0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan9 halaman

Penggunaan APD dan Penyakit Kulit Nelayan

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan keluhan penyakit kulit pada nelayan di Kelurahan Bagan Deli. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan sepatu boot dan pelindung kepala dengan keluhan penyakit kulit, sementara penggunaan sarung tangan dan baju pelindung tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penekanan pada pentingnya penggunaan APD yang tepat diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit kulit di kalangan nelayan.

Diunggah oleh

Rifqii 8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan9 halaman

Penggunaan APD dan Penyakit Kulit Nelayan

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan keluhan penyakit kulit pada nelayan di Kelurahan Bagan Deli. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan sepatu boot dan pelindung kepala dengan keluhan penyakit kulit, sementara penggunaan sarung tangan dan baju pelindung tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penekanan pada pentingnya penggunaan APD yang tepat diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit kulit di kalangan nelayan.

Diunggah oleh

Rifqii 8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal.

1-9
DOI: [Link]

HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DENGAN


KELUHAN PENYAKIT KULIT PADA NELAYAN DI KELURAHAN BAGAN
DELI

Syafina Aisyah *1
Syafran Arrazy 2

1,2 UIN
Sumatera Utara
*e-mail: Syafinaaisyah11@[Link] 1, syafranarrazy@gmail.com2

Abstrak
Salah satu penyakit akibat kerja terbesar adalah dermatosis. Presentase dermatosis akibat kerja dari seluruh
penyakit akibat kerja menduduki porsi tertinggi sekitar 60-50 %. Penyakit Kulit Akibat Kerja (PKAK)
menduduki peringkat kedua terbanyak setelah penyakit musculoskeletal, dengan jumlah sekitar 22% dari
seluruh penyakit akibat kerja. Jenis penelitiaan ini bersifat survei analitik dengan desain studi cross-sectional.
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner dan diolah dengan menggunakan aplikasi
SPSS. Analisis data menggunakan uji chi square. Besar sampel pada penelitian ini berjumlah 85 nelayan.
Terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan sepatu boot (P-value 0,040) dan penggunaan
pelindung kepala (P-value 0,020), namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan
sarung tangan (P-value 0.268) dan baju pelindung (P-value 0.362). Nelayan harus selalu memperhatikan
keselamatan dan kesehatan selama bekerja, khususnya untuk penyakit akibat kerja seperti dermatosis
(penyakit kulit) pada nelayan, dapat diminimalisir dengan cara menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang
baik dan benar.

Kata Kunci : Penyakit Kulit, Nelayan, Alat Pelindung Diri

Abstract
One of the biggest occupational diseases is dermatosis. The percentage of occupational dermatoses from all
occupational diseases occupies the highest portion of around 60-50%. Occupational Skin Disease ranks the
second highest after musculoskeletal disease, with around 22% of all occupational diseases. This type of
research is analytic survey with cross-sectional study design. Data collection in this study using a questionnaire
and processed using the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) application. Data analysis using chi
square test. The sample size in this study amounted to 85 fishermen. There is a significant relationship between
the use of boots (P-value 0.040) and the use of protective headgear (P-value 0.020), but there is no significant
relationship between the use of gloves (P-value 0.268) and protective clothing (P-value 0.362) . Fishermen must
always pay attention to safety and health during work, especially for occupational diseases such as dermatosis
(skin diseases) for fishermen, which can be minimized by using good personal protective equipment (PPE).

Keywords: Skin Disease, Fishermen, Personal Protective Equipmen

PENDAHULUAN
Nelayan sebagai kelompok pekerja informal yang termasuk dalam kelompok pekerja yang
berisiko terkena penyakit akibat kerja. Faktor risiko penyakit akibat kerja pada nelayan banyak
disebabkan oleh faktor lingkungan kerja. Faktor lingkungan fisik seperti suhu, kelembaban dan
kondisi basah dapat menyebabkan penyakit kulit akibat kerja (Roestijawati, Ernawati, Wicaksana,
& Krisnansari, 2017).
Penyakit Kulit Akibat Kerja (PKAK) menduduki peringkat kedua terbanyak setelah
penyakit musculoskeletal, dengan jumlah sekitar 22% dari seluruh penyakit akibat kerja. Data
inggris menunjukkan 1,29 kasus per 1000 pekerja merupakan dermatitis akibat kerja. Apabila
ditinjau dari jenis penyakit akibat kerja, lebih dari 95% merupakan dermatitis kontak, sedangkan
yang lainnya merupakan penyakit kulit lainnya (Anies, 2014).
Salah satu penyakit akibat kerja terbesar adalah dermatosis. Presentase dermatosis akibat
kerja dari seluruh penyakit akibat kerja menduduki porsi tertinggi sekitar 60-50 %, maka dari itu
penyakit ini pada tempatnya mendapatkan perhatian yang proporsional. Selain prevalensi yang
tinggi, dermatosis akibat kerja yang kelainannya biasanya terdapat di lengan, tangan dan jari yang

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 1
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

sangat mengganggu penderita melakukan pekerjaan sehingga berpengaruh terhadap


produktivitas kerjanya (Suma’mur, 2013).
Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2013, 1 pekerja di dunia
meninggal setiap 15 detik karena kecelakaan kerja dan 160 pekerjamengalami penyakit akibat
kerja. Penelitian surveilans di Amerika menyebutkan bahwa 80 penyakit kulit akibat kerja adalah
dermatitis kontak. Diantara dermatitis kontak, dermatitis kontak iritan menduduki urutan
pertama dengan 80% dan dermatitis kontak alergi menduduki urutan kedua dengan 14%- 20%
(Safiah, Asfian, & Teguh, 2016).
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018 menunjukan bahwa distribusi pasien rawat jalan
di rumah sakit Indonesia dengan golongan sebab penyakit kulit adalah terdapat sebanyak
115.000 jumlah kunjungan dengan 64.557 kasus baru. Tahun 2011 penyakit kulit menjadi
peringkat ketiga dari sepuluh penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit se-
Indonesia yakni sebanyak
192.414 jumlah kunjungan dengan 48.576 kasus baru. Hal ini menunjukan bahwa
penyakit kulit semakin berkembang dan dominan terjadi di Indonesia terutama pada pekerja
(Andriani, Hudayah, & Hasmina, 2020).
Berdasarkan data kesehatan tahun 2012, penyakit kulit menduduki urutan ketiga setelah
infeksi saluran nafas atas dan hipertensi diseluruh rumah sakit indonesia ( Ditjen Bina Upaya
Kesehatan Kemenkes RI 2012). Pada profile Dinas Kesehatan Kota Medan Tahun 2018
menujukkan bahwa penyakit kulit alergi termasuk 7 dari 10 penyakit terbesar di Kota Medan
(Profile Dinkes Kota Medan, 2018).
Menurut data bulanan Pos Upaya Keselamatan Kerja (UKK) wilayah kerja Puskesmas
Belawan yang terletak di Bagan Deli, rata-rata penyakit akibat kerja yang diderita nelayan yaitu
penyakit dermatitis. Penyakit dermatitis pada nelayan yang tercatat di bulan maret tahun 2019
sebesar 4 nelayan dengan keluhan gatal-gatal seluruh badan dan mengalami peningkatan di bulan
april tahun 2019 yaitu sebesar 9 nelayan.
Berdasarkan laporan kegiatan upaya kesehatan masyarakat promotif dan preventif UPT
Puskesmas Belawan Tahun 2019, masih banyak nelayan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri
(APD) saat bekerja. Alat Pelindung Diri (APD) termasuk salah satu faktor dari tingginya angka
penyakit kulit pada nelayan di Bagan Deli. Banyak nelayan di Bagan Deli mengalami alergi pada
kulit seperti gatal-gatal, adanya gelembung- gelembug kecil dan kemerahan pada kulit. Rata- rata
keluhan alergi kulit yang dirasakan nelayan terletak pada bagian kaki dan tangan.
Berdasarkan data kesakitan (LB1) Puskesmas Pembantu yang terletak dibagan deli,
tercatat dari tahun 2019 sampai tahun 2020 terdapat angka penyakit kulit pada nelayan yang
diakibatkan alergi. Pada Tahun 2019 dari bulan Januari sampai bulan Juli angka penyakit kulit
diakibatkan alergi sebesar 31 orang dan pada Tahun 2020 di bulan Januari terdapat angka
penyakit kulit diakibatkan alergi sebesar 4 orang.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Roestijawati dkk tahun 2017, tingginya prevalensi
dermatitis pada nelayan dapat disebabkan kurangnya prilaku menggunakan APD. Hanya 15%
nelayan menggunakan APD berupa sarung tangan dan sepatu boot. Hasil penelitian Amelia (2019)
menujukkan adanya hubungan signifikan penggunaan APD pada nelayan dengan kejadian
dematitis (Amelia, 2016).
Bedasarkan survei awal yang dilakukan peneliti pada 10 orang nelayan di Kelurahan
Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan terdapat 3 orang nelayan hanya menggunakan penutup
kepala, 1 orang nelayan hanya menggunakan baju pelindung, 3 orang nelayan menggunakan baju
pelindung dan penutup kepala, 2 orang nelayan menggunakan sarung tangan dan penutup kepala
serta 1 orang nelayan menggunakan sarung tangan, peuntup kepala dan baju pelindung. Adapun
keluhan penyakit kulit yang dirasakan oleh nelayan seperti gatal-gatal, kemerahan pada kulit,
kulit bersisik dan kering, adanya gelembung-gelembung kecil, kulit pecah-pecah dan penebalan
pada kulit. Keluhan penyakit kulit pada nelayan rata- rata berada di tangan, sela-sela jari dan
telapak kaki Penggunaan Alat pelindung diri (APD) sangat penting untuk mencegah terjadinya
penyakit kulit.

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 2
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

METODE
Jenis penelitiaan ini bersifat survei analitik dengan desain studi cross-sectional, Penelitian
ini dilakukan di Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret- April 2020. Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh nelayan yang ada di Kelurahan Bagan Deli yaitu sejumlah 1495 nelayan. Pada penelitian
ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Accidental Sampling. Jenis data
dalam penelitian ini adalah nominal baik variabel independen maupun variabel dependen nya.
Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang berisikan tentang
karakteristik responden, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan keluhan penyakit kulit pada
nelayan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Gambaran Karakteristik Nelayan

Variabel N % 95% CI
Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah 4 4.7 1.2-9.4
SD 37 43.5 34.1-51.8
SMP 24 28.2 20.0-36.5
SMA 19 22.4 14.1-32.5
Perguruan Tinggi 1 1.2 0.0-4.7

Usia (Tahun)
Mean (95% CI) SD Minimum Maksimum
38.49 (35.31-40.82) 9.817 22 60
Masa Kerja (Tahun)
Mean (95% CI) SD Minimum Maksimum
19.18 (15.37-22.00) 11.699 1 40
Jam Kerja (Jam)
Variabel N % 95% CI
Mean (95% CI) SD Minimum Maksimum
9.13 (7.89-10.14) 5.115 4 24
Mencuci tangan setelah bekerja
Ya 85 100 100.0-100
Tidak 0 0 0.0-0.0
Membersihkan sela- sela jari tangan
Ya 85 100 100.0-100
Tidak 0 0 0.0-0.0
Mencuci tangan dengan sabun
Ya 64 75.3 64.9-84.5
Tidak 21 24.7 15.5-35.1

Mencuci tangan dengan air mengalir


Ya 51 60.0 46.5-70.2
Tidak 34 40.0 29.8-53.5

Mencuci kaki setelah bekerja


Ya 85 100 100.0-100
Tidak 0 0 0.0-0.0

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 3
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

Membersihkan sela- sela jari kaki


Ya 85 100 100.0-100
Tidak 0 0 0.0-0.0
Mencuci kaki dengan sabun
Ya 62 72.9 63.7-81.2
Tidak 23 27.1 18.8-36.3

Mencuci kaki dengan air mengalir


Ya 51 60.0 46.5-70.2
Tidak 34 40.0 29.8-53.5

Mandi setelah bekerja


Ya 47 55.3 44.9-66.7
Tidak 38 44.7 33.3-55.1

Jumlah mandi dalam sehari


≥ 2 kali sehari 85 100 100.0-10 0
< 2 kali sehari 0 0.0 0.0-0.0

Pada tabel 1, karakteristik nelayan berada pada kategori pendidikan yangrendah, dengan
rata-rata usia, masa kerja, dan jam kerja berturut-turut 38.49 tahun(95% CI= 35.31-40.82), 19.18
tahun (95% CI= 15.37-22.00), 9.13 jam (95% CI=7.89-10.14). Mayoritas nelayan sudah berada
pada personal hygiene yang baik. Hal ini dapat terlihat pada seluruh indikator, lebih dari setengah
sudah menerapkan personal hygiene yang baik.
Tabel 2. Gambaran Pemakaian Alat Pelindung Diri

Variabel N % 95% CI
Menggunakan sarung tangan saat bekerja
Ya 23 27.1 18.8-36.5
Tidak 62 72.9 63.5-81.2

Menggunakan sepatu boot


Ya 20 23.5 15.5-34.9
Tidak 65 76.5 65.1-84.5

Menggunakan pakaian pelindung saat bekerja


Ya 22 25.9 17.9-35.1
Tidak 63 74.1 64.9-82.1

Menggunakan penutup kepala saat bekerja


Ya 53 62.4 49.6-74.7
Tidak 32 37.6 25.3-50.4

Pada tabel 2, mayoritas nelayan jarang menggunakan sarung tangan, sepatu boot dan baju
pelindung. Namun, nelayan lebih banyak menggunakan penutup kepala yaitu sebesar 62.4%.
Nelayan yang tidak menggunakan alat pelindung diri lebih mungkin menerima paparan terhadap
risiko yang lebih tinggidibandingkan yang menggunakan alat pelindung diri.
Tabel 3. Gambaran Keluhan Penyakit Kulit

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 4
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

Variabel N % 95% CI
Mengalami Keluhan Penyakit Kulit
Ya 36 42.4 30.8-54.9
Tidak 49 57.6 45.1-69.2

Kulit bersisik dan kering


Ya 21 24.7 14.1-35.1
Tidak 64 75.3 64.9-85.9

Bercak pada kulit (bercak putih, coklat dan merah)


Ya 26 30.6 21.2-39.8
Tidak 59 69.4 60.2-78.8

Rasa gatal-gatal
Ya 36 42.4 30.8-54.9
Tidak 49 57.6 45.1-69.2

Ada gelembung- gelembung kecil


Ya 17 20.0 9.6-29.4
Tidak 68 80.0 70.6-90.4

Lama Keluhan Kulit (Bulan)


Mean (95% CI) SD Minimum Maksimum
18.42 (14.49-25.06) 15.068 2 60
Perasaan Terhadap Gangguan Kulit
Terganggu 23 63.9 44.4-83.3
Biasa Saja 13 36.1 16.7-55.6

Pada tabel 3, separuh nelayan yang diobservasi mengalami gangguan kulit. Jenis gangguan
kulit terbanyak pada rasa gatal-gatal dibandingkan dengan jenis gangguan kulit lainnya sebesar
42.4%. Lama gangguan kulit yang dirasakan responden rata-rata paling cepat 2 bulan dan paling
lama 60 bulan. Mayoritas responen merasa terganggu terhadap keluhan penyakit kulit yaitu
sebesar 63.9%.

Tabel 4. Hubungan Penggunaan Sepatu Boot dengan Keluhan Penyakit Kulit

Penggunaan Sepatu Keluhan Kulit OR (95% CI) p


Boot Ya (%) Tidak (%)
Tidak Menggunakan 32 (49,2%) 33 (50,8%)1,232 (0,346-4,389) 0,040
Menggunakan 4 (20,0%) 16 (80,0%)

Pada tabel 4. terdapat hubungan antara penggunaan sepatu boot terhadapgangguan kulit
pada nelayan p=0,040 dengan OR= 1,232 (95% CI=0,346-4,389).

Tabel 5. Hubungan Penggunaan Sarung Tangan dengan KeluhanPenyakit Kulit

Penggunaan Sarung Keluhan Kulit OR (95% CI) p

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 5
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

Tangan Ya (%) Tidak (%)


Tidak Menggunakan 29 33 (53,2%)2,009 (0,725-5,563) 0,268
(46,8%)
Menggunakan 7 (30,4%) 16 (69,6%)

Pada tabel 5, tidak terdapat hubungan antara penggunaan sarung tangan terhadap
gangguan kulit pada nelayan p=0,268.

Tabel 6. Hubungan Penggunaan Pakaian Pelindung dengan KeluhanPenyakit Kulit

Penggunaan Pakaian Keluhan Kulit OR (95% CI) p


Pelindung Ya (%) Tidak (%)
Tidak Menggunakan 29 (46,0%) 34 (54,0%)1,828 (0,656-5,093) 0,362
Menggunakan 7 (31,8%) 15 (68,2%)

Pada tabel 6, tidak terdapat hubungan antara penggunaan baju pelindung terhadap
gangguan kulit pada nelayan p=0,362.

Tabel 7. Hubungan Penggunaan Pelindung Kepala dengan Keluhan Penyakit Kulit

Penggunaan Penutup Keluhan Kulit OR (95% CI) p


Kepala Ya (%) Tidak (%)
Tidak Menggunakan 19 (59,4%) 13 (40,6%)3,095 (1,244-7,699) 0,025
Menggunakan 17 (32,1%) 36 (67,9%)

Pada tabel 7, terdapat hubungan antara penggunaan penutup kepala terhadap gangguan
kulit pada nelayan p=0,025 dengan OR=3,095 (95% CI=1,244-7,699).
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan alat yang berfungsi untuk melindungi sebagian
maupun seluruh tubuh pekerja dari paparan potensi bahaya yang ada dilingkungan kerja yang
mengakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Secara teknis pelindung diri tidaklah dapat
melindungi tubuh secara sempurna terhadap potensi bahaya, namun dapat memungkinkan
menurunkan risiko terjadinya penyakit akibat kerja (Yenni,2020).
Berdasarkan hasil penelitian, nelayan paling banyak menggunakan alat pelindung kepala
selama bekerja yaitu sebesar 62.4% dan yang paling jarang menggunakan sepatu boot yaitu
sebesar 23,5%. Mayoritas nelayan jarang menggunakan sarung tangan, sepatu boot dan baju
pelindung. Namun, nelayan lebih banyak menggunakan penutup kepala. Nelayan yang tidak
menggunakan alat pelindung diri lebih mungkin menerima paparan terhadap risiko yang lebih
tinggi dibandingkan yang menggunakan alat pelindung diri. Masih banyak nelayan di kelurahan
Bagan Deli yang tidak mengetahui pentingnya menggunakan alat pelindung diri saat bekerja
Hasil penelitian Ratnaningsih (2020) menunjukkan bahwa dari 63 responden yang
memakai APD dan menderita dermatitis sebanyak 4,8% dan responden memakai APD tidak
menderita dermatitis sebanyak 95,2%, sedangkan responden tidak memakai APD dan
menderita dermatitis sebanyak 49,0% dan responden tidak memakai APD dan tidak menderita
dermatitis sebanyak 51,0%.
Masih banyak nelayan di Bagan Deli yang tidak mengetahui pentingnya penggunaan alat
pelindung diri yang baik dan benar, mereka hanya menggunakan alat pelindung seadanya saja.
Nelayan merasa tidak nyaman menggunakan alat pelindung diri saat bekerja. Nelayan justru lebih
nyaman apabila tidak menggunakan alat pelindung diri saat bekerja. Nelayan di Bagan Deli
biasanya menggunakan sarung tangan tebal berwarna putih, sepatu boot karet, topi.
Di Bagan Deli terdapat Pos Usaha Keselamatan Kerja (UKK), dimana sasaranya yaitu
nelayan, sebanyak 20 lebih nelayan sudah bergabung di Pos UKK. Kegiatan Pos UKK yaitu
melakukan skrining kesehatan setiap bulannya dan melakukan penyuluhan keselamatan dan

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 6
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

kesehatan nelayan. Adapun kegiatan membagikan Alat Pelindung Diri kepada nelayan dengan
tujuan agar menurunkan risiko penyakit akibat kerjanelayan.
Berdasarkan laporan kegiatan upaya kesehatan masyarakat promotif dan preventif UPT
Puskesmas Belawan Tahun 2019 terdapat beberapa masalah yang dialami nelayan yaitu masih
banyak nelayan yang sakit, kurangnya pengetahuan nelayan tentang bahaya risiko penyakit akibat
kerja, masih banyak nelayan yang tidak mengetahui penyakit apa saja yang bisa ditimbulkan
akibat kerja, kurangnya pengetahuan nelayan tentang penyakityang diderita dan masih kurangnya
kesadaran nelayan dalam menggunakanAlat Pelindung Diri (APD) saat bekerja. Sedangkan pada
tahun 2020 di bulan januari terdapat masalah yaitu masih banyak nelayan yang kurang paham
tentang menjaga kesehatan saat bekerja.
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada nelayan merupakan bagian dari maqoshidu
syariah, yaitu hifdzun nafs (menjaga jiwa). Sebagaisalah satu lima hal yang harsu dijaga, hifdzu nafs
mempunyai peranan penting dalam menjaga kemaslahatan hidup manusia.
Hadis Rasulullah tentang Alat Pelindung Diri (APD) dalam Q.S Al-An’amayat 17
Artinya : Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada
yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu,
maka Dia Maha Kuasa atas tiap- tiap sesuatu (Q.S Al-An’am : 17).
Ayat ini menjelaskan, jika Allah melimpahkan suatu kemudharatan kepadamu, baik di
dunia ini apalagi diakhirat, maka tidak ada yang menghilangkannya, yakni menghindarkan
mudharat itu dalam bentuk apapun, melainkan dia sendiri. Dan sebaiknya, jika dia menyentuhkan,
yakni menaganugerahkan, kebaikan kepadamu kapanpun Dia menghendakinya, maka tidak
satupun yang dapat menghalangi datangnya anugerah itu kepadamu karena Dia Mahakuasa atas
setiap sesuatu.
Ada berbagai kemudharatan yang didapat nelayan apabila neyalan tidak menggunakan
Alat Pelindung Diri, salah satunya dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. Masih banyak
nelayan yang tidak mau menggunakanAlat Pelindung Diri saat bekerja, sehingga nelayan terpapar
dari berbagai faktor yang dapat menimbulkan keluhan penyakit kulit pada nelayan. Tidakada yang
bisa meminimalisir terjadinya keluhan penyakit kulit pada nelayan di Kelurahan Bagan Deli,
kecuali nelayan itu sendiri yang mau mengubah prilaku nya untuk selalu menggunakan Alat
Pelindung Diri yang baik dan benar saat bekerja.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada nelayan di Kelurahan Bagan Deli,
dapat disimpulkan bahwa : Karakteristik nelayan berada pada kategori pendidikan yang rendah,
dengan rata-rata usia, masa kerja, dan jam kerja berturut-turut 38.49 tahun, 19.18 tahun, 9.13
jam. Mayoritas nelayan sudah berada pada personal hygiene yang baik. Mayoritas nelayan jarang
menggunakan sarung tangan, sepatu boot dan baju pelindung. Namun, nelayan lebih banyak
menggunakan penutup kepala yaitu sebesar 62.4%. Separuh nelayan yang diobservasi mengalami
gangguan kulit. Jenis gangguan kulit terbanyak pada rasa gatal-gatal dibandingkan dengan jenis
gangguan kulit lainnya sebesar 42.4%. Lama gangguan kulit yang dirasakan responden rata- rata
paling cepat 2 bulan dan paling lama 60 bulan. Mayoritas responen merasa terganggu terhadap
keluhan penyakit kulit yaitu sebesar 63.9%.

UCAPAN TERIMA KASIH (Bila Perlu)


Penulis mengucapkan terima kasih kepada xxx yang telah memberi dukungan financial
terhadap pengabdian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, F., Santi, D. N., & Chahaya, I. (2012). Hubungan Hygiene perorangan dan Pemakaian Alat
Pelindung Diri Dengan Keluhan Gangguan Kulit Pada Pekerja Pengupas Udang Di
Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan, 1–9.

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 7
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

Almasdi Syahza, Suwondo, Bahruddin, D. (2017). Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Secara
Terpadu. Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (LPPM) Universitas
Riau.
Amelia, A. (2016). Gambaran Kejadian Dermatitis Kontak Pada Nelayan di Desa Pasar Banggi
Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang.
Andriani, R., Hudayah, N., & Hasmina. (2020). Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
dengan Keluhan Penyakit Kulit Pada Pekerja Daur Ulang Sampah Plastik Kamboja
Kecamatan Wolio Kota Baubau, 3(2), 69–75.
Andriyanto, M. R. (2017). Hubungan Predisposing Factor Dengan Perilaku Penggunaan Apd. The
Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 6(1), 37.
[Link]
Anggraitya Dhera, S. F. (2017). Hubungan Karakteristik Pekerja, Kelengkapan Dan Higienitas Apd
Dengan Kejadian Dermatitis Kontak (Studi Kasus Di Rumah Kompos Jambangan
Surabaya). The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 6(1), 16.
[Link]
Anies. (2014). Kedokteran Okupasi Berbagai Penyakit Akibat Kerja dan Upaya Penanggulangan
dari Aspek Kedokteran. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.
Buntarto. (2015). Panduan Praktis Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Industri.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Cahyawati, I., & Budiono, I. (2011). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis pada
Nelayan. KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(2), 134–141.
[Link]
Cahyawati, I. N. (2010). Dermatitis pada Nelayan yang Bekerja di Tempat Pelelangan Ikan ( Tpi )
Tanjungsari. Universitas Negeri Semarang. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.
Fattah, N., & Mallongi, A. (2018). Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan
Kejadian Penyakit Kulit pada Pasien di Puskesmas Tabaringan Makassar Nurfachanti
Fattah || Anwar Mallongi || Arman.
febriyani Bahar, Rismayanti, I. D. (2015). Determinan Dermatitis pada Nelayan di Puskesmas
Tempe. Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanudin.
Hamzah, S. (2012). Factors that Corelation to The Incidence of Occupational Contact Dermatitis
on the Workers of Car Washes in Sukarame Village Bandar Lampung City `. Faculty of
Medicine Lampung University, ISSN 2337-, 45–55. Retrieved from
[Link]
t=8&ved=0ahUKEwjcjLjTqJPPAhXLQpQKHUL5AvUQFgglMAE&url=[Link]
[Link]/wp-content/uploads/2016/05/6-Dona-Rozalia-
[Link]&usg=AFQjCNHxaNddA2Ms1jZ0m6Dw9IZLVdbMwQ&bvm=bv.133178914,d.
Han, S. K. (2016). Innovations and Advances in Wound Healing Second Edition. USA : Springer-
Verlag Berlin Heidelberg New York.
Hastono, S. P. (2016). Analisis Data Pada Bidang Kesehatan. (R. Pers, Ed.) (1st ed.). Depok. Herlina,
V. (2019). Panduan Praktis Mengolah Data Kuesioner Menggunakan SPSS. jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
Hulu, V. T., & Sinaga, T. R. (2019). Analisis Data Statistik Parametrik. (J. Sinarmata, Ed.).
Medan: Yayasan Kita Menulis.
Khoinur, H. F. (2019). Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri Terhadap Penyakit Kulit
(Deramtosis) Pada Nelayan Di Desa Bogak Kabupaten Batu Bara. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Kuswana, W. S. (2017). Ergonomi dan K3. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 8
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 1, No. 1 Oktober 2023, Hal. 1-9
DOI: [Link]

Lagata, F. S. (2015). Gambaran Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (Apd) Pada Pekerja Di
Departemen Produksi Pt. Maruki Internasional Indonesia Makassar Tahun 2015. Acta
Universitatis Agriculturae et Silviculturae Mendelianae Brunensis. Universitas Islam
Negeri Alauddin Makassar. [Link]
Mausulli, A. (2010). Faktor-faktor yang berhubungan dermatitis kontak iritan pada pekerja
pengolahan sampah di TPA Cipayung kota Depok tahun 2010.
Mubarok, M. S., Halimi, A., & Pamungkas, M. I. (n.d.). Nilai-Nilai Pendidikan dalam Al-Quran Surah
Al-Maidah Ayat 32 tentang Hifdzun Nafs, (2), 198–203.
Nurmaningtias, A. A. (2016). Gambaran Kejadian Dermatitis Kontak Pada Nelayan Di Desa Pasar
Banggi Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang. Program Studi Kesehatan Masyarakat
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran.
Nuryadi, A. R. (2017). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Keselamatan dam Kesehatan
Kerja di Pabrik Gula Kebon Agung Kabupaten Malang.
Payadnya, P. A. A., & Jayantika, G. A. N. T. (2018). Panduan Penelitian Eksperimen Beserta Analisis
Statistik Dengan SPSS. Yogyakarta: CV Budi Utama.
Prihastuti, R. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Gejala Dermatitis Kontak Pada
Pekerja Perebusan Ikan di Desa Hajoran Kabupaten Tapanuli Tengah.
Ramadhan, B. M., & Ryandono, M. N. H. (2015). Etos Kerja Islami Pada Kinerja Bisnis Pedagang
Muslim Pasar Besar Kota Madiun. Jestt, 2(4), 274–287.
Ratnaningsih. (2020). Kejadian Dermatitis Pada Masyarakat Nelayan ( Study Analitik di Wilayah
Kerja Puskesmas Lamaau Desa Aulesa Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur Tahun
2018 ), (June).
Ratri, C. P., & Paskarini, I. (2014). Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Scabies Pada
Nelayan Di Desa Weru Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. The Indonesian Journal
of Occupational Safety , Health and Environment, 1(1), 132–143.
[Link]
Riyanto, S., & Hatmawan, A. A. (2020). Metode Riset Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: CV Budi
Utama.
Roestijawati, N., Ernawati, D. A., Wicaksana, M. A., & Krisnansari, D. (2017). Skrining Penyakit
Akibat Kerja pada Nelayan di Kampung Nelayan Desa Sidakaya Cilacap. Universitas
Jenderal Soedirman, 8.
Safiah, Asfian, P., & Teguh, R. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Dermatitis Kontak
Iritan Pada Nelayan di Desa Lamanggau Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi.
Safriyanti, Hariati Lestari, & Ibrahim, K. (2016). Hubungan Personal Hygiene, Lama
Kontak Dan Riwayat Penyakit Kulit Dengan Kejadian Dermatitis Kontak Pada Petani
Rumput
Laut Di Desa Akuni Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan, 1–10.
Setiawan, R., Pratiwi, arum dian, & Jufri, N. N. (2017). Hubungan Hygiene Personal, Masa Kerja
Dan Penggunaan Alat Pelindung Diri (Apd) Dengan Kejadian Dermatitis Pada Tangan Dan
Kaki Pada Petugas Pengangkut Sampah Di Dinas Kebersihan Kota Kendari. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 2.
Silaban, T. F., & Limin Santoso, S. (2012). Addition of Zeolite Decrease Ammonia Concentration. E-
Jurnal Rekayasa Dan Teknologi Budidaya Perairan, I(1).

JKMI
P-ISSN XXXX- XXXX | E-ISSN XXXX- XXXX 9

Anda mungkin juga menyukai