam pengertian kredit
sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang Perbankan dapat mempunyai
berberapa maksud yakni; Pertama, pembentuk Undang-undang bermaksud untuk
menegaskan bahwa hubungan kredit bank adalah hubungan kontraktual antara
Bank dan nasabah debitor yang berbentuk pinjam-meminjam. Kedua, pembentuk
Undang-undang bemaksud untuk mengharuskan hubungan kredit Bank dibuat
berdasarkan perjanjian tertulis.22
Pandangan yang dikemukakan oleh pakar perbankan di atas, tampak bahwa
hubungan hukum antara badan usaha bank (kreditor) dengan nasabah peminjam
20
Sentosa Sembiring, Hukum Perbankan, Cetakan Ke-III (MandarMaju, Bandung, 2012)
hal 148
21 ?
Ibid. Hal. 191.
22 ?
Ibid., hlm. 192.
35
(debitor) diikat dengan suatu pejanjian tertulis. Bahkan dalam peraturan
pelaksanaan Undang-undang Perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
dengan tegas dikemukakan, Bank tidak diperkenankan memberikan kredit tanpa
surat perjanjian secara tertulis.
Bank merupakan jenis bisnis yang sangat beresiko tinggi dan juga Bank
sebagai kreditor sebelum memutuskan apakah suatu permohonan kredit dapat
diterima atau ditolak, langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan
analisis terhadap permohonan yang diajukan oleh debitor. Jadi kata kunci dalam
analisis kredit, Bank mempunyai keyakinan, bahwa debitor sanggup melunasi
kredit yang diberikan.
Untuk meminimalisasi risiko kredit yang mungkin terjadi, Bank pada
umumnya menggunakan metode analisis 5C atau “prudential banking principle”
dalam memutuskan, apakah kredit yang diajukan oleh pemohon diterima atau
ditolak yakni:23
1) Character (Sifat). Dalam hal ini para analis kredit pada umumnya
mencoba melihat dari data pemohon kredit yang telah disediakan
oleh bank. Bila dirasakan perlu diadakan wawancara, untuk
mengetahui lebih rinci, bagaimana karakter yang sesunguhnya dari
calon debitor tersebut.
2) Capacity (Kemampuan). Bank mencoba menganalisis apakah
permohonan dana yang diajukan rasional atau tidak dengan
kemampuan yang ada pada debitor sendiri. Bank melihat sumber
23 ?
Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, Cetakan Ke-I (Jakarta:
Gramedia, 2010) hal 34.
36
pendapatan dari pemohon dikaitkan dengan kebutuhan hidup sehari-
hari.
3) Capital (Modal). Hal ini cukup penting bagi Bank, khususnya untuk
kredit yang cukup besar apakah dengan modal yang ada, mungkin
pengembalian kredit yang diberikan. Untuk itu perlu dikaji ulang
potensi dari modal yang ada.
4) Collateral (Jaminan). Apakah Jaminan yang diberikan oleh debitor
sebanding dengan kredit yang diminta. Hal ini penting agar bila
debitor tidak mampu melunasi kreditnya maka jaminannya dapat
dijual.
5) Condition of Economy (Kondisi Ekonomi). Situasi dan Kondisi
Ekonomi apakah memungkinkan untuk itu.
Dengan prinsip 5C kehati-hatian (prudential banking principle) inilah
pihak bank dapat meminimalisir resiko dalam pemberian kredir kepada debitor.
2.3. Hukum Jaminan
2.3.1. Pengertian Hukum Jaminan
Pemberian utang oleh kreditor, baik kreditor yang perorangan maupun
badan hukum, kepada debitur sudah merupakan praktek sejak berbad – abad
yang lalu dalam kehidupan masyarakat. Pada zaman sekarang ini sangat sulit
untuk menemukan seorang pengusaha atau suatu perusahaan yang tidak
mengambil utang (pinjaman atau kredit), baik yang berupa jangka pendek
37
maupun utang yang jangka panjang. Utang sudah merupakan faktor yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan bisnis.
Ny. Sri Soedewi Masjhoen berpendapat bahwa,24 jaminan adalah "kreditur
menemukan adanya benda-benda tertentu yang ditunjuk secara khusus sebagai
jaminan piutangnya dan itu hanya berlaku bagi kreditur itu sendiri.
Dari dua pendapat perumusan pengertian hukum jaminan di atas yang
intinya pengertian hukum jaminan adalah ketentuan hukum yang mengatur
hubungan hukum antara pemberi jaminan (debitur) dan penerima jaminan
(kreditur). Sebagai akibat pembebanan suatu utang tertentu dengan suatu
jaminan, bahwa dalam hukum jaminan tidak hanya mengatur perlindungan
hukum terhadap kreditur sebagai pihak utang saja melainkan juga mengatur
perlindungan hukum terhadap debitur sebagai pihak penerima utang atau
hukum jaminan tidak hanya mengatur hak-hak kreditur yang berkaitan dengan
jaminan pelunasan hutang utang tertentu namun sama-sama mengatur hak-hak
kreditur dan hak-hak debitur yang berkaitan dengan jaminan pelunasan utang
tertentu tersebut.
Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, hukum jaminan adalah mengatur
konstruksi yuridis yang memungkinkan pemberian fasilitas kredit, dengan
menjaminkan benda-benda yang dibelinya sebagai jaminan. Peraturan
demikian harus cukup meyakinkan dan memberikan kepastian hukum bagi
lembaga-lembaga kredit, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.25
24
Ny. Sri Soedewi Masjchoen, Hukum Jaminan Di Indonesia, Cetakan ke-5. (Yogyakarta:
Liberty Offset, 2011). hal. 45.
25 ?
Salim H.S, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Cetakan Ke-X (Jakarta : Raja
Grafindo, 2010) hal.6.
38
Adanya lembaga jaminan dan lembaga demikian kiranya harus dibarengi
dengan adanya lembaga kredit dengan jumlah besar, dengan jangka waktu lama
dan bunga yang relatif rendah. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Sri
Soedewi Masjchoen Sofwan ini merupakan suatu konsep yuridis yang
berkaitan dengan penyusunan peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang jaminan pada masa yang akan datang.
Saat ini telah dibuat berbagai peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan jaminan. Berdasarkan pengertian di atas, unsur-unsur yang
terkandung di dalam perumusan hukum jaminan adalah sebagai berikut:26
1) Adanya kaidah hukum Kaidah hukum dalam bidang hukum jaminan
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kaidah hukum jaminan
tertulis dan kaidah hukum jaminan tidak tertulis. Kaidah hukum
jaminan tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang terdapat di dalam
peraturan perundang-undangan, traktat, yurisprudensi, sedangkan
kaidah hukum jaminan tidak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum
jaminan yang bertumbuh, hidup dan berkembang di dalam masyarakat.
2) Adanya pemberian jaminan dan penerima jaminan Pemberi jaminan
adalah orang atau badan hukum yang menyerahkan barang jaminan
kepada penerima jaminan. Pemberian jaminan dapat juga dikatakan
orang atau badan hukum yang membutuhkan fasilitas kredit. Orang atau
badan hukum yang membutuhkan fasilitas kredit disebut sebagai
debitur. Penerima jaminan adalah orang atau badan hukum yang
26
HS. Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Cetakan Ke- (Jakarta :
RajawaliPress, 2017). hal. 8.
39
menerima barang jaminan dari pemberi jaminan atau dari debitur.
Badan hukum adalah lembaga yang memberikan fasilitas kredit.
Lembaga yang memberikan fasilitas kredit tersebut dapat berupa
lembaga perbankan atau lembaga keuangan non bank.
3) Adanya jaminan pada dasarnya jaminan yang diserahkan kepada pihak
kreditrur adalah jaminan materil yang merupakan jaminan berupa hak-
hak kebendaan seperti jaminan atas benda bergerak dan benda tidak
bergerak.
4) Adanya fasilitas kredit pembebanan jaminan yang dilakukan pemberi
jaminan bertujuan untuk mendapatkan fasilitas kredit dari Bank atau
dari lembaga keuangan non Bank. Pemberian kredit ini merupakan
pemberian uang berdasarkan kepercayaan. Maksud dari kata
berdasarkan kepercayaan disini adalah bahwa Bank atau lembaga
keuangan non Bank percaya bahwa debitur sanggup mengembalikan
pokok pinjaman dan membayar bunga serta biaya yang dikeluarkan
untuk memelihara objek gadai atau benda jaminan. Begitu juga debitur
percaya bahwa bank atau lembaga keuangan non bank dapat
memberikan kredit kepadanya.27
Pembebanan kebendaan jaminan dimaksudkan untuk menjamin pelunasan
hutang tertentu terhadap kreditur bila debitur mengalami wanprestasi.
2.3.2 Jenis – Jenis Jaminan
27 ?
Ibid. hal.8
40
Jaminan dapat digolongkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan
yang berlaku di Luar Negeri. Dalam pasal 24 UU No 14 Tahun 1967 tentang
Perbankan ditentukan bahwa “Bank tidak akan memberikan kredit tanpa adanya
jaminan”. Jaminan dapat didibedakan menjadi dua macam;
1. Jaminan Materiil (kebendaan), yaitu memberikan hak mendahului di atas
benda – benda tetentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda
yang bersangkutan.
2. Jaminan Immateriil (perorangan), yaitu tidak memberikan hak mendahului
atas benda – benda tertentu, tetapi hanya dijamin oleh harta kekayaan
seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan perikatan yang
bersangkutan.28
2.3.3 Penggolongan Jaminan Kebendaan yang berlaku Di Indonesia
a. Gadai; istilah gadai berasal dari kata Pand (bahasa Belanda) atau pledge
atau pawn (bahasa Inggris). Menurut Pasal 1150 Kitab Undang –
undang Hukum Perdata, gadai adalah; “suatu hak yang diperoleh
kreditur atas suat barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh
debitur atau oleh kuasanya, sebagai jaminan atas utangnya dan yang
memberi wewenang kepada kreditur untuk mengambil pelunasan
piutangnya dari barang itu dengan mendahului kreditur kreditur lain”.29
b. Jaminan Fidusia; istilah fidusia berasal dari bahasa Belanda, yaitu
fiducie, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of
28 ?
Ibid. hal.23
29 ?
Ibid. hal.33
41
ownership, yang artinya kepercayaan. Di dalam literatur, fidusia lazim
disebut dengan istilah fiduciary eigendom ovedract (FEO) yaitu
penyerahan hak milik bedasarkan atas kepercayaan. Di dalam Undang-
undang No. 42 Tahun 1999, Fidusia adalah: “Pengalihan hak
kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan
bahwa benda yang hak kepemilikannya yang diadakan tersebut tetap
dalam penguasaan pemilik benda tersebut.”30
c. Hak Tanggungan; istilah tanggungan dalam Kamus ahasa Indnesia,
tanggungan diartian sebagai barang yag dijadikan jaminan. Sedangkan
jaminan itu sendiri artinya tanggungan atas pinjaman yang diterima.
Dalam Undang – Undang Nomor 4 tahun 1996, yang dimaksud hak
tanggungan adalah: “hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria berikut atau tidak
berikut benda – benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah
itu untuk pelunsan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan yang
diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur
lainnya.31
d. Hipotek Kapal Laut; ada dua kata yang tercantum dalam istilah hipotek
kapal laut, yaitu kata hipotek dan kapal laut. Masing-masing istilah
tersebut mempunyai konsepsi yang berbeda antara satu sama lain.
Dalam Pasal 1162 Kitab Undang – undang Hukum Perdata hipotek
30 ?
Ibid. hal.55
31 ?
Ibid. hal.95
42
adalah: “Suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk
mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan.”
Sedangkan pengertian kapal laut dapat kita baca dalam Undang-undang
Nomor 4 tahun 1992 tentang Pelayaran adalah: “Kendaraan air dengan
bentuk dan jenis apapun, yang digerakan dengan tenaga mekanik,
tenaga angin atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung
dinamis, kendaraan di bawah permukaan laut, serta alat apung dan
bangunan yang terapung yang tidak berpindah-pindah.” Dari dua
penjelasan di atas menerangkan bahwa Hipotek Kapal Laut menjamin
tagihan utang dengan adanya hipotek tersebut memberikan keamanan
dan menjamin kepastian hukum bagi kreditur. Apabila debitur
wanprestasi, maka objek hipotek kapal laut tersebut dapat dilakukan
pelelangan di muka umum. Dengan tujuan untuk pelunasan suatu
hutang pokok, bunga dan biaya-biaya lainnya.32
e. Resi Gudang; Resi gudang dalam bahasa asing disebut warehouse
receipt adalah dokumen bukti kepemilikan barang yang disimpan di
suatu gudang terdaftar secara khusus yang diterbitkan oleh pengelola
gudang itu. Resi Gudang dapat digolongkan sebagai jaminan di mana
kreditor tidak menguasai benda jaminan. Benda yang menjadi objek
jaminan Resi Gudang tidak berada di tangan kreditor maupun debitur,
tetapi berada di tangan pihak ketiga yaitu pengelola gudang.
2.4. Pengertian Hukum Kepailitan
32 ?
Ibid. hal.199
43
Bila ditelusuri secara lebih mendasar, bahwa istilah “kepailitan” merupakan
kata benda yang berakar dari kata “pailit”. Sementara itu, kata “pailit” berasal
dari kata “failit” dalam bahasa Belanda. Dari istilah “failit” mucul istilah
“faillissesment” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
“kepailitan”. Dari istilah “faillissesment” muncul istilah “faillisessmentwet”
(Undang-undang Kepailitan Belanda) dan “Faillisessments-verordening”
(Undang-undang Kepailitan Hindia Belanda) yang berarti “Undang – Undang
Kepailitan”. Faillisessment dan Kepailitan merupakan padanan istilah
“insolvency” dalam bahasa Inggris.33
Kepailitan dan Insolvensi meskipun berbeda pengertiannya tetapi sangat
erat terkait satu dengan yang lain. Kedua istilah tersebut dapat dibedakan tetapi
tidak dapat dipisahkan seperti halnya dua mata sisi pada uang logam. Dalam
pengertiannya yang berbeda, suatu debitur yang sudah berada dalam keadaan
insolven dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan setelah dimintakan
permohonan untuk mamailitkan Debitur yang bersangkutan. Insolvensi
(insolvency) adalah suatu keadaan keuangan (financial state) suatu subjek
hukum perdata (legal entity) sedangkan kepailitan (bankruptcy) adalah keadan
hukum (legal state) dari suatu subjek hukum perdata (legal entity).34
Dijumpai di dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan
Inggris, dengan istilah yang berbeda-beda. Di dalam bahasa Perancis, istilah
“failite” artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran.
33
Sutan Remy Sjahdeini, Sejarah Asas dan Teori Hukum Kepailitan, Cetakan Ke-I
(Jakarta: Kencana, 2016) hal. 4
34 ?
Ibid. hal.5
44
Oleh karena itu orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar
utangnya di dalam bahasa Perancis disebut le failit. Untuk arti yang sama di
dalam bahasa Belanda digunakan istilah failliet. Sedangkan dalam bahasa
Inggris dikenal istilah “failure”, dan di dalam bahasa Latin dipergunakan istilah
“fallire”.
Kepailitan merupakan suatu proses di mana seorang debitur yang
mempunyai kesulitan keuangan untuk membayara utangnya dinyatakan pailit
oleh Pengadilan, dalam hal ini Pengadilan Niaga, dikarenakan debitur tersebut
tidak dapat membayar utangnya. Kepailitan adalah sita umum yang mencakup
seluruh kekayaan debitur untuk kepentingan semua krediturnya. Tujuan
kepailitan adalah pembagian kekayaan debitur oleh kurator kepada semua
kreditur dengan memperhatikan hak-hak mereka masing-masing.
Adapun tujuan yang terkandung dalam Undang-undang Kepailitan secara
tersirat untuk melakukan proses likuidasi yang lebih cepat terhadap harta
kekayaan debitur yang akan dinyaakan pailit. Proporsi inilah yang mendasari
mengapa perturan kepailitan mengalami banyak perubahan didalamnya. Hal ini
tersurat dalam pertimbangan Perpu Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-undang tentang Kepailitan yang ditetapkan menjadi undang-
undang dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 maupun dalam Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang, yang menyatakan bahwa untuk mengatasi gejolak moneter
beserta akibatnya yang berat terhadap perekonomian saat ini, salah satu
persoalan yang sangat mendesak dan memerlukan pemecahan adlah
penyelesaian utang piutang perusahaan dan dengan demikian adanya peraturan
45
kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang yang dapat digunakan
oleh para debitur dan kreditur secara adil, cepat, terbuka dan efektif menjadi
sangat diperlukan.35
Menurut Poerwadarminta, “pailit” artinya “bangkrut” dan bangkrut artinya
menderita kerugian besar hingga jatuh (perusahaan, toko, dan sebagainya).
Dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan memberikan definisi
“kepailitan” sebagai berikut:
“Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah
pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
ini”.
Bahwa sebagai salah satu sarana hukum untuk penyelesaian hutang
piutang. Undang-undang tentang kepailitan (Faillissement verordening,
Staatblad 1905 : 201 juncto Staatblad 1906 : 348) sebagian besar materinya
tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat dan
oleh karena itu telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang
Kepailitan, yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-undang berdasarkan
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998, namun perubahan tersebut belum juga
memenuhi perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat, sehingga pada
tanggal 18 Oktober 2004 ditetapkanlah Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
35
M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan, Cetakan
ke-V (Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri, 2015) hal 71-72
46
Putusan pernyataan pailit mengubah status hukum seseorang menjadi tidak
cakap melakukan perbuatan hukum, menguasai dan mengurus harta
kekayaannya sejak putusan pernyataan pailit diucapkan. Syarat utama untuk
dapat dinyatakan pailit adalah bahwa seorang debitur mempunyai paling sedikit
2 (dua) kreditur dan tidak membayar lunas salah satu utangnya yang sudah
jatuh waktu. Dalam pengaturan pembayaran ini, tersangkut baik kepentingan
debitur sendiri maupun kepentingan para krediturnya, dengan adanya putusan
pernyataan pailit tersebut diharapkan agar harta pailit debitur dapat digunakan
untuk membayar kembali seluruh hutang debitur secara adil dan merata serta
seimbang.
Undang-undang Kepailitan lahir guna mengatur mengenai cara menentukan
eksistensi suatu utang debitor kepada kreditor, berapa jumlahnya yang pasti
termasuk mengupayakan perdamaian yang dapat ditempuh oleh debitor kepada
para kreditornya. Selain itu Undang-undang Kepailitan lahir dengan tujuan:
1. Untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama
ada beberapa kreditor yang menagih piutangnya dari debitor;
2. Untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan
yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa
memperhatikan kepentingan debitor atau para kreditor lainnya;
3. Untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh
salah seorang kreditor atau debitor sendiri.
47
4. Untuk memberikan kesempatan kepada debitur dan para kreditornya untuk
berunding dan membuat kesepakatan mengenai restrukturisasi utang –
utang debitur.36
2.4.1. Pihak - Pihak Pemohon Pailit
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, permohonan
pernyataan pailit tersebut diajukan oleh:37
a. Debitor sendiri.
b. Atas permintaan seorang atau lebih kreditor.
c. Kejaksaan untuk kepentingan umum.
d. Dalam hal debitor adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya
dapat diajukan oleh Bank Indonesia.
e. Dalam hal debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga
Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpangan dan Penyelesaian,
permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal.
f. Dalam hal debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan
Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang
36
Ibid. haal. 9
37
Sutan Remy Sjahdeini, Sejarah Asas dan Teori Hukum Kepailitan, Cetakan Ke-I
(Jakarta: Kencana, 2016)
48
bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit
hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.
Pengertian debitor Bank mengacu pada Undang-undang No. 10 Tahun 1998
tentang Perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan,
yaitu: Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Penjelasan Pasal 2 ayat (3) Undang-
undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang).
2.4.2. Pihak Yang Dapat Dinyatakan Pailit
Objek di dalam Undang-undang kepailitan adalah debitor, yaitu debitor
yang tidak dapat membayar utang-utangnya terhadap kreditornya. Debitor yang
dapat dinyatakan pailit adalah;38
1) Kepailitan Perorangan dan Badan Hukum, Tidak seperti di
banyak negara, terutama negara-negara yang menganut
sistem Common Law System, Undang-undang Kepailitan-
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak
membedakan aturan bagi kepailitan debitor yang merupakan
badan hukum maupun orang perorangan (individu). Ruang
lingkup Undang-undang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang yang meliputi baik debitur
badan hukum maupun debitor oramg perorangan memang
38
Zainal Asikin. Hukum Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di
Indonesia, Cetakan Ke Cetakan Ke – I (Bandung: Pustaka Reka Cipta, 2013). haal.33.
49
tidak tegas ditentukan dalam undang undang tersebut, akan
tetapi hal itu dapat disimpulkan dari bunyi pasal-pasalnya.
Misal Pasal 3 ayat 5 dan pasal 4 ayat 1 Undang-undang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
2) Kepailitan Holding Company, Permohonan Pailit dapat saja
diajukan, oleh karena suatu holding company adalah suatu
perusahaan. Kartini Mulyadi berpendapat; “Permohonan
holding company dan anak perusahaannya tidak diwajibkan
untuk diajukan dalam satu permohonan. Mereka merupakan
badan hukum yang berbeda, mempunyai kreditor yang
berbeda, mungkin pula holding company adalah kreditor
dari anak perusahaannya.
3) Kepailitan atas Berberapa Jenis Perusahaan, Undang-
undang Kepailitan membedakan antara debitor yang
berbentuk Bank, perusahaan efek, bursa efek, lembaga
kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan
penyelesaian, perusahaan asuransi, perusahaan re-asuransi,
dana pensiun dan BUMN yang bergerak dibidang
kepentingan publik serta debitor yang bukan perusahaan-
perusahaan tersebut.
4) Kepailitan penjamin, berkaitan dengan pemberiaan
guarantee yang biasa diminta oleh perbankan dalam
pemberian kredit bank, dengan Undang-undang ini seorang
50
penjamin atau penanggung yang memberikan personal
guarantee atau perusahaan yang memberikan corporate
guarantee dapat dimohonkan untuk dinyatakan pailit.
Selama ini sering tidak disadari baik oleh bank maupun oleh
para pengusaha bahwa seorang personal guarantor (baik
personal gurantee maupun corporate guarantee) dapat
dinyatakan pailit.
5) Kepailitan Orang Mati, ketentuan – ketentuan yang
berkenaan dengan pengajuan permohonan pernyataan pailit
terhadap seorang yang telah meninggal dunia dan mengenai
status hukum dari harta warisan dalam hal pewaris tersebut
dinyatakan sebagai debitor pailit berkenaan dengan
pengajuan permohonan pernytaan pailit yang diajukan
setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Sesuai dengan
pasal 207 Undang-undang Kepailitan-dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, harta kekayaan orang yang
meninggal dunia harus dinyatakan dalam keadaan pailit,
apabila dua atau berberapa kreditor mengajukan
permohonan untuk itu san secara singkat dapat
membuktikan bahwa;
a) Utang orang yang meninggal, semasa hidupnya tidak
dibayar lunas; atau
51
b) Pada saat meninggalnya orang tersebut, harta
peninggalannya tidak cukup untuk membayar
utangnya.
2.4.3 Pengadilan Yang Berwenang
Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan, namun dari rumusan
ketentuan Pasal 3 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, terdapat ketentuan bahwa: “Setiap
permohonan pernyataan pailit harus diajukan ke Pengadilan yang daerah
hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor, dengan
ketentuan bahwa:
a) Dalam hal debitor telah meninggalkan wilayah Republik Indonesia,
Pengadilan yang berwenang menjatuhkan putusan atas permohonan
pernyataan pailit adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan hukum terakhir debitor (pasal 3 ayat 2 Undang-
undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang).
b) Dalam hal debitor adalah persero suatu firma, Pengadilan yang
daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum firma tersebut
juga berwenang memutuskan (pasal 3 ayat 3 Undang-undang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang).
c) Dalam hal debitor tidak berkedudukan di wilayah Negara Republik
Indonesia, Pengadilan yang berwenang memutuskan adalah
Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan atau
52
kantor pusat debitor menjalankan profesi atau usahanya di wilayah
Negara Republik Indonesia (pasal 3 ayat 4 Undang-undang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang).
d) Dalam hal debitor merupakan badan hukum, tempat kedudukan
hukumnya adalah sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya
(pasal 3 ayat 5 Undang-undang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang).
Ketentuan mengenai pengadilan yang berwenang di atas sejalan dengan
ketentuan Pasal 118 Herzien Inlandsch Reglement menyatakan, bahwa forum
pihak yang digugatlah yang berhak memeriksa. Ini untuk memberikan
keleluasaan bagi pihak tergugat untuk membela diri. Walaupun Undang-
undang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Utang sudah secara jelas
menyebutkan mengenai pengadilan yang berwenang, kita tidak boleh
melupakan adanya asas “recht vanoverdaging” yang di atur dalam Pasal 100
RV (Reglement op de Rechtvordering). Ketentuan ini merupakan pelengkap
hukum acara perdata (Herzien Inlandsch Reglement) dan masih tetap berlaku
sampai saat ini. Asas ini pada dasarnya memberikan hak kepada pihak
penggugat untuk mengajukan gugatan di tempat pihak lain (penggugat).
2.4.4. Persyaratan Kepailitan
Untuk memahami dari persyaratan kepailitan di atas, maka akan dipaparkan
secara lebih lengkap sebagai berikut:
a. Keharusan adanya dua kreditor
53
Keharusan adanya dua kreditor merupakan persyaratan yang ditentukan
dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Undang – undang Kepailitan -
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang), yang merupakan pelaksanaan dari
ketentuan Pasal 1132 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, menyatakan:
“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang
yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-
bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-
masing, kecuali apabila di antara para kreditur itu ada alasan-alasan untuk
didahulukan”.
Rumusan tersebut memberitahukan pada kita semua, bahwa pada
dasarnya setiap kebendaan yang merupakan sisi positif harta kekayaan
seseorang harus dibagi secara adil kepada setiap orang yang berhak
atas pemenuhan perikatan individu ini, yang disebut dengan nama
kreditor yang dimaksud dengan adil di sini adalah bahwa harta kekayaan
tersebut harus dibagi secara:39
1). Pari passu, dengan pengertian bahwa harta kekayaan tersebut
harus dibagikan secara bersama-sama di antara para kreditor
tersebut.
2). Pro rata, sesuai dengan besarnya imbangan piutang masing-
masing kreditor terhadap utang debitor secara keseluruhan.
39
Erna Widjajati, Hukum Perusahaan dan Kepailitan Di Indonesia, Cetakan Ke - II (Jakarta: Jalin
Usaha Rapi, 2016) hal 80
54
Sehubungan dengan eksistensi dari sekurangnya dua orang kreditor
kepailitan karena tidak perlu pengaturan pembagian hasil eksekusi harta pailit
kepada beberapa kreditor.
3). Structured Creditors, kreditor pemegang jaminan yang memiliki
kedudukan istimewa dan karenanya memiliki preferensi dalam pembayaran
terhadap piutang – piutangnya.
Hal tersebut merupakan cerminan dari perlindungan hukum bagi kreditor
yang memiliki jaminan yang mendapatkan hak istimewa atau preferensi yang
harus didahulukan. Seperti yang tertuang di dalam pasal 1133 Kitab Undang –
undang Hukum Perdata.
b. Pengertian Utang Yang Jatuh Waktu
Ketentuan umum Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Undang – undang Kepalitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Pasal 1 angka (6), disebutkan
bahwa pengertian “Utang” adalah: Kewajiban yang dinyatakan atau dapat
dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata
uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari
atau kontijen, yang timbul karena perjanjian atau Undang-undang dan yang
wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada
kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor.
Sedangkan pengertian dari “Jatuh waktu” di dalam Pasal 1238 Kitab Undang-
undang Hukum Perdata yang mengatur bahwa pihak yang berutang dianggap
lalai apabila ia dengan surat teguran telah dinyatakan pailit dan dalam surat
55
tersebut debitor diberi waktu tertentu untuk melunasi utangya. Rumusan Pasal
1238 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dapat di lihat bahwa, dalam
Perikatan untuk menyerahkan atau memberikan sesuatu. Undang-undang
membedakan kelalaian berdasarkan adanya ketetapan waktu dalam
perikatannya:
1). Dalam hal terdapat ketetapan waktu, maka terhitung sejak lewatnya
jangka waktu yang telah ditentukan dalam perikatannya tersebut,
debitor dianggap telah lalai untuk melaksanakan kewajibannya.
2). Dalam hal tidak ditentukan terlebih dahulu saat mana debitor
berkewajiban untuk melaksanakan kewajibannya tersebut, maka
debitor baru dianggap lalai jika ia telah ditegur untuk memenuhi
atau menunaikan kewajibannya yang terutang tersebut masih juga
belum memenuhi kewajibannya yang terutang tersebut. Dalam hal
yang demikian maka bukti tertulis dalam bentuk teguran yang
disampaikan oleh kreditor kepada debitor mengenai kelalaian
debitor untuk memenuhi kewajibannya menjadi dan merupakan
satu-satunya bukti debitor yang lalai. Dalam konstruksi hukum tersebut
berarti:
1). Dalam hal terdapat ketetapan waktu, maka saat jatuh tempo adalah saat
atau waktu yang telah ditentukan dalam perikatannya, yang juga
merupakan saat pemenuhan kewajiban oleh debitor.
2). Dalam hal tidak ditentukan waktu pelaksanaan kewajiban oleh debitor
dalam perikatannya, maka saat jatuh tempo adalah saat dimana debitor
56
telah ditegur oleh kreditor untuk memenuhi kewajibannya. Tanpa adanya
teguran tersebut maka kewajiban atau utang debitor kepada kreditor belum
dapat dianggap jatuh tempo.
Dengan demikian berarti atas perikatan untuk atau memberikan
sesuatu dalam bentuk uang tunai, yang telah ditentukan saat
penyerahannya, maka terhitung dengan lewatnya jangka waktu
tersebut, utang tersebut demi hukum telah jatuh tempo dan dapat ditagih.
Dalam konteks ini berarti, jika kreditor bermaksud untuk memajukan kepailitan
atas diri debitor, maka kreditor tidak perlu lagi mengajukan bukti lain, selain
perjanjian yang menentukan saat jatuh temponya yang telah terlewati tadi.
2.4.5. Kedudukan Kreditor Pemegang Jaminan Kebendaan Dalam
Hal Terjadi Kepailitan
Kepailitan merupakan suatu jalan keluar yang bersifat komersial dalam
penyelesaian utang piutang antara Kreditor dan Debitor, dimana Debitor
tersebut sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk membayar utang-utang
tersebut kepada para Kreditornya. Sehingga ketika utang Debitor jatuh tempo
dan Debitor harus membayar utangnya, langkah permohonan pernyataan pailit
terhadap diri Debitor menjadi suatu hal yang memungkinkan. Dengan keadaan
yang demikian, lembaga kepailitan diharapkan dapat berfungsi sebagai
lembaga alternatif penyelesaian kewajiban-kewajiban Debitor kepada Kreditor
secara lebih efisien, efektif dan proporsional (Subhan, 2009).
Kepailitan merupakan sitaa umum menurut hukum atas seluruh harta
kekayaan Debitor, agar tercapai perdamaian antara Debitor dan Kreditor atau
57
agar harta tersebut dapat dibagi-bagikan secara adil di antara para Kreditor.
Dalam hal ini penyitaan dilakukan oleh pengadilan dan kemudian dilakukan
eksekusi atas semua harta Debitor tersebut demi untuk kepentingan bersama
para Kreditor sesuai prinsip jaminan umum Pasal 1131 dan 1132 Kitab Undang
– undang Hukum Perdata. Kepailitan menurut ketentuan pasal 1 ayat (1)
Undang Undang No. 37 Tahun 2004 yang merupakan difinisi kepailitan; yang
sejalan dengan hakekat kepailitan; kepailitan adalah sitaan umum atas semua
kekayaan debitur pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan
oleh Kurator di bawah penga-wasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur
dalam undang undang ini.
Di dalam kepailitan, tidak semua Kreditor mempunyai kedudukan yang
sama. Perbedaan Kreditor tersebut semata-mata ditentukan oleh jenis atau sifat
piutang masing-masing-masing. Sifat piutang tersebut adalah :
1. Piutang Separatis yaitu piutang dengan jaminan kebendaan tertentu
(seperti Hak Tanggungan, Gadai, Jaminan Fidusia) Pasal 1133
Kitab Undang – undang Hukum Perdata;
2. Piutang dengan hak preferensi umum. Piutang ini terkait dengan
harta pailit secara umum Pasal 1149 Kitab Undang – undang
Hukum Perdata;
3. Piutang dengan hak prefensi Khusus. Piutang ini terkait dengan
harta pailit tertentu Pasal 1139 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata;
58
4. Piutang Konkuren. Piutang dengan pembayaran secara prorata
bases – pasal 1131-1132 Kitab Undang – undang Hukum Perdata;
5. Piutang istimewa khusus. Piutang Pajak - Pasal 1137 Kitab Undang
– undang Hukum Perdata jo Pasal 21 UU No. 6 Tahun 1985 yang
diubah dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan.
Berdasarkan sifat piutang tersebut, maka Kreditor dalam kepailitan dapat
digolongkan, sebagai berikut:
1. Kreditor separatis. Yang dimaksud dengan Kreditor separatis adalah
Kreditor yang memiliki jaminan utang kebendaan (hak jaminan), seperti
pemegang Hak Tanggungan, Hipotek, gadai, Jaminan Fidusia dan lain-lain
(Pasal 55 UU No. 37 Tahun 2004). Kreditor dengan jaminan yang bukan
jaminan kebendaan, seperti garansi termasuk garansi bank, bukan
merupakan Kreditor separatis. Dikatakan separatis yang berkonotasi
“pemisahan” karena kedudukan Kreditor tersebut memang dipisahkan dari
Kreditor lainnya, dalam arti Kreditor dapat menjual sendiri dan mengambil
sendiri dari hasil penjualan, yang terpisah dengan harta pailit umum.
2. Kreditor Preferen. Hak istimewa yang dimiliki oleh Kreditor preferen
adalah hak yang bersumber dari Undang-Undang yang diberi-kan kepada
seorang Kreditor sehingga tingkat Kreditor tersebut lebih tinggi daripada
Kreditor lainnya (Kreditor Konkuren), semata-mata berdasarkan sifat
piutang Kreditor tersebut (Pasal 1134 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata). Kreditor preferen adalah Kreditor yang piutangnya mempunyai
59
kedudukan istimewa. Artinya Kreditor tersebut mempuyai hak untuk
mendapatkan pelunasan terlebih dahulu dari hasil penjualan harta pailit.
Kreditor preferen merupakan Kreditor yang pelunasan piutangnya
didahulukan dari Kreitor separatis dan konkuren dalam proses kepailitan.
Kreditor preferen adalah yang tertinggi dibandingkan Kreditor lainnya,
kecuali undang-undang me-nentukan lain. Kreditor tersebut adalah
sebagaimana yang diatur dalam ketentuan:
1) Pasal 1139 Kitab Undang – undang Hukum Perdata, misal-nya hak
retensi;
2) Pasal 1149 Kitab Undang – undang Hukum Perdata. Bahwa biaya-biaya
perkara semata-mata disebabkan pelelangan dan penyelesaian suatu
warisan;
3) Undang Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan Psl 21. Bahwa utang pajak lebih tinggi dari utang
lain termasuk utang dengan jaminan.
4) Undang Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 95
ayat (4). Bahwa tagihan yang merupakan hak-hak pekerja lebih tinggi
kedudu-kannyaa dari tagihan biasa termasuk tagihan yang dijamin
dengan jaminan utang. Akan tetapi menurut Pasal 1149 Kitab Undang –
undang Hukum Perdata, kedudukannya di bawah Kreditor separatis.
3. Kreditor Konkuren. Kreditor konkoren adalah Kreditor yang tidak termasuk
golongan Kreditor sepa-ratis atau golongan Kreditor preferen. Pelunasan
60
piutang mereka dicukup-kan dari hasil penjualan/pelelangan harta pailit
sesudah diambil bagian golongan separatis dan preferen. Hasil penjualan
harta pailit dibagi menurut golongan imbangan besar kecilnya piutang
Kreditor konkuren. Kreditor Konkuren merupakan Kreditor yang tidak
memegang agunan dan yang tidak mempunyai hak istimewa serta yang
tagihannya tidak diakui atau diakui secara bersyarat)40
2.5. Pengertian Kreditur Separatis
Hukum jaminan mengenal istilah “kreditur separatis”, dikatakan “separatis”
yang berkonotasi “pemisahan” karena kedudukan kreditur tersebut memang
dipisahkan dari kreditur lainnya, dalam arti kreditur dapat menjual sendiri dan
mengambil sendiri dari hasil penjualan, yang terpisah dengan harta pailit pada
umumnya. Menurut hukum separatis diartikan bahwa “dalam hal adanya
kepailitan ada penagih yang berhak mendahului menagih piutangnya”. 41
Selanjutnya menurut Setiawan, hak separatis adalah hak yang diberikah oleh
hukum kepada kreditur pemegang hak jaminan, bahwa barang jaminan
(agunan) yang dibebani dengan hak jaminan (hak agunan) tidak termasuk harta
pailit”.42 Menurut Elijana, kreditor separatis adalah kreditur yang tidak terkena
akibat kepailitan, artinya para kreditur separatis tetap dapat melaksanakan hak-
hak eksekusinya meskipun debiturnya telah dinyatakan pailit. 43 Karena hak
40
Kartini Mulyadi dan Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan,
?
Cetakan Ke-I (Jakarta: Rajagrafindo, 2003) hal.
41 ?
HS. Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta : RajawaliPress, 2017)
hal.40
42 ?
Ibid. hal.40
43 ?
Opcit. hal. 39
61
separatis adalah hak yang diberikan oleh hukum kepada kreditur pemegang
jaminan, bahwa barang jaminan (agunan) yang dibebani hak jaminan (agunan)
adalah tidak termasuk harta pailit, tentunya bertujuan untuk memberikan
perlindungan kepada kreditur manakala debitur pailit.
Munir Fuady bahwa kreditur separatis adalah kreditur yang memiliki
jaminan hutang kebendaan (hak jaminan), seperti pemegang hak tanggungan,
hipotik, gadai, fidusi dan lain-lain (Pasal 55 Undang-undang Nomor 34 Tahun
2007 tenang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Utang). Kreditur dengan
jaminan yang bukan jaminan kebendaan yang (seperti garansi termasuk garansi
bank) bukan merupakan kreditur separatis.44 Pemahaman yang dimaksudkan
dengan hak kreditur separatis adalah hak yang diberikan oleh hukum kepada
kreditur pemegang hak jaminan yang tetap dapat melaksanakan hak-hak
eksekusinya meskipun debitur telah dinyatakan pailit.
Dalam lien theory (teori hukum jaminan) yang menyebutkan bahwa dengan
adanya suatu perjanjian jaminan, hanya menimbulkan suatu hak jaminan dan
tidak terjadi suatu pengalihan hak milik dari pihak debitor kepada pihak
kreditor. Jadi, apabila debitor pemberi jaminan kebendaan mengalami
kepailitan, menurut teori hukum jaminan tersebut, maka benda jaminan berada
di luar boedel kepailitan atau seolah – olah tidak terjadi kepailitan.45
Selanjutnya terhadap hak kreditur separatis dalam hukum jaminan yang
diikat dengan jaminan fidusia diatur pada Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang
44 ?
Kartini Mulyadi dan Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan,
Cetakan Ke-I (Jakarta: Rajagrafindo, 2003) hal 40
45 ?
Ny. Sri Soedewi Masjchoen, Hukum Jaminan Di Indonesia, Cetakan ke-5. (Yogyakarta:
Liberty Offset, 2011), Hal 33.
62
Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yang dinyatakan sebagai
berikut: “Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena
adanya kepailitan dan atau likuidasi”.
2.5.1. Kedudukan Kreditor Separatis Dalam Kepailitan
Terhadap Upah Buruh.
Kreditor yang memiliki jaminan kebendaan dalam hukum Kepailitan
diklarifikasikan sebagai kreditor separatis. Dikatakan “separatis” yang
berkonotasi Pemisahan, karena kedudukan kreditor tersebut memang
dipisahkan dari kreditor lainnya, dalam arti ia dapat menjual benda sendiri dan
mengambil sendiri dari hasil penjualan yang terpisah dengan harta pailit pada
umumnya.46
Kreditor pemegang hak jaminan ini karena sifatnya pemilik suatu hak yang
dilindungi secara ‘super’ preferen dapat mengeksekusi seolah-olah tidak terjadi
kepailitan, karena dianggap separatis (berdiri sendiri).47
Menurut ketentuan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan
PKPU: Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, setiap Kreditor pemegang gadai, jaminan
fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya,
dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Pasal tersebut
memberikah hak kreditor separatis untuk mengeksekusi benda jaminannya
untuk mendapatkan pelunasan piutangnya seolah-olah tidak terjadi kepailitan.
46 ?
Munir Fuady, Hukum Pailit: Dalam Teori dan Praktik, (Bandung: Citra Adityabakti,
2005,) hlm. 105.
47 ?
Sudargo Gautama, Komentar Atas Peraturan Kepailitan Baru untuk Indonesia, Citra
Aditya Bhakti, Bandung: 1998,.hlm. 78.
63
Kreditor separatis harus melaksanakan haknya untuk mengeksekusi harta
jaminan dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah dimulainya
keadaan insolvensi. (Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU).
Apabila setelah lewat jangka waktu tersebut kreditor separatis tidak dapat
mengeksekusi harta jaminannya, kurator harus menuntut diserahkannya benda
yang menjadi jaminan untuk selanjutnya dijual tanpa mengurangi hak kreditor
separatis atas hasil penjualan benda jaminan tersebut (Pasal 59 ayat (2)
Undang-Undang Kepailitan dan PKPU).
Didalam kepailitan kreditor separatis mendapat posisi pertama dalam
pelunasan piutang terhadap benda dibebankan hak jaminan, setelahnya tagihan
kreditor preferan lalu tagihan kreditor konkuren. Alasan mengapa kedudukan
kreditor separatis lebih tinggi daripada pemegang kreditor preferen adalah
karena pada asasnya kehendak dari para pihak lebih diutamakan. Karena, yang
berasal dari perjanjian kedudukannya lebih unggul daripada yang diberikan
oleh Undang-Undang.48
Pada tanggal 11 September 2014 Mahkamah Konstitusi mengeluarkan
Putusan Nomor 67/PUU-XI/2013 yang menafsirkan kata “didahulukan
pembayarannya” yang terdapat dalam Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagaimana berikut: “Dalam
hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan
perUndang-Undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari
pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya”.
48
Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009) hlm.
82.
64
Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 67/PUU-XI/2013 yang
menempatkan “pembayaran upah buruh yang terhutang didahulukan atas
semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis”.
Apabila harta jaminan dieksekusi sendiri oleh kreditor separatis
berdasarkan Pasal 55 ayat (1) jo. Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan
dan PKPU, maka biaya lelang dan pajak penjualan objek jaminan akan
ditanggung oleh kreditor separatis. Bilamana masih terdapat sisa hasil
penjualan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) Undang-Undang
Kepailitan dan PKPU, atau karena aset debitor pailit tidak seluruhnya
dijaminkan kepada kreditor separatis sehingga masih terdapat harta pailit yang
lain, maka sisa hasil penjualan atau harta pailit yang lain tersebut akan
dibayarkan kepada para kreditor dengan urutan sebagai berikut:49
1) Imbalan Jasa Kurator dan Biaya Kepailitan. Dasar hukum Pasal 191
Undang-Undang Kepailitan;
2) Upah Buruh. Dasar hukum Putusan Nomor 67/PUU-XI/2013
3) Utang Pajak. Dasar Hukum Pasal 21 Undang-Undang Tata Cara
Perpajakan;
4) Kreditor pemegang hak istimewa khusus. Yang termasuk dalam kreditor
golongan ini disebutkan dalam Pasal 1139 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata angka 1 sampai 9, dengan ketentuan Pasal 1139 angka 1 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata berkedudukan diatas kreditor separatis
49
Andika Wijaya, Penanganan Perkara Kepailitan dan Perkara Penundaan Pembayaran
Secara Praxis, Cetakan Ke- I (Bandung: Citra Adityabakti, 2017) hal 61
65
yaitu sebagai biaya kepailitan. Dasar hukum Pasal 1138 jo. Pasal 1139
Kitab Undang – undang Hukum Perdata;
5) Kreditor pemegang hak istimewa umum. Yang termasuk dalam kreditor
golongan ini disebutkan dalam Pasal 1149 Kitab Undang – undang Hukum
Perdata angka 1 sampai 7, dengan ketentuan Pasal 1149 angka 1 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata berkedudukan di atas kreditor separatis
yaitu sebagai biaya kepailitan. Dasar hukum Pasal 1138 jo. 1149 Kitab
Undang – undang Hukum Perdata;
6) Kreditor konkuren. Dasar hukum Pasal 1132 Kitab Undang – undang
Hukum Perdata.