0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Rangkuman Pengendalian Internal COSO

Dokumen ini membahas pengendalian internal dalam konteks berbagai kerangka kerja global, seperti COSO dan CoCo, serta pentingnya evaluasi efektivitas sistem pengendalian internal oleh manajemen dan auditor internal. Terdapat penjelasan mengenai tujuan, komponen, dan prinsip-prinsip pengendalian internal yang efektif, serta peran dan tanggung jawab berbagai pihak dalam organisasi. Selain itu, dokumen ini juga mengidentifikasi berbagai jenis pengendalian dan proses evaluasi yang diperlukan untuk memastikan pengendalian internal berfungsi dengan baik.

Diunggah oleh

saripermata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Rangkuman Pengendalian Internal COSO

Dokumen ini membahas pengendalian internal dalam konteks berbagai kerangka kerja global, seperti COSO dan CoCo, serta pentingnya evaluasi efektivitas sistem pengendalian internal oleh manajemen dan auditor internal. Terdapat penjelasan mengenai tujuan, komponen, dan prinsip-prinsip pengendalian internal yang efektif, serta peran dan tanggung jawab berbagai pihak dalam organisasi. Selain itu, dokumen ini juga mengidentifikasi berbagai jenis pengendalian dan proses evaluasi yang diperlukan untuk memastikan pengendalian internal berfungsi dengan baik.

Diunggah oleh

saripermata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rangkuman Mata Kuliah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengauditan Internal


Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Abd. Hamid, SE., [Link]

Disusun Oleh :

Permatasari
A031231033

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2025

1
Internal Control
1. Memahami apa yang dimaksud dengan pengendalian internal dalam berbagai
kerangka kerja
Pengendalian Internal bukanlah konsep yang seragam.
Berbagai framework (kerangka kerja) global memberikan definisi dan
penekanan yang sedikit berbeda, namun memiliki esensi yang sama.
• Framework: Adalah seperangkat prinsip panduan yang membentuk
template untuk mengevaluasi berbagai praktik bisnis. Framework
memberikan struktur untuk mengembangkan, menafsirkan, dan
menerapkan konsep secara konsisten
• Framework Pengendalian Internal yang Diakui Global:
o COSO Internal Control - Integrated Framework (2013): Paling
banyak digunakan, terutama di AS. Mendefinisikan pengendalian
internal sebagai suatu process yang dijalankan oleh dewan direksi,
manajemen, dan personel lain, yang dirancang untuk
memberikan reasonable assurance atas pencapaian tujuan dalam
kategori Operasi, Pelaporan, dan Kepatuhan.
o CoCo (Criteria of Control) - Guidance on Control (1995): Dari
Kanada. Memiliki definisi dan komponen yang secara substantif
tidak berbeda dengan COSO.
o FRC Guidance on Risk Management, Internal Control and
Related Financial and Business Reporting (2014): Dari Inggris
(menggantikan Turnbull Report). Juga sejalan dengan COSO dan
CoCo.
• Framework Lain yang Terkait:

o ERM Frameworks (e.g., COSO ERM 2016, ISO 31000): Lebih


luas dan strategis, mencakup pengendalian internal sebagai bagian
dari manajemen risiko.
o Governance Frameworks (e.g., Cadbury, King): Membahas tata
kelola, yang mencakup pengawasan atas pengendalian internal.

2
o Framework Mitigasi Risiko Lain (e.g., Basel Accord): Spesifik
untuk industri tertentu (perbankan).
• Konteks Regulasi (Sarbanes-Oxley Act 2002): SEC AS mensyaratkan
manajemen perusahaan publik untuk mengevaluasi dan melaporkan
efektivitas Internal Control over Financial Reporting
(ICFR) menggunakan framework yang sesuai (seperti COSO atau CoCo).
Ini telah mengangkat pentingnya pengendalian internal.
2. Mengidentifikasi tujuan, komponen, dan prinsip-prinsip dari kerangka kerja
pengendalian internal yang efektif
COSO Framework digunakan sebagai dasar karena paling komprehensif
dan banyak diadopsi. Kerangka ini sering digambarkan sebagai COSO
Cube (Exhibit 6-5)
A. Tujuan (Objectives)
• Operations Objectives: Tujuan terkait efektivitas dan efisiensi
operasi entitas, termasuk tujuan kinerja operasional dan keuangan,
serta perlindungan aset.
• Reporting Objectives: Tujuan terkait keandalan, ketepatan waktu,
dan transparansi pelaporan (keuangan dan non-keuangan), baik
internal maupun eksternal.
• Compliance Objectives: Tujuan terkait kepatuhan terhadap hukum
dan peraturan yang berlaku.
A. Komponen (Components)
What is needed to achieve the objectives? Lima komponen yang
terintegrasi dan saling terkait:
1. Control Environment (Lingkungan Pengendalian)
Fondasi dari semua komponen lain. Menciptakan atmosfer disiplin
dan struktur yang mempengaruhi kesadaran pengendalian semua
orang. Ini termasuk "Tone at the Top", integritas & nilai etika,
independensi dewan, struktur organisasi, pendelegasian wewenang,
dan komitmen untuk merekrut & mengembangkan individu yang
kompeten.

3
2. Risk Assessment (Penilaian Risiko)
Proses dinamis dan berulang untuk mengidentifikasi dan
menganalisis risiko yang dapat menghambat pencapaian
tujuan. Precondition-nya adalah penetapan tujuan yang jelas.
3. Control Activities (Aktivitas Pengendalian)
Kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa
arahan manajemen untuk mengatasi risiko telah dilaksanakan.
Contoh: Otorisasi, verifikasi, rekonsiliasi, review kinerja, pemisahan
tugas (segregation of duties), dan pengendalian atas sistem informasi
4. Information & Communication (Informasi dan Komunikasi)
Informasi yang relevan dan berkualitas harus diidentifikasi,
ditangkap, dan dikomunikasikan dalam bentuk dan waktu yang tepat
agar semua pihak dapat melaksanakan tanggung jawab mereka.
Komunikasi juga harus terjadi secara eksternal
5. Monitoring Activities (Kegiatan Pemantauan)
Proses untuk menilai kualitas kinerja pengendalian internal dari
waktu ke waktu. Ini termasuk ongoing evaluations (tertanam dalam
proses bisnis) dan separate evaluations (seperti audit internal).
Temuan kekurangan (deficiencies) harus dikomunikasikan dan
ditindaklanjuti.
B. Prinsip (Principles)
How to achieve the components? COSO mendefinisikan 17
Prinsip yang mendukung kelima komponen (Exhibit 6-9). Menerapkan
semua prinsip ini diperlukan untuk mencapai pengendalian internal yang
efektif. Contoh prinsip: Komitmen terhadap integritas dan nilai etika
(Prinsip 1), Mengidentifikasi dan menilai risiko perubahan (Prinsip 9),
Memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian (Prinsip 10),
Mengkomunikasikan kekurangan secara tepat waktu (Prinsip 17).
3. Mengetahui peran dan tanggung jawab setiap kelompok dalam organisasi
terkait pengendalian internal

4
Setiap orang dalam organisasi memiliki tanggung jawab atas pengendalian
internal.
• Manajemen (Management):
o CEO memikul tanggung jawab utama atas sistem pengendalian
internal dan menetapkan "Tone at the Top".
o Senior management dan line management bertanggung jawab
untuk menerapkan dan mengoperasikan pengendalian di area
mereka, serta menciptakan lingkungan yang mendukung
pengendalian internal.
• Dewan Direksi / Komite Audit (Board of Directors / Audit
Committee): Bertanggung jawab untuk mengawasi (oversight) manajemen
dan memastikan bahwa manajemen telah menerapkan sistem pengendalian
internal yang efektif. Anggota dewan harus objektif, mampu, dan kritis.
• Auditor Internal (Internal Auditors): Peran utama adalah
memberikan keyakinan independen (independent assurance)
dan nasihat (advisory) kepada manajemen dan dewan mengenai
keefektifan pengendalian internal. Auditor internal memvalidasi penilaian
yang dilakukan oleh manajemen dan memainkan
peran pemantauan (monitoring) yang signifikan.
• Personel Lain (Other Personnel): Merupakan pertahanan pertama (first line
of defense). Setiap karyawan bertanggung jawab untuk melaksanakan
aktivitas pengendalian dalam tugasnya, memahami dan mematuhi
kebijakan, serta melaporkan masalah, pelanggaran, atau aktivitas ilegal.
• Pihak Eksternal (External Parties): Seperti auditor eksternal, regulator, dan
vendor outsourcing, bukan bagian dari pengendalian internal tetapi dapat
memberikan informasi atau keyakinan yang berguna. Namun, tanggung
jawab akhir tetap pada manajemen internal.
4. Mengidentifikasi berbagai jenis pengendalian dan penerapan yang tepat untuk
masing-masing
Pengendalian dapat dikategorikan dalam beberapa cara, dan satu
pengendalian sering kali masuk dalam beberapa kategori sekaligus.

5
a. Berdasarkan Tingkatnya
Entity-Level Controls: Pengendalian yang bersifat luas dan berpengaruh
menyeluruh terhadap organisasi. Contoh: Lingkungan Pengendalian,
kebijakan etika, proses penilaian risiko organisasi, pengawasan oleh
dewan direksi, pengendalian umum TI (general IT controls).
Process-Level Controls: Pengendalian yang beroperasi dalam proses
bisnis tertentu untuk mencapai tujuan proses. Contoh: Rekonsiliasi
rekening, penghitungan fisik persediaan, supervisi pada tingkat proses.
Transaction-Level Controls: Pengendalian yang paling detail, dirancang
untuk memastikan keakuratan dan kelengkapan transaksi individual.
Contoh: Otorisasi pembayaran, pencocokan dokumen (purchase order,
receiving report, invoice), pemisahan tugas dalam memproses transaksi,
pengendalian aplikasi TI (application controls).
b. Berdasarkan Pentingnya
Key Control (Pengendalian Utama): Pengendalian yang dirancang untuk
mengurangi risiko kunci. Kegagalan pengendalian ini dapat
mengakibatkan kegagalan mencapai tujuan kritis
Secondary Control (Pengendalian Sekunder): Pengendalian yang
mengurangi risiko non-kunci atau berfungsi sebagai cadangan jika
pengendalian utama tidak efektif.
Compensating Control (Pengendalian Kompensasi): Pengendalian yang
mengurangi risiko ketika pengendalian utama tidak dapat sepenuhnya
memitigasi risiko ke tingkat yang dapat diterima (biasanya karena kendala
biaya atau operasional). Contoh: Supervisi ketat jika pemisahan tugas
tidak memadai
c. Berdasarkan Sifatnya
Preventive Control (Pengendalian Preventif): Dirancang
untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak
diinginkan sebelum kejadian itu terjadi. Contoh: Password, sistem
otorisasi, pelatihan.

6
Detective Control (Pengendalian Detektif): Dirancang
untuk mendeteksi dan mengidentifikasi kejadian yang tidak diinginkan
yang telah terjadi. Contoh: Rekonsiliasi bank, review log akses,
penghitungan fisik.

d. Berdasarkan Lingkup Teknologi Informasi


General IT Controls (Pengendalian Umum TI): Berlaku untuk banyak
lingkungan aplikasi dan mendukung operasi yang tepat dari aplikasi.
Termasuk entity-level controls. Contoh: Pengendalian atas manajemen
perubahan program, keamanan data center, akses logikal ke jaringan.
Application Controls (Pengendalian Aplikasi): Dibangun di dalam
aplikasi perangkat lunak untuk memastikan kelengkapan, keakuratan, dan
keabsahan pemrosesan transaksi. Termasuk process/transaction-level
controls. Contoh: Validasi input data, pemeriksaan urutan nomor invoice.
5. Memperoleh kesadaran tentang proses untuk mengevaluasi sistem
pengendalian internal
Evaluasi terhadap sistem pengendalian internal adalah tanggung
jawab manajemen, dengan auditor internal memberikan keyakinan
independen atas evaluasi tersebut.
• Proses Evaluasi Manajemen:
1. Menetapkan dasar pemahaman tentang efektivitas pengendalian.
2. Merancang dan melaksanakan prosedur pemantauan (monitoring),
baik yang berkelanjutan (ongoing) maupun terpisah (separate).
3. Menilai temuan dan melaporkan hasil kepada level yang sesuai,
serta menindaklanjuti tindakan korektif.
4. Management kemudian membuat assertions (pernyataan) mengenai
keefektifan pengendalian, khususnya untuk ICFR.
• Peran Auditor Internal:
o Secara independen mengvalidasi penilaian dan assertions yang
dibuat oleh manajemen.

7
o Menilai apakah pengendalian dirancang secara memadai
(adequately designed) dan beroperasi secara efektif (operating
effectively).
o Melaporkan kekurangan (deficiencies) yang ditemukan dan
memantau tindak lanjutnya.
o Mengklasifikasikan tingkat keparahan kekurangan
(misalnya, deficiency, significant deficiency, material
weakness untuk pelaporan keuangan).
• Keterbatasan Pengendalian Internal (Limitations): Penting untuk disadari
bahwa pengendalian internal hanya dapat memberikan keyakinan
memadai (reasonable assurance), bukan keyakinan absolut (absolute
assurance). Keterbatasan ini berasal dari:
o Human Judgment: Keputusan manusia bisa salah dan bias.
o Breakdowns: Kegagalan dapat terjadi karena kesalahan sederhana.
o Management Override: Manajemen memiliki kemampuan untuk
mengesampingkan pengendalian.
o Collusion: Kolusi antara dua orang atau lebih dapat mengakali
pengendalian.
o Cost vs. Benefit: Biaya implementasi pengendalian tidak boleh
melebihi manfaat yang diharapkan.
• Konsep Risiko dalam Pengendalian:
o Inherent Risk: Risiko yang melekat sebelum adanya pengendalian
apapun.
o Controllable Risk: Bagian dari inherent risk yang dapat dikurangi
melalui pengendalian.
o Residual Risk: Risiko yang tersisa setelah pengendalian diterapkan.
Tujuan sistem pengendalian internal adalah untuk
memastikan residual risk berada dalam risk appetite (selera risiko)
organisasi.
Dengan memahami kelima poin ini, seseorang dapat menghargai
kompleksitas dan pentingnya sistem pengendalian internal yang dirancang

8
dengan baik dan dioperasikan secara efektif untuk mencapai tujuan
organisasi.

Anda mungkin juga menyukai